Utang Indonesia pada Umat Islam


Jumat, 28 Agustus 2009 pukul 01:12:00

Utang Indonesia pada Umat Islam  

Oleh Herry Nurdi
Penulis, Wartawan Islam

Perkembangan penyelesaian masalah terorisme di Indonesia, menuju arah yang sangat tidak kondusif bagi kaum Muslimin di negeri ini. Berbagai pernyataan dan statement yang dilontarkan oleh beberapa pihak, baik secara resmi atau selentingan, telah melahirkan dampak yang sangat serius bagi gerakan dakwah di negeri ini. Tentu saja perkembangan ini harus dikawal dalam koridor yang benar agar tak menimbulkan keresahan baru yang bernama kecurigaan komunal.

Bayangkan saja, jika seorang psikolog menyebutkan bahwa kegiatan-kegiatan rohis (Rohani Islam) yang ada di sekolah menengah umum adalah bahan baku dari tindak kekerasan. Ditambah lagi, dengan seorang yang mengaku pengamat, berkata dengan senyum di bibir bahwa pendanaan kegiatan terorisme juga berasal dari mobilisasi zakat, infak, dan sedekah. Semua ditayangkan di televisi dalam siaran  live yang tentu saja tanpa filter rasa keadilan bagi umat Islam.

Pada tahap yang lebih awal, pesantren telah menuai kecurigaan. Begitu juga, dengan kegiatan dakwah. Dan, hari ini kita saksikan, betapa aktivis dakwah berada dalam suasana terintimidasi. Jenggot, celana cingkrang, baju koko, cadar, dan dahi yang hitam menjadi atribut pelengkap yang mengantarkan kecurigaan. Dengan segala hormat pada semua pihak yang terlibat, Pemerintah Indonesia tidak boleh menjadi pemerintah yang kelak akan dicatat sebagai pemerintah yang menindas umat Islam.

Masih dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan, sekadar mengingatkan sejarah yang mungkin terlupa. Negeri ini memiliki utang yang tak terbayar pada perjuangan yang telah diberikan umat Islam. Hanya untuk mengambil beberapa contoh, Pangeran Diponegoro, memakai simbol-simbol dalam memimpin Perang Jawa melawan penjajah Belanda. Dengan serban, baju putih panjang, dan yang paling penting, dengan ajaran Islam Pangeran Diponegoro memimpin perang yang dalam sejarah Belanda disebut-sebut sebagai perang, yang hampir menenggelamkan negeri penjajah itu dengan kebangkrutan.

Baca saja nama panjang dan gelar Pangeran Diponegoro. Sultan Abdulhamid Erucakra Sayidin Panatagama Khalifat Rasulullah Sayidin Panatagama. Dengan sadar, Pangeran Diponegoro mencantumkan nama Sultan Abdulhamid, yang saat itu menjadi Khalifah Turki Utsmani sebagai jaringan perjuangannya. Bahkan, pemilihan nama Sultan pada periode Sultan Hamengkubuwono I adalah simbol perlawanan secara halus pada kekuatan VOC, penjajah Belanda. (Soemarsaid Moertono, 1985; P Swantoro, 2002).

Tapi, hari ini, simbol yang mampu menggalang kekuatan perjuangan kemerdekaan itu dicurigai. Pencantuman hubungan internasional, dengan Mesir, Turki, Arab Saudi, disebut dengan transnasional yang juga diucapkan dengan nada penuh kecurigaan. Dulu, simbol-simbol itu berperan sangat besar memerdekakan negeri ini.

Begitu pula, dengan slogan dan pekik perjuangan, Islam dan kaum Muslimin menorehkan sejarah yang tak bisa dihapus dan harus diingat lagi ketika jihad disudutkan seperti saat sekarang. Bung Tomo, menggerakkan Arek-arek Suroboyo melawan agresi militer ulang yang dilakukan penjajah Belanda, dengan pembukaan kalimat  Bismillahirrahmanir rahim dan ditutup dengan  Allahu Akbar yang disandingkan dengan kata Merdeka.

