Agama Salah Dipahami


Aksi terorisme di kalangan umat Islam tumbuh akibat pemahaman yang salah terhadap hakikat ajaran Al Quran dan Hadis. Untuk itu, para tokoh agama diharapkan lebih getol lagi mengampanyekan nilai keislaman yang menekankan perdamaian, dialog, dan kehidupan harmonis.

Gagasan itu mengemuka dalam pembukaan ”International Conference on Islam, Civilization, and Peace” di Jakarta, Selasa (23/4). Hadir memberikan sambutan Menteri Agama Suryadharma Ali serta mantan Menteri Wakaf dan Urusan Keislaman Kerajaan Jordania Abdul Salam Al Abbadi. Pembicara dalam acara tersebut antara lain Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Komaruddin Hidayat, dan pakar perbandingan agama dari Al-Albayt University Jordania, Amir al-Hafi.

Menurut Suryadharma Ali, ajaran Islam masih sering disalahartikan sehingga menciptakan citra kekerasan. Padahal, Islam sangat mementingkan perdamaian, persaudaraan, dan kehidupan yang harmonis di antara agama, kelompok, dan suku yang berbeda. Semangat itu tecermin dalam kerukunan masyarakat Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim.

Indonesia terdiri dari 17.000 pulau, sekitar 1.200 suku, 720 bahasa daerah, dan sejumlah agama. ”Namun, dengan kemajemukan itu, kita bisa bertahan sebagai bangsa. Ini bukti sekaligus bahan studi perdamaian untuk dunia,” kata Suryadharma Ali.

Abdul Salam Al Abbadi juga mengungkapkan, Islam adalah agama perdamaian, cinta kerukunan, dan kebersamaan. Itu pesan yang jelas dari Al Quran dan Hadis, serta dapat dikaji secara ilmiah dalam pengalaman Nabi Muhammad saat membangun Mekkah dan Madinah. Namun, belakangan muncul kelompok yang menyimpangkan ajaran Islam untuk tujuan kekerasan dan terorisme atas nama agama.

”Kelompok teroris itu tidak tahu hakikat agama yang mengajarkan perdamaian dan keadilan. Dalam bergaul dengan umat beragama lain, kita harus berbuat baik kepada orang-orang yang tidak melukai umat Islam. Bahkan, Nabi menerima delegasi dari kelompok Nasrani di Masjid Nabawi,” katanya.

Etika hidup bersama

Komaruddin Hidayat menjelaskan, keimanan seseorang pada dasarnya merupakan urusan pribadi penganut agama. Ketika kegiatan keagamaan memasuki wilayah publik, diperlukan etika hidup bersama yang melampaui batas agama-agama. Hal itu mencakup penghargaan kepada sesama manusia, toleransi, dan menjaga ruang publik sebagai milik bersama.

Dalam kesempatan itu, Amir al-Hafi menekankan pentingnya membangun dialog di antara semua umat beragama. Hal itu menjadi sarana untuk belajar, saling memahami, dan saling menghargai. Setiap agama pada dasarnya mengusung satu kalimat yang sama, yaitu membangun kebaikan untuk publik.

Perasaan sebagai sesama manusia yang sederajat dan saling menghormati diperlukan untuk membangun dunia. Daripada terus mencari perbedaan dan ketegangan, lebih baik kita mencari titik temu yang membuat kita bisa hidup berdampingan dengan semua kelompok secara damai. Sumber: Kompas cetak, 24 April 2013)

Dialog dalam Bayangan Kekerasan


_______
Armada Riyanto dari Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana, Malang, Indonesia, mengamati, relasi antarnegara hanya bisa dilakukan atas dasar ketulusan dan kejujuran
_________

Persoalan dalam dialog lintas agama yang dilakukan lintas negara selalu dibayangi peristiwa tragis terkait intoleransi agama, etnis, budaya, pemakzulan, dan segala hal yang bersifat kebencian dan permusuhan terus berlangsung di seluruh dunia.

Dialog yang menyerukan kesalingpahaman dan penghormatan pada identitas hampir tidak menyentuh persoalan sehari-hari,” ujar Magdalena Lewicka dari Universitas Nicolas Copernikus di Tarun, Polandia.

Ia menyampaikan hal itu dalam Dialog Antariman dan Antarbudaya Indonesia-Polandia di Krakow, Polandia, beberapa waktu lalu. Para pembicara berasal dari para akademisi dan tokoh agama, khususnya Islam dan Kristen.

Dialog itu diselenggarakan Kementerian Luar Negeri RI, Departemen Agama dengan negara-negara mitra. Bagian dari soft diplomacy sejak 2002 itu dimaksud untuk meluruskan kesalahpahaman Barat mengenai Islam, terutama sejak serangan 11 September 2001 di New York, dan menjelaskan posisi Islam Indonesia.

Menyentak

Gugatan itu menyentak karena dialog senantiasa merupakan upaya untuk menghormati perbedaan dan kemanusiaan yang transenden. Sementara, menurut Magdalena, Barat masih melihat Islam sebagai ancaman. Pun sebaliknya.

Meski demikian, hubungan kelompok minoritas Islam dengan kelompok mayoritas Katolik di Polandia berjalan sangat baik, seperti dipaparkan Adam Was SVD dari Konsil Bersama Islam-Katolik di Polandia. Kondisi seperti itu dibangun dan didukung oleh Paus Yohanes Paulus II (alm).

”Semasa hidupnya, beliau melakukan dialog dengan banyak tokoh Muslim di dunia. Dasar pijakannya adalah ’kalau engkau mencintai Tuhan, engkau harus mencintai sesamamu,” ujar Was.

Hubungan Polandia dengan Islam secara historis terbangun selama ratusan tahun. Meski demikian, menurut Mufti Tomasz Miskiewicz dari Asosiasi Agama Islam Polandia, pembangunan masjid di Warsawa masih terganjal persoalan hukum karena lahan itu diambil alih negara pasca-Perang Dunia II.

Pemerintah Polandia mengakui keberadaan komunitas Etnis Tatar. Presiden Bronislaw Komorowski bahkan mengundang perwakilan kelompok etnis Tatar ke Istana Kepresidenan untuk memperingati ulang tahun ke-85 Asosiasi Agama Islam Polandia.

Komorowski selalu menyerukan toleransi yang besar dan kemampuan mengelola hubungan antara iman, budaya, dan bahasa. Namun, gelombang intoleransi terhadap Islam di Eropa melahirkan kekhawatiran di kalangan kelompok minoritas Islam di Polandia.

Jumlah mereka 40.000- 50.000 orang atau sekitar 1 persen dari jumlah penduduk Polandia, sementara etnis minoritas Tatar beragama Islam jumlahnya 5.000-6.000 orang. Sekitar 97 persen penduduk Polandia beragama Katolik.

