Indonesia Perlu “Restorasi Meiji”


Indonesia perlu melakukan gerakan restorasi di segala bidang untuk mencapai kebangkitan nasionalisme, kata mantan Direktur Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial, Dawam Rahardjo.

“Hal itu perlu dilakukan karena Indonesia mengalami gejala deindustrialisasi yang ditandai dengan pengangguran massal, krisis kepemimpinan, dan instabilitas politik akibat konflik antarpartai politik,” katanya di Universitas Gadjah Mada,Yogyakarta, pada diskusi “Kebangkitan Ekonomi Nasional”, Jumat. Gerakan restorasi yang dilakukan dapat menyerupai Restorasi Meiji yang pernah dilakukan Jepang.

Kegiatan pembangunan di Indonesia harus dikembalikan ke tangan anak bangsa dengan industrialisasi dan modernisasi berbasis teknologi yang dihasilkan usaha bangsa sendiri.

“Restorasi yang dilakukan harus menuju pada pola pembangunan yang berkepribadian dan mandiri. Selain itu, juga menghidupkan kembali program pengembangan ekonomi kerakyatan yang didukung oleh pengembangan ekonomi kreatif,” katanya.

Ia mengatakan, restorasi politik juga perlu dilakukan untuk mencapai kestabilan politik, negara yang kuat, dan kepemimpinan yang efektif dalam demokratisasi.

“Banyaknya kasus korupsi yang melanda anggota DPR itu terjadi akibat belum adanya mekanisme undang-undang pembiayaan partai,” katanya.

Hal itu, sambungnya, menyebabkan banyak anggota DPR menjadi calo proyek untuk membiayai partai.  Hampir 70 persen anggota DPR adalah pengusaha dan artis.”Banyak dari mereka menjadi calo proyek untuk membiayai partai. Partai politik itu seharusnya mengembangkan diri sebagai partai kader, bukan partai massa, sehingga diisi orang-orang ahli,” katanya.(Antaranews.com)

Iklan

KAJIAN ZIONISME INTERNASIONAL (gurita Zionisme masuk dalam berbagai bidang kehidupan)


KONGRES KAJIAN ZIONISME INTERNASIONAL

26 Desember 2009, Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jl. Raya Menteng, Jakarta Pusat, 09.00 – 14.00 WIB.

Keynote Speaker: Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K)

Pembicara:

SESI 1:
1) Asep Sobari (Peneliti INSISTS)
2) Nirwan Syafrin (Direktur Eksekutif INSISTS)
3) Ridwan Saidi (Budayawan Betawi)
4) Tiar Anwar Bachtiar (Ketua Pemuda PERSIS)
5) Indra Adil (penulis buku “The Lady Di Conspiracy”)

SESI 2:
1) Muhaimin Iqbal (Direktur Pengelola Gerai Dinar)
2) Adnin Armas (Peneliti INSISTS)
3) Joserizal Jurnalis (Presidium MER-C dan anggota FUI)
4) Herry Nurdi (Pendiri situs Eramuslim dan Pemred Sabili)

Moderator: Yanuardi Syukur

Pendahuluan
Zionisme adalah suatu gerakan orang-orang Yahudi untuk mendirikan negara Israel. Selain itu, gerakan ini ditujukan untuk menguasai dunia dengan cara apapun. Mereka masuk ke berbagai bidang kehidupan, baik politik, ekonomi, hukum, sosial-budaya dll. Mereka ada di mana-mana, ada di sekitar kita, bahkan ada dalam diri kita. dalam makanan yang kita makan, dalam pakaian yang kita pakai, dalam darah kita, dalam pikiran kita. bahkan tanpa sadar, pelan tapi pasti, kita sedikit-banyak telah mengikuti mereka, kita mengabdi kepada mereka.

Berikut ringkasan dari masing-masing pembicara (maaf, baru dalam bentuk ringkasan, lain waktu akan saya buat tulisan yang bagus).

1. Dr. dr. SITI FADILAH SUPARI, Sp.JP(K)
– Agar Yahudi tetap eksis di dunia ini dan bisa mendirikan negara besar, mereka harus memiliki power, salah satu instrumennya adalah penguasaan ekonomi dunia.
– Kebanyakan dari kita salah hanya menilai sebatas simbol semata, bahwa Zionisme adalah perang agama, bahwa mereka hanya melawan Islam. Padahal, ibarat gunung es, gurita Zionisme masuk dalam berbagai bidang kehidupan, terutama bidang pendidikan dan kesehatan, karena dua bidang ini adalah kebutuhan mendasar manusia.
– Sebenarnya yang dimaksud reformasi, seperti halnya penggantian menteri atau jabatan lain adalah membuka jalan bagi masuknya zionisme.
– Contoh lain adalah reformasi dalam bidang pendidikan, yaitu ada Badan Hukum Pendidikan (BHP) membuat kampus memiliki otonomi. Jika kampus menerima sumbangan dari luar/pihak asing, biasanya mereka meminta pendidikan yang diterapkan harus sesuai dengan visi mereka (Zionisme)..
– Yang terpenting dari semua itu adalah bagaimana melawan mereka secara cerdas dan komprehensif, dalam hal ini butuh power.
– Musuh Zionisme tidak hanya umat Islam, karena hal ini tidak semata-mata menyangkut soal agama.

