Kata Menteri Agama, Tak Ada Diskriminasi Kelompok Minoritas


Menteri Agama Suryadharma Ali membantah jika pemerintah melakukan diskriminasi terhadap kelompok minoritas, khususnya dalam pembangunan tempat ibadah. Tidak hanya umat agama minoritas, menurut Suryadharma, yang mayoritas juga mengalami hal sama.
Hal itu dikatakan Suryadharma saat jumpa pers di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Selasa (9/7/2013).

Suryadharma menanggapi media yang terus menyoroti terhambatnya pembangunan Gereja GKI Yasmin di Bogor, HKBP di Filadelfia di Bekasi, dan tempat ibadah kelompok minoritas lainnya.

Menurut Suryadharma, masalah pembangunan gereja hanya terkait izin mendirikan bangunan (IMB) sehingga jangan ditarik ke ranah agama. Ia mengatakan, tidak hanya pembangunan gereja yang terhambat akibat IMB, tetapi juga pembangunan masjid.

Ketua Umum PPP itu memberi contoh pembangunan masjid di Jakarta oleh Djan Faridz sewaktu kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo alias Foke. Padahal, kata dia, waktu itu Djan Faridz masih menjabat Ketua Nahdlatul Ulama wilayah DKI Jakarta. Foke juga mantan Ketua NU Jakarta.
Selain sama-sama umat Islam dan NU, kata dia, Djan dan Foke juga Betawi. Tetapi, masjid yang akan dibangun Djan Faridz tidak dapat IMB karena persyaratan mendapat IMB belum bisa dilengkapi.

“Masalah ini tidak ada yang angkat,” katanya.

Suryadharma lalu mengutip data lama milik Litbang Kemenag, yakni dari tahun 1977 sampai 2004, pertumbuhan masjid di Indonesia hanya 64 persen. Adapun rumah ibadah umat Kristen sebesar 131 persen, Katolik 152 persen, Hindu 475 persen, dan Buddha 368 persen.
“Ada pandangan bahwa umat mayoritas menghambat pembangunan rumah ibadah minoritas. Dilihat data ini tuduhan itu sama sekali tidak terbukti,” kata dia.

(Kompas.com – 9 Juli 2013)

Mengubah Paradigma Pendidikan Agama


AM M Agus Nuryatno

Pluralisme adalah sebuah fakta sejarah. Tidak dapat dimungkiri dan diingkari oleh siapa pun.Kemajemukan adalah kehendak Tuhan agar manusia saling menyapa, mengenal, berkomunikasi, dan bersolidaritas. Pada zaman kontemporer saat ini sulit dicari satu negara dengan agama yang homogen. Umumnya heterogen dengan tingkat yang berbeda-beda.

Kemajemukan pada tingkat agama ini masih ditambah lagi kemajemukan pada wilayah tafsir agama. Tidak mengherankan jika banyak mazhab, sekte, atau aliran dalam agama apa pun. Semua ini akibat perbedaan kapasitas dan kemampuan berpikir masing-masing orang, perspektif, ataupun pendekatan.

Pertanyaannya: model pendidikan agama macam apa agar melahirkan pribadi-pribadi yang toleran, inklusif, humanis, dan meneguhkan spirit pluralisme dan multikulturalisme? Pendidikan agama yang diidealkan adalah pendidikan agama yang tidak doktriner sehingga tak memunculkan klaim-klaim kemutlakan. Ketika ruang perbedaan dan perubahan dalam agama telah dimatikan oleh sikap fanatik dan eksklusif, agama jadi antirealitas. Namun, justru sikap-sikap fanatik dan eksklusif ini dilahirkan oleh pendidikan agama.Tak mengherankan jika pendidikan agama dikritik antirealitas. Pendidikan agama dianggap kurang mengakomodasi realitas keberagamaan intra dan antarumat beragama, serta justru cenderung melahirkan eksklusifisme keberagamaan.

Model pendidikan agama

Untuk menjawab model pendidikan agama seperti apa yang memungkinkan melahirkan pribadi yang toleran, penting untuk mempertimbangkan model-model pendidikan agama yang dikembangkan Jack Seymour (1997) dan Tabita Kartika Christiani (2009). Mereka menjelaskan model-model pendidikan dan pengajaran agama, yaitu in, at, dan beyond the wall.

