Komitmen terhadap Pancasila


Dalam waktu berlainan, Pancasila diangkat sebagai topik. Pertama, penegasan komitmen Nahdlatul Ulama terhadap Pancasila.

Kedua, pernyataan tentang menurunnya kesadaran akan nilai-nilai Pancasila. Penegasan komitmen NU disampaikan Ketua Umum PB NU Said Aqil Siradj, Jumat. Esoknya, Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Komaruddin Hidayat, menyampaikantentang penurunan kesadaran nilai Pancasila akibat lemahnya elite politik dan pemerintah. Suasana kontekstual, momentumnya aktual dan relevan. Pancasila sebagai ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia memperoleh tantangan.

Kita kutip penegasan Said Aqil Siradj. ”NU siap berhadapan dengan kelompok mana pun yang mengancam keutuhan Indonesia.” Kata Komaruddin, ”Kita sudah kehilangan negarawan yang punya visi jauh untuk memperjuangkan bangsa dan negara.” Pernyataan dan penegasan di atas menyejukkan. Kita diingatkan kembali tentang nilai agung yang mendasari cita-cita membangun Indonesia. Temuan dan warisan agung para pendiri negara yang digali dari kondisi riil kemajemukan Indonesia.

Banyak sudah analisis mendalam tentang Pancasila. Semua bermuara memperkuat, memperyakin, dan menegaskan tentang pilihan Pancasila sebagai ideologi negara, bahkan sudah pula dirinci jadi butiran nilai. Sayang, karena pernah dimanfaatkan sebagai bagian dari praksis pemerintahan represif, semua lantas digeneralisasi harus ditinggalkan.

Dari sekian analisis, kita tertarik artikel ”Matinya Keindonesiaan Kita” oleh Kiki Syahnakri (Kompas, 10/2/2011). Di antaranya dia tulis, pemaksaan transplantasi (demokrasi) liberal di negeri ini membunuh ”gen” keindonesiaan yang mengalir dalam darah kebangsaan kita. ”Golongan darah” kita adalah Pancasila.

Memungut pernyataan di atas dan menempatkannya dalam konteks kita saat ini, kita peroleh darah segar. Kita berada di rel yang benar. Analogi Pancasila sebagai ”golongan darah” keindonesiaan mengentakkan rasa perasaan kita. Kelima sila dalam Pancasila niscaya merupakan rumusan mengikat yang perlu terus disegarkan dan diusahakan sebagai kompas penyelenggaraan bernegara dan berbangsa Indonesia.

Penegasaan Ketua Umum PB NU, pernyataan Rektor UIN, dan pendapat Kiki menyorongkan usul perlunya langkah konkret. Pendapat mereka hanya sebagian dari sekian pendapat yang memperkuat keyakinan pilihan kita bernegara dan berbangsa selama ini.

Apa urun rembuk kita? Tunjukkan praksis kepemimpinan yang kuat, berkarakter, tegas, dan berani. Ketegasan diperlukan untuk mengencangkan kembali sekrup-sekrup lembaga demokrasi yang mengendur. Ketegasan mempraktikkankeluhuran berpolitik memperoleh penguatan dari pernyataan-pernyataan suportif yang tentu ditopang hampir seluruh rakyat yang merasakan kebenaran Pancasila sebagai ”gen” keindonesiaan kita. 

(Tajuk Rencana Kompas, 26 April 2011)

Iklan

Ansor Menentang Pembentukan Negara Islam


Minggu, 24 April 2011

Gerakan Pemuda (GP) Ansor menentang pembentukan negara Islam seperti yang dicita-citakan oleh kelompok Islam radikal di Indonesia.

“Ansor lahir untuk menjaga negara ini menjadi sejahtera bukan menjadi negara Islam,” kata Ketua Dewan Pembina Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Saifullah Yusuf, di Surabaya, Minggu.

Ia tidak memungkiri munculnya idelogi impor yang merasuki para pemuda, termasuk ide tentang pembentukan Negara Islam Indonesia (NII). “Kami tegaskan bahwa ide itu sudah ketinggalan zaman. Kita justru mundur jika berdebat soal NII,” kata Wakil Gubernur Jatim itu dalam peringatan Hari Lahir ke-77 GP Ansor di kantor PW Nahdlatul Ulama Jatim.

Menurut dia, paham impor yang baru masuk ke Indonesia itu justru dengan terang-terangan menyalahkan para ulama serta mengesampingkan paham yang telah dianut oleh umat Islam Indonesia selama ini. “Inilah yang harus kita luruskan. Tetapi bagi Ansor, sudah menjadi suatu keputusan dan tetap mengawal negara ini agar tetap sejahtera,” kata Saifullah.

Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor, Nusron Wahid, mengatakan, organisasi yang dipimpinnya itu menjadi satu-satunya organisasi pemuda yang hidup di enam zaman, yakni zaman pergerakan kemerdekaan, zaman pendudukan Jepang, zaman revolusi, era Orde Lama, era Orde Baru, dan era reformasi. “Itu artinya GP Ansor sudah memiliki pengalaman yang sangat panjang sejak negara ini belum merdeka hingga saat ini,” kata anggota Fraksi Partai Golkar DPR itu.

Ia bercita-cita menjadikan Ansor mampu berperan dalam mengatasi masalah kemiskinan karena 60 persen kemiskinan di Indonesia berada di Pulau Jawa. Dari jumlah tersebut, 68 persen di antaranya berada di perdesaan. “Kader Ansor harus berperan ikut memerangi kemiskinan dan juga harus bisa menjadi pemimpin di wilayahnya,” kata Nusron.

Peringatan Harlah Ansor itu dihadiri Hanung Bramantyo, sutradara film ” Tanda Tanya” yang sempat menjadi polemik di kalangan anggota Ansor. Tak ketinggalan aktor Reza Rahadian, pemeran Soleh yang menjadi anggota Barisan Ansor Serba Guna (Banser) dalam film itu, hadir dalam acara tersebut.

Menurut Nusron, peringatan Harlah Ansor akan dimeriahkan Ahmad Dhani, Mulan Jameela, dan Iwan Fals di Pasuruan, Banyuwangi, dan Tulungagung.(*)

(Antaranews.com)

MPR Minta Penataran Pancasila Dihidupkan Lagi


Kamis, 21 April 2011,

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) meminta pemerintah membentuk lembaga untuk kembali menanamkan nilai-nilai Pancasila karena MPR sendiri merasa sudah tak mampu mengemban tugas tersebut.

“Diperlukan badan yang akan menerangkan Pancasila sampai ke bawah,” kata Ketua MPR Taufiq Kiemas. “Sebab, dengan kurang lebih 690 anggota MPR, kami merasa tidak sanggup kalau itu diteruskan, kalau tidak ada bantuan eksekutif,” kata Taufiq usai bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di kantor presiden, Jakarta, Kamis 21 April 2011.