2. ASEP SOBARI
Tema: Konsep Mesianisme Yahudi, Sebuah Perkenalan”

– Mesias harus dari keturunan Daud
– Mesias harus merupakan manifestasi dari Tuhan, ada unsur inkarnasi dan pantheisme.
– Mesias sudah masuk dan menjadi spirit dari suatu kelompok atau gerakan kaum Yahudi.
– Karena kaum Yahudi selalu tertindas, maka muncullah konsep Juru Selamat.
– Maka peristiwa Halaucost adalah sebuah keharusan yang diciptakan oleh orang Yahudi sendiri sebagai bukti nyata bahwa mereka tertindas.
– Sejak dini, anak-anak Yahudi telah ditanamkan bahwa mereka adalah kaum tertindas, sehingga kehadiran seorang Mesias sangat dibutuhkan.
– Mereka punya cita-cita untuk hidup sejahtera dalam 1000 tahun, maka diadakanlah perayaan milenium secara besar-besaran.

3. NIRWAN SYAFRIN
Tema: “Pengaruh Zionisme Yahudi Terhadap Alam Pemikiran Barat”

– Mereka punya konsep umat terpilih/agama rasis
– Adanya kaitan erat antara Yahudi dan Kristen
– Mereka mencari siapa penulis Injil yang sebenarnya, sehingga lahirlah teori-teori baru/isme, konsep-konsep inilah yang kemudian mereka terapkan juga terhadap Islam atau boleh disebut sebagai Kristenisasi Islam yang akan merusak Islam. Contoh, buku “Menggugat Otentisitas Wahyu”
– Post modernisme sebenarnya adalah masalah internal yang dihadapi Yahudi

4. RIDWAN SAIDI
Tema: “Menelusuri Jejak Gerakan Zionisme di Indonesia”

– Yahudi sebenarnya tak memiliki budaya, ia mewarisi budaya Mesir Kuno (Kabbalah), sedangkan budaya Mesir sendiri tak terwariskan/ tak ada bekasnya kini.
– Perjalanan Columbus ke benua Amerika ada pendananya yaitu Yahudi, bisa juga bertujuan untuk membunuh orang Islam dari penduduk asli Amerika yang telah diislamkan oleh para pelarian/imigram dari Andalusia dan Afrika.
– Ternyata uang Rupiah kita tidak ada tulisan Republik Indonesia-nya. Beda dengan uang Dollar Amerika ada tulisan United States, uang Arab Saudi dan Thailand juga ada. Ini membuktikan bahwa adanya ketergantungan kita (ekonomi) terhadap Yahudi.
– Orang-orang yang berdemo antikorupsi disebutnya sebagai main orkes-orkesan (main-main belaka), kenapa tidak langsung ke intinya saja.
– Cheng Ho bukan Muslim
– VOC bangkrut karena Cina, dan Cina memiliki sistem birokrasi sendiri di Indonesia
– Yang diacak-acak oleh Yahudi tidak hanya Islam, Kristen malah lebih dulu, buktinya dituhankannya Yesus.
– Marjinalisasi Tuhan
– Penjajah datang pertama kali di Indonesia bukan membuat gereja tapi sinagog.
– Membesar-besarkan Hindu/Budha, contoh kasus Borobudur.
– Pengucapan salam yang ditambah, salam sejahtera-om santi-santi om. Harusnya cukup assalamu’alaikum wr wb saja.
– Dari segi hukum yaitu Piagam Jakarta
– Warna biru adalah warna Yahudi, ia menyinggung bahwa logo PKS adalah logo Templar.
– Ia juga menyinggung soal patung Obama di Menteng yang ia sebut sebagai “patung anak kecil”, “patung tuyul hitam”.

5. INDRA ADIL
Tema: “Zionisme Yahudi dan Konspirasi Politik Global”

– Protokol Zion yang berisi 24 pasal adalah rancangan untuk menguasai dunia, alatnya adalah pembentukan PBB berdasarkan Kongres Wina.
– Semua peperangan/konflik yang terjadi di dunia adalah sengaja diciptakan oleh Yahudi.
– Dibentuknya paham Komunis adalah salah satu upaya agar dunia selalu berkonflik (AS punya musuh), pendananya adalah Freud.
– Jika dunia selalu berperang, pemenangnya selalu Yahudi.
– Dewi Horus/logo garuda, bintang 13 => bendera Israel, matahari, mata satu semua itu adalah logo-logo Firaun yang diambil dari Namrudz. Namrudz beristrikan ibunya sendiri yaitu Semiramis, anaknya bernama Talmud (Dewa Matahari) yang kemudian menjadi kitab suci pengganti Taurat.
– Logo uang Dollar serba 13, tulisan United Nations juga 13, logo Garuda Pancasila juga mengadopsi Yahudi. Tak ada logo di Indonesia yang tak mengadopsi logo Yahudi.
– Bulan dan bintang adalah logo yang dipakai menjelang keruntuhan Turki Usmani, berawal dari kisah Ibrahim yang sedang mencari Tuhan.
– Islam tak mengenal simbol, Platolah yang menciptakan simbol.
– Bank Indonesia harus terpisah dari pemerintah, agar tidak diintervensi sehingga Yahudi bebas mengaturnya.
– LSM di negara-negara Muslim sengaja diperbanyak, agar pemberi dana bisa memaksakan visi-misi mereka.
– Di Indonesia banyak partai, siapapun yang menang, tetap saja Yahudi pemenangnya.

