Dia Ternyata Sakit Jiwa


Jakartapress.com – Sebuah akun di Facebook atas nama Rudy Yohanes Hutagalung telah membuat marah facebookers. Kini jati dirinya terungkap. Temannya yang berinisial AS mengungkapkan, bahwa  Rudy adalah seorang psiko; Sering senyum, bicara dan tertawa sendiri di kamarnya.

Dalam sebuah blog “AS”, saat berteman dan pernah nginap di rumah Rudy, dia terkejut melihat tingkah aneh rudy, yang terkekeh tanpa ada sesuatu yang perlu ditertawakan. Wajahnya dingin dan tatapannya kosong. Memang apa yang dilakukan Rudy itu sudah mengarah pada gangguan jiwa. Seseorang yang tak bisa membendung lagi emosinya. Dia berharap melalui dunia maya namanya bisa cepat populer, tanpa memikirkan dampak buruk dari yang dilakukanya.

Dokter Andri, Ahli kejiwaan menyatakan gejala demikian adalah seseorang yang mengidap saki jiwa ‘psikosis’. Seseorang yang berhalusinasi, dan menganggap itu realita, padahal tidak. 

Tanda lainnya yakni pembicaraan dan tingkah laku yang kacau, dan gangguan daya nilai realitas yang berat.

Kemudian tanpa disadari dan secara otomatis, mereka yang terlibat dalam aksinya itu, baik berupa komentar setuju maupun yang menghujat, sebenarnya sudah tertular ‘penyakit’ Rudy.

Dr Hanz Zimmerl, seorang terapis dari Austria yang terlibat dalam kajian tersebut berani menyimpulkan bahwa 40 persen dari 200 juta pengguna internet di seluruh dunia, sudah tidak lagi bisa mengendalikan diri, dan sudah terkena sindroma menakutkan.

Para ahli psikologi dan psikiater berpendapat bahwa ini adalah sebuah penyakit kejiwaan pertama yang bisa dengan cepat “menular”, dan kemudian mewabah dengan sangat cepat pula.

Secara medis, orang yang selalu menganggap dirinya paling benar atau selalu salah, mudah marah, menganggap semua orang adalah musuh dan egosentris merupakan ciri-ciri ganguan jiwa.

Kemungkinan Rudy mengidap gangguan jiwa dibenarkan seorang facebooker yang mengaku kenal dekat. Pria yang memakai akun berinisial AS ini mengaku pernah melihat Rudy bicara sendiri dan beberapa kali ke psikiater.   

Uniknya, meski kontroversi, sampai berita ini dibuat akun itu di-add lebih18.000 facebooker. Setiap statusnya selalu dibalas ratusan hingga ribuan komentar berupa hujatan.

Menyikap itu. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak kepolisian mengusut dan menangkap Rudy yang dinilai melakukan penistaan terhadap agama Islam.

“Ini merupakan pelanggaran cyber crime dan pelaku sudah seharusnya ditangkap dan segera diadili,” kata Ketua MUI Pusat, Amidhan.

Sikap MUI ini mewakili aspirasi umat Islam Indonesia yang tersinggung dan emosi membaca status akun tersebut.

“Jutaan umat Islam menjadi korban dalam kejahatan ini, sehingga wajar jika menimbulkan kemarahan. Oleh sebab itu kita mendesak polisi segera mengusut tuntas kejahatan yang dilakukan suadara Rudy, sebelum menimbulkan aksi massa,” jelas Amidhan

MUI juga berharap umat Islam tidak terprovokasi oleh aksi Rudy, sebab menurut Amidhan, apa yang dilakukan Rudy merupakan perbuatan ekstrim sebagaimana dilakukan teroris Norwegia, Anders Breivik yang tidak mewakili umat Kristen.

“Tujuannya, untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa karena pesan yang dituliskan dapat menyebabkan kebencian antara umat beragama,” terang Amidhan.

Apa yang dilakukan Rudy juga melahirkan reaksi Front Pembela Islam (FPI). Ormas Islam ini  juga berharap Rudy segera ditangkap.

“Itu sudah pelecehan terhadap agama, polisi harus segera menindak dan dihukum seberatnya dari pada umat Islam nanti yang menghukum,” ujar Wakil Ketua FPI Salim Alatas.

