Masa Pra-Paskah Katolik 2009


Umat Katolik Masuki Masa Pra-Paskah

Batam (ANTARA News) – Memasuki masa pra-Paskah, umat Katolik di Gereja Beato Damian, Batam, menjalani misa Ekaristi Rabu Abu yang dipimpin Pastor Ambrosius Sanar SS.CC.

Jidat umat diberi tanda salib dari abu daun palma sebagai simbol pertobatan dan peneguhan kepercayaan pada Injil.

Salib abu di dahi menandai masa puasa dan pantang menjelang peringatan Paskah pada 40 hari mendatang, merupakan tanda kesediaan untuk hidup baru bersama Yesus, kata Pastor Ambrosius.

Ia mengajak umat menjalankan ibadah puasa atau pantang dengan hanya makan kenyang satu kali sehari, memeriksa batin dan mendekatkan diri pada Tuhan.

Lakukanlah puasa keluarga dengan berpantang makan daging pada hari Rabu dan Jumat, katanya.

Selain itu ia mengajak umat agar menjalani pola hidup sederhana dan peduli pada orang lain.(*)

COPYRIGHT © 2009 ANTARA

Sumber: http://antara.co.id/print/?i=1235586736

Iklan

Rumah Adat Batak Jadi Obyek Wisata di Jerman


http://travel. kompas.com/ read/xml/ 2009/02/26/ 08130650/ Rumah.Adat. Batak.Jadi. Obyek.Wisata. di.Jerman

JAKARTA, KAMIS — Rumah adat masyarakat Batak yang dibangun atas
inisiatif pastor Matthaus pada tahun 1978 menjadi daya tarik wisata
kota Weperloh, negara bagian Niedersachsen, Jerman Utara. Konsul
Jenderal RI Hamburg Teuku Darmawan didampingi Ketua Masyarakat Nauli Indonesia (MNI) Hamburg Paris Rumahorbo mengadakan kunjungan ke Weperloh di negara bagian Niedersachsen, kota yang terkenal dengan adanya rumah adat Batak.

KJRI Hamburg dalam keterangan persnya, Kamis, menyebutkan, rumah adat Batak tersebut yang kini dijadikan museum merupakan kebanggaan kota Weperloh dan juga sebagai obyek wisata bagi masyarakat sekitar.

Dalam kunjungannya, Teuku Darmawan bersama Paris Rumahorbo mengadakan pertemuan dengan Wali Kota Weperloh (Burgermeister) Hermann Grotjohann, Wakil Wali Kota Sogel, Hans Nowak, dan pengurus
perhimpunan rumah adat Batak.
Dalam pertemuan itu disepakati menggelar Festival Budaya Indonesia,
termasuk budaya Batak, Sulawesi, Ambon, dan Bali yang mengambil tempat di sekitar rumah adat Batak, Agustus mendatang. Kedua pihak juga
berharap hubungan antara masyarakat Indonesia, Batak pada khususnya,
dapat dilakukan dengan mengadakan festival budaya dan pertemuan-pertemuan tahunan.

Wali Kota Weperloh juga menawarkan kerja sama di bidang pendidikan,
khususnya sekolah dasar dan menengah Weperloh dan Sogel dengan sekolah di Tanah Batak. Konsul Jenderal menyambut baik usul ini dan berjanji untuk menyampaikannya pada instansi terkait.

Konsul Jenderal RI akan mengupayakan sumbangan ornamen-ornamen budaya untuk menambah koleksi rumah adat Batak tersebut. Dengan adanya rumah adat Batak dan kecintaan terhadap budaya Indonesia, diharapkan makin banyak masyarakat Jerman Utara berkunjung ke Indonesia untuk berwisata.

Pada pertemuan itu juga disepakati untuk mendeklarasikan persahabatan
masyarakat kota Weperloh-Sogel dengan MNI Hamburg guna  eningkatkan
kerja sama berkesinambungan antara wakil-wakil masyarakat Weperloh dan Sogel dalam festival budaya tersebut.