Suara minoritas

Contoh paling ekstrem dari kekerasan terhadap kelompok minoritas dikemukakan Paul Bhatti, Presiden Aliansi Semua Minoritas Pakistan (APMA). Ia adalah ”Utusan Khusus” Perdana Menteri Yousaf Rasa Gilani untuk masalah Minoritas Agama yang bertugas mengelola permasalahan terkait dengan minoritas agama di tingkat federal.

Paul Bhatti adalah adik Shabaz Bhatti (alm), Menteri Urusan Minoritas di Pakistan yang dibunuh pada 2 Maret 2011 di Islamabad, menyusul pembunuhan Gubernur Punjab, Salman Tasser oleh pengawalnya, bulan Januari. Kelompok ekstremis mengatasnamakan agama mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan itu Tasser dan Bhatti adalah dua tokoh publik di Pakistan yang gencar menyerukan penolakan hukuman mati terkait kasus-kasus yang dinyatakan sebagai ”penodaan agama”. Keduanya sangat keras menyuarakan amandemen hukum mengenai penodaan agama yang telah menelan banyak korban.

Pihak-pihak yang mengadvokasi hak asasi manusia terkait kasus-kasus penodaan agama di Pakistan menerima berbagai ancaman pembunuhan. Mereka yang berani menyerukan revisi hukum soal penodaan agama dianggap kafir dan halal dibunuh.

”Pakistan hari ini jauh berbeda dengan Pakistan pada 1947,” ujar Paul Bhatti dengan nada getir, ”Dulu, kebebasan beragama dijamin undang-undang, tak ada ketakutan beribadat, tak ada tekanan dan diskriminasi,” ujarnya dengan nada getir.

Gambaran Pakistan hari ini adalah negeri yang penuh kekerasan setelah kasus terorisme lintas batas dan ekstremisme mengatasnamakan agama. Kemiskinan meruyak.

Situasi itu diperparah oleh mereka yang mengingini ketidakstabilan terus berlangsung karena mendapat manfaat dari kondisi itu. Bhatti menyerukan agar komunitas internasional memberikan perhatian pada situasi di Pakistan.

Bukan krisis agama

Menurut Miskiewicz, krisis di dunia Islam saat ini merupakan krisis politik, bukan krisis agama. Krisis itu merambat dengan cepat ke sejumlah negara, dipicu berbagai persoalan riil yang tak bisa diselesaikan oleh negara.

Sekjen International Conference of Islamic Scholars Indonesia (ICIS) KH Hasyim Muzadi menambahkan, bertepatan dengan perang melawan terorisme yang dilancarkan dunia Barat ke Timur Tengah akibat peristiwa 11 September, serbuan pengaruh global, khususnya di bidang ideologi, tak dapat dibendung. Secara bersamaan, berbagai persoalan membelit Indonesia yang masih berada dalam masa transisi demokrasi.

Banyak aliran keras masuk karena mereka berasumsi Indonesia adalah negara berpenduduk Muslim paling besar. Perlawanan mereka terhadap Barat yang dilakukan di Indonesia mengakibatkan munculnya gerakan terorisme di Indonesia.

”Kekerasan dan terorisme berkarakter agama sama sekali bukan kepribadian umat beragama di Indonesia,” ujarnya, ”Tetapi, sesuatu yang datang belakangan karena faktor politik nasional dan pengaruh global.”

Mahmoud Azab dari Universitas Al-Azhat, Mesir, menambahkan, ”Dialog hanya bisa dilakukan apabila mau saling mendengarkan atas dasar nilai-nilai universal. Para ekstremis tak mengerti dialog karena mereka hanya meyakini kebenaran mereka sendiri.”

Sejarah panjang

Azab mengatakan, Islam adalah agama yang berbelas kasih, sedangkan Kristianitas adalah agama yang penuh cinta. Kerja sama Islam dan Kristen di Mesir memiliki sejarah sangat panjang, dan terlihat jelas dalam perjuangan bersama menentang pendudukan Inggris, juga dalam Revolusi 25 Januari 2011.

Upaya memecah hubungan dilakukan sekelompok ekstremis, tetapi hal itu tak bisa dijadikan acuan tentang intoleransi di Mesir. ”Tidak ada perang agama di Mesir,” ujarnya. Benturan diselesaikan dengan solusi hukum, bukan solusi agama.

Mahmoud Azab mendukung prakarsa ”Rumah Bersama” di mana para tokoh agama-agama Kristen bekerja sama dengan Al-Azhar untuk mempromosikan dialog, mendiskusikan isu di dalam agama masing-masing, dan melawan wacana ekstremis baik di gereja, masjid, maupun melalui siaran televisi.

”Kita tak mau Islam diasosiasikan dengan kekerasan dan perang. Kita berjuang atas nama yang dipinggirkan, termasuk warga Kristen di Palestina dan Irak,” tegasnya.

Menurut Bronislaw Misztal dari Sekretariat Permanen Komunitas Demokrasi, yang terjadi saat ini bukan clash of civilization, tetapi clash of communications.”Ada kelit-kelindan persoalan identitas. Juga budaya. Harus diingat, agama sangat kuat membentuk identitas,” ujarnya.

Armada Riyanto dari Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana, Malang, Indonesia, mengamati, relasi antarnegara hanya bisa dilakukan atas dasar ketulusan dan kejujuran.”Dua hal itu dibangun melalui perjumpaan dan pengalaman,” ujarnya. ”Pertemuan di Krakow masih terbatas pada perjumpaan”.

Begitulah. Seperti dikemukakan Duta Besar RI untuk Polandia Darmansyah Djumala, dialog dengan Polandia adalah yang pertama dalam putaran dialog untuk membangun perdamaian dan keadilan antarbangsa (Kompas 16/10/2011)

Menag: Penghulu Ujung Tombak Lawan Teroris


Menteri Agama, Suryadharma Ali meminta para Modindan Penghulu se-Jawa Timur ikut membantu memerangi terorisme di Indonesia. Menurut dia, sosok Modin merupakan salah satu alat di garda terdepan yang bisa memberi pencerahan di masyarakat desa.

“Karena mereka bergaul langsung dengan penduduk, dan dianggap sebagai panutan masyarakat, suara modin biasanya selalu dihormati,” kata Suryadharma Ali di Surabaya, Selasa 11 Oktober 2011.

Permintaan itu disampaikan Suryadharma di hadapan 1.695 orang modin, 414 penghulu, 566 pegawai dan kepala KUA serta seluruh kepala seksi kantor Kementerian Agama kota dan kabupaten se-Jatim. Suryadharma berharap, Modin dan Penghulu di Jatim yang berjumlah 10.477 orang mampu memantau benih radikalisme dan terorisme di daerahnya.

Dia mengatakan, pelaku aksi teror selalu mengatasnamakan Islam. Padahal, menurutnya, klaim itu merupakan bentuk adu domba memecah belah umat. Selain itu, klaim itu membuat umat Islam repot menjelaskan ke dunia bahwa Islam itu cinta damai.