Setelah mendapat reaksi keras dari para facebooker, MUI dan FPI, tampaknya  pengelola akun tersebut mulai melunak. Dalam akun facebooknya, Rudy menulis dirinya tidak akan lagi berdebat soal Islam dan Kristen setelah menikah pada 11 November 2011.
Dalam akunnya Rudy menulis, “Dan kepada semua Islam, kalian bisa membenciku dalam dunia maya ini, tapi di dunia nyata aku adalah orang yang baik. jadi aku mohon doakan ya bulan 11/11/11 ini aku bisa menikah, dan mgkn aku tidak akan debat lagi, tapi aku akan menginjil dalam dunia nyata dan internet ini, kalian bebas dah dari aku”.

Jangan Terprovokasi

Pimpinan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Benny Susetyo menyayangkan cara dakwah yang ditempuh Rudy Yohanes Hutagalung dalam menyebarkan ajaran Kristen.

“Facebook itu diciptakan untuk menjalin kebersamaan dan persaudaraan, bukan untuk menghina agama lain, bukan begitu acara menebar cinta kasih,” ujarnya Benny.

Benny menjelaskan, ajaran Kristus harus didakwahkan dengan cara yang santun dengan tidak menjelek-jelekkan agama lain. Terlebih lagi sampai menyulut emosi umat agama lain.

“Itu jelas cara yang salah dalam ajaran Kekristenan, apalagi ajaran Kekristenan di Indonesia menjunjung tinggi kebhinekaan dan kebangsaan,” terangnya.

KWI juga meminta operator Facebook Indonesia segera memblokir akun Facebook Rudy Yohanes Hutagalung tersebut. Jika tetap dibiarkan, pihak gereja khawatir isi akun Facebook Rudy Hutagalung yang provokatif akan membenturkan umat Islam denga umat Kristen di Indonesia.

“Kami berharap akunnya diblok secara resmi oleh Facebook, karena isinya mengandung SARA dan mengadu domba umat beragama di Indonesia,” ujar Benny. Benny juga meminta kepada umat Islam tidak terpancing dan terprovokasi oleh isi akun Rudy tersebut. Sebab, umat Kristiani secara umum menolak apa yang dilakukan Rudy tersebut. “Orang seperti Rudy ini golongan minoritas dalam Kekristenan di Indonesia, sangat tidak mewakili Kekristenan secara umum,” terangnya.[Jakartapress.com]

FPI: Tak Masalah Ansor Menentang Sweeping “?”


Front Pembela Islam (FPI) tak peduli dengan sikap Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) yang menentang sweeping mereka ke SCTV atas rencana penayangan film ‘?’. FPI tetap nekat berangkat ke Stasiun SCTV, Sabtu 27 Agustus 2011.

“Tidak masalah ditentang. Ini kami sudah mau berangkat ke SCTV,” kata Ketua DPD FPI Jakarta, Habib Salim Selon Al-Attas kepada VIVAnews.com.

Sebelumnya, Salim mengatakan dasar penolakan FPI terhadap film karya Hanung Bramantyo itu, disebabkan adanya fatwa haram oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) terhadap film tersebut. “Jelas-jelas sudah diharamkan, tapi masih saja diputar. Ini film merusak moral dan akidah umat Islam,” jelas dia.

Ia menegaskan jika pihak SCTV tetap menayangkan film itu, FPI akan melakukan tindak tegas.

“Bukan FPI saja, tapi seluruh umat Islam akan ikut marah dan mengambil tindakan tegas bagi siapapun yang mendukung film ini,” kata dia..

Dirinya menambahkan, FPI tidak akan melakukan sweeping ataupun tindak lainnya, jika tidak ada hal-hal yang merusak moral dan akidah Islam. “Kami pasti diam, kalau tidak ada yang merusak moral dan akidah umat Islam,” katanya.

GP Ansor Pasang Badan

Tindakan FPI ini ditentang oleh GP Ansor. Mereka menilai sweeping itu telah melampaui batas kewenangan sebuah ormas.

“Jika gerakan-gerakan semacam ini dibiarkan, akan memicu munculnya konflik horisontal antar kekuatan-kekuatan sipil dan dalam jangka panjang akan menimbulkan deligitimasi hukum dan ketidakpatuhan masyarakat terhadap hukum secara sengaja,” kata Ketua GP Ansor, Nusron Wahid dalam keterangan tertulis yang diterima VIVAnews.com, Sabtu 27 Agustus 2011.