Menurut Kiemas, terkikisnya nilai-nilai Pancasila dari masyarakat menyebabkan terjadinya terorisme, radikalisme, dan kekerasanhorizontal. “Dan MPR juga sama dengan Presiden, masalah ini tidak bisa didiamkan. Kita hanya bisa melawan dengan ideologi dan kebhinnekaan. Tanpa itu kita tidak bisa melawan kekerasan horisontal, radikalisme, dan terorisme itu tadi,” kata dia.

Sementara itu, anggota MPR yang juga hadir dalam pertemuan itu, Lukman Hakim Saifudin menambahkan lembaga yang diusulkan itu harus berada di bawah eksekutif. Namun, pola penanaman nilai-nilai Pancasila itu tidak menggunakan pola yang dipakai oleh Orde Baru.

“Tidak yang doktriner, yang selalu datang dari pemerintah. Kita bisa lakukan dengan cara lain. Cara inilah yang harus dipikirkan lembaga yang akan dibentuk itu.”

Menurut Lukman, sebuah lembaga yang memiliki tugas dan wewenang khusus sangat diperlukan dalam proses internalisasi nilai-nilai Pancasila. “Dengan pelembagaan ini, kami berharap proses bottom up, menumbuhkan kesadaran dari bawah, bisa lebih akseleratif, bisa dipercepat sekaligus lebih implementatif.

“Menurut dia, SBY pun telah sepaham dan menyetujui usulan MPR tersebut. “Beliau (SBY) menjanjikan dalam waktu yang cepat akan menindaklanjuti usulan ini,” kata dia.

MPR, kata Lukman, juga mengundang SBY dan mantan Presiden lainnya dalam peringatan Hari Pancasila pada 1 Juni mendatang. MPR juga meminta SBY menyampaikan pidato kenegaraannya. “Ini dimaksudkan untuk menyegarkan ingatan anak bangsa, melakukan revitalisasi dan reaktualisasi nilai-nilai Pancasila yang sekarang kita rasakan mulai disadari atau tidak semakin tercerabut dari diri kita yang memiliki nilai luhur kebudayaan,” kata Lukman. (eh)
(Vivanews.com)

Berbagai Tindak Kekerasan Cederai Budaya Hargai Kehidupan


Jumat, 22 April 2011 07:05 WIB |

Uskup Agung Semarang Mgr.Yohanes Pujasumarta mengatakan, berbagai tindak kekerasan terjadi belakangan ini telah mencederai budaya menghargai kehidupan.

“Lepas dari alasan apapun, budaya kekerasan tidak bisa dibenarkan,” kata Mgr.Yohanes Pujasumarta dalam pesan Paskah 2011 yang disampaikan di Semarang, Jumat.

Menurut dia, sejumlah tindak kekerasan yang terjadi belakangan ini seperti kasus Cikeusik, Pandeglang, Banten; kerusuhan Temanggung; hingga yang terakhir peristiwa ledakan di Cirebon.

Ia menilai, berbagai kejadian tersebut bukanlah suatu kecelakaan, namun suatu kesengajaan atau telah direncanakan.

Para pelakukanya, lanjut dia, bukanlah perorangan, namun orang-orang dengan maksud tertentu yang ingin menimbulkan ketakutan dan mengganggu keamanan.

Selain itu, ia sangsi jika motif dalam berbagai tindak kekerasan yang terjadi tersebut didasarkan atas motif agama.

“Motifnya lebih ke kekuasaan politik yang dibungkus dalam nuansa agama,” katanya.

Oleh karena itu, lanjut dia, Paskah 2011 ini merupakan momentum untuk mengubah kehidupan dari “Culture of Death” menjadi “Culture of Life”.

“Mengubah budaya kekerasan menjadi kelembutan. Nurani menyuarakan untuk memelihara kehidupan, bukan melenyapkannya,” tambahnya.

Ia menegaskan, manusia bukanlah pemilik atau penguasa kehidupan, melainkan pelayan untuk mengembangkan, menerima dan melestarikan kehidupan.

(Antaranews.com)

Awas Ada Ancaman atas Gereja Santo Johanes Baptista Parung, Kabupaten Bogor


Thursday, April 21, 2011, 9:46 AM 

Dear all,

Selasa kemarin pihak Bupati Kabupaten Bogor dari partai PPP dalam sebuah rapatmendesak pihak gereja Katolik Paroki Santo Johanes Baptista Parung untuk tidak menggelar acara kebaktian Minggu Suci di lahan miliknya sendiri tapi harus memindahkannya ke sebuah lokasi lain di Telaga Kahuripan. Hal ini tentu akan menyulitkan pihak umat paroki karena Telaga Kahuripan letaknya cukup jauh dari lokasi gereja di Tulang Kuning .

Selain itu masyarakat di sekitar Kecamatan Parung juga mendukung pihak gereja untuk tetap mengadakan kebaktian 3 Hari Suci di lokasi gereja di Kampung Tulang Kuning.

Berikut ini kami berikan alamat lengkap gereja sbb :

Paroki Santo Johanes Baptista
Jalan Raya Metro Parung
Kampung Tulang Kuning
Rt 01, Rw 06
Desa Waru Induk No. 36
Kecamatan Parung Kabupaten Bogor (sesudah gerbang Perum Metro Parung bersebelahan dengan Klenteng/Bio)
Telepon gereja 0251-861 0067
Pengurus gereja Bapak Alexander AM Hp 08129 317 931 dan +62 85814911 977

Adapun acara misa kudus (kebaktian) 3 Hari Suci sbb :

Hari Kamis Putih (hari ini)
tanggal 21 April. Misa Suci jam 18.00 -20.00 WIB

Hari Jumat Agung (besok) tanggal 22 April Kebaktian jam 14.00 – 18.00WIB

Malam Paskah, Sabtu tanggal 23 April. Kebaktian jam 18.00 – 20.00 WIB

Minggu Paskah, hari Minggu tanggal 24 April jam 07.30 – 09.30 WIBpagi

Mohon dengan sangat Anda semua meliput dan memantau acara Minggu Suci di Parung

Untuk informasi selanjutnya mohon Anda menghubungi pihak gereja atau Bapak Alex dengan nomor telpon di atas. Terima kasih sebesar-besarnya atas perhatian dan bantuan serta kerja sama yang baik dari Anda sekalian

Kepada yang merayakannya saya ingin ucapkan Selamat Pesta Paskah bagi Anda dan keluarga sekalian

Salam hormat
Theophilus Bela
Ketua Umum Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ)Sekjen Indonesian Committee on Religion and Peace (IComRP)Duta Besar Perdamaian (Ambassador For Peace)
(Milis APIK)

Tentang film “?”: Gugatan Publik dan Jawaban Hanung Bramantyo


Salim Said Tentang film “?” karya terbaru sutradara terkemuka Hanung Bramantyo.

Karena diributkan, saya memerlukan– di tengah kesibukan–menonton film ? karya terbaru sutradara Hanung Bramantyo tsb. Sebagai juri dalam FFI yang lalu kami para juri secara aklamasi memilih karya Hanung, Sang Pencerah sebagai film terbaik. Dan karena itu kami para juri dipecat secara berjamaah oleh panitia FFI.

