Oknum Pendeta Diduga Perkosa 19 Mahasiswa


TARUTUNG – Puluhan mahasiswi Sekolah Biblevro, Tarutung, Sumatera Utara, mendatangi Kantor Pusat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Kamis (28/1/2010). Mereka mengadukan kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan Laguboti, salah soerang oknum Pendeta (Pdt) HKBP.

Pria yang juga menjadi staf pengajar di Sekolah Biblevro itu, diduga telah memperkosa 19 Mahasiswi yang ada di sekolah tersebut.

Para mahasiswa yang didampingi pendeta perempuan HKBP, Pdt Dr Dewi Sri Sinaga, mendesak agar pimpinan HKBP segera menggelar rapat guna membahas kasus pelecehan seksual itu.

Menurut Dewi, pelecehan seksual terhadap 19 mahasiswi itu sudah terjadi sejak Desember lalu. “Ini sudah berulang-ulang terjadi dan HKBP tidak pernah mengambil sikap tegas terhadap pendetanya. Ini harus dihentikan sekarang juga,” terang Dewi.

Menurut perempuan yang juga salah satu dosen di STT HKBP Pematang Siantar, perilaku oknum pendeta itu sudah sangat mencoreng tubuh Kristus yang diyakini sebagai dasar kerja kepenginjilan.

“Ini pasti akan kita bawa ke jalur hukum. Namun sejauh ini kita berharap ada ketegasan dari internal HKBP. Serta kami meminta agar keseluruhan mahasiswi didukung,” katanya.

Dewi pun menyesalkan adanya pihak-pihak yang terkesan menghalang-halangi ke-19 mahasiswa, korban pelecehan oleh oknum pendeta itu, untuk menempuh jalur hukum. “Jalur hukum itu ada, dan kita akan menempuhnya,” tegas Dewi.

“Kami akan tetap di Tarutung ini untuk meminta kejelasan nasib kami. Sebab kami dikirim orang tua kami untuk belajar Al kitab di sekolah tersebut bukan belajar mengenai pelecehan seksual,” teriak sebagian mahasiswi.(Baringin Lumban Gaol/Koran SI/ded)

Sumber: http://news. okezone.com/index.php/read/2010/01/28/340/298758/oknum-pendeta-diduga-perkosa-19-mahasiswa

Iklan

Paus Serukan Pastor di Dunia Nge-Blog


Paus Serukan Pastur di Dunia Nge-Blog
Senin, 25 Januari 2010 – 14:18 wib
TEXT SIZE :

Stefanus Yugo Hindarto – Okezone

Vatikan

VATIKAN – Pimpinan tertinggi umat katholik sedunia, Paus Benediktus XVI
menyerukan kepada pastur-pastur di seluruh dunia untuk memanfaatkan semua
‘peralatan’ multimedia untuk menyebarkan firman Tuhan, termasuk lewat blog.

Paus yang belum lama ini memiliki laman situs pribadi, mengatakan bahwa
berselancar di dunia maya hanya sebatas membuka email tidaklah cukup.
Seorang pastur harus melakukan terobosan di dunia teknologi untuk
mengekspresikan dirinya dan memimpin komunitas yang dipimpinnya. Blog juga
dianggap mampu untuk jalan membuka dialog dengan komunitas kepercayaan dan
kebudayaan lain di luar Katholik.

“Pastur memiliki tantangan untuk menyebarkan ajaran-ajaran Kristus dengan
memaksimalkan pemanfaatan sumber-sumber audio visual terbaru,” kata
Benediktus seperti dilansir SMH, Senin (25/1/2009).

Ditambahkannya, pastur-pastur muda seharusnya familiar dengan media baru
sejak menempuh pendidikan di seminar dan harus menekankan bahwa penggunaan
teknologi terbaru harus merefleksikan prinsip-prinsip spiritualitas.

“kehadiran pastur di dunia komunikasi digital seharusnya menjadi catatan
penting bagi mereka,” kata pria berusia 82 tahun tersebut.