Saoedara-saoedara ra’jat Soerabaja,
 Siaplah keadaan genting
. Tetapi saja peringatkan sekali lagi, djangan moelai menembak,
 Baroe kalaoe kita ditembak, maka kita akan ganti menjerang mereka itu.
 Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka.
 Dan oentoek kita, saoedara-saoedara lebih baik kita hantjur leboer daripada tidak merdeka.
 Sembojan kita tetap: Merdeka atau Mati.
 Dan kita jakin, saoedara-saoedara,
pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatuh ke tangan kita
sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar
 pertjajalah saoedara-saoedara,
 Toehan akan melindungi kita sekalian
 Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!

Maka sekali lagi, negara ini boleh menjadi negara yang anti terhadap pekikan  Allahu Akbar dan seruan-seruan dakwah yang mengajak menuju kebaikan dan kebenaran.

Ketika Republik Indonesia masih sangat belia, negara ini pernah menjadi Republik Indonesia Serikat sebagai hasil dari Konferensi Meja Bundar. Indonesia terpecah-pecah menjadi 17 negara bagian. Penjajah Belanda tidak akan ridha dan ringan hati melepaskan Indonesia sebagai negeri yang merdeka dan berdaulat. Andai saja Mohammad Natsir, tidak tampil dengan pidatonya yang kini dikenal dengan Mosi Integral Natsir, tentu seluruh pemimpin bangsa hari ini tidak akan bisa menyebut dengan bangga kalimat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebab, berdirinya RIS meminta konsekuensi besar. Terjadi rasionalisasi atas kekuatan Tentara Nasional Indonesia. Perwira-perwira penjajah Belanda menjadi penasihat TNI. Pejuang dan tentara rakyat dirumahkan. Sebagai gantinya, Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL) diintegrasikan ke dalam tubuh TNI. Bagaimana mungkin negara ini akan kuat, jika di dalam tulang punggung yang menjaga kemerdekaannya, berdiri jenderal-jenderal penasihat dan unsur-unsur dari kalangan penjajah?

Dalam sidang RIS tahun 1950, Mohammad Natsir, seorang pemimpin dakwah di negeri ini, seorang dai, seorang ustaz, seorang ulama, tampil menyelamatkan Indonesia. Maka, dengan segala hormat, TNI dan Kepolisian Republik Indonesia tidak boleh menjadi alat negara yang berperilaku sewenang-wenang pada umat Islam Indonesia.

Apalagi, ditambah sebuah fakta sejarah tentang seorang pejuang bernama Jenderal Soedirman. Seorang guru madrasah Muhammadiyah, yang memimpin gerilya perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Jenderal Soedirman adalah seorang guru agama. Mengisi ceramah dan mengajar mengaji keliling di wilayah-wilayah Cilacap dan Banyumas. Jabatannya di Muhammadiyah adalah wakil ketua Pemuda Muhammadiyah Karisidenan Banyumas.

Wilayah yang sama saat ini dicurigai polisi sebagai sebagai kawasan persembunyian buronan yang dicari. Maka sekali lagi, dengan segala hormat, polisi, aparat keamanan, bahkan masyarakat tidak boleh menaruh curiga pada ustaz, guru mengaji, apalagi ulama yang telah membuktikan diri menjaga negeri Allah bernama Indonesia yang semoga dilimpahi berkah.

Pasti tidak terlambat mengucapkan selamat hari kemerdekaan. Kaum Muslimin tidak pernah menganggap perjuangan sebagai piutang yang harus dibayar. Tapi, umat Islam sangat yakin, negara ini adalah negara yang besar yang tak akan melupakan sumbangsih perjuangan umat Islam.  Wallahu a’lam .

(-)

Iklan

Renungan Bijaksana: Sebuah Pensil


SEBUAH PENSIL

Seorang anak bertanya kepada  neneknya yang sedang menulis sebuah surat .   “Nenek  lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?” Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata  kepada cucunya, 

 “Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai.”

 “Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti” ujar si nenek lagi.

Mendengar jawab ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa  dari pensil yang nenek pakai. “Tapi nek sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya.” Ujar si cucu. Si nenek kemudian menjawab, “Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini.”

“Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani  hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di  dalam hidup  ini.” Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.