Saya memang belum menonton semua karya Hanung, tapi dari beberapa yang saya sempat tonton, Sang Pencerah itulah yang saya anggap terbaik. Dalam film tentang KH Ahmad Dahlan tersebut cerita yang ditampilkan jelas , artinya tidak ruwet, tidak disertai cerita-cerita lain yang bersaing dengan kisah dengan Pak Kiyai.

Yang ingin dikisahkan adalah tentang KH Ahmad Dahlan. Itu saja. Itupun hanya sepenggal dari hidupnya. Titipan philosofis juga tidak digendong oleh film tersebut. Dengan ketrampilan menulis skenario dan penyutradaan yang teliti dan kreatif, tata artistik yang luar biasa dan kerja sinematografis yang mendekati sempurna, karya Hanung itu memang suatu film hebat. Film itu membuat saya dengan serta merta menempatkan Hanung sebagai satu dari hanya beberapa sutradara terkemuka di Indonesia dewasa ini.

Mungkin justru karena suksesnya dengan Sang Pencerah itulah Hanung berambisi bereksperimen menggunakan film sebagai media penyampaian pesan tertentu. Kalau pada film Pencerah ia mulai dengan niat berkisah mengenai KH Ahmad Dahlan, maka dalam ? Hanung mulai dengan sebuah pesan sebelum ia menemukan cerita untuk mengungkapkan pesannya. Harap diingat bahwa hanya sedikit pembuat film, atau bahkan seniman bidang apa saja, yang bisa berhasil dengan cara kerja demikian. Film-film propaganda yang umumnya dulu banyak diproduksi negara-negara komunis, nasibnya seperti ini. Kebanyakan tidak nikmat ditonton.

Saya kira ini jugalah nasib yang diderita film ?. Yang kita saksikan dalam film ini adalah ambisi besar Hanung untuk bercerita tentang sejumlah orang dengan macam-macam konflik yang persoalan dasarnya dicoba diikat ke dalam sebuah tema yang kirakira bisa dirumuskan sebagai berikut” Agami niku samiki mawon(agama itu semua sama saja).

Sebuah film propaganda boleh-boleh saja dibuat. After all semua karya seni pada dasarnya adalah propaganda. Tapi harap diingat, tidak semua propaganda berhasil menjadi karya seni. Saya tidak ingin berdebat dan ikut menilai benar salahnya keyakinan Hanung. Sebagai kritikus film, bagi saya persoalan yang menyebabkan film ini tidak nikmat ditonton adalah karena secara artistik film ini gagal. Terlalu banyak tokoh dengan sejumlah soal yang tidak jelas akarnya dan tak meyakinkan penyelesaiannya. Ada wanita dari keluarga Muslim yang tidak jelas alasannya tiba-tiba masuk Katolik tapi di rumah tetap membimbing anaknya belajar membaca doa secara Islami. Seorang wanita Muslim bekerja dengan tenang pada sebuah restoran Cina yang memasak dan menghidangkan  daging Babi.

Seorang yang tinggal di mesjid (setelah kehilangan tempat tinggal) memainkan peran Jesus dalam drama penyaliban pada suatu gereja Katolik setelah diyakinkan oleh seorang ustadz bahwa perbuatan itu tidak jadi soal. Pemuda Tionghoa pemilik restoran penjual babi itu yang jatuh cinta pada gadis Muslim yang bekerja di restoranya tapi gagal kawin dengan alasan tidak jelas. Tapi di akhir film sang pemuda Tionghoa masuk Islam. Akhirnya kawin dengan bekas pacanya yang sudah jadi janda — suaminya yang anggota Banser NU meninggal secara tragis ketika berusaha menghindarkan jemaat gereja dari bom yang diletakkan di gereja entah oleh siapa? Tidak juga. Jadi apa motifnya masuk Islam? Takut restorannya diserbu pemuda kampung? Atau mendapat hidayah? Semua tidak jelas dan susah ditebak. Pada awal film seorang pastor Katolik mendadak ditikam di tengah orang banyak di depan gereja oleh seorang pemuda yang tidak jelas identitas serta motifnya. Pokoknya terlalu banyak yang ingin dikisahkan tapi hampir semuanya tidak dijelaskan akar dan asal usul persoalannya demikian pula penyelesaiannya. Ruwet. Yang akhirnya menonjol dan mudah ditangkap adalah pesannya yang gagal larut dalam cerita.

Sayang sekali, sebab pada film sebelumnya Hanung telah menebar janji dan harapan kepada kita para penikmat film.Salim Said.

“Umat” Menghujat, Hanung Menjawab

“Umat” Menghujat, Hanung Menjawab Film “?” menuai banyak hujatan. Kini giliran sang sutradara menunjukkan berbagai kekeliruan para penghujatnya dengan jawaban-jawaban yang bernas. Film besutan Hanung Bramantyo ini dianggap menyebar fitnah, kebencian, dan merendahkan martabat Islam dan umatnya. Film ini disebut-sebut menyamaratakan semua agama, dan mengajak pada kemusyrikan. Bahkan film ini dianggap sesat dan menyesatkan. Bagi Hanung, sah-sah saja orang menafsirkan filmnya secara bebas. Tapi akan lebih baik jika hal itu dilandaskan pada adegan demi adegan dalam film itu. Jika dirunut adegan demi adegannya, film ini sangat jauh dari berbagai tuduhan yang dilayangkan sebagian umat Islam itu.

Salah satu contohnya adalah tuduhan bahwa film ini secara nyata mengidentikkan umat Islam dengan kekerasan dan teroris. Dalam adegan penusukan pendeta dan usaha pemboman Gereja misalnya, tak ada sama sekali simbol Islam (seperti orang yang berbaju putih-putih, bersorban atau berkopiah) yang dimunculkan dalam film itu. Di adegan penusukan pastur, Hanung hanya menampilkan seorang lelaki berjaket cokelat memegang pisau dan seorang pengendara motor. Bahkan dalam usaha pemboman Gereja, Hanung sama sekali tak memunculkan adegan orang merencanakan, merakit, dan menaruh bom di Gereja. Lalu di adegan mana yang menyatakan bahwa umat Islam identik dengan kekerasan dan teroris? Bagi Hanung, film ini merupakan proses pembelajarannya mengenal lebih dekat agamanya, Islam.

Menurutnya, belajar agama adalah belajar menjadi manusia. “Saya mengagumi Rasulullah bukan karena beliau semata-mata utusan Allah. Tapi karena Rasulullah memberikan tauladan kepada kita bagaimana menjadi manusia dalam keluarga, masyarakat, dan Tuhannya.”Ya, kita adalah manusia yang serba kekurangan ini mesti terus belajar agama dan belajar menjadi manusia. Keduanya adalah dua proses yang tak dapat dipisahkan. Keduanya merupakan sebuah pergulatan yang tak pernah usai dalam hidup ini. 

