Apakah istilah “Allah” hanya milik umat Islam saja?


Apakah istilah “Allah” hanya milik umat Islam saja?

SEORANG perempuan beragama Kristen saat ini sedang menggugat pemerintah Malaysia dengan alasan telah melanggar haknya atas kebebasan beragama (baca International Herald Tribune, 29/11/2008). Mei lalu, saat  balik dari kunjungan ke Jakarta, Jill Ireland, nama perempuan itu, membawa sejumlah keping DVD yang berisi bahan pengajaran Kristen dari Jakarta. Keping-keping itu disita oleh pihak imigrasi, dengan alasan yang agak janggal: sebab dalam sampulnya terdapat kata “Allah”.

Sejak tahun lalu, pemerintah Malaysia melarang penerbitan Kristen untuk memakai kata “Allah”, sebab kata itu adalah khusus milik umat Islam. Umat lain di luar Islam dilarang untuk menggunakan kata “Allah” sebagai sebutan untuk Tuhan mereka. Pemakaian kata itu oleh pihak non-Muslim dikhawatirkan bisa membingungkan dan “menipu” umat Islam (Catatan: “Sedih sekali ya, umat Islam kok mudah sekali tertipu dengan hal-hal sepele seperti itu?”)

Pertanyaan yang layak diajukan adalah: apakah kata “Allah” hanyalah milik umat Islam saja? Apakah umat lain tidak boleh menyebut Tuhan yang mereka sembah dengan kata “Allah”? Apakah pandangan semacam ini ada presedennya dalam sejarah Islam? Kenapa pendapat seperti itu muncul?

Sebagai seorang Muslim, terus terang saya tak bisa menyembunyikan rasa geli, tetapi juga sekaligus jengkel, terhadap pandangan semacam ini. Sikap pemerintah Malaysia ini jelas bukan muncul dari kekosongan. Tentu ada sejumlah ulama dan kelompok Islam di sana yang menuntut pemerintah mereka untuk memberlakukan larangan tersebut.

Di Indonesia sendiri, hal serupa juga pernah terjadi. Beberapa tahun lalu, ada seorang pendeta Kristen di Jakarta yang ingin menghapus kata “Allah” dalam terjemahan Alkitab versi bahasa Indonesia. Menurut pendeta itu, istilah “Allah” bukanlah istilah yang berasal dari tradisi Yudeo-Kristen. Nama Tuhan yang tepat dalam tradisi itu adalah Yahweh bukan Allah.

Jika usulan untuk melarang penggunaan kata Allah berasal dari dalam kalangan Kristen, tentu saya, sebagai orang luar, tak berhak untuk turut campur. Tetapi jika pendapat ini datang dari dalam kalangan Islam sendiri, maka saya, sebagai seorang Muslim dan “orang dalam”, tentu berhak mengemukakan pandangan mengenainya.

Pandangan bahwa istilah Allah hanyalah milik umat Islam saja, menurut saya, sama sekali tak pernah ada presedennya dalam sejarah Islam. Sejak masa pra-Islam, masyarakat Arab sendiri sudah memakai nama Allah sebagai sebutan untuk salah satu Tuhan yang mereka sembah. Dalam Quran sendiri, bahkan berkali-kali kita temui sejumlah ayat di mana disebutkan bahwa orang-orang Arab, bahkan sebelum kedatangan Islam, telah mengakui Allah sebagai Tuhan mereka (baca QS 29:61, 31:25, 39:37, 43:87). Dengan kata lain, kata Allah sudah ada jauh sebelum Islam sebagai agama yang dibawa Nabi Muhammad lahir di tanah Arab.

Begitu juga, umat Kristen dan Yahudi yang tinggal di kawasan jazirah Arab dan sekitarnya memakai kata Allah sebagai sebutan untuk Tuhan. Para penulis Kristen dan Yahudi juga memakai kata yang sama sejak dulu hingga sekarang. Seorang filosof Yahudi yang hidup sezaman dengan Ibn Rushd di Spanyol, yaitu Musa ibn Maimun (atau dikenal di dunia Latin sebagai Maimonides [1135-1204]) menulis risalah terkenal, “Dalalat al-Ha’irin” (Petunjuk Bagi Orang-Orang Yang Bingung). Kalau kita baca buku itu, kita akan jumpai bahwa kata Allah selalu ia pakai untuk menyebut Tuhan.

Semua Bibel versi Arab memakai kata Allah sebagai nama untuk Tuhan. Ayat pertama yang terkenal dalam Kitab Kejadian diterjemahkan dalam bahasa Arab sebagai berikut: “Fi al-bad’i khalaqa Allahu al-samawati wa al-ard” (baca “Al-Kitab al-Muqaddas” edisi The Bible Society in Lebanon). Dalam terjemahan versi Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), ayat itu berbunyi: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”.