Jaringan terorisme di Indonesia tak kunjung redup. Setelah tertangkapnya gembong teroris, baik dalam keadaan hidup atau mati, aksi teror terus merebak. Bahkan, serangan mereka merambah hingga ke tempat-tempat ibadah seperti gereja dan masjid. (Vivanews.com)

Bom Solo Penghinaan pada Pancasila


Pengurus Konferensi Wali Gereja Indonesia, Romo BennySusetyo, menyesalkan peristiwa bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh(GBIS) Kepunton Solo, Jawa Tengah. Gereja sebagai tempat ibadah semestinyadijaga, bukan dirusak.

“Kami sesalkan, ketika jemaat sedang melakukan kewajiban beribadah, munculperistiwa seperti itu. Ini penghinaan terhadap rumah Tuhan dan Pancasila.

Rumah Tuhan harusnya dijaga, bukan berperang rumah Tuhan. Orang-orang yangmenghalalkan cara seperti itu tidak layak hidup dalam bangsa ini. Tindakanini melukai bangsa kita, ” ujar Romo Benny di Kantor Pusat Gerakan PemudaAnsor, Jakarta Pusat, Minggu (25/9/2011) petang.

Ia menuntut pemerintah bersikap tegas terhadap berbagai peristiwa kekerasanyang terjadi berlatar belakang SARA. Menurutnya, hal ini merusak nilai-nilaitoleransi yang selama ini telah dipupuk lewat Pancasila.

“Ini saatnya Bapak Presiden kita tidak hanya berwacana tapi juga bertindak,menuntaskan kasus-kasus seperti ini, harus tegas memberantas budaya-budayakekerasan semacam ini,” katanya.

Dalam kesempatan itu Romo Benny mengucapkan terima kasih kepada GP Ansoryang bersedia membantu mengamankan beberapa tempat rawan, termasuk rumahibadah di Solo.

Sumber Berita :http://nasional.kompas.com/read/2011/09/25/2010458/Bom.Solo.Penghinaan.pada.Pancasila

Berbagai Tindak Kekerasan Cederai Budaya Hargai Kehidupan


Jumat, 22 April 2011 07:05 WIB |

Uskup Agung Semarang Mgr.Yohanes Pujasumarta mengatakan, berbagai tindak kekerasan terjadi belakangan ini telah mencederai budaya menghargai kehidupan.

“Lepas dari alasan apapun, budaya kekerasan tidak bisa dibenarkan,” kata Mgr.Yohanes Pujasumarta dalam pesan Paskah 2011 yang disampaikan di Semarang, Jumat.

Menurut dia, sejumlah tindak kekerasan yang terjadi belakangan ini seperti kasus Cikeusik, Pandeglang, Banten; kerusuhan Temanggung; hingga yang terakhir peristiwa ledakan di Cirebon.

Ia menilai, berbagai kejadian tersebut bukanlah suatu kecelakaan, namun suatu kesengajaan atau telah direncanakan.

Para pelakukanya, lanjut dia, bukanlah perorangan, namun orang-orang dengan maksud tertentu yang ingin menimbulkan ketakutan dan mengganggu keamanan.

Selain itu, ia sangsi jika motif dalam berbagai tindak kekerasan yang terjadi tersebut didasarkan atas motif agama.

“Motifnya lebih ke kekuasaan politik yang dibungkus dalam nuansa agama,” katanya.

Oleh karena itu, lanjut dia, Paskah 2011 ini merupakan momentum untuk mengubah kehidupan dari “Culture of Death” menjadi “Culture of Life”.

“Mengubah budaya kekerasan menjadi kelembutan. Nurani menyuarakan untuk memelihara kehidupan, bukan melenyapkannya,” tambahnya.

Ia menegaskan, manusia bukanlah pemilik atau penguasa kehidupan, melainkan pelayan untuk mengembangkan, menerima dan melestarikan kehidupan.

(Antaranews.com)

Tentang film “?”: Gugatan Publik dan Jawaban Hanung Bramantyo


Salim Said Tentang film “?” karya terbaru sutradara terkemuka Hanung Bramantyo.

Karena diributkan, saya memerlukan– di tengah kesibukan–menonton film ? karya terbaru sutradara Hanung Bramantyo tsb. Sebagai juri dalam FFI yang lalu kami para juri secara aklamasi memilih karya Hanung, Sang Pencerah sebagai film terbaik. Dan karena itu kami para juri dipecat secara berjamaah oleh panitia FFI.

Saya memang belum menonton semua karya Hanung, tapi dari beberapa yang saya sempat tonton, Sang Pencerah itulah yang saya anggap terbaik. Dalam film tentang KH Ahmad Dahlan tersebut cerita yang ditampilkan jelas , artinya tidak ruwet, tidak disertai cerita-cerita lain yang bersaing dengan kisah dengan Pak Kiyai.

Yang ingin dikisahkan adalah tentang KH Ahmad Dahlan. Itu saja. Itupun hanya sepenggal dari hidupnya. Titipan philosofis juga tidak digendong oleh film tersebut. Dengan ketrampilan menulis skenario dan penyutradaan yang teliti dan kreatif, tata artistik yang luar biasa dan kerja sinematografis yang mendekati sempurna, karya Hanung itu memang suatu film hebat. Film itu membuat saya dengan serta merta menempatkan Hanung sebagai satu dari hanya beberapa sutradara terkemuka di Indonesia dewasa ini.

Mungkin justru karena suksesnya dengan Sang Pencerah itulah Hanung berambisi bereksperimen menggunakan film sebagai media penyampaian pesan tertentu. Kalau pada film Pencerah ia mulai dengan niat berkisah mengenai KH Ahmad Dahlan, maka dalam ? Hanung mulai dengan sebuah pesan sebelum ia menemukan cerita untuk mengungkapkan pesannya. Harap diingat bahwa hanya sedikit pembuat film, atau bahkan seniman bidang apa saja, yang bisa berhasil dengan cara kerja demikian. Film-film propaganda yang umumnya dulu banyak diproduksi negara-negara komunis, nasibnya seperti ini. Kebanyakan tidak nikmat ditonton.

Saya kira ini jugalah nasib yang diderita film ?. Yang kita saksikan dalam film ini adalah ambisi besar Hanung untuk bercerita tentang sejumlah orang dengan macam-macam konflik yang persoalan dasarnya dicoba diikat ke dalam sebuah tema yang kirakira bisa dirumuskan sebagai berikut” Agami niku samiki mawon(agama itu semua sama saja).

Sebuah film propaganda boleh-boleh saja dibuat. After all semua karya seni pada dasarnya adalah propaganda. Tapi harap diingat, tidak semua propaganda berhasil menjadi karya seni. Saya tidak ingin berdebat dan ikut menilai benar salahnya keyakinan Hanung. Sebagai kritikus film, bagi saya persoalan yang menyebabkan film ini tidak nikmat ditonton adalah karena secara artistik film ini gagal. Terlalu banyak tokoh dengan sejumlah soal yang tidak jelas akarnya dan tak meyakinkan penyelesaiannya. Ada wanita dari keluarga Muslim yang tidak jelas alasannya tiba-tiba masuk Katolik tapi di rumah tetap membimbing anaknya belajar membaca doa secara Islami. Seorang wanita Muslim bekerja dengan tenang pada sebuah restoran Cina yang memasak dan menghidangkan  daging Babi.