Hanung berharap dialog ini, dan tentu juga filmnya, menjadi pembelajaran bersama dan ajang saling mengingatkan sebagai sesama Muslim. Sebagai sesama pembelajar kita mesti saling mengingatkan dan mengajak pada kebaikan. Ya, mengajak, bukan memaksa. Itulah makna hakiki dari dakwah.

Nabi Muhammad saja tidak dapat ‘memaksa’ pamannya, Abu Thalib, yang hingga akhir hayatnya memeluk Nasrani walaupun telah membantu dalam memuluskan jalan dakwah beliau. Ya, Rasulullah saja tidak dapat memberi hidayah, apalagi kita yang jauh dari taraf kenabian dan kerasulan. Dalam Surah Al-Qashash ayat 56, Allah berfirman:

“Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk (hidayah) kepada siapa yang kau cintai, tapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang menerima petunjuk.” 

Film ini alih-alih menyebar fitnah dan kebencian, sebaliknya malah menunjukkan keindahan Islam yang ramah, damai. Hal ini tampak pada karakter Ustaz Wahyu, Menuk, Abi, orangtua Rika, dan Surya. Alih-alih mengajak pada kemusyrikan, film ini malah menunjukkan contoh orang yang mendapat hidayah, seperti Ping Hen (Rio Dewanto). 

Dialog ini berangkat dari hujatan seseorang berinisial BH (yang tidak mau disebutkan Hanung demi menghargai orang itu) yang mengirim pesan di Inbox Facebook sutradara yang sudah menghasilkan 14 film ini. Pernyataan dari BH itu dijawab oleh Hanung poin demi poin dalam dialog ini. Awalnya pesan ini tidak Hanung hiraukan. Ia merasa BH salah dalam menafsir filmnya. Dengan mempertimbangkan baik-buruknya terkait pandangan miring terhadap film dan pribadinya, akhirnya ia memutuskan untuk menjawab hujatan itu dengan tajuk “Dialog Terbuka atas Film ‘Tanda Tanya’ yang ia muat di Facebooknya, 15 April 2011 lalu. Dialog ini kami muat dengan persetujuan dari Hanung. Berbagai kata yang ditulis dengan huruf besar sengaja kami biarkan agar poin-poin yang ingin Hanung highlight dapat juga dinikmati para pembaca. Berikut nukilannya:

.1. BH : Film “?” yang anda sutradarai penuh dengan fitnah, kebencian danmerendahkan martabat Islam dan umat Islam. Film anda penuh dengan ajaran sesatpluralisme yang menjadi saudara kandung atheisme dan kemusyrikan.

HB: Terima kasih sudah menyaksikan film saya sekaligus melakukan kritik atasfilm tersebut. Saya sangat menghargai pandangan anda. Sebagai sebuah tafsir atas’teks’ saya anggap pendapat anda syah. Sayangnya, anda tidak memberikan kemerdekaan bagi tafsir yang berbeda. Anda sudah terlanjur melakukan judgment berdasarkan ‘teks’ yg anda baca dan tafsirkan.

2. BH: ketika pembukaan sudah menampilkan adegan penusukan terhadap pendeta, kemudian bagian akhir pengeboman terhadap Gereja. Jelas secara tersirat dantersurat, anda menuduh pelakunya orang yang beragama Islam dan umat Islamidentik dengan kekerasan dan teroris. Jelaskan!

HB: A. Tafsir anda mengatakan bahwa adegan kekerasan: penusukanpastur danpengeboman dilakukan oleh orang Islam. Padahal sama sekali dalam duaadegan tersebut saya tidak menampilkan orang Islam (setidaknya orang berbajuputih-putih, bersorban atau berkopyah). Di adegan penusukan pastur, sayamenampilkan seorang lelaki berjaket coklat memegang pisau dan seorang pengendaramotor. Kalau itu ditafsir orang Islam, itu semata-mata tafsir anda.

B. Di awal Film saya justru menampilkan sekelompok remaja masjid (bukan orangtua) yang melakukan perawatan atas masjid. Bukankah dalam hadist dianjurkanseorang pemuda menghabiskan waktunya untuk mengelola dan merawat masjid? Jaditidak ada pesan tersurat apapun yang manyatakan bahwa pelaku penusukan dan pengeboman adalah orang islam.

3. BH: Anda mendukung seorang menjadi Murtad. Menjadi murtad yang dilakukanoleh Endhita (Rika) adalah suatu pilihan hidup. Kalau semula kedua orangtua dan anaknya menentangnya, akhirnya mereka setuju. Padahal dalam Islam murtad adalah suatu perkara yang besar dimana hukumannya adalah qishash (hukuman mati), samadengan zina yang dirajam.

HB: Bahwa tafsir Rika murtad karena sakit hati dengan suaminya yang mengajak poligami saya benarkan. Tapi bukan berarti ‘teks’ tersebut mendukung pemurtadan.

Sejak awal keputusan Rika sudah ditentang oleh Surya, anaknya dan orang tuanya. Bagian mana yang menyatakan dukungan?

Saya akan menjelaskan berdasarkan shot-shot dalam filmnya:

PERTAMA, Coba perhatikan shotnya: Surya berdialog dengan Rika: Kamu menghianati2 hal sekaligus: perkawinan dan Allah! kalau toh disitu Surya diam saja ketikaRika menyanggahnya, bukan berarti Surya mendukungnya. Tapi sikap menghargaipilihan Rika. Hal itu tertera dalam surat Al Hajj ayat 7 : ‘Sesungguhnya orang yang beriman, kaum Nasrani, Shaabi-iin, Majusi dan orang Musyrik, Allah akan memberikan keputusan diantara mereka pada hari Kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu’

Sikap Surya juga merupakan cerminan dari firman Allah : ‘Engkau (Muhammad) tidak diutus dengan mandat memaksa mereka beragama, tapi mengutus engkau untuk MEMBERI KABAR GEMBIRA yang orang mengakui kebenaran Islam dan kabar buruk dan ancaman bagi yang mengingkarinya.’

KEDUA, Abi, anak Rika, juga tidak mendukung sikap Rika ‘yang Berubah’. Abiprotes dengan ibunya dengan cara enggan bicara. Bahkan hanya sekedar minum susudikala pagi saja Abi tidak mau menghabiskan di depan ibunya. Demikian halnya Abijuga tidak mau makan sarapan yang disajikan ibunya. Itu adalah sikap protes diakepada sang Ibu yang murtad. Jika toh Abi kemudian bersikap seperti Surya, bukanberarti abi mendukungnya. Tapi sikap ,menghargai pilihan. Lihat dialog Abi saatbersama Rika: … Kata Pak Ustadz, orang islam gak boleh marah lebih dari tigahari. Apakah dialog tersebut diartikan mendukung kemurtadan? Bukankah maknadari dialog tersebut adalah mencerminkan sikap orang muslim yang murah hati: Pemaaf dan bijaksana (jika marah tidak boleh lebih dari tiga hari).

