UGM Yogyakarta Cabut Larangan Ateisme


Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogja mencabut larangan menganut dan/atau menyebarkan paham ateisme atau agama, kepercayaan, atau ajaran yang tidak diakui oleh negara.
Kebijakan tersebut diambil agar UGM menjadi pelopor pluralism, tidak terkotak-kotak dan menghindarkan pemikiran sempit mahasiswa.

Kabag Humas UGM, Wijayanti mengatakan,  peraturan baru tersebut diterbitkan untuk mengatur perilaku mahasiswa. Tujuannya, agar mahasiswa menghormati perbedaan.
Tidak melakukan kekerasan dengan alasan perbedaan agama, kepercayaan, budaya dan lain sebagainya. “Masyarakat perlu paham itu, bahwa yang diatur oleh UGM adalah etika, perilaku. Bukan agama atau kepercayaannya,” terang Wiwit sapaan akrab Wijayanti kepada JIBI/Harian Jogja, Kamis (20/2).

Sekadar diketahui, Peraturan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) No. 711/P/SK/HT/2013 tentang Tata Perilaku Mahasiswa UGM ditetapkan oleh Rektor UGM Prof. Pratikno pada 26 Agustus 2013.

Pada pasal 12 peraturan tersebut berbunyi: “Setiap Mahasiswa dilarang menganut dan/atau menyebarkan paham ateisme atau agama, kepercayaan, atau ajaran yang tidak diakui oleh Negara Republik Indonesia.”

Namun, belum genap setahun diberlakukan, Rektor UGM kembali merevisi aturan tersebut pada 6 Januari 2014 lalu. UGM mengeluarkan Peraturan Rektor UGM No. 59/P/SK/HT/2014 tentang Perubahan Peraturan Rektor UGM No. 711/P/SK/HT/2013 tentang Tata Perilaku Mahasiswa UGM.

Pada pasal 12,  tertuang aturan yang berbunyi “Mahasiswa Universitas Gadjah Mada dilarang bersikap dan melakukan tindakan kekerasan atas nama agama, kepercayaan, ajaran, budaya dan/atau adat istiadat tertentu.”

Keputusan perubahan bunyi pasal tersebut, sambung Wiwit,  telah disepakati melalui sidang Senat UGM. Dia menolak anggapan bila perubahan pasal tersebut dinilai UGM sebagai pendukung paham ateisme.
“Bukan mendukung ateism atau agama tertentu. Urusan agama dan kepercayaan itu ranahnya negara. Kami di UGM hanya mengatur etika mahasiswa saja. Di mana para mahasiswa saling menghormati perbedaan dan tidak melakukan kekerasan,” kata Wiwit.

Sumber:
http://www.solopos.com/2014/02/20/cabut-larangan-ateisme-ugm-yogyakarta-perbolehkan-mahasiswa-ateis-491167

Pernyataan Sikap Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang (PPI Jepang) – Perihal Pemberitaan Media Nasional yang Tidak Profesional


SIARAN PERS

Pernyataan Sikap Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang (PPI Jepang)

Perihal Pemberitaan Media Nasional yang Tidak Profesional Terkait Bencanadi Jepang, Maret 2011

Berkaitan dengan bencana gempa di Perfektur Miyagi, Jepang, berskala 9 Richter yang disusul dengan tsunami dan ancaman radiasi nuklir, kami mahasiswa Indonesia di Jepang sangat menyayangkan berita-berita di beberapa media nasional yang dinilai tidak profesional dalam menyiarkan informasi.

Kami mendapati berita-berita tersebut salah dan tidak sesuai dengan faktasebenarnya di Jepang sehingga mengakibatkan keresahan berlebihan bagimasyarakat dan keluarga di tanah air.

Untuk itu, atas nama seluruh mahasiswa Indonesia di Jepang, Pengurus PusatPPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Jepang menyampaikan pernyataan sikapseperti di bawah ini, meliputi peringatan bagi pers dan informasi keadaanWNI di Jepang secara umum.

Peringatan bagi pers

Menimbang:

1. bahwa kami banyak mendapati berita di media-media nasional yang bersifatberlebihan dan meresahkan. Berita-berita ini umumnya salah dalam mengungkapkan data serta salah dalam memahami konteks sehingga menimbulkan misinterpretasi bagi masyarakat Indonesia.

2. beberapa contoh yang kami anggap fatal dari beberapa berita yang tersebar adalah berita bertajuk:

– “881 WNI di Jepang Selamat, 30.636 Belum Diketahui Nasibnya” tanggal 15 Maret dan

,- “Jepang Berusaha Hidupkan Kembali Listrik PLTN Fukushima” tanggal 17Maret.

Keduanya dipublikasikan oleh salah satu portal berita nasional.- berita pertama, walaupun kemudian diralat, dinilai salah dalam memahami konteks demografi persebaran WNI yang ada. Sebab, selain keempat perfekturini, Miyagi, Iwate, Fukushima, Aomori, kondisi WNI di lokasi lain tidakmengalami gangguan yang berarti. Angka 30.636 orang adalah salah konteks.

– berita kedua dinilai tidak mengindahkan kaidah jurnalistik sehingga menimbulkan kesan seluruh Jepang mengalami pemadaman listrik padahal kenyataannya tidak demikian.

3. berita-berita seperti di atas menyebabkan kecemasan yang berlebihan, terutama di tanah air. Salah satu akibatnya adalah Posko Crisis Center KBRITokyo banyak sekali menerima permintaan konfirmasi terkait berita-beritatersebut, padahal KBRI Tokyo telah menyediakan informasi di situsnya.

Meminta:

4. kepada media nasional agar lebih profesional dalam berpedoman pada KodeEtik Jurnalistik (KEJ) dan Undang-Undang Pers. Salah satunya dengan menyiarkan berita secara informatif, berimbang serta diambil dari sumber-sumber yang kredibel.

Kondisi umum WNI di Jepang

5. PPI Jepang menghimbau agar segala informasi mengenai kondisi WNI diJepang dapat dirujuk melalui satu sumber yaitu Posko Crisis Center KBRI Tokyo.

Silahkan merujuk pada situs KBRI Tokyo, Twitter @KBRITokyo maupun Facebook Kbri Tokyo.