Seorang yang tinggal di mesjid (setelah kehilangan tempat tinggal) memainkan peran Jesus dalam drama penyaliban pada suatu gereja Katolik setelah diyakinkan oleh seorang ustadz bahwa perbuatan itu tidak jadi soal. Pemuda Tionghoa pemilik restoran penjual babi itu yang jatuh cinta pada gadis Muslim yang bekerja di restoranya tapi gagal kawin dengan alasan tidak jelas. Tapi di akhir film sang pemuda Tionghoa masuk Islam. Akhirnya kawin dengan bekas pacanya yang sudah jadi janda — suaminya yang anggota Banser NU meninggal secara tragis ketika berusaha menghindarkan jemaat gereja dari bom yang diletakkan di gereja entah oleh siapa? Tidak juga. Jadi apa motifnya masuk Islam? Takut restorannya diserbu pemuda kampung? Atau mendapat hidayah? Semua tidak jelas dan susah ditebak. Pada awal film seorang pastor Katolik mendadak ditikam di tengah orang banyak di depan gereja oleh seorang pemuda yang tidak jelas identitas serta motifnya. Pokoknya terlalu banyak yang ingin dikisahkan tapi hampir semuanya tidak dijelaskan akar dan asal usul persoalannya demikian pula penyelesaiannya. Ruwet. Yang akhirnya menonjol dan mudah ditangkap adalah pesannya yang gagal larut dalam cerita.

Sayang sekali, sebab pada film sebelumnya Hanung telah menebar janji dan harapan kepada kita para penikmat film.Salim Said.

“Umat” Menghujat, Hanung Menjawab

“Umat” Menghujat, Hanung Menjawab Film “?” menuai banyak hujatan. Kini giliran sang sutradara menunjukkan berbagai kekeliruan para penghujatnya dengan jawaban-jawaban yang bernas. Film besutan Hanung Bramantyo ini dianggap menyebar fitnah, kebencian, dan merendahkan martabat Islam dan umatnya. Film ini disebut-sebut menyamaratakan semua agama, dan mengajak pada kemusyrikan. Bahkan film ini dianggap sesat dan menyesatkan. Bagi Hanung, sah-sah saja orang menafsirkan filmnya secara bebas. Tapi akan lebih baik jika hal itu dilandaskan pada adegan demi adegan dalam film itu. Jika dirunut adegan demi adegannya, film ini sangat jauh dari berbagai tuduhan yang dilayangkan sebagian umat Islam itu.

Salah satu contohnya adalah tuduhan bahwa film ini secara nyata mengidentikkan umat Islam dengan kekerasan dan teroris. Dalam adegan penusukan pendeta dan usaha pemboman Gereja misalnya, tak ada sama sekali simbol Islam (seperti orang yang berbaju putih-putih, bersorban atau berkopiah) yang dimunculkan dalam film itu. Di adegan penusukan pastur, Hanung hanya menampilkan seorang lelaki berjaket cokelat memegang pisau dan seorang pengendara motor. Bahkan dalam usaha pemboman Gereja, Hanung sama sekali tak memunculkan adegan orang merencanakan, merakit, dan menaruh bom di Gereja. Lalu di adegan mana yang menyatakan bahwa umat Islam identik dengan kekerasan dan teroris? Bagi Hanung, film ini merupakan proses pembelajarannya mengenal lebih dekat agamanya, Islam.

Menurutnya, belajar agama adalah belajar menjadi manusia. “Saya mengagumi Rasulullah bukan karena beliau semata-mata utusan Allah. Tapi karena Rasulullah memberikan tauladan kepada kita bagaimana menjadi manusia dalam keluarga, masyarakat, dan Tuhannya.”Ya, kita adalah manusia yang serba kekurangan ini mesti terus belajar agama dan belajar menjadi manusia. Keduanya adalah dua proses yang tak dapat dipisahkan. Keduanya merupakan sebuah pergulatan yang tak pernah usai dalam hidup ini. 

Hanung berharap dialog ini, dan tentu juga filmnya, menjadi pembelajaran bersama dan ajang saling mengingatkan sebagai sesama Muslim. Sebagai sesama pembelajar kita mesti saling mengingatkan dan mengajak pada kebaikan. Ya, mengajak, bukan memaksa. Itulah makna hakiki dari dakwah.

Nabi Muhammad saja tidak dapat ‘memaksa’ pamannya, Abu Thalib, yang hingga akhir hayatnya memeluk Nasrani walaupun telah membantu dalam memuluskan jalan dakwah beliau. Ya, Rasulullah saja tidak dapat memberi hidayah, apalagi kita yang jauh dari taraf kenabian dan kerasulan. Dalam Surah Al-Qashash ayat 56, Allah berfirman:

“Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk (hidayah) kepada siapa yang kau cintai, tapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang menerima petunjuk.” 

Film ini alih-alih menyebar fitnah dan kebencian, sebaliknya malah menunjukkan keindahan Islam yang ramah, damai. Hal ini tampak pada karakter Ustaz Wahyu, Menuk, Abi, orangtua Rika, dan Surya. Alih-alih mengajak pada kemusyrikan, film ini malah menunjukkan contoh orang yang mendapat hidayah, seperti Ping Hen (Rio Dewanto). 

Dialog ini berangkat dari hujatan seseorang berinisial BH (yang tidak mau disebutkan Hanung demi menghargai orang itu) yang mengirim pesan di Inbox Facebook sutradara yang sudah menghasilkan 14 film ini. Pernyataan dari BH itu dijawab oleh Hanung poin demi poin dalam dialog ini. Awalnya pesan ini tidak Hanung hiraukan. Ia merasa BH salah dalam menafsir filmnya. Dengan mempertimbangkan baik-buruknya terkait pandangan miring terhadap film dan pribadinya, akhirnya ia memutuskan untuk menjawab hujatan itu dengan tajuk “Dialog Terbuka atas Film ‘Tanda Tanya’ yang ia muat di Facebooknya, 15 April 2011 lalu. Dialog ini kami muat dengan persetujuan dari Hanung. Berbagai kata yang ditulis dengan huruf besar sengaja kami biarkan agar poin-poin yang ingin Hanung highlight dapat juga dinikmati para pembaca. Berikut nukilannya:

.1. BH : Film “?” yang anda sutradarai penuh dengan fitnah, kebencian danmerendahkan martabat Islam dan umat Islam. Film anda penuh dengan ajaran sesatpluralisme yang menjadi saudara kandung atheisme dan kemusyrikan.