KETIGA: Orang tua Rika juga menyatakan penolakan pada saat Rika menelphoneIbunya:
… Bu, Rika sudah dibaptis. Mulai hari ini nama depan Rika Tereshia. Lalusi Ibu menutup telephonenya. Bagian mana yang menyatakan dukungan? Di bagian akhir film, saya menampilkan orang tua Rika datang ke acara syukuran Khatam Quran cucunya. Kemudian Rika memeluk ibunya dengan haru. Tidak ada sedikitpun dialog yang menyatakan dukungan terhadap kemurtadan Rika. Adegan tersebut menampilkan hubungan emosional antara anak dengan ibunya, serta cucu dengan kakek-neneknya. Dimanakah pernyataan dukungan atas kemurtadan Rika?
Jadi jika anda membaca ‘teks’ dalam adegan tersebut sebagai sebuah dukungan terhadap kemurtadan, maka itu tafsir anda. Bukan saya …

4. BH: Jelaskan gambaran muslimah berjilbab, Menuk (Revalina S Temat) yangmerasa nyaman bekerja di restoran Cina milik Tan Kat Sun (Hengki Sulaiman) yang ada masakan babinya. Anda ingin menggambarkan seolah-olah babi itu halal. Terbukti pada bulan puasa sepi, berarti restoran itu para pelanggannya umat Islam.

HB: Menuk adalah perempuan muslimah. Dia nyaman bekerja di tempat pak Tankarena pak Tan adalah orang yang baik. Selalu mengingatkan karyawan muslimnya sholat. Bagian mana yang anda maksud bahwa babi itu halal? Saya justru menggambarkan dengan tegas adegan yang membedakan Babi dan bukan babi lebih dari sekali adegan.

Pertama, pada saat Pembeli berjilbab bertanya soal menu makanan restoran pak Tan. Menuk mengatakan bahwa panci dan wajan yang dipakai buat memasak babi berbeda dengan yang bukan babi. (di film terdapat shot wajan, dan shot Menuk yang dialog dengan ibu berjilbab. Dialog agak kepotong karena LSF memotongnya. Alasannya silakan tanyakan kepada LSF)

Kedua, pada saat Pak Tan mengajari Ping Hen (anaknya) mengelola restoran. Pak Tan dengan tegas menyatakan pembedaan antara babi dan bukan babi: … Ini sodet dengan tanda merah buat babi, dan yang tidak ada tanda merah bukan babi …Jika saya menghalalkan Babi, tentunya saya tidak akan menggambarkan pemisahan yang tegas antara sodet, panci, pisau, dsb tersebut. Jadi tafsir anda yangmengatakan bahwa saya menghalalkan babi, semata-mata tafsir saya …

Dalam film ini, saya justru menggambarkan sikap Menuk sebagai Muslimah yang menolak pernikahan beda agama dengan cara lebih memilih menikah dengan soleh (yang muslim) meski jobless, dibanding hendra. Padahal cintanya kepada hendra:
… Saya tahu kita pernah punya kisah yang mungkin buat mas menyakitkan. Tapi buatsaya adalah hal yang indah … karena Tuhan mengajarkan arti cinta dalam agamayang berbeda … (Dialog Menuk kepada Hendra di malam Ramadhan)

Dalam film ini juga, saya menggambarkan sikap pak Tan yang menghargai Asmaul Husna dengan cara meminjam buku 99 Nama Allah milik Menuk. Sikap pak Tan tersebut dinyatakan dalam dialog Hendra: … Sekarang Hen jadi mengerti kenapa papibersikap baik dengan orang YANG BUKAN SEAGAMA dengan papi …

Dialog tersebut merupakan manifestasi dari ajaran Asmaul Husna : Ar Rahman – ArRahim … Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang Kemudian Pada akhir film, Pak Tan membisikkan sesuatu kepada dimana atas dasar bisikian tersebut Hendra melakukan perubahan besar dalam hidupnya:
menjadi Mualaf dan merobah restorannya menjadi Halal. Lihat kata-kata isteri pak Tan diakhir film: … Pi, hari ini Hendra melakukan perubahan besar dalam hidupnya SEPERTI YANG PAPI MINTA …. (Dialog tersebut sebenarnya ungkapan tersirat buathendra untuk berubah dari pak Tan melalui bisikannya. )
jadi tafsir Hendra pindah agama hanya ingin menikahi menuk adalah Tafsir anda. Lagipula, dalam film jelas-jelas tidak ada gambaran pernikahan antara Menuk danHendra. Ending Film saya justru menggambarkan Menuk menatap nama Soleh yang sudah menjadi nama Pasar … Darimana anda bisa menafsirkan bahwa Hendra pindah agama hanya karena ingin menikah sama menuk?5. BH: seorang takmir masjid yang diperankan Surya (Agus Kuncoro) setelah dibujuk si murtadin Menuk, akhirnya bersedia berperan sebagai Yesus di Gereja pada perayaan Paskah. Apalagi itu dijalaninya setelah dia berkonsultasi dengan ustad muda yang berfikiran sesat menyesatkan pluralisme seperti anda yang diperakan David Chalik. Namun anehnya, setelah berperan menjadi Yesus demimengejar bayaran tinggi, langsung membaca Surat Al Ikhlas di Masjid. Padahal Surat Al Ikhlas dengan tegas menolak konsep Allah mempunyai anak dan mengajarkanTauhid. Apa anda ini kurang waras wahai si Hanung. Semoga pembalasan dari Allah atas diri anda.

HB : dalam film saya menggambarkan Surya adalah seorang aktor figuran. Di awalFilm dikatakan dengan tegas lewat dialog: … 10 tahun saya menjadi aktor cuma jadi figuran doang!!
Sebagai aktor yang hanya jadi figuran, dia frustasi. Hingga menganggap bahwa hidupnya cuma SEKEDAR NUMPANG LEWAT. Dia diusir dari kontrakan karena menunggak bayar. Rika membantunya dengan menawari pekerjaan sebagai Yesus dengan biaya Mahal (perhatikan dialognya di warung soto). Semula Surya menolak. Tapi dia menerima dengan alasan yang sangat manusiwai bagi orang yang berprofesi sebagai aktor (figuran) : SELAMA HIDUPNYA TIDAK PERNAH BERPERAN SEBAGAI JAGOAN. Namun alasan itu tidak begitu saja dia gunakan untuk melegitimasi pilihannya. Diakonsultasi dengan Ustadz Wahyu (David Khalik). Menurut Ustadz, Semua itu tergantung dari HATIMU, maka JAGALAH HATIMU. Dari perkataan Ustadz tersebut, adakah dia menyarankan atau mendorong Surya menjadi Yesus? Ustadz memberikan kebebasan buat Surya untuk melakukan pilihannya. Dan Surya sudah memilih.
Ketika di Masjid, Ustadz mengulang bertanya: Gimana? Sudah mantap hatimu? Lalu dijawab oleh Surya: Insya Allah saya tetap Istiqomah. Dijawab oleh DavidKhalik: Amin …Setelah dialog tersebut, Surya kembali memantapkan hatinya denga bertafakur di masjid. Matanya menatap hiasan dinding bertuliskan ASMA ALLAH diatas Mighrab.
Dari adegan tersebut, adakah saya melecehkan Islam? Apakah dengan menghargai pilihan seseorang itu sama saja melecehkan Islam? Bukankah Ustdaz sudah melakukan tugasnya MENGINGATKAN surya di awal adegan?
Jadi, tidak ada sedikitpun adegan yang menyatakan pelecehan terhadap agama Islam. Surya melakukan tugasnya sebagai aktor karena dia harus hidup. Bahkan untuk beli soto untuk sarapan saja dia tidak sanggup. Lagipula drama Paskah bukan ibadah. Tapi sebuah pertunjukan drama biasa. Ibadah Misa Jumat Agung dilaksanakan setelah pertunjukan Drama. Dalam hal ini Surya tidak melakukanibadah bersama jemaah Kristiani di gereja. Namun oleh karena pesan Ustadz untuk senantiasa menguatkan hati, maka setelah memerankan drama Jesus, Surya membaca Surat Al Ikhlas berulang-ulang sambil menangis.

