Mendahulukan Orang Miskin


Option for the poor –  Pilihan hidup Gereja yang dipopulerkan oleh para tokoh teologi pembebasan, yang mendesak orang Kristiani agar berupaya secara khusus demi terwujudnya keadilan sosial bagi berjuta-juta orang yang belum memperoleh sandang, pangan, papan, pelayanan kesehatan, pendidikan, pekerjaan dan kebutuhan-kebutuhan dasar lain.

Ini adalah tema yang dikembangkan oleh para uskup Amerika Latin sejak Sidang Umum  Kedua di Medellin pada tahun 1968. Dalam ensiklik Sollicitudo Rei Socialis (1987), Paus Yohanes Paulus II mencanangkan solidaritas dengan mengutamakan cinta bagi kaum miskin, yang hendaknya diwujudkan dalam kegiatan-kegiatan nyata pada tingkat lokal (42; 43; 47).

Keprihatinan khusus bagi yang tertindas, tersingkir, dan tanpa pembela ini diilhami oleh para nabi Perjanjian Lama (mis. Yes 1:10-20)  dan oleh ajaran dan praktek hidup Yesus sendiri (Luk 6:20;  16:19-31; 17:11-19). Baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian baru, Allah dinyatakan sebagai Allah yang lebih mencintai orang miskin, tanpa mengecualikan yang lain. Kehadiran dan karya Allah secara istimewa dinayatakan dalam diri orang miskin. Konsili Vatikan II mengimbau semua orang Kristiani, khusunya negara-negara kaya, untuk bertindak lebih adil dan dengan cinta yang lebih besar dalam membela kaum miskin (Gaudium et spes 69:88)

Sumber: Gerald O’Collins, SJ, Kamus Teologi, Kanisius: Yogyakarta, 1996

 

DEMOKRASI (pengertian dalam filsafat)


ASAL KATA

Inggeris: democracy; dari Yunani demos (rakyat) dan kratein (memerintah).

BEBERAPA PENGERTIAN

  1. Demokrasi (“pemerintahan oleh rakyat”) semula dalam pemikiran Yunani berarti  bentuk politik dimana rakyat sendiri  memiliki dan menjalankan seluruh kekuasaan politik. Ini mereka usulkan  untuk menentang  pemerintahan oleh satu orang (monarki) atau oleh kelompok yang memiliki hak-hak istimewa (aristokrasi)  dan bentuk-bentuk yang jelek dari kedua jenis pemerintahan ini (tirani dan oligarki)
  2. Pemerintahan oleh rakyak dapat dilakukan secara langsung atau melalui wakil-wakil rakyat. Secara langsung terdapat  dalam demokrasi murni, melalui wakil-wakil rakyat dalam demokrasi perwakilan. Bersama-sama dengan monarki dan oligarki, demokrasi tercatat sebagai salah satu bentuk pokok pemerintahan. Dalam perjalanan sejarah,  arti demokrasi mengalami perubahan yang mendalam.
  3. Dasar pemikiran modern tentang demokrasi ialah ide politis-filosofis tentang kedaulatan rakyat. Ini berarti, semua kekuasaan politik dikembalikan pada rakyat itu sendiri sebagai subyek asali otoritas ini. Yang ditambahkan di sini ialah persyaratan agar semua warga negara mampu menggunakan rasionya dan mempunyai suara hati. Dan hendaknya mereka sendiri, sebagai manusia yang bebas dan pada dasarnya sama, berperan  serta dalam mengambil keputusan tentang masalah-masalah politik yang menjadi perhatian mereka. Bagaimanapun, rakyat secara keseluruhan dapat menjalankan kekuasaan tertinggi negara secara bersama hanya pada satu tingkat yang sangat terbatas (demokrasi langsung atau demokrasi murni). Karena itu proses-proses hukum harus dituangkan dalam undang-undang dasar. Proses-proses semacam itu memungkin rakyat mengambil bagian secara tidak langsung dalam pembentukan kebijakan politik dengan pemilihan secara bebas dan rahasia wakil-wakil rakyat yang menduduki jabatan dalam jangka waktu tertentu. Wakil-wakil  ini dipilih menurut prinsip yang ditentukan oleh suara mayoritas tertentu dan mereka diberikan hak dan kewajiban yang digariskan secara jelas (demokrasi perwakilan atau representatif).
  4. Pluralitas partai-partai politik seyogiyanya memberikan rakyat  yang menujunjung tinggi  alternatif-alternatif politik kesempatan untuk berbicara secara  terbuka dan tampilnya orang-orang yang cukup bermutu. Demokrasi dalam arti ini tidak terikat pada bentuk republik  (di mana kepala negara dipilih oleh rakyat atau wakil-wakilnya).
  5. Suatu demokrasi yang hidup mengandaikan kematangan politik, penilaian yang baik dan kesiapan pada pihak warga negara untuk mengebawahkan kepentingan-kepentingan pribadinya kepada tuntutan-tuntutan kesejahteraan umum. Tatkala prasyarat-prasyarat ini dipenuhi, rakyat hendaknya diberi peluanguntuk berperan serta dalam pemerintahan sewaktu mereka memintanya. Keputusan-keputusan demokratis yang dicapai secara adil haruslah diakui sebagai mengikat seluruh warga negara, karena dalam sebuah demokrasi, otoritas legitim, yang diberikan Allah kepada rakyat, dijalankan dengan sungguh-sungguh. Bagaimanapun, peraturan-peraturan resmi tentang pengambilan keputusan demokratis itu sendiri tidak menyediakan jaminan mutlak melawan ketidakadilan. Bentuk-bentuk partisipasi  demokratis penuh tanggung jawab lambat laun mulai giat di luar arena politik (misalnya, proses-proses demokratis dalam perusahaan-perusahaan, di sekolah-sekolah dan universitas-universitasm, dan sebagainya).