HB: Terima kasih sudah menyaksikan film saya sekaligus melakukan kritik atasfilm tersebut. Saya sangat menghargai pandangan anda. Sebagai sebuah tafsir atas’teks’ saya anggap pendapat anda syah. Sayangnya, anda tidak memberikan kemerdekaan bagi tafsir yang berbeda. Anda sudah terlanjur melakukan judgment berdasarkan ‘teks’ yg anda baca dan tafsirkan.

2. BH: ketika pembukaan sudah menampilkan adegan penusukan terhadap pendeta, kemudian bagian akhir pengeboman terhadap Gereja. Jelas secara tersirat dantersurat, anda menuduh pelakunya orang yang beragama Islam dan umat Islamidentik dengan kekerasan dan teroris. Jelaskan!

HB: A. Tafsir anda mengatakan bahwa adegan kekerasan: penusukanpastur danpengeboman dilakukan oleh orang Islam. Padahal sama sekali dalam duaadegan tersebut saya tidak menampilkan orang Islam (setidaknya orang berbajuputih-putih, bersorban atau berkopyah). Di adegan penusukan pastur, sayamenampilkan seorang lelaki berjaket coklat memegang pisau dan seorang pengendaramotor. Kalau itu ditafsir orang Islam, itu semata-mata tafsir anda.

B. Di awal Film saya justru menampilkan sekelompok remaja masjid (bukan orangtua) yang melakukan perawatan atas masjid. Bukankah dalam hadist dianjurkanseorang pemuda menghabiskan waktunya untuk mengelola dan merawat masjid? Jaditidak ada pesan tersurat apapun yang manyatakan bahwa pelaku penusukan dan pengeboman adalah orang islam.

3. BH: Anda mendukung seorang menjadi Murtad. Menjadi murtad yang dilakukanoleh Endhita (Rika) adalah suatu pilihan hidup. Kalau semula kedua orangtua dan anaknya menentangnya, akhirnya mereka setuju. Padahal dalam Islam murtad adalah suatu perkara yang besar dimana hukumannya adalah qishash (hukuman mati), samadengan zina yang dirajam.

HB: Bahwa tafsir Rika murtad karena sakit hati dengan suaminya yang mengajak poligami saya benarkan. Tapi bukan berarti ‘teks’ tersebut mendukung pemurtadan.

Sejak awal keputusan Rika sudah ditentang oleh Surya, anaknya dan orang tuanya. Bagian mana yang menyatakan dukungan?

Saya akan menjelaskan berdasarkan shot-shot dalam filmnya:

PERTAMA, Coba perhatikan shotnya: Surya berdialog dengan Rika: Kamu menghianati2 hal sekaligus: perkawinan dan Allah! kalau toh disitu Surya diam saja ketikaRika menyanggahnya, bukan berarti Surya mendukungnya. Tapi sikap menghargaipilihan Rika. Hal itu tertera dalam surat Al Hajj ayat 7 : ‘Sesungguhnya orang yang beriman, kaum Nasrani, Shaabi-iin, Majusi dan orang Musyrik, Allah akan memberikan keputusan diantara mereka pada hari Kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu’

Sikap Surya juga merupakan cerminan dari firman Allah : ‘Engkau (Muhammad) tidak diutus dengan mandat memaksa mereka beragama, tapi mengutus engkau untuk MEMBERI KABAR GEMBIRA yang orang mengakui kebenaran Islam dan kabar buruk dan ancaman bagi yang mengingkarinya.’

KEDUA, Abi, anak Rika, juga tidak mendukung sikap Rika ‘yang Berubah’. Abiprotes dengan ibunya dengan cara enggan bicara. Bahkan hanya sekedar minum susudikala pagi saja Abi tidak mau menghabiskan di depan ibunya. Demikian halnya Abijuga tidak mau makan sarapan yang disajikan ibunya. Itu adalah sikap protes diakepada sang Ibu yang murtad. Jika toh Abi kemudian bersikap seperti Surya, bukanberarti abi mendukungnya. Tapi sikap ,menghargai pilihan. Lihat dialog Abi saatbersama Rika: … Kata Pak Ustadz, orang islam gak boleh marah lebih dari tigahari. Apakah dialog tersebut diartikan mendukung kemurtadan? Bukankah maknadari dialog tersebut adalah mencerminkan sikap orang muslim yang murah hati: Pemaaf dan bijaksana (jika marah tidak boleh lebih dari tiga hari).

KETIGA: Orang tua Rika juga menyatakan penolakan pada saat Rika menelphoneIbunya:
… Bu, Rika sudah dibaptis. Mulai hari ini nama depan Rika Tereshia. Lalusi Ibu menutup telephonenya. Bagian mana yang menyatakan dukungan? Di bagian akhir film, saya menampilkan orang tua Rika datang ke acara syukuran Khatam Quran cucunya. Kemudian Rika memeluk ibunya dengan haru. Tidak ada sedikitpun dialog yang menyatakan dukungan terhadap kemurtadan Rika. Adegan tersebut menampilkan hubungan emosional antara anak dengan ibunya, serta cucu dengan kakek-neneknya. Dimanakah pernyataan dukungan atas kemurtadan Rika?
Jadi jika anda membaca ‘teks’ dalam adegan tersebut sebagai sebuah dukungan terhadap kemurtadan, maka itu tafsir anda. Bukan saya …

4. BH: Jelaskan gambaran muslimah berjilbab, Menuk (Revalina S Temat) yangmerasa nyaman bekerja di restoran Cina milik Tan Kat Sun (Hengki Sulaiman) yang ada masakan babinya. Anda ingin menggambarkan seolah-olah babi itu halal. Terbukti pada bulan puasa sepi, berarti restoran itu para pelanggannya umat Islam.

HB: Menuk adalah perempuan muslimah. Dia nyaman bekerja di tempat pak Tankarena pak Tan adalah orang yang baik. Selalu mengingatkan karyawan muslimnya sholat. Bagian mana yang anda maksud bahwa babi itu halal? Saya justru menggambarkan dengan tegas adegan yang membedakan Babi dan bukan babi lebih dari sekali adegan.