6. TIAR ANWAR BACHTIAR
Tema: “Menyoal Problematika Umat: Kemelut Masjidil Aqsha dan Derita Palestina”

– Perdana Menteri baru Palestina, Salam Fayed mendapat dukungan dari Uni Eropa, karena Salam Fayed sebenarnya adalah boneka Yahudi. Dukungan untuk negara baru Palestina di Tepi Barat, bukan Palestina di Gaza. Hal ini nantinya akan lebih memudahkan pembentukan negara Israel Raya. Dukungan ini sebenarnya adalah munculnya aktor lama dengan pahlawan baru.
– Pencitraan Hamas yang jelek dengan kondisi Gaza yang sangat buruk dalam segala bidang.
– Peperangan/kekacaua n dunia adalah sebuah keharusan untuk mengundang Mesias. Efek sampingnya adalah mendapat keuntungan ekonomi/politik.
– Semua kasus yang terjadi di Indonesia saat ini: KPK-POLRI-Kejagung dan Bank Century adalah ciptaan dan permainan Yahudi.

7. MUHAIMIN IQBAL
Tema: “Pengaruh Zionisme Terhadap Kebijakan Ekonomi Nasional”

– Cara Yahudi menguasai perekonomian dunia adalah MEMISKINKAN mayoritas penduduk dunia dan MENGKAYAKAN segelintir orang. Yang dimaksud segelintir orang ya Yahudi sendiri.
– Keputusan tahun 1971: tidak boleh mengaitkan nilai mata uang dengan emas.
– Dalam rangka otonomi BI maka dibentuklah undang-undang BI, salah satu pasalnya adalah tidak boleh ada campur tangan dari pemerintah.
– Ekonomi Indonesia dikendalikan oleh perbankan, perbankan dikuasai oleh IMF dan IMF adalah Yahudi (Ali Imran: 75).
– Satu-satunya strategi Yahudi dalam bidang ekonomi adalah lewat permainan mata uang.
– Dari segi ekonomi, mulai dari yang paling kecil seperti konsumsi mie, susu atau daging, semuanya adalah dari impor. Dalam soal daging, mereka lebih menonjolkan sapi daripada kambing, karena sapi tidak bisa hidup merata di semua tempat sehingga harus impor. Mereka juga menjelek-jelekkan kambing, padahal kambing adalah daging paling rendah lemak dan kolesterol. Kenyataannya para nabi terdahulu kebanyakan penggembala kambing. Dan susu kambing adalah susu terbaik setelah ASI.

8. ADNIN ARMAS
“Pengaruh Zionisme Terhadap Pendidikan Nasional”

– Injil sebenarnya bukan kitab suci, tapi disucikan oleh kelompok/masyarakat tertentu (Baruch Spinoza, 1632-1677).
– Abraham Geiger (1810-1874) adalah pendiri Yahudi Liberal dan pelopor Studi Islam.
– Mereka meninjau Islam dari sejarah dan diaplikasikan ke dalam berbagai disiplin ilmu (historis-kritis)
– Sunnah dianggap sebagai “living tradition” bukan sebagai perkataan dan perbuatan Nabi saw.
– Ignaz Goldziher adalah satu-satunya Yahudi yang kuliah di Al Azhar Mesir dan ikut shalat Jum’at.

9. JOSERIZAL JURNALIS
Tema: “Zionisme terhadap Penguasaan Media”

– Ada umat Islam yang menjadi bagian Yahudi baik sebagai member atau mengikuti pola pikirnya, dalam rangka mendapatkan society (uang, mindset, karir pilitik)
– Koran yang didirikan oleh Muchtar Lubis adalah proyek CIA/AS.
– Media akan melahirkan output/keberpihakan , yang sebenarnya adalah pertarungan antara liberal dan nonliberal)
– Contoh kasus: flu burung, sampel vaksin di Sukabumi, AIDS yang merupakan rekayasa Yahudi
– Terkait flu burung, pada kenyataannya tidak ada pemelihara atau pemotong ayam yang terkena flu burung.
– Kata mereka untuk mencegah AIDS dengan memakai kondom, ini hanya sekedar mengaburkan persoalan yang sesungguhnya.
– Kasus di Nabire yaitu meninggalnya 170 orang penduduk, ternyata diketahui ada yang memasukkan sesuatu di sumber air mereka. Hal ini terkait adanya investor asing yang hendak membangun tambang di daerah itu, sementara warga menolak pindah. Kasus ini tak pernah terungkap.
– Keberpihakan media salah satunya terkait soal pemberitaan Palestina.
– Perang Salib sebenarnya adalah juga ciptaan Yahudi

