Minta Disempurnakan, KWI Tolak RUU KUB


KONFERENSI Wali Gereja Indonesia (KWI), menyatakan penolakanya atas Rancangan Undang-Undang (RUU) Kerukunan Umat Beragama (KUB) yang tengah dibahas oleh DPR RI saat ini. Menurut Sekretaris Eksekutif Hubungan Agama dan Kepercayaan KWI, Romo Benny Susetyo, penolakan itu didasari oleh penilaian, draf RUU KUB belum sejalan dengan dengan makna kerukunan umat beragama itu sendiri.

“KWI minta draf ditarik dan perlu disempurnakan. Karena naskah akademis draf mengatakan latar belakang persoalan agama adalah kekerasan. Seharusnya kekerasan itu diselesaikan dengan hukum bukan dengan UU Kerukunan. Jadi judulnya UU Kerukunan itu sudah salah karena naskah akamedisnya sangat kontradiktif,” ujar Romo Benny usai mengikuti Workshop Menyikapi Kehendak Masyarakat Tentang RUU KUB yang digelar oleh Kementerian Agama dan dihadiri sejumlah tokoh agama dan akademisi di Jakarta, Rabu (21/12) malam.

Benny juga menilai, naskah draf RUU KUB ini hanya menjiplak dari sejumlah peraturan beragama yang telah ada sebelumnya, seperti Surat Keputusan Bersama Dua Menteri dan Peraturan Bersama Menteri. “Jadi penyusun draf RUU ini tidak paham. Sejumlah poin juga belum sesuai seperti mengenai pemakaman dan pendidikan agama. Pendidikan agama sebelumnya sudah ada di UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) sehingga kami minta ditarik,” katanya.

Ia melanjutkan, pihaknya juga menemukan, yaitu menyangkut, diskriminasi dan kerancuan yang akan menimbulkan persoalan mayoritas-minoritas. Untuk itu, KWI sendiri ungkap Benny, telah mempunyai rumusan terkait RUU KUB tersebut.

Pasalnya tegas Benny lagi, nama RUU KUB juga tidak tepat. Hal utama yang seharusnya diatur dalam RUU KUB, menyangkut kewajiban negara menjamin setiap warga negara untuk mengekspresikan kebebasan beragamanya. “Kami sudah punya rumusan sendiri. Karena RUU saat ini menyalahi empat pilar itu sendiri yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI,” katanya.
(www.jurnas.com)

Spanduk Larang Ibadah Muncul di Parung


Spanduk larang ibadah di Parung Bogor sejak Minggu (18/12) (Foto: Istimewa)

Menjelang Natal dan tahun baru, spanduk pelarangan kegiatan ibadah di Gereja St Johannes Babtista, Parung Bogor bermunculan. Spanduk bertuliskan, “Kami Masyarakat Muslim Parung Mendukung dan Akan Mengawal SK Bupati Nomor: 453.2/556-Huk Perihal: Penghentian Seluruh Kegiatan Gereja Katolik Paroki Santo Babtista Parung” muncul sejak Minggu (18/12) lalu.

Meski demikian, kesaksian seorang warga dari Parung menyebutkan bahwa ibadah hari Minggu lalu di lokasi itu tetap dilakukan di bawah pengawasan ketat aparat keamanan.

Menanggapi ini, Ketua Komisi Hubungan Antara Agamga dan Kepercayaan Keuskupan Semarang Aloys Budi Purnomo menilai, munculnya spanduk seperti itu mencerminkan masih amburadulnya perspektif kebebasan beragama di neger ini. “Sayangnya elit politik dan pejabat kita selalu bungkam tak berdaya membela rakyatnya sendiri,” ujarnya. [A-21]

Sumber: SUARA PEMBARUAN Rabu, 21 Desember 2011

Pesan Natal Bersama PGI-KWI Tahun 2011


 “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar”(Yes. 9:1a) 
_______

Saudara-saudari yang terkasih, segenap umat Kristiani Indonesia di mana pun berada, Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.