6. bencana gempa, tsunami, dan meledaknya PLTN Fukushima hanya berdampaklangsung pada   perfektur-perfektur di daerah utara Pulau Honshu, sepertiMiyagi, Iwate, Fukushima, Aomori. Sedangkan secara umum kondisi di daerah selain itu, termasuk Tokyo, Osaka, Hiroshima, Fukuoka, di mana masyarakat Indonesia paling banyak berkumpul, dilaporkan aman dan tak ada korban.

7. KBRI telah berhasil mengevakuasi dan memulangkan lebih dari 100 WNI asal Sendai, Perfektur Miyagi ke Indonesia. Dan sampai saat ini, KBRI sedang mengevakuasi WNI lainnya di kota-kota di utara, seperti Iwate, Fukushima, Kesennuma, dan sebagainya. Selengkapnya bisa diakses di situs KBRI Tokyo.8. terkait ancaman radiasi nuklir PLTN Fukushima, berdasarkan pada hasilrapat antara KBRI Tokyo dengan para ahli nuklir Indonesia di Jepang tanggal 16 Maret 2011, dinyatakan bahwa ancaman radiasi nuklir masih dalam lingkupkota Fukushima (radius 0-50km dari PLTN), sehingga tidak ada ancaman serius bagi kota-kota di luar radius 50km. Namun demikian, dilaporkan bahwa KBRI Tokyo terus melakukan evakuasi terhadap WNI yang berada pada radius 0-100km ke Tokyo. Perlu diketahui, KBRI Tokyo berada pada lokasi berjarak 250km drPLTN Fukushima. Selengkapnya dapat diakses di situs KBRI Tokyo.

Demikian pernyataan sikap ini kami sampaikan dengan iktikad baik menuju perubahan positif. Semoga menjadi peringatan bagi insan pers di Indonesia untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan berita.

Tokyo, 17 Maret 2011
Ketua Umum PPI Jepang
Fithra Faisal Hastiadifithra.faisal@ppijepang.org

HP: +81 9064762891

Pernyataan Pers: Bencana Tsunami Keadilan


Pernyataan Pers
BENCANA TSUNAMI KEADILAN

Komite Darurat Keadilan, yang terdiri dari sejumlah organisasi non pemerintah dan pegiat anti korupsi se-Indonesia, menyatakan bahwa Indonesia harus menyelesaikan persoalan besar korupsi. Hal ini ditunjukkan secara jelas oleh substansi rekaman penyadapan komunikasi telepon KPK yang diperdengarkan dalam sidang Mahkamah Konstitusi kemarin, 3 Nopember 2009.
 
Bagi kami, kasus Bibit – Chandra hanya masalah yang timbul di permukaan dari setumpukan gunung es Mafia Peradilan. Melalui rekaman itu, publik bisa menyaksikan sendiri bagaimana Anggodo, saudara dari Anggoro tersangka kasus korupsi bisa mengatur perkara. Melalui rekaman itu, publik juga mengetahui bobroknya institusi Kejaksaan Agung dan Kepolisian sehingga para petingginya malah mendukung Anggodo untuk mengkriminalkan Pimpinan KPK.

Jika dalam kasus kriminalisasi KPK polisi dan jaksa begitu percaya diri melakukan rekayasa bersama Anggodo, bagaimana dengan kasus-kasus lain yang selama ini tidak mendapatkan perhatian publik.
 
Begitu dahsyatnya korupsi di tubuh penegak hukum membuat kami yakin bahwa korupsi merupakan penyebab mengapa dalam banyak kasus penyelewengan, korupsi, pelanggaran HAM, perusakan lingkungan dan berbagai kasus lainnya, hukum tidak berjalan. Dampak terbesar dari korupsi di kalangan penegak hukum adalah hilangnya
keadilan bagi rakyat. Bila penegak hukum bisa diatur-atur oleh cukong dan jika polisi dan jaksa bisa dikendalikan oleh koruptor, maka tidak akan ada keadilan untuk rakyat. Keadilan tidak akan terealisasi bila korupsi, terutama mafia peradilan, tidak diberantas tuntas.

Karena besarnya persoalan tersebut, tidak mungkin hanya diselesaikan melalui pembentukan Tim Verifikasi Fakta (TVF) yang baru dibentuk beberapa hari yang lalu. TVF tidak memiliki cukup wewenang, otoritas dan sumber daya untuk membongkar berbagai skandal di Kejaksaan dan Kepolisian. TVF juga tidak memiliki cukup otoritas untuk membongkar berbagai skandal yang menarik perhatian publik dan menjadi awal dari kriminalisasi Bibit – Chandra, yakni skandal Bank Century.

Korupsi oleh para penegak hukum merupakan ancaman terhadap demokrasi. Demokrasi hanya bisa berjalan dengan ditopang oleh kekuasaan peradilan yang independen, kredibel dan berintegritas. Demokrasi hanya bisa berjalan apabila ada supremasi hukum. Tanpa itu semua, demokrasi sesungguhnya berdiri di atas pondasi pasir yang gampang runtuh. Mafia peradilan sesungguhnya adalah ancaman bagi demokrasi.

Rekaman yang diperdengarkan dalam sidang MK kemarin juga menunjukkan kepada kita semua bahwa lembaga peradilan belum bisa diharapkan untuk memberikan keadilan. Keadilan masih tak terjangkau bila hukum kita tercemar oleh praktek korupsi.

Oleh karena itu, sejatinya kasus Bibit – Chandra adalah puncak gunung es dari tiadanya keadilan di Indonesia. Rekaman tersebut seharusnya merupakan petunjuk adanya persoalan besar yang harus diselesaikan oleh Presiden secepatnya. Apabila kasus ini tidak segera dituntaskan, kita kuatir bahwa demokrasi terancam dan keadilan akan semakin jauh dari rakyat.

Oleh karena itu, sebagai respon terhadap rekaman di MK, kami menuntut

1. Presiden harus segera mengambil langkah-langkah strategis dan konkret untuk membersihkan mafia peradilan. Ini bukan saatnya bagi Presiden untuk sibuk menjaga citra karena yang terjadi sesungguhnya adalah hancurnya kredibilitas, kehormatan dan legitimasi lembaga peradilan dan tsunami keadilan.
 