10. HERRY NURDI
Tema: “Titik Lemah Sang Gurita”
– Yahudi sebenarnya lemah, tapi kita lebih lemah dari mereka
– Kurma yang dimakan oleh penduduk dunia termasuk Indonesia kebanyakan tumbuh di Israel dari tanah milik orang Palestina
– Mereka tidak perlu membunuh rakyat dunia atau Indonesia dengan senjata, cukup dengan musik dan budaya.
– Di Israel ada kl 40 partai, dari yang mengusung soal ganja hingga ganti kelamin.
– Cara sederhana menghadapi mereka adalah banyak berolahraga, silaturrahmi, belajar dsb, hal ini akan membuat mereka sangat takut, termasuk juga mempromosikan pemakaian dinar.
– Menginternalisasi seluruh dogma menjadi aksioma/prinsip hidup, mulai dari hal yang sangat kecil: makan yang halal, mengurangi musik dan menonton TV.
– Sebenarnya jika dipreteli dari yang paling kecil sampai yang paling besar, semua takkan pernah lepas dari intervensi Yahudi.
– Satu-satunya senjata sederhana untuk melawan mereka adalah JANGAN MENGIKUTI HAWA NAFSU MEREKA (Al Baqarah: 120).

(Rawamangun, 12/27/2009 10:32:33 AM)

Salam,
Ikhwan Al Bayya

Pernyataan Pers: Bencana Tsunami Keadilan


Pernyataan Pers
BENCANA TSUNAMI KEADILAN

Komite Darurat Keadilan, yang terdiri dari sejumlah organisasi non pemerintah dan pegiat anti korupsi se-Indonesia, menyatakan bahwa Indonesia harus menyelesaikan persoalan besar korupsi. Hal ini ditunjukkan secara jelas oleh substansi rekaman penyadapan komunikasi telepon KPK yang diperdengarkan dalam sidang Mahkamah Konstitusi kemarin, 3 Nopember 2009.
 
Bagi kami, kasus Bibit – Chandra hanya masalah yang timbul di permukaan dari setumpukan gunung es Mafia Peradilan. Melalui rekaman itu, publik bisa menyaksikan sendiri bagaimana Anggodo, saudara dari Anggoro tersangka kasus korupsi bisa mengatur perkara. Melalui rekaman itu, publik juga mengetahui bobroknya institusi Kejaksaan Agung dan Kepolisian sehingga para petingginya malah mendukung Anggodo untuk mengkriminalkan Pimpinan KPK.

Jika dalam kasus kriminalisasi KPK polisi dan jaksa begitu percaya diri melakukan rekayasa bersama Anggodo, bagaimana dengan kasus-kasus lain yang selama ini tidak mendapatkan perhatian publik.
 
Begitu dahsyatnya korupsi di tubuh penegak hukum membuat kami yakin bahwa korupsi merupakan penyebab mengapa dalam banyak kasus penyelewengan, korupsi, pelanggaran HAM, perusakan lingkungan dan berbagai kasus lainnya, hukum tidak berjalan. Dampak terbesar dari korupsi di kalangan penegak hukum adalah hilangnya
keadilan bagi rakyat. Bila penegak hukum bisa diatur-atur oleh cukong dan jika polisi dan jaksa bisa dikendalikan oleh koruptor, maka tidak akan ada keadilan untuk rakyat. Keadilan tidak akan terealisasi bila korupsi, terutama mafia peradilan, tidak diberantas tuntas.

Karena besarnya persoalan tersebut, tidak mungkin hanya diselesaikan melalui pembentukan Tim Verifikasi Fakta (TVF) yang baru dibentuk beberapa hari yang lalu. TVF tidak memiliki cukup wewenang, otoritas dan sumber daya untuk membongkar berbagai skandal di Kejaksaan dan Kepolisian. TVF juga tidak memiliki cukup otoritas untuk membongkar berbagai skandal yang menarik perhatian publik dan menjadi awal dari kriminalisasi Bibit – Chandra, yakni skandal Bank Century.

Korupsi oleh para penegak hukum merupakan ancaman terhadap demokrasi. Demokrasi hanya bisa berjalan dengan ditopang oleh kekuasaan peradilan yang independen, kredibel dan berintegritas. Demokrasi hanya bisa berjalan apabila ada supremasi hukum. Tanpa itu semua, demokrasi sesungguhnya berdiri di atas pondasi pasir yang gampang runtuh. Mafia peradilan sesungguhnya adalah ancaman bagi demokrasi.

Rekaman yang diperdengarkan dalam sidang MK kemarin juga menunjukkan kepada kita semua bahwa lembaga peradilan belum bisa diharapkan untuk memberikan keadilan. Keadilan masih tak terjangkau bila hukum kita tercemar oleh praktek korupsi.

Oleh karena itu, sejatinya kasus Bibit – Chandra adalah puncak gunung es dari tiadanya keadilan di Indonesia. Rekaman tersebut seharusnya merupakan petunjuk adanya persoalan besar yang harus diselesaikan oleh Presiden secepatnya. Apabila kasus ini tidak segera dituntaskan, kita kuatir bahwa demokrasi terancam dan keadilan akan semakin jauh dari rakyat.

