Depag: Pemerintah Tidak Akui Pernikahan Beda Agama dan Sejenis


Pemerintah tidak akan pernah mengakui atau melegalkan pernikahan antara pasangan yang berbeda agama, pernikahan pasangan sejenis (homoseksual), menurut Sekretaris Jenderal Departemen Agama, Bahrul Hayat.

 

Meskipun hal ini banyak disuarakan oleh beberapa kalangan dengan alasan hak asasi manusia (HAM), ia menegaskan bahwa masa depan bangsa harus diselamatkan melalui lembaga pernikahan.

 

“Norma hukum dan nilai-nilai agama merupakan landasan yang bersifat absolut dan tidak dapat ditawar sebagai syarat untuk menata perkawinan dan membentuk rumah tangga sakinah dan sejahtera,” kata Bahrul saat membuka sebuah workshop tentang pendidikan pernikahan, di Jakarta, seperti diberitakan Pos Kota.

 

Menurutnya, negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama Pancasila, hanya mengakui pernikahan yang dilakukan menurut hukum agama sebagai dasar bagi pembentukan keluarga.

 

“Karena itu, pemerintah terlibat aktif dalam berbagai upaya untuk memperkuat eksistensi lembaga pernikahan dan pemberdayaan keluarga sebagai entitas yang suci dan terhormat yang perlu ditingkatkan kualitas dan ketahanannya seiring dengan kemajuan masyarakat,” katanya.

Sumber: Kristiani Pos

http://www.christian post. co.id/society/society/20090923/4992/Depag-Pemerintah-Tidak-Akui-Pernikahan-Beda-Agama-dan-Sejenis/in-dex.html

Iklan

Pesan Paus pada Akhir Bulan Suci Ramadhan


Pesan Paus pada Akhir Bulan Suci Ramadhan

DEWAN KEPAUSAN
UNTUK DIALOG ANTAR-UMAT BERAGAMA
 

Umat Kristiani dan Umat Islam:
Bersama Mengentaskan Kemiskinan

 

PESAN UNTUK AKHR BULAN SUCI RAMADHAN

HARI RAYA IDUL FITRI 1230H/2009AD

 

 

Saudara-saudara Umat Islam yang terkasih,

1. Pada Hari Raya, ketika Anda sekalian mengakhiri bulan suci Ramadhan ini, kami ingin menyampaikan kepada Anda sekalian Ucapan Selamat kami, disertai dengan harapan  akan kedamaian dan kebahagiaan bagi Anda sekalian. Melalui Ucapan Selamat ini pula kami ingin menyampaikan usulan tema yang kiranya dapat menjadi bahan permenungan kita bersama: Umat Kristiani dan Umat Islam: Bersama Mengentaskan Kemiskinan.

2. Ucapan Selamat Idul Fitri yang dikeluarkan oleh Dewan Kepausan untuk Dialog Antar-Umat Beragama seperti ini, telah menjadi tradisi yang kita pupuk bersama dan yang senantiasa menjadi kerinduan yang dinantikan setiap tahunnya. Dan ini sungguh-sungguh telah menjadi sumber kegembiraan kita bersama. Dari tahun ke tahun, di banyak Negara, hal ini telah menjadi suatu kesempatan untuk perjumpaan dari hati ke hati antara banyak Umat Kristiani dan Umat Islam. Tidak jarang pula perjumpaan itu menyapa suatu masalah yang menjadi keprihatinan bersama, dan dengan demikian membuka suatu jalan yang kodusif ke arah pergaulan yang ditandai oleh rasa saling percaya dan keterbukaan. Bukankah semua unsur ini secara langsung dapat dipahami sebagai tanda-tanda persaudaraan di antara kita, yang harus kita syukuri di hadapan Allah?