Tak seorangpun sarjana Islam yang memakai bahasa Arab sebagai bahasa ibu mereka, entah pada masa klasik atau modern, yang mem-beslah atau keberatan terhadap praktek yang sudah berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun itu. Tak seorang pun ulama Muslim yang hidup sezaman dengan Maimonides yang memprotes penggunaan kata Allah dalam buku dia di atas.

Polemik antara Islam dan Kristen sudah berlangsung sejak masa awal Islam, dan, sejauh pengetahuan saya, tak pernah kita jumpai seorang “mutakallim< ” atau teolog Muslim yang terlibat perdebatan dengan teolog Kristen atau Yahudi karena memperebutkan kepemilikan atas kata Allah. (Survei terbaik tentang sejarah polemik Islam-Kristen sejak masa awal Islam hingga abad ke-4 H/10 M adalah buku karangan Abdul Majid Al-Sharafi, “Al-Fikr al-Islami fi al-Radd ‘Ala al-Nashara”, 2007).

Dalam perspektif historis, pandangan sejumlah ulama Malaysia yang kemudian diresmikan oleh pemerintah negeri jiran itu, jelas sangat aneh dan janggal sebab sama sekali tak ada presedennya. Dipandang dari luar Islam, pendapat ulama Malaysia itu juga bisa menjadi bahan olok-olok bagi Islam. Sebab, pandangan semacam itu tiada lain kecuali memperlihatkan cara berpikir yang sempit di kalangan sebagian ulama. Jika para ulama di Malaysia itu mau merunut sejarah ke belakang, kata Allah itu pun juga bukan “asli” milik umat Islam. Kata itu sudah dipakai jauh sebelum Islam datang. Dengan kata lain, umat Islam saat itu juga meminjam kata tersebut dari orang lain.

Yahudi, Kristen, dan Islam adalah tiga agama yang lahir dari rahim yang sama, yaitu dari tradisi Ibrahim. Islam banyak sekali mewarisi tradisi dan ajaran dari kedua agama itu. Karena asal-usul yang sama, dengan sendirinya sudah lumrah jika terjadi proses pinjam-meminjam antara ketiga agama itu. Selama berabad-abad, ketiga agama itu juga hidup berdampingan di jazirah Arab dan sekitarnya. Tak heran jika terjadi proses saling mempengaruhi antara ketiga tradisi agama Ibrahimiah tersebut. Tradisi Kristiani, misalnya, mempunyai pengaruh yang besar dalam proses pembentukan Islam, terutama dalam tradisi pietisme atau mistik (baca, misalnya, buku karangan Tarif Khalidi, “The Muslim Jesus: Saying and Stories in Islamic Literature“, 2001).

Quran sendiri banyak meminjam dari tradisi lain, termasuk dalam konteks istilah-istilah yang berkaitan dengan peribadatan. Hampir semua istilah-istilah ritual yang ada dalam Islam, seperti salat (sembahyang) , saum (puasa), hajj, tawaf (mengelilingi ka’bah), ruku’ (membungkuk pada saat salat) dsb., sudah dipakai jauh sebelum Islam oleh masyarakat Arab.

Dengan kata lain, proses pinjam-meminjam ini sudah berlangsung sejak awal kelahiran Islam. Pandangan ulama Malaysia itu seolah-olah mengandaikan bahwa semua hal yang ada dalam Islam, terutama istilah-istilah yang berkenaan dengan doktrin Islam, adalah “asli” milik umat Isalm, bukan pinjaman dari umat lain. Sebagaimana sudah saya tunjukkan, pandangan semacam itu salah sama sekali.

JIKA demikian, bagaimana kita menjelaskan pendapat yang janggal dari Malaysia itu? Saya kira, salah satu penjelasan yang sederhana adalah melihat masalah ini dari sudut dinamika internal dalam tubuh umat Islam sendiri sejak beberapa dekade terakhir. Sebagaimana kita lihat di berbagai belahan dunia Islam manapun, ada gejala luas yang ditandai oleh mengerasnya identitas dalam tubuh umat. Di mana-mana, kita melihat suatu dorongan yang kuat untuk menetapkan batas yang jelas antara Islam dan non-Islam. Kekaburan batas antara kedua hal itu dipandang sebagai ancaman terhadap identitas umat Islam.

Penegasan bahwa kata “Allah” hanyalah milik umat Islam saja adalah  bagian dari manifestasi kecenderungan semacam itu. Pada momen-momen di mana suatu masyarakat sedang merasa diancam dari luar, biasanya dorongan untuk mencari identitas yang otentik makin kuat. Inilah tampaknya yang terjadi juga pada umat Islam sekarang di beberapa tempat. Kalau kita telaah psikologi umat Islam saat ini, tampak sekali adanya perasaan terancam dari pihak luar. Teori konspirasi yang melihat dunia sebagai arena yang dimanipulasi oleh “kllik” tertentu yang hendak menghancurkan Islam mudah sekali dipercaya oleh umat. Teori semacam ini mudah mendapatkan pasar persis karena bisa memberikan justifikasi pada perasaan terancam itu.

