Musibah, Tokoh Kristen Menjadi Calon Wakil Presiden Jokowi


Ini sebuah musibah luar biasa bagi umat Islam. Di mana belum pernah terjadi sepanjang sejarah Indonesia, sejak merdeka tahun l945, jabatan wakil presiden dipegang seorang yang beragama Kristen. Jika benar terjadi? Ini sebuah anomali sejarah bagi Republik ini.

Sebuah informasi dari sumber yang sangat layak dipercaya, mengatakan, bahwa Jokowi memilih Jendral Luhut Binsar Panjaitan, sebagai calon wakil presiden. Berdasarkan sumber itu, Jokowi sudah menemui Luhut di rumahnya, dan meminta Luhut Panjaitan menjadi calon wakil presiden. Menurut sumber itu, menambahkan, bahwa Luhut Panjaitan, menyatakan kesediaannya, mendampingi Jokowi, sebagai wakil presiden.

Menurut sumber lainnya, antara Jokowi dan Luhut Panjaitan sudah lama bersabat. Keduanya bersahabat dan saling komunikasi. Keduanya sama-sama pengusaha. Jokowi pengusaha ‘furniture’, dan menurut sumber informasi itu, Luhut yang memasok kebutuhan bahan ‘funiture’ Jokowi.

Dibagian lain, di dalam ‘biografi’ Jokowi, ketika masih kanak-kanak di Solo,  sering berboncengan sepeda dengan temannya yang beragama Kristen/Katolik. Sangat akrab. Jadi tidak pernah ada jarak dengan mereka yang beragama Kristen/Katolik. Inilah latar belakang Jokowi.

Ketika, maju menjadi walikota Solo, maka Jokowi memilih wakilnya, seorang Katolik, bernama Rudy. Di Jakarta pun, Jokowi di dampingi oleh Ahok, yang beragama Kristen. Jadi nampaknya sudah menjadi pilihan Jokowi, yang selalu pendampingnya dari tokoh yang agamanya Kristen.

Sebelumnya, Senin malam (15/4), berlangsung pertemuan antara Mega, Jokowi, Sabam Sirait dengan sejumlah Duta Besar dari negara-negara Barat, termasuk Vatikan, di rumah pengusaha Jacob Soetojo. Mega dan Jokowi meminta pertimbangan para Duta Besar negara-negara Barat, siapa yang akan mendampingi Jokowi sebagai calon wakil presiden?

Selain Mega, Jokowi, Sabam Sirait, hadir  Dubes Amerika Serikat (AS) Robert O.Blake Jr, Dubes Norwegia Stig Traavik, Dubes Vatikan Mgr Antonio Guido Filipazzi, Dubes Myanmar U Min Lwin, Dubes Meksiko Melba, Dubes Peru Roberto Seminario Purtorrero, dan Dubes Inggris Mark Canning . – See more at: http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2014/04/15/29876/adakah-jokowi-menjadi-ancaman-kepentingan-nasional-indonesia/#sthash.8WZU7VMv.dpufSelain Mega, Jokowi, Sabam Sirait, hadir  Dubes Amerika Serikat (AS) Robert O.Blake Jr, Dubes Norwegia Stig Traavik, Dubes Vatikan Mgr Antonio Guido Filipazzi, Dubes Myanmar U Min Lwin, Dubes Meksiko Melba, Dubes Peru Roberto Seminario Purtorrero, dan Dubes Inggris Mark Canning . – See more at: http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2014/04/15/29876/adakah-jokowi-menjadi-ancaman-kepentingan-nasional-indonesia/#sthash.8WZU7VMv.dpuf
Selanjutnya, Jokowi menetapkan pilihannya, dan tokoh yang telah dipilih  yaitu, Jendral TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan, MPA, yang lahir di Simargala, Huta Namora, Kecamatan Silaen,Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, 28 September l947.

Luhut Panjaitan pernah diangkat menjadi Duta Besar Indonesia untuk Singapura, di masa pemerintahan BJ.Habibie, kemudian ditarik pulang ke Jakarta, dan diangkat oleh Abdurrahman Wahid, menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan pada Kabinet Persatuan Nasional.

