MUI Tegal: Haram Siswa Muslim Sekolah di Sekolah Non-Muslim


Menjelang musim penerimaan siswa baru sekoah-sekolah dasar dan menengah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tegal mengeluarkan fatwa tegas.

Dalam hal ini, MUI Kota Tegal telah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan orang tua atau keluarga Muslim mendaftarkan anaknya di sekolah-sekolah yang dikelola yayasan non-Muslim.
“Dalam Musda MUI Kota Tegal yang berlangsung akhir April 2013 tersebut, kita memang mengeluarkan fatwa seperti itu,” jelas Ketua MUI Kota Tegal Harun Abdi Manaf, Selasa (11/6).
Harun menyebutkan, keluarnya fatwa tersebut bukannya tanpa alasan. Tapi dilandasi keprihatinan atas perkembangan dunia pendidikan di Kota Tegal dan upaya menyelamatkan anak-anak dari keluarga Muslim.

Dia menyebutkan, keluarnya fatwa tersebut dilatarbelakangai beberapa kejadian yang menimpa duni! a pendidikan di Kota Tegal. Antara lain, adanya penolakan dari sekolah non-Muslim untuk menerima guru Muslim mengajar di sekolah itu.
Peristiwa penolakan guru Muslim dilakukan sekolah milik yayasan non-Muslim cukup ternama, pada awal 2013. Kasus tersebut, menurut Harun, sebenarnya sudah dilaporkan MUI ke Kantor Kementerian Agama Kota Tegal, bahkan juga dilaporkan ke Kementerian Agama Pusat.

Untuk itu, pihak Kantor Kementerian Agama Kota Tegal sudah memberikan beberapa kali teguran ke sekolah bersangkutan. “Namun teguran-teguran tersebut, tetap diabaikan pihak sekolah,” katanya.

Bukan hanya persoalan itu yang memaksa MUI akhirnya mengambil sikap tegas. Dalam pertemuan dengan Komisi I DPRD Kota Tegal di mana Harun juga duduk sebagai Wakil Ketua Komisi I, pihak sekolah non- Muslim tersebut juga tidak mau memberikan pelajaran agama sesuai dengan keyakinan agama siswanya.
“Seluruh siswa di sekolah non-Muslim itu, hanya mendapat pelajaran agama yang menjadi dasar keya! kinan sekolah tersebut. Bahkan semua pelajar non-Muslim yang sekolah d i sekolah tersebut, diwajibkan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan agama yang diselenggarakan sekolah tersebut,” katanya menjelaskan.

Bahkan ketika Komisi I dan Kantor Kementerian Agama mendesak agar sekolah tersebut menyediakan pendidikan agama sesuai keyakinan masing-masing siswa yang di sekolah non-Muslim, pihak sekolah tetap menolak melakukannya.

Alasannya, ada surat dari Yayasan yang menyatakan seluruh siswa di sekolah non-Muslim tersebut hanya akan diberikan pelajaran agama yang menjadi dasar pendirian sekolah.

Dengan demikian, semua keluarga Muslim yang menyekolahkan anaknya ke sekolah tersebut, dianggap sudah memahami ketentuan ini.

Harun menyebutkan, MUI Kota Tegal sudah mengingatkan ketentuan tersebut menyalahi ketentuan yang sudah digariskan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengenai penyelenggaraan pendidikan di sekolah-sekolah.

Dalam salah satu ketentuannya, penyelenggara sekolah wajib menyediakan atau memberikan pendidikan agama sesuai dengan keya! kinan agama masing-masing siswa. Ketentuan ini, juga sudah diterapkan sekolah-sekolah muslim di Kota Tegal, seperti sekolah-sekolah milik yayasan pendidikan Muhammadiyah.

Di sekolah itu, siswa yang non-Muslim diberikan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya. “Meski pun sudah diingatkan mengenai ketentuan itu, pihak sekolah non-Muslim ternyata tetap mengabaikan,” tuturnya.
Berdasarkan kondisi itulah, MUI Kota Tegal akhirnya mengeluarkan fatwa yang melarang anak-anak dari keluarga Muslim untuk menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah milik yayasan non-Muslim. “Dengan demikian, keluarnya fatwa MUI bukan karena kita tidak bisa bersikap toleran. Tapi memang ada latar belakangnya,” kata Harun menjelaskan.