Nusron mengatakan, FPI boleh saja tidak sependapat dengan substansi film ‘?’ itu. Hak tidak sependapat itu dijamin konstitusi. Namun, kata dia, hak orang-orang yang sependapat juga dijamin oleh konstitusi. Jika terjadi perbedaan, maka sebaiknya diselesaikan melalui institusi negara yang memiliki kewenangan. “Siapapun berhak untuk berpendapat, siapapun berhak untuk memberikan kritik, siapapun berhak untuk menolak, namun siapapun juga wajib menghormati adanya perbedaan pendapat,” kata dia.

Dia menambahkan, jika ada pihak-pihak yang memaksa sweeping untuk menghentikan rencana penayangan Film ‘?’, GP Ansor melalui Barisan Ansor Serbaguna siap pasang badan mencegah aksi itu. “Gerakan Pemuda Ansor melalui Barisan Ansor Serbaguna (BANSER) akan berada di barisan paling depan untuk mencegah pemaksaan kehendak itu terjadi,” kata dia.

“Semata-mata untuk menjaga harmoni hubungan antar kelompok masyarakat yang berbeda-beda demi menjaga tetap tegaknya NKRI.

”Film ‘?’ bercerita tentang pluralisme kehidupan. Inti ceritanya mengangkat umat dari beberapa agama dan keyakinan bisa hidup berdampingan. Dalam konteks ini, kata Nusron, film tidak seharusnya dilihat dari satu perspektif saja. “Film harus dilihat dari perspektif film sebagai kritik terhadap realitas sosial kemasyarakatan, dan sekaligus film dilihat dari perspektif sebagai tawaran tatanan idealitas yang dicita-citakan pembuat film,” kata dia.

Ratusan laskar Front Pembela Islam (FPI) berencana mendatangi kantor stasiun TV Nasional SCTV di Senayan City Jalan Asia Afrika, Jakarta Pusat, guna menuntut dibatalkannya rencana penanyangan film berjudul “?” (baca: Tanda Tanya).

“Rencananya Sabtu 27 Agustus 2011, kami akan mendatangi kantor SCTV untuk mendesak dibatalkannya penyangan film berjudul Tanda Tanya,” kata Ketua DPP Front Pembela Islam DKI Jakarta, Habib Salim Alatas saat berbincang dengan VIVAnews.com, Kamis malam 25 Agustus 2011.

Menurutnya dasar penolakan FPI terhadap film karya Hanung Bramantyo itu, disebabkan adanya fatwa haram oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) terhadap film tersebut. “Jelas-jelas sudah diharamkan, tapi masih saja diputar. Ini film merusak moral dan akidah umat Islam,” jelas dia.

Ia menegaskan jika pihak SCTV tetap menayangkan film itu, FPI akan melakukan tindak tegas.

“Bukan FPI saja, tapi seluruh umat Islam akan ikut marah dan mengambil tindakan tegas bagi siapapun yang mendukung film ini,” ancamnya.

Dirinya menambahkan, FPI tidak akan melakukan swepping ataupun tindak lainnya, jika tidak ada hal-hal yang merusak moral dan akidah Islam. Rencananya 1.500 anggota FPI dan ormas Islam di DKI Jakarta akan ikut dalam aksi tersebut.  (eh)
(Vivanews.com)

Ketua MUI Haramkan Penghormatan terhadap Bendera


Ketua Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH A. Cholil Ridwan mengharamkan umat Islam untuk memberi hormat kapada bendera dan lagu kebangsaan.

Pernyataan Cholil ini dimuat dalam Tabloid Suara Islam edisi 109 (tanggal 18 Maret-1 April 2011). Ia menjawab pertanyaan pembaca dalam Rubrik Konsultasi Ulama. Si pembaca mengangkat kasus seorang temannya yang dikeluarkan dari sekolah gara-gara tak mau hormat bendera saat upacara.

Cholil menyatakan bahwa dalam Islam, menghormati bendera memang tak diizinkan. Cholil merujuk pada fatwa Saudi Arabia yang bernaung dalam Lembaga Tetap Pengkajian dan Riset Fatwa pada Desember 2003 yang mengharamkan bagi seorang Muslim berdiri untuk memberi hormat kepada bendera dan lagu kebangsaan.
Ada sejumlah argumen yang dikemukakan.