Sekarang, posisi Luhut Binsar Panjaitan masih menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Golkar. Apakah dengan dipilihnya Luhut oleh Jokowi itu, jabatannya sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Golkar, segera berakhir?

Beberapa waktu yang lalu, Luhut masih mengeluarkan kritikan terhadap Ketua Dewan Pembina Golkar, Akbar Tanjung, yang dia nilai melakukan penggembosan terhadap calon presiden Golkar, Aburizal Bakrie.

Luhut Panjaitan adalah lulusan terbaik dari Akademi Militer Nasionall angkatan tahun l970.  Karir militernya banyak dihabiskan bertugas di Kopassus TNI AD. Di kalangan militer dikenal sebagai Komandan pertama Detasemen 81 (Anti Teror).

Putra Batak ini merupakan anak ke-1 dari lima bersaudara pasangan Bonar Pandjaitan dan Siti Frida Naiborhu. Untuk mengejar cita-citanya, ia hijrah ke Bandung dan bersekolah di SMA Penabur.

Inilah sebuah perkembangan baru pasca pemilu legislatif 2014. Di mana dengan situasi politik yang penuh ketidak pastian. Dengan tidak adanya suara mayoritas yang diperoleh oleh partai-partai politik. Partai mana nanti yang akan digandeng PDIP, mengusung pasangan Jokowi-Luhut Binsar Panjaitan?

Lalu, menghadapi langkah politik yang dilakukan oleh Mega, Jokowi, dan PDIP, Partai-partai Islam, masih belum mau bersatu? Sudah ada preseden, di DKI Jakarta, kalangan Islam gagal, dan kemudian kemenangan di raih Jokowi-Ahok.

Di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, kondisi sama, di mana tokoh-tokoh Kristen mengambil alih kekuasaan di wilayah itu, akibat perpecahan kalangan politisi Islam. Dapatkah langkah politik Jokowi ini, membuat kesadaran baru?

Jika pasangan Jokowi-Luhut Panjaitan menang dalam pilpres nanti, maka pertamakali dalam sejarah Indonesia, wakil presiden beragama Kristen. Sementara itu, DKI Jakarta akan dipegang oleh Ahok yang beragama Kristen. Ini merupakan sejarah baru DKI, di mana belum pernah terjadi sebelumnya, seorang Gubernur DKI beragama Kristen. (jj/voa-islam.com)

Sumber: voa-islam.com

Iklan

Syariat Islam harus jadi Pemersatu Bangsa


Menteri Agama Suryadharma Ali berharap syariat Islam yang diberlakukan di Aceh ke depan semakin menjadi pemersatu dan kekuatan di Indonesia.

“Syariat Islam harus menjadi kekuatan ekonomi, sosial dan politik bagi Indonesia,” kata Suryadharma Ali ketika diterima Bupati Aceh Barat Teuku Alaidinsyah di kediamannya, Kota Meulaboh, Selasa (18/2) siang.

Menag berada di provinsi paling Barat Indonesia itu dalam kaitan kunjungan kerja untuk melihat langsung kesiapan Sekolah Tinggi Agama Islam Tgk Chiek Direndeng menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) beberapa waktu mendatang.

Ikut mendampingi Menteri Agama, Direktur Pendidikan Islam Dede Rosada, staf khusus Budi Setiawan, Sekretaris Ditjen Bimas Islam Muhammad Amin, Kanwil Kemenag Aceh dan dan beberapa orang direktur di lingkungan Kementerian Agama.

Menurut Menag, syariat Islam yang berkembang di Aceh berlangsung dengan baik. Karena ajaran Islam itu mengedepankan rahmatan lil alamin, penuh rahmat dan toleransi. Islam yang berkembang di Aceh diharapkan dapat menjadi inspirasi dan mendorong kekuatan bagi ekonomi rakyat. 