Adakah dari adegan tersebut saya melecehkan Islam? Silakan di cek lagi

6. BH: Kelima, tampaknya anda memang sudah gila, masak pada hari raya IdulFitri yang pebuh dengan silaturahmi dan maaf memaafkan, umat Islam melakukan penyerbuan dengan tindakan anarkhis terhadap restoran Cina yang tetap bukasehari setelah Lebaran. Bahkan sebagai akibat dari penyerbuan itu, akhirnya sipemilik Tan Kat Sun meninggal dunia. Setelah itu anaknya Ping Hen (Rio Dewanto) sadar dan masuk Islam demi menikahi Menuk setelah menjadi janda karena ditinggal mati suaminya Soleh (Reza Rahadian), seorang Banser yang tewas terkenabom setelah menjaga Gereja pada hari Natal. Jadi orang menjadi muslim niatnya untuk menikahi gadis cantik. Sebagaimana anda menjadi sutradara berfaham Sepilis dengan kejam menceraikan istri yang telah melahirkan satu anak demi untuk menikahi gadis cantik yang jadi pesinetron. Film ini kok seperti kehidupan anda sendiri ya ?

HB: Saya benar-benar kagum dengan penafsiran anda soal adegan dalam film saya. Tidak heran anda menjadi seorang wartawan. Hehehe. Jika anda benar-benar mengamati adegan demi adegan, anda akan menemukan maksud dari penyerbuantersebut.

Pertama, Penyerbuan itu didasari karena egositas dari hendra (ping Hend) yang hanya ingin mengejar keuntungan. Maka dari itu libur lebaran yang biasanya 5 hari, dipotong hanya sehari. Akibatnya, Menuk tidak bisa menemani keluarga jalan-jalan liburan lebaran.

Kedua, Penyerbuan tersebut didasari oleh rasa dendam Soleh (yang di adegan sebelumnya berkelahi dengan Hendra) dan cemburu karena Menuk lebih memilih bekerja di hari lebaran daripada menemani soleh dan keluarganya jalan-jalan.
Dalam adegan tersebut jelas tergambar SIKAP CEMBURU, MEMBABI BUTA, BODOH dan TERGESA-GESA pada diri Soleh yang mengakibatkan Tan Kat Sun meninggal. Sikap tersebut membuat Soleh menjadi rendah di mata Menuk: Lihat adegan selanjutnya:
Menuk bersikap diam kepada Soleh. Meski masih meladeni sarapan, Menuk tetap tidak HANGAT dengan SOLEH. Hingga Soleh meminta maaf kepada Menuk. Namun, lagi-lagi Menuk tidak menanggapi dengan serius (perhatikan dialognya) : …. Mas, jangan di sini ya minta maafnya. Dirumah saja … Dijawab oleh Surya: Kamu di rumah terlalu sibuk dengan Mutia … Menuk menimpali: … dimana saja ASAL TIDAK DISINI …Penolakan Menuk itu yang membuat Soleh akhirnya memutuskan untuk memeluk BOM dan menghancurkan dirinya. Tujuannya? …. Agar dia menjadi Berarti di mata ISTERINYA….
Apakah adegan di Film menggambarkan Menuk bahagia dengan kematian Soleh, sehingga dengan begitu dia bebas menikah dengan Hendra? Apakah adegan di Film menggambarkan hendra juga bahagia dengan kematian Soleh sehingga hendra bisa punya kesempatan menikah sama Menuk? Sungguh, saya kagum dengan tafsir anda. Hingga andapun bisa bebas sekali menafsirkan hidup saya. Semoga kita bisa menjalin silaturahmi lebih dekat sehingga anda bisa mengenal saya lebih baik, mas …

7. BH: si murtadin Endhita minta cerai gara-gara suaminya poligami. Karena dendam, kemudian dia menjadi murtad. Anda ingin mengajak penonton agar membenci poligami dan membolehkan murtad. Padahal Islam membolehkan poligami dandibatasi hingga empat istri dan melarang dengan keras murtad dengan ancaman hukuman qishash. Seandainya anda setuju dan poligami dengan menikahi sipesinetron itu, anda tidak perlu menceraikan istri dan menelantarkan anak anda sendiri sehingga tanpa kasih sayang seorang ayah kandung dan dengan masa depan yang suram. Kasihan benar anak dan istri anda korban dari seorang ayah yang kejam penganut faham pluralisme dan anti poligami.

HB: Saya laki-laki yang tidak setuju dengan Poligami. Dalam pandangan saya,banyak umat Islam sudah menyelewengkan surat An Nisa sebagai sebuah legitimasipelampiasan nafsu lelaki. Padahal sudah jelas di dalam surat tersebut dikatakan :

Wa inkhiftum alaa takdilu fa wakhidatan aumalakat aimanukum …

Jika engkau TAKUT BERLAKU ADIL maka nikahilah seorang saja …
Jadi dalam melakukan poligami, syaratnya utamanya harus berlaku adil. Pertanyaan saya, bisakah manusia berlaku adil? Apakah lelaki bisa menjamin hati seorang wanita bisa ikhlas ketika dirinya di madu? Bukankah ketika kita menyakiti hati perempuan, maka itu sudah termasuk aniyaya? Pendapat saya tidak didasari atas logika sebagaimana yang dituduhkan kepada orang-orang seperti saya: Memahami agama hanya dengan akal. Tapi pemahaman saya didasarkan pada pengalaman batin. Saya pernah hampir berpoligami. Disatu sisisaya merasa benar karena ada syariat. Disisi lain, saya melukai perasaan perempuan, perasaan anak-anak saya, keluarga dari pihak Isteri yang terpoligami dan juga masyarakat lingkungan isteri saya baik yang paling dekat maupun yang paling jauh. Apakah hanya karena syariat, maka keputusan saya menolak poligami adalah suatu sikap menentang syariat? Jika memang saya kemudian berpoligami, apakah saya juga akan mendapatkan jaminan sebagai manusia bersyariat sebagaimana yang anda harapkan? Apakah dengan saya berpoligami maka anak-anak saya akan hidup damai sejahtera sebagaimana bayangan anda? Alhamdulillah, anak saya sehat tidak kurang suatu apa tanpa saya harus berpoligami. Jika anda berkenan, silakan mengunjungi rumah saya dan saya kenalkan kepada anak-anak saya.
Sungguh, manusia adalah makhluk penuh kekurangan. Ijtihad adalah keniscayaan bagi manusia yang benar-benar memahami kekurangannya. Kebenaran Hanya di mata Allah …