Ia juga merasa prihatin dengan maraknya kekerasan, dan pornografi di
internet, seharusnya dunia internet yang dapat digolongkan sebagai era baru
komunikasi dapat memberikan sumbangsih baru bagi kemanusiaan. Internet harus diarahkan untuk membantu mempererat persahabatan dan sikap saling mengerti di antara umat manusia (srn)

Sumber: Milis ApiK/Okezone

Majelis-Majelis Agama Indonesia Kecam Perusakan Gereja di Malaysia


Majelis-majelis agama Indonesia menyatakan keprihatinan atas perusakan gereja-gereja di Malaysia setelah putusan Pengadilan Tinggi Malaysia memperbolehkan penggunaan kata “Allah” pada 31 Desember 2009.

Imbauan tersebut disampaikan Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Slamet Effendi Yusuf, Senin lalu dalam sebuah konferensi pers yang dihadiri perwakilan dari Konferensi Waligereja Indonesia, Perseketuan Gereja-Gereja di Indonesia dan perwakilan organisasi keagamaan lainnya.

Mereka mengimbau seluruh umat beragama khususnya umat Islam dan Kristen di Malaysia menahan diri untuk tidak melakukan tindakan kekerasan dan anarkis, seperti membakar gereja, dalam bentuk protes terhadap keputusan pengadilan tinggi.

“Penyelesaian harus ditempuh lewat jalur hukum formal, dengan cara pengajuan banding,” kata Slamet.

Mereka juga meminta semua kalangan menahan diri agar persoalan tersebut tidak meluas ke bangsa-bangsa di Asia Tenggara. Imbauan tersebut juga ditujukan kepada umat agama di Indonesia karena kejadian di Malaysia juga bisa terjadi di Indonesia.

“Di masa depan perlu dikembangkan dialog theologis antar pimpinan dan umat beragama untuk membangun persaudaraan sejati dan saling pengertian di antara sesama warga bangsa dan umat beragama,” kata Slamet.

Sebelumnya, pengadilan Malaysia memutuskan untuk mengizinkan warga yang beragama Kristen untuk menggunakan kata ‘Allah’ terhadap tuntutan penggunaan kata Allah oleh majalah mingguan Katolik The Herald. Keputusan pengadilan itu menimbulkan protes keras sehingga terjadi pengrusakan gereja.

Sementara itu, Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Razak telah memerintahkan pihak berwenang untuk meningkatkan keamanan dan penjagaan rumah-rumah ibadah.

“Kami tak akan ijinkan perdamaian dan pengertian yang dimiliki warga Malaysia yang terdiri dari berbagai etnik dan latar belakang terancam oleh siapa pun,” kata Najib, Jumat lalu.

Malaysia adalah negara dengan penduduk 28 juta jiwa, di mana 60 persen dari jumlah itu adalah beragama Islam dan 40 persen lainnya dari berbagai agama (Kristiani Post – id.christianipost.com/ 22Jan 2010)

Visi dan Misi Lembaga Pendidikan Katolik di Provinsi Gerejawi Makassar Disepakati Direvitalisasi


Visi dan misi Lembaga Pendidikan Katolik (LPK) di Provinsi Gerejawi Makassar disepakati untuk direvitalisasi. Demikian salah satu butir penting hasil pertemuan Forum Konsultasi Tokoh Masyarakat Katolik Provinsi Gerejawi Makassar, 23-25 Oktober 2009 di Hotel Swiss-Belhotel Maleosan Manado.

Pertemuan yang diprakarsai Dirjen Bimas Katolik dengan bekerjasama dengan para Uskup provinsi gerejawi Makassar itu membahas tema Pemberdayaan LPK  di bidang pendidikan secara khusus  menanggapai Keprihatinan Sosial Gereja di bidang pendidikan yang terdapat dalam Nota Pastoral KWI 2008.