“Jika kita memberi kehidupan kepada seseorang, tentu itu sama dengan memberi kehidupan bagi jagat raya. Alam semesta yang luas ini,” kata Suryadharma. 

Suryadharma menyambut gembira bahwa program kegiatan Maghrib mengaji di daerah ini mendapat sambutan hanyat. Anak usia dini hingga dewasa melaksanakan dengan baik. Bahkan, dilengkapi pula dengan kegiatan safari Subuh yang didukung Forum Komunikasi Safari Subuh. (Antara)

Sumber: http://m.islamindonesia.co.id/detail/1410-Syariat-Islam-harus-jadi-Pemersatu-Bangsa

Spanduk Larang Ibadah Muncul di Parung


Spanduk larang ibadah di Parung Bogor sejak Minggu (18/12) (Foto: Istimewa)

Menjelang Natal dan tahun baru, spanduk pelarangan kegiatan ibadah di Gereja St Johannes Babtista, Parung Bogor bermunculan. Spanduk bertuliskan, “Kami Masyarakat Muslim Parung Mendukung dan Akan Mengawal SK Bupati Nomor: 453.2/556-Huk Perihal: Penghentian Seluruh Kegiatan Gereja Katolik Paroki Santo Babtista Parung” muncul sejak Minggu (18/12) lalu.

Meski demikian, kesaksian seorang warga dari Parung menyebutkan bahwa ibadah hari Minggu lalu di lokasi itu tetap dilakukan di bawah pengawasan ketat aparat keamanan.

Menanggapi ini, Ketua Komisi Hubungan Antara Agamga dan Kepercayaan Keuskupan Semarang Aloys Budi Purnomo menilai, munculnya spanduk seperti itu mencerminkan masih amburadulnya perspektif kebebasan beragama di neger ini. “Sayangnya elit politik dan pejabat kita selalu bungkam tak berdaya membela rakyatnya sendiri,” ujarnya. [A-21]

Sumber: SUARA PEMBARUAN Rabu, 21 Desember 2011

Sesat Pikir RUU Kerukunan Umat Beragama


Rancangan Undang-Undang Kerukunan Umat Beragama sedang digodok di Komisi VIII DPR. Roh perumusan RUU ini berakar pada kegalauan pemerintah atas konflik silang sengkarut antar-agama yang mengancam keutuhan bangsa.

Namun, banyak pihak sangsi akan muatan substantif RUU itu. Ada tendensi negara mengintervensi wilayah privat yang mengungkung umat beragama dalam sekat aturan teknis yang kaku dan monolitik. Satu pasal yang menimbulkan polemik menyangkut penyiaran agama.

Dalam Pasal 1 RUU KUB, ”penyiaran agama” adalah segala bentuk kegiatan yang menurut sifat dan tujuannya menyebarluaskan ajaran suatu agama, baik melalui media cetak, elektronik, maupun komunikasi lisan. Selanjutnya, Pasal 17 Ayat 2 menyebutkan bahwa penyiaran agama ditujukan kepada orang atau kelompok orang yang belum memeluk suatu agama.

Pasal itu menimbulkan sejumlah masalah karena, pertama, penyiaran agama dalam perspektif teologi Islam, Kristen, ataupun Buddha merupakan kesaksian hidup yang harus dijalankan dan pesan profetik yang diamanatkan secara ilahiah. Melarangnya berarti menganjurkan pembangkangan terhadap agama. Pasal 28 E Ayat (1) dan (2) UUD 1945 tegas memberi ruang kebebasan bagi tiap orang memeluk dan menjalankan agama serta berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan. Inkonstitusional jika negara dengan otoritas politiknya berusaha membelenggu kebebasan menjalankan perintah agama.

Kedua, sesudah kolonialisme Belanda, semua warga Indonesia memeluk dan meyakini agama kendati agama yang dianut tak seluruhnya diakui sebagai agama negara. Lalu siapa yang dimaksud seseorang atau kelompok yang dibolehkan obyek penyiaran agama? Mereka yang menganut agama di luar agama negara?