Oleh karena itu, sebagai respon terhadap rekaman di MK, kami menuntut

1. Presiden harus segera mengambil langkah-langkah strategis dan konkret untuk membersihkan mafia peradilan. Ini bukan saatnya bagi Presiden untuk sibuk menjaga citra karena yang terjadi sesungguhnya adalah hancurnya kredibilitas, kehormatan dan legitimasi lembaga peradilan dan tsunami keadilan.
 
2. Presiden harus segera membersihkan Kejaksaan Agung dan Kepolisian dari praktek korupsi, kong-kalikong dan berbagai penyelewengan lainnya. Pembersihan tidak cukup hanya dengan mencopot Jaksa Agung dan Kapolri, akan tetapi juga memastikan para pejabat tinggi di kedua lembaga tersebut diisi oleh orang-orang yang memiliki integritas.
 
3. Presiden dan lembaga negara lainnya harus memberikan dukungan politik kepada KPK untuk melakukan pembersihan kedua lembaga tersebut. Terutama karena sesungguhnya mandat KPK adalah menangani kasus korupsi yang melibatkan penegak hukum dan melakukan supervisi terhadap jaksa dan polisi dalam penegakan hukum kasus korupsi.

4. Mendorong pembersihan advokat dari korupsi. Rekaman yang diperdengarkan oleh sidang MK adalah bukti peran advokat dalam mafia peradilan, sebuah realitas yang selama ini terabaikan. Oleh karena itu, daripada sibuk berkelahi soal organisasi adalah lebih penting untuk mendorong pembersihan korupsi yang melibatkan advokat.

5. KPK juga harus mengusut skandal kasus Century yang merupakan awal dari   sengketa Cicak vs Buaya. KPK secara sistematis dihambat untuk melakukan penegakan hukum dalam dugaan korupsi yang melibatkan elit politik dan ekonomi. Oleh karena itu, untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap pemerintah, maka kasus Century harus dituntaskan oleh KPK.

Jakarta, 4 Nopember 2009
 
Komite Darurat Keadilan:
ICW, KontraS, Walhi, Imparsial, PBHI-Jkt, PKMI, PPRP, Kiara, KRHN, IKOHI, TI Indonesia, PEC,  JSKK, Pimp. Pemuda Al Irsyad, PB HMI MPO, IPC, Neo Indonesia Timur, HRWG, Demos, JAMAN, Koalisi NGO Aceh, Asmara Nababan, Suciwati, Bambang Widodo Umar, Dadang Trisasongko, Romo Sandyawan, Indra J Piliang, LeIP, PSHK, MM. Billah, Yayasan SET, LBH Masyarakat, LBH Jkt, PATTIRO, dll.

Sumber: Milis AIPI

Politisasi Agama Masih Menjadi Isu Krusial Tahun 2009


Untuk pertama kalinya Center for Studies and Cross-Cultural Studies (CRCS) Universitas Gajah Mada (CRCS UGM) melakukan riset dan menerbitkan laporan tahunan tentang kehidupan beragama di Indonesia, khususnya menyangkut pluralisme beragama sepanjang tahun 2008.

Sepanjang ahun 2008 kehidupan relasi keagamaan di Indonesia masih banyak diwarnai oleh praktik-praktik kekerasan, dan keberadaan SKB dirasa tidak terlalu efektif dalam pelaksanaannya.

Konflik -konflik kekerasan yang diwarnai oleh kekerasan internal agama sendiri yang justru lebih dominan terjadi. Upaya pemerintah untuk memfasilitasi dialog patut mendapat apresiasi dan perlu dilanjutkan lebih maksimal lagi.

Prof. Dr. Franz Magnis Suseno dalam ruang diskusi panel (9/1) lalu di Aula Nurcholis Madjid, Jakarta, mengungkapkan bahwa Indonesia dinilai baik dalam mengatasi terosrisme tetapi Indonesia belum berhasil mengatasi masalah teologi.

Franz juga menanyakan tentang tendensi kearah manakah Indonesia ini ke depannya dan apa yang harus kita lakukan.

Melihat adanya kecenderungan pemerintahan yang berbau syariah, dinilai mengkhawtirkan dan menimbulkan keresahan bagi kelompok minoritas apakah Indonesia akan tetap menjadi ranah bagi agama-agama yang berbeda atau tidak?”ujar Franz.

Sekalipun dalam kehidupan toleransi dan keterbukaan tetapi dalam praktiknya masih terselip ketakutan dan kecurigaan terhadap kelompok minoritas, melihat hal tersebut pemerintah dianggap masih belum melakukan tugasnya dengan baik.

Terkait dengan konflik internal agama yang marak terjadi Franz berpendapat bahwa masing-masing agama berhak menarik batas-batasnya akan tetapi tetap harus menghormati mereka yang berbeda agama, untuk itu peranan pemimpin sangat penting untuk memberikan panutan.
Yoseph Stanley (Komnas HAM) mengatakan bahwa pemerintah jangan terlalu banyak mengintervensi warga negara.

Menurutnya, pemerintah dalam setiap ucapannya cenderung menuntut kewajiban asasi masyarakatnya tanpa melihat bahwa merupakan kewajiban bagi pemerintah untuk mengurusi masyarakat negaranya.