Selain pimpinan Gereja, hadir pula para tokoh masyarakat Katolik setempat yang peduli pendidikan Katolik baik dari kalangan Gereja maupun dari pemerintahan seperti P. Alex Lethe, Pr , P. Frederikus S. Tawaluyan, Pr , Prof. Dr. Philoteus E. S. Tuerah M.Si, DEA, Mayjen TNI (Purn) Ferry Tinggogoy, Dra.Henny Pratiknyo, MA, Stevy Thioritz, dan Sr. Margarethis K. TMM.

Di samping tokoh masyarakat Katolik setempat, hadir pula tokoh masyarakat Katolik berskala nasional dan pejabat pemerintah dari Jakarta yakni Dr. Cosmas Batubara politisi,  Praktisi dan Pemerhati Pendidikan; Mayjen (Purn.) Herman Musakabe – Mantan Gubernur NTT dan Praktisi/ Pemerhati Pendidikan dan Masalah-masalah Sosial Kemasyarakatan; dan Dr. J. Riberu – Mantan Rektor Unika Atma Jaya Jakarta dan Praktisi/ Pemerhati Pendidikan; dan Drs. Frans Meak Parera Mantan Kepala Bank Naskah Kompas – Gramedia Jakarta.

Menurut Uskup Makassar, Mgr. Jhon Liku Ada’ Pr, tahun 1970-an dalam Gereja, pendidikan itu primadona. Tercatat ada 71 Sekolah Katolik di Keuskupan Agung Makassar. Sekolah-sekolah Katolik mempunyai dua ciri dalam pewartaan. Pertama sebagai sarana unggul penambahan umat lewat penginjilan. Kedua, banyak murid sekolah Katolik berasal dari agama mayoritas.

Berdasarkan statistik, mulai tiga dekade terakhir, situasi berubah.  Tahun 2008, terjadi penurunan murid non-Katolik. Juga mutu pendidikan Katolik menurun.  Ini harus dipikirkan secara serius. Sekarang kita harus melihat kenyataan ini.

Lanjut Uskup Makassar ini mengutip Nota Pastoral KWI 2008, ada tujuh aspek persoalan pendidikan sekolah Katolik: aspek filosofi pendidikan, aspek pastoral, aspek politis pendidikan, aspek manajemen, aspek SDM, aspek finansial, dan aspek demografi. Ketujuah akar persoalan ini harus dilihat sebagai peluang dan tantangan”.

Upaya-upaya konkrit yang kami laksanakan antara lain pertama, mempertahankan sekolah Katolik yang masih bisa dipertahankan, namun sebagian lagi harus  ditutup. Kedua, karena kita tidak mampu membuka sekolah-sekolah baru, maka usaha kita adalah memperbanyak TK. Sedapat mungkin ada di setiap paroki/ Stasi besar. Ketiga membangun pendidikan berbasis asrama. Keempat, melalui pembinaan iman anak. Dalam keluarga, apakah situasi dan kondisi memungkinkan? Dalam negara, pelajaran agama terbatas, dan yang terjadi sebatas aspek kognitif. Dalam gereja, pemberdayaan TK dan SEKAMI (serikat anak-anak misioner).

Berbeda dengan Keuskupan Agung Makassar yang menyoroti sisi penurunan jumlah murid sekolah-sekolah Katolik, Keuskupan Manado menyoroti lembaga pendidikan Katolik dari sudut pengadaan guru, sebagai tenaga pendidik.   Kekurangan  guru merupakan persoalan penting untuk masa depan lembaga pendidikan Katolik.

Uskup Manado, Mgr. Yoseph Suwatan mengatakan, dulu Tomohon sangat terkenal dengan guru-guru agama lulusannya yang tersebar ke berbagai tempat di Indonesia Timur. Bahkan dalam sejarah, pendidikan guru di Tomohon tidak hanya terkenal di Indonesia Timur,  tetapi juga ke daerah Tapanuli dan dan daerah Kalimantan. Banyak pula calon-calon guru datang untuk belajar di Tomohon.