3. Berkaitan dengan tema kita tahun ini, masalah manusia yang berada dalam situasi kemiskinan adalah sebuah topik yang, dalam pelbagai iman kepercayaan, justru berada di jantung perintah-perintah agama yang kita junjung tinggi. Perhatian, belarasa dan bantuan yang kita semua, sebagai sesama saudara dan saudari dalam kemanusiaan, dapat memberikan kepada mereka yang miskin untuk membantu mereka mendapatkan tempat mereka yang sebenarnya di dalam tatanan masyarakat yang ada, adalah sebuah bukti yang hidup dari Cintakasih Allah yang Mahatinggi, sebab justru itulah yang menjadi kehendak-Nya, bahwa kita dipanggil-Nya untuk mengasihi dan membantu mereka sebagai sesama manusia tanpa pembedaan yang mengkotak-kotakkan.

Kita semua mengetahui, bahwa kemiskinan memiliki kekuatan untuk merendahkan martabat manusia dan menyebabkan penderitaan yang tak-tertanggungkan. Tidak jarang hal itu menjadi penyebab keterasingan, kemarahan, bahkan kebencian dan hasrat untuk membalas dendam. Hal itu dapat memancing tindakan-tindakan permusuhan dengan mempergunakan segala macam cara yang mungkin, bahkan tidak tanggung-tanggung memberinya pembenaran diri melalui landasan-landasan keagamaan, atau dengan merampas kekayaan seseorang bersama dengan kedamaian dan rasa amannya, atas nama apa yang dianggapnya sebagai “keadilan ilahi”. Itulah sebabnya, mengapa apabila kita memperhadapkan gejala-gejala ekstremisme dan kekerasan, tidak boleh tidak kita harus mengikutsertakan juga perihal penanganan kemiskinan dengan memajukan pengembangan manusia seutuhnya. Inilah yang oleh Paus Paulus VI disebutnya sebagai “nama baru untuk perdamaian” (Ensiklik Populorum Progressio, no. 42). Dalam Ensikliknya yang baru, Caritas in Veritate, sebuah ensiklik yang membahas pengembangan manusia secara integral melalui cintakasih dan kebenaran, Paus Benediktus XVI, sambil memperhitungkan juga usaha-usaha yang dewasa ini sedang diupayakan untuk memajukan pengembangan, menggaris-bawahi adanya kebutuhan pada “suatu sintese kemanusiaan yang baru” (no 21), yang dengan mempertahankan keterbukaannya terhadap Allah, dapat memberikan kepadanya kedudukannya sebagai “pusat dan puncak” dunia ini (no. 57). Oleh karena itu, haruslah diupayakan terciptanya suatu pengembangan yang sejati “bagi manusia seutuhnya dan bagi setiap orang” (Populorum Progressio, no. 42). 

4. Dalam pidatonya pada kesempatan Hari Perdamaian Sedunia, pada tanggal 1 Januari 2009, Paus Benediktus XVI membedakan dua macam kemiskinan: yakni kemiskinan yang harus diperangi dan kemiskinan yang harus dirangkul.   Kemiskinan yang harus diperangi ini diketahui oleh semua orang: misalnya kelaparan, tidak adanya air bersih, pelayanan kesehatan yang sangat terbatas, papan tempat tinggal yang kurang memadai, tatanan pendidikan dan kebudayaan yang tak memadai, tuna-aksara, belum lagi bentuk-bentuk baru kemiskinan “di dalam masyarakat-masyarakat yang kaya, di mana terdapat pula bukti-bukti masih adanya marginalisasi, seperti juga adanya kemiskinan afektif, moral dan spiritual…” (Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia, 2009, no. 2).

Adapun kemiskinan yang harus dirangkul adalah gaya hidup sederhana dan mendasar, yang menghindarkan pemborosan dan menghormati lingkungan serta kebaikan ciptaan. Kemiskinan ini dapat juga, sekurang-kurangnya pada saat-saat tertentu dalam satu tahun, mengambil bentuk berupa laku matiraga dan puasa. Ini adalah kemiskinan yang menjadi pilihan sadar kita dan yang memungkinkan kita untuk melewati batas diri sendiri, dan memperluas wawasan hati kita.