Telah tiba pula tahun ini hari Natal, perayaan kedatangan Dia, yang dahulu sudah dinu-buatkan oleh Nabi Yesaya sebagai “seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah diberikan untuk kita, lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai”[1]. Tokoh inilah yang disebutnya juga di dalam nubuatan itu sebagai “Terang yang besar” dan “yang dilihat oleh bangsa-bangsa yang berjalan dalam kegelapan”[2]. Inilah Kabar Gembira tentang kedatangan Sang Juruselamat, Yesus Kristus, Tuhan kita.

Pada hari Natal yang pertama itu, para gembala di padang Efrata, orang-orang kecil, sederhana dan terpinggirkan di masa itu, melihat terang besar kemuliaan Tuhan bersinar di kegelapan malam itu[3]. Mereka menanggapi sapaan ilahi “Jangan takut” dengan saling mengajak sesama yang dekat dan senasib dengan mereka dengan mengatakan satu sama lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita”[4]. Para Majus yang masing-masing telah melihat terang besar di langit negara asal mereka, telah menempuh perjalanan jauh untuk mencari dan mendapatkan Dia yang mereka imani sebagai Raja yang baru lahir. Mereka bertemu di Yerusalem dan mengatakan: “Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia”[5].  Sayang sekali, bahwa di samping para gembala dan para Majus dari Timur yang tulus itu, ada pula Raja Herodes. Ia juga mendapat tahu tentang kedatangan Yesus, bukan hanya dari para Majus, tetapi juga dari keyakinan agamanya, tetapi ia malah merasa tersaingi dan terancam kedudukannya. Maka dengan berpura-pura mau menyembah-Nya, ia mau mencari-Nya juga dengan maksud untuk membunuh-Nya. Ketika niat jahatnya ini gagal, ia malah melakukan kejahatan lain dengan membunuh anak-anak tak bersalah dari Bethehem[6].

Kepada kitapun, yang hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia dan merayakan Natal pada tahun 2011 ini, telah disampaikan Kabar Gembira tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus, yang adalah “Firman, yang di dalamnya ada hidup dan hidup itu adalah terang bagi manusia”[7]. Memang, yang kita rayakan pada hari Natal itu adalah: “Terang yang sesungguhnya yang sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya”[8]. Tetapi sayangnya ialah bahwa, “dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya”[9]. Dan kita tidak bisa, bahkan tidak boleh,  menutup mata untuk itu.

Kita juga menyaksikan, bahwa bangsa kita masih mengalami berbagai persoalan. Kemiskinan sebagai akibat ketidakadilan masih menjadi persoalan sebagian besar bangsa kita, yang mengakibatkan masih sulitnya menanggulangi biaya-biaya bahkan kebutuhan pokok hidup, apalagi untuk pendidikan dan kesehatan. Kekerasan masih merupakan bahasa yang digemari guna menyelesaikan masalah relasi antar-manusia. Kecenderungan penyeragaman, ketimbang keanekaragaman masih merupakan pengalaman kita. Akibatnya, kerukunan hi-dup, termasuk kerukunan antar-umat beragama, tetap masih menjadi barang mahal. Korupsi, bukannya dihapuskan, tetapi malah makin beranak-pinak dan merasuki segala aras kehidupan bangsa kita bahkan secara membudaya. Penegakan hukum yang berkeadilan dan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia masih merupakan pergumulan dan harus tetap kita perjuangkan. Pencemaran dan perusakan lingkungan yang menyebabkan bencana alam, seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya, tetap mencemaskan kita. Mereka yang diberi amanat dan kekuasaan untuk memimpin bangsa kita ini dengan benar dan membawanya kepada kesejahteraan yang adil dan merata, malah cenderung melupakan tugas-tugasnya itu.

Oleh karena itu, saudara-saudari yang terkasih, dalam pesan Natal bersama tahun ini, kami hendak menggarisbawahi semangat kedatangan Kristus tersebut dengan bersaksi dan beraksi, bukan hanya untuk perayaan Natal kali ini saja, tetapi hendaknya juga menjadi semangat hidup kita semua:

•·      Sederhana dan bersahaja: Yesus telah lahir di kandang hewan, bukan hanya karena “tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan”[10], tetapi justru karena Dia yang “walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia”[11].