Pendidikan agama in the wall berarti hanya mengajarkan agama sesuai agama tersebut tanpa dialog dengan agama lain. Model pendidikan agama seperti ini berdampak terhadap minimnya wawasan peserta didik terhadap agama lain, yang membuka peluang terjadinya kesalahpahaman dan prejudice. Model pendidikan agama in the wall juga dapat menumbuhkan superioritas satu agama atas agama yang lain sehingga mempertegas garis demarkasi antara ”aku” dan ”kamu”, ”kita” dan ”mereka”.

Sikap toleransi, simpati, dan empati terhadap mereka yang beda agama sulit ditumbuh-kembangkan dari model pendidikan agama seperti ini. Model pendidikan semacam ini memosisikan agama lain atau penganut agama lain sebagai the others, ”yang lain”, yang akan masuk neraka karena dianggap kafir. Inilah bentuk truth claim yang berdampak pada monopoli Tuhan dan kebenaran. Seakan-akan kebenaran dan Tuhan hanya milik individu atau kelompok agama tertentu.

Model keberagamaan seperti ini pada gilirannya berkontribusi dalam menanamkan benih-benih eksklusivisme keberagamaan yang berpotensi memicu konflik dan kekerasan atas nama agama. Ironisnya, model pendidikan agama in the wall inilah yang kini mendominasi pendidikan agama di Tanah Air.

Paradigma pendidikan agama at the wall tidak hanya mengajarkan agama sendiri, tetapi sudah mendiskusikannya dengan agama yang lain. Tahap ini merupakan tahap transformasi keyakinan dengan belajar mengapresiasi orang lain yang berbeda agama dan terlibat dalam dialog antaragama.

Sementara pendidikan agama beyond the wall tak sekadar berorientasi untuk berdiskusi dan berdialog dengan orang yang berbeda agama. Namun, lebih dari itu mengajak peserta didik dari beragam agama untuk bekerja sama mengampayekan perdamaian, keadilan, harmoni, dan pelibatan mereka dalam kerja-kerja kemanusiaan. Semua itu untuk menunjukkan, musuh agama bukan pemeluk agama yang berbeda, melainkan kemiskinan, kebodohan, kapitalisme, kekerasan, radikalisme, ketidakjujuran, korupsi, manipulasi, kerusakan lingkungan, dan seterusnya.

Model pendidikan agama seperti ini juga untuk menunjukkan semua agama mengajarkan kebaikan, dan bahwa agama adalah untuk kebaikan manusia sesuai misi profetiknya. Maka, pendidikan agama yang saat ini cenderung eksklusif karena hanya mengajarkan agama sendiri (in the wall) perlu digeser ke arah inklusif dengan model at dan beyond the wall. Peserta didik tidak hanya kenal agama sendiri, tetapi juga bersentuhan dengan agama lain untuk melintasi tradisi lain dan kemudian kembali kepada tradisi sendiri.

Maka, pertanyaan selanjutnya: mungkinkah guru-guru agama kita mau dan sukarela mengajak peserta didik bekerja sama dengan siswa lain yang berbeda agama memerangi musuh utama agama, yaitu penindasan, kekerasan, kemiskinan, kebodohan, korupsi, dan kerusakan lingkungan? Mari kita belajar bersama.

M Agus Nuryatno Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

(Kompas, 13 Januari 2012)

Doa Bersama Antaragama


Martin Lukito Sinaga

Pada 27 Oktober 1986 di Asisi, Italia, Paus Yohanes Paulus II mengundang pemimpin agama-agama memanjatkan doa perdamaian bersama.Dalam sambutannya Paus menegaskan bahwa ”kedatangan kita dari berbagai penjuru di muka bumi ini, dan kini bersama-sama hadir di Asisi, adalah sebuah tanda betapa kita memiliki panggilan yang sama demi perdamaian dan harmoni dunia”. Asisi dipilih karena dari situ Fransiskus Asisi (1182-1226) berasal, pemimpin rohani Katolik yang semasa Perang Salib menyeberang ke Mesir dan berdialog dengan pemimpin Islam, Sultan Malik al-Kamil.

Setelah 25 tahun, Paus Bene- diktus XVI menghidupkan spirit Asisi itu dan mengundang tokoh- tokoh agama bertemu lagi di Asisi. Pertemuan kali ini bertema ”Pilgrims of Truth, Pilgrims of Peace”. Vatikan menegaskan pertemuan itu hendak mengaminkan bahwa setiap manusia pada akhirnya merupakan peziarah pencari kebenaran dan kebaikan dan, dalam terang peziarahan itu, bersama-sama kiranya mengukir dunia yang adil dan damai.Dalam hal itu sosok Fransis- kus Asisi dan Sultan Malik al-Kamil dapat membantu kita kini dalam perziarahan rohani. Di tengah kecamuk Perang Salib, pada 1219, Fransiskus Asisi menyelinap masuk tenda Sultan Malik di Damietta, Mesir. Ia ingin agar perang berakhir, juga agar sang Sultan mau menjadi Kristen.

