HIDUP bukanlah sebuah DVD PLAYER


Seorang pria membawa pulang truk baru kebanggaannya,
Lalu ia meninggalkan truk tsb sejenak untuk melakukan kegiatan lain.

Anak lelakinya yg berumur 3 tahun sangat gembira melihat ada truk baru,
ia memukul-mukulkan palu ke truk baru tsb, akibatnya truk baru penyok dan catnya tergores.

Pria tersebut berlari menghampiri anaknya dan memukulnya, memukul tangan anaknya dgn palu sebagai hukuman.

Setelah sang ayah tenang kembali, dia segera membawa anaknya ke RS.

Walau dokter telah mencoba segala usaha untuk menyelamatkan jari-jari anak yg hancur, tapi ia tetap gagal.

Akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan amputasi semua jari pada kedua tangan anak kecil tsb.

Ketika anak kecil itu sadar dari operasi amputasi dan jarinya telah tidak ada dan dibungkus perban, dengan polos ia berkata, “Papa, aku minta maaf tentang trukmu.”

Kemudian, ia bertanya,
“tetapi kapan jari- jariku akan tumbuh kembali?”

Ayahnya pulang ke rumah dan melakukan bunuh diri.

Pesan Moral:
Berpikirlah dahulu sebelum kau kehilangan kesabaran kepada seseorang yg kau cintai.

Truk dapat diperbaiki, tapi tulang yg hancur dan hati yg disakiti seringkali tidak dpt diperbaiki.

Terlalu sering anda gagal untuk membedakan antara orang dan perbuatannya, Anda seringkali lupa bahwa mengampuni lebih besar daripada membalas dendam.

Orang dapat berbuat salah,
tapi tindakan yg anda ambil dalam kemarahan akan menghantui anda selamanya.

Tahan, tunda dan pikirkan sebelum mengambil tindakan. Belajarlah Mengampuni, Melupakan dan Mengasihi satu dgn lainnya.

“HIDUP bukanlah sebuah DVD PLAYER, yg dapat di backward & Forward. HIDUP hanya ada tombol PLAY & STOP saja, jangan sampai anda melakukan kesalahan yg dapat membayangi kehidupan anda kelak!!”
(NN)

Disiplin: Satu Postingan dalam Satu Hari


Tim WordPress.com mencetuskan ide kepada para blogger agar melakukan minimal 1 postingan dalam setiap hari.

Suatu ide yang bagus. Bila ini dapat diwujudnyatakan oleh setiap blogger (wordpress.com) maka dalam setahun minimal ada 365 postingan kali setiap peserta. Bisa lebih bila tiap orang memiliki lebih dari blog dan mengisinya minimal satu postingan. Dan lebih banyak lagi postingan bila tiap blogger melakukan lebih dari satu postingan dalam satu hari pada tiap blognya.

Selain itu, ide ini bagus karena melatih para blogger berdisiplin diri mengisi blog. Latihan ini bisa mengasah kemampuan menulis para blogger lewat disiplin, dan disiplin ini bisa menular ke bidang hidup lainnya.

Bila ini sukses, bidang hidup lain dari blogger bisa sukses.

Tidak mudah, karena tiap blogger mempunyai kesibukan tersendiri. Tetapi bila ada komitmen untuk disiplin dan meningkatkan kemampuan menulis, saya yakin bisa terwujud. Selamat melakukan blogging. (Pormadi)

Hasil Survei: Toleransi Beragama Warga Jabotebek Makin Luntur


(Jakarta 29/11/10)Jemaat HKBP terpaksa harus dikawal polisi dalam melakukan ibadah karena adanya serangan dari kelompok tertentu. (Foto dok 15 Agustus 2010).

Lunturnya sikap toleransi beragama warga Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) antara lain ditunjukkan dengan sikap tidak dapat menerima pendirian tempat ibadah oleh penganut agama lain.

Demikian hasil survei yang dilakukan oleh Setara Institute mengenai toleransi sosial masyarakat perkotaan di Jabodetabek. Survei ini dilakukan sejak tanggal 20 Oktober hingga 10 November 2010 terhadap 1.200 responden.

Hasil jajak pendapat opini publik itu memperlihatkan 49,5 persen responden tidak menyetujui adanya rumah ibadah bagi penganut agama yang berbeda dari agama yang dianutnya. Sedangkan 45 persen lainnya dapat menerima keberadaan rumah ibadah agama lain dan sisanya tidak menjawab.