2. Presiden harus segera membersihkan Kejaksaan Agung dan Kepolisian dari praktek korupsi, kong-kalikong dan berbagai penyelewengan lainnya. Pembersihan tidak cukup hanya dengan mencopot Jaksa Agung dan Kapolri, akan tetapi juga memastikan para pejabat tinggi di kedua lembaga tersebut diisi oleh orang-orang yang memiliki integritas.
 
3. Presiden dan lembaga negara lainnya harus memberikan dukungan politik kepada KPK untuk melakukan pembersihan kedua lembaga tersebut. Terutama karena sesungguhnya mandat KPK adalah menangani kasus korupsi yang melibatkan penegak hukum dan melakukan supervisi terhadap jaksa dan polisi dalam penegakan hukum kasus korupsi.

4. Mendorong pembersihan advokat dari korupsi. Rekaman yang diperdengarkan oleh sidang MK adalah bukti peran advokat dalam mafia peradilan, sebuah realitas yang selama ini terabaikan. Oleh karena itu, daripada sibuk berkelahi soal organisasi adalah lebih penting untuk mendorong pembersihan korupsi yang melibatkan advokat.

5. KPK juga harus mengusut skandal kasus Century yang merupakan awal dari   sengketa Cicak vs Buaya. KPK secara sistematis dihambat untuk melakukan penegakan hukum dalam dugaan korupsi yang melibatkan elit politik dan ekonomi. Oleh karena itu, untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap pemerintah, maka kasus Century harus dituntaskan oleh KPK.

Jakarta, 4 Nopember 2009
 
Komite Darurat Keadilan:
ICW, KontraS, Walhi, Imparsial, PBHI-Jkt, PKMI, PPRP, Kiara, KRHN, IKOHI, TI Indonesia, PEC,  JSKK, Pimp. Pemuda Al Irsyad, PB HMI MPO, IPC, Neo Indonesia Timur, HRWG, Demos, JAMAN, Koalisi NGO Aceh, Asmara Nababan, Suciwati, Bambang Widodo Umar, Dadang Trisasongko, Romo Sandyawan, Indra J Piliang, LeIP, PSHK, MM. Billah, Yayasan SET, LBH Masyarakat, LBH Jkt, PATTIRO, dll.

Sumber: Milis AIPI

Survey LSI ttg popularitas SBY-Boediono menyesatkan?


Dari: sapto waluyo <swaluyo02@yahoo. com>
Topik: Rilis Pers segera- Popularitas SBY-Boediono diragukan
Tanggal: Kamis, 14 Mei, 2009, 9:27 AM

Center for Indonesian Reform (CIR)

Rilis Pers Segera

“Survei LSI tentang Popularitas SBY-Boediono Sangat Menyesatkan”

[Jakarta, 14 Mei 2009] – Suasana politik nasional semakin memanas setelah calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menunjuk Boediono sebagai calon wakil presidennya. Berbagai kelompok masyarakat, yang mendukung atau menolak pasangan SBY-Boediono, telah menyatakan aspirasinya lewat pernyataan atau aksi politik. Tak terkecuali, partai-partai pendukung koalisi bersama Partai Demokrat telah mengungkapkan sikap pro atau kontra.

Tiba-tiba di tengah dinamika politik itu terbetik kabar Lembaga Survei Indonesia (LSI) menggelar survei pada 27 April hingga 3 Mei 2009. Hasilnya, sangat mengejutkan, tatkala dipresentasikan dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (14/5). LSI mengatakan jumlah sampel yang diambil secara nasional sebanyak 2.014 orang dengan raihan SBY-Boediono sebesar 72,5 persen dan Megawati-Prabowo mencapai 21,5 persen.. Apabila diambil tiga pasangan, antara lain SBY-Boediono, Megawati-Prabowo dan Jusuf Kalla-Endriartono Sutarto berurutan meraih suara sebanyak 70%, 21%, dan 3%, sedangkan pemilih yang belum tahu sebesar 6%.

Sedangkan untuk survei dengan responden kelas menengah sebanyak 400 pemilih di 33 ibukota provinsi dengan teknik wawancara melalui telepon secara acak (random), maka pasangan SBY-Boediono meraih 79% dan Megawati-Prabowo (10%), serta belum tahu 11%. Wartawan bertanya, mengapa JK dipasangkan dengan Endriartono? LSI menjelaskan, saat survei dilakukan, LSI belum menerima informasi JK akan menggandeng Wiranto sehingga Ketua Umum Golkar tersebut dipasangkan dengan Endiartono. Sebuah jawaban apologis, karena pasangan JK-Wiranto telah dideklarasikan tanggal 1 Mei 2009 yang masih termasuk rentang waktu pelaksanaan survei. Seharusnya metodologi survei segera diperbaiki, karena terjadi perubahan fakta signifikan, agar relevan dengan pengetahuan umum responden. Sehingga hasilnya lebih mendekati kenyataan.

Lebih parah lagi, publik menyaksikan bahwa pasangan SBY-Boediono baru definitif pada Senin (11/5), jauh setelah survei dilaksanakan. Jika ingin fair, pada periode 27 April-3 Mei, pasangan SBY yang paling kuat adalah: Hidayat Nur Wahid (HNW), Hatta Rajasa, dan Akbar Tanjung. Setelah itu, baru muncul figur Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Gubernur BI Boediono. Hal itu dibuktikan temuan penyelenggara survey berbeda.

LP3ES, misalnya, menyelenggarakan survei melalui wawancara telepon (telepoling) tanggal 28–29 April 2009. Respondennya dipilih secara acak sistematis berdasarkan buku telepon residensial. Jumlah sampelnya 1.118 responden, mewakili masyarakat pengguna telpon rumah tangga di lima kota besar: Jakarta (Jadetabek), Bandung, Surabaya, Makassar, dan Medan. Margin of error 2,9% pada tingkat kepercayaan 95%. Hasilnya, pasangan paling popular untuk SBY adalah: HNW (37,9%), Akbar Tanjung (13,2), Sri Mulyani (12,5), dan Hatta Rajasa (7,7). Nama Boediono sama sekali tak muncul, malah ada tokoh lain semisal Soetrisno Bachir (3,6), Muhaimin Iskandar (1,5), dan Fadel Muhammad (1,5). Responden yang menyatakan tidak tahu akan memilih pasangan mana cukup besar (16,3%).

