Cinta dan Pekerjaan


Bekerja tanpa cinta, semua akan sia-sia. Ungkapan ini amat bermakna bagi semua orang yang bekerja. Untuk apa bekerja, kalau terpaksa? Untuk apa bekerja hanya karena paksaan atasan? Dengan cinta, bekerja menjadi asyik, makin hidup dan membawa kekuatan.

Bekerja adalah hakekat manusia. Manusia yang mempunyai pekerjaan akan dipandang lebih bermakna, berharga dan dihormati. Orang yang tidak bekerja, maaf, sering kurang dihormati. Dengan bekerjalah, seseorang bisa mengaktualisasikan diri untuk membangun diri, keluarga dan bangsa. Orang yang bekerja pantas makan, orang yang tidak bekerja tidak pantas makan.

Cinta adalah kekuatan tertinggi yang ada dalam diri manusia. Dengan cinta, kekerasan dilembutkan, kekakuan dicairkan. Demikian pula dalam hal pekerjaan, dengan cinta pekerjaan menjadi baik dan selesai memuaskan. Dengan cinta manusia melihat segalanya menjadi indah.

Maka patut direnungkan, bekerja tanpa cinta adalah sia-sia, kurang bermakna. Tanpa cinta, pekerjaan tidak berjalan dengan baik. Kekuatan cinta dan martabat pekerjaan dalam diri manusia merupakan kekuatan sinergis untuk membangun diri, keluarga, komunitas dan bangsa. Kiranya cinta menjiwai hidup kita semua karena cinta itu sendiri berasal dari SANG CINTA yaitu Allah atau Tuhan.

10 Karakter Yang Paling Disukai


1.KETULUSAN

Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya “Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak”. Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

2. KERENDAHAN HATI

Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendahan hati justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder. 

3. KESETIAAN

Kesetiaan sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.

4. BERSIKAP POSITIF

Orang yang bersikap positif (positive thinking) selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dan sebagainya.

5. KECERIAAN

Karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.

6. BERTANGGUNG JAWAB

Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

7. PERCAYA DIRI

Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.

8. BERJIWA BESAR

Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan

9. EASY GOING

Orang yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada di luar kontrolnya.

10. EMPATI

Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

(dari sebuah milis)

Bahrul Hayat,Ph.D: Keberadaan Kementerian Agama RI Jangan Diperdebatkan


Sekjen Kemenag RI: Memberikan Materi

Kementerian Agama RI”, demikian salah satu isi paparan Pgs. Dirjen Bimas Katolik yang juga Penjabat Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Agama RI, Bahrul Hayat, Ph.D pada pertemuan konsultatif seluruh Pejabat Bimas Katolik Pusat dan Daerah yang berlangsung di Mataram (22/4).

Dalam paparannya, Sekjen Kementerian Agama RI itu juga menegaskan bahwa hubungan agama dan negara di Indonesia, bukan teokrasi, dan bukan sekular (pemisahan total hubungan negara dan agama).  “Di Indonesia, negara berperan memfasilitasi dan memberi ruang bagi kehidupan beragama. Republik Indonesia bukan teokrasi, bukan sekuler. Agama adalah bingkai . Di Singapura saja,  agama diatur secara khusus  oleh menteri”,lanjutnya.

Tegasnya, “Di Indonesia negara menjadi fasilitator bagi 6 (enam) agama). Agama diharapkan menjiwai seluruh kehidupan negara. Jangan ada lagi perdebatan soal keberadaan Kementerian Agama RI”.

Salahkah Sikap Negara Demikian?

Lanjutnya, “Pancasila adalah dasar negara. Pancasila menfasilitasi agama dan mendorong warga RI menjadi pemeluk terbaik sesuai agamanya. Oleh karena itu tidak ada istilah mayoritas-minoritas. Semua difasilitasi”.

Dalam materi yang disampaikan kepada semua peserta dan rombongan jajaran Pejabat Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Barat, Bahrul Hayat menegaskan “Pendidikan agama dan keagamaan disediakan oleh negara. Negara hadir membantu masyarakat dalam pendidikan agama dan keagamaan. Apakah salah sikap negara yang demikian?”  Hal itu disampaikan adanya kritik sebagian kalangan terkait peran negara dalam hubungannya dengan agama.

Kepada semua pejabat Kementerian Agama Ditjen Bimas Katolik, ia menegaskan bahwa fungsi negara dalam NKRI: hanya sebagai fasilitator hubungan individu dengan Tuhan agar menjadi pemeluk yang baik; membangun harmonisasi relasi antar pemeluk agama. (Negara harus mengintervensi bila tidak harmonis;  memfasilitasi pendidikan agama/keagamaan.