Warga Bekasi, Jakarta Pusat, Depok dan Tangerang yang  paling menentang pendirian rumah ibadah agama lain dengan respon penolakan lebih dari 50 persen.

Peneliti Setara Institute, Ismail Hasani dalam keterangan persnya di Jakarta pada hari Senin mengatakan survei ini menunjukkan potensi ketegangan antar umat beragama akan tetap muncul.

“Kita bertanya apakah masyarakat dapat menerima keberadaan rumah ibadah di lingkungan mereka, 45 persen dapat menerima, 49 persen tidak dapat menerima dan 5,5 persen menyatakan tidak tahu. Dalam posisi seperti ini biasanya memang potensi ketegangan tetap akan muncul disini,” ungkap Ismail Hasani.

Kebebasan beragama di Indonesia mendapat ancaman dengan semakin lunturnya toleransi beragama.

Menurut Ismail Hasani,  penolakan juga terlihat dalam hal penerimaan terhadap kepercayaan di luar enam agama yang ditetapkan oleh pemerintah. Sebanyak 60,9 persen responden tidak menerima berkembangnya agama tak resmi dan 52,1 persen mengharapkan pemberantasan aliran sesat.

Salah satu tokoh agama Katholik, Romo Benny Susetyo menilai lunturnya toleransi beragama di Indonesia salah satunya disebabkan karena banyaknya tokoh agama yang juga masuk ke dalam dunia politik.

“Karena tokoh agama banyak terlibat dalam politik praktis kekuasaan tetapi lupa membina umatnya. Sehingga ini warning bagi tokoh-tokoh agama. Kembali lagilah tokoh agama menjadi agamawan bukan menjadi politik. Menurut saya itu,” jelas Romo Benny.

Anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Effendy Simbolon menyatakan  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga harus segera melakukan tindakan untuk mengatasi sejumlah masalah kebebasan beragama di Indonesia. Jika tidak, menurut Effendy, dikhawatirkan kekerasan terhadap agama tertentu akan terus terjadi di Indonesia.

“Di tangan Presidenlah kekuatan untuk menata keresahan horizontal antar masyarakat, memberikan jaminan kepada masyarakat untuk beribadah,” kata Efendy Simbolon.

Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace, Siti Musdah Mulia meminta agar Presiden Yudhoyono bersama pemerintahannya melakukan revisi 141 kebijakan yang sangat mengancam kebebasan beragama di Indonesia, baik yang berada di tingkat nasional maupun daerah.(voanews.com)

Seorang Office Boy pun Bisa Menjadi Vice Presiden


SEORANG OFFICE BOY PUN BISA MENJADI VICE PRESIDENT
Sungguh sebuah karunia  yang luar biasa bagi saya bisa bertemu dengan seorang yang memiliki pribadi dan kisah menakjubkan. Dialah Houtman Zainal  Arifin, seorang pedagang asongan, anak jalanan, Office Boy  yang kemudian menjadi Vice President Citibank di Indonesia.  Sebuah jabatan Nomor 1 di Indonesia karena Presiden Direktur Citibank sendiri berada di USA.

Tepatnya 10 Juni 2010,  saya berkesempatan bertemu Pak Houtman. Kala itu saya sedang mengikuti training leadership yang diadakan oleh kantor saya,  Bank Syariah Mandiri di Hotel Treva International, Jakarta.  Selama satu minggu saya memperoleh pelatihan yang luar biasa mencerahkan, salah satunya saya peroleh dari Pak Houtman. Berikut kisah inspirasinya:

Sekitar tahun 60-an Houtman  memulai karirnya sebagai perantau, berangkat dari desa ke jalanan ibukota. Merantau dari kampung dengan penuh impian dan  harapan, Houtman remaja berangkat ke Jakarta. Di Jakarta  ternyata Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan  ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak  mudah diperoleh. Houtman pun memilih bertahan hidup dengan  profesi sebagai pedagang asongan, dari jalan raya ke kolong jembatan kemudian ke lampu merah menjajakan dagangannya.

Tetapi kondisi seperti ini tidak membuat Houtman  kehilangan cita-cita dan impian. Suatu ketika Houtman  beristirahat di sebuah kolong jembatan, dia memperhatikan  kendaran-kendaraan mewah yang berseliweran di jalan Jakarta. Para penumpang mobil tersebut berpakaian rapih, keren dan berdasi. Houtman remaja pun ingin seperti mereka, mengendarai  kendaraan berpendingin, berpakaian necis dan tentu saja  memiliki uang yang banyak. Saat itu juga Houtman  menggantungkan cita-citanya setinggi langit, sebuah cita-cita  dan tekad diazamkan dalam hatinya.