5. Sebagai orang beriman, kerinduan untuk menjalin kerja-sama untuk mencari cara yang tepat dan dapat bertahan lama untuk memecahkan masalah pengentasan kemiskinan, tentu juga harus disertai dengan refleksi terhadap masalah-masalah berat jaman kita sekarang ini dan, apabila mungkin, juga dengan saling berbagi keprihatinan yang sama untuk mencabut sampai ke akar-akarnya permasalahan itu. Dalam pandangan ini, pembahasan tentang segi-segi kemiskinan yang terkait dengan gejala globalisasi dalam masyarakat-masyarakat kita dewasa ini, memiliki pula dampak spiritual dan moral, karena kita semua turut mengambil-bagian dalam panggilan yang sama untuk membangun satu keluarga umat manusia, di mana semuanya, baik pribadi-pribadi perseorangan, maupun suku dan bangsa, masing-masing bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip persaudaraan dan rasa tanggungjawabnya.

6. Dengan mempelajari secara seksama gejala-gejala kemiskinan tersebut, kita bukan saja akan dibawa sampai kepada asal-usul permasalahannya, yakni kurangnya rasa hormat kepada martabat koderati manusia, tetapi juga seharusnya mengundang kita untuk membentuk suatu solidaritas global, misalnya melalui penerapan suatu “kode etik bersama”  (Paus Yohanes Paulus II, Pidato kepada Akademi Kepausan untu Ilmu Pengetahuan Sosial, 27 April 2001, no. 4), yang norma-normanya bukan saja memiliki karakter konvensional, tetapi yang tidak boleh tidak harus juga berakar pada hukum alam yang telah disuratkan oleh Sang Khalik sendiri di dalam hati nurani setiap orang (bdk Rom 2:14-15).

7. Rupanya, di pelbagai tempat di dunia ini, kita sudah melewati jenjang toleransi dan memasuki era pertemuan bersama, mulai dengan pengalaman-pengalaman hidup yang kita hayati bersama dan dengan berbagi keprihatinan nyata yang sama pula. Ini merupakan sebuah langkah maju yang penting.          

Dalam membagikan kepada setiap orang kekayaan hidup doa kita, puasa kita dan saling cintakasih kita satu sama lain, tidak mungkinkah hal ini semua akan semakin menjadi daya dorong bagi dialog dari orang-orang yang justru sedang berada dalam ziarah menuju kepada Allah?

Kaum miskin bertanya kepada kita, menantang kita, tetapi di atas semuanya itu mereka mengundang kita untuk bekerja-sama untuk urusan masalah yang mulia ini, yakni mengentaskan kemiskinan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri.

 

Jean-Louis Cardinal Tauran
Ketua

Uskup Agung Pier Luigi Celata
Sekretaris

Sumber: Mirifica.net

Vatikan Mengajak Umat Muslim Perangi Kemiskinan Bersama


Vatikan mengajak umat Muslim untuk bekerjasama dengan Kristiani guna mengakhiri kemiskinan; yang mana dikatakan dapat mengakibatkan “kekacauan dan ekstrimisme” yang merupakan musuh manusia.

 

Dalam pesan tradisionalnya kepada umat Muslim pada akhir Ramadan, bulan suci bagi umat Islam berpuasa, Pontifical Council for Inter-religious Dialogue, Jumat meyampaikan Pesan tahunan kepada umat Muslim bahwa kemiskinan adalah penyebab utama “penderitaan yang amat berat”.

 

“Kita semua mengetahui bahwa kemiskinan memiliki kekuatan untuk menghinakan dan menyebabkan penderitaan yang berat; seingkali bahkan menjadi sumber isolisasi, kemarahan, bahkan kebencian serta keinginan untuk balas dendam.”

 

“Hal tersebut juga dapat membangkitkan aksi permusuhan dengan menggunakan berbagai cara, bahkan mencari pembenaran agama terhadap tindakan yang dilakukan, atau merampas kekayaan orang lain, serta kedamaain dan keamanan, dengan mengatasnamakan sebuah “keadilan agung”, ujar pernyataan dalam pesan tersebut.

 

“Itu kenapa dalam menghadapi fenomena ektrimisme dan kekerasan secara tidak langsung diperlukan upaya menangani kemiskinan melalui mempromosikan pengembangan manusia secara integral yang oleh Paus Paulus VI mendefinisikannya sebagai “nama baru bagi perdamaian.”

 

Pesan tersebut ditandatangani oleh kepala interfaith dialog, Kardinal Jean-Louis Tauran dan Uskup Agung Pier Luigi Celata, selaku presiden dan sekretaris dewan.