Dalam kebesaran hati Sultan itu, ia dapat memahami dan menerima niat baik Fransiskus dan dalam terang pengalamannya berjumpa dengan orang Kristen Koptik di Mesir, ia meyakinkan Fransiskus bahwa bukannya beralih agama yang terutama, melainkan nyatanya keramahtamahan iman yang terbuka menerima pihak yang berbeda.

Iman yang bisa terbuka, dalam sikap keramahtamahan itu, sungguh diperlukan kala itu. Kini kita pun butuh iman atau keberagamaan yang terbuka, dan doa bersama lintas agama akan jadi bukti utama adanya iman sedemikian.

Sultan Malik pasti menemukan kedalaman dan kejernihan doa Fransiskus, seperti kerap ia rasakan dalam doa para sufi Muslim di Mesir. Apalagi diketahui bahwa kehidupan Fransiskus sedemikian sederhana, tak mencekau harta benda. Sang Sultan tahu bahwa sikap tak lekat akan yang material tadi datang dari sikap taat dan cinta kepada Allah, pemilik sekalian alam ini.

Dalam berdoa kita sebetulnya sedang mengakui misteri yang mengelilingi hidup manusia; doa menjadi jalan agar manusia bisa tiba pada sang Misteri itu. Ada momen berkomunikasi kepada- Nya dalam doa dan seiring dengan itu kemurahan-Nya pun te- rasa berlimpah.

Maka, sering dikatakan, doa adalah bahasa jiwa yang hendak membicarakan dan membuka hati terhadap mukjizat kehidupan yang tak habis-habisnya. Kalau demikianlah makna doa, maka keterbukaan hati dan iman pada Sang Ilahi yang murah hati tadi tak mungkin tanpa kehadiran sesama manusia. Yang melimpah dari-Nya pasti diberikan untuk semua manusia sehingga doa ”saya” selalu berdimensi syafaat: agar mereka, juga kita, diberi berkat dan sejahtera. Di sini ”saya dan engkau” bersama-sama dapat berdoa dan berharap akan kemurahan-Nya yang tak berbatas.

Perlu dicatat, doa bersama tak berarti agama-agama perlu melanjutkannya dengan ibadah bersama. Di sini ada batas yang menyingsing sebab, bagaimanapun, identitas agama selaku satu komunitas perlu dipertahankan. Melalui ibadah, umat beriman tengah menata identitas iman dan integritas kehidupan umatnya ke satu modus yang khas.

Ibadah adalah tindakan komunitas, sementara berdoa lebih sebagai sikap iman pribadi di hadapan Sang Misteri tadi. Dalam ibadah, agama sedang mendaku dan merayakan satu Nama yang khas, yang melaluinya mereka tiba pada Yang Ilahi tadi. Ibadah bersama dengan demikian akan membantu tiap agama mengorganisasi diri sebagai satu paguyuban yang utuh di tengah konteks kemajemukan masyarakatnya.

Makna berdoa bersama

Setelah peristiwa kekerasan sekitar Mei 1998, tokoh agama Indonesia yang dipimpin Gus Dur kumpul di Ciganjur berdoa bersama. Spirit dialog dan keterbukaan iman masing-masing terlihat dan hal itu dilakukan demi perdamaian di negeri kita ini.

Dalam doa bersama, agama- agama hendak melihat peristiwa kehidupan sehari-hari itu dari mata kemurahan Sang Ilahi. Kalau kesatuan Ilahi (tauhid) disebutkan dalam doa, itu berarti kemahakuasaan-Nya mutlak sehingga tak ada kekuasaan apa pun di bumi yang boleh mendaku mutlak. Kalau kasih Ilahi (Trinitas) dipanggil dalam doa, itu berarti Tuhan tak pernah berhenti mendorong manusia memilih jalan rekonsiliasi dalam hidupnya.