Azam atau tekad  yang kuat dari Houtman telah membuatnya ingin segera merubah nasib. Tanpa menunggu waktu lama Houtman segera memulai mengirimkan lamaran kerja ke setiap gedung bertingkat yang dia  ketahui. Bila ada gedung yang menurutnya bagus maka pasti dengan segera dikirimkannya sebuah lamaran kerja. Houtman menyisihkan setiap keuntungan yang diperolehnya dari berdagang  asongan digunakan untuk membiayai lamaran kerja.

Sampai suatu saat Houtman mendapat panggilan kerja  dari sebuah perusahaan yang sangat terkenal dan terkemuka di  Dunia, The First National City Bank (citibank), sebuah bank  bonafid dari USA. Houtman pun diterima bekerja sebagai seorang  Office Boy. Sebuah jabatan paling dasar, paling bawah dalam  sebuah hierarki organisasi dengan tugas utama membersihkan ruangan kantor, wc, ruang kerja dan ruangan  lainnya.

Tapi Houtman tetap bangga dengan jabatannya,  dia tidak menampik pekerjaan. Diterimanyalah jabatan tersebut  dengan sebuah cita-cita yang tinggi. Houtman percaya bahwa  nasib akan berubah sehingga tanpa disadarinya Houtman telah  membuka pintu masa depan menjadi orang yang berbeda.

Sebagai Office Boy Houtman selalu mengerjakan tugas  dan pekerjaannya dengan baik. Terkadang dia rela membantu para  staf dengan sukarela. Selepas sore saat seluruh pekerjaan  telah usai Houtman berusaha menambah pengetahuan dengan  bertanya tanya kepada para pegawai. Dia bertanya mengenai  istilah-istilah bank yang rumit, walaupun terkadang saat bertanya dia menjadi bahan tertawaan atau sang staf  mengernyitkan dahinya. Mungkin dalam benak pegawai ”ngapain  nih OB nanya-nanya istilah bank segala, kayak ngerti aja”.  Sampai akhirnya Houtman sedikit demi sedikit familiar dengan  dengan istilah bank seperti Letter of Credit, Bank Garansi, Transfer, Kliring, dll.

Suatu saat Houtman tertegun  dengan sebuah mesin yang dapat menduplikasi dokumen (saat ini  dikenal dengan mesin photocopy). Ketika itu mesin fotokopi  sangatlah langka, hanya perusahaan perusahaan tertentulah yang memiliki mesin tersebut dan diperlukan seorang petugas  khusus untuk mengoperasikannya. Setiap selesai pekerjaan setelah jam 4 sore Houtman sering mengunjungi mesin tersebut  dan minta kepada petugas foto kopi untuk mengajarinya. Houtman  pun akhirnya mahir mengoperasikan mesin fotokopi, dan tanpa  di sadarinya pintu pertama masa depan terbuka. Pada suatu hari  petugas mesin fotokopi itu berhalangan dan praktis hanya Houtman yang bisa menggantikannya, sejak itu pula Houtman resmi naik jabatan dari OB sebagai Tukang Fotokopi.

Menjadi tukang fotokopi merupakan sebuah prestasi  bagi Houtman, tetapi Houtman tidak cepat berpuas diri.  Disela-sela kesibukannya Houtman terus menambah pengetahuan dan minat akan bidang lain. Houtman tertegun melihat salah  seorang staf memiliki setumpuk pekerjaan di mejanya. Houtman  pun menawarkan bantuan kepada staf tersebut hingga membuat sang staf tertegun. “bener nih lo mo mau bantuin gua” begitu  Houtman mengenang ucapan sang staf dulu. “iya bener saya mau  bantu, sekalian nambah ilmu” begitu Houtman menjawab. “Tapi  hati-hati ya ngga boleh salah, kalau salah tanggungjawab lo,  bisa dipecat lo”, sang staff mewanti-wanti dengan keras.  Akhirnya Houtman diberi setumpuk dokumen, tugas dia adalah  membubuhkan stempel pada Cek, Bilyet Giro dan dokumen lainnya pada kolom tertentu. Stempel tersebut harus berada di dalam  kolom tidak boleh menyimpang atau keluar kolom. Alhasil  Houtman membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut karena dia sangat berhati-hati sekali  Selama mengerjakan tugas tersebut Houtman tidak sekedar  mencap, tapi dia membaca dan mempelajari dokumen yang ada. Akibatnya Houtman sedikit demi sedikit memahami berbagai  istilah dan teknis perbankan. Kelak pengetahuannya ini membawa Houtman kepada jabatan yang tidak pernah diduganya.