AC
Sumber : Antara

Survei TII: MUI Sering Disuap


Survei TII: MUI Sering Disuap

Jakarta – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadi salah satu lembaga yang paling sering menerima suap versi Transparency International Indonesia (TII). Dugaan suap menyuap ini lebih banyak dilakukan untuk pengurusan sertifikat halal.

Menurut Manajer Riset dan Kebijakan TII Frenky Simanjuntak, 171 responden yang diwawancarai adalah perusahaan makanan dan komestik. Sebanyak 10 persen mengaku pernah dimintai uang terkait urusan mereka.

“Sehingga ini sangat berkaitan bagaimana perusahaan ini mengajukan sertifikat halal,” katanya saat jumpa pers di Balai Kartini, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (21/1/2009).

Survei kuantitatif ini dilakukan mulai September-Desember 2008. Survei dilakukan di 50 kota yang terdiri dari 33 ibu kota provinsi ditambah 17 kota besar.

Lebih lanjut Frenky menjelaskan, inisiatif terjadinya suap menyuap berasal dari pejabat publik. Mau tidak mau, pelaku bisnis terkadang harus mengikuti kemauan tersebut.

“Namun tetap saja ini dikategorikan suap,” tegas Frenky.

Meski begitu, Frenky tidak terlalu mengetahui apakah survei yang dilakukannya ini bisa dilanjutkan kepada pihak yang berwenang. Baginya survei yang dilakukan hanyalah sebagai acuan.

“Ke arah sana (penyidikan) , itu di luar otoritas hasil survei,” pungkasnya.

sumber :http://www.detiknew s.com/read/ 2009/01/21/ 172038/1072361/ 10/survei- tii:-mui- sering-disuap

KETERAMPILAN PRIBADI MENJADI DAYA PIKAT PERUSAHAAN


Era globalisasi ini, persaingan dunia semakin ketat. Tak lagi hanya bersaing dengan ‘produk lokal’, tetapi juga bersaing dengan sumber daya manusia dari luar negeri. Bila sudah begini, gelar pendidikan tak lagi menjadi hal utama, melainkan kebutuhan akan keterampilan yang beragam dari tiap insane.

 

Setidaknya, anda dapat mengembangkan beberapa keterampilan berikut:

 

  1. Bahasa. Keterampilan ini sudah menjadi salah satu keterampilan wajib sejak dulu di berbagai perusahaan. Dengan semakin gencarnya persaingan secara global saat ini, memiliki kemampuan berbahasa Inggeris, China, Jepang atau Perancis akan lebih diminati. Semakin banyak bahasa yang dikuasai, semakin terbuka kesempatan mendapatkan pekerjaan.
  2. Kepemimpinan. Tentunya keterampilan ini tidak begitu saja turun dari langit, tetapi dipelajari dan memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk menimba pengalaman. Seseoran yang memiliki kemampuan memimpin tentunya akan lebih mudah untuk melangkah ke jenjang lebih tinggi. lagipula, kemampuan ini dibutuhkan dalam setiap perusahaan untuk menjalankan bisnis perusahaan.
  3. Komunikasi. Sukses tidaknya sebuah perusahaan juga dapat dipengaruhi dengan “kemampuan berkomunikasi” dari setiap pegawainya. Yang dimaksud dengan kemampuan berkomunikasi yang baik di sini adalah mampu menengahi konflik, menghadapi masalah atau menciptakan suasana kerja yang nyaman sehingga dapat meningkatkan produktivitas, yang tentunya menguntungkan bagi perusahaan.
  4. Mengelola Sumber Daya Manusia. Kemampuan ini dibutuhkan di setiap perusahaan  untuk mengatur dan mengelola setiap insan pekerja, agar dapat bekerja dengan maksimal, menjaga hubungan interpersonal serta menjadi jembatan antara struktur bawah dan atas. Tak heran bila kini banyak ditemukan banyak jenjang pendidikan maupun pelatihan khusus sumber daya manusia.
  5. Keterampilan komputer. Keterampilan yang satu ini tentunya memegang kendali di setiap lini dalam perusahaan. Terlebih lagi, system komputerisasi juga menjadi salah satu tolok ukur dalam kemajuan sebuah perusahaan. Anda dapat mengembangkan kemampuan ini dengan mengikuti kursus komputer  yang kini sangat mudah ditemui, yang memberikan pelatihan, mulai dari tingkat dasar  hingga advanced. Tentunya setiap keterampilan yang anda miliki harus disesuaikan dengan dengan pekerjaan yang diinginkan. Semakin banyak keterampilan yang dikuasai untuk suatu pekerjaan, semakin besar kemungkinan mendapat pekerjaan tersebut. (ADT/ Klasika/ Kompas/ 25/01/2009)