Pertama, pada saat Pembeli berjilbab bertanya soal menu makanan restoran pak Tan. Menuk mengatakan bahwa panci dan wajan yang dipakai buat memasak babi berbeda dengan yang bukan babi. (di film terdapat shot wajan, dan shot Menuk yang dialog dengan ibu berjilbab. Dialog agak kepotong karena LSF memotongnya. Alasannya silakan tanyakan kepada LSF)

Kedua, pada saat Pak Tan mengajari Ping Hen (anaknya) mengelola restoran. Pak Tan dengan tegas menyatakan pembedaan antara babi dan bukan babi: … Ini sodet dengan tanda merah buat babi, dan yang tidak ada tanda merah bukan babi …Jika saya menghalalkan Babi, tentunya saya tidak akan menggambarkan pemisahan yang tegas antara sodet, panci, pisau, dsb tersebut. Jadi tafsir anda yangmengatakan bahwa saya menghalalkan babi, semata-mata tafsir saya …

Dalam film ini, saya justru menggambarkan sikap Menuk sebagai Muslimah yang menolak pernikahan beda agama dengan cara lebih memilih menikah dengan soleh (yang muslim) meski jobless, dibanding hendra. Padahal cintanya kepada hendra:
… Saya tahu kita pernah punya kisah yang mungkin buat mas menyakitkan. Tapi buatsaya adalah hal yang indah … karena Tuhan mengajarkan arti cinta dalam agamayang berbeda … (Dialog Menuk kepada Hendra di malam Ramadhan)

Dalam film ini juga, saya menggambarkan sikap pak Tan yang menghargai Asmaul Husna dengan cara meminjam buku 99 Nama Allah milik Menuk. Sikap pak Tan tersebut dinyatakan dalam dialog Hendra: … Sekarang Hen jadi mengerti kenapa papibersikap baik dengan orang YANG BUKAN SEAGAMA dengan papi …

Dialog tersebut merupakan manifestasi dari ajaran Asmaul Husna : Ar Rahman – ArRahim … Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang Kemudian Pada akhir film, Pak Tan membisikkan sesuatu kepada dimana atas dasar bisikian tersebut Hendra melakukan perubahan besar dalam hidupnya:
menjadi Mualaf dan merobah restorannya menjadi Halal. Lihat kata-kata isteri pak Tan diakhir film: … Pi, hari ini Hendra melakukan perubahan besar dalam hidupnya SEPERTI YANG PAPI MINTA …. (Dialog tersebut sebenarnya ungkapan tersirat buathendra untuk berubah dari pak Tan melalui bisikannya. )
jadi tafsir Hendra pindah agama hanya ingin menikahi menuk adalah Tafsir anda. Lagipula, dalam film jelas-jelas tidak ada gambaran pernikahan antara Menuk danHendra. Ending Film saya justru menggambarkan Menuk menatap nama Soleh yang sudah menjadi nama Pasar … Darimana anda bisa menafsirkan bahwa Hendra pindah agama hanya karena ingin menikah sama menuk?5. BH: seorang takmir masjid yang diperankan Surya (Agus Kuncoro) setelah dibujuk si murtadin Menuk, akhirnya bersedia berperan sebagai Yesus di Gereja pada perayaan Paskah. Apalagi itu dijalaninya setelah dia berkonsultasi dengan ustad muda yang berfikiran sesat menyesatkan pluralisme seperti anda yang diperakan David Chalik. Namun anehnya, setelah berperan menjadi Yesus demimengejar bayaran tinggi, langsung membaca Surat Al Ikhlas di Masjid. Padahal Surat Al Ikhlas dengan tegas menolak konsep Allah mempunyai anak dan mengajarkanTauhid. Apa anda ini kurang waras wahai si Hanung. Semoga pembalasan dari Allah atas diri anda.

HB : dalam film saya menggambarkan Surya adalah seorang aktor figuran. Di awalFilm dikatakan dengan tegas lewat dialog: … 10 tahun saya menjadi aktor cuma jadi figuran doang!!
Sebagai aktor yang hanya jadi figuran, dia frustasi. Hingga menganggap bahwa hidupnya cuma SEKEDAR NUMPANG LEWAT. Dia diusir dari kontrakan karena menunggak bayar. Rika membantunya dengan menawari pekerjaan sebagai Yesus dengan biaya Mahal (perhatikan dialognya di warung soto). Semula Surya menolak. Tapi dia menerima dengan alasan yang sangat manusiwai bagi orang yang berprofesi sebagai aktor (figuran) : SELAMA HIDUPNYA TIDAK PERNAH BERPERAN SEBAGAI JAGOAN. Namun alasan itu tidak begitu saja dia gunakan untuk melegitimasi pilihannya. Diakonsultasi dengan Ustadz Wahyu (David Khalik). Menurut Ustadz, Semua itu tergantung dari HATIMU, maka JAGALAH HATIMU. Dari perkataan Ustadz tersebut, adakah dia menyarankan atau mendorong Surya menjadi Yesus? Ustadz memberikan kebebasan buat Surya untuk melakukan pilihannya. Dan Surya sudah memilih.
Ketika di Masjid, Ustadz mengulang bertanya: Gimana? Sudah mantap hatimu? Lalu dijawab oleh Surya: Insya Allah saya tetap Istiqomah. Dijawab oleh DavidKhalik: Amin …Setelah dialog tersebut, Surya kembali memantapkan hatinya denga bertafakur di masjid. Matanya menatap hiasan dinding bertuliskan ASMA ALLAH diatas Mighrab.
Dari adegan tersebut, adakah saya melecehkan Islam? Apakah dengan menghargai pilihan seseorang itu sama saja melecehkan Islam? Bukankah Ustdaz sudah melakukan tugasnya MENGINGATKAN surya di awal adegan?
Jadi, tidak ada sedikitpun adegan yang menyatakan pelecehan terhadap agama Islam. Surya melakukan tugasnya sebagai aktor karena dia harus hidup. Bahkan untuk beli soto untuk sarapan saja dia tidak sanggup. Lagipula drama Paskah bukan ibadah. Tapi sebuah pertunjukan drama biasa. Ibadah Misa Jumat Agung dilaksanakan setelah pertunjukan Drama. Dalam hal ini Surya tidak melakukanibadah bersama jemaah Kristiani di gereja. Namun oleh karena pesan Ustadz untuk senantiasa menguatkan hati, maka setelah memerankan drama Jesus, Surya membaca Surat Al Ikhlas berulang-ulang sambil menangis.

Adakah dari adegan tersebut saya melecehkan Islam? Silakan di cek lagi

6. BH: Kelima, tampaknya anda memang sudah gila, masak pada hari raya IdulFitri yang pebuh dengan silaturahmi dan maaf memaafkan, umat Islam melakukan penyerbuan dengan tindakan anarkhis terhadap restoran Cina yang tetap bukasehari setelah Lebaran. Bahkan sebagai akibat dari penyerbuan itu, akhirnya sipemilik Tan Kat Sun meninggal dunia. Setelah itu anaknya Ping Hen (Rio Dewanto) sadar dan masuk Islam demi menikahi Menuk setelah menjadi janda karena ditinggal mati suaminya Soleh (Reza Rahadian), seorang Banser yang tewas terkenabom setelah menjaga Gereja pada hari Natal. Jadi orang menjadi muslim niatnya untuk menikahi gadis cantik. Sebagaimana anda menjadi sutradara berfaham Sepilis dengan kejam menceraikan istri yang telah melahirkan satu anak demi untuk menikahi gadis cantik yang jadi pesinetron. Film ini kok seperti kehidupan anda sendiri ya ?

HB: Saya benar-benar kagum dengan penafsiran anda soal adegan dalam film saya. Tidak heran anda menjadi seorang wartawan. Hehehe. Jika anda benar-benar mengamati adegan demi adegan, anda akan menemukan maksud dari penyerbuantersebut.