Ada lagi survei berikutnya yang dilakukan Pusat Kajian Strategi Pembangunan Sosial Politik (PKSPSP) FISIP UI dan dipublikasikan pada Kamis (7/5). Survei itu melibatkan responden lebih luas (2.000 orang) di 20 provinsi di Indonesia. Hasilnya, tak begitu berbeda dengan LP3ES, HNW menempati popularitas teratas sebagai cawapres (34 persen), jauh di atas Sri Sultan Hamengkubuwono X di urutan kedua yang dipilih 17,4 persen reponden. Nama Boediono sama sekali tak tampil dalam survei ini. FISIP UI menggunakan dua metode, yaitu metode kuantitatif dan metode kualitatif. Metode kuantitatif menyerahkan sepenuhnya pilihan responden terhadap capres atau cawapres yang akan mereka pilih. Sedangkan metode kualitatif dilakukan terhadap 100 tokoh yang dinilai mengerti perkembangan politik mutakhir.

Survei terkini diselenggarakan Lembaga Riset Informasi (LRI) pada 3 -7 Mei 2009, yang melibatkan 2.066 responden di 33 provinsi di Indonesia. Hasilnya semakin menguatkan kedua survei terdahulu (LP3ES dan FISIP UI) bahwa pasangan SBY-HNW paling popular (36,2%) mengalahkan dua pasangan lainnya, JK–Wiranto (27,6%) dan Megawati–Prabowo (19,1%). Sedangkan 17 persen responden belum menentukan pilihan. Saat pasangan cawapres SBY disebut Boediono, maka LRI menemukan suara SBY turun menjadi 32,1%. Survei yang menggunakan metode random sampling ini menentukan margin of error 2,2% dan tingkat kepercayaan 95%.

Perbedaan hasil survei merupakan hal lumrah, apalagi jika metodologi penarikan sampling atau format kuesionernya berbeda. Tetapi, suatu kejanggalan fatal dalam survei LSI terkini adalah penentuan pasangan SBY-Boediono yang telah dipastikan jauh sebelum pernyataan resmi. Hal itu menyebabkan perbedaan yang mencolok dari ketiga penyelenggara survei lainnya. Kredibilitas lembaga survei sekali lagi menjadi taruhan, apabila tidak menjalankan kaidah ilmiah sebagaimana mestinya, tapi hanya melayani kepentingan sponsor.

Publik menyaksikan salah satu alasan SBY untuk memilih Boediono sebagai cawapresnya adalah karena ada masukan terbaru dari sebuah survei, sebagaimana diungkapkan Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng. Mungkinkah yang dimaksud Andi adalah survei LSI tersebut? Jika benar, maka hasil survei yang diragukan metodologinya akan membuahkan rekomendasi yang menyesatkan.

Untuk itu, Center for Indonesian Reform (CIR) menyerukan:

1. Kepada seluruh lembaga survei publik agar tetap memegang teguh standar ilmiah dan kode etik surveyor yang penuh tanggung-jawab;

2. Kepada Asosiasi Riset dan Opini Publik Indonesia agar mengawasi dengan cermat kinerja lembaga survei yang menjadi anggotanya atau bukan, dan kerap mempublikasikan hasil survei mereka untuk mempengaruhi opini publik. Jika terdapat penyimpangan, maka jangan segan-segan untuk memberikan sanksi, agar hak masyarakat untuk mendapat informasi yang benar tetap terlindungi;

3. Kepada para penentu kebijakan, termasuk para capres dan cawapres yang akan menggunakan jasa surveyor untuk menangkap aspirasi publik yang genuin, hendaklah bersikap jujur dan terbuka atas hasil survei yang dapat dipertanggung- jawabkan. Apapun hasil survei, bila dilakukan sesuai dengan kaidah ilmiah dan profesional, maka patut dipertimbangkan sebagai dasar pengambilan keputusan.

Demikian, seruan ini sebagai wujud keprihatinan anak bangsa akan kisruh politik yang muncul, antara lain, disebabkan publikasi hasil survei yang lemah metodologinya dan memiliki tendensi politik tersendiri.

Jakarta, 14 Mei 2009

Direktur Eksekutif CIR: Sapto Waluyo

Gedung PP Plaza Lantai 3, Jl. TB Simatupang No. 57, Jakarta Timur

Email: sapto.waluyo@ gmail.com dan HP: 0817 960 700

Mengapa Orang Yahudi Bisa Pintar?


Mengapa Orang Yahudi Bisa Pintar?
 