Keinginan untuk memiliki identitas yang otentik dan “beda” jelas alamiah belaka dalam semua masyarakat. Akan tetapi, terjemahan keinginan itu dalam dunia sehar-hari bisa mengambil berbagai bentuk. Ada bentuk yang sehat dan wajar, tetapi juga ada bentuk yang sama sekali tak masuk akal bahkan lucu dan menggelikan. Pandangan ulama Malaysia yang kemudian didukung oleh pemerintah negeri itu untuk melarang umat Kristen memakai istilah “Allah” adalah salah satu contoh yang tak masuk akal itu. Sebagaimana saya sebutkan di muka, secara historis, pandangan semacam ini sama sekali tak ada presedennya. Selain itu, proses saling meminjam antara Islam, Kristen dan Yahudi sudah berlangsung dari dulu.

Bayangkan saja, jika suatu saat ada kelompok Yahudi yang berpikiran sama seperti ulama Malaysia itu, lalu menuntut agar umat Islam tidak ikut-ikutan merujuk kepada nabi-nabi Israel sebelum Muhammad —  apakah tidak runyam jadinya. Orang Yahudi bisa saja mengatakan bahwa sebagian besar nabi yang disebut dalam Quran adalah milik bangsa Yahudi, dan karena itu umat Islam tak boleh ikut-ikutan menyebut mereka dalam buku-buku Islam. Sudah tentu, kita tak menghendaki situasi yang “lucu” dan ekstrem seperti itu benar-benar terjadi.

Selama ini umat Islam mengeluh karena umat lain memiliki pandangan yang negatif tentang Islam, dan karena itu mereka berusaha sekuat mungkin agar citra negatif tentang agama mereka itu dihilangkan. Masalahnya adalah bahwa sebagian umat Islam sendiri melakukan sejumlah tindakan yang justru membuat citra Islam itu menjadi buruk. Menurut saya, pendapat ulama dan sikap pemerintah Malaysia itu adalah salah satu contoh tindakan semacam itu. Jika umat Islam menginginkan agar umat lain memiliki pandangan yang positif tentang agama mereka, maka langkah terbaik adalah memulai dari “dalam” tubuh umat Islam sendiri. Yaitu dengan menghindari tindakan yang tak masuk akal.

Tak ada gunanya umat Islam melakukan usaha untuk mengoreksi citra Islam, sementara umat Islam sendiri memproduksi terus-menerus hal-hal yang janggal dan tak masuk akal.

Ulil Abshar Abdalla

Caveat:  Mohon maaf kepada teman-teman dan pembaca Malaysia, jika tulisan saya ini terlalu kritis pada pemerintah Malaysia dalam isu yang spesifik ini. Saya sama sekali tidak berpandangan bahwa sikap pemerintah Malaysia itu mewakili sikap seluruh umat Islam di sana. Saya tahu, banyak kalangan Islam di sana yang tak setuju dengan sikap ulama dan pemerintah Malaysia ini.

Sumber: Milis Pluralitas ICRP

Iklan

Saatnya Mengembangkan Diri



Saatnya Mengembangkan Diri

Tak pernah ada kata berhenti untuk belajar. Pepatah ini bukanlah sekedar isapan jempol, karena sejatinya manusia terus berkembang seiring berjalannya waktu. Hal ini pun berguna untuk terus mengembangkan diri demi kemajuan.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan, tips-tips berikut adalah beberapa di antaranya.

Pertama, perluaslah pengetahuan anda dengan membaca. Bacalah majalah, surat kabar, atau buku dengan topik yang belum pernah anda baca sebelumnya. Melalui bacaan-bacaan tersebut anda dapat memperoleh informasi baru, yang berguna untuk merangsang munculnya ide-ide kreatif.

Kedua, menfaatkan waktu senggang anda dengan mengikuti kursus. Ikutilah berbagai macam kursus-kursus keterampilan, seperti fotografi, desain visual, keterampilan menulis kreatif, atau yang menunjang pekerjaan anda.

Ketiga, salurkanlah berbagai macam ide ke dalam suatu “wadah”. Ada berbagai macam “wadah” yang dapat anda gunakan seperti tulisan, artikel, sketsa, gambar, bahkan lukisan. Anda dapat berpikir secara simbolis dan visual dengan menuangkan ide ke dalam coret-coretan berupa simbol yang menggambarkan alur pekerjaan anda. Ini akan membantu anda mulai berpikir dengan gambar, bukan lagi dengan kata-kata, sehingga anda pun mendapat penyegaran dalam membuat ide-ide kreatif yang berguna saat bekerja.

