KEBERHASILAN DALAM HIDUP


KEBERHASILAN DALAM HIDUP

Dalam karya tulis kecil ini, keberhasilan pembentukan diri mendapat tekanan pada pentingnya relasi diri dengan diri sendiri, orang lain, lingkungan sekitar dan terutama relasi dengan Allah. sahabatRelasi itu menuntut perbaikan terus menerus (continual improvement) yang dilandari dengan pandangan filosofis individu manusia dan landasan teologis relasi sendiri. Kemudian pembentukan diri itu melalui suatu proses belajar dengan bantuan metode Carkhuff.

Keberhasilan pembentukan diri oleh diri sendiri ditentukan oleh kemampuan mengenal diri, kemampuan berrelasi dengan diri sendiri, orang lain, lingkungan dan Tuhan. Kemampuan ini mirip dengan kemampuan emosional (emotional quotient) ala Daniel Goleman. Indikasi kemampuan ini adalah adanya kemampuan memahami dan memotivasi potensi diri, memiliki rasa empati terhadap diri dan orang lain, perasaan senang (berpikir positif), asertif yaituterampil menyampaikan pikiran dan perasaan dengan baik, lugas dan jelas tanpa harus membuat orang lain tersinggung.

Orang-orang yang memiliki kecakapan emosional ini dalam sejarah Indonesia adalah mantan Presiden Soeharto dan Akbar Tanjung.

Para psikolog mengatakan bahwa keberhasilan dan kebahagiaan dalam hidup akan diraih  seseorang jika ia bisa menggabungkan tiga kecerdasan yaitu intelektual (intelligent quotient-IQ), emosional (emotional quotient-EQ), dan spiritual (spiritual quotient-SQ). Kecerdasan intelektual adalah kecerdasan menghadapi persoalan teknikal dan intelektual. Kecerdasan emosional adalah keterampilan membangun relasi sosial dalam lingkungan keluarga, kantor, bisnis maupun sosial. Kecerdasan ini melahirkan iklim dialogis, demokratis, partisipatif dan dewasa. Yang terakhir, kemampuan spiritual adalah kemampuan membarikan makna, motivasi dan tujuan hidup yang di dalamnya ada kekuatan adikodrati (Allah).

Danah Zohar dan Ian Marshall, penulis buku Spiritual Quotient: The Ultimate Intelligent, seperti dikutip oleh Komaruddin Hidayat, mengatakan bahwa tanpa disertai kedalaman spiritual, kepandaian (IQ) dan popularitas (EQ) seseorang tidak akan memberikan keberhasilan dan kebahagiaan dalam hidup.

Model diri yang berhasil dalam hidup adalah mereka yang cerdas secara intelektual, emosional dan spiritual yaitu mereka yang kualitas intelektualnya baik, mampu berrelasi sosial secara simpatik, inspiring  dan motivating serta memiliki komitmen kuat terhadap nilai-nilai spiritual sebagai pandangan hidup. 

PENUTUP

Proses transformasi diri manusia dipengaruhi oleh baik tidaknya relasi seseorang dengan dirinya, orang lain, lingkungan sekitar dan juga relasi dengan Allahnya. Karya tulis kecil ini, setidaknya membarikan gambaran bagaimana menumbuhkembangkan diri lewat perbaikan relasi itu.Perbaikan relasi menajdi semakin penting dan relevan dalam proses tumbuh-kembang diri manusi. Derasnya arus globalisasi, berjubelnya informasi dan semakin pesatnya teknologi canggih (seperti multimedia) dapat mengaburkan dan merusak relasi manusia dengan dirinya, orang lain, lingkungan dan Allahnya.

Aneka tawaran berupa kebudayaan, nilai-nilai, perilaku dan informasi berbagai bidang lainnya berdatangan  sendiri ke depan mata. Keadaan  demikian menuntut kearifan dan kebijaksanaan  dalam menyaring dan memilih apa yang positif dan baik serta tegas mengedepankan nilai-nilai dan pandangan hidup yang kita anut dan yakini. Dengan pilihan tersebut diharapkan perbaikan relasi kita tidak terganggu, sehingga proses penumbuhkembangan diri kita dapat berjalan dengan baik dan sehat. 