•·      Rajin dan giat: seperti para gembala yang setelah diberitahu tentang kelahiran Yesus dan tanda-tandanya, lalu “cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria, Yusuf dan Bayi itu”[12].

•·      Tanpa membeda-bedakan secara eksklusif: sebagaimana semangat kanak-kanak Yesus yang menerima para Majus dari Timur seperti adanya, apapun warna kulit mereka dan apapun yang menjadi persembahan mereka masing-masing[13].

•·      Tidak juga bersifat dan bersikap mengkotak-kotakkan, karena Yesus sendiri mengajarkan bahwa “barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu”[14].

Saudara-saudari yang terkasih,

Tuhan Yesus, yang kedatangan-Nya sudah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya hampir delapan ratus tahun sebelum kelahiran-Nya, disebut sebagai “terang besar” yang “dilihat oleh bangsa-bangsa yang berjalan di dalam kegelapan”[15]. Nubuat itu direalisasikan-Nya sendiri dengan bersabda: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup”[16]. Di samping penegasan tentang diri-Nya sendiri itu, barangkali baik juga kita senantiasa mengingat apa yang ditegaskanNya tentang kita para pengikut-Nya: “Hanya sedikit waktu lagi terang ada di antara kamu. Selama terang itu ada padamu, percayalah kepadanya, supaya kegelapan jangan menguasai kamu; barangsiapa berjalan dalam kegelapan, ia tidak tahu ke mana ia pergi”[17].

Akhirnya marilah kita menyambut kedatangan-Nya dengan sederhana dan tidak mencolok karena kita tidak boleh melupakan, bahwa sebagian besar bangsa kita masih dalam kemiskinan yang ekstrim. Dengan demikian semoga terjadilah kini seperti yang terjadi pada Natal yang pertama:
“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya”[18].         

SELAMAT NATAL 2011
DAN TAHUN BARU 2012
Jakarta, 17 November 2011
  Atas nama PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA  dan  KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA    DI INDONESIA

Ketua Umum PGI
Pdt. Dr. Andreas A.Yewangoe                         

Ketua Umum KWI
Mgr. Martinus D. Situmorang, OFM.Cap
              
Pdt.Gomar Gultom, M.Th                                       Mgr.Johannes Pujasumarta      Sekretaris Umum dan                                              Sekretaris Jenderal 

Sumber: mirifica.net

Jadikan Indonesia Negara Darusalam


Kelompok-kelompok yang ingin mengubah Pancasila dan gerakan-gerakan pengebom adalah musuh kita bersama,” kata KH Said Aqiel Siroj
________

Bendera Merah Putih dan panji-panji Nahdlatul Ulama tiba di Tugu Proklamasi di jalan Pegangsaan Timur, Jakarta, Jumat (25/11) siang. Bendera dan panji-panji tersebut diusung dalam Kirab Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama yang diikuti sejumlah anak organisasi itu selama enam hari. Kirab dimulai dari Surabaya sejak 20 November 2011. Bendera Merah Putih dikibarkan dalam upacara bendera sederhana.

Ketua Tim Pengarah Kirab Resolusi Jihad NU Muhaimin Iskandar dalam sambutannya menyatakan, salah satu tujuan kirab ini adalah untuk membangkitkan rasa cinta Tanah Air.

”Pengawalan panji-panji NU adalah untuk pengabdian kepada agama, bangsa, dan negara, serta untuk meneruskan dan melestarikan cita-cita luhur pendiri NU Kiai Haji Hasyim Asy’ari dan kiai-kiai lainnya,” kata Muhaimin yang juga Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Ketua Umum Pengurus Besar NU KH Said Aqil Siroj memaparkan sejarah resolusi jihad KH Hasyim Asy’ari, yang kemudian dikenal sebagai resolusi jihad NU. Setelah Indonesia merdeka, tentara Netherland Indian Civil Administration (NICA) yang dibentuk oleh Pemerintah Belanda membonceng pasukan sekutu yang dipimpin Inggris.

”NICA berusaha melakukan agresi di Surabaya dengan alasan mengurus tentara Belanda yang ditawan Jepang. Tapi, mereka turun di Jakarta dengan senjata lengkap. Kiai Hasyim Asy’ari bersama para ulama berkumpul di Tebuireng, 22 Oktober, kemudian diserukan resolusi jihad melawan pasukan gabungan NICA dan Inggris,” kata KH Said Aqiel Siroj.