Keempat, dengarkanlah musik yang dapat memacu kreativitas otak anda. Cobalah mendengarkan lagu-lagu jenis musik yang berbeda dari yang biasa anda dengar. Bahkan coba belajar memainkan intrumen musik yang baru. Hal ini akan membantu proses kreatif anda semakin berkembang.

Kelima, kembangkanlah jaringan sosial anda dengan teman-teman yang baru. Dengan bertemu dan berkomunikasi dengan orang-orang baru, anda akan mendapat persepsi baru tentang kahidupan di luar sana. Pelajari juga bagaimana cara orang lain dalam memandang masalah dan mengantisipasinya.

Keenam, carilah alternatif jalan atau rute lain ketika pergi dan pulang bekerja. Selain anda tidak akan terjebak dengan rutinitas perjalanan bekerja, alternatif rute jalan juga berguna menambah pengetahuan jalan dan melatih kemampuan daya ingat. (INO-Ragam Kompas Rabu 19 November 2008)

Kiat Menumbuhkan Rasa Percaya Diri


Kiat Menumbuhkan Rasa Percaya Diri

Kepercayaan diri merupakan salah satu faktor yang dapat membawa seseorang pada kesuksesan. Namun dalam kenyataannya untuk memperoleh hal tersebut bukanlah persoalan yang mudah. Untuk itu berikut adalah langkah yang dapat ditempuh untuk mulai menumbuhkan raca percaya diri.

Pertama yang harus anda lakukan adalah mencari waktu luang yang cukup untuk melihat bidang apa saja dalam kehidupan yang membuat anda merasa mampu untuk menghadapinya. Tengoklah ke masa lalu dan ingatlah hal-hal baik apa saja yang pernah anda lalui.

Dengan hati dan pikiran yang tenang buatlah semacam daftar yang berisi kemampuan atau keahlian yang unik. Misalnya anda pandai menggambar, menulis, membaca, berjalan cepat atau keahlian/kelebihan lain yang mungkin tidak semua orang dapat melakukannya sebaik anda. Tidak usah berpikir hal-hal besar, hal sederhana pun jika dilatih terus-menerus akan menjadi nilai yang sangat berharga yang patut dibanggakan. Jangan lupa juga untuk mensyukuri apa yang anda miliki. Karena mungkin tidak semua orang seberuntung anda. Misalnya saja dalam hal kesehatan, banyak orang harus berjuang melawan penyakit tertentu, sedangkan anda tidak. Intinya anda harus mengembangkan sisi positif dalam diri. Ingat pula kejadian-kejadian yang membuat anda merasa bangga, kalau ini sudah dilakukan maka anda telah selangkah lebih maju menjadi orang yang penuh percaya diri.

Sekarang pikirkan rencana dan mimpi-mimp yang belum terwujud. Jika anda merasa sulit untuk menemukan atau merasa sudah meraih semua mimpi, cobalah berpikir untuk merambah ke bidang-bidang yang belum pernah disentuh atau mencari sesuatu yang bisa membuat anda lebih bahagia bersama orang yang dicintai.

Sebaliknya, jika anda merasa ada begitu banyak mimpi yang belum tercapai, segera bangun berdiri dan buat rencana matang untuk mengejarnya. Untuk bisa mencapai mimpi ini mungkin membutuhkan waktu lama. Tapi jangan khawatir, memiliki rencana dan mengatur strategi untuk mengejar mimpi merupakan satu hal yang akan membuat hidup menjadi lebih bermakna. Jangan lupa untuk sesekali melakukan kilas balik untuk mengetahui sampai sejauh mana perkembangan yang telah dilalui, mungkin anda akan kaget melihat hasilnya nanti.

Kepercayaan diri adalah sesuatu yang anda sendiri yang bisa meraihnya, bukan orang lain. Untuk itu tetap semangat, sabar dan terus berdoa menjadi sesuatu yang tidak boleh dilupakan. Suskses selalu. (ASP – Karier Kompas Rabu 19 November 2008).

Kesaksian Para Korban “Rabu Seram” di Mumbai


Kesaksian Para Korban “Rabu Seram” di Mumbai

Mumbai (ANTARA News) – Di Rumah Sakit St. George, Mumbai, para korban dari salah satu serangan teror terburuk dalam sejarah India terbaring lemah di bilik yang dipisahkan oleh tirai putih dengan seprei dan matras bergelimang darah.

Peter Wonacott dan Geeta Ananda dari Wall Street Journal (28/11) melaporkan, di sisi lain, sanak keluarga dan handai taulan berjejer menduduki kursi-kursi tunggu berbahan kayu. Para dokter sesekali bergabung dengan mereka, duduk kelelahan.

“Kami melayani pasien sampai larut malam. Tapi pagi ini, hanya mayat-mayat yang datang,” kata Gokul Bhole, dokter muda berumur 26 tahun menghentikan nafas untuk kemudian melanjutkan, “Ada sebelas mayat.”