Dalam konteks keguncangan ekonomi global kini, doa agama- agama bisa bersama-sama mengaminkan berlimpahnya berkat- Nya, jauh dari sistem ekonomi global yang berasumsi dan beroperasi dengan prinsip kelangkaan. Pemberian Tuhan yang murah yang diaminkan agama-agama itu kiranya dilanjutkan dengan pengelolaan ekonomi yang bersifat kooperatif: semua dapat menikmati air, api (energi), dan tanah (sandang pangan).

Ekonomi yang bergerak dengan prinsip langka akan bersifat membedakan dan memprivatisa- sikan, lalu dalam sikap loba akan menimbun demi rasa aman sendiri. Namun, iman akan kemurahan-Nya yang melimpah tadi akan memberi sikap baru hidup ekonomi: bukan mengamankan diri sendiri yang terutama, tetapi menyediakan livelihood yang memberi sejahtera dan mata pencaharian bagi semua.

Martin Lukito Sinaga Pendeta GKPS; Kini Bekerja pada lembaga Oikoumene di Geneva, Swiss
(Kompas, 3 Des 2011)

Konflik Agama Timbul Karena Umat Tak Toleran


Jumat, 20 Mei 2011

Pembantu Deputi Bidang Politik Nasional Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional Brigjen (Pol) Manahan Daulay mengatakan ketiadaan toleransi beragama adalah penyebab menyuburnya konflik mengatasnamakan agama di Indonesia seperti kasus penusukan pendeta KHBP di Cikeuting, Bekasi dan penyerangan Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang. “Kunci kerukunan antar umat beragama terletak pada toleransi,” kata Manahan pada seminar dan deklarasi Majelis Sunni Syiah Indonesia (MUHSIN) di Masjid Akbar, Kemayoran, Jakarta, Jumat (20/5).

Dia mengkhawatirkan konflik beragama yang tidak bisa dicegah akan membuat perbedaan antarwarga beragama menjadi kian dalam sehingga menggangu kestabilan negara. Untuk mengatasinya, Manahan menekankan empat pilar yang harus dipegang teguh antara lain pendekatan berbasis empat hal yaitu Bhineka Tunggal Ika, musyawarah untuk mufakat, hukum, dan persatuan dan kesatuan.

“Setiap masalah bisa diselesaikan dengan dialog dan menghormati perbedaan. Jika kita ribut terus maka pembangunan nasional akan terhambat,” katanya.

Duta Besar Iran untuk Indonesia Mahmoud Farazandeh yang turut menghadiri seminar ini mengamini pendapat Manahan.  “Agama bukanlah alasan perbedaan pendapat, tapi agama mengajarkan kita rasa saling mengerti dan memahami masalah.”  (antaranews.com)

Awas Ada Ancaman atas Gereja Santo Johanes Baptista Parung, Kabupaten Bogor


Thursday, April 21, 2011, 9:46 AM 

Dear all,

Selasa kemarin pihak Bupati Kabupaten Bogor dari partai PPP dalam sebuah rapatmendesak pihak gereja Katolik Paroki Santo Johanes Baptista Parung untuk tidak menggelar acara kebaktian Minggu Suci di lahan miliknya sendiri tapi harus memindahkannya ke sebuah lokasi lain di Telaga Kahuripan. Hal ini tentu akan menyulitkan pihak umat paroki karena Telaga Kahuripan letaknya cukup jauh dari lokasi gereja di Tulang Kuning .

Selain itu masyarakat di sekitar Kecamatan Parung juga mendukung pihak gereja untuk tetap mengadakan kebaktian 3 Hari Suci di lokasi gereja di Kampung Tulang Kuning.

Berikut ini kami berikan alamat lengkap gereja sbb :

Paroki Santo Johanes Baptista
Jalan Raya Metro Parung
Kampung Tulang Kuning
Rt 01, Rw 06
Desa Waru Induk No. 36
Kecamatan Parung Kabupaten Bogor (sesudah gerbang Perum Metro Parung bersebelahan dengan Klenteng/Bio)
Telepon gereja 0251-861 0067
Pengurus gereja Bapak Alexander AM Hp 08129 317 931 dan +62 85814911 977

Adapun acara misa kudus (kebaktian) 3 Hari Suci sbb :