Resolusi jihad ditandatangani di kantor NU Bubutan, Surabaya. Isi resolusi jihad adalah pertama, kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 harus dipertahankan. Kedua, Pemerintah RI sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah harus dipertahankan dengan harta maupun nyawa. Ketiga, musuh-musuh Indonesia, khususnya orang-orang Belanda yang kembali ke Indonesia dengan menumpang pasukan sekutu (Inggris), sangat mungkin ingin menjajah kembali Indonesia setelah Jepang ditaklukkan.

Keempat, umat Muslim khususnya warga NU harus siap bertempur melawan Belanda dan sekutu mereka yang berusaha menguasai kembali Indonesia. Kelima, kewajiban jihad merupakan keharusan bagi setiap Muslim yang tinggal dalam radius 94 kilometer.Karena itu, meletuslah perang rakyat semesta dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.
”Kita sudah merebut Indonesia dengan bertaruh nyawa. Karena itu, jadikan Indonesia negara darusalam (tempat yang penuh kedamaian dan keselamatan), bukan darul Islam (negara Islam). Kelompok-kelompok yang ingin mengubah Pancasila dan gerakan-gerakan pengebom adalah musuh kita bersama,” kata KH Said Aqiel Siroj.

(Kompas, 28 November 2011)

Dialog dalam Bayangan Kekerasan


_______
Armada Riyanto dari Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana, Malang, Indonesia, mengamati, relasi antarnegara hanya bisa dilakukan atas dasar ketulusan dan kejujuran
_________

Persoalan dalam dialog lintas agama yang dilakukan lintas negara selalu dibayangi peristiwa tragis terkait intoleransi agama, etnis, budaya, pemakzulan, dan segala hal yang bersifat kebencian dan permusuhan terus berlangsung di seluruh dunia.

Dialog yang menyerukan kesalingpahaman dan penghormatan pada identitas hampir tidak menyentuh persoalan sehari-hari,” ujar Magdalena Lewicka dari Universitas Nicolas Copernikus di Tarun, Polandia.

Ia menyampaikan hal itu dalam Dialog Antariman dan Antarbudaya Indonesia-Polandia di Krakow, Polandia, beberapa waktu lalu. Para pembicara berasal dari para akademisi dan tokoh agama, khususnya Islam dan Kristen.

Dialog itu diselenggarakan Kementerian Luar Negeri RI, Departemen Agama dengan negara-negara mitra. Bagian dari soft diplomacy sejak 2002 itu dimaksud untuk meluruskan kesalahpahaman Barat mengenai Islam, terutama sejak serangan 11 September 2001 di New York, dan menjelaskan posisi Islam Indonesia.

Menyentak

Gugatan itu menyentak karena dialog senantiasa merupakan upaya untuk menghormati perbedaan dan kemanusiaan yang transenden. Sementara, menurut Magdalena, Barat masih melihat Islam sebagai ancaman. Pun sebaliknya.

Meski demikian, hubungan kelompok minoritas Islam dengan kelompok mayoritas Katolik di Polandia berjalan sangat baik, seperti dipaparkan Adam Was SVD dari Konsil Bersama Islam-Katolik di Polandia. Kondisi seperti itu dibangun dan didukung oleh Paus Yohanes Paulus II (alm).

”Semasa hidupnya, beliau melakukan dialog dengan banyak tokoh Muslim di dunia. Dasar pijakannya adalah ’kalau engkau mencintai Tuhan, engkau harus mencintai sesamamu,” ujar Was.

Hubungan Polandia dengan Islam secara historis terbangun selama ratusan tahun. Meski demikian, menurut Mufti Tomasz Miskiewicz dari Asosiasi Agama Islam Polandia, pembangunan masjid di Warsawa masih terganjal persoalan hukum karena lahan itu diambil alih negara pasca-Perang Dunia II.

Pemerintah Polandia mengakui keberadaan komunitas Etnis Tatar. Presiden Bronislaw Komorowski bahkan mengundang perwakilan kelompok etnis Tatar ke Istana Kepresidenan untuk memperingati ulang tahun ke-85 Asosiasi Agama Islam Polandia.