Si Singamangaraja XII; Gugur sebagai Pahlawan Islam?


Ini saya salin dari milis tetangga. Kebenaran cerita ini perlu ditindaklanjuti dengan sumber yang tidak sepihak, seperti kepustakaan di Belanda, narasumber di kampung Tanah Batak.

==============

Si Singamangaraja XII; Gugur sebagai Pahlawan Islam  
Written by Administrator   
Sunday, 15 February 2009 06:20
Opini publik dewasa ini kurang menyadari bahwa Si Singamangaraja XII adalah seorang muslim, yang di angkat sebagai Maharaja di negri Toba di kota Bakara pada 1304 Hijri. Sebagai seorang pejuang yang bertempur terus hingga akhir hayatnya ketika ditangkap dan di tembak oleh Belanda pada 17 Juni 1907.
                Untuk menghargai dan menghormati jasa yang telah di korbankan bedasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia No. 217 tahun 1957, pemerintah telah mengangkat Si Singamangaraja XII sebagai pahlawan kemerdekaan nasional. Adapun yang di maksud dengan batasan Pahlawan Kemerdekaan Nasional adalah seorang yang masa hidupnya terdorong oleh rasa cinta tanah airnya dan sangat berjasa dalam memimpin suatu kegiatan yang teratur menentang penjajah di Indonesia melawan musuh dari luar negri, ataupun sangant berjasa baik dalam lapangan politik, ketatanegaraan, sosial ekonomi, kebudayaan maupun dalam lapangan ilmu pengetahuan yang erat hubunganya dengan perjuangan kemerdekaan dan perkembangan Indonesia.
                Mungkin dasar kriteria semacam di atas, di tambah dengan adanya sistem penyusunan cerita Sejarah Nasional yang tidak menonjolkan tentang agama yang di peluknya, menyebabkan kita tidak menyadari bahwa Si Singamangaraja adalah pejuang Islam yang gugur sebagai syuhada pada tanggal 17 juni 1907.

Silsilah
                Perlu pula kita ketahui bahwa nama Si Singamangaraja adalah nama dinasti dari keluarga “Sinambela”. Yang kita bicarakan di sini adalah keturunan yang ke-12. Adapun silsilahnya sebagai berikut:
1.  Raja Munghuntal                                      -Si Singamangaraja I
2.  Ompu Raja Tianaruan                               -Si Singamangaraja II
3.  Raja Itubungna                                        -Si Singamangaraja III
4.  Sori Mangaraja                                         -Si Singamangaraja IV
5.  Pallongos                                                -Si Singamangaraja V
6.  Pangulbuk                                               -Si Singamangaraja VI
7.  Ompu Tuan Lumbut                                 -Si Singamangaraja VII
8.  Ompu Sotaronggal                                   -Si Singamangaraja VIII
9.  Ompu Sohalompoan                                -Si Singamangaraja IX
10. Ompu Tuan Nabolon                               -Si Singamangaraja X
11. Ompu Sohahunon                                   -Si Singamangaraja XI
12. Patuan Besar Ompu Pulo Baru                   -Si Singamangaraja XII
 