BAHAN ACUAN

Sumber Utama:

Dayringer, R., The Heart of Pastoral Conseling.  Healing Through Relationship, Revised ed. The Haworth Pastoral Press: New York,. 1998

Eggert, Max,  Perfect Counseling, Arrow Books Limited:London, 1996 

Fuster, J.M., SJ, Teknik Mendewasakan Diri, Kanisius : Yogyakarta, 1985

Hidayat Komaruddin, Artikelnnya, Jabatan Tinggi, EQ Rendah? dalam harian umum Kompas, 23 Februari 2005

Sutanto, Limas, Diktat Mata Kuliah Konseling Pastoral, STFT Widyasasana: Malang, 2002

Iklan

JAMAN RENAISSANCE (ABAD XV-XVI)


JAMAN RENAISSANCE (ABAD XV-XVI)

Renaissance berarti “lahir kembali”. Pengertian riilnya adalah manusia mulai memiliki kesadaran-kesadaran baru yang mengedepankan nilai dan keluhuran manusia. Suasana dan budaya berpikirnya memang melukiskan “kembali” kepada semangat awali, yaitu semangat filsafat Yunani kuno yang mengedepankan penghargaan terhadap kodrat manusia itu sendiri.

Jaman ini lebih merupakan gerakan kebudayaan daripada aliran filsafat. Keluhuran dan kehebatan manusia tampak dalam ungkapan-ungkapan seni hasil karya manusia.

Politik tidak lagi dipikirkan dalam kaitannya dengan iman dan agama, tetapi dengan politik itu sendiri, sebab politik mempunyai etika dan moralnya sendiri. Etika politk adalah etika kekuasaan, artinya tunduk pada pertimbangan-pertimbangan kestabilan dan keselamatan negara, bangsa, pemerintahan dan kekuasaan.

Bila abad pertengahan memegang teguh konsep ilmu pengetahuan sebagai rangkaian argumentasi, jaman renaissance merombaknya dengan paham baru, yaitu bahwa ilmu pengetahuan itu adalah soal eksperimentasi. Pembuktian kebenaran bukan lagi pembuktian argumentatif-spekulatif, melainkan eksperimental-matematis-kalkulatif.

Tokoh-tokohnya antara lai: Galileo Galilei, Hobbes, Newton, Bacon.

 Boleh disimpulkan bahwa jaman renaissance adalah jaman pendobrakan manusia untuk setia dan konstan dengan jati dirinya. Jaman ini sekaligus menggulirkan semangat baru yang menghebohkan, terutama dalam hubungannya dengan karya seni, ilmu pengetahuan, sastra dan aneka kreativitas manusia yang lain. Di sini filsafat memegang fungsinya yang baru yaitu meletakkan dasar-dasar bangunan pengembangan aneka ilmu alam/ pasti yang merintis hadirnya tekhnologi-tekhnologi seperti yang kita nikmati sekarang ini.

AKU AKAN MENGUTUS ROH KUDUS KEPADAMU


AKU AKAN MENGUTUS ROH KUDUS KEPADAMU

Selasa, 23 Mei 2006

Bacaan: Yoh 16:5-11

==========================================

“Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih baik bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jika Aku tidak pergi, Penghibur (Roh Kudus-red) itu tidak datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman” (ay. 6-8).

ascension

Sesudah kebangkitanNya dari alam maut, Yesus Kristus naik ke surga. Kenaikan Yesus inilah yang dimaksudNya ketika Ia mengatakan “Adalah lebih baik bagi kamu, jika Aku pergi. Ia pergi kepada Bapa dan akan mengutus Roh Kudus, Roh Kebenaran.