Namun sekarang, kita kesulitan mencari tenaga pendidik, guru. Menurut Uskup Manado, “dulu kita mempunyai Sekolah Guru Agama, lalu diubah Pemerintah menjadi Sekolah Pendidikan Guru (SPG) yang mempersiapkan tenaga pendidik/ guru yang baik. Tahun 1990 – SPG dibubarkan pemerintah, ada 18 di seluruh Indonesia. Diganti menjadi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di bawah  Perguruan Tinggi Negeri, kecuali IKIP Sanata Dharma sebagai lembaga swasta yang dapat mengadakan PGSD. Waktu itu saya menjadi uskup. Kita berjuang supaya ada lembaga yang mendidik guru-guru kita. Romo Sewaka,SJ. dari MNPK KWI, akhirnya berhasil memperjuangkan lembaga pendidikan guru di bawah pengawasan/ bimbingan  Sanata Dharma, dan lulusannya  hanya untuk kebutuhan intern Lembaga Pendidikan Katolik, mereka tidak bisa menjadi PNS. Hanya ada 4 PGSD Katolik yang terdiri dari: Tomohon, Maumere, Semarang (Mendut) dan Nyarumkop (Pontianak). Entah berapa yang masih bertahan. Nayarumkop tidak ada lagi”.

Sejalan dengan persyaratan untuk menjadi guru SD harus Sarjana (S1). Maka ada wacana dari Keuskupan Manado supaya  Universitas Katolik De La Salle Manado  membuka Fakultas Pendidikan dan Keguruan, sebagai usaha mempertahankan upaya mendidik sendiri guru-guru agama Katolik.

Sekolah Katolik di Keuskupan Manado (meliputi provinsi SULUT, SULTENG, GORONTALO). Seluruhnya ada 286, sudah termasuk sekolah fratera dan suster. Persoalan pendidikan yang dihadapi Keuskupan Manadao adalah : soal mutu pelajaran/pendidikan (moralitas dan disiplin), tenaga pendidik, sarana dan prasarana, soal regulasi  pemerintah dan etatisme, soal yayasan penyelenggara: Yayasan Pendidikan Katolik, struktur dan manajemen.

Uskup Manado berharap adanya suatu pembaruan lewat Nota Pastoral KWI 2008. Nota Pastoral ini : dapat membantu kita untuk berefleksi dan mengadakan pembaruan terhadap lembaga pendidikan Katolik.

Sementara itu di Keuskupan Amboina,  menurut Vikjen Keuskupan Amboina, Pastor Yonas Atjas Pr, pengelolaan sekolah Katolik di keuskupannya belum maksimal, selain itu masih banyak anak Katolik yang belum mengenyam pendidikan formal. Hal ini disebabkan oleh rendahnya kesadaran orangtua akan pentingnya pendidikan. Juga disebabkan karena kemiskinan sehingga banyak anak yang putus sekolah.  Dari sisi institusional, SDM penyelenggara, pengelola dan pelaksana belum memadai, sehingga output pendidikan kita cenderung rendah. Yang paling parah, kesiapan gedung sekolah dan sarana prasarana pendidikan juga belum memadai. Peranserta masyarakat pendidikan belum optimal membantu. Bantuan semata – mata berasal dari pihak pemerintah daerah. Meskipun perhatian pemerintah daerah telah cukup menyeluruh sampai ke pelosok, daerah terpencil, namun dirasakan belum banyak berarti.

Pimpinan Gereja Keuskupan Amboina berharap bahwa salah satu perwujudan panggilan dan perutusan gereja adalah melalui kerasulan di bidang pendidikan. Kiranya pendidikan formal maupun informal, teristimewa di dalam keluarga dibenahi dengan baik, agar tercipta manusia yang berkembang dewasa secara manusiawi dan kristiani. Yang pertama-tama harus mendapat perhatian adalah mutu keluarga – keluarga Katolik. Mengapa? Karena keluarga: sekolah pertama dan utama. Pendidikan yang baik: kewajiban asasi setiap keluarga, tegasnya.