Kristenisasi

                Perlu saya jelaskan telebih dahulu tentang kristenisasidi sini tidak bertujuan menggoyahkan kerukunan beragama, tetapi sekedar mengisahkan kembali tentang cara Belanda menguasai daerah Tapanuli melalui Kristenisasi. Jadi sebagai fakta sejarah yang benar-benar telah terjadi dan memang masalah Kristenisasi inilah yang nantinya menjadi sumber pangkal permasalahan mengapa Si Singamangaraja XII mengadakan perlawanan bersenjata terhadap Belanda. Tampaknya penyebaran agama Kristen di Tapanuli saat itu mempunyai tujuan politik untuk menguasai wilayah tersebut. Dan tujuan politis inilah yang mengubah sikap rakyat Tapanuli terhadap agama Kristen. Penyebaran agama itu sendiri tidaklah mendapat perlawanan. Tetapi tujuan politik penjajah membangkitkan rakyat untuk mengangkat senjata.
                Adapun tujuan politik yang menyertai penyebaran agama Kristen saat itu adalah seperti yang diyatakan oleh J.P.G Westhoff: “menurut pendapat kami untuk tetap memiliki jajahan-jajahan kita untuk sebagian besar adalah tergantung dari pengkristenan rakyat yang sebagian besar belum beragama atau yang telah beragama Islam.
                Gerakan agresi agama ini besar kemingkinan mulai di lancarkan ke daerah Tapanuli pada 1824. Hal ini terbukti dengan adanya pembunuhan terhadap Baptis Amerika yakni Munson dan Lyman di Sinaksak. Kemudian gerakan ini di perhebat pada 1861 yang di lakukan oleh Rijnsche Zending yang memusatkan gerakanya di Padang Sindempuan.
                Dari sini gerakan akan diarahkan memasuki daerah Toba. Untuk keperluan ini pemerintah kolonial Belanda menunjuk misionaris Nommensen dan Simoniet. Daerah-daerah serta rakyatnya yang telah di pengaruhi oleh penyebaran agama ini kemudian secara administratif di serahkan kepada kolonial Belanda. Atas jasa yang demikian besar ini pemerintah Belanda merasa berhutang budi terhadap Nommensen, dan pada 1911 Nommensen di beri bintang Officer van Oranje-Nassau.
                Penyebaran agama semacam di atas mempunyai efek politik dan ekonomi sosial yang sangat merugikan rakyat Tapanuli. Penyerahan daerah kepada pemerintah kolonial Belanda, membawa akibat timbulnya sistem monopoli di bidang perdagangan. Termasud ke dalam masalah pertanian, penjualan hasil bumi di monopoli oleh Belanda. Di bidang politik tindakan tersebut berarti mempersempit daerah kekuasaan Si singamangaraja, di bawah kondisi yang demikian mendorong pandangan politik dan ekonomi rakyat Tapanuli untuk lebih bersahabat dengan Aceh dan Sumatra Barat.