Di Kota Tegal, ada beberapa sekolah yang dikelola yayasan pendidikan non-Muslim. Bahkan ada salah satu yayasan non-Muslim yang mengelola sekolah mulai dari tingkat TK hingga SMA. 

(Sumber: REPUBLIKA.CO.ID)

Buku MBKM Akan Perbaiki Hubungan Muslim-Kristen


SEORANG pejabat Gereja menyambut baik peluncuran buku ‘Muslim Bertanya, Kristen Menjawab’ (MBKM), yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, bertujuan untuk memperbaiki hubungan Muslim-Kristen, serta membantu umat Kristiani memahami agama mereka dengan lebih baik. 

“Buku Muslim Bertanya, Kristen Menjawab tidak bertujuan untuk membuka peluang debat agama untuk mencari siapa yang benar dan siapa yang salah. Hal ini akan mudah terjadi karena buku ini memuat hal-hal yang sensitif yang berkaitan langsung dengan perspektif dan keyakinan yang berbeda,” kata Pastor Antonius Benny Susetyo, sekretaris eksekutif Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan KWI. 

Ia berbicara setelah peluncuran buku itu kemarin di kantor Center for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC) di Jakarta Pusat. Buku itu ditulis dalam Bahasa Jerman oleh Pastor Christian W Troll SJ dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Pater Markus Solo Kewuta SVD, dari Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama untuk Hubungan Kristen-Muslim di Asia.
“Buku ini ingin menjelaskan, mencerahkan dan menambah wawasan untuk membina dan meningkatkan rasa saling pemahaman serta saling menghormati. Dikenal maka disayang,” kata Romo Benny.

Ia mengatakan, “Pengalaman bergelut dengan Dialog umat beragama di berbagai belahan bumi dan dari berbagai kurun waktu, baik pada diri penulis membuktikan bahwa ada banyak umat Kristiani yang belum paham betul akan detail ajaran imannya.”
Imam itu menambahkan, “Pengalaman pula membuktikan bahwa seorang yang menguasai betul pengetahuan akan imannya, dan bukan saja pada level kognitip, tetapi lebih dari itu meyakininya dengan sepenuh iman dan menghidupinya di dalam keseharian. Mereka yang sungguh-sungguh dibekali dengan pengetahuan itu tidak akan mudah tersinggung, marah atau bersikap emosional ketika aspek fundamental iman mereka dipertanyakan.”.

Ia berharap, “Semoga langkah ini semakin mempererat persahabatan dan ketenggangan umat Kristiani dan umat Muslim, serta meningkatkan rasa saling pemahaman dan saling menghormati di dalam perbedaan demi perdamaian dan keharmonisan di Indonesia.” “Perbedaan diantara umat Kristiani dan umat islam adalah karunia yang patut disyukuri karena dengan itu kita semua diperkaya. Sebaliknya persamaan di antara kita adalah modal kekuatan dan sokoguru kita untuk tujuan kita bersama,” tambahnya. [Perisai.net].

Gerakan Lintas Agama Bentuk Perlawanan Terhadap Perusuh


Jumat, 11 Februari 2011

Gerakan tokoh lintas agama bentuk perlawanan secara damai terhadap rusuh massa di Temanggung, Jawa Tengah, pascasidang kasus penistaan agama, Selasa (8/2), kata Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang, Romo Aloysius Budi Purnomo.

“Gerakan lintas agama ini memberikan perlawanan damai terhadap provokator yang berdampak negatif di Temanggung, kesatuan dan kerukunan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya saat dialog sekitar 200 tokoh lintas agama berasal dari Yogyakarta dan sejumlah daerah lainnya di Jateng, di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Kabupaten Magelang, di Magelang, Jateng, Jumat sore.