Selanjutnya, menurut Pastor Yonas Atjas, sekolah Katolik memiliki peran demikian sentral karena menjadi wujud kerasulan gereja sebagai sakramen keselamatan bagi dunia dan manusia. Di sekolah guru memegang peran paling penting, mereka adalah pelaku utama pendidikan di sekolah. Maka guru yang bermutu sangat dibutuhkan sekarang ini. Guru, selain fungsi formal nya mengajar, namun dengan itu, ia dipanggil menjadi saksi iman yang hidup bagi manusia, murid – muridnya. Bersamaan dengan itu pula, sangat diharapkan bahwa, para guru memiliki kemampuan membangun dan mengembangkan kerjasama dengan semua pihak, teristimewa orangtua siswa. Harapan yang tidak kalah pentingnya dalah bahwa sekolah – sekolah Katolik diharapkan tetap menjalin kerjasama yang baik dengan pihak pemerintah dan para pemangku kepentingan lainnya. Pembangunan dan pengembangan jejaring ini harus pula dikembangkan pada tataran kerjasama antar sekolah Katolik dan sekolah negeri  serta sekolah swasta lainnya demi tujuan – tujuan mulia, misalnya saling tukar informasi dan pengembangan mutu.

Pada hari terakhir pertemuan setelah mendengarkan masukan para pimpinan gereja dan tokoh masyarakat, para peserta pertemuan bersehati dan bersepakat mengemban amanat pastoral untuk merevitalisasi lembaga pendidikan Katolik. Ada sepuluh butir  kesepakatan yang dirumuskan. Beberapa diantaranya selain merevitalisasi visi misi LPK, juga mendorong terbentuknya jejaring atau forum komunikasi di Provinsi Gerejawi Makassar sebagai wadah untuk mengkaji permasalahan antara lain di bidang pendidikan (regulasi, perkembangan IPTEK dan situasi internal Gereja katolik).

Selain itu disepakati peserta untuk mengupayakan pengadaan dan peningkatan profesionalisme pendidik dan tanaga kependidikan; meningkatkan komunikasi dengan para pemangku kepentingan baik internal Gereja Katolik, pemerintah dan mitra kerja lainnya; mengupayakan kerjasama dan solidaritas sekolah-sekolah Katolik di Provinsi Gerejawi Makassar; meningkatkan pastoral keluarga dalam rangka meningkatkan pendidikan nilai yang menjadi insan Katolik yang militan, tangguh, dan berbudi luhur; mengupayakan dengan serius pengadaan dan pengembangan pendidikan kewirausahaan pada lembaga pendidikan Katolik; mengupayakan dengan sungguh-sungguh peningkatan kesejahteraan pendidik and tenaga kependidikan dalam rangka  pelayanan dan pengabdian pada lembaga pendidikan Katolik yang bermutu, serta melaksanakan dengan serius melaksanakan pendidikan karakter di LPK dengan langkah-langkah pendidikan nilai yang efisien dan efektif.

Pada misa penutupan, Mgr. Jhon Liku Ada’ berpesan agar semua peserta memohon pendampingan Tuhan dalam melaksanakan kesepakatan bersama ini. Ada bahaya-bahaya yang perlu diantisipasi seperti bahaya konkretisme, kekuasaan, kesombongan. “Kita butuh pendampingan Tuhan agar kita dapat menindaklanjuti kesepakatan ini” tegas Uskup Makassar ini.  Menurut Uskup John Liku Ada, kesepakatan ini harus ditindaklanjuti dalam iman, kasih dan penuh harapan, sehingga kita bisa terhindar dari bahaya-bahaya yang ada. (EH /Pormadi Simbolon)