Si Singamangaraja XII
                Penobatan Si Singamangaraja XII sebagai Maharaja di negri Toba bersamaan dengan dimulainya open door policy (politik pintu terbuka). Belanda merasa perlu mengamankan modal asing yang beroperasi di Indonesia yang tidak mau menandatangani Korte Verkaring ( perjanjian pendek) di Sumatra terutama Aceh dan Tapanuli. Kedua konsultan ini membuka hubungan dagang dengan negara-negara Eropa lainya. Belanda sendiri berusaha menanamkan monopilinya di kedua kesultanan tersebu. Politik yang berbeda ini mendorong situasi selanjutnya untuk melahirkan peperangan yang berkepanjangan hingga puluhan tahun.
                Daya tempur yang sangat lama ini karena di tunjang oleh ajaran agama islam. Hal ini jarang jarang di kemukakan oleh para sejarawan, karena merasa kurang relevan dengan predikat Pahlawan Nasional. Atau karena alasan-alasan lain merasa kurang perlu membicarakanya. Kalau toh mau membicarakan tentang agama yang di anut oleh Si Singamangaraja XII, mereka lebih cenderung untuk mengakui Si Singamangaraja XII beragama Pelbagu.
                Pelbagu semacam agama animisme yang mengenal pula pemujaan dewa. Debata Mulajadi sebagai mahadewa. Juga mengaenal ajaran Trimurti: Batara Guru (dewa kejayaan), Debata Ser
                Satu hal yang sukar diterima adalah bila Si Singamangaraja XII beragama animisme, karena kalu kita perhatikan Cap Si Singamangaraja XII yang bertuliskan huruf arab berbunyi; Inilah Cap Maharaja di negri Toba kampung Bakara kotanya. Hijrah Nabi 1304.
                Pada cap tersebut terlihat jelas penggunaan tahun hijriah Nabi. Hal ini memberikan gambaran tentang besarnya pengaruh ajaran Islam yang menjiwai diri Si Singamangaraja XII. Adapun huruf batak yang masih pula di abadikan, adalah sama dengan tindakan Pangeran Diponegoro yang masih mengguakan huruf jawa dalam menulis surat.
                Begitu pula kalau kita perhatikan bendera perangnya. Terlihat pengaruh Islam dalam gambar kelewang, matahari dan bulan. Akan lebih jelas bila kita ikuti keterangan beberapa majalah atau koran Belanda yang memberitakan tentang agama yang di anut oleh Si Singamangaraja XII, antara lain;
 Volgens berichten van de bevolking moet de togen, woordige titularis een 5 tak jaren geleden tot den Islam jizn bekeerd, doch hij werd geen fanatiek Islamiet en oefende geen druk op jizn ongeving uit om zich te bekeeren. ( Sukatulis, 1907, hlm, 1)
 Menurut kabar-kabar dari penduduk, raja yang sekarang (maksud Titularis adalah Si Singamangaraja XII) semenjak lima tahun yang lalu memeluk agama Islam yang fanatik, demikian pula dia meneka supaya orang-orang sekelilingnya menukar agamanya.
                 Berita di atas ini memberikan data kepada kita bahwa Si Singamangaraja XII beragama Islam. Selain itu, di tambahkan pula tentang rakyat yang tidak beragama Islam, dan Si Singamangaraja XII tidak mengadakan paksaan atau penekanan lainnya. Hal ini sekaligus memberikan gambaran pula tentang penguasaan Si Singamangaraja XII terhadap ajaran agama itu sendiri.
                Sebaliknya tindakan penyebaran agama yang dilakukan Rijnsche Zending di Toba di sertai dengan serbua militer Belanda. Serangan yang semacam ini baik yang di lancarkan pada 1861 ataupun 1877 pada masa pemerintahan Si Singamangaraja XII, mempunyai motif penguasaan daerah Toba yang subur.
                Tidaklah mengherankan kalau Si Singamangaraja XII memimpin rakyatnya membendung usaha perluasan wilayah tersebut. Dalam pelawanan bersenjata ini beliau di bantu oleh Panglima nali yang berasal dari Minangkabau dan Panglima Teuku Muhammad yang berasal dari Aceh.
                Letak geografis Tapanuli yang berada di tengah-tengah antara Aceh dan Sumatra Barat memungkinkan kedua daerah atau kesultanan tersebut saling kerjasama. Selain adanya kesamaan keyakinan agama, ditunjang oleh kondisi politik yang sama menghadapi ekspedisi wilayah dari Belanda. Itulah sebabnya memungkinkan kedua panglimanya berasal dari kedua kesultanan di atas.
                Belanda sendiri ketika melihat situasi geografis yang demikian itu, mempunyai kepentingan lain. Dengan di lancarkanya operasi militer ke Toba, mempunyai motif melaksanakan tujuan wig pilitic (politik bayinya) “O. Hashem, 1968, hlm. 31” yang untuk memisahkan daerah Tapanili dati pengaruh Aceh dan Sumatra Barat.
                Sekalipun Belanda memiliki persenjataan yang lebih unggul, namun usaha penguasaan wilayah Tapanuli tidaklah semudah yangdiperkirakan semula. Secara fisik memang sepintas dapat menguasai Bahal Batu, Butar, dan Lobu Siregar. Tetapi apa artinya kalau penguasaan wilayah ini tidak mampu menundukan kemauan rakyat. Faktor terkhir inilah yang menjadi problem dalam setiap peperangan. Karena tidak ada rumus bagaimana caranya menguasai kemauan dari bangsa yang telah di kuasai negaranya. Dan tampaknya sedah menjadi kodrat alam tidak ada suatu bangsa pun yang mau di jajah. Apalagi bangsa tersebut memiliki daya tempur yang tinggi. Dan hal ini kebanyakan hanya di miliki oleh bangsa yang telah mempunyai ajaran agama yang di dalamnya mengajarkan pembelaan diri apabila di serang.