“Kualitas pertama, pensil mengingatkan kamu kalo kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis,  kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya” .

“Kualitas kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik”.

“Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini adalah seharusnya. Dan Justru bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar”.
“Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu”.

“Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan”.

(by Paulo Coelho)

ISLAMISASI NEGARA ADALAH AGENDA HIDUP


Islamisasi Negara adalah Agenda Hidup

Oleh ari supriyadi
– 25 Augustus 2009 –

Islamisasi bagi partai Islam adalah agenda yang terus hidup (the living agenda). Itulah yang menjadi alasan utama isu syariat Islam tak pernah ditinggalkan partai Islam (Arskal Salim, dosen IAIN Jakarta). Itulah mengapa meskipun secara hitung-hitungan di atas kertas, partai-partai Islam tak akan menang jika dilakukan voting mengenai
penerapan Syariah Islam, maka akhirnya yang dilakukan adalah melakukan alih strategi demi mencapai tujuan besar itu. sejak reformasi, dua kali sidang umum MPR menunjukkan betapa  usulan pengembalian 7 kata sila pertama Piagam
Jakarta selalu dilontarkan oleh partai-partai Islam semisal PPP dan PBB, semantara PKS malah lebih jauh dengan melontarkan ide tentang substansi Piagam Madinah, dengan kewajiban melaksanakan syariah agama  bagi para pemeluk masing-masing. Dengan fakta tersebut, siapapun yang menyatakan bahwa perdebatan tentang ideologi negara kita telah tuntas mendapatkan bantahannya. Karena memang penerimaan Pancasila sebagai dasar negara memang sudah tidak
diperdebatkan lagi, namun penerimaan Pancasila sebagai ideologi negara tampaknya
masih jauh api dari panggang. sejak isu islamisasi negara di awal dekade 90an,
dengan munculnya ICMI, kebijakan mengenai jilbab yang pada mulanya dilarang
(1991), peraturan mengenai Bazis (1991), dilarangnya SDSB (1993), dan
didirikannya Bank Muamalat Indonesia (BMI). sepanjang orde baru, proses
islamisasi tidaklah hilang, memang bukan partai-partai Islam yang melakukan
proses Islamisasi itu, namun dilakukan oleh negara, sebagai institusi resmi
negara. bukankah kompilasi hukum Islam dan UU peradilan Agama itu justru
merupakan muncul dari usulan departemen agama, dan bukannya usulan dari partai
Islam?
demikianlah memang, sebagai sebuah agenda hidup,
islamisasi akan selalu mencari celah dan jalan untuk tetap bertahan hidup di
Indonesia, terlepas pro kontra yang melingkupinya. selepas reformasi, maka kini
agen islamisasi secara struktural bertambah, bukan lagi hanya oleh departemen
agama saja, namun juga oleh partai-partai Islam yang ada, serta
politisi-politisi Islam dari partai nasionalis. hal ini tercermin dengan
diakomodirnya  gagasan partai-partai Islam untuk memasukkan
“meningkatkan iman dan takwa”, bukan “mencerdaskan kehidupan bangsa”, sebagai
tujuan utama pendidikan dalam pasal 31 UUD. RUU Sisdiknas yang sarat muatan
religius itu juga disahkan karena secara konstitusional ia adalah refleksi bunyi
pasal 31 UUD tentang pendidikan yang menjadi payungnya. Tentu tidak dapat