Umat Katolik di Propinsi Gerejawi Kupang: HARUS MENGUBAH MENTALITAS


Umat Katolik di Propinsi Gerejawi Kupang harus mengubah  pola perilaku hidup   Komunal Feodal dan ketergantungan, menuju perilaku   komunal yang produktif dan mandiri. Mentalitas lama harus diubah demi kesejahteraan umat. Demikian salah satu kesepakatan bersama  pertemuan Forum Konsultasi  Tokoh Umat katolik Provinsi Gerejawi  Kupang pada 11-13 Desember 2009 di Hotel Kristal, Kupang – Nusa Tenggara Timur (NTT)

Pertemuan yang diprakarsai  oleh Dirjen Bimas Katolik dengan para pimpinan Gereja lokal  tersebut mendapat sambutan hangat dari pimpinan Gereja lokal dan pemerintah setempat. Selain para Uskup, turut hadir para tokoh nasional dari Jakarta seperti Cosmas Batubara, J. Riberu, Ferry Tinggogoy, Herman Musakabe, Frans M. Parera dan para pengurua PSE masing –masing keuskupan dan tokoh umat setempat seperti Linus Haukilo, Ambros Korbaffo dan Laurensius Juang. 

Sebagai ruang pembelajaran bersama, pertemuan tersebut bertujuan untuk melihat kondisi riil ekonomi umat di wilayah propinsi gerejawi Kupang dan menemukan solusi yang tepat mewujudkan kesejahteraan umat  dan kehadiran keselamatan dari Allah di dunia ini.

 

Menurut  pengamatan Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, pada keadaan riil di wilayah Keuskupan Agung Kupang, umat masih berjuang sekedar untuk bertahan hidup (survival). Melalui pertanian dan peternakan, umat berusaha memenuhi kebutuhan hidup sehari-sehari. Sistem ekonomi  masih sistem  face to face, dengan  sistem kekerabatan dan sistem pinjam-meminjam.  Gereja pernah mencoba melakukan  pemberdayaan ekonomi melalui pendekatan Koperasi.  Namun pada kenyataanya, Koperasi belum mampu mengubah ekonomi umat hingga sekarang. Koperasi masih lemah.

 

Untuk itu, menurut Uskup Agung Kupang, diperlukan agar  semua pihak baik pemerintah/ Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)  maupun pimpinan gerejawi untuk bekerjasama memberdayakan dan mendorong pertumbuhan sosial ekonomi umat melalui budaya tani dan ternak. Gereja hanya mempunyai perutusan untuk menyadarkan umat tentang perbaikan kehidupan ekonomi umat. Sedangkan yang memberikan  kemampuan teknis di bidang pertanian dan peternakan adalah pemerintah dan LSM.

 

Tidak jauh berbeda dengan keadaan ekonomi umat di Keuskupan Agung Kupang, kemiskinan dan pengangguran juga melanda umat di Keuskupan Weetebula. Menurut Uskup Weetebula, Mgr. Edmund Woga, CSsR, “Gereja dan Pemerintah memang sudah lama hadir di Keuskupan Weetebula, namun rakyat masih miskin dan melarat. Kesejahteraan atau keselamatan dari Allah belum dirasakan sejak di dunia ini. Siapa dan apa yang salah?” Demikian pertanyaan retoris uskup Weetebula ini kepada para peserta.

 

Dari  hasil permenungan Bapak Uskup Weetebula ada beberapa sumber kesalahan yang perlu diperbaiki. Pertama, sisi adat. Ada kebiasaan-kebiasaan  yang membuat umat makin miskin dan melarat. Kedua, kesalahan Gereja. Gereja mencoba membongkar adat,  padahal Gereja belum tahu banyak tentang adat, sudah mulai melarang ini dan itu. Sehingga umat merasa adat para misionaris ini lebih tinggi. Pada kesempatan lain, Gereja  mengajarkan hal-hal akhirat dan rohani semata. Sikap Gereja yang suka  memberi kepada umat, sehingga mentalitas umat untuk berusaha dan mandiri dalam hidup tidak tumbuh.