Fobia berlebihan

Pemerintah pasti lebih paham bahwa manusia dalam menjalankan imannya tak bisa diseragamkan. Iman adalah hasil pencarian, tak sekadar melalui ketajaman logika yang bisa dijawab dengan rumus atau dijabarkan dalam kaidah hukum.

Adalah fobia berlebihan apabila penyiaran agama diklaim sebagai penyulut segala persoalan hubungan antar-agama sehingga penerapannya perlu dibatasi. Munculnya gesekan teologis dalam penyiaran agama memang bermula dari pola difusi kultural demi memperoleh sebanyak-banyaknya pengikut. Kebudayaan besar ”melegitimasi” praktik intoleransi dan pemaksaan terhadap kebudayaan kecil dengan melampaui batas demarkasi teologi agama masing-masing.

Fakta itu harus disikapi secara kultural dengan meletakkan penyiaran agama dalam visi humanis dan berwawasan paralelisme kultural sehingga keberadaan keyakinan dan kebudayaan kecil dijunjung tinggi: ekuivalen dengan visi agama besar.

Pada RUU KUB ada indikasi bahwa masalah kekerasan dalam agama disebabkan oleh penyiaran agama, peringatan hari besar keagamaan, bantuan asing, pendirian tempat ibadah, penguburan jenazah, dan perkawinan. Padahal, banyak dimensi lain yang jadi faktor utama pemicu konflik antar-agama. Maka, mengevaluasi praktik keagamaan yang bermuara pada penggunaan kekerasan selayaknya dilakukan secara komprehensif sehingga tak menghasilkan simpulan parsial.

Kekerasan berbau agama sesungguhnya muncul sebagai klimaks kecemburuan terhadap peran negara yang mandul. Negara gagal mengelola modernisasi dan globalisasi sehingga kesempatan hidup bagi kelompok kecil dan lemah sangat minim. Derita Ahmadiyah, misalnya, menjadi cermin kegagalan negara mengayomi semua warganya.

Alih-alih menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan, pemerintah daerah justru ramai-ramai menyikapi dengan menerbitkan surat keputusan gubernur yang intinya melarang aktivitas keagamaan Jemaah Ahmadiyah. Belum lagi masalah hak-hak sipil penghayat kepercayaan yang hingga kini tak kunjung diperhatikan. Politik diskriminasi itu kian menegaskan: negara mengingkari kewajiban menghormati, melindungi, memajukan, dan menegakkan hak asasi warga negara yang diamanatkan Pasal 71 dan 72 UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM.

Intervensi negara

Proses perumusan RUU KUB mengingatkan kita pada Orde Baru. Intervensi negara yang berkedok sebagai fasilitator dalam menjembatani dialog antarumat beragama sarat tendensi politik. Negara dengan otoritasnya berambisi menciptakan suatu komunitas yang digunakan untuk menunjang keamanan dan kelanggengan kekuasaan. Potret kelam ini memungkinkan agama terus-menerus berada di bawah bayang-bayang kekuasaan.

Jadi, perumusan RUU KUB perlu dikaji ulang lantaran dampaknya sangat kompleks. Pertama, akan terjadi penyempitan peluang agama dalam mengembangkan landasan etik karena dibatasi oleh tembok aturan yang sangat teknis. Kedua, umat beragama kian jauh dari semangat kesatuan karena terfragmentasi oleh batasan peraturan negara.

Ketiga, ruang gerak komponen masyarakat sipil untuk terlibat aktif membangun interaksi antarumat beragama jadi terbatas sehingga mereka kehilangan kapasitas yang, dalam jangka panjang, akan melemahkan tingkat keberdayaannya. Keempat, pemuka agama di mata masyarakat terkesan tak mampu menjalankan tugas keumatan sehingga perlu otoritas pemerintah membangun suatu hubungan harmonis antarumat beragama.