Menurutnya, dalam beberapa kasus pelanggaran HAM yang terjadi , pemerintah punya hak untuk melakukan pembatasan akan tetapi tetap berdaulat dan bersifat adhoc.

Pemerintah berhak melakukan pembatasan bahkan mengehntikan apabila dinilai dapat membahayakan jiwa masyarakatnya seperti contoh kasus ajaran sesat yang menyatakan bahwa tanggal 6 Juni 2006 merupakan hari kiamat tahun 2006, dalam hal ini pemerintah berhak untuk menghentikan ajaran tersebut.

Kasus konflik keagamaan seputar keberadaan rumah ibadah masih banyak terjadi sepanjang tahun 2008. Dalam catatan riset CRCS tercatat setidaknya terdapat 12 kasus yan menyangkut masalah keberadaan rumah ibadah sepanjang tahun 2008. Kasus-kasus yang senyatanya terjadi bisa lebih dari jumlah tersebut.

Lebih lanjut Zainal Abidin Bagir selaku Presiden Eksekutif CRCS UGM mengatakan bahwa politisasi agama masih menjadi isu yang perlu diperhatikan baik menyangkut jabatan tertentu di dalam birokrasi pemerintah, Pilkada dan Pemilu tahun 2009. Indikator terjadi atau tidaknya politisasi agama mesti dimasukkan sebagai poin dalam indicator fairness sistem monitoring Pemilu 2009. Gerakan untuk menguji dan mendesak para kandidat dewan, wakil daerah dan calon presiden-wakil presiden apakah mereka siap untuk memperjuangkan kebebasan beragama dan anti-kekerasan patut dipertimbangkan menjadi isu strategis,”ujarnya.

Kesimpulan dari hasil laporan tersebut adalah bahwa perluanya mensinkronkan pemenuhan kebebasan beragama dan pembatasannya, tanpa itu maka akan banyak terjadi kriminalisasi praktik-praktik ekspansi keagamaan.

Dalam laporannya CRCS UGM berusaha menghindari pemunculan angka tanpa memberikan konteks peristiwa yang bisa berujung pada kesalahpahaman, dan laporan ini juga berusaha menggambarkan pluralisme sivik bukan pluralisme ala MUI, yaitu menyangkut pembuatan kebijakan dan penegakan hukum dalam soal-soal hubungan sosial kelompok-kelompok agama, dan juga bagaimana kelompok masyarakat yang berbeda agama berhubungan satu sama lain secara negatif atau positif.


Maria F
Reporter Kristiani Pos

Sumber: http://id.christianpost. com/php_functions/print_friendly.php?tbl_name=society&id=1065

Generasi Muda dan Peran Berantas Korupsi


Generasi Muda dan Peran Berantas Korupsi

London (ANTARA News) – Kepala Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar mengatakan anggota Persatuan Pelajar Indonesia yang tergabung dalam PPI UK dapat mengambil peran aktif dalam memberantas korupsi di tanah air.

Hal itu diungkapkan Antasari Azhar pada acara Temu Ilmiah Internasional Mahasiswa Indonesia (TIIMI) 2008 bertema ?Corruption Culture in Indonesia: Future Perspectives” yang digelar PPI London di Ruang Crutacala KBRI London selama tiga hari hingga Minggu.

Ketua Panitia TIIMI2008 M. Irfan Assaat, mengatakan temu ilmiah yang diikuti 60 pelajar dari seluruh Inggris termasuk pembicara dari Manchester dan Skotlandia serta enam pembicara lainnya dari Jakarta digelar PPI UK dan KBRI London bekerjasama dengan British Council.

Lebih lanjut Antasari Azhar, mengatakan pemberantasan korupsi memerlukan peran semua pihak baik aparat pemerintah, sektor swasta dan masyarakat dimana termasuk generasi muda seperti yang tertuang dalam PP No 71/2000.

Dalam pasal satu disebutkan bahwa peran serta masyarakat adalah peran aktif perorangan, organisasi masyarakat atau lembaga swadaya masyarakat dalam pencegahan dan pemberantasan tindakan pidana korupsi.

“Tentunya secara bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan perundang undangan, norma agama dan kesusilaan dan kesopanan,” ujarnya.

Dalam presentasinya yang berjudul ?Masa Depan Pemberantasan Korupsi di Tangan Generasi Muda”, Antasari Azhar pembahasan antara lain Progress pemberantasan korupsi, undang-undang korupsi, TPK, Praktek Good Governance, Peran Generasi Muda serta Penguatan Pendidikan antikorupsi dan pemuda yang proaktif.

Antasari Azhar yang mengawali karir profesionalnya sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Departemen Kehakiman tahun 1981 juga membahas peran Teknologi Informasi, Media, dan private rights: UU ITE, hak dan etika media, dan penghormatan atas hak individual dan hukum.

Mantan Kepala direktur Penuntutan Kejaksaan Agung RI, mengatakan dalam perkembangan Good Corporate Governance, (GCG) Komite Pemberantas Korupsi banyak memberikan sosialisasi terutama dikalangan BUMN.