Houtman cepat menguasai berbagai pekerjaan yang  diberikan dan selalu mengerjakan seluruh tugasnya dengan baik.  Dia pun ringan tangan untuk membantu orang lain, para staf  dan atasannya. Sehingga para staf pun tidak segan untuk  membagi ilmu kepadanya. Sampai suatu saat pejabat di Citibank  mengangkatnya menjadi pegawai bank karena prestasi dan kompetensi yang dimilikinya, padahal Houtman hanyalah lulusan  SMA.

Peristiwa pengangkatan Houtman menjadi pegawai  Bank menjadi berita luar biasa heboh dan kontroversial. Bagaimana bisa seorang OB menjadi staff, bahkan rekan sesama  OB mencibir Houtman sebagai orang yang tidak konsisten.  Houtman dianggap tidak konsisten dengan tugasnya,  “jika masuk OB, ya  pensiun harus OB juga” begitu rekan sesama OB menggugat.

Houtman  tidak patah semangat, dicibir teman-teman bahkan rekan sesama staf pun tidak membuat goyah. Houtman terus mengasah  keterampilan dan berbagi membantu rekan kerjanya yang lain.  Hanya membantulah yang bisa diberikan oleh Houtman, karena  materi tidak ia miliki. Houtman tidak pernah lama dalam  memegang suatu jabatan, sama seperti ketika menjadi OB yang  haus akan ilmu baru. Houtman selalu mencoba tantangan dan pekerjaan baru. Sehingga karir Houtman melesat bak panah meninggalkan rekan sesama OB bahkan staff yang mengajarinya tentang istilah bank.

19 tahun kemudian sejak Houtman masuk sebagai  Office Boy di The First National City Bank, Houtman mencapai  jabatan tertingginya yaitu Vice President (tambahan: di Citibank Indonesia ada beberapa orang sekaligus menjabat VP). Sebuah jabatan puncak Citibank di Indonesia. Jabatan tertinggi Citibank  sendiri berada di USA yaitu Presiden Director yang tidak mungkin dijabat oleh orang Indonesia.

Sampai dengan  saat ini belum ada yang mampu memecahkan rekor Houtman masuk sebagai OB pensiun sebagai Vice President, dan hanya berpendidikan SMA. Houtman pun kini pensiun dengan berbagai  jabatan pernah diembannya, menjadi staf ahli Citibank Asia  Pasifik, menjadi penasehat keuangan salah satu gubernur, menjabat CEO di berbagai perusahaan dan menjadi inspirator bagi banyak orang .

(Kisah Nyata Houtman Zainal Arifin, disampaikan dalam training Leadership Bank Syariah  Mandiri)
_________________________________

Pandji – YUPP

FPI: Give Islam a Bad Name


FPI: Give Islam a Bad Name
—Anwar Holid

Aku jijik pada FPI (Front Pembela Islam) tapi kesulitan mencari alasan tegas kenapa aku harus punya perasaan seperti itu pada mereka. Ini seperti kalau kamu punya saudara bandel, ngejago, suka nakut-nakutin orang lain, suka malak, main kekerasan, intoleran, bahkan mungkin bertindak kriminal (karena suka main hakim sendiri, merusakkan milik orang lain secara semena-mena), tapi kamu malas menyerahkannya kepada pihak berwajib persis karena kamu ada ikatan darah dengan dia. Menurut sebuah dalil, orang seiman itu bersaudara. Meski aku bingung konteksnya apa, perasaan ini membuat kita dilematik dan menambah jengkel.

Jangankan kaum non-Muslim, banyak sesama Muslim yang jengah pada FPI. JIL (Jaringan Islam Liberal) juga KoranTempo pernah usul agar otoritas hukum Indonesia membubarkan FPI. Aku sendiri di Facebook pernah ikut grup ‘BUBARKAN FPI!’ yang anggotanya puluhan ribu orang, tapi sayang mereka inefektif, sampai akhirnya aku ke luar dari sana karena rasanya itu grup yang omdo. Aku setuju dengan Saut Situmorang yang bilang bahwa FPI itu kependekan dari Fasis Pura-pura Islam. Aku menilai bukan seperti itu jalan Islam yang patut aku tempuh. Aku memohon agar MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengharamkan FPI, meski sejak lama aku menganggap MUI juga kerap mengharamkan sesuatu yang konyol.