Keadaan di rumah sakit itu bersamaan dengan upaya polisi untuk berjuang merekonsolidasi kekuatannya sore kemarin menyusul kekalahan di malam sebelumnya dalam pertempuran melawan kaum militan Muslim di Mumbai.

Serangan-serangan itu bermula sejak Rabu malam lalu setelah lebih dari selusin teroris bersenjatakan senapan mesin dan bahan peledak menyerbu hotel-hotel mewah, restoran-restoran populer, stasiun besar kereta api, dan sebuah pusat komunitas Yahudi di jantung kota terbesar India itu.

Serangan terkoordinasi yang mengharubiru distrik keuangan kaya raya, Colaba, menyiratkan para penyerang tahu banyak di mana orang-orang Barat berkumpul untuk kemudian mereka temukan dan bunuh.

Para tamu hotel yang selamat dari serangan mengatakan, para teroris itu bertanya ke setiap orang apakah mereka memegang paspor Amerika Serikat dan Inggris.

Salah seorang korban disasar adalah Leopold Cafe, tempat turis “backpacker” nongkrong di latar belakang hotel mewah Taj Mahal Palace and Tower. Cafe ini menawarkan bir dan makanan yang dua-duanya murah dilengkapi pemandangan terbuka nan elok ke jalanan kota Mumbai.

Suasana hotel ini begitu terbuka sehingga menjadi target empuk manakala dua orang bersenjata berumur 20-an tahun menghampiri tempat itu setelah menumpangi perahu karet yang mereka labuhkan dekat dok.

Menurut pemilik cafe itu, Farhang Jehani, tembakan pertama yang mereka lepaskan langsung merubuhkan sekitar sepuluh orang sekitar situ, meja-meja jumpalitan dan sebagian besar pengunjung serentak berhamburan ke jalanan menyelamatkan diri.

Sasaran tembakan kemudian beralih ke tempat lain.

Sajjad Karim (38), anggota parlemen Eropa berkebangsaan Inggris dan seorang Muslim, sedang menunggu seseorang di gerbang masuk Hotel Taj Mahal, sebuah landmark kota berselubungkan batu-bata, saat dia melihat seorang anak lelaki dan seorang bocah perempuan berlarian ketakutan.

Kaki anak perempuan itu bersimbah darah. Karena mendengar banyak tembakan, Karim ikut berlari. Ketika ia dan segerombolan orang panik tumpah menuju pintu keluar, tiba-tiba muncul dihadapan mereka seorang anak muda sambil mengangkat senjata. Karim memusatkan perhatian pada senjata yang dikokang pemuda itu.

“Dia masih muda. Dia mengenakan pakaian gelap. Tapi konsentrasiku tertuju pada senjatanya,” ungkap Karim.

Kemudian, dar dar dar! Orang-orang jatuh tersungkur tepat di depan Karim.

Amrita Jhaveri, seorang konsultan toko perhiasan dari Mumbai yang tinggal di London, mendengar tembakan serupa. Perempuan ini tengah makan malam bersama suami tercintanya di lobi atas sedang menyantap Wasabi di restoran Morimoto, yang ada dalam Hotel Taj Mahal.

Staf hotel berpikir cepat, menggiring para tamu restoran Jepang itu menuruni koridor bawah, menyusuri dapur masuk ke sebuah klub pribadi bernama Chambers. Para tamu dari restoran-restoran lainnya di hotel itu juga dibawa ke klub tersebut.

Para staf hotel mematikan lampu ruangan dan menyuruh semuanya diam. Di situ, sekitar 200 orang berkumpul berdesakan.

“Kami sedang menanti hal terburuk. Kami tahu hotel dalam keadaan terbakar. Kami tahu teroris-teroris itu ada di depan pintu. Kami tahu mereka mungkin datang menyerbu ruangan ini hanya dalam sekejap, sementara api mungkin membakar kami. Kami semua siap-siap mati,” kata Jhaveri.

Noriyuki Kanda, kepala koki restoran Wasabi, mengaku mendengar tembakan seperti bebunyian dari sesuatu di televisi. Kemudian, berondongan peluru muntah dari senapan mesin. Orang-orang yang berhamburan masuk ke sebuah restoran mungil menghadap Laut Arab yang elok mengungkapkan, empat orang sedang menembaki para pengunjung restoran di lobi.

Kanda dan staf hotel lainnya memandu sejumlah tamu untuk kembali ke koridor utama sambil menerobos kabut dan asap. Beberapa pengunjung hotel kembali ke ruangan mereka, sedangkan beberapa lainnya berusaha keluar. Kanda balik ke kamarnya semula dan mencoba mengabadikan semua peristiwa dengan telpon selulernya.