Tidak Boleh Tidak Memeluk Agama/Kepercayaan

Menurut dia, “Tafsir implisit atas UU Pembukaan UUD 1945: “Indonesia tidak boleh tidak memeluk agama dan kepercayaan. Ini juga tersirat dari Sila Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pada bagian akhir pemaparannya, Pejabat Penting Kementerian Agama RI itu berharap kepada para Pembimas/Kabid Katolik agar mendorong dan mengajak masyarakat  untuk menjadi pemeluk agama Katolik yang baik; mendorong dan mengajak  pembangunan harmonisasi umat; memberi pendidikan agama dan keagamaan untuk menciptakan kerukunan umat beragama.

Sehabis pemaparannya, Pgs. Dirjen Bimas Katolik sekaligus sebagai Sekjen Kementerian Agama RI melanjutkan perjalanan dinasnya yang didampingi Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama RI Provinsi Nusa Tenggara Barat.

 

Hans Kung: Selibat Bukan Hukum Tuhan


HANS Kung bersama Joseph Alois Ratzinger (sekarang Paus Benediktus XVI) pernah menjadi konsultan teologi dalam gerakan pembaruan gereja Katolik Roma, Konsili Vatikan Kedua, pada 1962 hingga 1965. Ketika itu, keduanya menjadi anggota Konsili yang termuda. Mereka juga pernah sama-sama mengajar di Universitas Tubingen, Jerman.

Sekarang mereka tak muda lagi, tapi berseberang pendapat. “Kami tumbuh di ‘kemah’ pemikiran yang berbeda,” kata Hans Kung, 82 tahun, pekan lalu. Dia berada di “kemah” reformasi, sedangkan Paus Benediktus di kelompok konservatif. Berkali-kali Hans Kung mengkritik Paus Benediktus dan juga Vatikan dalam berbagai isu.

Dua pekan lalu, Hans Kung mengirimkan surat terbuka ke Vatikan, mengkritik penanganan kasus pelecehan anak di lingkungan gereja. “Kredibilitas gereja sekarang berada di posisi terburuk sejak reformasi,” tulisnya. Kepada Tempo, Hans Kung menjelaskan apa isi surat itu, Selasa pekan lalu, di Hotel Nikko Jakarta.

Anda mengirimkan surat terbuka ke Vatikan. Apa yang Anda sampaikan?

Pada 1955, saya bersama Joseph Ratzinger (sekarang Paus Benediktus XVI) berada dalam Konsili Vatikan Kedua. Kami sama-sama menjadi bagian dari gerakan pembaruan gereja. Kami memperbarui posisi kami dalam berhubungan dengan Islam, Yahudi, modernitas, hak asasi manusia, dan isu kebebasan beragama. Dalam sepuluh tahun terakhir, kebijakan restorasi yang dibangun gereja sudah gagal karena beberapa sebab. Paus sudah membuat beberapa kesalahan. Misalnya, soal Islam, dia mengeluarkan pernyataan kontroversial berdasarkan pandangan dari salah satu penguasa Bizantium abad ke-14. Dia juga membuat marah pemeluk Protestan dengan mengatakan mereka bukan pemilik gereja sebenarnya.

Apa saran Anda kepada Vatikan?

Saya secara pribadi bersimpati kepada Paus Benediktus. Dulu kami anggota Konsili yang termuda, sekarang kami sama-sama tua. Berkaitan dengan skandal seksual di gereja, saya memberikan enam saran. Pertama, bicaralah, ceritakan kebenaran dan jangan ada yang disembunyikan. Kedua, laksanakan reformasi. Ketiga, jangan bertindak sendiri, tapi secara kolegial. Keempat, dia harus mematuhi Tuhan, bukan otoritas manusia. Kelima, harus bertindak berdasarkan kewilayahan. Keenam, membentuk konsili. Ini solusi yang tidak polemis dan realistis. Saya pikir Paus harus bertindak. Kami berada dalam situasi dramatik yang perlu tindakan dramatik.

Anda mengatakan kasus pelecehan seksual terkait dengan praktek selibat di gereja?

Saya tidak mengatakan praktek selibat bertanggung jawab atas pelecehan seksual. Anda bisa menemui pelecehan seksual di mana pun, baik di lingkungan sekuler maupun di lingkungan gereja. Tapi tentu saja, anak muda sekarang menghadapi kondisi berbeda dengan ketika saya menjadi pendeta atau abad-abad sebelumnya. Menurut saya, gereja perlu melihat perubahan situasi ini. Praktek selibat bukanlah hukum Tuhan. Joseph Ratzinger setuju dengan saya bahwa praktek ini merupakan aturan dari gereja abad pertengahan. Selama beberapa abad sebelumnya, gereja Katolik tidak mengenal hukum selibat. Menurut saya, kami harus menghapuskan hukum selibasi itu.

Apakah model kepemimpinan terpusat seperti sekarang menjadi masalah?