Perlukah Islam dibela oleh organisasi seperti FPI? Menurutku tidak. Tindakan mereka menurutku malah bikin malu agama Islam, karena justru memperlihatkan sekelompok umat Islam yang intoleran terhadap kaum lain persis di tanah terbuka bernama Indonesia, apalagi dari dulu tempat itu sudah lama terkenal sebagai tempat pertemuan yang cukup damai. Terlebih-lebih mayoritas penduduk di tempat ini beragama Islam. Bagaimana mungkin Islam bisa menjadi rahmat bagi tempat ini bila ada eksponen Islam yang suka berbuat onar terhadap perbedaan-perbedaan di dunia ini? Belum juga jadi penguasa, FPI sudah memperlihatkan mental sok kuasa dan otoriter. Terbayang betapa mengerikan bila organisasi seperti ini membesar dan benar-benar berkuasa atau berhasil menakut-nakuti semua lawan yang berseberangan pendapat maupun sikap dengan mereka. FPI betul-betul gagal memperlihatkan sifat yang wajib didahulukan oleh Islam, yaitu menjadi agama yang memberi rahmat bagi SELURUH alam.
Jangankan seluruh alam, untuk tempat secuil bernama Indonesia saja mereka sulit menghormati hukum yang berlaku ataupun iman orang lain. Jangankan pada agama-agama yang mungkin tidak serumpun, pada agama yang memiliki akar sama pada Ibrahim saja mereka sulit bekerja sama. Dari moral ini kita bisa menduga betapa pemahaman sebagian umat Islam pada agama serumpun itu rendah sekali. Sebagai umat Muslim, FPI gagal menunjukkan kasih pada orang lain. Bagi seorang muslim, ini kehilangan mengerikan. Aku pikir FPI buta mata hatinya bahwa dalam Al-Quran surat Al-Anbiya 107 memerintahkan agar seorang Muslim harus mewujudkan kasih sayang kepada seluruh alam, termasuk kepada non-Muslim. Bagaimana mungkin FPI bakal mampu memaafkan dan berdamai dengan umat beragama lain?

Bagaimana mungkin FPI bakal bisa meneladani tokoh Islam yang memberi kesempatan pada lawan untuk menjalankan ibadah sesuai imannya bila mereka merasa bahwa orang non-Muslim harus mendapat izin untuk beribadah maupun mendirikan rumah ibadah? Ini konyol. Memangnya ini tanah ini tanah mereka? Bukankah ini tanah Tuhan? Tidakkah FPI tahu bahwa tempat seperti Ka’bah saja dahulu kala diziarahi orang beragama secara bebas, bahkan oleh orang musyrik sekalipun. Pernahkah dahulu di zaman Muhammad hidup orang non-Muslim minta izin kepada dia untuk mendirikan rumah ibadah atau waktu mau melakukan ibadah? Rasanya tidak pernah. Rasanya beragama itu harus bebas-bebas saja. Jangankan menyerang, umat Islam itu bahkan dilarang menghina umat beragama lain—begitulah yang tertulis dalam Al-Quran surat Al-An’am: 108. FPI jelas sulit bersabar atas perbedaan dan terbukti telah berkali-kali gagal menyeru dan berdiskusi dengan baik pada pihak lain—padahal itu semua merupakan
sifat utama bagi umat Islam. FPI justru mewarisi sifat mental yang buruk, seperti mudah marah dan tersinggung, juga mau menang sendiri.

FPI adalah contoh organized religion yang miskin spiritualitas. Mereka memakan sendiri spiritualitasnya sampai habis dan tak menyisakannya pada umat manusia lain. Mereka hanya membagikan cara beragama yang kaku. Mereka menutup ruang kebebasan beragama dan intoleran pada agama dan umat beragama lain, padahal kebebasan beragama merupakan isu yang sangat penting dalam Islam.