Sepanjang malam itu, polisi metro Mumbai tak bisa menundukkan para teroris. Sebelas polisi tewas dalam kontak senjata, tiga diantaranya adalah para perwira. Di satu tempat, kelompok militan merampas sebuah mobil polisi sebelum kemudian ditembak mati. Sementara, Hotel Taj Mahal berusia 105 tahun itu merah dilalap api.

Serangan kini menyebar mendekati kompleks Hotel Oberoi Trident.

Di restoran Tiffin yang berada dalam komplek Hotel Oberoi, seorang wanita dari Mumbai Selatan mengaku melihat seorang pria mengokong senjata tepat di depannya dari sebuah pintu kaca manaka ia duduk bersama lima temannya mengitari meja makan. Dia spontan tiarap dan kemudian mendengar tembakan-tembakan, kaca-kaca pecah dan jeritan-jeritan memenuhi ruangan.

“Saya hanya tiarap di teras, menutup mata dan berpura-pura telah mati,” kata wanita yang meminta jangan ditanya identitasnya ini.

Dia melanjutkan, dua orang berjalan mengitari restoran sambil tidak henti menembakan senjatanya. Jeritan-jeritan makin sering ia dengar dan makanan berceceran di mana-mana.

Beberapa menit kemudian semuanya berubah senyap, kemudian seorang pegawai restoran bertanya siapa pun yang selamat untuk mengangkat tangan. Wanita ini mengangkat kepalanya lagi dan melihat beberapa pasang tangan teracung tanda beberapa orang masih hidup.

Kemudian, pegawai hotel itu berkata, “Siapa yang masih bisa jalan, ikuti saya.” Wanita itu bangkit dari tiarapnya dan mengikuti si pelayan menuju dapur dan keluar restoran sambil melangkahi belasan mayat di bawah mereka.

Tak seorang pun dari lima temannya yang makan bersama dengan wanita itu ikut si pelayan ke luar restoran. Dia tidak bisa memastikan nasib kelima lima rekannya itu.

Dua hotel mewah itu jelas telah dengan hati-hati dipilih menjadi target serangan teror. Hotel Taj Mahal adalah simbol dan kebanggaan kota Mumbai. Hotel ini adalah tempat persinggahan bisnis, “dunia gemerlap” dan tampat makan malam utama bagi komunitas keuangan Kota Mumbai dan para tamu negara.

“Hotel Taj Mahal dan Oberoi bukan sekedar Four Seasons and Pierre seperti di Kota New York. Hotel-hotel tersebut lebih tidak sebatas itu. Keduanya adalah nadi dan darah kota Mumbai, ” kata Prashant Agrawal, kepala eksekutif Indipepal.com, sebuah portal internet berbasis di Mumbai.

Para korban dilarikan ke rumah-rumah sakit terdekat seperti RS St. George yang berada tepat di depan stasiun kereta api CST di mana orang-orang juga ditembaki para teroris di situ.

Ambulans-amblulans, kendaraan-kendaraan pribadi dan taksi-taksi bercat kuning lalu lalang membawa korban sekarat dan mayat-mayat. Para pegawai rumah sakit kewalahan melayani pasien.

Peter Keep, seorang pebisnis dunia hiburan berbasis di Mumbai, mengunjungi rumah sakit untuk menjenguk seorang teman yang tertembak. Di situ dia menghitung ada 40 mayat di RS itu dan puluhan korban lainnya luka, termasuk orang-orang asing.

“Suasana kacau sekali dengan para dokter dan perawat berlarian ke sana ke mari dan darah berceceran di mana-mana,” katanya. Peter melihat seorang berkebangsaan Inggris yang baru saja tiba di India dan berencana mengelilingi India, dadanya berlumuran darah tertembus dua atau tiga tembakan.

Manakala para dokter berjuang mencegah bertambahnya korban meninggal, ratusan orang lainnnya masih terperangkap dalam kedua hotel super mewah itu.

Sekitar pukul 4 Kamis dini hari, Jhaveri, si konsultan perhiasan, berjubel dengan yang lain dalam ruang makan malam di Chambers, Hotel Taj Mahal. Gerombolan orang ini berusaha keluar dari jebakan. Begitu mereka mencapai pintu koridor, terdengar suara tembakan dan orang-orang berbalik lagi ke Chambers ketakutan.

Jhaveri takut teroris-teroris itu menyerbu mereka dan kemudian memeluk erat suaminya yang orang Inggris itu. “Kami memutuskan bahwa kami tidak boleh terpisahkan. Tak jadi soal kami nantinya harus mati, yang penting kami harus bersama.”

Jhaveri akhirnya keluar dari hotel itu Kami pagi jam 9 dan lari menuju sebuah bis yang disediakan polisi. Dia masih dapat mendengar tembakan-tembakan dalam hotel.