Ia pergi kepada Bapa karena Ia adalah Anak Allah dan UtusanNya. Roh Kudus atau Roh Kebenaran diutus untuk mengingatkan murid-muridNya akan perkataan-perkataan yang pernah diucapkan Yesus semasa tinggal bersama-sama dengan para murid.Pada setiap tahun dalam bulan Mei, orang-orang yang percaya pada Yesus merayakan hari kenaikan Yesus Kristus ke surga. Pada hari ini menjadi momen penting mengenang bahwa Yesus adalah bersat dengan dengan Bapa dan Roh Kudus. Suatu kesatuan cinta kasih Tri Tunggal Mahakudus yang hendak menyelamatkan semua orang dari kedosaannya. AMIN (Pormadi)

PRAKTEK PEMBENTUKAN DIRI (sambungan)


PRAKTEK PEMBENTUKAN DIRI (sambungan)

Tahap III: Tahap Melangkah dan Keterampilan Memulai

a. Pengertian

Setelah kita mengenal keadaan kita, maka kita akan mengerti akar-akar dalam diri kita yang memunculkan keadaan itu  dan kita mengerti kemana tujuan kita, tahap berikutnya adalah tahap melangkah. Kita melangkah dari kedudukan di mana kita ke tempat yang kita inginkan. Kita bertindak, menyusun langkah-langkah yang tepat dan sistematis menuju tujuan.

b. Pelaksanaan

Untuk memperlancar proses menuju tujuan ini kita gunakan keterampilan memulai. Keterampilan memulai mengajak kita untuk melihat langkah-langkah yang harus kita ambil untuk mencapai tujuan kita. Kita menyusun langkah-langkah itu secara sistematis menurut jadwal waktu tertentu. Keterampilan-keterampilan itu  secara sistematis menurut jadwal waktu tertentu. Keterampilan memulai mempunyai empat langkah

:1)     Menentukan tujuan

2)     Memilih langkah-langkah untuk mencapai tujuan

3)     Memilih langkah-langkah pertama dan berikutnya

4)     Menentukan jadwal waktu

Mari kita ikuti contoh ini. Ali masuk tahap melangkah dengan menggunakan keterampilan memulai. Ia menentukan tujuan dengan bertanya pada diri, “Apa tujuan saya?” Ia menjawab, “Tujuan saya adalah Mengikuti kuliah secara  intensif dan memanfaatkan kegiatan rohani: pendalaman iman, kelompok Kitab Suci dan mengikuti kegiatan rohani bersama baik lingkungan maupun di kampus sebagai kesempatan memperdalam arti hidup.

Niat tinggal niat tanpa menentukan langkah-langkah konkrit biasanya mudah kandas. Maka ia bertanya, “Apa langkah-langkah yang akan kutempuh untuk mencapai tujuan saya?” Ia kemudian memilih langkah-langkah untuk mencapai tujuan:

  • Saya akan rajin belajar dan mengikuti kuliah di Universitas Indonesia.
  • Saya akan mengikuti kegiatan pendalaman iman/ penyegaran rohani agama saya.
  • Saya akan membeli Kitab Suci dan rajin membacanya.
  • Saya akan ikut kegiatan rohani bersama baik di kampus maupn di lingkungan.
  • Saya akan merenungkan dan menghayati apa arti dan tujuan hidupku.

Ali merasa bahwa dengan langkah-langkah itu keinginan memanfaatkan kegiatan rohani untuk memperdalam arti hidup dapat terlaksana. Ia tidak dapat mengambil langkah-langkah itu sekaligus, karena langkah-langkah itu ada yang mudah dilaksanakan dan ada yang sulit. Ia akan menyusun langkah-langkah itu secara sistematis dari yang paling mudah ke yang paling sulit. Ia menentukan sebagai langkah pertama, “Saya akan mohon kekuatan kepada Allah dalam setiap doaku agar dapat mengatasi kemalasan saya dan dapat mengerti arti hidup”. Mengapa langkah pertama harus ditentukan lebih dulu, karena langkah pertama adalah langkah penting untuk memancing langkah-langkah berikut. Seorang bijaksana, Lao Tse pernah mengatakan, “Sebuah pohon sebesar anda bermula dari sebuah biji yang kecil; perjalanan seribu mil berawal dari sebuah langkah kecil”. Pepatah bijaksana ini patut kita pegang dalam setiap langkah kita membentuk diri kita.