Komorowski selalu menyerukan toleransi yang besar dan kemampuan mengelola hubungan antara iman, budaya, dan bahasa. Namun, gelombang intoleransi terhadap Islam di Eropa melahirkan kekhawatiran di kalangan kelompok minoritas Islam di Polandia.

Jumlah mereka 40.000- 50.000 orang atau sekitar 1 persen dari jumlah penduduk Polandia, sementara etnis minoritas Tatar beragama Islam jumlahnya 5.000-6.000 orang. Sekitar 97 persen penduduk Polandia beragama Katolik.

Suara minoritas

Contoh paling ekstrem dari kekerasan terhadap kelompok minoritas dikemukakan Paul Bhatti, Presiden Aliansi Semua Minoritas Pakistan (APMA). Ia adalah ”Utusan Khusus” Perdana Menteri Yousaf Rasa Gilani untuk masalah Minoritas Agama yang bertugas mengelola permasalahan terkait dengan minoritas agama di tingkat federal.

Paul Bhatti adalah adik Shabaz Bhatti (alm), Menteri Urusan Minoritas di Pakistan yang dibunuh pada 2 Maret 2011 di Islamabad, menyusul pembunuhan Gubernur Punjab, Salman Tasser oleh pengawalnya, bulan Januari. Kelompok ekstremis mengatasnamakan agama mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan itu Tasser dan Bhatti adalah dua tokoh publik di Pakistan yang gencar menyerukan penolakan hukuman mati terkait kasus-kasus yang dinyatakan sebagai ”penodaan agama”. Keduanya sangat keras menyuarakan amandemen hukum mengenai penodaan agama yang telah menelan banyak korban.

Pihak-pihak yang mengadvokasi hak asasi manusia terkait kasus-kasus penodaan agama di Pakistan menerima berbagai ancaman pembunuhan. Mereka yang berani menyerukan revisi hukum soal penodaan agama dianggap kafir dan halal dibunuh.

”Pakistan hari ini jauh berbeda dengan Pakistan pada 1947,” ujar Paul Bhatti dengan nada getir, ”Dulu, kebebasan beragama dijamin undang-undang, tak ada ketakutan beribadat, tak ada tekanan dan diskriminasi,” ujarnya dengan nada getir.

Gambaran Pakistan hari ini adalah negeri yang penuh kekerasan setelah kasus terorisme lintas batas dan ekstremisme mengatasnamakan agama. Kemiskinan meruyak.

Situasi itu diperparah oleh mereka yang mengingini ketidakstabilan terus berlangsung karena mendapat manfaat dari kondisi itu. Bhatti menyerukan agar komunitas internasional memberikan perhatian pada situasi di Pakistan.

Bukan krisis agama

Menurut Miskiewicz, krisis di dunia Islam saat ini merupakan krisis politik, bukan krisis agama. Krisis itu merambat dengan cepat ke sejumlah negara, dipicu berbagai persoalan riil yang tak bisa diselesaikan oleh negara.

Sekjen International Conference of Islamic Scholars Indonesia (ICIS) KH Hasyim Muzadi menambahkan, bertepatan dengan perang melawan terorisme yang dilancarkan dunia Barat ke Timur Tengah akibat peristiwa 11 September, serbuan pengaruh global, khususnya di bidang ideologi, tak dapat dibendung. Secara bersamaan, berbagai persoalan membelit Indonesia yang masih berada dalam masa transisi demokrasi.

Banyak aliran keras masuk karena mereka berasumsi Indonesia adalah negara berpenduduk Muslim paling besar. Perlawanan mereka terhadap Barat yang dilakukan di Indonesia mengakibatkan munculnya gerakan terorisme di Indonesia.

”Kekerasan dan terorisme berkarakter agama sama sekali bukan kepribadian umat beragama di Indonesia,” ujarnya, ”Tetapi, sesuatu yang datang belakangan karena faktor politik nasional dan pengaruh global.”