Rusuh massa di Temanggung telah mengakibatkan sejumlah gereja dan kompleks sekolah Kristen di daerah itu rusak. Polisi telah menetapkan delapan tersangka dan memeriksa puluhan orang yang diduga terkait dengan kejadian tersebut.Ia mengatakan, rusuh di Temanggung telah merusak citra bangsa. Tindakan pelaku penistaan agama Antonius Richmond Bawengan (50), warga beralamat di Jakarta, yang telah divonis hukuman lima tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Temanggung, katanya, bukan hanya penodaan terhadap agama Islam tetapi juga semua agama.

Pada kesempatan itu Budi menyampaikan keprihatinan Uskup Agung Semarang, Monsinyur Johannes Pujasumarta, atas rusuh massa di Temanggung.

“Beliau menyampaikan keprihatinannya baik kepada teman-teman sesama maupun umat Islam yang tercoreng karena peristiwa itu,” katanya.

Ia menyatakan dukungan terhadap gerakan mewujudkan persaudaraan sejati lintas iman dan agama.

Kekerasan, katanya, dilawan bukan dengan kekerasan tetapi melalui dialog dan seruan persaudaraan sejati serta perdamaian.

“Kami mendukung ajakan deklarasi persaudaraan sejati, persaudaraan sejati menjadi gerakan berkat bagi bangsa ini,” katanya.

Ia menyebut, kekerasan di Temanggung dan daerah lain di Indonesia tidak meruntuhkan pandangan gereja bahwa Islam membawa kedamaian untuk sesama dan semesta.

“Banyak umat Islam yang berkehendak baik dari pada kelompok kecil yang mengatasnamakan Islam yang merusak kehidupan. Islam juga berwatak damai, tidak ada faedahnya kekerasan dilawan dengan kekerasan. Lebih mengedepankan cinta kasih dari pada kebencian, ampuan dari pada balas dendam, perselisihan hanya menghancurkan kerukunan,” katanya.

Tokoh Gerakan Gusdurian yang juga putri sulung mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (almarhum), Alissa Qotrunnada Wahid, mengatakan, kekerasan tidak menyelesaikan masalah.

“Penistaan dan perbedaan keyakinan selalu ada, tetapi penyelesaiannya bukan dengan kekerasan, melainkan melalui dialog,” katanya usai dialog itu.Ia mengemukakan, hingga saat ini masyarakat cenderung masih bicara soal golongan dari pada keindonesaian.

“Padahal harus ada porsi bicara, misalnya menyangkut kelompok, NU (Nahdlatul Ulama), Islam, Jawa, Indonesia. Yang tidak ada adalah bicara porsi sebagai orang Indonesia,” katanya.

Ia mengimbau perlunya bangsa Indonesia merevitalisasi dan menghidupi semangat Bhinneka Tunggal Ika. Dialog lintas agama yang rencananya berlangsung di Pendopo Pengayoman Rumah Dinas Bupati Temanggung, Jumat, dibatalkan karena tidak mendapat izin dari kepolisian. Sekitar 200 tokoh lintas agama berasal dari Yogyakarta dan sejumlah daerah lainnya di Jateng mengalihkan kegiatan itu di aula Pondok Pesantren API Tegalrejo, Kabupaten Magelang.(*)(U.M029/Z002. (Antaranews.com)

ALLAHU AKBAR oleh Gus Mus (KH Mustofa Bisyri, Rembang)


From: “kira” ALLAHU

Allahu Akbar!
Pekik kalian menghalilintar

Membuat makhluk-makhluk kecil tergetarAllahu Akbar!

Allah Maha Besar!
Urat-urat leher kalian membesar meneriakkan Allahu Akbar
Dan dengan semangat jihad nafsu kebencian kalian membakar apa saja yangkalian anggap mungkar

Allahu Akbar, Allah Maha Besar!
Seandainya 5 milyar manusia penghuni bumi sebesar debu ini sesat semuaatau saleh semua,
tak sedikit pun akan mempengaruhi KebesaranNya
Melihat keganasan kalian aku yakin kalian belum pernah bertemu Ar-Rahman

Yang kasih sayangNya meliputi segalanya
Bagaimana kau begitu berani mengatas-namakanNya ketika dengan pongah kau melibas mereka yang sedang mencari jalan menujuNya?

Mengapa kalau mereka memang pantas masuk neraka tidak kalian biarkansaja Tuhan mereka yang menyiksa mereka.