(Sabili Edisi No. 16Th XVI 26 Februari 2009)
Oleh: Eman Mulyatman
 
Perang panjang dengan Yahudi entah berlanjut sampai berapa generasi. Baik Israel maupun Palestina sadar dengan hal itu. Bagaimana dengan Indonesia ?
Artikel Dr. Stephen Carr Leon patut menjadi renungan bersama. Stephen menulis dari pengamatan langsung. Setelah berada tiga tahun di Israel karena menjalani housemanship di beberapa rumah sakit disana. Dirinya melihat ada beberapa hal yang menarik yang dapat ditarik sebagai bahan tesisnya, yaitu, “Mengapa Yahudi Pintar?”
Ketika tahun kedua, akhir bulan Desember 1980, Stephen sedang menghitung hari untuk pulang ke California , terlintas dibenaknya, apa sebabnya Yahudi begitu pintar? Kenapa Tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini suatu kebetulan? Atau hasil usaha sendiri?
Maka Stephen tergerak membuat tesis untuk Ph.D.-nya. Sekadar untuk Anda ketahui, tesis ini memakan waktu hampir 8 tahun. Karena harus mengumpulkan data-data yang setepat mungkin.
Marilah kita mulai dengan persiapan awal melahirkan. Di Israel, setelah mengetahui sang ibu mengandung, sang ibu akan sering menyanyi dan bermain piano. Si ibu dan bapak akan membeli buku matematika dan menyelesaikan soal bersama suami.
Stephen sungguh heran karena temannya yang mengandung sering membawa buku matematika dan bertanya beberapa soal yang tak dapat diselesaikan. Kebetulan Stephen suka matematika.
Stephen bertanya, “Apakah ini untuk anak kamu?” Dia menjawab, “Iya, ini untuk anak saya yang masih didalam kandungan, saya sedang melatih otaknya, semoga ia menjadi jenius.”
Hal ini membuat Stephen tertarik untuk mengikuti terus perkembangannya.
Kembali ke matematika tadi, tanpa merasa jenuh si calon ibu mengerjakan latihan matematika sampai genap melahirkan. Hal lain yang Stephen perhatikan adalah cara makan. Sejak awal mengandung sang ibu suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu. Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang.
Menurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandung kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan pertumbuhan otak anak di dalam kandungan. Ini adalah adat orang-orang Yahudi ketika mengandung. Menjadi semacam kewajiban untuk ibu-ibu yang sedang mengandung mengkonsumsi pil minyak ikan.
“Ketika saya diundang untuk makan malam bersama orang-orang Yahudi, perhatian utama saya adalah menu mereka. Pada setiap undangan yang sama saya perhatikan, mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau fillet).” Biasanya kalau sudah ikan, tidak ada daging. Ikan dan daging tidak ada bersama di satu meja. Menurut mereka, campuran daging dan ikan tak bagus dimakan bersama. Salad dan kacang adalah suatu kemestian, terutama badam.
Uniknya, mereka akan memakan buah-buahan dahulu sebelum memakan hidangan utama. Jangan terperanjat jika Anda diundang ke rumah Yahudi Anda akan dihidangkan buah-buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan hidangan karbohidrat (nasi atau roti) dahulu kemudian buah-buahan, ini akan menyebabkan kita merasa mengantuk, lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah. Di Israel, merokok adalah tabu, apabila Anda diundang makan di rumah Yahudi, jangan sekali-kali merokok. Tanpa sungkan mereka akan menyuruh Anda keluar dari rumah mereka, menyuruh Anda merokok di luar rumah.
Menurut ilmuwan di Universitas Israel, penelitian menunjukkan nikotin dapat merusakkan sel utama pada otak manusia dan akan melekat pada gen. Artinya, keturunan perokok bakal membawa generasi yang cacat otak (bodoh). Suatu penemuan yang dahsyat ditemukan oleh saintis yang mendalami bidang gen dan DNA. Perhatian Stephen selanjutnya adalah mengunjungi anak-anak Yahudi. Mereka sangat memperhatikan makanan. Makanan awal adalah buah-buahan bersama kacang badam, diikuti dengan menelan pil minyak ikan (cod lever oil).
Dalam pengamatan Stephen, anak-anak Yahudi sungguh cerdas. Rata-rata mereka memahami tiga bahasa yaitu Hebrew, Arab, dan Inggris. Sejak kecil mereka telah dilatih main piano dan biola. Ini adalah suatu kewajiban.. Menurut mereka bermain musik dan memahami not dapat meningkatkan IQ. Sudah tentu bakal menjadikan anak pintar. Ini menurut saintis Yahudi, hentakan musik dapat merangsang otak. Tak heran banyak pakar musik dari kaum Yahudi. Seterusnya di kelas 1 hingga 6, anak-anak Yahudi akan diajar matematika berbasis perniagaan. Pelajaran IPA sangat diutamakan. Di dalam pengamatan Stephen, perbandingan anak-anak di Calfornia, dalam tingkat IQ-nya bisa dikatakan 6 tahun ke belakang!
“Segala pelajaran akan dengan mudah ditangkap oleh anak Yahudi. Selain dari pelajaran tadi, olahraga menjadi kewajiban bagi mereka. Olahraga yang diutamakan ialah memanah, menembak, dan berlari. Menurut teman saya ini memanah dan menembak dapat melatih otak memfokus sesuatu perkara disamping mempermudah persiapan membela negara.”
“Selanjutnya perhatian saya menuju ke sekolah tinggi (menengah) disini murid-murid digojlok dengan pelajaran sains. Mereka didorong untuk menciptakan produk. Meski proyek mereka kadangkala kelihatannya lucu dan memboroskan, tetap diteliti dengan serius. Apalagi kalau yang diteliti itu berupa senjata, medis, dan teknik. Ide itu akan dibawa ke jenjang yang lebih tinggi.”
“Satu lagi yang diberi keutamaan ialah fakultas ekonomi. Saya sungguh terperanjat melihat mereka begitu agresif dan serius belajar ekonomi. Di akhir tahun di universitas, mahasiswa diharuskan mengerjakan proyek. Mereka harus mempraktekkannya. Dan Anda hanya akan lulus jika tim Anda (10 pelajar setiap tim) dapat keuntungan sebanyak US$ 1 juta! Anda terperanjat? Itulah kenyataannya. ” Kesimpulan, pada teori Stephen adalah, melahirkan anak dan keturunan yang cerdas adalah keharusan. Tentunya bukan perkara yang bisa diselesaikan semalaman. Perlu proses, melewati beberapa generasi mungkin?
“Jika Anda ke Jakarta, dimana saja Anda berada; dari restoran, teater, kebun bunga hingga ke museum, hidung Anda akan segera mencium asap rokok! Dan harga rokok? Cuma 70 sen dolar! Hasilnya? Dengan penduduk berjumlah ratusan juta orang, ada berapa banyakkah universitas di Indonesia? Hasil apakah yang dapat dibanggakan? Teknologi? Jauh sekali! Adakah mereka dapat berbahasa selain dari bahasa mereka sendiri? Mengapa mereka begitu sukar sekali menguasai bahasa Inggris?
 
 

Rgds/
Mandacan

Bung Karno : “Sumbangan dan pengorbanan PKI besar sekali!”


Catatan A. Umar Said

 

Bung Karno : “Sumbangan dan

pengorbanan PKI besar sekali!”