Kamis siangnya, tentara India membanjiri kota membantu polisi mengepung bangunan hotel. Kanda si kepala koki, diselamatkan pihak keamanan sekitar jam 2 sore. Saat melewati lobi, Kanda menatapi mayat-mayat dan lantai hotel bermandikan darah yang sedang dibersihkan disinfektan.

Saat matahari merangkak naik dan cuaca beranjak panas, kesunyian melingkupi kota terbesar India itu. Toko-toko tutup. Mobil-mobil berpacu kencang di jalanan yang sebagian besar sepi itu.

Orang-orang berdiri di luar Hotel Taj Mahal, menanti apa yang akan dilakukan aparat keamanan. Tembakan-tembakan masih terdengar, dan bagian depan hotel terkenal itu masih terbakar. (*)

COPYRIGHT © 2008

Diperoleh dari:

http://antara.co.id/arc/2008/11/28/kesaksian-para-korban-rabu-seram-di-mumbai/

Terpilihnya Obama Picu Naiknya Kejahatan Kebencian di AS


Terpilihnya Obama Picu Naiknya Kejahatan Kebencian di AS

Atlanta  (ANTARA News) – Terpilihnya Barack Obama sebagai presiden AS telah memicu meningkatnya kejahatan akibat kebencian terhadap etnis minoritas, beberapa kelompok hak sipil menyatakan Senin.

Ratusan insiden berupa makian atau intimidasi yang tampaknya didorong oleh kebencian rasial dilaporkan telah terjadi sejak hari pemilihan presiden pada 4 Nopember, sekalipun sebagian besar tak melibatkan kekerasan, kata Southern Poverty Law Center, seperti dilaporkan Reuters.

Kelompok-kelompok yang mengagungkan supremasi kulit putih, seperti Ku Klux Klan (KKK) dan Dewan Warganegara Konservatif, telah mengalami kebanjiran calon anggota baru sejak terpilihnya presiden kulit hitam pertama dalam sejarah AS.

Sejumlah kelompok kanan juga memanfaatkan meningkatnya angka pengangguran akibat melambatnya ekonomi dan perubahan demografis yang dapat membuat masyarakat kulit putih menjadi minoritas pada pertengahan abad, kata Southern Poverty Law center.

Dalam kasus terkenal, juri federal mendakwa, Jeffrey Conroy, 17 tahun, dengan pembunuhan tingkat kedua dan menggolongkan kasusnya sebagai kejahatan kebencian pada pekan lalu setelah Mercelo Lucero, warga AS keturunan Ekuador, ditikam hingga tewas di Long Island, New York.

Enam remaja lainnya menghadapi tuduhan yang lebih ringan dalam kasus itu. Mereka semua menyatakan tidak bersalah. Polisi mengatakan pekan lalu ketujuh pemuda itu akan bergerak untuk menemukan dan menyerang orang-orang keturunan Latin.

Teror ala KKK

Dalam contoh lainnya, sebuah keluarga di New Jersey yang mendukung Obama menemukan salib kayu yang telah menghitam akibat terbakar di halaman rumahnya, beberapa hari setelah pemilihan presiden.

Salib-salib yang terbakar biasa digunakan KKK sebagai cara untuk meneror para warga Amerika-Afrika.

Pada malam pemilihan presiden, dua remaja memukuli seorang pria kulit hitam di Staten Island, New York, dan memakinya dengan kata-kata berbau rasismes dan “Obama”.

Juga terjadi ketegangan rasial di sekolah-sekolah dan pemanggilan nama yang terkait dengan pemilihan presiden, terutama sekali di negara-negara bagian Selatan, kata Mark Potok dari pusat itu.

Pemisahan rasial diberlakukan di kawasan Selatan sampai dasawarsa 1960-an dan warga kulit hitam tak boleh ikut memberikan suaranya.

Para pejabat mambandingkan naiknya ketegangan rasial dengan meningkatnya serangan atas warga Muslim setelah serangan 11 September 2001.

Tujuh kelompok hak-hak sipil mengecam pembunuhan Lucero dalam jumpa pers di Washington dan menyerukan kepada Deparatemen Kehakiman agar mengambil tindakan yang lebih keras.  (*)

COPYRIGHT © 2008 ANTARA

PubDate: 26/11/08 07:31

Diperoleh dari: http://antara.co.id/print/?i=1227659481

Perpanjangan Batas Usia Pensiun


Perpanjangan Batas Usia Pensiun

Jakarta (ANTARA News) – Terhitung pada tanggal 10 Nopember 2008, melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 127/M Tahun 2008, Presiden memutuskan memperpanjang batas usia pensiun PNS atas nama Dr. Darmin Nasution, Direktur Jenderal Pajak Departemen Keuangan, selama satu tahun terhitung mulai tanggal 1 Januari 2009, dan Drs. Anwar Suprijadi,M.Sc., Direktur Jenderal Bea dan Cukai Departemen Keuangan, selama satu tahun terhitung mulai tanggal 1 Januari 2009.