                Di sini Si Singamangaraja XII telah memeluk agama yang demikian itu, yaitu islam. Keyakinanya telah menunjangnya untuk mampu bertahan dan berjuang selama tiga puluh tahun lamanya. Suatu kenyataan sejarah yang tidak dapat di sangkal lagibahwa ajaran agama islam mempunyai pengaruh besar tehadap perkembangan dan sikap jiwa bangsa Indonesia.
                Seseorang yang memeluk agama akan merasa dirinya kuat dam lagi peperangan tidak dapat di kerjakan oleh seorang pemimpin, melainkan merupakan hasil dari kerjasama. Hasil ini akan mudah dicapai apabila masyarakatnya tersebutt terbina dalam ajaran agama. Karena dasar ajaran agama tidak mengajarkan hidup secara individual sifatnya, melainkan lebih menekankan kepada kegotongroyongan. Apabila masyarakat tersebut telah meletakan kepercayaan sepenuhnya kepada kepemimpinan di atasnya. Ini adalah sebagai faktor yang memudahkan untuk menumbuhkan kesatuan gerak perjuangan.
                Persyaratan yang demikian itu telah tumbuh dalam masyarakat Tapanuli. Si Singamangaraja XII tidak hanya di anggap sebagai seorang Maharaja tapi juga sebagai Imam di bidang agama. Faktor kepercayaan yang telah di berikan rakyatnya ketangan Si Singamangaraja XII merupakan faktoryang dominan yang memungkinkan dirinya di angkat sebagai seorang keramat, sehingga Si Singamangaraja XII menjadi seorang pemimpin yang kharimasnya besar.
                Sekalipun demikian besar kekuasaan Si Singamangaraja XII, tidak menjadikan dirinya sebagai seoarang sultan absolut. Malahan rakyatnya memberikan gelar sebagai juru damai, yang selalu berpihak kepada kepentingan rakyat.
                Menghadapi seorang pemimpin rakyat yang demikian besar pengaruhnya, Belanda harus menggunakan cara lain. Ibu, permaisuru, dan kedua putranya di tangkap. Dengan cara ini belanda berharap dapat membawa Si Singamangaraja XII kemeja perundingan.
                Kompromi ini tidak mingkin tercapai. Karena kebencian Si Singamangaraja XII terhadap Belanda telah ditanamkan sejak lama oleh ayahnya. Juga di lakukan oleh bukti sejarah Si Singamangaraja X (Ompu Tuan Nabolon) dan Raja Lambung putranya, dibunuh oleh Belanda.
                Sejalan dengan situasi di Tapanuli tersebut, Belanda melancarkan yang membabi butapula terhadap ulama di Aceh. Vetter melanjutkan operasi militer seperti yang pernah di kerjakan oleh Van der Heijden. Tindakan mereka ini merupakan realisasi nasehat Snouck Hurgroje yang mengadakan pengejaran tanpa henti terhadap para ulama yang memimpin gerilya. Operasi  yang demikian kejam dengan mengadakan pembunuhan semena-mena terhadap pemuka-pemuka Islam mendapat restu pula dari mentri Bergsman.
                Gerakan operasi militer yang demikian ini terdorong oleh usaha ingin mematahkan saingan Inggris yang menjadikan Pulau Penang sebagai pelabuhan yang mengekspor rempah-rempah dari Aceh. Saingan ini ingin dipatahkan dengan menguasai daratan Aceh dan Tapanuli. Pulau Sabang dijadikan pelabuhan batu bara yang mensuplai kapal-kapal yang memblokade Aceh. Tentu saja untuk mendapatkan batu bara ini di perlukan penguasa Ombilin dan Sawah Lunto di Sumatra Barat. Kedua daerah terakhir ini telah berhasil di kuasainya. Hanya Tapanuli sebagai daerah subur yang terletak di kedua wilayah tersebut yang masih belum mau menandatangani “Korte Verklring”.
                Dengan latar belakang berbagai kepentingan di atas, Belanda berusaha keras melancarkan operasi mematahkan kekuasaan Si Singamangaraja  hal ini akan menjadi mungkun karena gerilya ulama Aceh mulai satu persatu terpatahkan.
                Selain sekutu Si Singamangaraja XII mulai lemah, juga di sebabkan persenjataan yang di milikinya tidak seimbang dengan yang dimiliki Belanda. Politik PIntu Terbuka dengan adanya tuntunan pengamana modal asing, melibatkan negara-negara imprealis lainya menunjang usaha Belanda untuk mengakhiri perlawanan bersenjata Umat Islam Indonesia. Termaksud Si Singamangaraja XII.
                pada 17 juni 1907 di bawah pimpinan Kapten Christoffel, Belanda  menggempur pusat pertahanan Si Singamangaraja XII. Sampai saat pertempuran terakhir ini, Si Singamangaraja XII bersama putrinya, Lopian, memilih jalan gugur sebagai syuhada dari pada menyerahkan Tapanuli di atas Korte Verklaring kepada Belanda.
                Seluruh bangsa Indonesia merasa kehilangan jasad seorang pahlawan Si Singamangaraja XII, tetapi tidak kehilangan jiwa dan cita-citanya. Si Singamangaraja XII gugur sebagai syuhada, tetapi tidak mati melainkan hidup abadi di hati bangsa di sisi Allah SWT.
Catatan:

