AKKBB Nyatakan Adanya Pengalihan Isu Kasus Kekerasan di Monas


Wednesday, Jun. 25, 2008 Posted: 9:28:19AM PST

JAKARTA – Senin (23/6) lalu telah dilakukan pemanggilan oleh Polda Metro Jaya terhadap tiga orang aktivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkepercayaan (AKKBB) di Reskrim Polda Metro Jaya terkait dengan peristiwa kerusuhan yang dilakukan oleh FPI pada acara Peringatan hari lahirnya Pancasila 1 Juni lalu. Ketiga orang tersebut yakni Anick selaku koordinator AKKBB, Saidiman, Ilma yang mana ketiganya dipanggil untuk dimintai keterangan dalam kapasitasnya sebagai saksi terlapor sehubungan dengan laporan Komando Laskar Islam dan Forum Umat Islam (FUI) kepada Polda Metro Jaya.

Dalam laporan yang diajukan oleh Komando Laskar Islam dan FUI menuduh AKKBB telah melanggar beberapa ketetapan antara lain tentang Pencemaran nama baik KUHP 310,311 Fitnah KUHP 160, KUHP 335 tentang Perbuatan tidak menyenangkan dan Penggunaan Senjata Api. Pihak AKKBB yang dalam hal ini di wakili oleh kuasa hukumnya dari Tim Pembela Pancasila menyatakan bahwa laporan yang diajukan oleh Komando Laskar Islam dan FUI tersebut tidak mendasar, karena justru pihak AKKBB banyak yang menjadi korban dalam penyerangan brutal yang dilakukan oleh FPI pada 1 Juni lalu di Monas.

“Pada saat pemeriksaan yang dilakukan terhadap ketiga orang tersebut dianggap tidak relevan,” ujar Anick dimana dikatakan bahwa telah melakukan tindakan melawan petugas, memasuki pekarangan orang, serta membawa senjata api. “Pertanyaan yang diajukan terkesan sebagai usaha pengalihan isu dan mencari-cari kesalahan,” tegasnya.

Dalam proses pemanggilan, pihak Polda megeluarkan dua berkas terlapor. Dalam berkas pertama terlapor terdiri dari lima orang yakni Adnan Buyung Nasution, Gunawan Muhammad, Astinawati, Patra M Zein, Asmara Nababan yang mana sebagai pendahuluan dalam proses pemanggilan berkas pertama telah dilakukan proses wawancara oleh Polda terhadap Tri agus penanggungjawab acara, Febioneta kuasa hukum acara, Anick, dimana ketiga orang tersebut dimintai keterangan terlebih dahulu sebelum lima orang tersebut dan kemudian pada berkas kedua kembali tiga orang tersebut tercantum sebagai terlapor yakni Anick, Saidiman, Ilma.

Berdasarkan keterangan Koordinator Advokasi dari Tim Pembela Pancasila (TPP) Nopemmerson, SH yang ikut mendampingi Anick, Saidiman, Ilma dalam memberikan kesaksian Senin lalu mengatakan bahwa pertanyaan yang diajukan oleh pihak Polda kepada tiga orang saksi tersebut tidak relevan karena melenceng dari isu utamanya yakni kekerasan yang dilakukan pihak FPI secara brutal dan terkesan memberatkan kliennya dengan mengalihkan kepada kepada masalah perijinan acara 1 Juni lalu.

Lebih lanjut Nopemmerson menegaskan bahwa pihak AKKBB sendiri telah melaporkan kepada pihak berwajib dan pemerintah daerah Jakarta tentang acara peringatan hari lahirnya Pancasila yang bertemakan “Indonesia satu untuk semua” yang berlangsung di Monumen Nasional pada 1 Juni lalu dan dikatakan bahwa menurut peraturan yang ada bahwa dalam penyelenggaraan semacam itu pihak penyelenggara hanya perlu membuat pemberitahuan kepada pihak berwajib dan daerah setempat tentang acara yang akan berlangsung dimana bahkan AKKBB selaku penyelenggara telah melakukan prosedur ini dan bahkan beberapa media massa juga telah mengumumkan tentang acara 1 Juni tersebut.

Dalam proses wawancara kepolisian terhadap tiga aktivis AKKBB tersebut di Reskrim Polda yang berlangsung lima jam tersebut kepada ketiganya ditanyakan pertanyaan-pertanyaan yang serupa seputar perijinan dan alasan keberadaan mereka dalam acara 1 Juni, dang senjata api.

Kepada Ilma ditanyakan beberapa pertanyaan antara lain alasan kedatangannya dalam acara 1 Juni tersebut, atas undangan pribadi atau lembaga, serta ditanyakan pula tentang perijinan dan senjata api, apakah dia tahu bahwa ada letusan senjata api pada acara tersebut.

Pihak AKKBB sendiri menganggap bahwa pelaporan oleh pihak Komando Laskar Islam dan FUI terhadap ketiga orang dari AKKBB tersebut dianggap telah mencemarkan nama baik dimana justru pada kerusuhan Monas beberapa orang dari elemen yang tergabung dalam AKKBB menjadi korban kebrutalan FPI.