Pertama, Penyerbuan itu didasari karena egositas dari hendra (ping Hend) yang hanya ingin mengejar keuntungan. Maka dari itu libur lebaran yang biasanya 5 hari, dipotong hanya sehari. Akibatnya, Menuk tidak bisa menemani keluarga jalan-jalan liburan lebaran.

Kedua, Penyerbuan tersebut didasari oleh rasa dendam Soleh (yang di adegan sebelumnya berkelahi dengan Hendra) dan cemburu karena Menuk lebih memilih bekerja di hari lebaran daripada menemani soleh dan keluarganya jalan-jalan.
Dalam adegan tersebut jelas tergambar SIKAP CEMBURU, MEMBABI BUTA, BODOH dan TERGESA-GESA pada diri Soleh yang mengakibatkan Tan Kat Sun meninggal. Sikap tersebut membuat Soleh menjadi rendah di mata Menuk: Lihat adegan selanjutnya:
Menuk bersikap diam kepada Soleh. Meski masih meladeni sarapan, Menuk tetap tidak HANGAT dengan SOLEH. Hingga Soleh meminta maaf kepada Menuk. Namun, lagi-lagi Menuk tidak menanggapi dengan serius (perhatikan dialognya) : …. Mas, jangan di sini ya minta maafnya. Dirumah saja … Dijawab oleh Surya: Kamu di rumah terlalu sibuk dengan Mutia … Menuk menimpali: … dimana saja ASAL TIDAK DISINI …Penolakan Menuk itu yang membuat Soleh akhirnya memutuskan untuk memeluk BOM dan menghancurkan dirinya. Tujuannya? …. Agar dia menjadi Berarti di mata ISTERINYA….
Apakah adegan di Film menggambarkan Menuk bahagia dengan kematian Soleh, sehingga dengan begitu dia bebas menikah dengan Hendra? Apakah adegan di Film menggambarkan hendra juga bahagia dengan kematian Soleh sehingga hendra bisa punya kesempatan menikah sama Menuk? Sungguh, saya kagum dengan tafsir anda. Hingga andapun bisa bebas sekali menafsirkan hidup saya. Semoga kita bisa menjalin silaturahmi lebih dekat sehingga anda bisa mengenal saya lebih baik, mas …

7. BH: si murtadin Endhita minta cerai gara-gara suaminya poligami. Karena dendam, kemudian dia menjadi murtad. Anda ingin mengajak penonton agar membenci poligami dan membolehkan murtad. Padahal Islam membolehkan poligami dandibatasi hingga empat istri dan melarang dengan keras murtad dengan ancaman hukuman qishash. Seandainya anda setuju dan poligami dengan menikahi sipesinetron itu, anda tidak perlu menceraikan istri dan menelantarkan anak anda sendiri sehingga tanpa kasih sayang seorang ayah kandung dan dengan masa depan yang suram. Kasihan benar anak dan istri anda korban dari seorang ayah yang kejam penganut faham pluralisme dan anti poligami.

HB: Saya laki-laki yang tidak setuju dengan Poligami. Dalam pandangan saya,banyak umat Islam sudah menyelewengkan surat An Nisa sebagai sebuah legitimasipelampiasan nafsu lelaki. Padahal sudah jelas di dalam surat tersebut dikatakan :

Wa inkhiftum alaa takdilu fa wakhidatan aumalakat aimanukum …

Jika engkau TAKUT BERLAKU ADIL maka nikahilah seorang saja …
Jadi dalam melakukan poligami, syaratnya utamanya harus berlaku adil. Pertanyaan saya, bisakah manusia berlaku adil? Apakah lelaki bisa menjamin hati seorang wanita bisa ikhlas ketika dirinya di madu? Bukankah ketika kita menyakiti hati perempuan, maka itu sudah termasuk aniyaya? Pendapat saya tidak didasari atas logika sebagaimana yang dituduhkan kepada orang-orang seperti saya: Memahami agama hanya dengan akal. Tapi pemahaman saya didasarkan pada pengalaman batin. Saya pernah hampir berpoligami. Disatu sisisaya merasa benar karena ada syariat. Disisi lain, saya melukai perasaan perempuan, perasaan anak-anak saya, keluarga dari pihak Isteri yang terpoligami dan juga masyarakat lingkungan isteri saya baik yang paling dekat maupun yang paling jauh. Apakah hanya karena syariat, maka keputusan saya menolak poligami adalah suatu sikap menentang syariat? Jika memang saya kemudian berpoligami, apakah saya juga akan mendapatkan jaminan sebagai manusia bersyariat sebagaimana yang anda harapkan? Apakah dengan saya berpoligami maka anak-anak saya akan hidup damai sejahtera sebagaimana bayangan anda? Alhamdulillah, anak saya sehat tidak kurang suatu apa tanpa saya harus berpoligami. Jika anda berkenan, silakan mengunjungi rumah saya dan saya kenalkan kepada anak-anak saya.
Sungguh, manusia adalah makhluk penuh kekurangan. Ijtihad adalah keniscayaan bagi manusia yang benar-benar memahami kekurangannya. Kebenaran Hanya di mata Allah …

8. BH: anda menghina Allah SWT dengan bacaan Asmaul Husna di Gereja dandibacakan seorang pendeta (Deddy Sutomo) dengan nada sinis dan melecehkan.
Masya’ Allah !

HB: saya menyelipkan Asmaul Husna di adegan pembacaan ‘Kesaksian : Tuhan diMataku’ sebagai pemaknaan atas nama Tuhan yang indah dan UNIVERSAL. Asmaul Husna merupakan nama ALLAH yang meliputi segala yang Indah di Bumi dan Langit.Tidak ada nama Indah selain diriNya yang dimiliki agama lain. Maka ketika Pastur Dedi Sutomo meminta Rika untuk menuliskan kesaksiannya, Rika kesulitan.

Sebagai seorang penganut agama baru, Rika tidak memiliki pengetahuan terhadapTuhan barunya, maka dia menuliskan asmaul Husna karena dalam tiap-tiap namaNya (Ar Rahman : Maha Pengasih, Ar Rahiim : Maha Penyayang, dst) memiliki arti yang UNIVERSAL. Apakah itu melecehkan Islam? Apakah dedi Sutomo dalam membacakan Asmaul Husna juga terlihat sinis? Silakan anda tonton kembali filmnya, perhatikan ekspresinya …

9. AH : anda menfitnah Islam sebagai agama penindas dan umat Islam sebagai umat yang kejam dan anti toleransi terhadap umat lain terutama Kristen dan Cina. Padahal sesungguhnya meski mayorits mutlak, umat Islam Indonesia dalam kondisi tertindas oleh Kristen dan Katolik serta China yang menguasai politik, ekonomi dan media massa. Anda tidak melihat kondisi umat Islam di negara lain yang minoritas seperti Filipina Selatan, Thailand Selatan, Myanmar, India, Cina, Asia Tengah, bahkan Eropa dan AS. Mereka sekarang dalam kondisi tertindas oleh mayoritas Kristen dan Katolik, Hindu, Budha dan Komunis. Jadi anda benar-benar subyektif dan dipenuhi dengan hati penuh dendam terhadap umat Islam.