 

“Masyarakat miskin bertanya kepada kami, mereka menantang kami, tetapi di atas semuanya mereka mengajak kami untuk bekerjasama untuk tujuan yang mulia: mengentaskan kemiskinan!,” ujar mereka.

 

Takhta Suci telah mencoba memperbaiki hubungan dengan umat Muslim yang sempat menegang setelah Paus Benediktus XVI pada 2006 mengutip teks sejarah pada pertengahan abad yang menggambarkan Nabi Muhammad dalam Islam sebagai sebuah kekerasan. Benediktus menyatakan permohonan maaf dan menyatakan bahwa teks tersebut tidak menggambarkan pandangannya.

 

Dua pemimpin kemudian menutup pesan tersebut dengan ucapan “Selamat Idul Fitri” kepada umat Muslim, merujuk pada libur selama tiga hari menjelang akhir Puasa pada bulan Ramadhan, sebagai salah satu dari lima pilar dalam Islam.

 

Akhir Ramadan tahun ini akan jatuh pada malam tanggal 19-20 September.

Sumber: Kristiani Pos

Pluritas Keagamaan: Asset atau Liability?


Oleh: Franz Magnis Suseno

Pluralitas atau keanekaan dapat menimbulkan masalah, tetapi juga dapat menjadi asset, kekuatan. Keduanya lebih lagi berlaku bagi agama.

 

Bagi Indonesia di mana semua agama besar ada dan di dalam masing-masing agama masih ada banyak aliran, mazhab pengertian dll. Kita dihadapkan dengan pertanyaan, bagaimana pluralitas keagamaan yang ada di Indonesia, daripada menjadi ancaman, dapat menjadi kekuatan bagi kemajuan bangsa.

 

Perlu dicatat bahwa beberapa tahun lalu MUI menurunkan fatwa MUI yang menyatakan pluralisme haram. Untuk itu, sangat perlu untuk kita mengerti apa yang dimaksud dengan pluralitas, pluralisme maksudnya apa, baru kita dapat menjawab pertanyaan di atas.

 

 

Pluralitas, Pluralisme

 

 

Kata pluralitas jelas artinya adalah ada banyak macam, ada perbedaan, ada keanekaan. Pluralitas mengungkapkan fakta bahwa ada banyak. Sedangkan pluralitas keagamaan artinya ada aneka agama dan orientasi keagamaan.

 

Sebaliknya, kata pluralisme (pluralisme sendiri adalah sikap mendukung pluralitas) bisa dipakai dalam beberapa arti (meskipun sebaiknya tidak), terutama dalam arti dogmatis dan dalam arti sosial.

 

Dalam arti dogmatis, pluralisme dapat berarti: anggapan bahwa semua agama adalah sama saja. Dan bahwa orang dari semua agama bisa masuk surga. (Hanya) dalam arti ini MUI mengharamkan pluralisme.

 

Akan tetapi penggunaan kata pluralisme dalam arti dogmatis ini sebaiknya dihindari. Anggapan bahwa semua agama sama saja, sebenarnya justru menghilangkan pluralitas (dan memang bertentangan baik dengan agama Islam maupun Kristiani). Anggapan itu sebaiknya disebut “relativisme agama” karena merelatifkan kebenaran agama (sama dengan mengatakan bahwa semua agama hanya benar bagi para penganutnya, sedangkan “secara objektif” tak ada yang lebih benar dari yang lain).

 

Sedangkan mengenai hal siapa yang bisa masuk surga adalah urusan ajaran masing-masing agama. Hal ini dibedakan menjadi “eksklusivisme keselamatan” yakni anggapan bahwa hanya penganut agamanya sendiri yang bisa masuk surga, dan “inklusivisme keselamatan” yakni anggapan bahwa semua manusia bisa masuk surga kalau berada di luar agama yang diyakini sebagai benar (misalnya ajaran resmi Gereja Katolik). Mengenai inklusivisme dan ekslusivisme keselamatan hanya agama yang bersangkutan berhak bicara.