dipungkiri, pendidikan agama merupakan salah satu media penting untuk
Islamisasi. Demikian juga dengan disahkannya UU APP beberapa waktu yang lalu,
suka atau tidak suka menunjukkan betapa strategi Islamisasi negara tetap
menemukan jalannya, walaupun sampai saat ini Piagam Jakarta belum berhasil
dikembalikan pada posisi semula sesuai kesepakatan BPUPKI 22 Juni 1945.Kecuali
dalam hal perjuangan memasukkan kembali Piagam Jakarta, hampir-hampir kiprah
partai-partai Islam di dalam konteks perumusan undang-undang tidak menimbulkan
gejolak. Memang, kita semua tahu bahwa dibandingkan dasawarsa awal 1990-an
terakomodasikannya syariat Islam dalam sistem perundang-undangan menjadi lebih
banyak (termasuk UU tentang penyelenggaraan ibadah haji, perbankan syariah, dan
sebagainya).
Yang paling bersejarah adalah disahkannya undang-undang
mengenai Aceh. Otonomi khusus yang diberikan kepada daerah ini antara lain
sebagai langkah agar Aceh tidak memisahkan diri dari Indonesia sehingga NKRI
tetap terjaga, termasuk kewenangan Aceh untuk dikelola menurut hukum
Islam.Disahkannya undang-undang yang berbau syariah di DPR relatif tidak
menimbulkan perdebatan nasional tentang posisi Islam atau syariah Islam di dalam
sistem perundang-undangan Indonesia.Akan tetapi, ketika daerah yang menurut UU
juga memiliki otonomi sangat luas, meskipun tidak sebesar Aceh, meniru DPR pusat
dengan mengesahkan sejumlah aturan yang oleh banyak orang disebut “Perda
Syariah”. Hal ini justru menimbulkan perdebatan. Tak banyak anggota legislatif
di pusat yang mempersoalkan hal ini. Akan tetapi, tidak begitu halnya dengan
kalangan akademisi dan pengamat serta aktivis sosial-politik dan hak asasi
manusia.
Pada umumnya perda-perda tersebut berbicara mengenai
busana muslim, larangan mengonsumsi dan menjual alkohol, larangan berjudi,
larangan prostitusi, ihwal kemampuan membaca Alquran, salat berjamaah, larangan
berbuat maksiat, dan sebagainya.Yang paling memicu kontroversi adalah larangan
bagi perempuan untuk berada di luar rumah setelah jam sembilan malam.
Selain Aceh, yang memang telah diberi hak untuk mengatur
dirinya sendiri menurut hukum Islam, banyak daerah memiliki aspirasi di
atas.Termasuk di dalamnya adalah sebagian wilayah Sumatera Barat, Sumatera
Selatan, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Kalimantan
Selatan, Kalimantan Barat, NTB, Gorontalo, dan sebagainya.
Pada tingkat kabupaten dan kota, barangkali terdapat 40-an
daerah yang terkait dengan “perda syariah”. Berbeda dengan reaksi pada dasawarsa
1990-an, dengan semangat demokratisasi atau persamaan posisi di mata
undang-undang, mereka yang tidak setuju dengan “perda-perda syariah” ini menilai
bahwa kehadiran mereka bersifat diskriminatif, melanggar hak asasi manusia,
mengancam NKRI, bertentangan dengan UUD 1945 dan ideologi negara.
jadi, sekali lagi, saya rasa berdasar hal-hal tersebut di
atas, ideologi kebangsaan kita belumlah tuntas kita perbincangkan.
beberapa sumber bacaan :
1.Duduk Soal Perda Syariah , http://gusdur. net/Opini/ Detail/?id= 152/hl=id/ Duduk_Soal_ Perda_Syariah