Sebagai seorang Muslim aku merasa malas dan malu sekali harus mengakui punya saudara bernama FPI. Mereka memperburuk citra Islam sebagai agama yang kini tengah dianggap bermasalah dan disalahanggapi di banyak tempat. Kalau seperti itu, aku jadi lebih suka berteman dengan orang non-Muslim yang terbukti secara moral dan tindakan jauh lebih mulia, suka berbuat baik, bersedia membantu, meskipun mereka tampak sekuler. Aku enggak butuh yel-yel Allah hu akbar untuk menakut-nakuti orang lain atau melempari tempat ibadah umat beragama lain. Aku lebih suka memberi salam untuk menghormati sesama manusia.[]

Anwar Holid bekerja Anwar Holid bekerja sebagai penulis & editor. Salah satu bukunya ialah Seeking Truth Finding Islam (2009).

Waspada (Sikap Pemimpin oleh AB Susanto)


Waspada
Oleh: A. B. Susanto

Salah satu sifat pemimpin yang baik adalah senantiasa waspada terhadap kondisi lingkungan sekitar yang kian kompleks dan berubah dengan cepat. Dia juga waspada terhadap arus informasi yang begitu cepat dan deras, yang kerap mengubah nasib perusahaan dalam waktu sekejap.

Pemimpin yang demikian, menurut Day dan Shoemaker, memiliki tingkat kesadaran yang tinggi, ditandai dengan kuatnya rasa ingin tahu, selalu siaga, serta berani bertindak meski berbekal informasi yang tidak lengkap. Tak kalah penting, mereka rajin mencari tahu serta mampu mengenali isyarat kemungkinan timbulnya masalah. Kewaspadaan juga mencakup kemampuan mengenali peluang-peluang untuk menciptakan pertumbuhan dan juga ancaman-ancaman yang berpotensi menimbulkan kerusakan dahsyat bagi perusahaan. Kesemuanya dilakukan sebelum pesaing melakukannya.

Krisis yang menimpa banyak negara atau perusahaan, seperti krisis ekonomi di Asia pada akhir dekade 1990-an, krisis keuangan 2008, kasus tumpahnya minyak BP di teluk Meksiko, dan tercemarnya susu buatan China acap terjadi akibat kekurangwaspadaan para pemimpin.

Kewaspadaan pemimpin dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi pengumpulan dan penyebaran informasi yang berasal dari aneka ragam sumber. Sumber daya yang memadai juga dapat dialokasikan. Proses perencanaan menjadi lebih luwes dengan jangkauan lebih luas.

Pemimpin dengan tingkat kewaspadaan tinggi, menurut Day dan Shoemaker, bersikap terbuka terhadap aneka ragam perspektif, memiliki tinjauan strategis, dan mendorong pengikutnya untuk rajin melakukan penelusuran secara luas dengan menciptakan budaya penemuan (culture of discovery).

Mereka adalah orang-orang yang sangat mumpuni dalam mendengarkan, mengobservasi, serta berhadapan dengan ambiguitas dan paradoks.

Pemimpin yang waspada memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan berorientasi jangka panjang. Mereka merasa nyaman dikelilingi oleh pengikut yang dinamis, cerdas, serta rajin mencari peluang-peluang baru. Mereka jauh dari sikap otoriter, yang lebih suka memutuskan sendiri segala sesuatu tanpa mempertimbangkan orang lain serta menganggap orang-orang yang tidak sepaham sebagai musuh. Sebaliknya, mereka adalah pendengar yang baik, serta terus-menerus melebarkan jejaring.

Agar memiliki tinjauan strategis, pemimpin yang waspada menerapkan pendekatan yang lebih luwes terhadap strategi, menampung aneka ragam masukan, dan memantau secara dinamis.

Mereka terlebih dahulu melihat kondisi di luar organisasi sebelum menyusun rencana strategis, bukan langsung menentukan target pertumbuhan dan kinerja keuangan. Pemimpin juga mendorong pemikiran lebih mendalam melalui aneka inisiatif, sehingga orang-orang di bawahnya merasa tertantang untuk menghasilkan peluang-peluang baru beserta implikasinya.

Pemimpin yang waspada mengembangkan budaya penemuan di seluruh organisasi. Mereka sengaja menciptakan celah agar dapat dimanfaatkan karyawan untuk menelusuri wilayah-wilayah di luar fokus mereka. Mereka juga menciptakan budaya yang mendorong keberanian mengambil risiko dan fleksibilitas yang lebih tinggi.