8. BH: anda menghina Allah SWT dengan bacaan Asmaul Husna di Gereja dandibacakan seorang pendeta (Deddy Sutomo) dengan nada sinis dan melecehkan.
Masya’ Allah !

HB: saya menyelipkan Asmaul Husna di adegan pembacaan ‘Kesaksian : Tuhan diMataku’ sebagai pemaknaan atas nama Tuhan yang indah dan UNIVERSAL. Asmaul Husna merupakan nama ALLAH yang meliputi segala yang Indah di Bumi dan Langit.Tidak ada nama Indah selain diriNya yang dimiliki agama lain. Maka ketika Pastur Dedi Sutomo meminta Rika untuk menuliskan kesaksiannya, Rika kesulitan.

Sebagai seorang penganut agama baru, Rika tidak memiliki pengetahuan terhadapTuhan barunya, maka dia menuliskan asmaul Husna karena dalam tiap-tiap namaNya (Ar Rahman : Maha Pengasih, Ar Rahiim : Maha Penyayang, dst) memiliki arti yang UNIVERSAL. Apakah itu melecehkan Islam? Apakah dedi Sutomo dalam membacakan Asmaul Husna juga terlihat sinis? Silakan anda tonton kembali filmnya, perhatikan ekspresinya …

9. AH : anda menfitnah Islam sebagai agama penindas dan umat Islam sebagai umat yang kejam dan anti toleransi terhadap umat lain terutama Kristen dan Cina. Padahal sesungguhnya meski mayorits mutlak, umat Islam Indonesia dalam kondisi tertindas oleh Kristen dan Katolik serta China yang menguasai politik, ekonomi dan media massa. Anda tidak melihat kondisi umat Islam di negara lain yang minoritas seperti Filipina Selatan, Thailand Selatan, Myanmar, India, Cina, Asia Tengah, bahkan Eropa dan AS. Mereka sekarang dalam kondisi tertindas oleh mayoritas Kristen dan Katolik, Hindu, Budha dan Komunis. Jadi anda benar-benar subyektif dan dipenuhi dengan hati penuh dendam terhadap umat Islam.

HB : Pertanyaan ini murni tafsir anda. Saya tahu, banyak sekali tragedykemanusiaan di dunia ini atas nama agama. Saya tidak menutup mata terhadapserangan keji Israel terhadap rakyat Palestina. Saya pun turut mengutuk perbuatan tanpa manusiawi di Bosnia, Minoritas muslim di Eropa, Thailand< China sebagaimana yang anda sebutkan. Akan tetapi, tak perlu kita menilai sesuatu terlalu jauh. Begitu pula dalam film ini. Jika anda bisa melihat sisi negatif, film ini, kenapa sisi positifnya luput dari perhatian anda? Bukankah di akhir film saya menampilkan adegan Hendra terkesan dengan Asmaul Husna, membacanya, kemudian dia masuk Islam? Lalu di akhir adegan, Ustadz Wahyu mengatakan didalam masjid kepada Hendra bahwa : Islam adalah agama yang mengajak manusia untuk terus menerus memperbaiki dirinya. Berusaha Ikhlas dan sabar. Menjadikandirinya berarti bagi orang banyak ….

10. BH: film ini mengajarkan kemusyrikan dimana semua agama itu pada hakekatnya sama untuk menuju tuhan yang sama. Kalau semua agama itu sama, maka orang tidakperlu beragama. Jadi film anda ini dengan sangat jelas mengajarkan faham atheisme dan komunisme.HB: Bagian mana saya menampilkan bahwa semua agama sama? Adakah dalam adegan tersebut saya menampilkan seorang Islam sembahyang di Gereja? Atau seorang Kristen sembahyang di Masjid? Barangkali anda tidak jeli ketika melihat adegan Rika yang menyatakan : … Setiap manusia berjalan dalam setapaknya masing-masing. Mereka berjalan sendirian.
Mereka bersama-sama berjalan kepada satu tujuan, yaitu … Tuhan.
Coba perhatikan adegan tersebut dalam film: Apakah Rika menyatakan kata tersebut berdasarkan sebuah Kitab suci? … Rika hanya mengutip dari Novel yang akan diberikan kepada Surya sebagai hadiah Ulang Tahun. Perhatikan dialognya: … Ini ada Novel bagus buat kamu. Aku mau bacakan. Ini juga kado buat kamu …Jadi Anggapan bahwa saya melalui film ini sedang mencampur adukkan agama, sangattidak relevan. Apakah mungkin seorang berpendapat (apalagi menyoal agama) hanya berdasarkan novel? Disisi lain, Jika kata-kata Rika (mengutip Novel) tersebut kita renungkan. Apakah selama ini kaum Nasrani di gereja tidak sedang melakukan sembahyang kepada Tuhannya? Begitu juga kaum Budha, Hindu, Yahudi? Apakah mereka di setiap sembahyang baik di gereja, klentheng, Pura sedang melakukan pemujaan kepada Setan? Apakah saya menyebut dalam FILM bahwa Allah Subhana wata’ala sebagaiTuhan Kaum Nasrani, Budha, Yahudi? Lalu dimana saya melakukan penyamarataan agama? Silakan lihat sekali lagi adegan filmnya …

11. BH: nasehat saya, bertobatlah segera sebelum azab Allah SWT menimpa anda, karena hidup di dunia ini hanya sementara dan tidak abadi. Belajarlah kembali mengenai Islam yang benar sesuai dengan Al Qur'an dan As Sunnah, bukan Islam yang diambil dari kaum Orientalis Barat dan para sineas berfaham sepilis yang sudah sangat jelas memusuhi Islam dan umat Islam.

HB: Di setiap akhir sholat, saya selalu menyatakan pertobatan kepada Allah denganmengucap Istighfar. Begitupun disetiap saya melakukan kesalahan baik yang sayasengaja maupun tidak. Bagi saya, Film ini merupakan proses pembelajaran saya mengenal lebih dekat agama saya. Buat saya, belajar agama adalah belajar menjadi manusia. Saya mengagumi rosululloh bukan karena beliau utusan Allah semata-mata. Tapi karena Rosululloh memberikan tauladan kepada kita bagaimana menjadi manusia dalam keluarga, masyarakat dan Tuhannya.