 

Berikut di bawah ini disajikan cuplikan dari sebagian pidato Presiden Sukarno di depan rapat umum Front Nasional di Istora Senayan Jakarta, tanggal 13 Februari 1966.. Pidatonya ini  diucapkannya 4 bulan sesudah terjadinya G30S, ketika Angkatan Darat di bawah pimpinan Suharto sudah mulai secara besar-besaran membunuhi, atau menangkapi, atau menyiksa para pemimpin PKI dan tokoh-tokoh berbagai organisasi masa (antara lain : buruh, tani, nelayan, pegawai negeri, wanita, mahasiswa, pelajar, intelektual, seniman) di seluruh Indonesia.

 

Agaknya, patut dicatat bahwa pidato Bung Karno di depan rapat umum Front Nasional ini diucapkannya ketika golongan militer di bawah pimpinan Suharto-Nasution sudah terang-terangan mulai melakukan “kudeta merangkak” secara bertahap dan juga merongrong atau merusak  kewibawaannya.

 

Cuplikan sebagian pidatonya ini, diambil dari buku “Revolusi Belum Selesai” halaman 422, 423 , 424, dan 425  Buku “Revolusi Belum Selesai” tersebut terdiri dari 2 jilid, dan berisi lebih dari 100 pidato-pidato Bung Karno, yang diucapkannya di berbagai kesempatan sesudah terjadinya G30S sampai pidatonya tentang Nawaksara 10 Januari 1967. Karena sesudah terjadinya G30S, boleh dikatakan bahwa semua media massa (pers, majalah, TV dan radio ) dikuasai atau dikontrol keras Angkatan Darat, maka banyak sekali (atau hampir semua) pidato-pidato Bung Karno di-black out atau diselewengkan atau dimanipulasi. , sehingga tidak diketahui oleh umum secara selayaknya.

 

Isi buku “Revolusi  belum selesai “ ini menyajikan berbagai hal penting yang berkaitan dengan fikiran atau pandangan Bung Karno tentang perlunya persatuan revolusioner bangsa Indonesia dalam mencapai masyarakat adil dan makmur atau sosialisme à la Indonesia, menentang imperialisme AS, melawan neo-kolonialisme dalam segala bentuknya, menjaga persatuan bangsa dan kesatuan Republik Indonesia dan juga mengenai G30S. Karena itu, di  samping buku “Di bawah Bendera Revolusi” yang juga merupakan kumpulan tulisan dan pidato-pidatonya selama perjuangannya sejak muda, maka buku “Revolusi Belum Selesai” merupakan dokumen sejarah Indonesia yang amat penting untuk dijadikan khasanah bangsa Indonesia.

 

Mengingat pentingnya berbagai isi buku “Revolusi belum selesai”  ini untuk mengenal lebih jauh dan lebih dalam lagi gagasan atau ajaran Bung Karno, maka website http://kontak. club.fr/index. htm       akan sesering mungkin menyajikan cuplikan-cuplikanny a. Kali ini disajikan pendapat Bung Karno mengenai sumbangan atau jasa-jasa PKI dalam perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan.  Apa yang diungkapkannya secara tegas, jujur, dan terang-terangan tentang PKI, merupakan hal-hal yang patut menjadi renungan kita bersama.

 

Penghargaan Bung Karno terhadap perjuangan PKI mempunyai bobot penting dan besar sekali. dalam  sejarah perjuangan bangsa. Karena, penghargaan ini datang dari seorang bapak besar bangsa, yang dalam sepanjang hidupnya telah membuktikan diri dengan jelas sebagai  seorang pemimpin  nasionalis, yang juga muslim dan sekaligus marxis. Sangatlah besar artinya, ketika ia mengatakan bahwa sumbangan PKI dalam perjuangan untuk kemerdekaan adalah paling besar

dibandingkan dengan partai-partai atau golongan yang mana pun, bahkan termasuk PNI yang telah ia dirikan sendiri.

 

Apa yang dikatakan Bung Karno ini amat penting untuk diketahui oleh rakyat Indonesia berikut generasi yang akan datang. Karena, selama lebih dari 40 tahun masalah PKI ini dipakai oleh Suharto bersama jenderal-jenderalny a sebagai alat untuk menjatuhkan kekuasaan dan kewibawaan Bung Karno dan menghancurkan kekuatan kiri atau revolusioner yang mendukung politiknya. Racun yang disebarkan oleh rejim militer Orde Baru secara terus-menerus, intensif, luas, dan menyeluruh ini, sampai sekarang masih bisa mempengaruhi fikiran sebagian masyarakat kita.Salah satu buktinya ialah apa yang disiarkan oleh koran Duta Masyarakat tanggal 18 dan 19 Januari 2009. (Harap para pembaca menyimak ucapan-ucapan Asisten Intelijen Kasdam I/Bukit Barisan, Kolonel (Inf) Arminson, dalam tulisan di harian tersebut yang berjudul “Lewat kaos, parpol hingga film).

 

Cuplikan sebagian pidato Bung Karno mengenai PKI ini menunjukkan betapa besar dan jauhnya gagasan atau idam-idamannya tentang persatuan revolusioner yang dirumuskannya dalam konsep Nasakom. Ini terasa lebih penting dan menonjol sekali, kalau kita ingat bahwa pidatonya ini diucapkannya (dalam bulan Februari 1966) ketika Suharto bersama jenderal-jenderalny a sudah melakukan berbagai langkah besar-besaran untuk menghancurkan PKI.

           

 

Cuplikan dari pidato Bung Karno :

 

(Catatan : teks cuplikan pidato ini diambil oleh penyusun buku “Revolusi belum selesai” dari Arsip Negara, dan disajikan seperti aslinya. Kelihatannya, pidato Bung Karno ini diucapkannya tanpa teks tertulis, seperti halnya banyak pidato-pidatonya yang lain yang juga tanpa teks tertulis).

 

“Nah ini saudara-saudara, sejak dari saya umur 25 tahun, saya sudah bekerja mati-matian untuk samenbundeling  (penggabungan) ) semua revolutionaire krachten  (kekuatan revolusioner) buat Indonesia ini. Untuk menggabungkan menjadi satu semua aliran-aliran, golongan-golongan, tenaga-tenaga revolusioner di dalam kalangan bangsa Indonesia. Dan sekarang pun usaha ini masih terus saya jalankan dengan karunia Allah S W T. Saya sebagai Pemimpin Besar Revolusi, sebagai Kepala Negara, sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, saya harus berdiri bukan saja di atas semua golongan, tetapi sebagai ku katakan tadi, berikhtiar untuk mempersatuan semua golongan.