Sayangnya, pemimpin dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi masih tergolong sedikit. Kebanyakan dari mereka masih terlalu berfokus pada hal-hal yang sifatnya operasional, terjebak dalam rutinitas tetapi cenderung abai terhadap situasi yang terjadi di lingkungan sekitar.

Aneka pujian

Agaknya, hal ini disebabkan oleh faktor penghargaan. Pemimpin yang berhasil kinerja unggul mendapat aneka pujian dan penghargaan. Demikian pula sebaliknya, pemimpin yang gagal mengeluarkan perusahaan dari krisis dikritik habis, bahkan diberhentikan.

Namun, pemimpin yang mampu mengantisipasi dan menghindarkan perusahaan dari krisis jarang mendapat penghargaan. Masalah lainnya terletak pada pengelolaan SDM, seperti dalam hal kebijakan promosi Biasanya seorang karyawan dipromosikan berkat kemampuannya mencapai target yang terukur, seperti meningkatnya penjualan dan efisiensi biaya.

Namun, kemampuannya untuk mengenali kondisi lingkungan sekitar secara lebih rinci kurang diperhatikan. Faktor-faktor lain penyebab kurang waspadanya pemimpin adalah rendahnya komitmen, kurangnya disiplin, serta buruknya daya tahan pemimpin.

Lantas, resep-resep apa sajakah yang dapat diterapkan guna menumbuhkembangkan pemimpin yang senantiasa bersikap waspada dalam perusahaan? Menurut Wolfe, para pemimpin harus memberikan pengakuan dan penghargaan bagi karyawan yang membuka mata dan telinganya guna mengamati lingkungan perusahaan.

Pemimpin tidak boleh sekadar meminta karyawan mengerjakan sesuatu tanpa memberi penjelasan atau kesempatan mengajukan pertanyaan secara kritis. Jika demikian, karyawan tidak akan merasa nyaman mengemukakan pendapatnya. Berikutnya merekrut karyawan yang awas terhadap tren-tren di pasar dan perubahan peta persaingan, saat ini dan masa mendatang.

Termasuk karyawan yang menawarkan pandangan-pandangan baru seputar perusahaan dan lingkungan sekitar. Kriteria yang sama juga dapat digunakan untuk penilaian kinerja, pengembangan karier, dan kebijakan kompensasi.

Melalui kewaspadaan yang tinggi, pemimpin bukan saja mampu mengenali peluang-peluang untuk kemudian memanfaatkannya secara optimal, melainkan juga potensi timbulnya masalah pada masa depan. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus senantiasa mengedepankan kewaspadaan. (dicopas dari milis AIPI Politik)

FPI dan Ormas Islam lain Menyikapi Penistaan Agama di Bekasi


Bekasi (ANTARA News) – Berbagai Organisasi Masyarakat Islam di Kota Bekasi, Jawa Barat, menggelar kongres dalam rangka menyikapi sejumlah kasus penistaan agama di Bekasi, Ahad.

“Sejumlah poin penting yang kami tangani adalah kasus Abraham Felix, mantan siswa sekolah Santo Bellarminus yang menghina Islam,” kata Ketua Front Pembela Islam (FPI) Bekasi Raya, Murhali Barda.

Menurutnya, hasil kongres umat Islam akan diajukan ke Pemerintah Daerah dan pihak kepolisian sebagai solusi mencegah kasus serupa terulang.

“Hasil kongres ini merupakan sikap resmi umat Islam untuk digunakan sebagai acuan kerukunan antarumat beragama di Bekasi,” katanya.

Ia mengatakan, rekomendasi kongres umat Islam yang baru pertama kali digelar itu antara lain, mendesak Pemerintah Kota dan Kabupaten Bekasi membuat Peraturan Daerah (Perda) untuk mencegah penistaan agama.

Selain itu, meminta pemerintah daerah mendata ulang dan menertibkan rumah ibadah yang tidak berizin, dan mendesak Dinas Pendidikan mengkaji ulang kurikulum agama di semua sekolah.

Selain itu, kata Murhali Barda, kepolisian diminta menuntaskan kasus penistaan agama yang dilakukan Abraham Felix dan gurunya Wong Cristhoper terkait kasus penistaan agama yang berlangsung pada bulan Mei 2010, serta menjadikan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bekasi sebagai institusi terdepan dalam menyelesaikan sengketa agama di Bekasi.

“Saya melihat peran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bekasi tidak berjalan maksimal, sehingga perannya harus diambil alih oleh pihak yang memiliki peran serius menangani persoalan agama khususnya Islam seperti MUI,” ujarnya.