Pertama, memberi hormat kepada bendera termasuk perbuatan bid’ah yang tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah ataupun pada Khulafa’ ar-Rasyidun (masa kepemimpinan empat sahabat Nabi).

Kedua, menghormati bendera bertentangan dengan tauhid yang wajib sempurna dan keikhlasan di dalam mengagungkan Allah semata.

Ketiga, menghormati bendera merupakan sarana menuju kesyirikan.
Keempat, menghormati bendera merupakan kegiatan yang mengikuti tradisi yang jelek dari orang kafir, serta menyamai mereka dalam sikap berlebihan terhadap para pemimpin dan protokoler-protokoler resmi.
Cholil juga mengutip Syaikh Ibnu Jibrin (salah seorang ulama terkemuka Saudi) yang menyatakan bahwa penghormatan bendera adalah tindakan yang menganggungkan benda mati. Bahkan tindakan itu bisa dikategorikan sebagai kemusyrikan.

Sedangkan Syaikh al Fauzan (juga ulama Saudi) menyatakan bahwa tindakan menghormati bendera adalah ‘perbuatan maksiat’.

Menurut Cholil, cara menghormati yang benar dalam Islam adalah memberi salam. Namun, tulisnya lagi, makna memberi salam adalah mendoakan, sehingga itu tak pantas dilakukan pada bendera yang merupakan benda mati.
Di akhir tulisan, Cholil menyatakan bahwa bila kita hendak menghormati negara, maka cara terbaiknya adalah dengan mendengar dan taat pada aturan negara yang tidak bernilai maksiat dan sesuai syariat Islam serta mendoakan aparatur negara agar selalu mendapat bimbingan Allah.

Pernyataan Cholil ini kembali menunjukkan satu persoalan besar Islam di Indonesia. Cholil adalah seorang tokoh terpandang yang pendapat-pendapatnya diyakini banyak pihak. Posisinya sebagai Ketua MUI tentu juga memungkinkan ia mempengaruhi perilaku umat Islam.

Masalahnya, ia begitu saja merujuk pada para ulama Saudi yang dalam khazanah intelektual Islam justru dianggap terbelakang. Gaya pemahaman keislaman di negara itu selama ini dikenal sangat kaku, literal, mengabaikan perjalanan panjang tradisi pengkajian keagamaan dunia Islam, serta anti-dialog dan diskusi. Sampai sekarang, misalnya, kaum perempuan di negara itu masih diharamkan untuk mengendarai mobil akibat adanya fatwa ulama.
Argumen-argumen yang dikeluarkan sangat bisa diperdebatkan. Misalnya, bahwa dengan menghormati bendera, seorang muslim dianggap akan terkikis keimanannya nampak absurd di kalangan yang mau menggunakan akal. Cholil sendiri begitu saja menerima fatwa tersebut, tanpa ada hasrat untuk membicarakannya atau mengkajinya secara kritis.

Bila begini kualitas pernyataan Ketua MUI, tentu bisa dibayangkan kualitas umat seperti apa yang akan berkembang.http://madina-online.net/index.php/wacana/pluralisme/901-pluralisme/342-ketua-mui-haramkan-penghormatan-terhadap-bendera

(sumber: milis APIK)

Ada 5 Maklumat FPI Selama Natal 2010


FPI semakin mengalahkan peran negara, cq. polisi. Ada lima maklumat yang semakin memicu kecurigaan dan keretakan hubungan antar umat beragama. Mereka akan menindak perayaan natal yang bukan di rumah ibadah.
_________

FPI Pertimbangkan Amankan Gereja

Surabaya (ANTARA News) – Front Pembela Islam (FPI) masih mempertimbangkan permintaan Polri untuk turut membantu mengamankan gereja pada saat misa Natal.

“Kami masih mempertimbangkan permintaan Polri karena jangan sampai kami mengamankan gereja malah menimbulkan fitnah,” kata Ketua Umum DPP FPI Habib Rizieq bin Husein Syihab di Surabaya, Kamis.

Terkait peringatan Natal, FPI sudah mengambil sikap dengan mengeluarkan lima maklumat, yakni menaati fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang perayaan Natal bersama.