Setelah menentukan langkah pertama, ia menentukan langkah-langkah berikutnya:

1)     Saya akan memohon kekuatan kepada Allah dalam setiap doaku agar dapat mengatasi kemalasan saya dan secara mendalam dapat mengatasi arti hidup ini. Dalam doa saya akan meyakinkan diri bahwa Allah dapat mengubah dan membentuk saya.

2)     Saya akan mengikuti jadwal kuliah dengan persiapan malamnya sebelum jam kuliah dimulai.

3)     Saya akan mencari jadwal kegiatan pendalaman iman atau kegiatan rohani baik di lingkungan maupun di kampus.

4)     Saya akan mengikuti kegiatan kelompok Kitab Suci.

Setelah menentukan langkah-langkah itu, ia lalu menentukan jadwal kapan ia harus memulai melakukannya. Ia lalu menetapkan bulan, minggu, hari dan jam pelaksanaan secara tepat.Sekarang Ali memiliki program langkah terorganisasi rapi. Ia mengerti mulai dan kapan mengharapkan mencapai tujuan. Ia mengerti apa yang harus dilakukan setiap hari, minggu, dan bulan. Dengan cara ini, Ali didorong untuk melangkah terus pelan-pelan karena merasa programnya telah teratur. 

Tahap Akhir: Evaluasi

a. Pengertian

Untuk mengetahui apakah program itu terlaksana dengan baik atau tidak, setiap malam Ali meluangkan waktu 10 menit untuk mengevaluasi pelaksanaan programnya. Tanpa evaluasi program langkah belumlah lengkap.Evaluasi berarti melihat kembali bagaimana program langkah itu dipenuhi; dimana kekuatan-kekuatan dan kelemahannya; pembenahan apa yang perlu dilengkapi; bagaimana kita membangun dan menguatkan motivasi dalam diri kita; bagaimana menjamin keberhasilan dalam penyempurnaannya.

b. Pelaksanaan

Demi keberhasilan program, sebaiknya kita tidak menginjak langkah yang lebih lanjut sebelum yang mendahuluinya sepenuhnya tercapai. Jadwal waktu hendaknya fleksibel sehingga ada kemungkinan diadakan pembenahan berdasarkan perkembangan pelaksanaan. Jadi satu langkah mungkin bisa dilaksanakan lebih cepat, yang lain lebih lambat.

Mungkin yang paling sulit dari pelaksanaan program ini adalah mempertahankan semangat kita dalam memenuhi apa yang telah diputuskan. Di sini pemakaian perangsang positif dan negatif akan sangat  membantu yaitu: memberi hadian kepada diri sendiri bila mengambil langkah dengan tepat dan menghukum bila malas atau ada faktor lain yang membuat kita gagal memenuhi apa yang telah kita temukan. 

ABAD PERTENGAHAN: ABAD PERKAWINAN FILSAFAT DAN TEOLOGI


ABAD PERTENGAHAN: ABAD PERKAWINAN FILSAFAT DAN TEOLOGI

Tugas filsafat pada abad ini mensistematisasikan iman secara rasional. Filsafat dianggap preambulum fidei et ancilla theologiae. Pada abad pertengahan ini terjadi pula pembelaan iman yang kelewat batas. Iman di atas segala-galanya. Iman ini adalah jaman inkuisisi: pengadilan iman yang secara tegas membela kebenaran iman, karenanya setiap penyimpangan adalah kesesatan yang harus dihukum.