Sumber kesalahan ketiga adalah pelayan publik. Ada oknum pejabat publik yang menyalahkangunakan dana publik. Di NTT  sendiri tercium aroma bau korupsi. Keempat, kesalahan dari  diri sendiri (mental, sikap, dll). Orientasi para petani kita baru dapur, belum berorientasi ke PASAR. Pasar baru hanya sebatas tempat bertemu. Kelima, mempersalahkan hubungan kekerabatan (paguyuban/ gotong royong konsumtif). Hal ini  ikut memperlambat kemajuan. Semangat menabung belum ada. Untuk itu, menurut Uskup, hal ini menjadi pemikiran dan perbaikan bersama agar kesejahteraan dan keselamatan dari Allah bisa dinikmati umat.

                 Keadaan riil ekonomi di masyarakat Keuskupan Atambua tidak jauh berbeda dengan di Kupang dan Weetebula. Menurut Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku,Pr kemiskinan dan kemelaratan masih dirasakan umatnya. Padahal kehadiran dunia pendidikan sudah lama di Atambua.  Namun, sejumlah 72,6 % umat dari total  517.183 jiwa (data 2008)  hanya mengenyam pendidikan Sekolah Dasar.  Maka tidak heran sebagian besar (86 %) umat bermata pencaharian dari pertanian dan peternakan. Yang lebih memprihatinkan lagi, sebesar 56 %  dari jumlah orang muda Katolik hanya  berpendidikan SD dan sedang pengangguran. Apa yang bisa diharapkan dari dari keadaan demikian?

               

                Bagaimana keadaan demikian diatasi? Uskup Atambua mencoba menawarkan upaya dari dua arah. Pertama ke dalam (internal). Pimpinan Gereja membina persekutuan di dalam Gereja supaya Gereja menjadi Gereja umat,  memberikan peran lebih besar kepada umat supaya menunjukkan diri mereka sebagai GEREJA. Kedua, ke luar (eksternal). Pemerintah supaya lebih merakyat. Sebab pembayaran pajak, warga tidak tahu harus membayar ke siapa. Orang dari desa harus menunggu pejabat dari Pusat yang berkunjung ke desa, baru jalan-jalan desa dibangun. Demikian dijelaskan Bapak Uskup yang baru kurang lebih 3 tahun memimpin umat Keuskupan Atambua.

 

Mentalitas harus diubah

                Pada akhir pertemuan, semua peserta berkomitmen dan bersepakat untuk meningkatkan sikap solidaritas dan  saling percaya di kalangan umat Katolik dalam membangun ekonomi umat  melalui pendekatan koperasi.

                Dari sudut pendidikan, para peserta berkomitmen mengusahakan pengembangan Kewirausahaan melalui pendidikan formal, non formal dan informal untuk  mengembangkan pola hidup  produktif dan peningkatan Disiplin hidup dan membangun budaya kerja jeras, kerja cerdas dan tuntas.

                Mengingat penting konsientisasi umat, perlu diusahakan bersama penyadaran umat untuk mengkritisi kebiasaan dan adat istiadat setempat yang menghambat pertumbuhan ekonomi umat dan pentingnya   peningkatan kualitas pendidikan Sumber Daya Manusia yang handal, untuk mengelola Sumber Daya Alam,  Sumber Daya Kelembagaan,   Sumber Daya Waktu, dan Sumber Daya Uang serta penyadaran  umat untuk membangun sikap dan perilaku menabung. 

                Selain itu, disepakati pula untuk membangun jejaring kerja dan informasi pemasaran melalui koperasi dan mengusahakan perubahan pola perilaku hidup   Komunal Feodal dan ketergantungan, menuju perilaku   komunal yang produktif dan mandiri.    Forum bersama tersebut  berniat melaksanakan kesepakatan tersebut dengan  kesungguhan hati, sebagai panggilan iman dan moral Katolik untuk menanggapi keprihatinan sosial Gereja di Bidang kehidupan Sosial Ekonomi umat.  (Pormadi Simbolon)

 

Bentrok Antaragama Ratusan Orang Tewas


Liputan6.com, Jos: Bentrokan yang terjadi antara kelompok Muslim dan Kristen menewaskan lebih dari 200 nyawa di Kota Jos, Nigeria. Bentrokan yang meledak sejak Ahad silam, kini mulai mereda, walaupun suara tembakan sporadis masih terdengar. Demikian seperti dilansir Reuters, Rabu (20/1).