Kepemimpinan gereja terpusat juga baru diperkenalkan pada abad ke-11, yang dikenal sebagai Reformasi Gregorian. Gereja Vatikan ketika itu melawan penguasa Roma dan Gereja Timur. Sampai saat ini kekuasaan tunggal itu masih dipakai oleh Paus Benediktus yang memusatkan penanganan kasus pelecehan dalam dewan kepausan. Paus juga telah menulis surat lebih dari sekali yang menekankan kerahasiaan tertinggi. Atas nama keyakinan, Anda dilarang membicarakan masalah ini. Sistem ini tak lagi bisa beradaptasi dengan gereja yang memiliki lebih dari satu miliar pengikut di seluruh dunia. Mustahil sekali satu orang bisa memutuskan apakah sekarang seorang pastor boleh menikah atau tidak.

Menurut Anda, Paus mesti bertanggung jawab atas kasus pelecehan seksual itu?

Paus harus bertanggung jawab, bukannya berupaya menutupinya. Lagi pula tak adil kalau Paus menyalahkan Uskup Irlandia, yang tentu saja menutupi hal ini atas perintah Paus. Maka penting untuk menyelidiki hal ini. Saya berutang kepada berjuta-juta penganut Katolik untuk bicara soal ini. Karena sudah menjadi budaya para uskup tak diperkenankan bicara secara terbuka, tak terkecuali Uskup Irlandia yang tentu saja tak akan bilang, “Well, siapa yang mesti bertanggung jawab atas apa yang kami patuhi? Andalah yang bertanggung jawab, Bapa Suci.” Karena tak ada yang berani bicara bebas dalam posisi itu, saya sebagai warga Swiss yang bebas tentu saja bebas bicara terbuka. Saya dikaruniai akal pikiran, dan atas restu Tuhan saya diberi keberanian dan kekuatan untuk bicara, maka saya harus bicara meskipun itu pahit.

Dalam hubungan dengan Islam, apakah ada perbedaan pendekatan antara Paus Benediktus dan Paus Yohanes Paulus II?

Dalam soal kebijakan luar negeri (foreign policy) jelas berbeda, tapi tidak dalam hal kebijakan domestik gereja. Paus Yohanes seorang karismatis dan bintang di media. Paus Benediktus seorang pengajar. Paus Yohanes seorang yang simpatik dan tidak terlalu peduli soal teori. Tapi, pada dasarnya, secara teologi tidak ada perbedaan signifikan antara Paus Yohanes dan Paus Benediktus.

Bisa memberikan contoh?

Misalnya, soal kontrasepsi. Saya selalu berharap Paus Benediktus mengoreksi sikap antikontrasepsi gereja yang salah. Menentang penggunaan kondom, terutama di Afrika yang punya masalah dengan AIDS, jelas kebijakan yang tidak bisa dipahami. Gereja juga harus mengubah pandangannya soal seksualitas yang merupakan anugerah kreatif dari Tuhan

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/05/03/AG/mbm.20100503.AG133406.id.html

Wah! Agama Jadi Alat ‘Cuci Dosa’ Korupsi


(Jakarta 30/04/10)Permasalahan korupsi kini sudah mulai merambah kepada nilai religiusitas seseorang. Agama kerap dijadikan sebagai alat pencucian dosa perbuatan korupsi. Kekuasaan dan pemimpin agama malah sering kali melegitimasi perilaku-perilaku yang koruptif.

Demikian disampaikan oleh mantan Ketua Pemuda Muhammadiyah Abdul Muti dalam acara diskusi bertajuk “Agama dan Masalah Korupsi” di Gedung CDCC, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (30/4/2010). Turut hadir dalam diskusi tersebut sejumlah tokoh, antara lain, rohaniwan Romo Benny Susetyo SJ dan peneliti Indonesia Corruption Watch, Danang Widoyoko.

“Agama ini sekarang sering dijadikan dosa laundering. Seolah-olah orang yang korupsi, kalau ibadahnya bagus dan banyak menyumbang untuk rumah ibadah dosa terhapus,” kata Abdul.

Ia menyebutkan, sering kali karena pemahaman agama yang formalistik, orang justru bersikap matematis dengan perbuatan korupsi dan keyakinan agamanya. “Lucunya, ada yang menghitung nilai dosa dan amal pahala yang menurutnya sudah dia buat. Ada, yang korupsi belasan juta merasa dosanya sudah dihapuskan karena sudah menyumbang rumah ibadah puluhan juta,” kata dia.

Muti mengatakan, dari segi agama perlu ada pembaharuan mengenai definisi perbuatan dosa termasuk korupsi. Ia menyebut, pemimpin agama harus juga mengerti tentang hukum publik, termasuk peraturan perundang-undangan tindak pidana korupsi. “Supaya agama tidak lagi dimanfaatkan sebagai tempat pencucian dosa korupsi,” tegasnya.(kompas.com)