PANDANGAN BEBERAPA FILSUF

Demokrasi oleh para filsuf dievaluasi secara berbeda-beda:

  1. Plato memandang demokrasi dekat dengan tirani, dan cenderung menuju tirani. Ia juga berpendapat bahwa demokrasi merupakan yang terburuk dari semua pemerintahan yang berdasarkan hukum dan yang terbaik dari semua pemerintahan yang tidak mengenal hukum.
  2. Aristoteles melihat demokrasi sebagai bentuk kemunduran politeia, dan yang paling dapat ditolerir dari ketiga bentuk pemerintahan yang merosot; dua yang lain adalah tirani dan oligarki.
  3. Sesudah Renaissance berkembanglah ide kedaulatan, teori kontrak sosial, dan doktrin hak-hak alamiah. Perkembangan ini mendukung berkembangnya demokrasi. Namun demikian, banyak pendukung , termasuk Locke sendiri, tetap menganut monarki terbatas.
  4. Spinoza menganggap demokrasi lebih baik daripada monarki. Soalnya kemerdekaan bagi warga negara mesti ada jaminannya. Demokrasi lebih klop dengan kemerdekaan seperti itu.
  5. Montesquieu, perintis ajaran tentang pemisahan kekuasaan, lebih suka monarki konstitusional. Sebenarnya ia berkeyakinan bahwa bentuk pemerintahan ideal adalah demokrasi klasik yang dibangun di atas kebajikan kewarganegaraan. Ia berkeyakinan pula bahwa yang ideal itu tak akan tercapai.
  6. Rousseau mendukung kebebasan dan kedaulatan manusia. Pada hematnya, bentuk pemerintahan mesti didasarkan pada aneka macam  pengkajian historis. Bersamaan dengan itu, analisis dan penegasannya pada kebebasan  menunjang pemikiran demokratis.
  7. Amerika mencoba mengambil ide-ide dari sebagian besar pandangan-pandangan yang terurai di atas, sambil membangun sebuah “demokrasi perwakilan” yang kekuasaannya berasal dari rakyat. Pemerintahan secara perwakilan tidak saja sesuai dengan ukuran negara. Itu juga menyediakan obat pemberantas penindasan oleh mayoritas.
  8. John Stuart Mill menganjurkan pemerintahan perwakilan dan kemerdekaan bagi warga negara sebesar-besar dan seluas-luasnya. Ia membenci dominasi mayoritas.
  9. John Dewey percaya demokrasi sebagai suatu metode pengorganisasian masyarakat yang selaras dengan metode penelitian.