Artikel ini disadur oleh teman seapartemen saya sendiri ( Aulia Rahman Nursyahid )dari sebuah buku usang diantara tumpukan buku asing dengan kondisi yang menghawatirkan denga judul “MENEMUKAN SEJARAH WACANA PERGERAKAN ISLAM INDONESIA” Oleh: Prof. Drs. Ahmad Mansur Surya Negara dan di Pubilkasikan oleh Penerbit Mizan, Cetakan I: Muharram 1416/Juni 1995. Dikarenakan buku ini termasuk langka, maka kami menyarankan kepada siapapun yang memilkinya untuk menjaganya sebaik mungkin sehingga nantinya bisa dinikmati oleh generasi setelah kita. Dan jika saudara/i mempunyai versi PDF nya tolong dikirim ke mj.institute@ yahoo.com

Paus Benediktus XVI telah mengangkat Mgr. Ancietus B. Sinaga, OFMCap sebagai Uskup Agung Medan yang baru


PROFICIAT atas di angkatnya Mgr. Ancietus B. Sinaga, OFMCap sebagai Uskup Agung Medan yang baru.
Semoga damai memberkati kita semua
============ ========= ========= ========= ==
Dear all,

baru saja kami dapat email ini dari Vatikan yang mengatakan bahwa Paus Benediktus XVI telah menerima pengunduran diri Uskup Agung Medan yang sekarang ialah Mgr.AG Pius Datubara, OFMCap karena sudah mencapai usia lanjut . Sebagai pengganti beliau Paus Benediktus XVI telah mengangkat Mgr. Ancietus B. Sinaga, OFMCap sebagai Uskup Agung Medan yang baru . Hingga kini Mgr. Sinaga telah menjabat sebagai Uskup Koajutor atau Uskup Pembantu pada Keuskupan Agung Medan.