Hari Kamis Putih (hari ini)
tanggal 21 April. Misa Suci jam 18.00 -20.00 WIB

Hari Jumat Agung (besok) tanggal 22 April Kebaktian jam 14.00 – 18.00WIB

Malam Paskah, Sabtu tanggal 23 April. Kebaktian jam 18.00 – 20.00 WIB

Minggu Paskah, hari Minggu tanggal 24 April jam 07.30 – 09.30 WIBpagi

Mohon dengan sangat Anda semua meliput dan memantau acara Minggu Suci di Parung

Untuk informasi selanjutnya mohon Anda menghubungi pihak gereja atau Bapak Alex dengan nomor telpon di atas. Terima kasih sebesar-besarnya atas perhatian dan bantuan serta kerja sama yang baik dari Anda sekalian

Kepada yang merayakannya saya ingin ucapkan Selamat Pesta Paskah bagi Anda dan keluarga sekalian

Salam hormat
Theophilus Bela
Ketua Umum Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ)Sekjen Indonesian Committee on Religion and Peace (IComRP)Duta Besar Perdamaian (Ambassador For Peace)
(Milis APIK)

Penusuk Pendeta HKBP Divonis 5 Bulan Lebih


Liputan6.com, Bekasi: Majelis hakim Pengadilan Negeri Bekasi, Jawa Barat, menjatuhkan hukuman lima bulan 15 hari penjara kepada Ketua Front Pembela Islam Bekasi Raya. Murhali Barda terbukti menganiaya jemaat Huria Kristen Batak Protestan Bekasi, sehingga seorang pendeta terluka parah karena ditusuk.

Dalam fakta persidangan, terdakwa terbukti menyebarkan pesan singkat atau SMS yang berisi hasutan dan permusuhan. Akhirnya terjadi penusukan pendeta HKBP Luspida Simanjuntak. Usai persidangan, Murhali Barda mengaku siap menerima hukuman. Adapun sidang pembacaan vonis itu dihadiri puluhan anggota FPI.

Vonis ini tak jauh berbeda dengan tuntutan jaksa yang enam bulan penjara di Pengadilan Negeri Bekasi. Jaksa menganggapnya terdakwa terlibat dalam kasus tindak kekerasan terhadap jemaat HKBP yang akan beribadah di Ciketing, Bekasi, Jawa Barat, 12 September tahun silam

(liputan6.com)

Marak Kekerasan Berbau SARA, SBY Didesak Ganti Menteri Agama


Jakarta – Kekerasan yang mengatasnamakan agama lagi-lagi pecah di Indonesia. Dua insiden terakhir yaitu penyerangan terhadap jemaat Ahmadiyah Cikeusik dan gereja di Temanggung diduga saling terkait dan teroganisir.

Insiden ini tidak lepas dari tanggung jawab Presiden SBY sebagai kepala negera. Sebagai bentuk tanggung jawabnya, Presiden diminta mengganti Menteri Agama Suryadharma Ali yang dianggap gagal menciptakan keharmonisan antar umat beragama.

“Maraknya kekerasan berbasis agama adalah indikator kegagalan menciptakan dan menjaga iklim toleransi yang menjadi tugas pemerintah,” kata Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Erna Ratnaningsih dalam rilisnya yang diterima detikcom, Rabu (9/2/2011).

Bagi YLBHI, tindakan main hakim sendiri ini jelas mengebiri hak asasi manusia (HAM). Hukum dianggap telah mati dan tidak berfungsi terhadap para pelaku kekerasan yang berdalih agama.

“Kejadian seperti ini sudah sejak tahun 2001, aksi kekerasa massa seakan memiliki impunitas terhadap hukum ini telah mengebiri HAM, yaitu hak untuk hidup, hak untuk berdiam diri di suatu tempat dengan aman,” ujarnya.

Insiden ini jelas merendahkan harkat dan martabat kemanusiaan seseorang. Berkaca dari peristiwa itu, tidak hanya Menag yang harus dicopot dari jabatannya, aparat penegak hukum juga tidak bisa lagi menganggap ini persoalan sepele.

“Kami mendesak kepada Polri untuk melakukan pengamanan secara maksimal  terhadap daerah rawan kekerasan berbasis agama seluruh wilayah Indonesia,” katanya.

Kekerasan seperti ini harus segera diusut tuntas. Polri diharapkan tidak tebang pilih menindak pelaku tanpa memandang asalnya.

“Polri juga harus mengusut tuntas peristiwa ini. Tangkap dan proses secara hukum para pelakunya secara dengan transparan dan adil tanpa pandang bulu dan kelompok,” tandasnya.

(lia/van)

Sumber: http://www.detiknews.com/read/2011/02/09/061251/1564314/10/marak-kekerasan-berbau-sara-sby-didesak-ganti-menteri-agama