Menurut rencana akan ada pemanggilan saksi lagi dari pihak AKKBB untuk dimintai keterangan oleh Polda pada Kamis (26/6) besok. Pihak AKKBB sendiri menyatakan bersedia untuk membantu menjernihkan permasalahn dan bersikap kooperatif dalam usaha penuntusan kasus kerusuhan 1 Juni tersebut, sebagaimana yang dikatakan oleh Anick selaku koordinator AKKBB.>

Maria F
Reporter Kristiani Pos

Iklan

Kesaksian mahasiswa atma jaya


Mengenai kejadian “spektakuler”  kerusuhan di depan kampus kami kemarin, ijinkan saya menginformasikan
bahwa  mahasiswa kami tidak termasuk di dalam kelompok yang berunjuk rasa  tersebut.
Anak-anak kami sedang disibukkan dengan Ujian Akhir Semester sampai  dengan 3  Juli y.a.d dan kalau sedang ujian jangankan diajak demo, diberi hadiah  gratisan  pun kadang mereka tidak peduli. Selama ini setiap unjuk rasa yang  dilakukan  selalu dengan sepengetahuan pimpinan universitas.

 

Saya stand by di pos satpam sejak  pukul 16.30, waktu polisi menembaki kampus kami dengan gas air mata
dan  melempari dengan batu, setelah ditimpuk duluan oleh pengunjuk rasa  yang  kemudian melarikan diri kedalam kampus, namun akhirnya tertangkap  satpam. Pastilah  polisi mengira itu anak kami. Setelah kejadian itu kami tutup pagar  walaupun  sempat ribut dulu dengan pengunjuk rasa yang mengata-ngatai anak-anak  kami  ”banci” dan tidak pro-rakyat. Kalau pro-rakyat kog gitu caranya.  Kami harus  turun tangan menyelamatkan penumpang mobil Avanza yang dibakar oleh  mereka lalu  kami sembunyikan di dalam kampus.

 

Saya perhatikan pengunjuk rasa itu  kog gak kayak mahasiswa, paling tidak mereka terlalu tua untuk mengaku  mahasiswa (rasanya kalau mahasiswa S2 dan S3 hampir mustahil mau ikut  demo kan ?) Perilaku dan bicaranya juga  tidak mencerminkan mahasiswa, lebih mirip preman, termasuk yang  wanita. Kami
cukup kewalahan menghalau yang mencoba menyusup ke dalam kampus (ada  yang  mengaku mahasiswa FISIP padahal kami gak punya FISIP)  
  
 
Saya menyayangkan beberapa media  (terutama TV) yang langsung men-”judge” bahwa biang kerusuhan itu
mahasiswa  Atma Jaya, ini cukup merusak citra universitas, kami pun harus  menjawab ratusan  telepon orang tua yang khawatir mengenai keselamatan anaknya.  Untungnya Metro  TV, radio, koran dan cyber media yang saya hubungi langsung menampung  krarifikasi kami. Yah memang begitulah resiko kalau kampusnya sangat  ”strategis” dekat dengan gedung DPR dan Polda, senantiasa  dijadikan base camp J
 
  
 Dalam kesempatan ini saya juga ingin  menyampaikan rasa prihatin kami untuk rekan-rekan yang mungkin turut  menjadi  ”korban” kerusuhan kemarin, terjebak dalam kemacetan yang parah.  Sedih sekali
rasanya melihat karyawan yang berjejal di bis-bis yang bergerak pelan.  Semoga  kejadian ini tidak terulang kembali. Semoga pemerintah dapat segera  mengambil sikap, entah terhadap kematian mahasiswa Unas atau terhadap  kebijakannya  menaikkan harga BBM yang menjadi pemicu semua kejadian ini. (Anonim)

Kesaksian Korban Tragedi Peringatan Hari Pancasila


      Oleh Imdadun Rahmat,
      (Aktivis NU, wakil sekretaris ICRP dan Direktur Yayasan PARAS)

      Saya datang di sudut tenggara Monas pada jam 12.30. Rombongan
yang hadir bersama saya adalah para Relawan PARAS sebanyak 14 orang (2
perempuan 12 laki-laki) plus 2 orang anak saya (Rausyan, 11 th. dan Satya
8 th.) dan Khamami Zada (LAKPESDAM NU) yang membawa anaknya, Aria 4 th.
Kami datang dengan suasana hati gembira dan penuh semangat karena kami
akan bersama-sama tokoh-tokoh nasional merayakan hari lahir Pancasila
dan menyerukan penghargaan pada kebhinekaan. Saya datang sebagai
anggota panitia sekaligus sebagai koordinator relawan PARAS yang mendapatkan
tugas dari Aliansi untuk mengisi persembahan musik perdamaian yang akan
ditampilkan di sela-sela pidato para tokoh dan sebelum acara dimulai
(menunggu peserta hadir semua). Kami datang dengan 3 mobil. Semula,
mobil-mobil kami parkir di sudut tenggara Monas sambil menunggu peserta
lain yang belum datang. Ketika kami menunggu, kami bertemu dengan para
peserta lain di antaranya sekitar 20 orang dari LAKPESDAM NU Society.

      Setelah sebagian peserta telah masuk area Monas, maka kami
putuskan untuk menuju ke sana. Karena ingin cepat-cepat sampai untuk segera
tampil, maka tiga mobil kami bawa masuk ke Monas, dan kami parkir tak
jauh dari mobil Sound System. Maka saya bersama tim musik segera
menurunkan peralatan-peralatan musik dan satu set mini amply dan kemudian
mensetnya serta menghubungkannya dengan soun sistem utama yang dimuat di
atas truk.