Kapan kalian mendapat mandat dan wewenang dariNya untuk menyiksa danmelaknat?

Allahu Akbar!
Syirik adalah dosa paling besar.
Dan syirik yang paling akbar adalah mensekutukanNya dengan mempertuhankan diri sendirim
Dengan memutlakkan kebenaran sendiri.
Laa ilaaha illallah!

KWI: Indonesia Butuh UU Kebebasan Beragama


Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Indonesia Benny Soesatyo mengatakan yang dibutuhkan masyarakat Indonesia adalah Undang-Undang Kebebasan Beragama. “Di mana negara beri jaminan kepada warganya untuk bebas ekspresikan keyakinannya dan tidak kesulitan beribadah,”ujarnya ketika dihubungi, Kamis (10/2).

Menurut dia, Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 tentang hak asasi warga negara yang juga menyebutkan mengenai hak beragama masih harus diturunkan dalam bentuk UU. Namun, kata Romo Benny, bentuknya bukanlah UU Kerukunan Umat Beragama.

“Nanti justru malah diatur sedemikian rupa soal pernikahan, kelahiran, tempat disemayamkan. Umat malah dikotak-kotakkan,” ucapnya.

Dengan UU Kebebasan Beragama, kata dia, pemerintah juga diharapkan tidak lagi absen. Sebab, selama ini ia menilai negara seperti tunduk kepada pelaku kekerasan yang mengatasnamakan agama.

“Kekerasan seolah-olah mendapat perlakuan istimewa dan orang-orangnya kebal hukum. Dengan UU ada jaminan pasti aparatur negara untuk hadir menjaga,” tutur Benny.

Ia menambahkan segala bentuk kekerasan tidak bisa diterima apa pun alasannya. “Apa pun keyakinannya, hak warga negara untuk beribadah itu dijamin dan kekerasan tidak dibenarkan,” kata Romo Benny.

Ririn Agustia

(Sumber: tempointeraktif.com 10 Feb 2011)

SBY Perintahkan Ormas yang Meresahkan Dibubarkan


Jakarta – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memerintahkan agar organisasi massa yang menciptakan keresahan ditindak tegas, jika perlu dibubarkan. Pembubaran ormas harus melalui penyelidikan yang komprehensif.

Instruksi Presiden terkuak saat berpidato dalam rangka Hari Pers Nasional di Kupang, NTT, Rabu (9/2/2011). SBY menyatakan, kelompok-kelompok yang terbukti melanggar hukum, melakukan kekerasan, dan meresahkan masyarakat, kepada para penegak hukum agar dicarikan jalan yang sah dan legal untuk “jika perlu melakukan pembubaran.”

Juru Bicara Presiden SBY Bidang Dalam Negeri, Julian Pasha, menyatakan, untuk pembubaran ormas itu ada proses-proses yang dilalui. “Tetapi, perlu diingat Presiden tidak merujuk pada ormas tertentu,” katanya  saat dihubungi detikcom, Rabu (9/2/2011).

Julian mengatakan, Presiden telah memerintahkan polisi untuk  mendalami dan memeriksa berbagai kerusuhan yang terjadi baik di Pandeglang atau pun di Temanggung.

“Dan bila terbukti ada oknum atau organisasi yang melakukan tindakan seperti itu ya harus ditindaklanjuti,” ujarnya.

Termasuk dibubarkan? “Iya termasuk dibubarkan tetapi harus melalui penyelidikan yang komprehensif. Mereka harus ditindak tegas sesuai dengan apa yang mereka lakukan,” jawab Julian.

Ia mengingatkan sekali lagi bahwa Presiden sama sekali tidak menyebut satu golongan mana pun. “Mereka yang terbukti dianggap menciptakan keresahan tentu harus ditindak,” kata Julian.

Sumber: http://www.detiknews.com/read/2011/02/09/123454/1567650/10/sby-perintahkan-ormas-yang-meresahkan-dibubarkan


Siapa Bilang Muslim Tidak Boleh Ucapkan Selamat Natal?