 

“Ya golongan Nas, ya golongan A, ya golongan Kom. Kita punya kemerdekaan sekarang ini, Saudara-saudara, hasil daripada keringat dan darah, ya Nas, ya A, ya Kom. Jangan ada satu golongan berkata, ooh, ini kemerdekaan hanya hasil perjuangan kami Nas saja. Jangan ada satu golongan berkata, ooh, ini kemerdekaan adalah hasil daripada perjuangan-perjuang an kami A saja. Jangan pula ada golongan  yang berkata, kemerdekaan ini adalah hasil daripada perjuangan kami, golongan Kom saja.

 

“Tidak .Sejak aku masih muda belia, Saudara-saudara, aku melihat bahwa golongan-golongan ini semuanya, semuanya membanting tulang, berjuang, bahkan berkorban untuk kemerdekaan Indonesia. Saya sendiri adalah Nas, tapi aku, demi Allah, tidak akan berkata kemerdekaan ini hanya hasil dari pada perjuangan Nas. Aku pun orang agama, bisa dimasukkan dalam golonban A, ya pak Saifuddin Zuhri, saya ini ? Malahan, saya ini oleh dunia Islam internasional diproklamir menjadi  Pahlawan Islam dan Kemerdekaan. Tetapi demi Allah, demi Allah, demi Allah SWT, tidak akan saya berkata bahwa perjuangan kita ini, hasil perjuangan kita, kemerdekaan ini adalah hasil perjuangan daripada A saja.

 

“Demikian pula aku tidak akan mau menutup mata bahwa golongan Kom, masya Allah, Saudara-saudara, urunannya, sumbangannya, bahkan korbannya untuk kemerdekaan bukan main besarnya. Bukan main besarnya !

 

“Karena itu, kadang-kadang sebagai Kepala Negara saya bisa akui,  kalau ada orang berkata, Kom itu tidak ada jasanya dalam perjuangan kemerdekaan, aku telah berkata pula berulang-ulang, malahan di hadapan partai-partai yang lain, di hadapan  parpol yang lain, dan aku berkata, barangkali di antara semua parpol-parpol, di antara semua parpol-parpol, ya baik dari Nas maupun dari A tidak ada yang telah begitu besar korbannya untuk kemerdekaan Indonesia daripada golongan Kom ini, katakanlah PKI, Saudara-saudara.

 

“Saya pernah mengalami. Saya sendiri lho mengalami, Saudara-saudara, mengantar 2000 pemimpin PKI dikirim oleh Belanda ke Boven Digul. Hayo, partai lain mana ada sampai ada 2000 pimpinannya sekaligus diinternir, tidak ada. Saya pernah sendiri mengalami dan melihat dengan mata kepala sendiri, pada  satu saat 10 000 pimpinan daripada PKI dimasukkan di dalam penjara. Dan menderita dan meringkuk di dalam penjara yang bertahun-tahun.

 

“Saya tanya, ya tanya  dengan terang-terangan, mana ada parpol lain, bahkan bukan parpolku, aku pemimpin PNI, ya aku dipenjarakan, ya diasingkan, tetapi PNI pun tidak sebesar itu sumbangannya kepada kemerdekaan Indonesia daripada apa yang telah dibuktikan oleh PKI. Ini harus saya katakan dengan tegas.

 

“Kita harus adil, Saudara-saudara, adil, adil,  adil, sekali adil. Aku, aku sendiri menerima surat, kataku beberapa kali di dalam pidato, surat daripada pimpinan PKI yang hendak keesokan harinya digantung mati oleh Belanda, yaitu di Ciamis. Ya, dengan cara rahasia mereka itu, empat orang mengirim surat kepada saya, keesokan harinya akan digantung di Ciamis. Mengirim surat kepada saya bunyinya apa ? Bung Karno, besok pagi kami akan dihukum di tiang penggantungan. Tapi kami akan jalani hukuman itu dengan ikhlas, oleh karena kami berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Kami berpesan kepada Bung Karno, lanjutkan perjuangan kami ini, yaitu perjuangan mengejar kemerdekaan Indonesia.

 

“Jadi aku melihat 2000 sekaligus ke Boven Digul. Berpuluh ribu sekaligus masuk di dalam penjara. Dan bukan penjara satu dua tahun, tetapi ada yang sampai 20 tahun, Saudara-saudara. Aku pernah mengalami seseorang di Sukamiskin, saya tanya : Bung, hukumanmu berapa? 54 tahun. Lho bagaimana bisa 54 tahun itu ? Menurut pengetahuanku kitab hukum pidana tidak ada menyebutkan lebih daripada 20 tahun. 20 tahun atau seumur hidup atau hukuman mati, itu tertulis di dalam Wetboek van Strafrecht (kitab hukum pidana). Kenapa kok Bung itu 54 tahun? Ya. Pertama kami ini dihukum 20 tahun, kemudian di dalam penjara, kami masih mempropaganda- kan kemerdekaan Indonesia antara kawan-kawan pesakitan, hukuman. Itu konangan, konangan, ketahuan, saya ditangkap, dipukuli, dan si penjaga yang memukuli saya itu saya tikam mati. Sekali lagi aku diseret di muka hakim, dapat tambahan lagi 20 tahun. Menjadi 40 tahun.

 

“Sesudah saya mendapat vonnis total 40 tahun ini, sudah, saya tidak ada lagi harapan untuk bisa keluar dari penjara. Sudah hilang-hilangan hidup saya di dalam penjara ini, saya tidak akan menaati segala aturan-aturan di dalam penjara.  Saya di dalam penjara ini terus memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pada satu waktu saya ketangkap lagi, oleh karena saya berbuat sebagai yang dulu, saya menikam lagi,  tapi ini kali tidak mati, tambah 14 tahun, 20 tambah 20 tambah 14 sama dengan 54 tahhun.