Perpanjangan batas usia pensiun para pejabat tersebut berdasarkan pertimbangan bahwa yang bersangkutan memiliki keahlian dan pengalaman yang sangat dibutuhkan organisasi, memiliki kinerja yang baik, memiliki moral integritas yang baik, dan sehat jasmani dan rohani. Hal itu sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor (PP) 32 tahun 1979 tentang Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil.

Dalam PP tersebut juga diatur mengenai batas usia pensiun yang dapat diperpanjang bagi PNS yang memangku jabatan tertentu. Perpanjangan batas usia pensiun sampai dengan (i) 65 tahun berlaku bagi PNS yang memangku jabatan peneliti madya dan peneliti utama yang ditugaskan secara penuh di bidang penelitian; (ii) 60 tahun berlaku bagi PNS yang memangku jabatan struktural Eselon I, struktural Eselon II, dokter yang ditugaskan secara penuh pada unit pelayanan kesehatan negeri, Pengawas SMA, SMP, SD, Taman Kanak-kanak atau jabatan lain yang sederajat; (iii) 58 tahun berlaku bagi PNS yang memangku jabatan Hakim pada Mahkamah Pelayaran. Selain itu, perpanjangan batas usia pensiun tersebut juga berlaku bagi PNS yang memangku jabatan lain yang ditentukan oleh Presiden.

Sedangkan perpanjangan batas usia pensiun sampai dengan 62 tahun berlaku bagi PNS yang memangku jabatan struktural Eselon I tertentu. Perpanjangan batas usia pensiun tersebut ditetapkan dengan Keputusan Presiden atas usul Pimpinan Instansi/ Lembaga setelah mendapat pertimbangan dari Tim Penilai Akhir Pengangkatan, Pemindahan, dan Pemberhentian dalam dan dari Jabatan Struktural Eselon I.

Untuk keterangan lebih lanjut, silakan hubungi Samsuar Said, Kepala Biro Hubungan Masyarakat, Departemen Keuangan, Telp: (021) 384-6663, Fax: (021) 384-5724

 

COPYRIGHT © 2008

Diperoleh dari: http://antara.co.id/arc/2008/11/21/perpanjangan-batas-usia-pensiun/

 

Laporan AS : RI, Turki, Iran Akan Jadi Negara Kuat


Laporan AS : RI, Turki, Iran Akan Jadi Negara Kuat

Washington,  (ANTARA News) – Dewan Intelijen Nasional, bersama-sama dengan 16 badan intelijen AS, dalam satu laporan baru-baru ini  berjudul “Global Trends 2025” mengatakan Turki kemungkinan besar dalam 15 tahun mendatang akan terjadi perpaduan kekuatan Islam dan nasionalis, yang bakal menjadi model untuk mempercepat modernisasi negara-negara di Timur Tengah.

Sebagaimana dilaporkan IINA, laporan itu menyebutkan bahwa Turki kemungkinan akan memegang lebih banyak peran secara ekonomi dan politik di dunia internasional pada 2025, namun negara itu akan menjadi lebih Islami dan Nasionalis, demikian perkiraan badan intelijen AS dalam laporan yang disiarkan, Kamis lalu.

Dewan Intelijen Nasional (NIC), bersama-sama dengan 16 badan intelijen AS, dalam laporan itu mengatakan pengaruh AS akan mulai turun pada 15 hingga 20 tahun mendatang, sementara China dan India akan memperkuat posisi mereka.

 Adapun pengaruh Rusia diramalkan akan naik dan turun.

NIC meramalkan, di kalangan negara Muslim “yang akan memiliki kekuatan politik dan ekonomi dalam 15 tahun mendatang adalah Iran, Indonesia, dan Turki”.

“Turki sangat mungkin akan menuju perpaduan kekuatan Islam dan nasionalis, bakal menjadi model untuk mempercepat modernisasi negara-negara di Timur Tengah,” kata laporan itu.

NIC mengatakan pihaknya memperkirakan sekularisme di Timur Tengah akan menyurut sejalan dengan percontohan Turki.

“Di Timur Tengah, sekularisme — yang juga dianggap sebagai bagian integral model Barat —  mungkin menurun secara tajam karena partai-partai Islam mendominasi dan menguasai pemerintahan,” katanya.

“Turki saat ini, kami dapat melihat Islamisasi meningkat dan sangat menekankan pertumbuhan ekonomi dan modernisasi,” katanya.

Namun negara-negara Timur Tengah dan Turki Islam akan menjadi calon untuk berpengaruh lebih penting, kata NIC.(*)

 

COPYRIGHT ©  2008

 Diperoleh dari:http://antara.co.id/arc/2008/11/24/laporan-as–ri-turki-iran-akan-jadi-negara-kuat/