Mari kita sama-sama terbuka. Kita saudara. Sama-sama pengikut Rosululloh. Sesama Muslim saling mengingatkan. Semoga diskusi ini bisa menjadi pembelajaran kitabersama. Amin ….

Salam
Hanung Bramantyo

Selengkapnya:
http://madina-online.net/index.php/sosok/wawancara/13-wawancara/388-umat-menghujat-hanung-menjawab

(Copas dari milis AIPI)

Radikalisme Agama Oleh Said Aqil Siroj


Radikalisme agama, dalam pengertian konotatif sebagai ide dan praktik kekerasan bermotif agama, bukanlah sesuatu yang baru di Indonesia. Semestinya negeri ini sudah kenyang pengalaman, tetapi mengapa pemerintah selalu terlihat kedodoran?

Tentu saja pemerintah yang paling bertanggung jawab menangani radikalisme agama di Indonesia. Dalam hal ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono punya tanggung jawab besar. Sebagai kepala pemerintahan yang dipilih oleh lebih dari separuh warga negara, Presiden wajib melindungi dan menjamin hak hidup rakyat Indonesia.

Namun, dari serangkaian kasus yang terus terjadi, muncul kesan pembiaran. Penanganan aparatur pemerintah cenderung reaksioner. Dari hari ke hari kasus radikalisme terus terjadi dan tidak jelas apa capaian penanganan pemerintah. Ini memunculkan dugaan ketidakseriusan pemerintah menangani radikalisme agama.

Kesannya justru radikalisme agama menjadi komoditas politik sebagai pengalih isu. Peristiwa di Banten dan Temanggung, misalnya, secara drastis meredam gencarnya pemberitaan mengkritik kinerja pemerintah. Hingga hari ini tidak jelas apa hasil pengusutan dan penegakan hukum terhadap kedua peristiwa itu. Pengabaian terjadi hampir di semua kasus yang bermotif radikalisme agama.

Sebagai kesatuan paham dan gerakan, radikalisme agama tak mungkin dihadapi dengan tindakan dan kebijakan yang parsial. Dibutuhkan perencanaan kebijakan dan implementasi yang komprehensif dan terpadu. Problem radikalisme agama merentang dari hulu ke hilir.

Legal-formal dan budaya

Saya memandang penanganan radikalisme agama idealnya menempuh langkah legal-formal dan kebudayaan. Pendekatan legal-formal mengasumsikan tanggung jawab negara melalui koridor konstitusi dan prosedur hukum. Pemerintah bertanggung jawab melindungi hak hidup warga negara dan menjaga keutuhan NKRI sebagai harga mati. Empat pilar, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, mesti ditegakkan.

Membiarkan radikalisme agama sama artinya sengaja membiarkan pelanggaran demi pelanggaran kemanusiaan terus terjadi. Pembiaran adalah pelanggaran hak secara pasif. Bukan tidak mungkin masyarakat justru bertanya, apakah radikalisme agama sengaja dipelihara? Apakah radikalisme agama bagian dari desain besar untuk meraih dan mengamankan kepentingan politik tertentu?

Dalam hal ini Kementerian Agama yang berkewajiban menjadi ”penghulu” semua agama justru sering berat sebelah dan merugikan kaum minoritas. Kita tak melihat ada kebijakan preventif dari Kementerian Agama. Sebagian besar kebijakan bersifat reaksioner dan sekaligus menyuburkan potensi kekerasan.

Peran intelijen dan kepolisian juga patut dipertanyakan karena seolah-olah selalu kecolongan dan kebobolan. Kita tak habis pikir mengapa kasus demi kasus terjadi dan heboh di media massa.

Dari sekian catatan buruk yang ada, kepala pemerintahan harus melangkah taktis, strategis, fundamental, dan tegas. Ini mutlak karena bersandar pada hak warga negara dan keutuhan NKRI yang diamanatkan oleh konstitusi. Presiden tentu tidak ingin dianggap tak serius menangani deradikalisasi agama. Karena itu, upaya deradikalisasi agama tak boleh sebatas simbol tanpa kerja nyata.

Persilangan budaya

Bagaimana dengan langkah kebudayaan? Pertama-tama mesti dimengerti bahwa fakta sejarah keagamaan Nusantara berada pada suatu kontinum persilangan budaya. Wajah keagamaan di Indonesia menemui kematangannya justru karena telah bersalin rupa dalam paras Nusantara. Islam, sebagai misal, Islam Nusantara adalah wujud kematangan dan kedewasaan Islam universal. Secara empiris, ia terbukti bisa bertahan dalam sekian banyak kebudayaan non-Arab. Ia bahkan ikut menciptakan ruang-ruang kebudayaan yang sampai hari ini ikut dihuni oleh mereka yang non-Muslim sekalipun.

Memang sejak zaman Imam Bonjol sekalipun radikalisme agama sudah menjadi bagian dari kontestasi kebudayaan. Ia ada untuk mengacak-acak tradisi yang sudah mapan dengan isu puritanisme, pemurnian akidah, dan semacamnya. Radikalisme Islam macam ini mudah dikenali karena memilih jalur dakwah dengan perspektif kekerasan dan menghindari tegur sapa yang hangat.

Pandangan radikal melihat Islam Nusantara sebagai Islam yang menyeleweng dari garis doktrinernya—sesuatu yang juga menghinggapi pandangan peneliti Barat, seperti Clifford Geertz.

Saya menentang pandangan tersebut. Kematangan Islam Nusantara memungkinkannya menyumbang begitu banyak khazanah budaya justru karena dilandasi keyakinan keagamaan yang utuh. Saya menyebutnya sebagai semangat keragaman (roh al-ta’addudiyyah), semangat keagamaan (roh al-tadayyun), semangat nasionalisme (roh al-wathaniyyah), dan semangat kemanusiaan (roh al-insaniyyah).

Inilah yang dalam sejarah panjang Nahdlatul Ulama menjadi garis kesadaran sejarah yang bisa dengan jelas dilihat dalam kiprah NU mengawal sejarah panjang NKRI. Garis perjuangan NU ini terus tersambung hingga hari ini.

Maka, andai pemerintah tidak kunjung serius menangani radikalisme agama, Nahdlatul Ulama akan tetap bergeming. Dengan segala sumber dayanya, NU berkomitmen berjihad membela keutuhan republik ini dan kehidupan masyarakat. Hanya saja NU menyadari bahwa upaya deradikalisasi agama tak mungkin dikerjakan sendiri.

Radikalisme agama adalah problem bersama yang membutuhkan keseriusan bersama dalam menanganinya. Pamrih NU tidak bersandar pada kepentingan politik yang parsial dan membela rezim tertentu. Pamrih NU lebih terletak pada politik kebangsaan dan kerakyatan ketimbang sekadar politik kekuasaan.

Said Aqil Siroj Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ​
(Kompas, 19 April 2011)