      Ketika kami sedang mencek suara gitar, bas, dan mikrofon, korlap
saat itu Saudara Saidiman mempersilahkan para peserta untuk merapat ke
sound komando dan meminta mereka untuk duduk. Para peserta yang
sebagian besar kaum perempuan itupun duduk. Ada sebagian yang masih berjalan
merapat, dan tiba-tiba ada suara gaduh, ”FPI datang”. Saidiman
meminta kepada para hadirin untuk tenang dan jangan terprofokasi. Pada saat
itu, rombongan sekitar 200 an orang FPI semakin mendekat. Suasana makin
tidak tenang, karena FPI meneriakkan suara-suara bernada ancaman.

      Tak lama kemudian pasukan FPI dengan pentungan bambu mengepung
dan melontarkan sumpah serapah ”Ahmadiyah kafir”, ”hancurkan”,
”habisin” dan sebagainya. Sementara anggota FPI lain memukuli peserta
serta kaum ibu, salah seorang dari mereka mulai membanting bongo dan
alat percusi milik kami. Saya menghanginya dengan mengatakan ”jangan
begitu, jangan pakai kekerasan”. Dengan kasar dia menghardik ”kamu
Ahmadiyah” saya bilang ”saya orang NU”. Ia bilang ”NU apa, kamu
kafir”.

      Orang itu lalu memukul kepala saya dengan tongkatnya, saya
berhasil menangkisnya, dan terus memukul saya, saya bisa mempertahankan diri.
Saya sempat melihat teman saya dari PARAS (Mansur) mencoba melawan FPI
yang memukulinya, saya tahan dia untuk tidak melawan. Saat itu, saya
pikir kami tidak mungkin melawan, karena kedua anak saya ada di dekat
saya, dan saya hawatir jika melawan korban akan semakin banyak, karena
sebagian besar dari kami adalah ibu-ibu. Buru-buru saya teriak ke
keponakan saya (Ninik, relawan PARAS) untuk membawa pergi anak-anak saya.
Selanjutnya saya dikeroyok ramai-ramai, tidak hanya dengan bambu tetapi
juga dengan besi (alat musik milik kami, High Head) saya hanya bisa
menangkis yang dari depan, sementara yang dari belakang dan dari samping tak
bisa dibendung. Saya terus dikeroyok. Saat itu saya merasakan sakit
yang luar biasa di beberapa bagian dari kepala saya. Saya merasa
menghadapi kematian. Saya bergumam Allahu Akbar berkali-kali. Para penyerang
saya juga berteriak ”kafir”, ”bunuh”, ”Allahu Akbar”.

      Pada saat genting demikian, naluri saya mengatakan harus lari.
Saya kemudian lari, dan terus dipukuli oleh anggota FPI yang lain. Saya
tersandung dan jatuh, pada saat itu saya merasakan pelipis kiri saya
ditendang dan kepala bagian belakang saya dipukul dengan pentungan. Saya
bangkit dan terus berlari, saya dikejar, saya berhasil menjauh dari
kerumunan FPI.

      Saya merasa kepala saya sakit semua. Semula saya belum sadar kalo
saya luka-luka. Mula-mula leher saya terasa dingin, ternyata darah
saya mengalir deras dari bagian belakang kepala saya. Kaos saya basah oleh
darah. Lalu saya merasa pelipis saya perih, yang teranyata
mengeluarkan darah.

      Namun kemudian saya merasa lega ternyata saya ketemu dengan
ponakan dan 2 anak saya yang menangis ketakutan di pinggir sebelah timur
Monas. Saya juga ketemu Hamami dan Sahal (LAKPESDAM NU) beserta
teman-temannya. Saya peluk anak-anak saya dan darah saya dibersihkan oleh
keponakan saya. Kaos PARAS yang saya pakai penuh darah dan saya lepas agar
tidak ditandai dan diserang lagi oleh FPI. Kemudian saya beristirahat di
pinggir Monas, karena kepala saya mulai pusing-pusing.

      Saya tidak mungkin terus ke rumah sakit karena saya masih
meninggalkan tanggung jawab di sana. Saya belum tahu bagaimana nasip
teman-teman saya, khususnya teman-teman relawan pemusik, yang menjadi sasaran
penyerangan pertama dari FPI. Tiga mobil kami yang masih terparkir di
tempat penyerangan juga masih di sana. Sebab, setelah menurunkan relawan
musik berikut alat-alat musiknya, kami belum sempat memindahkannya di
tempat parkir stasiun Gambir, seperti yang kami rencanakan. Alat-alat
musik kami juga masih ada di sana, dan kami belum tahu nasip alat-alat
kami seperti apa. Saya dihantui ketakutan jika mobil-mobil kami turut
dirusak atau dibakar.

      Dalam kekalutan itu, saya telephon Masdar Mas’udi, mengabarkan
apa yang menimpa kami. Dia tak percaya, heran dan marah. Dia meminta
saya tabah dan segera ke rumah sakit. Saya merasa didoakan oleh kiai NU.
Saya merasa lebih tenang. Saya segera teringat beliau karena sehari
sebelumnya, saya diundang oleh beliau di PBNU untuk mempresentasikan buku
saya tentang Islam Radikal pada acara konsolidasi imam dan khotib NU
dalam mengantisipasi ”direbutnya” mesjid dan musholla NU oleh
kalangan Islam radikal.