Mahmoud Azab dari Universitas Al-Azhat, Mesir, menambahkan, ”Dialog hanya bisa dilakukan apabila mau saling mendengarkan atas dasar nilai-nilai universal. Para ekstremis tak mengerti dialog karena mereka hanya meyakini kebenaran mereka sendiri.”

Sejarah panjang

Azab mengatakan, Islam adalah agama yang berbelas kasih, sedangkan Kristianitas adalah agama yang penuh cinta. Kerja sama Islam dan Kristen di Mesir memiliki sejarah sangat panjang, dan terlihat jelas dalam perjuangan bersama menentang pendudukan Inggris, juga dalam Revolusi 25 Januari 2011.

Upaya memecah hubungan dilakukan sekelompok ekstremis, tetapi hal itu tak bisa dijadikan acuan tentang intoleransi di Mesir. ”Tidak ada perang agama di Mesir,” ujarnya. Benturan diselesaikan dengan solusi hukum, bukan solusi agama.

Mahmoud Azab mendukung prakarsa ”Rumah Bersama” di mana para tokoh agama-agama Kristen bekerja sama dengan Al-Azhar untuk mempromosikan dialog, mendiskusikan isu di dalam agama masing-masing, dan melawan wacana ekstremis baik di gereja, masjid, maupun melalui siaran televisi.

”Kita tak mau Islam diasosiasikan dengan kekerasan dan perang. Kita berjuang atas nama yang dipinggirkan, termasuk warga Kristen di Palestina dan Irak,” tegasnya.

Menurut Bronislaw Misztal dari Sekretariat Permanen Komunitas Demokrasi, yang terjadi saat ini bukan clash of civilization, tetapi clash of communications.”Ada kelit-kelindan persoalan identitas. Juga budaya. Harus diingat, agama sangat kuat membentuk identitas,” ujarnya.

Armada Riyanto dari Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana, Malang, Indonesia, mengamati, relasi antarnegara hanya bisa dilakukan atas dasar ketulusan dan kejujuran.”Dua hal itu dibangun melalui perjumpaan dan pengalaman,” ujarnya. ”Pertemuan di Krakow masih terbatas pada perjumpaan”.

Begitulah. Seperti dikemukakan Duta Besar RI untuk Polandia Darmansyah Djumala, dialog dengan Polandia adalah yang pertama dalam putaran dialog untuk membangun perdamaian dan keadilan antarbangsa (Kompas 16/10/2011)

Mesjid Yesus Kristus di Jordania


Sebuah mesjid yang diberi nama dengan nama figur sentral kekristenan akan menjadi tugu peringatan ko-eksistensi antar iman di Jordania. Baik pemimpin umat muslim maupun kristen mengungkapkan kepuasan mereka dengan pembukaan Mesjid Yesus Kristus beberapa waktu lalu. Tempat ibadah itu dibangun di kota Madaba, 30 km sebelah selatan ibukota Jordania, Amman. 

“Ini adalah sebuah pesan kepada dunia bahwa umat Muslim menganggap Yesus Kristus sebagai nabi mereka, karena Dia memberitahukan kepada umat manusia bahwa Nabi Muhammad akan datang” kata imam mesjid itu, Belal Hanina.

“Dan ini juga membuktikan bahwa Islam adalah agama yang toleran dan tidak ada kaitan apapun dengan kaum ekstrimist.Hanina menjelaskan bagaimana umat kristiani dan muslim hidup secara damai untuk waktu yang sudah sangat lama dan memiliki ikatan persaudaraan yang saling menumbuhkan di wilayah Kerajaan ini, dan pendukung yang tulus terhadap diaolog antar iman. Umat kristiani berjumlah 10 persen dari menduduk Madaba dan 5 persen dari penduduk Jordania, negara yang berpenduduk 5,5 juta jiwa.

Kami telah hidup bersama dalam damai selama berabad-abad dengan saudara kami umat kristiani dan merasa bahwa mesjid ini melambangkan persaudaraan kami” Kata Abdul Horout, seorang ahli hukum muslim dari Madaba.

“Kami telah diperintahkan oleh Kitab Suci kami, Al Qur’an, untuk tidak membeda-bedakan para utusan Allah. Kami menganggap Yesus Kristus adalah saudara nabi kami Muhammad.”