Ke depan, peran tokoh agama perlu dikembalikan pada khitahnya. Pengaturan interaksi antarumat beragama biarlah oleh tokoh agama dengan menekankan pertalian kultural daripada regu- lasi formal. Negara lebih baik me- niadakan korupsi, kemiskinan, ketakadilan hukum dan ekonomi, serta pelanggaran HAM.
Achmad Fauzi Aktivis Multikulturalisme; Alumnus UII, Yogyakarta (Kompas 20 Nov 2011)

Inilah Daftar Gereja-Gereja yang Diganggu pada Tahun 2011


From: Theophilus Bela

Dear all, bersama ini kami berikan daftar gereja-gereja yang diganggu tahun 2011 hingga saat ini sebagai berikut : 

1. Sekolah dan Gereja Katolik di Tapung, Kabupaten Kampar, Riau pada hari Jumat, tanggal 21 Januari 2011    mendapat hasutan dari seorang tokoh setempat bernama Datuk Suhaidi untuk ditutup . Namun hal tersebut    dapat dicegah oleh aparat keamanan Pemerintah Daerah setempat. 

2. Gereja Katolik Petrus dan Paulus di Tamanggung, Jawa Tengah diserang massa pada hari Selasa, tanggal     8 Februari 2011 (kejadian ini menyusul keputusan pengadilan di Temanggung tentang penodaan agama dan     juga menyusul kasus penyerangan atas warga Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten pada hari     Minggu, tanggal 6 Februari 2011) 

3. Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) di Temanggung, Jawa Tengah diserang massa pada hari Selasa, tanggal    8 Februari 2011 seperti kasus nomor 2 diatas 

4. Gereja Bethel Indonesia (GBI) di Temanggung, Jawa Tengah diserang massa pada hari Selasa, tanggal    8 Februari 2011 seperti kasus nomor 2 di atas 

5. Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Galilea, di Taman Galaxi, Bekasi, Jawa Barat diserang massa    pada hari Rabu, tanggal 9 Februari 2011 

6. Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) di Sleman, Jogyakarta dari Bapak Pdt. Nico Lomboan karena      mendapat gangguan massa maka harus pindah dan mengadakan kebaktian hari Minggu di sebuah gedung     milik Pemda setempat . Kejadian tanggal 10 Februari 2011 

7.  Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) di Pondok Aren, Banten dari Bapak Pdt. Kaunang dipaksa     massa untuk menurunkan papan nama gereja pada tanggal 22 Februari 2011 

8. Gereja Katolik Paroki Santa Maria di Kalvari, Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta Timur hari Minggu    tanggal 20 Februari 2011 pukul 8 pagi didatangi serombongan orang yang menyatakan protes tentang    keberadaan gereja 

9. Kapela Katolik Santo Antonius di Air Molek, Teluk Kuantan, Riau dibakar pada hari Senin, tanggal    11 April 2011 oleh massa yang kecewa karena calon mereka kalah dalam Pilkada setempat . Juga kantor     Komisi Pemilihan Umum setempat dibakar massa . 

10. Hari Kamis tanggal 14 Apri 2011 sebuah gereja baru di Dukuh Ubalan, Desa Panutan, Kecamatan      Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur diserang massa yang menyebabkan dinding gereja rusak .      Gereja belum bisa diketahui namanya hingga kini 

11. Hari Kamis tanggal 21 April 2011 ditemukan bom 150 kg didekat gereja Bethel “Christ Cathedral”      di Serpong, Tangerang, Banten . Bom tersebut diletakkan oleh kaum teroris yang telah ditangkap      polisi. 

12. Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) di Logas Tanah Darat, Kabupaten Kuantan Sengenge, Riau       dibakar massa pada hari Senin tanggal 1 Agustus 2011 pukul 23 WIB . Massa sebanyak 100 orang       mula-mula mengancam jemaat gereja dengan senjata tajam lalu menyiramkan bensin dan membakar       gereja . Informasi ini diberikan oleh Klasis Riau/Sumbar Pdt. Sahat Tarigan

13. Sebuah Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) dilokasi yang hanya berjarak 5 km dari gereja nomor 12 diatas      juga dibakar oleh massa yang sama pada hari Senin, tanggal 1 Agustus 2011 malam 