Nilai-nilai manusia dipikirkan dalam kaitannya dengan iman. Kepenuhan hidup manusia berada pada kutub keilahian. Hal ini bisa kita lihat dalam teologinya Thomas Aquinas. Teologinya memiliki warna filosofis, demikian pula sebaliknya.

Jaman ini adalah jaman kejayaan perkawinan antara filsafat dan iman di satu pihak, dan radikalisme pembelaan kemurnian iman di lain pihak.

Semangat abad pertengahan dimana iman kristiani menjadi segala-galanya dalam tata hidup bersama, tampaknya semangat itulah yang terjadi sekarang di Indonesia. Bedanya adalah iman agama Islam dalam arti perjuangan penerapan syariat Islam menjadi ideologi bangsa dan negara Indonesia oleh sekelompok masyarakat. Hal ini bisa kita lihat dari perjuangan pengesahan Rancangan Undang-Undang Antipornograpi dan Antipornoaksi dan Syariat Islam di berbagai daerah seperti di Nanggroe Aceh Darussalam, Padang, Banten dan sebentar lagi di kota Depok.

DENGAN MEMBUNUH KAMU, MEREKA MENYANGKA TELAH BERBUAT BAKTI BAGI ALLAH


DENGAN MEMBUNUH KAMU, MEREKA MENYANGKA TELAH BERBUAT BAKTI BAGI ALLAH


Senin, 22 Mei 2006

Bacaan: Yoh 15 26-16:4a


===============================================================
“Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Allah maupun Aku” (ay. 2-3).Perkataan Yesus ini menyatakan bahwa akan ada orang yang hendak dan berniat meniadakan atau menghanguskan murid-murid atau orang yang percaya kepada Yesus Kristus yang sudah, sedang dan akan terjadi sepanjang sejarah hidup manusia. Menurut Yesus, mereka yang hendak membunuh murid-muridNya menyangka bahwa mereka berbuat bakti kepada Allah. Mereka berbuat demikian karena tidak mengenal kebenaran Allah yaitu Allah yang mengasihi semua umat manusia.Setiap kali saya mendengar bahwa ada sekelompok orang atau penguasa yang mengganggu, menghalangi-halangi dan menghambat proses dan kegiatan ibatah sekelompok umat beragama, setiap kali itu pula aku bertanya mengapa mereka hendak berbuat demikian? Apakah mereka hendak meniadakan manusia lain yang berada di luar kelompoknya? Apakah mereka tidak mengenal kebenaran Allah? Inilah yang menjadi renungan dan kegelisahanku. AMIN (Pormadi Simbolon)

PRAKTEK PEMBENTUKAN DIRI (sambungan)


PRAKTEK PEMBENTUKAN DIRI (sambungan)

Tahap II: Mengerti diri dan keterampilan mempribadikan

a. Pengertian

Dengan tahap menyelidiki diri kita tahu keadaan diri yang obyektif. Tahap berikut dari proses belajar kita adalah MENGERTI DIRI. Kita mengerti dimana kedudukan kita dalam hubungannya dengan tujuan yang ingin kita capai. Pada tahap mengerti diri ini, kita berusaha mengerti akar-akar penyebab dalam diri kita yang ikut serta menciptakan keadaan kita itu. Dengan kata lain, kita ingin mengerti apa yang saya buat dan tidak saya buat sehingga keadaan saya itu tercipta.

Bila kita ingin mengerti akar penyebab dalam diri kita yaitu apa yang kita buat dan tidak kita buat sehingga keadaan itu terjadi, atau kita tahu apa andil kita dalam menciptakan keadaan kita itu, maka kita kan mengerti pula apa yang sekarang harus kita buat untuk memperbaiki keadaan itu.

b. Pelaksanaan

Untuk memperlancar mengerti diri ini, kita gunakan keterampilan MEMPRIBADIKAN. Ada dua macam keterampilan mempribadikan, yaitu keterampilan mempribadikan permasalahan dan keterampilan mempribadikan tujuan.