Di dalam mesjid itu ditempelkan  ayat-ayat dari Al Qur’an yang memberikan pujian kepada Yesus Kristus dan Maria, Bunda-Nya. Mesjid Yesus Kristus itu dibangun oleh keluarga Al Otaibi, suatu klan (keluarga besar) muslim di distrik Madaba yang terkenal karena usaha-usaha mereka untuk menggalang hubungan yang baik antara komunitas muslim dan kristiani.

“Kami ingin memberikan contoh untuk diikuti di mana-mana bagi ko-eksistensi yang damai antar iman”, kata Marwan al-Otaibi

Diterjemahkan oleh sujoko, msc(teks Inggrisnya dari New Advent, salah satu situs Vatican).

A mosque named after the central figure of Christianity is to become a milestone of interfaith coexistence in Jordan. Both Muslim and Christian leaders expressed their satisfaction when the Mosque of Jesus Christ was opened some time ago. The place of worship was inaugurated in the town of Madaba, 30 km south of the capital, Amman. 

“This is a message to the world that Muslims consider Jesus Christ as their prophet, because he informed humanity beforehand that the Prophet Muhammad was coming”, said the imam of the mosque, Belal Hanina.

“And this also proves that Islam is a religion of tolerance and has nothing to do with extremism”. Hanina explained how Christians and Muslims have lived in peace for a long time and have nurtured fraternal ties in this area of the Hashemite Kingdom, an ardent supporter of interfaith dialogue.  Christians account for 10 percent of the residents of Madaba and 5 percent of Jordan, which has five and a half million inhabitants. 

“We have lived in peace for centuries with our Christian brothers and feel that this mosque symbolizes our fraternity”, said Abd Horout, a Muslim lawyer from Madaba.

“We have been ordered by our holy book, the Koran, not to differentiate between messengers. We consider Jesus Christ a brother of our prophet, the prophet Muhammad”. In the mosque there are quotes posted from the Koran in praise of Jesus Christ and his mother, Mary. 

The “Jesus Christ” mosque was built by the al-Otaibi family, a Muslim clan that has a long history in the Madaba area and distinguishes itself for promoting good relations with the Christian community. “We wanted to give an example to be followed elsewhere for interfaith coexistence” said Marwan al-Otaibi.

(Courtesy milis Mitra Hukum)

PEMIMPIN UMAT HARUS BERJIWA PLURALISME


Seorang pemimpin umat di masa depan dengan melihat situasi sekarang harus memiliki wawasan pluralisme yang mengedepankan toleransi saling pengertian dan juga saling membangun. Hal ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa Indonesia bukanlah negara agama. Semua perbedaan agama, suku dan ras harus menjadi kekuatan untuk membangun Indonesia yang lebih baik, damai dan adil di masa mendatang.
 
Demikianlah kesimpulan seminar pluralisme di seminari St. Petrus Canisius Mertoyudan, Magelang dengan thema “Penghayatan Pendidikan Imamat Dalam Wawasan Pluralisme, pada Sabtu (23/7). Hadir sebagai pembicara adalah, Basuki Tjahya Purnama (Ahok) – Anggota Komisi II DPR RI, Trias Kuncahyono – Wapemred Harian Kompas, Zuhaeri Misrawi – Cendikiawan NU dan Chairman Moderate Moslem Society, Markus Kurniawan Hidayat – Tokoh GKI Taman Yasmin Bogor, dan Teguh Santosa – Wasekjen PP Pemuda Muhammadiyah. Dan bertindak sebagai moderator adalah Rektor Universitas Atmajaya Yogyakarta, Maryatmo.
 
Teguh Santosa mengatakan, kemiskinan adalah persemaian atas munculnya sebuah konflik horizontal. “Dan konflik itu bukanlah karena agama tetapi ketidakadilan. Namun karena situasi politik, konflik tersebut kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan pihak tertentu.” katanya, dihadapan peserta yang sebagian besar adalah lulusan Seminari St. Petrus Canisius Mertoyudan.
 