 

“Ini orang dari Minangkabau, Saudara-saudara. Dia itu tiap pagi subuh-subuh sudah sembahyang. Dan  selnya itu dekat saya, saya mendengar dia punya doa kepada Allah SWT ; Ya Allah, ya Robbi, aku akan mati di dalam penjara ini. Tetapi sebagaimana sembahyangku ini, shalatku ini, maka hidup dan matiku adalah untuk Engkau.

 

“Coba; coba, coba, coba !  Lha kok ada sekarang ini golongan-golongan yang berkata bahwa komunis atau PKI tidak ada jasa di dalam kemerdekaan Indonesia ini.

 

“Sama sekali tidak benar ! Aku bisa menyaksikan bahwa di antara parpol-parpol malahan mereka itu yang telah berjuang dan berkorban paling besar.”

 

** *

 

Demikian kutipan sebagian kecil dari amanat Presiden Sukarno di depan rapat umum Front Nasional di Istora Senayan Jakarta, tanggal 13 Februari 1966.

 

Seperti yang sama-sama kita lihat, amanat  tersebut adalah luar biasa! Di dalamnya terkandung pesan (message) yang besar sekali kepada seluruh nasion, dan sekaligus juga peringatan keras kepada semua golongan (terutama kalangan jenderal-jenderal pendukung Suharto) yang bersikap anti-komunis.

 

Adalah jelas bahwa pernyataan Bung Karno tentang PKI di depan Front Nasional dalam tahun 1966 itu  berdasarkan kebenaran sejarah, dan juga bahwa itu lahir dari ketulusan hatinya yang sedalam-dalamnya. Pernyataannya yang demikian itu adalah cermin dari isi atau jiwa perjuangan revolusionernya sejak muda.

 

Pendapat Bung Karno tentang sumbangan atau pengorbanan PKI untuk kerdekaan Indonesia menunjukkan bahwa ia adalah betul-betul pemersatu rakyat Indonesia, guru besar dan bapak bangsa, yang tidak ada bandingannya di Indonesia.

 

 

 

Catatan tambahan :

 

Buku “Revolusi belum selesai” terdiri dari dua jilid. Jilid pertama berisi 443 halaman, sedangkan jilid kedua 456 halaman.

Buku ini diterbitkan oleh. Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah (MESIASS), Semarang

Penyunting/Editor :Budi Setiyono dan Bonnie Triyana

Kata pengantar :Asvi Warman Adam

E-mail : mesiass 2001@yahoo.com

sumber: http://kontak. club.fr/index. htm 

Akhirnya, Vatikan Mengakui Teori Evolusi Charles Darwin


Akhirnya, Vatikan Mengakui Teori Evolusi Charles Darwin

Richard Owen, RomeTimesonline, February 11, 2009

 

[Rome 11/2/09]Vatikan telah menerima teori Charles Darwin bahwa manusia berasal dari kera.

A leading official declared yesterday that Darwin’s theory of evolution was compatible with Christian faith, and could even be traced to St Augustine and St Thomas Aquinas. “In fact, what we mean by evolution is the world as created by God,” said Archbishop Gianfranco Ravasi, head of the Pontifical Council for Culture. The Vatican also dealt the final blow to speculation that Pope Benedict XVI might be prepared to endorse the theory of Intelligent Design, whose advocates credit a “higher power” for the complexities of life.

Organisers of a papal-backed conference next month marking the 150th anniversary of Darwin’s On the Origin of Species said that at first it had even been proposed to ban Intelligent Design from the event, as “poor theology and poor science”. Intelligent Design would be discussed at the fringes of the conference at the Pontifical Gregorian University, but merely as a “cultural phenomenon”, rather than a scientific or theological issue, organisers said.

The conference is seen as a landmark in relations between faith and science. Three years ago advocates of Intelligent Design seized on the Pope’s reference to an “intelligent project” as proof that he favoured their views.

Conceding that the Church had been hostile to Darwin because his theory appeared to conflict with the account of creation in Genesis, Archbishop Ravasi argued yesterday that biological evolution and the Christian view of Creation were complementary.

Marc Leclerc, who teaches natural philosophy at the Gregorian University, said that no scholar could “remain indifferent” to the 200th anniversary of Darwin’s birth tomorrow. There was, however, “no question of celebrating” it.

The Vatican would “take the measure of an event, which has left its mark for ever on the history of science and has influenced the way we understand our humanity”. The “time has come for a rigorous and objective valuation” of Darwin by the Church, he said.

Professor Leclerc said that too many opponents of Darwin – above all Creationists – had mistakenly claimed that his theories were “totally incompatible with a religious vision of reality”, as did proponents of Intelligent Design.

 

Darwin’s theories had never been formally condemned by the Roman Catholic Church, Monsignor Ravasi insisted. His rehabilitation had begun as long ago as 1950, when Pius XII described evolution as a valid scientific approach to the development of humans. In 1996 John Paul II said that it was “more than a hypothesis”.

Father Giuseppe Tanzella-Nitti, Professor of Theology at the Pontifical Santa Croce University in Rome, said that Darwin had been anticipated by St Augustine of Hippo. The 4th-century theologian had “never heard the term evolution, but knew that big fish eat smaller fish” and that forms of life had been transformed “slowly over time”. Aquinas had made similar observations in the Middle Ages, he added.

He said it was time that theologians as well as scientists grappled with the mysteries of genetic codes and “whether the diversification of life forms is the result of competition or cooperation between species”. As for the origins of Man, although we shared 97 per cent of our “genetic inheritance” with apes, the remaining 3 per cent “is what makes us unique”, including religion.

“I maintain that the idea of evolution has a place in Christian theology,” Professor Tanzella-Nitti added.

Creationism remains powerful in the US, however, notably among Protestants, and its followers object to evolution being taught in state schools.

The Church of England is seeking to bring Darwin back into the fold with a page on its website paying tribute to his “forgotten” work in his local parish, to illustrate how science and Church need not be at odds. Several pages celebrate Darwin’s “significant scientific progress” to mark his bicentenary and also the 150th anniversary of On the Origin of Species.

The Church wants to correct the impression that Darwin’s relationship with Anglicanism was contentious. The Anglican Church as a whole did not condemn Darwin or his beliefs. It says that although he lost his faith, he did not become antiChurch or antireligious. [Timesonline]

Sumber: http://mirifica.net/printPage.php?aid=5601