 

Dalam arti sosial atau arti yang biasa dipakai, pluralisme berarti pengakuan dan penerimaan terhadap fakta bahwa ada banyak agama dalam masyarakat kita.

 

 

Pluralisme Keagamaan di Indonesia -1

 

 

Pluralisme keagamaan tidka berarti pengakuan terhadap semua agama sebagai sama-sama benar (tentu ini tak mungkin bagi orang yang yakin akan kebenaran agamanya sendiri), melainkan bersikap positif terhadap fakta bahwa, di samping agama mayoritas ada agama-agama lain di Indonesia dan kelompok.

 

Pluralisme keagamaan secara sadar, konsensus, dan konstitutif bagi eksistensi negara diterima sebagai “Ketuhanan Yang maha Esa”, sila pertama Pancasila ke dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

 

 

Sisipan: Catatan tentang Pancasila

 

 

Bobot Pancasila menjadi jelas apabila kita perhatikan alasan Pancasila dirumuskan. Pancasila dirumuskan bukan sekedar sebagai etika bangsa, melainkan sebagai pemecahan sebuah masalah serius 1945, yakni apakah Republik Indonesia mau didasarkan pada nasionalisme atau pada agama Islam. Untuk memecahkan masalah ini Ir. Soekarno mencetuskan Pancasila pada tanggal 1 Juni 1945.

 

Dari riwayat perumusan Pancasila, hasil rumusan Ir. Soekarno, rumusan Panitia 9, rumusan Undang-Undang Dasar 1945 (18 Agustus 1945) menjadi jelas bahwa Pancasila tak lain merupakan kesepakatan rakyat Indonesia untuk membangun sebuah negara, dimana semua warga masyarakat sama kedudukannya, sama kewajiban dan sama haknya, tanpa membedakan antara agama mayoritas dan agama-agama lain. Pancsaila adalah kesepakatan rakyat Indonesia untuk mengakui semua warganya sebagai manusia dan warga negara sepenuhnya, dengan menghormati identitas religius (dan tentu juga identitas budaya, etnik, kesukuan) semua komponen bangsa dari Sabang sampai Merauke.

 

Jadi Pancasila adalah dasar di atas keanekaan penduduk Nusantara yang bersedia menjadi satu negara Republik Indonesia. Maka jelas juga bahwa melepaskan, mengibiri, mengubah, mencairkan Pancasila adalah sama dengan membatalkan kesepakatan bangsa Nusantara untuk bersama-sama mendirikan Republik ini. Sentuhlah Pancasila dan anda menyentuh eksistensi negara dan bangsa Indonesia. Mencabut Pancasila bagi bangsa Indonesia adalah sama dengan mencabut Declaration of Independence bagi bangsa Amerika Serikat.

 

Lima sila Pancasila merumuskan nilai-nilai yang mempersatukan seluruh bangsa Indonesia dalam kemajemukannya. Mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila tidak lain adalah kesediaan untuk saling menerima dalam kekhasan masing-masing, jadi merupakan kesediaan untuk menghormati dan mendukung kemajemukan bangsa dan untuk senantiasa menata kehidupan bangsa Indonesia secara inklusif.

 

Pertimbangan-pertimbangan ini menunjukkan betapa hakiki pluralisme, khsususnya pluralisme keagamaan bagi eksistensi Indonesia.

 

(Beberapa catatan Bag-1 oleh Prof. Franz Magnis Suseno SJ. Disampaikan dalam acara Workshop INKommunity, 25 Juli 2009, di Jakarta).

 

——————————————————————————————————————————–

 

**Penulis adalah seorang Rohaniwan Katolik, Budayawan sekaligus Pendidik.

Sumber: Kristiani Pos

Dua Muslim Menyamar di Gereja


09 September 2009 07:25

Dua Muslim menyamar di gereja

[Malaysia 14/7]Polisi di Malaysia mulai menyelidiki kasus dua warga Muslim, yang menyamar untuk bisa mengikuti misa Gereja Katholik, dan kemudian menuliskan pengalaman mereka untuk diterbitkan di sebuah majalah.

Jika dinyatakan bersalah menyulut pertikaian agama, kedua orang tersebut bisa dihukum penjara hingga 5 tahun.