Sedangkan Zuhaeri Misrawi mengatakan, tokoh agama seperti pastur, imam atau romo harus mengenali tradisi dan budaya orang lain, selain itu pastor juga harus menjiwainya. “Dengan demikian, jemaatnya juga akan punya jiwa yang plural dan terbuka untuk memahami orang lain. Dan pluralisme dalam kehidupan beragama dan berbangsa merupakan suatu keniscayaan. Apabila pluralisme diharamkan, maka masa depan bangsa ini sangat mengkhawatirkan,” kata lulusan Mesir ini.
 
Sementara bagi Markus Kurniawan Hidayat yang berasal  dari GKI Taman Yasmin Bogor, pluralisme tidak perlu ditawarkan lagi. Namun demikian, meskipun hidup berbangsa dilandasi Pancasila yang mengandung nilai kebhinekaan, pluralisme tidak diterima dengan berbagai alasan. Ditambahkannya, belajar dari peristiwa pencabutan IMB GKI Taman Yasmin Bogor oleh Walikota Bogor, semua pihak harus mengedepankan pluralisme dengan cara lebih membuka diri dan terbuka kepada semua elemen.
 
Bagi Trias Kuncahyono, pastor harus melek teknolgi dan informasi. “Dengan mengetahui berbagai permasalahan melalui internet, informasi terkini terkait dengan pluralisme dapat disikapi dengan arif. Oleh karenanya semakin banyak mengetahui informasi seperti ini, pastor diharapkan terdorong untuk melakukan tugasnya membela keadilan dan membangun pluralisme di segala dimensi kehidupan,” ujar penulis buku “TAHUN 33” ini.
 
 
Bila semua saran dari sejumlahh pembicara dari seminar itu bisa dilakukan, tentu kekaguman masyarakat luar Indonesia terhadap kebhinekaan bangsa ini bisa dipertahankan. “Jika semua pemuka agama termasuk pastor menjaga kebhinnekaan sebagai pilar bangsa, kita semua tidak takut akan terjadi ketidakadilan oleh mayoritas kepada minoritas. Menghapus ketidakadilan adalah tugas dari para pemuka agama,” ujar Basuki Tjahya Purnama atau Ahok.
 
Ditambahkan mantan Bupati Belitung Timur itu, untuk menghapus ketidakadilan para pastor disarankan untuk tidak alergi terhadap politik. Sehingga ketika ketidakadilan terjadi, para pastor dapat melakukan sesuatu. Oleh karena itu, Gereja harus berprinsip dan memegang teguh nilai-nilai lulurh Pancasila. “Kita harus membangun bangsa Indonesia bukan dengan charity atau bantuan sosial tetapi dengan keadian sosial, ” ujarnya.
 
100 tahun
Dalam penjelasannya, Rektor Seminari Menengah Mertoyudan, Sumarya SJmengatakan seminar ini diadakan dalam rangka 100 tahun Seminari St. Petrus Canisius Mertoyudan Magelang yang jatuh pada tahun 2012. Sebagai sekolah yang mengkhususkan diri mendidik para calon pastor (imam, romo) – pemuka agama Katolik, dipandang perlu untuk mempersiapkan anak didik berwawasan pluralisme. Langkah ini dianggap penting untuk menghadapi era baru dimana pluralisme adalah suatu value yg harus dipelihara dan dijaga.
 
Dengan demikian, Sumarya SJ menjelaskan, para calon pastor masa depan dapat membawa umatnya ke suatu sikap toleransi, saling pengrtian di antara  agama-agama dan kepercayaan yang ada diIndonesia. Sikap saling memahami, toleransi tentu akan menjaga kebhinekaan, keberanekaragaman yang merupakan nilai luhur Indonesia, sebagaimana ditanamkan oleh para pendiri negara ini.
 
Sumarya SJ yg sebelumnya adalah rektor SMA Kolese Kanisius, Jakarta ini, melihat bahwa jika seluruh calon pemuka agama_agama di Indonesia mendapatkan pendidikan pluralisme sejak dini, konflik horisontal yang berlatarbelakang agama dapat dihindari.
 
Masa depan Indonesia yang damai, tentram dan bersatu akan menjadi harapan kita semua dgn tumbuhnya nilai pluralisme dalam diri para pemuka agama, yg sekarang dalam masa pengkaderan.

(Courtesy milis CMVE)