Kemudian meminta umat Kristiani untuk tidak mengajak umat Islam menghadiri perayaan Natal, menjaga keamanan umat Kristiani yang merayakan Natal, meminta umat Kristiani tidak mengganggu umat Islam saat sedang merayakan Natal, dan mematuhi asas pluralitas.

“Ingat, yang kami anut adalah pluralitas, bukan pluralisme. Kami menghargai dan menghormati umat agama lain menjalankan ibadah, tapi jangan paksa kami untuk membenarkan ajaran agama lain,” ucap Rizieq, menegaskan.

Pihaknya pun siap membantu aparat TNI/Polri dalam mengamankan perayaan Natal dan Tahun Baru 2011.

Rizieq menegaskan bahwa selama ini, FPI tidak pernah merusak gereja dan tidak pernah mengganggu pemeluk agama lainnya beribadat.

“Kami bertindak tegas, kalau ada permukiman yang disalahfungsikan sebagai gereja atau tempat ibadat lainnya karena itu melanggar Surat Keputusan Bersama Menteri,” katanya.Kedatangan Rizieq ke Surabaya untuk melantik para pengurus DPD FPI Jatim dan 13 DPW FPI kabupaten/kota.

Kepada para pengikutnya, dia menyatakan bahwa FPI adalah organisasi kemasyarakatan yang patuh terhadap Pancasila dan UUD 1945, menghargai kebhinnekaan, dan menjaga keutuhan NKRI.

“Semua itu akan kami patuhi selama tidak melanggar ajaran dalam Alquran dan Hadis,” tuturnya. (*) (antaranews.com)

MUI: Simbol-Simbol Natal supaya tidak Melukai Perasaan Umat Islam


PHRI Soal Imbauan Natal MUI: Kami Justru Menghormati

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Peringatan Majelis Ulama Indonesia soal simbol-simbol natal yang dinilai berlebihan di pusat perbelanjaan maupun di hotel terus mendapat reaksi. Perhimpunan Hotel dan Restoran Seluruh Indonesia mengatakan, mereka sama sekali tidak bermaksud membedakan tamu hotel dari suku, asal-usul, apalagi agama.

“PHRI tidak membedakan tamu-tamunya dari bangsa, suku, asal-usul, dan agama,” kata Ketua PHRI, Yanti Soekamdani, pada Republika, Rabu (22/12). Menurut dia, pernak-pernik dan simbol natal di hotel dan restoran tidak untuk menyinggung umat agama lain. Melainkan untuk menghormati umat agama yang merayakannya.

“Jadi kalau kita merayakan event-event, termasuk keagamaan, itu karena kita menghormati mereka yang merayakan,” katanya lagi. Seperti diketahui, MUI mengingatkan pusat perbelanjaan dan hotel-hotel agar tidak berlebihan memajang simbol-simbol natal. ”Berdasarkan laporan dari masyarakat dan pengamatan langsung di lapangan bahwa dalam rangka perayanan Hari Raya Natal bagi kaum Nasrani  di beberapa mal, hotel, tempat rekreasi, dan tempat-tempat bisnis lainnya, telah menampilkan simbol-simbol Natal secara berlebihan,” kata Ketua MUI, KH Muhyiddin Junaidi, Selasa (21/12).’

‘Demi menjaga perasaan umat Islam dan umat lainnya, serta kerukunan antarumat beragama, maka MUI mengingatkan kepada para pengelola mal, hotel, tempat rekreasi, dan tempat-tempat bisnis lainnya agar arif dan peka menjaga perasaan umat beragama,” tambahnya.

MUI juga mengingatkan kepada pengelola mal, hotel, tempat rekreasi, dan tempat-tempat bisnis lainnya agar tidak memaksa karyawannya yang beragama Islam untuk memakai simbol-simbol dan ritual Natal.
(Republika.com)

FPI: Give Islam a Bad Name


FPI: Give Islam a Bad Name
—Anwar Holid

Aku jijik pada FPI (Front Pembela Islam) tapi kesulitan mencari alasan tegas kenapa aku harus punya perasaan seperti itu pada mereka. Ini seperti kalau kamu punya saudara bandel, ngejago, suka nakut-nakutin orang lain, suka malak, main kekerasan, intoleran, bahkan mungkin bertindak kriminal (karena suka main hakim sendiri, merusakkan milik orang lain secara semena-mena), tapi kamu malas menyerahkannya kepada pihak berwajib persis karena kamu ada ikatan darah dengan dia. Menurut sebuah dalil, orang seiman itu bersaudara. Meski aku bingung konteksnya apa, perasaan ini membuat kita dilematik dan menambah jengkel.