      Saya terus kontak teman-teman saya untuk mencari tahu apa yang
menimpa mereka. Ternyata banyak korban luka-luka. Saya ketemu Mas Suaedy
yang dagunya bengkak dan berdarah, saya ketemu Pak Syafii Anwar yang
kepalanya memar-memar, dan saya sangat marah dan sedih ketika mendengar
Guntur terluka parah, juga Kiai Maman Ainul Haq. Kalau seandainya Gus
Dur, Gus Mus, Amin Rais, Buya Syafi’i Ma’arif telah hadir di sana
mungkin beliau-beliau akan menjadi korban pula.

      Ketika pusing kepala saya makin parah, saya putuskan untuk segera
ke rumah sakit. Saya khawatir saya kehilangan banyak darah. Saya
kesampingkan semua urusan mobil dan peralatan musik. Yang penting saya
selamat. Anak saya yang kecil saya titipkan ke teman-teman PARAS, saya
bersama anak pertama saya menuju Gedung Kebudayaan seperti disarankan
teman-teman, untuk mendapatkan penanganan medis. Dari situ kami diantar Ibu
Amanda menuju rumah sakit Bakti Waluyo, Menteng. Luka di kepala saya
dijahit, luka-luka di dahi saya diobati dan diperban, memar-memar di
kepala saya diolesi krim anti bengkak. Dan saya disuntik dan minum obat.

      Alhamdulillah, teman-teman PARAS tidak ada yang terluka serius.
Mansur luka memar di beberapa bagian kepalanya, dan rusuknya sakit,
karena dikeroyok. Edy kepalanya memar kena pentungan. Ais kepalanya
memar-memar dan punggungnya bengkak. Amo tangannya berdarah kena kawat berduri
waktu lari dikejar FPI. Dila kakinya bengkak karena keseleo ketika
menyelamatkan diri. Mobil saya, mobil PARAS dan mobil relawan PARAS (dr.
Elvy), tidak mengalami kerusakan apa-apa. Tiga gitar dan satu bass bisa
diselamatkan (dibawa lari oleh personil musik). Yang membuat saya
gusar, tiga amplyfier rusak (mudah-mudahan bisa diservis), dan satu hilang.
Alat-alat percusi saya rusak parah (gak bisa dipake lagi), hard cover
gitar rusak parah dan sound effek hilang. Kabel-kabel juga raib entah
kemana. Mungkin FPI juga doyan kabel. Total kerugian peralatan musik
sekitar 9 juta. Yang meresahkan saya hingga hari ini adalah kondisi
psikologis anak saya. Semoga ia tidak mengalami phobia atau bahkan trauma,
naudzubillah min dzalik. Mereka berdua akan menjalani terapi psikologis
setelah selesai ujian semesteran. Ahh.., memang kebangetan FPI.

      Bagi saya kejadian ini merupakan bukti bahwa di negeri kita tidak
ada jaminan bagi kebebasan berfikir, berpendapat dan berkeyakinan.
Bayangkan, di siang bolong, di pusat Ibu Kota negara, di hari yang sakral
(hari lahirnya Pancasila—ideologi negara) ada sekelompok orang dengan
leluasa dan sewenang-wenang menyerang dan menganiaya orang-orang yang
berkumpul untuk merayakan hari lahir Pancasila. Orang-orang yang
diserang itu adalah kumpulan dari para aktivis dan tokoh penyeru kebangsaan,
pro-demokrasi, pro-pluralisme dan datang dari berbagai agama dan
kepercayaan. Negara ada di posisi mana sih? Bingung gue…

      Selain itu, peristiwa ini membuktikan bahwa keberagamaan kita ada
dalam masalah besar. Bagaimana ada sekelompok orang dengan nama Islam,
berbaju taqwa, meneriakkan kalam suci Allahu Akbar dengan beringas
menganiaya orang-orang yang tidak melawan, tidak berdaya dan tidak
bersalah, hanya karena dianggap berbeda dengan mereka. Dan yang
memprihatinkan, ada banyak orang yang mendukung dan membenarkan penyerangan itu. Kata
teman saya ”jangankan penyerangan, penganiayaan, pengeboman yang
membunuh ratusan orang tak berdosa juga mereka benarkan kok”.. Memang
benar sih, sebagian besar kalangan yang mendukung penyerangan adalah pula
orang-orang yang mendukung terorisme selama ini.. Yah mau bagaimana
lagi, yang radikal-radikal dipiara…

      Pengalaman ini adalah pengalaman batin, bahwa Islam yang benar
adalah Islam yang rahmatan lil ’alamin. Saya hanya beriman kepada Islam
yang hanif, yang tawassuth, yang damai, yang tidak membenci. Semakin
jelas bukti di mata saya bahwa yang dicontohkan para guru saya di
pesantren adalah Islam yang benar. Amar ma’ruf nahi munkar yang dilakukan
para kiai saya adalah perjuangan membimbing ummat, mengajari mereka
siang malam untuk menjadi muslim yang soleh, bertaqwa dan kuat iman. Mereka
bekerja secara tulus, ikhlas, tanpa mengharap bayaran. ”Benteng
keimanan adalah nomor satu” kata mereka. Itu pula yang dicontohkan ibu
dan keluargaku. Semangat membela Islam tidak didasari oleh kebencian
kepada orang lain. Apalagi membela Islam dengan menjadi preman…
Naudzubillah min dzalik…

Bagaimana kita dapat menang?