2. Piagam Jakarta setelah 60 Tahun,  http://www.forums. apakabar. ws/viewtopic. php?f=1&t=30819
3.  Daya Hidup Isu Syariat dalam Politik, http://islamlib. com/id/artikel/ daya-hidup- isu-syariat- dalam-politik/

_._,___

PENULIS INGGRIS LECEHKAN ALQURAN


Penulis Inggris Lecehkan Alquran

By Republika Newsroom
Senin, 24 Agustus 2009 pukul 12:07:00

 

LONDON–Sebastian Faulks, penulis novel-novel best seller, memancing kemarahan umat Islam karena  mengklaim Alquran tidak memiliki “dimensi etika” dan menyebutnya sebagai ocehan orang gila.

“Kitab suci umat Islam itu adalah sebuah buku dengan satu dimensi yang memiliki nilai sastra rendah. Jika dibandingkan dengan Injil, maka pesan-pesannya terkesan “gersang”, ujar dia dalam wawancara dengan majalah The Sunday Times yang dilansir Telegraph, Ahad (23/8).

Faulks mengaku telah membaca Alquran dalam terjemahan bahasa Inggris untuk membantunya dalam penulisan novel terbarunya, A Week in December, yang rencananya akan dipublikasikan bulan September mendatang.

Karya terbarunya ini dibuat dengan latar belakang London modern dengan karakter cerita seorang istri anggota parlemen Inggris termuda, seorang supir Tube, seorang manajer keuangan, dan seorang perekrut teroris Islam kelahiran Glasgow bernama Hassan Al Rashid.

Dalam penelitian untuk karakter Al Rashid inilah, Faulks mengaku mulai menyelami Alquran, Kitab suci pegangan umat Islam sebagai firman Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril.

“Benar-benar buku yang menekan. Hanya ocehan dari orang gila. Bersifat hanya satu dimensi, dan orang-orang berbicara mengenai keindahan bahasa Arab, namun terjemahan bahasa Inggris yang saya baca, dari sudut pandang sastra, sangat mengecewakan,” kata Faulks.

Menurutnya, Alquran tidak menawarkan kisah yang menarik dibandingkan dengan Bibel. Alquran hanya memberitahu pembacanya untuk percaya pada Tuhan atau “terbakar selamanya”.

“Pesan-pesannya juga terasa kering. Maksud saya, ada beberapa bagian yang menyinggung soal diet, Anda tahu, mirip dengan Perjanjian Lama (Taurat), yang juga gila. Namun, kehebatan dari Perjanjian lama adalah adanya kisah-kisah yang menakjubkan. Dari 100 kisah yang diceritakan, sekitar 99-nya kemungkinan ada di dalam Perjanjian Lama dan sisanya di dalam Homer,” ujar dia.

“Alquran tidak memiliki kisah-kisah semacam itu. Alquran juga tidak memiliki dimensi etika seperti Perjanjian Baru (Injil), dan tidak ada rencana baru untuk kehidupan.”

Faulks juga mempertanyakan kemuliaan Nabi Muhammad SAW dan membandingkannya dengan Yesus.

“Yesus, tidak seperti Muhammad, memiliki hal-hal menarik untuk dikatakan. Ia menyodorkan sebuah metode revolusioner dalam melihat dunia: cintai tetanggamu, cintai musuhmu, bersikap baik pada orang lain, orang yang sabar akan mewarisi bumi. Muhammad tidak memiliki hal lain untuk dikatakan pada dunia, kecuali, “Jika engkau tidak percaya pada Tuhan, engkau akan terbakar selamanya,” kata dia.

Sementara itu, Ajmal Masroor, seorang imam dan juru bicara Masyarakat Islam untuk Inggris, menyatakan dia tidak menganggap deskripsi Faulks tentang Alquran.

“Saya dapat menyusun daftar ribuan cendekiawan, politikus, dan akademisi yang tidak mengatakan apa pun selain pujian terhadap Alquran, dan saya berbicara mengenai mereka yang non-Muslim. Thomas Jefferson, Abraham Lincoln, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, dan Bill Clinton adalah beberapa di antaranya” ujar dia.

“Menurut saya, komentarnya itu menggelikan, bukan menyerang. Terdengar seperti celotehan orang yang sedikit benci dan tidak obyektif. Saya berharap dapat mendiskusikan Alquran dengannya,” imbuh Masroor.

Masroor juga menambahkan bahwa pernyataan Faulks itu berisiko memicu kebencian agama atas umat Islam.

“Serangan terhadap Islam bukan hal yang baru, namun bahayanya hal ini akan menimbulkan efek yang ‘menetes’. Orang-orang sepertinya tidak memahami konsekuensi dari mengucapkan hal-hal seperti ini bisa sangat buruk. Sejarah memberitahu kita bahwa ejekan bisa memicu kebencian.”

Dalam kesempatan terpisaha, Inayat Bunglawala dari Dewan Muslim Inggris mengomentari sudut pandang Faulks mengenai Alquran sebagai penilian yang cenderung “tertutup”.

“Nabi Muhammad seringkali direndahkan oleh banyak orang, baik di zaman beliau maupun setelah beliau yang menyebutnya sebagai ‘orang gila’ atau ‘kesurupan roh jahat’ sebagai sebuah upaya untuk menyingkirkan pesan-pesannya yang indah,” tambah dia.