Antasari Azhar yang menamatkan pendidikan di Universitas Sriwijaya dan New South Wales University, mengatakan beberapa pihak telah melakukan pemberian penghargaan bagi kalangan dunia usaha untuk pelakuk praktik GHG terbaik.

Dalam acara TIIMI kali ini panitia juga mengadakan siaran streaming melalui radio PPI Jerman sehingga warga Indonesia dapat berpartisipasi secara interaktif dalam diskusi tampil sebagai pembicara lainnya Deputi Eksekutif CSIS Rizal Sukma yang menyelesaikan pendidikan doctoral di London School of Economics (LSE), London pada tahun 1997. (*)

COPYRIGHT © 2008

http://www.antara. co.id/arc/ 2008/12/6/ generasi- muda-dan- peran-berantas- korupsi/

 

Sudah Berprestasikah Anda?


SUDAH BERPRESTASIKAH ANDA?

Jika ditilik dari masa kerja, bias jadi anda sudah tergolong senior. namun bisakah anda menyebutkan apa saja prestasi yang sudah diraih selama ini? Apalagi jika anda ingin mengembangkan sayap menuju jenjang karir yang lebih tinggi, baik di perusahaan yang sekarang atau perusahaan yang lebih bonafit?

Deskripsi mengenai prestasi tentu akan jauh lebih menarik ketimbang deskripsi tugas yang selama ini digeluti.Bahkan, akan memberikan nilai tambah bila anda mencantumkannyadalam resume. Paling tidak, akan menunjukkan bahwa anda adalah seorang pekerja yang berkualitas.

Beberapa jenis prestasi yang sangat mungkin dicantumkan dalam resume, antara lain adalah:

Pencapaian target. Kumpulkan beberapa target tersukses yang pernah yang dibebankan oleh supervisor atau perusahaan kepada anda. Akan sangat mudah mendefinisikannya bila proyek itu merupakan target pribadi. Namun bila hal itu merupakan proyek keroyokan, maka definisikan konstribusi anda dalam pencapaian itu secara jelas.

Menepati tenggat waktu. Boleh dikata, hampir semua industri –terutama industri media- harus berpacu dengan waktu. Oleh karena itu, jangan heran bila karyawan-karyawan yang mampu melaksanakan tugas dengan hasil yang berkualitas dan tepat waktu cenderung lebih dihargai. Cantumkan hal ini dalam resume bila anda termasuk salah satu orang yang disiplin dan menghargai waktu.

Kemampuan dalam memecahkan masalah. Dalam hidup -apalagi bisnis- pasti selalu saja ada masalah. Jika anda pernah menangani masalah pelik dalam bisnis dengan baik, tak ada salahnya jika hal tersebut dikemukakan dalam resume. Tentu saja tak sembarang masalah bisa dipaparkan dalam resume. Pilih yang memang layak untuk dikemukakan.

Kemampuan menangani beberapa tugas sekaligus. Mungkin banyak karyawan yamg bisa mengerjakan tugas dengan baik. Namun hanya segelintir yang mampu mengerjakan berbagi pekerjaan dalam waktu yang hampir bersamaan dengan kualitas yang tetap optimal. Jika anda termasuk salah satunya, biarkan hal tersebut muncul dalam resume.
Jika keempat hal ini ada pada diri anda plus seberkas sertifikat penghargaan sebagai buktinya, maka sudah sepantasnya anda disebut sebagai karyawan yang berprestasi. (AYA/Kompas/Klasika/ 22/20/2008)

GENGSI


GENGSI

Saat Saya bicara di dalam pelatihan-pelatihan bahwa feedback adalah hal yang unavoidable atau tidak terhindarkan untu perbaikan dan pengembangan diri, hamper selalu saja ada ‘curhat’ dari peserta menenai banyaknya mereka menemui individu senior yang tidak welcome, sulit atau bahkan meradang saat menerima umpan balik. Saya menduga, bahwa salah satu alas an seseorang sulit menerima umpan balik mengenai kinerja, kesalahan dan pengembangan dirinya, terutama di negara kita ini, adalah lebih dilatarbelakangi gengsi yang besar.

Kritik dipandang sebagai sesuatu yang menjatuhkan ‘muka’ dan menurunkan gengsi. Apalagi bila senior berada pada situasi harus bekerja di bawah pimpinan yang lebih muda, pintar namun kurang pengalaman, bisa-bisa makin besar pula kadar gengsinya. Komentar seperti “anak kemarin sore”-lah “belum pengalaman”-lah dan banyak alasan lain, seakan tidak memperbolehkan diri kita untuk melihat ke dalam dan berpikir mengenai kapasitas, kompetensi, kontribusi dan komitmen yang selama ini kita tampilkan, sehingga kita tidak dipilih menjadi pimpinan tim dan dilangkahi oleh yang lebih muda-muda.