Sumber: Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Gramedia: Jakarta 2002)

Politik (dalam filsafat)


Inggris: politics; dari Yunani politikos (menyangkut warga negara). Polites (seorang warga negara), polis (kota, negara). Politeia (kewargaan).

Beberapa Pengertian

  1. Apa yang berhubungan dengan pemerintahan.
  2. Perkara mengelola, mengarahkan, dan menyelenggarakan kebijaksanaan umum dan keputusan-keputusan atau kebijaksanaan yang menyangkut partai-partai yang berperan dalam kehidupan negara.
  3. Bidang studi yang berkaitan dengan masalah-masalah sipil-sosial dan mengembangkan pendekatan-pendekatan terhadap pemecahan masalah-masalah tersebut.
  4. Aktivitas yang berkaitan dengan relasi-relasi  antara bangsa-bangsa dan kelompok-kelompok sosial lainnya, yang berhubungan dengan perkara penggunaan kekuasaan negara.

Menurut Aristoteles

Aristoteles menulis suatu risalah yang berjudul  Politeia, yang judulnya sudah diterjemahkan sebagai Politik (politics). Politik bagi Aristoteles merupakan cabang pengetahuan praktis. Politik merupakan bagian dari etika yang berurusan dengan manusia dalam kegiatan kelompok. Manusia adalah makhluk-makhluk polis (negara-kota). Kecenderungan  alamiah dari manusia ialah membentuk  kelompok, bertindak dalam kelompok, dan bertindak sebagai kelompok. Maksud (tujuan, sasaran) politik sama dengan tujuan etika dan sama dengan tujuan kehidupan manusia pada umumnya: untuk mencapai eudaimonia, kesejahteraan yang sangat penting bagi setiap orang.

(sumber: Bagus, Kamus Filsafat, Gramedia: Jakarta 2002) 

 

Salib (dalam kekristenan)


Cross – Tanda khas Kristiani, yang mengungkapkan keyakinan iman bahwa Tuhan Yesus Kristus wafat  demi keselamatan umat manusia. Santo Paulus merangkum seluruh isi pewartaannya dalam salib (1Kor 1:17-18).

Ada banyak cara yang digunakan orang-orang Kristiani untuk mengenangkan wafat Yesus di salib, misalnya tanda salib, penyembahan salib pada hari Jumat Agung, Jalan Salib, dan Pesta Salib Suci. Selain cara-cara khusus itu, wafat Yesus di salib selalu dikenangkan dan dihadirkan lagi dalam sakramen-sakramen Gereja.

(Sumber: O’Collins, Gerald, dkk., Kamus Teologi, Kanisius: Yogyakarta, 1996)

HIDUP bukanlah sebuah DVD PLAYER


Seorang pria membawa pulang truk baru kebanggaannya,
Lalu ia meninggalkan truk tsb sejenak untuk melakukan kegiatan lain.

Anak lelakinya yg berumur 3 tahun sangat gembira melihat ada truk baru,
ia memukul-mukulkan palu ke truk baru tsb, akibatnya truk baru penyok dan catnya tergores.

Pria tersebut berlari menghampiri anaknya dan memukulnya, memukul tangan anaknya dgn palu sebagai hukuman.

Setelah sang ayah tenang kembali, dia segera membawa anaknya ke RS.

Walau dokter telah mencoba segala usaha untuk menyelamatkan jari-jari anak yg hancur, tapi ia tetap gagal.

Akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan amputasi semua jari pada kedua tangan anak kecil tsb.

Ketika anak kecil itu sadar dari operasi amputasi dan jarinya telah tidak ada dan dibungkus perban, dengan polos ia berkata, “Papa, aku minta maaf tentang trukmu.”

Kemudian, ia bertanya,
“tetapi kapan jari- jariku akan tumbuh kembali?”

Ayahnya pulang ke rumah dan melakukan bunuh diri.

Pesan Moral:
Berpikirlah dahulu sebelum kau kehilangan kesabaran kepada seseorang yg kau cintai.

Truk dapat diperbaiki, tapi tulang yg hancur dan hati yg disakiti seringkali tidak dpt diperbaiki.

Terlalu sering anda gagal untuk membedakan antara orang dan perbuatannya, Anda seringkali lupa bahwa mengampuni lebih besar daripada membalas dendam.

Orang dapat berbuat salah,
tapi tindakan yg anda ambil dalam kemarahan akan menghantui anda selamanya.