“Sebastian Faulks mungkin perlu menarik pelajaran bahwa mereka yang melecehkan Nabi saat ini semuanya telah lama dilupakan, sedangkan Nabi masih diingat dengan rasa cinta dan kekaguman”. tlg/taq

 

Sebastian Faulks: Koran has ‘no ethics’

  

THE bestselling author Sebastian Faulks has courted controversy by saying the Koran has “no ethical dimension”.

In an interview with today’s Sunday Times Magazine, he added that the Islamic holy scripture was “a depressing book”, was “very one-dimensional” and unlike the Christian New Testament had “no new plan for life”.

Faulks was speaking in advance of the publication of his novel, A Week in December.

Best known for historical works such as Birdsong and Charlotte Gray, his new novel addresses contemporary London . Its characters include a health fund manager, a literary critic and a Glasgow-born Islamic terrorist recruit. Researching the latter, he read a translation of the Koran which he found “very disappointing from a literary point of view”.

He also criticised the “barrenness” of the Koran’s message and the teachings of the prophet Muhammad, especially when compared with the Bible.

“Jesus, unlike Muhammad, had interesting things to say,” Faulks said.

“He proposed a revolutionary way of looking at the world: love your neighbour; love your enemy; the meek shall inherit the earth. Muhammad had nothing to say to the world other than, ‘If you don’t believe in God you will burn for ever’.”

Criticism of the Koran is regarded as blasphemous by Muslims.

 

http://www.timesonl ine.co.uk/ tol/comment/ faith/article680 6488.ece

Kursus Pranikah Upaya Mengurangi Angka Perceraian


Kursus Pranikah Upaya Mengurangi Angka Perceraian

Jakarta,15/8(Pinmas)–Guna mengurangi angka perceraian yang terus meningkat, perlu upaya pembekalan bagi calon pengantin melalui kursus pranikah. Pasalnya satu akar penyebab perceraian yang terbesar adalah rendahnya pengetahuan dan kemampuan suami istri mengelola dan mengatasi pelbagai permasalahan rumah tangga.

Demikian dikemukakan Dirjen Bimas Islam Prof Dr Nasaruddin Umar pada pembukaan pemilihan Keluarga Sakinah dan pemilihan Kepala KUA Teladan di Jakarta, Kamis malam (14/8). “Hampir 80 % dari jumlah kasus perceraian terjadi pada perkawinan dibawah usia 5 tahun,” ujarnya.

Menurut Nasaruddin, ketidakmatangan (immaturity) pasangan suami-istri menghadapi kenyataan hidup yang sesungguhnya, mengakibatkan mereka kerap menemui kesulitan dalam melakukan penyesuaian ataspelbagai permasalahan di usia perkawinannya yang masih “balita”.

Ia juga menjelaskan, angka perselisihan cenderung meningkat. Data yang diperoleh hingga tahun 2005, dari 2 juta rata-rata peristiwa perkawinan setiap tahunnya, 45 berselisih dan 12-15 bercerai. Peningkatan angka perceraian ini dapat berpotensi menjadi sumber permasalahan sosial.

“Korban yang paling merasakan dampaknya adalah anak-anak yang seharusnya memperoleh pengayoman dari perkawinan tersebut,” kata Nasaruddin.

Meski demikian, kata Dirjen, masih terdapat insane-insan yang demikian besar dedikasi, perhatian dan kepeduliannya kepada pembinaan institusi perkawinan dan keluarga. Mereka ini selama bertahun-tahun membaktikan hidupnya demi cita-cita mewujudkan ketahanan keluarga dalam masyarakat, sebagai pondasi penting dalam tatanan kehidupan berbangka dan bernegara.

“Kita tidak dapat membayangkan bagaimana bangsa ini kelak jika tidak lagi memiliki para Bapak dan Ibu yang setia berperan dalam penasehatan,pembinaan dan pelestarian perkawinan ini,” ujarnya.

Direktur Urusan Agama Islam Muchtar Ilyas mengatakan, tujuan kegiatan pemilihan adalah dalam rangka memotivasi keluarga muslim Indonesia agar berperan aktif dalam pembangunan keluarga, masyarakat, bangsa dan agama. Selain itu terpilihnya kepala KUA teladan di tanah air.