14. Gereja Katolik di Stasi Tanjung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah akhir-akhir ini sering dilempari batu       oleh warga dari sebuah kampung tetangga .Genteng dan kaca jendela pecah karena lemparan batu dan       kondisi gereja sangat memprihatinkan dan umat gereja mulai merasa takut . Polisi di Tanjung-Brebes pura       pura tidak tahu apa-apa . Informasi kami terima dari seorang kawan tanggal 15 Juni 2011 15.  Aprilia Diyah Kusumaninggrum yang biasa dipanggil Lia (usia 22 tahun), alumni Sekolah Tinggi Teologi (STT)       di Magelang pimpinan Bapak Pdt. Nico Lomboan (Gereja Pantekosta di Indonesia/GPdI) Sleman, Jogyakarta       diculik orang tak dikenal pada tanggal 9 Juni 2011 malam di Situbondo, Jawa Timur . Lia ditinggalkan dalam       keadaan tidak sadar di perkebunan tebu di Madiun . Setelah sadar Lia dibantu warga setempat dan naik bus       menuju Jogyakarta dan dijemput Ibu Pdt. Esther Lomboan dari GPdI Sleman, Jogyakarta 

16. Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) di Jalan Jatibaru, Tanah Abang, Jakarta Pusat dari Pdt. JW Shino diancam      akan disita tanahnya oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tanggal 6 Agustus 2011 . Eksekusi ditunda atas      bantuan aparat pemerintah terkait.

17. Gereja Alkitabiah Maranata, Jalan Kacang Tanah, Bojong Indah, Rawa Buaya, Jakarta Barat dari Pdt. Silas      Kusah pada hari Minggu tanggal 31 Juli 2011 didatangi massa sekitar 100 orang yang ingin memaksa      gereja ditutup karena belum punya izin . Setelah diadakan perundingan maka disepakati bahwa papan nama      gereja diturunkan dan kegiatan gereja untuk sementara dihentikan sampai keluar izin dari Wali Kota Jakarta      Barat . 

18. Perayaan Paskah disebuah Sekolah Kristen di Cirebon, Jawa Barat dibubarkan oleh sekelompok orang      yang menamakan diri GAPAS (Gerakan Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat) pimpinan Andi Mulya pada      hari Senin, tanggal 16 Mai 2011 . Polisi hanya menonton kejadian tersebut . 

19. Gereja Kristen Jawa (GKJ) di Dukuh Jambon, Desa Sabranglor, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten,      Jawa Tengah dilempari bom molotov yang meledak dan menimbulkan kebakaran diatap gereja . Diduga      kejadian sekitar pukul 2 pagi tapi jemaat gereja baru mengetahui kejadian tersebut pada hari Kamis Pesta      Kenaikan Yesus tanggal 2 Juni 2011 siang . Barang bukti berupa pecahan botol, sumbu yang terbakar dan      botol air minum berisi bensin sudah diamankan polisi .      September 2010 gereja tersebut juga telah dilempari bom molotv tapi tidak meledak . 

20. Gereja Masehi Injili (GMI) didusun Sungai Langsat, Desa Pasaribu Pangean, Kabupaten Kuantan Sengge,      Riau pada tanggal 2 Agustus 2011 pukul 11 malam dibakar massa . Bangunan gereja dari kayu habis      terbakar . Ada 15 anggota jemaat gereja yang biasa mengadakan kebaktian digereja tersebut . Berikut ini ada 5 buah gereja di Surabaya yang pembangunannya dilarang oleh Pemda setempat, menurutlaporan majalah Kristen Gaharu, September 2011, dihalaman 10 -11 . Kelima gereja tersebut ialah : 
1. Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Kota Madya Surabaya 

22. Gereja Kristen Indonesia (GKI) Gayung Sari di Kota Madya Surabaya 

23. Gereja HKBP Sedati Sidoarjo di Kabupaten Sidoarjo 

24. Gereja Katolik Sukolilo (yang akhirnya pindah ke Galaxi Bumi Permai, Kota Madya Surabaya) 25. Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) di Kota Madya Surabaya Itulah ke-5 gereja yang dilaporkan majalah rohani Kristen Gaharu edisi September 2011 

26. Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) di Perumahan Cituis Indah, Blok E No. 42, Desa Surya Bahari,       Kecamatan Paku Haji, Tangerang Utara, Banten dengan Bapak Pdt. William Laoh (49 tahun) diancam       akan ditutup . Pada hari Minggu tanggal 4 September 2011 terjadi demonstrasi menentang kehadiran       gereja oleh massa lalu pihak Camat mengeluarkan surat perintah penutupan gereja . Gereja sudah berada       dilokasi sudah 13 tahun dengan jemaat sekitar 40 orang . Menurut rencana pada hari Minggu tanggal 11       September 2011 akan diadakan demontrasi massa lagi tapi berkat kesigapan pihak polisi dan aparat       keamanan terkait demontrasi tidak terjadi . 

27. Gereja Kristen Baptis Jakarta (GKBJ) Pos Sepatan dengan Pdt. Bedali Hulu di Perumahan Sepatan       Residens Blok I No. 7 desa Pisangan Jaya, Kecamatan Sepatan, Tangerang Utara Banten mendapat       ancaman akan diserang massa pada hari Minggu tanggal 11 September 2011 tapi hal ini batal karena       kesigapan polisi dan aparat keamanan terkait . Atas petunjuk Kapolsek Sepatan kebaktian gereja untuk       sementara diadakan dari rumah kerumah anggota jemaat . Gereja ini sudah sering sekali mendapat       gangguan dari warga disekitar gereja . 28. Gereja Katolik Santa Theresia di Poso, Sulawesi Tengah diserang massa hari Jumat tanggal 16 September       2011 . Hanya pintu gereja yang terbakar karena kesigapan pihak polisi mengamankan lokasi gereja . 

29. Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) di Poso, Sulawesi Tengah dilempari bom molotov oleh massa pada hari       Jumat tanggal 16 September 2011 . Untung bom molotv tidak meledak sehingga gereja selamat . 

30. Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) di Ranca Ekek, Kelurahan Mekar Galih, Kecamatan      Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat dengan Bapak Pdt. Bernard Maukar, gereja ini ditutup Pemda setempat tanggal 29 Juli 2011 . Jemaat gereja berjumlah 300 jiwa termasuk anak2 dan      gereja telah berada dilokasi 24 tahun lamanya . Bapak Pdt. Christ Hutabarat dari Badan Pengurus GPdI      mengunjungi gereja tanggal 20 September 2011 dan melaporkan kejadian tersebut .Kejadian ini sudah      ditangani pihak polisi dan aparat keamanan terkait secara serius . Dalam tahun 2010 yang lalu kami telah melaporkan 47 buah gereja yang diganggu ditanah air Semoga gangguan terhadap pihak gereja segera berhenti ditanah air kita tercinta ini Demikianlah doa kami

KALAU GEREJA ANDA ATAU GEREJA TETANGGA ANDA MENDAPAT ANCAMAN MAKA JANGAN RAGU-RAGU MENGHUBUNGI KAMI JUGA PADA HARI MINGGU ATAU HARI RAYA Salam hormat, Theophilus BelaKetua Umum Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ)Sekjen Religions for Peace IndonesiaDuta Besar Perdamaian

Berbagai Tindak Kekerasan Cederai Budaya Hargai Kehidupan


Jumat, 22 April 2011 07:05 WIB |

Uskup Agung Semarang Mgr.Yohanes Pujasumarta mengatakan, berbagai tindak kekerasan terjadi belakangan ini telah mencederai budaya menghargai kehidupan.

“Lepas dari alasan apapun, budaya kekerasan tidak bisa dibenarkan,” kata Mgr.Yohanes Pujasumarta dalam pesan Paskah 2011 yang disampaikan di Semarang, Jumat.