Kita mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Uskup Agung Datubara yang telah sekian lama mengabdikan diri bagi perkembangan gereja di Keuskupan Agung Medan dan kepada Uskup Agung yang baru Mgr. Sinaga kita ucapkan selamat dan marilah kita semua mendoakan beliau dalam tugas kegembalaan yang baru .

Untuk informasi lebih lanjut tentang kapan akan diadakan perayaan pelantikan Uskup Agung yang baru di Medan saya persilahkan Anda semua untu menghubungi kantor Keuskupan Agung Medan di Jalan Imam Bonjol 39, Kotak Pos 192, Medan 20152 Telepon (061) 451 6647, 451 9768 Fax (061) 414 5745

Salam hormat,

Theophilus Bela

Ir. Innocentius. ,T. MBA.

Kekerasan Bernuansa Agama Cukup Tinggi


Semarang,11/2 (Pinmas)–Kesediaan masyarakat untuk terlibat dalam berbagai bentuk kekerasan bernuansa agama cukup tinggi, kata Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni di Semarang, Rabu (11/2).

Pernyataan Maftuh itu disampaikan di hadapan Kakanwil Depag Jateng, H. Mashudi dan para pejabat Kanwil Depag Jawa Tengah, terkait adanya survei yang dilakukan Litbang Depag pada 2007 dan 2008 yang mengangkat tema Tindak Kekerasan Keagamaan di 13 Propinsi di Indonesia.

Hasil survei memperlihatkan partisipasi aktual masyarakat dalam berbagai bentuk tindak kekerasan bernuansa agama relatif rendah. Tingkat rata-rata partisipasi aktual tersebut, yang disebut sebagai Partisipasi Aktual Agresif (PAA), yakni “pengalaman responden terlibat dalam tindakan ekspresif maupun agresif sebesar 2,4 persen di wilayah NAD, 1,2 persen di Sumatera dan 0,9 persen di Jawa bagian Barat, katanya.

Jenis PAA tertinggi adalah untuk keteribatan dalam tidakan merazia tempat hiburan, yaitu sebesar 5,3 persen di NAD, 2,7 persen di Sumatera dan 1,3 persen di Jawa Bagian Barat, katanya.

Sebaliknya hasil survei yang sama memperlihatkan tingkat Partisipasi Potensial Agresif (PPA), yaitu kesediaan masyarakat untuk terlibat dalam berbagai bentuk kekerasan bernuansa agama cukup tinggi, katanya.

Rata-rata tingkat PPA di NAD sebesar 62 persen, sedangkan di Sumatera dan Jawa bagian Barat masing-masing 44 persen dan 36 persen, jelasnya.

Meski tingkat PAA (Partisipasi Aktual Agresif) di ketiga wilayah tersebut rendah, itu tak berarti bahwa fenomena tindak kekerasan keagamaan tidak signifikan, katanya.

Menurut Maftuh, di kalangan para ahli dikenal istilah “the significant small,” yaitu kendati dari hasil survei tingkat PPA rendah, namun angka itu tetap signifikan.

Sebab, tegas Maftuh, sebagamana lazimnya tindak kekerasan, partisipasi yang rendah pun sudah cukup untuk dapat meghasilkan dampak kerusakan yang besar, seperti halnya dalam kasus tindak pengeboman yang dilakukan kelompok tertentu dengan mengatasnamakan perjuangan agama atau kelompok agama.

Dalam kaitan itu, ia melihat bahwa hasil survei dapat menggambarkan potensi masyarakat untuk melakukan atau terprovokasi dalam kekerasan sangat tinggi.

Untuk itu, Menteri Agama mengatakan, dibutuhkan partisipasi semua pihak secara aktif untuk meredam potensi-potensi tersebut. (Ant/ts)
Sumber: http://www.depag. go.id/index.php?a=detilberita&id=3967