Adapun dewan juri pemilihan kegiatan yang berlangsung hingga 17 Agustus mendatang, yaitu Prof Dr Ahmad Mubarok, Prof Dr Arief Rachman, Prof DR Chuzaemah T. Yanggo, Prof Dr, Zaitunah Subhan, Dr Nurhayati Djamas, Drs Kadi Sastrowiryono, Drs, Ahmed Machfud, M.Mc dan Dra Zubaidah Muchtar. (ks)

Sumber: www.depag.go.id

APAKAH TRITUNGGAL MASUK AKAL (DAN APAKAH ITU PENTING)?


Doktrin Trinitas – doktrin bahwa satu Tuhan adalah tiga pribadi berbeda namun sama-sama ilahi – berdiri di tengah pengakuan Kristen. Memang, doktrin ini telah lama diakui sebagai batu fondasi ortodoksi Kristen, dan idealnya juga detak jantung kesalehan Kristen. Tapi meskipun demikian, hal ini juga mewakili apa yang tampak sebagai sebuah misteri terbaik, dan sebuah kontradiksi langsung pada yang terburuk. Dan ini membawa kita kepada sebuah dilema yang harus menangkap perhatian setiap orang Kristen yang serius.

 

Jadi apa sebenarnya masalahnya? Jawabannya sederhana, langsung, bahkan jelas: satu tidak sama dengan tiga. Tentunya kita semua dapat sepakat tentang hal itu. Akan tetapi, orang Kristen di seluruh dunia tampaknya senantiasa membaurkan kebijaksanaan dasar ini. Masalahnya ditangkap dalam baris-baris dari kredo Athanasia (500 Masehi):

 

(3) Dan iman katolik adalah ini: Bahwa kita menyembah satu Allah dalam Tritunggal, dan Tritunggal dalam Kesatuan;

 

(15) Jadi Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah

 

(16) Namun mereka bukan tiga Allah, tetapi satu Allah.

 

Pengakuan yang sangat saleh. Satu-satunya masalah adalah semua tampaknya tidak masuk akal. Pertimbangkan suatu analogi. Jika sebuah Gremlin (merek mobil) adalah milik saya, dan sebuah Pacer adalah milik saya dan sebuah AMX milik saya, maka saya punya tiga mobil, bukan satu. Ketika berkaitan dengan doktrin tentang Tuhan kita mengakui bahwa Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah dan Roh adalah Allah. Jadi tentunya harus mengikuti logika yang sama: harus ada tiga tuhan, bukan satu.

 

Namun hanya ada satu, dan mereka berbeda, dan … ini tidak masuk akal. Bagaimana bisa satu sama dengan tiga?

 

Sementara kontradiksi yang nyata itu mungkin mengganggu, di sini adalah bagian yang benar-benar mengecewakan: sementara banyak orang Kristen memiliki pengertian yang samar-samar bahwa doktrin Tritunggal menyembunyikan sebuah kontradiksi, mereka tidak benar-benar peduli. Untuk membuat keadaan menjadi lebih buruk, mereka sering menyelimuti kurangnya perhatian mereka dalam selubung tipis kesalehan dengan mengklaim bahwa cara Tuhan lebih tinggi daripada cara kita, seolah-olah itulah akhir percakapan.

 

Namun, saya rasa itu tidak harus berakhir. Tentu saya setuju bahwa kita tidak akan pernah mengerti segala sesuatu tentang Tuhan, tetapi di sini kita tidak berbicara tentang segala hal. Sebaliknya, kita sedang berbicara tentang mencari koherensi bagi pengakuan paling mendasar kita tentang siapa Tuhan itu. Itu sama sekali bukan bodoh, upaya congkak untuk mengetahui pikiran Tuhan melalui akal murni.

 

Pikirkan hal ini dalam hal aturan emas. Jika seorang Muslim, atau seorang Hindu, atau seorang ateis mengusulkan sesuatu yang tampaknya bertentangan secara langsung dengan keyakinan anda, anda tidak akan mengangguk dalam kesalehan mistis dan merangkul misteri yang tidak terpahami. Sebaliknya, Anda akan menuntut suatu pembelaan, penjelasan. Jadi mengapa Muslim, Hindu, atau atheis mengharapkan sesuatu yang kurang dari kita?