 How can we win when fools can be kings? (Matthew Bellamy, Black Holes and Revelations, 2006)

 

Kita patut bersedih, Indonesia pasca reformasi bukannya maju tetapi malah terpuruk, gema reformasi yang kaya retorika miskin substansi, yang tidak mampu me-reform bangsa dan negara. 10 tahun sudah semenjak Orde Baru tumbang, Indonesia makin jauh tertinggal ke belakang bahkan diantara negara-negara di Asia Tenggara sendiri. Thailand, Malaysia, Korea adalah negara-negara yang pernah terpuruk akibat krisis keuangan, mereka sudah bangkit, terhadap pembangunan begitu marak dan kemajuan-kemajuan disana, kita perlu sangat iri dan memandang sedih keadaan Indonesia kita sekarang ini.

 

Yang terjadi di Indonesia, para penguasa yang tidak mencintai bangsa dan negaranya, yang selalu bertikai untuk kepentingan kelompoknya dan membela perutnya sendiri-sendiri. DPR yang sebagian “tidur”, pejabat yang korup.. tidak ada nasionalisme, tidak mencintai bangsa dan negara. Pemimpin yang tidak tegas, takut dan sungkan pada kelompok tertentu, para pemimpin negara yang tidak dapat menyelesaikan kasus lumpur panas dan menindak yang membuat gara-gara bencana itu. Pengungsi pasca tsunami Atjeh yang masih ada tinggal di tenda-tenda hingga kini, angka kemiskinan yang bertambah, malnutrisi, dan lain-lain. Para mantan pejabat negara yang tidak ada puasnya menjadi pejabat, mantan menteri-pun masih ingin menjadi gubernur dan walikota. Para incumbent yang sudah jelas tidak mampu membangun suatu daerah masih ingin juga terpilih dalam pilkada. Menteri-menteri bidang kesejahteraan yang gagal mensejahterakan rakyat, malah sebaliknya menjadikan rakyat sengsara. Kita dipimpin oleh orang-orang yang tidak mempunyai itikad membangun negara. Mereka hanya berjuang untuk diri sendiri dan memperkaya diri dan kelompoknya.

 

Idealisme Yi Fu Lin:

 

Menyimak biografi Justin Yi Fu Lin, memahami nasionalisme yang dimilikinya, dada ini serasa berkobar dan bertanya, adakah orang semacam ini dimiliki oleh Indonesia? Baiklah saya akan bercerita sosok yang satu ini. Pada Tanggal 4 February 2008, World Bank president, Robert Zoellick mengumumkan Justin Yifu Lin (??? , 15 Oct 1952 – ) sebagai Bank’s new Chief Economist and Senior Vice President for Development Economics. Dia seorang warganegara China kelahiran Taiwan. Sesuatu yang spesial karena untuk posisi yang penting ini seorang Asia berkulit kuning terpilih. Barangkali ada yang menganggap hal ini sama sekali tidak spesial. Tapi kita perlu banyak tahu profil satu orang ini yang dapat memberikan kita inspirasi akan semangatnya dan cintanya kepada Negara.

 

Sebelum di World Bank, Lin adalah direktur dari China Center for Economic Research, ia adalah seorang Professor dari Beijing University, orang penting yang mempunyai banyak andil dan peranan penting dalam kemajuan China yang telah kita lihat hasilnya akhir-akhir ini. Dia menjadi salah satu designer dalam “China’s fast grow economy”, kemajuan yang berlari kencang yang dicapai China sekarang ini. Ia juga seorang ahli pertanian dan keahliannya ini diyakini akan memberi dampak yang spesifik/ unik bagi the World Bank Group.

 

Yi Fu Lin lahir dan dibesarkan di Taiwan dengan nama Zhengyi Lin (???), ia mendapat gelar MBA di National Chengchi University di Taiwan pada tahun 1978, dan juga menjalani wamil dan menjadi perwira di Taiwan. Tahun 1979, ia mendengar statement dari Deng Xiaoping (???) bahwa China tidak akan lagi “memusuhi” Taiwan atau melakukan penyerangan. Deng Xiaoping dalam kepemimpinannya dikenal sebagai pencetus pembaharuan di bidang ekonomi dengan sistem ekonomi pasar bagi wilayah- wilayah yang dianggap bisa melakukan pembaharuan, meski negara itu menganut faham Komunis. Pada 1 Januari 1979 China juga telah mulai membuka hubungan diplomatik dengan Amerika. Menimbang semua itu, rasa nasionalis Lin bangkit, ia bertekat datang ke tanah leluhur dan mengabdikan dirinya menjadi bagian untuk kemajuannya. Ia yakin China akan berubah dan menjadi Negara yang besar dan maju, dan pada saatnya China – Taiwan akan bersama sebagai saudara, Lin ingin menjadi bagian dari semuanya itu.

 