HB : Pertanyaan ini murni tafsir anda. Saya tahu, banyak sekali tragedykemanusiaan di dunia ini atas nama agama. Saya tidak menutup mata terhadapserangan keji Israel terhadap rakyat Palestina. Saya pun turut mengutuk perbuatan tanpa manusiawi di Bosnia, Minoritas muslim di Eropa, Thailand< China sebagaimana yang anda sebutkan. Akan tetapi, tak perlu kita menilai sesuatu terlalu jauh. Begitu pula dalam film ini. Jika anda bisa melihat sisi negatif, film ini, kenapa sisi positifnya luput dari perhatian anda? Bukankah di akhir film saya menampilkan adegan Hendra terkesan dengan Asmaul Husna, membacanya, kemudian dia masuk Islam? Lalu di akhir adegan, Ustadz Wahyu mengatakan didalam masjid kepada Hendra bahwa : Islam adalah agama yang mengajak manusia untuk terus menerus memperbaiki dirinya. Berusaha Ikhlas dan sabar. Menjadikandirinya berarti bagi orang banyak ….

10. BH: film ini mengajarkan kemusyrikan dimana semua agama itu pada hakekatnya sama untuk menuju tuhan yang sama. Kalau semua agama itu sama, maka orang tidakperlu beragama. Jadi film anda ini dengan sangat jelas mengajarkan faham atheisme dan komunisme.HB: Bagian mana saya menampilkan bahwa semua agama sama? Adakah dalam adegan tersebut saya menampilkan seorang Islam sembahyang di Gereja? Atau seorang Kristen sembahyang di Masjid? Barangkali anda tidak jeli ketika melihat adegan Rika yang menyatakan : … Setiap manusia berjalan dalam setapaknya masing-masing. Mereka berjalan sendirian.
Mereka bersama-sama berjalan kepada satu tujuan, yaitu … Tuhan.
Coba perhatikan adegan tersebut dalam film: Apakah Rika menyatakan kata tersebut berdasarkan sebuah Kitab suci? … Rika hanya mengutip dari Novel yang akan diberikan kepada Surya sebagai hadiah Ulang Tahun. Perhatikan dialognya: … Ini ada Novel bagus buat kamu. Aku mau bacakan. Ini juga kado buat kamu …Jadi Anggapan bahwa saya melalui film ini sedang mencampur adukkan agama, sangattidak relevan. Apakah mungkin seorang berpendapat (apalagi menyoal agama) hanya berdasarkan novel? Disisi lain, Jika kata-kata Rika (mengutip Novel) tersebut kita renungkan. Apakah selama ini kaum Nasrani di gereja tidak sedang melakukan sembahyang kepada Tuhannya? Begitu juga kaum Budha, Hindu, Yahudi? Apakah mereka di setiap sembahyang baik di gereja, klentheng, Pura sedang melakukan pemujaan kepada Setan? Apakah saya menyebut dalam FILM bahwa Allah Subhana wata’ala sebagaiTuhan Kaum Nasrani, Budha, Yahudi? Lalu dimana saya melakukan penyamarataan agama? Silakan lihat sekali lagi adegan filmnya …

11. BH: nasehat saya, bertobatlah segera sebelum azab Allah SWT menimpa anda, karena hidup di dunia ini hanya sementara dan tidak abadi. Belajarlah kembali mengenai Islam yang benar sesuai dengan Al Qur'an dan As Sunnah, bukan Islam yang diambil dari kaum Orientalis Barat dan para sineas berfaham sepilis yang sudah sangat jelas memusuhi Islam dan umat Islam.

HB: Di setiap akhir sholat, saya selalu menyatakan pertobatan kepada Allah denganmengucap Istighfar. Begitupun disetiap saya melakukan kesalahan baik yang sayasengaja maupun tidak. Bagi saya, Film ini merupakan proses pembelajaran saya mengenal lebih dekat agama saya. Buat saya, belajar agama adalah belajar menjadi manusia. Saya mengagumi rosululloh bukan karena beliau utusan Allah semata-mata. Tapi karena Rosululloh memberikan tauladan kepada kita bagaimana menjadi manusia dalam keluarga, masyarakat dan Tuhannya.

Mari kita sama-sama terbuka. Kita saudara. Sama-sama pengikut Rosululloh. Sesama Muslim saling mengingatkan. Semoga diskusi ini bisa menjadi pembelajaran kitabersama. Amin ….

Salam
Hanung Bramantyo

Selengkapnya:
http://madina-online.net/index.php/sosok/wawancara/13-wawancara/388-umat-menghujat-hanung-menjawab

(Copas dari milis AIPI)

Ba’asyir: Pelatihan Senjata Amal Ibadah


Terdakwa teroris, Abu Bakar Ba’asyir, menolak jika pelatihan militer di Pegunungan Jalin Jantho, Aceh Besar, disebut sebagai kegiatan terorisme. Ba’asyir mengklaim pelatihan militer dengan peserta sekitar 50 orang itu sesuai dengan perintah Allah.

Ba’asyir menyakini, “Latihan fisik dan senjata di pegunungan Aceh adalah amal ibadah untuk menaati perintah Allah,” kata pengasuh Pondok Pesantren Mukmin Ngruki, Solo, Jawa Tengah, itu saat membacakan eksepsi pribadi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (24/2/2011).

Ba’asyir menyebut kegiatan di Aceh sebagai I’dad atau mempersiapkan kekuatan fisik dan senjata untuk melawan musuh-musuh yang dianggap kafir. Selain itu, menurut dia, I’dad tidak kalah penting dengan shalat, puasa, zakat, haji, dan lainnya. “I’dad merupakan kebutuhan pokok yang tidak boleh dipandang remeh dalam Islam,” kata Ba’asyir.

Seperti diberitakan, Ba’asyir didakwa melakukan pemufakatan jahat, merencanakan, menggerakkan pelatihan militer kelompok teroris di Aceh. Selain itu, Amir Jamaah Anshorud Tauhid (JAT) itu juga didakwa memberikan atau meminjamkan dana sekitar Rp 1 miliar untuk membiayai segala kegiatan di Aceh.

Ba’asyir juga dikaitkan dengan dua perampokan di Medan, Sumatera Utara, yakni perampokan Bank CIMB Niaga dan perampokan Warnet Newnet. Terkait perkara itu, Ba’asyir dijerat pasal berlapis dalam UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Terorisme dengan ancaman hukuman maksimal, yakni mati atau penjara seumur hidup. Adapun hukuman paling ringan, yakni penjara selama tiga tahun.
(Kompas.com 24 Feb 2011)