Dalam kongres yang mengangkat tema “Menjadikan Kota Bekasi Sebagai Daerah Syuhada dan Bersyariah” itu turut menghadirkan sejumlah tokoh ulama di Indonesia seperti Ketua Umum Front Pembela Islam, Habib Muhammad Rizieq Syihab.

Menurut Rizieq, pihaknya mendukung secara penuh perjuangan umat Islam di Bekasi untuk menjadikan wilayahnya sebagai Kota bersyariah. “Wacana ini tentunya membutuhkan tanggung jawab besar serta kerjasama yang kuat antar kalangan Ormas Islam mau pun lembaga terkait,” katanya.

Pihaknya menilai, kerja sama antar berbagai pihak dari kalangan umat Muslim di wilayah setempat sudah sangat baik, namun perlu didukung oleh peran pemerintah daerah melalui pemberlakuan Perda yang mendukung hukum Syariah.

“Tinggal peran pemerintahnya yang perlu diperkuat lagi. Sejauh ini peran umat Islam di Bekasi sudah sangat baik, seperti menolak pendirian tempat ibadah yang menyalahi aturan, penolakan porno aksi dan pornografi,” katanya. (AFR/K004)

COPYRIGHT © 2010

Bekasi (ANTARA News) – Berbagai Organisasi Masyarakat Islam di Kota Bekasi, Jawa Barat, menggelar kongres dalam rangka menyikapi sejumlah kasus penistaan agama di Bekasi, Ahad.

“Sejumlah poin penting yang kami tangani adalah kasus Abraham Felix, mantan siswa sekolah Santo Bellarminus yang menghina Islam,” kata Ketua Front Pembela Islam (FPI) Bekasi Raya, Murhali Barda.

Menurutnya, hasil kongres umat Islam akan diajukan ke Pemerintah Daerah dan pihak kepolisian sebagai solusi mencegah kasus serupa terulang.

“Hasil kongres ini merupakan sikap resmi umat Islam untuk digunakan sebagai acuan kerukunan antarumat beragama di Bekasi,” katanya.

Ia mengatakan, rekomendasi kongres umat Islam yang baru pertama kali digelar itu antara lain, mendesak Pemerintah Kota dan Kabupaten Bekasi membuat Peraturan Daerah (Perda) untuk mencegah penistaan agama.

Selain itu, meminta pemerintah daerah mendata ulang dan menertibkan rumah ibadah yang tidak berizin, dan mendesak Dinas Pendidikan mengkaji ulang kurikulum agama di semua sekolah.

Selain itu, kata Murhali Barda, kepolisian diminta menuntaskan kasus penistaan agama yang dilakukan Abraham Felix dan gurunya Wong Cristhoper terkait kasus penistaan agama yang berlangsung pada bulan Mei 2010, serta menjadikan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bekasi sebagai institusi terdepan dalam menyelesaikan sengketa agama di Bekasi.

“Saya melihat peran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bekasi tidak berjalan maksimal, sehingga perannya harus diambil alih oleh pihak yang memiliki peran serius menangani persoalan agama khususnya Islam seperti MUI,” ujarnya.

Dalam kongres yang mengangkat tema “Menjadikan Kota Bekasi Sebagai Daerah Syuhada dan Bersyariah” itu turut menghadirkan sejumlah tokoh ulama di Indonesia seperti Ketua Umum Front Pembela Islam, Habib Muhammad Rizieq Syihab.

Menurut Rizieq, pihaknya mendukung secara penuh perjuangan umat Islam di Bekasi untuk menjadikan wilayahnya sebagai Kota bersyariah. “Wacana ini tentunya membutuhkan tanggung jawab besar serta kerjasama yang kuat antar kalangan Ormas Islam mau pun lembaga terkait,” katanya.

Pihaknya menilai, kerja sama antar berbagai pihak dari kalangan umat Muslim di wilayah setempat sudah sangat baik, namun perlu didukung oleh peran pemerintah daerah melalui pemberlakuan Perda yang mendukung hukum Syariah.

“Tinggal peran pemerintahnya yang perlu diperkuat lagi. Sejauh ini peran umat Islam di Bekasi sudah sangat baik, seperti menolak pendirian tempat ibadah yang menyalahi aturan, penolakan porno aksi dan pornografi,” katanya. (AFR/K004)

COPYRIGHT © 2010

(dari: Antaranews.com)