Tahan, tunda dan pikirkan sebelum mengambil tindakan. Belajarlah Mengampuni, Melupakan dan Mengasihi satu dgn lainnya.

“HIDUP bukanlah sebuah DVD PLAYER, yg dapat di backward & Forward. HIDUP hanya ada tombol PLAY & STOP saja, jangan sampai anda melakukan kesalahan yg dapat membayangi kehidupan anda kelak!!”
(NN)

Karakter (filsafat)


Dalam bahasa Inggeris: character; Yunani: charakter, dari charasein yang berarti membuat tajam, membuat dalam.

Beberapa pengertian:
1. Nama dari jumlah seluruh ciri pribadi yang meliputi hal-hal seperti perilaku, kebiasaan, kesukaan, ketidaksukaan, kemampuan, kecenderungan, potensi, nilai-nilai, dan pola-pola pemikiran.

2. Suatu struktur atau segi yang relatif mapan dari suatu kepribadian, yang menyebabkan ciri-ciri tersbut.

3. Suatu kerangka kepribadian yang relatif mapan yang memungkinkan ciri-ciri semacam ini mewujudkan dirinya.

4. Dengan adanya karakter (watak, sifat), kita dapat memperkirakan perilaku indivdu dalam pelbagai keadaan, dan karenanya juga dapat mengendalikannya. Dari situ, individu membentuk sifat-sifat kepribadiannya yang berguna bagi masyarakat. Karakter menemukan ungkapannya dalam sikap individu terhadap dirinya sendiri, terhadap orang lain, terhadap tugas yang dipercayakan kepadanya, dan terhadap hal-hal.

5. Karakter terungkap sangat jelas melalui kegiatan sosial dan kegiatan kerja, melalui suatu pola tindakan-tindakan manusia. Watak (karakter) berpautan dengan seluruh perilaku individu. Pada dasarnya karakter bersifat sosio-psikologis dan dipengaruhi pandangan terhadap dunia yang dimiliki seseorang, pengetahuan dan pengalamannya. Ia juga dipengaruhi prinsip-prinsip moral yang diterima, oleh bimbingan orang lain dan interaksi aktif dengan mereka.

(Sumber: Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Gramedia: Jakarta, 2002)

Kebangkitan Kristus


Resurrection – Bukan hanya berarti hidup lagi, seperti yang terjadi dengan Yairus (Mrk 5:22-24.35-43), melainkan peralihan yang dialami oleh Yesus melalui kematian ke dalam hidupNya yang sudah diubah dan abadi (Rm 1:3-4; 1Kor 15:42-50), yang menjadi jaminan bagi kebangkitan manusia dan dunia (1Kor 15:20-28).

Inti kebenaran iman ini merupakan isi pewartaan Kristiani awal (Kis 2:22-24, 32-33, 36; 1Kor 15:1-11): Allah telah membangkitkan Yesus dari kematian (Rm 10:9; 1Kor 6:14; Gal 1:1; 1Tes 1:10; lih. 1Kor 15:15).

Tradisi Perjanjian Baru yang kemudian, ajaran Gereja, dan syahadat (Yoh 10:17-18; Denzinger-Schonmetzer 359; 539) berbicara mengenai Kristus yang bangkit dengan kuasaNya sendiri.

Melalui penampakan-penampakanNya (1Kor 15:5-8; Mrk 16:7; Mat 28:9-10, 16-20) para murid yang pertama tahu bahwa Yesus sudah bangkit dari mati. Penemuan makam yang kosong oleh Maria Magdalena (mungkin bersama yang lain) berperan sebagai tanda negatif dan sekunder untuk mendukung kebangkitan (Mrk 16:1-8; Yoh 10:1-2).

Sebagai puncak wahyu ilahi (Dei Verbum 4; 17) kebangkitan Yesus yang tersalib, bersama dengan pengutusan Roh Kudus secara implisit sudah memuat kebenaran Kristiani yang dasar. Oleh karena itu, misteri Paskah tidak hanya harus diselidiki faktualitasnya, melainkan juga sebagai misteri pewahyuan, penebusan, iman, harapan, dan cinta.

(Sumber: O’Collins, Gerald,dkk., Kamus Teologi, Kanisius: Yogyakarta 1996).