Untuk mencapai keinginannya itu, Lin muda yang kala itu masih berusia 27 tahun, seorang yang berotak brilian sekaligus idealis ini secara diam-diam meninggalkan Taiwan, meninggalkan semuanya, ayah ibunya, saudara, istri dan anaknya yang kala itu masih dalam kandungan. Keluarganya yang di Taiwan tidak habis mengerti terhadap tekat Lin ini, bagaimana ia rela meninggalkan keluarga dan anaknya demi idealisme. Jalan yang dilaluinya untuk meninggalkan dan membelot dari Taiwan inipun tidak main-main, ia pergi ke China dengan cara berenang dan mengapung dengan satu bola basket sepanjang kira-kira 2 kilometer dari pulau Kinmen Taiwan menuju ke daratan Xiamen di propinsi Fujian China pada 17 Mei 1979. Suatu tekat yang luar biasa. Kepergiannya secara diam-diam ini tidak dapat dimengerti oleh keluarga, istri dan saudara-saudaranya. Ia tentu tak dapat berpamitan secara baik-baik, karena kepergiannya “membelot” ke China dengan cara berenang adalah sesuatu perbuatan yang luarbiasa gila. Pada saat itu Taiwan menempatkan dia dalam daftar orang hilang, tetapi pada tahun 2000 ia dinyatakan Taiwan sebagai seorang yang membelot dan akan ditangkap. Ketika ditanya bagaimana ia tega meninggalkan istri dan sanak keluarga? Lin menjawab ada “saya kecil”, ada “saya besar”. “Saya kecil” adalah saya dengan urusan pribadi dan tanggung-jawab keluarga, sedangkan “saya besar” adalah cita-cita yang lebih besar untuk bangsa dan negara, ketika “saya yang besar” berhasil, saya yakin keluarga saya dapat mengerti.

 

Sesampai di daratan China, Lin berangkat ke Beijing, ia diterima di Beijing University dan menjadi pengajar disana. Pada awal hubungan China-Amerika ini, Beijing University kedatangan tamu seorang professor dari Yale University. Kala itu tidak banyak orang China yang berbahasa Inggris dengan baik. Maka Lin terpilih sebagai penterjemah, dan ia menjadi penterjemah yang baik dan “match” dengan “bahasa ilmu” yang sedang diperbincangkan, sang professor ini mengaguminya. Ia menawari Lin untuk menerima beasiswa untuk melanjutkan study ke Amerika, Lin menerimanya. Kemudian datanglah ia di Amerika untuk study. Ternyata sang istri juga mendapat beasiswa ke Amerika dari Taiwan. Bertemulah ia dengan istri dan anaknya dan bersama tinggal disana sampai studinya selesai. Ia ditawari untuk menjadi pengajar di Yale, atau universitas apa saja yang dia pilih, dengan penghasilan yang tentu saja jauh lebih tinggi daripada menjadi seorang dosen di Beijing. Namun ia berniat kembali ke Beijing dan menulis surat kepada universitas itu posisi apakah yang akan diberikan kepadanya. Namun Beijing tidak menjawab, barangkali Beijing tidak percaya Lin mau kembali dengan kehidupan yang serba kurang di Beijing, mengingat kala itu China masih sangat miskin. Namun tekat untuk membangun negara dengan semangat nasionalisme menyampingkan keinginan-keinginan materi. Ia bertekat kembali, walaupun istrinya kurang setuju. Lin adalah orang pertama sebagai ilmuwan yang belajar di negara barat dan kembali ke ‘ibu pertiwi’.

 

Hal yang membuat ia menjadi lebih bertekat untuk kembali ke China adalah ketika ia mendengar percakapan putrinya yang berumur 6 tahun dengan temannya (dari keluarga Meksiko). Putrinya berpamitan pada temannya berkata begini : “aku dan orang-tuaku mau kembali ke China, di China masih miskin, tapi kami harus kembali”. Temannya, si anak Meksiko itu berkata, “kamu kembali ke negaramu sendiri, walaupun sekarang miskin tapi ada harapan nanti akan maju”. Jawaban yang sederhana ini mampu menyemangati seorang ayah untuk membawa keluarganya kembali ke tanah leluhur. Banyak teman-teman Lin yang ada di Amerika mencoba menahannya dan mengatakan tak perlu kembali ke Beijing, karena disana ia pasti tidak akan dapat melakukan riset yang sempurna, karena tidak ada orang-orang yang sebanding dengan kemampuannya. Namun Lin bertekat akan mendidik orang-orang di negaranya menjadi selevel dengannya dan menjadi ilmuwan yang baik, yang melakukan riset-riset untuk kemajuan bangsa.

 

Sekembali di China, ia diterima kembali di Beijing University. Ia langsung diberi posisi penting di China Center for Economic Research. Semacam lembaga think-thank (a policy institute) dalam bidang ekonomi. Ia membuat banyak sekali masukan yang menjadi dasar keputusan penting dalam perekonomian negara, kiprahnya itu kemudian dikenal di dunia internasional. Dan kini, ia menjadi sosok penting bagi perekonomian dunia melalui lembaga World Bank, terutama untuk pembangunan-pembangunan negara-negara yang masih miskin, dengan fokus budidaya pangan/ pertanian.

 

Dengan hasil unifikasi Hongkong, kemudian Macao dengan China, menjadi daerah otonomi khusus “one country two systems” yang telah membuktikan secara ekonomi dan politik ada mutual-benefit. Akhir-akhir ini, baik di China maupun Taiwan, selalu didengungkan kemungkinan Taiwan bergabung, apalagi dengan terpilihnya Ma Ying Jeou (???) sebagai presiden Taiwan dari partai Kuomintang yang telah menjalin hubungan baik dengan China. ini semakin membawa harapan Lin segera terwujud. Negara yang dulu harus terpisah akan segera bersatu, ia dimungkinkan dapat bebas ke Taiwan dan tidak lagi dipandang sebagai pembelot (diserter).