Jangankan kaum non-Muslim, banyak sesama Muslim yang jengah pada FPI. JIL (Jaringan Islam Liberal) juga KoranTempo pernah usul agar otoritas hukum Indonesia membubarkan FPI. Aku sendiri di Facebook pernah ikut grup ‘BUBARKAN FPI!’ yang anggotanya puluhan ribu orang, tapi sayang mereka inefektif, sampai akhirnya aku ke luar dari sana karena rasanya itu grup yang omdo. Aku setuju dengan Saut Situmorang yang bilang bahwa FPI itu kependekan dari Fasis Pura-pura Islam. Aku menilai bukan seperti itu jalan Islam yang patut aku tempuh. Aku memohon agar MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengharamkan FPI, meski sejak lama aku menganggap MUI juga kerap mengharamkan sesuatu yang konyol.

Perlukah Islam dibela oleh organisasi seperti FPI? Menurutku tidak. Tindakan mereka menurutku malah bikin malu agama Islam, karena justru memperlihatkan sekelompok umat Islam yang intoleran terhadap kaum lain persis di tanah terbuka bernama Indonesia, apalagi dari dulu tempat itu sudah lama terkenal sebagai tempat pertemuan yang cukup damai. Terlebih-lebih mayoritas penduduk di tempat ini beragama Islam. Bagaimana mungkin Islam bisa menjadi rahmat bagi tempat ini bila ada eksponen Islam yang suka berbuat onar terhadap perbedaan-perbedaan di dunia ini? Belum juga jadi penguasa, FPI sudah memperlihatkan mental sok kuasa dan otoriter. Terbayang betapa mengerikan bila organisasi seperti ini membesar dan benar-benar berkuasa atau berhasil menakut-nakuti semua lawan yang berseberangan pendapat maupun sikap dengan mereka. FPI betul-betul gagal memperlihatkan sifat yang wajib didahulukan oleh Islam, yaitu menjadi agama yang memberi rahmat bagi SELURUH alam.
Jangankan seluruh alam, untuk tempat secuil bernama Indonesia saja mereka sulit menghormati hukum yang berlaku ataupun iman orang lain. Jangankan pada agama-agama yang mungkin tidak serumpun, pada agama yang memiliki akar sama pada Ibrahim saja mereka sulit bekerja sama. Dari moral ini kita bisa menduga betapa pemahaman sebagian umat Islam pada agama serumpun itu rendah sekali. Sebagai umat Muslim, FPI gagal menunjukkan kasih pada orang lain. Bagi seorang muslim, ini kehilangan mengerikan. Aku pikir FPI buta mata hatinya bahwa dalam Al-Quran surat Al-Anbiya 107 memerintahkan agar seorang Muslim harus mewujudkan kasih sayang kepada seluruh alam, termasuk kepada non-Muslim. Bagaimana mungkin FPI bakal mampu memaafkan dan berdamai dengan umat beragama lain?

Bagaimana mungkin FPI bakal bisa meneladani tokoh Islam yang memberi kesempatan pada lawan untuk menjalankan ibadah sesuai imannya bila mereka merasa bahwa orang non-Muslim harus mendapat izin untuk beribadah maupun mendirikan rumah ibadah? Ini konyol. Memangnya ini tanah ini tanah mereka? Bukankah ini tanah Tuhan? Tidakkah FPI tahu bahwa tempat seperti Ka’bah saja dahulu kala diziarahi orang beragama secara bebas, bahkan oleh orang musyrik sekalipun. Pernahkah dahulu di zaman Muhammad hidup orang non-Muslim minta izin kepada dia untuk mendirikan rumah ibadah atau waktu mau melakukan ibadah? Rasanya tidak pernah. Rasanya beragama itu harus bebas-bebas saja. Jangankan menyerang, umat Islam itu bahkan dilarang menghina umat beragama lain—begitulah yang tertulis dalam Al-Quran surat Al-An’am: 108. FPI jelas sulit bersabar atas perbedaan dan terbukti telah berkali-kali gagal menyeru dan berdiskusi dengan baik pada pihak lain—padahal itu semua merupakan
sifat utama bagi umat Islam. FPI justru mewarisi sifat mental yang buruk, seperti mudah marah dan tersinggung, juga mau menang sendiri.