Saat ini sebanyak 151 mayat dari kelompok muslim telah dibawa ke masjid untuk dimakamkan. Sementara jumlah korban tewas kelompok Kristen berjumlah 65 orang. Diperkirakan, jumlah korban tewas akan bertambah.

Bentrokan meletus Ahad silam, menyusul sebuah pertengkaran di antara warga muslim dan Kristen atas pembangunan kembali rumah-rumah yang hancur akibat bentrokan pada 2008. Ratusan tentara dan polisi ditempatkan di seluruh negara bagian di pusat ibu kota Nigeria. Jalan-jalan sepi dan toko-toko tutup.

Jumlah penduduk muslim dan Kristen di Nigeria hampir sama, meskipun kepercayaan tradisional animisme masih mendominasi kepercayaan banyak orang. Bentrokan yang terjadi pada November 2008 menewaskan sekitar 700 orang. Sementara bentrokan sebelumnya pada 2001, lebih dari 1.000 warga Jos tewas.(ANS)
 Sumber: http://berita.liputan6.com/luarnegeri/201001/260061/Bentrok.Antaragama.Ratusan.Orang.Tewas

GOOGLE BANTAH MELINDUNGI ISLAM


 Google bantah melindungi Islam
(Jakarta 12/01/10) Penyedia layanan search engine terbesar dunia, Google, membantah telah membela kepentingan Islam di atas agama lainnya. Pernyataan tersebut menjawab tuduhan bahwa Google telah menyensor kata-kata kunci yang anti-Islam dalam hasil pencariannya. Coba jika pengguna Google mengetik kata “Christianity is” (Kristen adalah) maka dalam kotak pencarian akan langsung muncul daftar rekomendasi frasa yang bernada negatif. Begitu juga jika pengguna mengetikkan “Buddhism is” (Buddha adalah), hanya sedikit yang sesuai dan positif.

Namun, saat diketik “Islam is” kecenderungan yang sama tidak terjadi malah tidak muncul rekomendasi apa pun. Hal tersebut menuai kecurigaan bahwa Google mungkin memberikan proteksi terhadap keyakinan penganut Islam tetapi tak menerapkannya kepada penganut keyakinan lainnya.

Rekomendasi yang diberikan fitur Google Suggest tersebut pada dasarnya dibuat sebagai penolong untuk mempercepat hasil pencarian yang sesuai dengan keinginan. Hasil yang ditampilkan merupakan analisis dari frasa-frasa yang paling sering dipakai oleh semua pengguna Google.

Fitur tersebut juga bertujuan untuk menyaring istilah pornografi, kata-kata kotor, dan istilah yang mengandung kebencian dan kekerasan. Google memiliki kekuatan untuk menyensor kata-kata tertentu jika ada saran atau pengaduan khusus.

Namun, Google membantah jika dikatakan selama ini melakukan sensor terhadap kata-kata yang menyerang Islam. Sebaliknya, Google memperkirakan bahwa hasil pencarian tentang Islam yang tidak muncul rekomendasi apa pun karena kesalahan software. “Ini sebuah bug dan kami tengah bekerja untuk memperbaikinya secepatnya,” ujar juru bicara Google seperti dilansir Telegraph.

Buktinya, kalau mengetik kata kunci “Islam must”, maka juga keluar frasa bernada negatif. Juga untuk “Christianity must” dan demikian halnya pada “Buddhism must”. Nah, kalau “Jewish is”, “Jewish must”, “Yahudi is”, dan “Yahudi must” tentu beda lagi hasilnya.(kompas.com)