Ajaran Islam Tak Pernah Larang Ucapan Selamat Natal

detikNewsdetikcom – Den Haag, Ucapan selamat adalah masalah non-ritual, tidak berkaitan dengan ibadah, tapi muamalah. Pada prinsipnya semua tindakan non-ritual adalah dibolehkan, kecuali ada nash ayat atau hadis yang melarang.

Hal itu dituturkan Prof. Dr. Sofjan Siregar, MA kepada detikcom, Sabtu (18/12/2010), merujuk isi materi yang disampaikannya dalam pengajian ICMI Eropa bekerjasama dengan pengurus Masjid Nasuha di Rotterdam, Jumat sehari sebelumnya.

Tema ucapan selamat Natal diangkat karena hampir setiap tahun muncul pertanyaan sekitar hukum ucapan selamat Natal bagi seorang muslim, khususnya di Belanda.

Menurut Sofjan, tidak ada satu ayat Al Quran atau hadits pun yang eksplisit melarang mengucapkan selamat atau salam kepada orang non-muslim seperti di hari Natal.

“Bahkan dalam Al Quran Surat An Nisa Ayat 86 umat Islam diperintahkan untuk membalas salam dari siapa pun tanpa ada batasan ucapan itu datang dari siapa,” ujar Sofjan.

Lanjut Sofjan, bagi orang yang mengklaim ucapan selamat kepada orang non-muslim tidak boleh, seharusnya mendatangkan dalil dan argumentasinya dari Al Quran atau Hadits. Dan itu tidak ada. Adapun hadis dari Aisyah yang berbunyi, “Jangan ucapkan salam kepada orang Yahudi dan Nasrani,” adalah dalam konteks dan latar belakang perang dengan Bani Quraizah ketika itu.

“Seperti halnya banyak larangan berkaitan dengan kafir pada umumnya adalah berkaitan dengan kafir al harbi atau combatant,” terang Sofjan.

Umat Islam khususnya di Belanda dan Eropa atau Indonesia bukan dalam keadaan perang, sehingga diperintahkan oleh agama agar berlaku adil dalam bergaul dalam masyarakat multikultural. Salah satu bentuk birr, qistu, adil dan ihsan adalah saling hormat-menghormati dalam pergaulan termasuk memberi dan membalas salam.

Hal ini juga sesuai dengan Surat Al Mumtahinah Ayat 9. “Jika memakan sembelihan ahli kitab adalah halal seperti halal dan bolehnya mengawini wanita ahli kitab, tentu melarang untuk mengucapkan salam termasuk yang tidak mungkin, karena lebih dari itu pun sudah halal dan dibolehkan,” papar doktor bidang syariah ini.

Adapun ayat yang melarang al muwalah seperti dalam Surah Al Mumtahinah Ayat 9 menjadikan orang non-muslim wali masuk dalam kategori mutlak, yang dibatasi cakupan larangannya dalam keadaan perang oleh ayat lain, hal ini dalam istilah fiqihnya disebut muqayyad. Ayat 9 Al Mumtahinah adalah ayat terakhir turun tentang al muwalah.

Maka hanya ada dua kemungkinan status hukumnya: menafsir dan menjelaskan ayat mutlak yang diturunkan sebelumnya, atau berfungsi menasikh (abrogasi) ayat sebelumnya.

Maka sesuai dengan kaidah usuliyah: annal mutlaq minan nushush yuhmal alalmuqayyad idza ittahadal hukmu was sabab.

Dalam hal ini hukum dalam keduanya adalah satu yaitu haramnya al muwalah, sebabnya juga satu yaitu karena sebab kekufuran, sehingga ayat yang mutlak (absolut) dimasukkan ke dalam ayat muqayyad, berarti sebab hukum haram adalah karena al kufur al muharib (kafir combatant).

Jadi, al muwalah itu haram hukumnya kepada orang kafir combatant yang sedang berperang dengan orang Islam, adapun kafir bukan harbi dikecualikan dari ayat itu.

Banyak ulama yang membolehkan salam kepada orang non-muslim yang tidak harbi, seperti Ibnu Masud, Abu Umamah, Ibnu Abbas, Al Auzayi, An Nakhoi, Attobary dll.
(Detiknews.com)