FPI adalah contoh organized religion yang miskin spiritualitas. Mereka memakan sendiri spiritualitasnya sampai habis dan tak menyisakannya pada umat manusia lain. Mereka hanya membagikan cara beragama yang kaku. Mereka menutup ruang kebebasan beragama dan intoleran pada agama dan umat beragama lain, padahal kebebasan beragama merupakan isu yang sangat penting dalam Islam.

Sebagai seorang Muslim aku merasa malas dan malu sekali harus mengakui punya saudara bernama FPI. Mereka memperburuk citra Islam sebagai agama yang kini tengah dianggap bermasalah dan disalahanggapi di banyak tempat. Kalau seperti itu, aku jadi lebih suka berteman dengan orang non-Muslim yang terbukti secara moral dan tindakan jauh lebih mulia, suka berbuat baik, bersedia membantu, meskipun mereka tampak sekuler. Aku enggak butuh yel-yel Allah hu akbar untuk menakut-nakuti orang lain atau melempari tempat ibadah umat beragama lain. Aku lebih suka memberi salam untuk menghormati sesama manusia.[]

Anwar Holid bekerja Anwar Holid bekerja sebagai penulis & editor. Salah satu bukunya ialah Seeking Truth Finding Islam (2009).

KWI: Gejala Intoleransi Terjadi


KWI: Gejala Intoleransi Terjadi
KOMPAS.com/Caroline Damanik
Lahan kosong yang biasa digunakan jemaat HKBP Ciketing untuk beribadah dihiasi sejumlah spanduk penolakan, Senin(13/9/2010).
Senin, 13 September 2010 | 18:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sekretaris Eksekutif Komisi HAK KWI Romo Benny Susetyo menegaskan, kasus tindak kekerasan yang menimpa dua pemuka Gereja HKBP Pondok Timur Indah, Mustika Jaya, Kota Bekasi, Minggu (12/9/2010), bukan tindak kriminal biasa seperti yang diutarakan Kepala Polda Metro Jaya Irjen Timur Pradopo.

“Ada persoalan mendasar, yaitu gejala intoleransi yang terjadi di masyarakat,” kata Romo Benny kepada para wartawan, Senin (13/9/2010) di Kementerian Agama, Jakarta.

Pasalnya, tindak kekerasan yang terjadi di Bekasi ini bukanlah yang pertama kali. Persoalan tindak kekerasan terhadap Hasian Sihombing dan Pendeta Luspida Simanjuntak, kedua pemuka Gereja HKBP tersebut, juga bukan persoalan mayoritas-minoritas.

“Mayoritas-minoritas adalah istilah politik. Mayoritas itu digunakan bagi kelompok pemenang pemilu, bukan kelompok umat beragama,” sambung Romo Benny.

Terkait tindak kekerasan ini, kata Romo Benny, KWI mendorong pihak kepolisian untuk segera bertindak tegas.

“Polisi akan lebih memiliki arti saat berani menegakkan hukum. Polisi tidak usah banyak komentar, tapi harus bertindak. Hukum harus ditegakkan. Kalau polisi tidak menghentikan kekerasan maka kekerasan akan menimbulkan lingkaran kekerasan, dan kekerasan tidak menyelesaikan masalah. Lingkaran kekerasan ini harus diputuskan melalui penegakan hukum,” tegas Romo Benny.

Di samping itu, rohaniwan Katolik ini juga meminta semua umat Nasrani yang ada di Indonesia untuk tidak terprovokasi akibat adanya tindak kekerasan ini.

Terlebih, Romo Benny mengatakan, ada isu yang beredar di kalangan umat Nasrani bahwa kedua korban tersebut meninggal dunia. “Tidak ada isu kematian. Keduanya saat ini dalam keadaan stabil. Mari kita tetap menjaga keutuhan republik ini,” katanya.
Hindra Liu

Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2010/09/13/18000644/KWI:.Gejala.Intoleransi.Terjadi