Di negara tempat hubungan antar kelompok agama sering tegang, kasus ini akan diikuti secara seksama.

Pengaduan beberapa warga Katholik menyusul diterbitkannya artikel mengenai seorang wartawan muslim menghadiri misa dengan seorang temannya.

Dia mengikuti seluruh ritual gereja, termasuk makan roti saat Komuni, yang diyakini orang Katholik adalah perwujudan jasad Yesus Kristus.

Foto roti yang sudah di makan sebagian disertakan dalam tulisan tersebut, dan hal ini kemungkinan menyinggung sebagian umat Katholik.

Kitab hukum pidana Malaysia melarang tindakan yang akan menyulut permusuhan antar-umat agama.

Akibatnya, polisi kini menyelidiki apakah kedua pria itu telah menyebabkan pertikaian agama.

Artikel majalah tersebut berniat untuk menyelidiki apakah warga Melayu muslim beralih ke agama Kristen di Gereja-gereja Malaysia, dan itu berarti di mata banyak warga muslim, tindak murtad yang merupakan pelanggaran serius.

Namun, keputusan wartawan muslim tersebut menyamar sebagai orang Kristen yang saleh untuk mendapatkan bahan beritanya kini bisa mengantar dia berurusan dengan tuntutan hukum di negara yang pemerintahnya ingin sekali meredakan ketegangan antar agama.[bbc.com]

 

Sumber: Mirifica.net

PERLU KUALITAS IMAM DI BIDANG NEGARA


Para dosen Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi, dok. PormadiKualitas para imam kita menurun di bidang informasi peraturan dan hukum Pemerintah dan Negara. Seorang imam yang adalah pemimpin Gereja dan masyarakat Katolik seyogiyanya mampu berbicara atas dasar referensi informasi baik dari Gereja maupun dari Negara atau Pemerintah. Demikian salah satu keprihatinan menurut pengamatan  seorang awam yang sekaligus sebagai Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Katolik, Drs. Stef Agus pada pembukaan pertemuan para dosen Hukum Gereja, Teologi Moral dan Teologi Pastoral di Klaten, Jawa Tengah  pada 21-24 Juli 2009.

Kualitas lain yang  menurun dari seorang imam, lanjut Stef Agus adalah kothbah imam di mimbar Gereja. Ada kesan kurang persiapan dan kurang relevan dengan kehidupan konkrit umat. Kothbah semestinyamencerahkan dan menambah wawasan umat dalam menghadapi tantangan dan tuntutan zaman dewasa ini.

Hal lainnya terkait kompetensi imam yang menurun adalah gagal berdebad. Para calon imam perlu dilatih dan dibekali skill berbicara dan berdebad. Hal ini penting untuk meyakinkan pendengar baik dari kalangan Gereja maupun dari kalangan publik.

Pertemuan yang berlangsung selama kurang lebih 4 hari  terselenggara atas kerja sama Direktorat Jenderal  Bimas Katolik Departemen Agama RI  dan mitra kerjanya dalam hal ini Komisi Seminari KWI bertujuan untuk menyusun pedoman atau kerangka acuan bagi studi Hukum Gereja, Teologi Moral dan Teologi Pastoral bagi dosen yang berguna bagi peningkatan mutu pendidikan calon imam.

Sementara itu, Ketua Komisi Seminari KWI yang diwakili Sekretaris Eksekutif Komisi Seminari KWI, Romo IGB. Kusumawanta, Pr menyampaikan ucapan terima kasih atas kerja sama yang baik selama ini. Kerja sama ini penting untuk memenuhi keinginan Gereja dalam mendidik calon imam yang sesuai dengan harapan Gereja. Sekretaris Eksekutif Komisi Seminari KWI mengharapkan  agar Pemerintah tidak menyingkirkan pendidikan Katolik dalam kebijakan politiknya.