 

Kisah dari Yi Fu Lin, kiranya menjadi inspirasi. Betapa Indonesia perlu orang-orang yang berkemampuan dan mempunyai rasa nasionalisme tinggi untuk kemajuan negaranya. Dan kitapun dapat membandingkan, betapa lembaga-lembaga think-thank di Indonesia ini tidak mempunyai dampak yang jelas, atau diberi andil yang besar pada kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Bagaimana negara ini kurang mempedulikan cendekiawan dan memelihara kehidupan para ilmuwan yang berkecimpung dalam penelitian (riset). Suatu contoh: Sungguh tidak pada porsinya seorang presiden repot-repot dalam urusan “blue energy” yang kemudian bermasalah. Beliau mestinya tahu persis bahwa semua penemuan baru seharusnya mendapatkan verifikasi lembaga-lembaga riset milik negara seperti LIPI dan BPPT, bahkan ada Menristek untuk membantu presiden menelitinya lebih dulu sebelum semuanya itu masuk ke meja presiden, bukannya mereka ditinggalkan untuk mempercayai ilmuwan jadi-jadian. Sudah seharusnya orang-orang riset diberi tempat dan dipelihara dengan baik oleh negara untuk mempersiapkan negara menjadi berkembang ke arah yang lebih baik. Betapa para ilmuwan kita bekerja dengan segala keterbatasan dan kurang diperhatikan negara. Negara-negara tetangga telah memperkuat risetnya, mereka bergerak maju meninggalkan Indonesia yang mundur ke belakang.

 

Blessings,

———————

 

Sumber: Bagus Pramono <sarapanpagi@hotmail.com>

June 21, 2008

 

http://portal.sarapanpagi.org/sosial-politik/bagaimana-kita-dapat-menang.html

Insiden Monas: Massa AKKBB Didatangkan dari Cirebon


Insiden Monas
Massa AKKBB Didatangkan dari Cirebon

Jakarta, 20 Juni 2008 01:06
Massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan
(AKKBB) yang dikerahkan untuk melakukan aksi demonstrasi di Lapangan
Monas pada 1 Juni 2008 dan berakhir bentrok dengan Front Pembela
Islam
(FPI) didatangkan dari Cirebon.

Kuasa hukum anti-Ahmadiyah Mahendradata usai bertemu Anggota Komisi
III di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Kamis (19/6), menjelaskan bahwa massa
yang lebih banyak ibu-ibu dan anak-anak itu semula dijanjikan akan
berwisata ke Dunia Fantasi (Dufan), Ancol, Jakarta.

Mahendradata mengemukakan, kedatangan massa AKKBB ke Jakarta dari
Cirebon itu menggunakan bus ber-AC dan tidak diberitahu akan
melakukan aksi unjuk rasa.

Namun, menurut Mahendradata, sekitar 90 persen di kerumunan massa
AKKBB itu adalah warga Ahmadiyah. Kondisi itu memicu emosi aktivis
FPI yang saat itu sangat gencar menuntut pembubaran Ahmadiyah.

Dengan adanya pengerahan massa Ahmadiyah itu, menurut Mahendradata,
diperkirakan bahwa aksi kekerasan di Monas sengaja direkayasa. “Ada
skenario untuk menciptakan kekerasan antara FPI dengan Ahmadiyah,”
ujarnya.

Adanya skenario menciptakan kekerasan di Monas itu, lanjutnya, juga
bisa diindikasikan dengan tidak adanya tokoh penting dalam aksi AKKBB.

Aksi kekerasan di Monas telah diusut polisi. Komandan Laskar Islam,
Munarman, juga telah menyerahkan diri ke polisi setelah pemerintah
menerbitkan SKB mengenai penghentian aktivitas Ahmadiyah.

Polisi telah menetapkan Munarman sebagai tersangka. Begitu juga
pimpinan FPI Habib Rizieq Shihab menjadi tersangka sekaligus ditahan
oleh pihak kepolisian. [EL, Ant]

http://www.gatra. com/artikel. php?id=115830

PDIP, Golkar dan Komitmen Kebangsaan


PDIP, Golkar dan Komitmen Kebangsaan
Hendardi
Ketua Badan Pengurus SETARA Institute

Kamis, 19 Juni 2008

Partai-partai politik dan tokoh-tokohnya ternyata masih mendapat perhatian di kalangan muda berusia 17-22 tahun, sebagaimana hasil survei yang dilakukan SETARA Institute, diluncurkan awal Juni yang lalu. Survei yang bersumber dari 800 responden ini pun menunjukkan persetujuan kaum muda atas Pancasila sebagai perekat nilai-nilai kebangsaan. 

Kaum muda juga masih percaya terhadap partai politik dan sejumlah elite politik yang berkomitmen untuk memperjuangkan nilai-nilai kebangsaan dan keberagaman. Mereka berharap nilai-nilai keberagaman (pluralisme) dan kebangsaan tidak dicederai atau dirusak hanya karena perbedaan suku atau etnis, agama atau aliran keyakinan, dan perbedaan pendapat. 

Partai-partai yang dipercayai memperjuangkan nilai-nilai keberagaman dan kebangsaan adalah PDI Perjuangan dengan 21 persen responden dan Partai Golkar dengan 17 persen responden. Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) masing mendapat 12 persen responden. 

Pandangan kaum muda mengenai partai politik yang mempunyai komitmen untuk memperjuangkan nilai-nilai keberagaman dan kebangsaan berbeda dengan tokoh politiknya. Partai Demokrat, partainya SBY–di mana SBY popularitasnya naik–ternyata hanya mendapat 11 persen, sama halnya dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). 