Keterampilan mempribadikan permasalahan kita laksanakan dengan mengajukan pertanyaan kepada diri kita, “Dengan cara bagaimana saya ikut serta menciptakan keadaan saya itu?” atau “Apa yang saya buat dan tidak sehingga saya iri kepada teman saya?” Saya menjadab, “Saya iri karena saya tidak mau menerima diri saya apa adanya dan saya tidak mendalami perintah kasih sayang kepada sesama. “Sekarang saya tahu akar permasalahan dalam diri saya yang menciptakan keadaan saya itu. Saya tidak mau menerima diri  dan tidak mendalami perintah kasih sayang kepada sesama”. Inilah yang disebut mempribadikan masalah.

Setelah mengerti akar permasalahan yang ada dalam diri saya, saya menentukan apa yang harus saya buat untuk memperbaiki keadaan. Saya menggunakan keterampilan mempribadikan tujuan. Saya bertanya kepada diriku, “Apa tujuan hidup saya sekarang?” Saya menjawab, “Tujuan hidup saya ialah belajar menerima diri saya apa adanya dan merenungkan  perintah kasih kepada sesama manusia”.

Keterampilan mempribadikan permasalahan membuat kita sadar akan akar keterlibatan kita dalam permasalahan kita dan membuat kita bertanggung jawab atas apa yang kita buat dan tidak kita buat. Ini membebaskan kita kecenderungan menyalahkan orang lain dalam menghadapi permasalahan kita. Bila dalam menghadapi permasalahan, kita menyalahkan orang lain, maka kita tidak akan  terdorong untuk mengubah diri. Dan permasalahan kita tidak akan terpecahkan. Dengan memusatkan pada apa yang saya buat dan tidak saya buat sehingga keadaan itu muncul, maka saya didorong untuk mengubah diri. Dengan demikian ada harapan perubahan.Keterampilan mempribadikan tujuan membuat kita mampu mengubah permasalahan menjadi tujuan. Dengan demikian kita tahu arah untuk bertindak. Arah inilah yang harus kita ikuti dan semaksimal mungkin kita mencurahkan daya kita untuk tindakan perbaikan.

Mari kita iktui contoh ini. Ali pada tahap menyelidiki diri menemukan, “Saya tidak bersemangat mengikuti kuliah di Universitas Indonesia karena saya tidak dapat melihat makna dan hidup dan tujuan kuliah bagi masa depan saya”. Dalam keadaan sperti itu, doa saya terasa kering karena sulit menemukan Allah dalam hidup saya”. Selanjutnya ia ingin masuk tahap II dari proses belajar yaitu mengerti diri. Ia menggunakan kecakapan mempribadikan permasalahan. Ia bertanya, “Apa keterlibatan saya dalam permasalahan ini?” Dia merenungkan sejenak dan mohon bimbingan Tuhan. Lalu dia menjawab, “Saya selama ini tidak pernah mencari dan memperdalam arti hidup dengan lebih serius. Rumusan ini masih agak kabur, maka ia bertanya lagi, “Apa yang persis saya maksud? Yang saya maksud adalah bahwa saya selama ini tidak pernah memanfaatkan kegiatan-kegiatan rohani seperti pendalaman iman dan membaca Kitab Suci dan bersama sebagai kesempatan untuk memperdalam arti hidup, sehingga pandangan saya tentang hidup menjadi picik dan dangkal. Ia ikut doa dan pendalaman iman sekedar hadir saja”.Setelah yakin akan keterlibatannya dalam permasalahannya, Ali melaksananakan keterampilan mempribadikan tujuan dengan mengubah permasalahan menjadi tujuan. “Tujuan saya ialah memanfaatkan kegiata-kegiatan rohani: pendalaman iman, bacaan Kitab Suci dan doa bersama sebagai kesempatan untuk memperdalam arti hidup”. Sekarang Ali  melihat dengan jelas arah yang harus dituju sehingga mencurahkan daya untuk mencapai tujuan itu.