Menurut dia, sejumlah tindak kekerasan yang terjadi belakangan ini seperti kasus Cikeusik, Pandeglang, Banten; kerusuhan Temanggung; hingga yang terakhir peristiwa ledakan di Cirebon.

Ia menilai, berbagai kejadian tersebut bukanlah suatu kecelakaan, namun suatu kesengajaan atau telah direncanakan.

Para pelakukanya, lanjut dia, bukanlah perorangan, namun orang-orang dengan maksud tertentu yang ingin menimbulkan ketakutan dan mengganggu keamanan.

Selain itu, ia sangsi jika motif dalam berbagai tindak kekerasan yang terjadi tersebut didasarkan atas motif agama.

“Motifnya lebih ke kekuasaan politik yang dibungkus dalam nuansa agama,” katanya.

Oleh karena itu, lanjut dia, Paskah 2011 ini merupakan momentum untuk mengubah kehidupan dari “Culture of Death” menjadi “Culture of Life”.

“Mengubah budaya kekerasan menjadi kelembutan. Nurani menyuarakan untuk memelihara kehidupan, bukan melenyapkannya,” tambahnya.

Ia menegaskan, manusia bukanlah pemilik atau penguasa kehidupan, melainkan pelayan untuk mengembangkan, menerima dan melestarikan kehidupan.

(Antaranews.com)

Seskab Apresiasi Sambutan Rakyat NTT Kepada Presiden


Minggu, 13 Februari 2011

Sekretaris Kabinet Dipo Alam mengapresiasi ketulusan sambutan dan ungkapan semangat kasih serta persaudaraan yang diberikan rakyat Nusa Tenggara Timur (NTT) kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

“Saya merasa terharu menyaksikan ketulusan hati puluhan ribu masyarakat NTT yang mengeluk-elukkan Presiden Yudhoyono dan Ibu Negara,” kata Dipo Alam dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA, Minggu.

Presiden dan Ibu Ani Yudhoyono melakukan kunjungan kerja selama empat hari di NTT, 8-11 Februari 2011.

Menurut Dipo Alam yang juga turut mendampingi Presiden, selama kunjungan Presiden selalu menerima ungkapan semangat kasih dan persaudaraan yang disampaikan dari kalangan pastor, pendeta, tokoh masyarakat hingga jajaran pemerintahan daerah seperti gubernur, bupati dan walikota.

“Ketulusan hati rakyat NTT sangat bertolak belakang dengan apa yang didengung-dengungkan kalangan tokoh lintas agama eksklusif, seperti Din Syamsuddin, Syafii Maarif dan Romo Benny Susetyo,” katanya.

Dipo menyatakan, di NTT para tokoh lintas agama dengan penuh semangat mendoakan agar Presiden dan Ibu Negara diberikan keselamatan dan kekuatan untuk memimpin negeri berpenduduk 230 juta jiwa ini. “Dari Bandara El-Tari di Kupang sampai ke Atambua, dekat perbatasan dengan Timor Leste, rakyat mengelu-elukan tanpa hentinya. Bahkan, sampai malam hari ketika rombongan melakukan jalan darat dari Kupang menuju Kabupaten SoE,” jelasnya.

Dipo yang juga dikenal sebagai aktivis mahasiswa tahun 1975 itu mengungkapkan apresiasi dan rasa haru yang dalam atas doa seorang pendeta agar Pancasila menjadi salah satu tali kasih dan semangat persaudaraan.

“Sejuk rasanya mendengarkan doa pendeta perempuan itu menyebutkan kembali Pancasila, ketika kini kita jarang mendengar tokoh agama mengucapkan mengenai semangat Pancasila, yang menjadi satu pilar kebangsaan dan persatuan kita,” katanya.

Karena itu, dia merasa heran ketika menyaksikan pemberitaan di sebuah stasiun televisi yang menyebutkan bahwa rombongan Presiden “ditolak rakyat NTT”.

Presiden Yudhoyono melakukan kunjungan kerja ke Kupang antara lain untuk menghadiri Peringatan Hari Pers Nasional. (*)(Tz.A017/G003/S023) (Antaranews.com)