Kaum muda tampaknya lebih mengacu pada partai-partai besar yang banyak menduduki kursi di parlemen. Mereka juga yang banyak melakukan belanja maupun komunikasi politik yang diliput media massa. 

Hasil survei tersebut juga menunjukkan, dua tokoh politik yang mendapat perhatian paling banyak dari responden mengenai komitmen mereka terhadap nilai-nilai keberagaman dan kebangsaan adalah Susilo Bambang Yudhoyono (23% responden) dan Megawati (18% responden). Tingginya popularitas Yudhoyono disebabkan yang bersangkutan masih menjabat sebagai presiden, sehingga publik banyak melihat aktivitas melalui berbagai media massa. 

Beberapa tokoh lain yang mendapat perhatian kaum muda adalah Sri Sultan Hamengku Buwono, Wiranto, dan Hidayat Nur Wahid. Tapi, popularitas mereka masih berada di bawah kedua tokoh yang masih menjabat presiden dan pernah menjabat presiden tersebut. 

Mengenai calon presiden dalam pemilihan umum (pemilu) mendatang, kaum muda juga lebih menyukai SBY dan Megawati, dengan masing-masing memperoleh 21 persen dan 19 persen responden. Sementara itu, Sultan Hamengku Buwono menduduki peringkat ketiga dengan 11 persen responden. Tokoh-tokoh politik lainnya berada di bawahnya. 

Tampaknya kaum muda masih respek terhadap tokoh-tokoh politik yang selama ini banyak tampil di berbagai acara politik dan kenegaraan. Bisa jadi, keberadaan dan peran media massa cukup membantu elite politik dalam meraih popularitas politiknya.***


Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us


Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i

Pesan Damai Islam


Pesan Damai Islam
Tarmizi Taher
Ketua Umum Pimpinan Pusat
Dewan Masjid Indonesia

Jumat, 6 Juni 2008

Kontribusi Islam untuk perdamaian di dunia dan di regional demikian besar dalam sejarah umat manusia. Allah SWT menciptakan manusia untuk saling mengenal dan hidup dalam damai. Akan tetapi, amat disayangkan terjadinya tindak kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok massa yang gaya penampilannya terlihat layaknya Muslim yang saleh, tetapi aksinya jauh dari kesalehan. 

Padahal, di Asia Tenggara, Islam berakar dan menyebar dengan relatif damai. Penduduk lokal berpandangan bahwa Islam adalah agama kesucian, sebagaimana para pedagang Islam di India yang memakai pakaian bersih sambil memperkenalkan agama. Penduduk lokal melihat Islam sebagai agama bagi kemajuan ekonomi yang dibawa ke Malaysia dan Indonesia oleh para pedagang kaya. 

Singkatnya, penduduk Hindu melihat Islam sebagai agama orang yang lebih beradab. Islam juga mengajarkan kesetaraan (equality) di kalangan masyarakat. Setiap orang setara di hadapan Allah, kecuali dalam kualitas iman dan ketaatan mereka kepada Allah. Doktrin kesetaraan ini “menyerang” basis sistem kasta Hindu, yang mempercepat konversi damai dan sukarela masyarakat lokal Hindu ke Islam (abad ke-13 s.d.16). 

Karena itu, kelompok itu perlu menyadari bahwa Islam, seperti agama-agama lain, mengajarkan nilai-nilai yang mulia mengenai perdamaian dan cinta kepada umat manusia. Harus sadar akan fakta bahwa sebagaimana agama yang lain yang benar, terdapat keragaman luar biasa dalam Islam. Islam mewujudkan dirinya di berbagai negara yang berbeda-beda, dalam tradisi budaya yang beragam, dan dalam konteks etnis, ekonomi, dan politik yang berbeda pula. 

Kaum Muslim juga perlu menghasilkan literatur guna mengetengahkan pemahaman tentang Islam. Kaum Muslim di tingkat nasional perlu menyadari keragaman mereka, baik secara doktrinal maupun politik. Lebih dari itu, bangsa-bangsa dengan mayoritas Muslim harus tanggap terhadap aspirasi minoritas non-Muslim atau aspirasi politik dan kesetiaan golongan yang berbeda. 

Kaum Muslim memang tengah berhadapan dengan masalah, apakah harus melaksanakan ajaran agamanya secara ketat dengan menghindari tindakan kekerasan atau mengusahakan terwujudnya satu lembaga keadilan untuk memecahkan perbedaan-perbedaan politik dalam negeri. Kegagalan melaksanakan cara-cara damai dalam memecahkan persoalan dalam negeri ini bisa dengan mudah menghasilkan citra internasional Islam yang negatif. 

Setiap manusia dituntut untuk berlaku adil, baik kepada dirinya sendiri maupun kepada orang lain. Maka, masyarakat dan komunitas Muslim yang terbuka serta yang bisa saling melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan intropeksi (wa tawasau bil al-haqq wa tawasau bil al-shabr) adalah masyarakat ideal yang dicita-citakan oleh kedua prinsip Islam: moralitas dan keadilan. Dan, tatanan masyarakat ini sangat menekankan pada inklusivitas dan bukan masyarakat yang eksklusif. Karena, istilah “keadilan” itu sendiri mencerminkan tatanan masyarakat madani, beradab, dan penuh perdamaian: bukan kekerasan.***


Politik |  Hukum |  Ekonomi |  Metropolitan |  Nusantara |  Internasional |  Hiburan |  Humor |  Opini |  About Us


Copy Right ©2000 Suara Karya Online
Powered by Hanoman-i