 

Sama pentingnya dengan masalah makna dan dasar apologetika, ada isu lain yang juga dipertaruhkan di sini, dan ini merupakan isu kesalehan. Jika pengakuan tampaknya bertentangan secara langsung, maka tidak mungkin benar seperti disebutkan. Jadi mencari penjelasan tentang bagaimana Tuhan adalah satu sama dengan tiga tidak sesederhana pencarian untuk menjelaskan teka-teki matematika atau keheningan yang skeptis. Yang paling penting, ini adalah upaya untuk lebih mengenal Tuhan. Dan saya berpikir bahwa ini adalah sebuah pencarian yang cukup bernilai untuk waktu dan usaha yang kita berikan.

________________________________________________________________________________

 

 

Randal Rauser adalah profesor sejarah teologi di Seminari Taylor, Edmonton, Kanada dan diberikan penghargaan pendidikan tahunan Taylor untuk “Jasa yang Luar Biasa kepada Mahasiswa” pada tahun 2005.

Sumber: http://www.christian post. co.id/education/theology/20090826/4937/Apakah-Tritunggal-Masuk-Akal-(dan-apakah-itu-penting)-/index.html

USKUP MINTA UMAT KATOLIK HORMATI PUASA


Menjelang pelaksanaan ibadah puasa bagi umat Muslim yang dimulai pekan ini, Uskup Diosis Amboina, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC., mengimbau umat Katolik untuk menghormati pelaksanaan puasa.

 

“Saya selaku pimpinan umat Katolik dan tokoh agama Kristen, mengajak seluruh umat untuk sama-sama mendukung pelaksanaan ibadah puasa yang akan dijalani umat Islam di daerah ini,” kata Uskup Mandagi di Ambon, seperti diberitakan Antara, Senin (17/8).

 

Uskup mewakili umat Kristiani juga mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi umat Islam sekaligus mendoakan agar bulan Ramadhan ini dapat membawa berkah bagi kesejahteraan hidup masyarakat di Maluku khususnya dan Indonesia pada umumnya.

 

Dia juga mengharapkan hubungan yang harmonis antarumat beragama di Maluku sebagai warisan leluhur dapat tetap dilestarikan dan dikembangkan.

 

“Karena itu, umat Kristiani jangan bersikap tidak peduli, tetapi lihatlah umat muslim sebagai saudara kita yang sementara menunaikan ibadah puasa, sekaligus meminta dalam doa mereka juga menyertakan keberadaan umat Kristiani agar selalu diliputi kedamaian dan hidup berdampingan,” tegas Uskup Mandagi.

 

Lebih lanjut dikatakannya, sebelum konflik sosial 1999, Maluku merupakan daerah teladan bagi hubungan harmonis antarumat beragama yang mampu menarik perhatian ilmuan serta wisatawan mancanegara. Hal ini perlu digalakkan kembali guna menunjang sektor pariwisata di Maluku.

 

Pada setiap awal puasa Ramadhan, di daerah tersebut terdapat tradisi mengantarkan bahan makanan untuk kebutuhan awal ibadah Puasa yang dikenal dengan pela-gandong.

 

Menurutnya, umat Kristiani dan Islam perlu mewujudkan tradisi pela-gandong dalam penerapan kehidupan antarumat beragama di Maluku sebagai aset bangsa di bidang agama.

 

Ada banyak cara untuk mengungkapkan rasa cinta kasih kepada umat beragama lain seperti Islam misalnya, yakni dengan menjaga suasana damai dan saling menghargai, khususnya dalam pelaksanaan ibadah puasa umat Islam.

 

Meskipun ibadah puasa ini dijalankan oleh saudara-saudara yang beragama Islam, namun pesan perdamaian ini bukan saja untuk mereka tapi juga berlaku bagi semua ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, tanpa membedakan agama mana pun.

Sumbr: http://www.christian post. co.id/church/church/20090820/4918/Uskup-Minta-Umat-Katolik-Hormati-Puasa/index.html