Pertemuan penting dan strategis bagi pembinaan calon imam itu dihadiri sekitar 30 orang yang terdiri para rektor, dosen dan pemerhati calon imam dari perguruan tinggi bernafaskan Katolik se-Indonesia. Para dosen perguruan tinggi tersebut antara lain hadir dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Fakultas Teologi Wedabhakti Yogyakarta, Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang, Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi St. Yohanes Sinaksak Pematang Siantar, Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero, Fakultas Filsafat Widya Mandira Kupang, Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Seminari Pineleng, dan  Sekolah Tinggi Teologi Pastor Bonus Pontianak. (Pormadi Simbolon)

RADIKALISME DAN TERORISME


TAJUK REPUBLIKA
Jumat, 04 September 2009 pukul 01:16:00

Radikalisme dan Terorisme  

 

Negeri ini sedang menghadapi perang melawan radikalisme dan terorisme. Genderang perang sesungguhnya telah ditabuh sejak 2000 hingga saat ini. Dimulai dengan aksi pengeboman di sejumlah tempat di tanah air secara masif. Sebuah aksi yang telah dirancang dengan sistematis, dilakukan secara profesional, dan didukung pendanaan yang sangat besar.

Aksi itu adalah bagian dari pengembangan ideologi radikal dengan cara terorisme. Pelaku pengeboman diiming-imingi masuk surga. Dogma ini telah merasuk hingga ke akar rumput dan membahayakan masyarakat.

Dalam berbagai kesempatan, pemerintah menyatakan, motivasi gerakan terorisme di Indonesia dilakukan dengan alasan yang sangat kompleks. Ada yang berangkat dari nasionalisme- separatisme, agama, ideologi, atau tekanan dari rezim pemerintahan.

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Syamsir Siregar, Senin (31/8), mengakui ada kelompok radikal di hampir semua agama. Kelompok radikal menjadi ‘biang kerok’ pelaku terorisme. Kelompok ini berkembang di Indonesia.

Pernyataan senada dikemukakan oleh Kepala Divisi Pembinaan Hukum Polri, Irjen Aryanto Sutadi, Selasa (1/9) lalu. Ia mengusulkan deradikalisasi sebagai salah satu cara memberantas terorisme di Indonesia.

Begitu juga mantan kepala BIN Hendropriyono, Rabu (2/9), menyatakan ada kelompok aliran keras yang sedang dalam pembentukan di Indonesia. Kelompok ini harus didepak karena membahayakan stabilitas nasional.

Pernyataan ketiga tokoh itu tentu saja merupakan data empiris yang telah diuji melalui penyelidikan dan penyidikan. Sungguh memprihatinkan bahwa di negeri ini gerakan terorisme lebih cenderung mengatasnamakan ideologi agama. Jadi, ada perkawinan antara ideologi radikal yang mengatasnamakan agama dan gerakan terorisme.

Padahal, isu agama sangat sensitif bagi masyarakat kita. Apabila penanganannya kurang hati-hati, itu dapat menimbulkan kesalahpahaman. Akibatnya, dapat memunculkan konflik horizontal di tengah masyarakat.

Pemerintah harus berani menyatakan kelompok mana yang menganut ideologi radikal. Tentu saja, pemerintah harus bekerja sama dengan pemuka agama, dan pemuka masyarakat serta memberikan pembinaan kepada masyarakat agar tidak terprovokasi dengan kelompok tersebut.

Kita memang sedang belajar berdemokrasi. Namun, demokrasi yang menghasilkan kebebasan beragama banyak yang ditunggangi kepentingan politik. Maka, lahirlah aliran politik garis keras berkedok agama.

Contohnya adalah Ku Klux Khan di Amerika, kelompok rasialis berkedok agama. Juga, ada Brigade Merah di Italia, Tentara Merah di Jepang, dan Tentara Merah di Jerman. Kelompok-kelompok ini dikategorikan sebagai teroris di negaranya masing-masing.
Kita tentu berharap aparat negara dapat mendeteksi kelompok radikal sebelum mereka melaksanakan aksi yang tidak bertanggung jawab. Masyarakat harus dipisahkan dari kelompok radikal tersebut.

Pencegahan serta tindakan hukum terhadap tersangka atau terpidana teroris harus diikuti dengan deradikalisasi melalui pembinaan selama berada di tahanan dan setelah keluar tahanan. Sebab, dalam beberapa kasus, mereka kembali kepada kelompoknya karena telah didogma atau dibaiat.

(-)

Sumber: Republika