Banyak ahli mengatakan bahwa gengsi adalah dominasi masyarakat Asia. Pada masyarakat Jawa bisa dikonotasikan dengan “projo”, oleh masyarakat Cina dekat dengan pengertian “mianzi” (nama baik) dan “lian” (karakter moral). Dalam bahasa Inggeris sendiri memang tidak ada kata tepat untuk fenomena “menjaga muka” ini, kecuali gabungan antara “reputasi” dan “esteem”. Namun kapanpun dan di negara manapun, setiap orang memang punya kebutuhan untuk menjaga “image” dirinya di depan publik.

Agendakan Bermawas Diri

Andrew Oswald, seorang ahli ekonomi dari University of Warwick, mengatakan bahwa manusia mempunyai nasib untuk selamanya membandingkan dirinya dengan orang lain. Bila kegiatan membandingkan diri ini dilandasi “kerakusan” dan hal-hal yang ada di permukaan saja, maka individu bisa melakukan tindakan salah, berdasarkan analisa pribadinya itu. Tentunya kita ingat cerita klasik, seorang istri membandingkan diri dengan tetangga yang baru membeli motor dan suaminya pulang, ia merengek untuk juga dibelikan motor baru, tanpa berpikir mengenai pendapatan, kesempatan dan kemampuan keluarga untuk meningkatkan konsumsi.

Bila kita tidak punya agenda untuk senantiasa “mengisi diri” dan mencerdaskan diri sendiri, sangat mungkin terjadi situasi membandingkan diri tanpa berupaya menganalisa lebih mendalam, kita ulangi lagi dan lagi. Pada akhirnya, analisa-analisa ini bisa bertumpuk dan berakibat pada kedangkalan berpikir, sehingga kita hanya bisa menumbuhkan “esteem” atau harga diri atau merasa “bergengsi” melalui hal-hal dangkal dan di permukaan saja, seperti materi, jabatan, fasilitas, serta apa yang dikenakan orang.

Teman saya adalah istri seorang ahli perminyakan. Saya mendengar sendiri ia mengomel pada sebuah jamuan makan di rumahnya, “Pah, masa orang lain sudah ganti mobil Maserati, kita masih Kijang Kijang juga …” Ketika diusut, siapa pengendara Maserati itu, ternyata mereka adalah pemilik perusahaan minyak tempat suaminya bekerja yang kebetulan bersahabat dengannya. Analisa mengenai pendapatan, pekerjaan, dan kemampuan yang sangat sederhana ini bisa sulit dilakukan bila kita memang tidak berlatih untuk menjadi lebih “dalam” dan mawas diri. Oleh Oswald, gejala ini disebut sebagai “happiness economics”, dimana kebahagiaan sangat relatif dan bergantung pada kegiatan membandingkan diri dengan orang lain, dari waktu ke waktu, lalu mengakibatkan individu tidak pernah stop untuk meningkatkan kebutuhannya. Bisa saja kita jadi terjebak menghalalkan berbagai cara untuk mengejar kedudukan, kekayaan, namun sekaligus membuat makna kemanusiaan kita hampa.

Mengangkat Gengsi: “Being versus “Having”

Bila kita mau sedikit bermawas diri, tentunya kita sadar bahwa menjaga gengsi, tidak semata berasal dari sebatas kedudukan, kekayaan, dan kepemilikan barang. Ingat saja, bahwa si multibilyuner dolar, Mark Zuckerberg, pemilik Facebook tidak mendapatkan gengsinya melalui pesta-pesta bermiliar dolar, gonta-ganti mobil, mengejar jabatan dengan menghalalkan segala cara. Ia sekadar anak kos-kosan yang rajin mengulik, berkreasi dan berinovasi, sampai bisa membuahkan produk yang berharga dan populer seantero dunia. Kita lihat, “self image” di mata publik bisa dilandasi oleh beberapa domain penting dalam kehidupan ini, seperti prestasi, pengalaman, kepahlawanan, tata krama, tata bahasa, kinerja, ekspertis, kearifan yang lebih mengarah pada “being” seserang dibandingkan dengan “having” seseorang. Ini tentunya kabar baik bagi setiap individu yang juga ingin meningkatkan “gengsi”-nya tapi belum tahu dari mana sumbernya.
Kita bisa menggaris bawahi bahwa kita memang perlu senantiasa menjaga kebugaran fisik, intelektual, emosional dan spiritual kita, sebagai modal untuk menganalisa, memperbaiki, mengembangkan diri sendiri, berkreasi, berprestasi, menonjol, sehingga kemudian bisa merespek diri sendiri, lalu menjaga hakekat “qualities” diri kita sebagai fitur gengsi. Sudah tidak zamannya lagi kita merasa gengsi naik sepeda, ketimbang berkendaraan mobil, dan seharusnya malah lebih bangga bahwa kita bugar menjaga kesehatan. Atau sebaliknya perlu memiliki Blackberry seri terbaru, tetapi gaptek dalam menggunakannya? Menunjang program “busway” adalah salah satu bukti bahwa kita bisa mengangkat harga diri melalui prinsip efisiensi dan efektivitas, dimana kita bisa lebih cepat sampai tujuan tanpa harus bermacet-macet duduk bengong di dalam mobil mewah kita, dengan membayar joki pula. Jadi, manakah yang lebih bergengsi? (Eileen Rachman & Sylvina Savitri/ EXPERD/Kompas/Klasika/08/11/2008).