Gus Dur: Imlek Tidak Haram Dirayakan


Gus Dur: Imlek Tidak Haram Dirayakan

Jakarta, (Analisa)

Imlek adalah perayaan budaya bukan perayaan keagamaan sehingga tidak haram bagi warga Tionghoa yang beragama Islam untuk turut merayakan Imlek.

“Imlek itu bukan perayaan hari raya, itu perayaan tani,” ujar Ketua Dewan Syuro PKB Abdurahman Wahid dalam talkshow “Living in Harmony the Chinese Heritage in Indonesia” di Mal Ciputra, Jakarta Barat, Rabu (30/1).

Budaya China sendiri, menurut Gus Dur banyak mempengaruhi budaya Betawi.

“Budaya Betawi itu campur aduk antara Arab, Melayu, dan Tionghoa,” jelasnya.

Gus Dur juga menyambut baik tumbuh dan berkembangnya kebudayaan China di Indonesia sejak diizinkannya perayaan Imlek secara luas pada masa pemerintahannya.

“Mari kita bawa Republik Indonesia ini kepada pluralitas,” pungkasnya.

Keturunan Putri Campa

Gus Dur ternyata adalah keturunan Tionghoa. Malah dengan bangga, mantan presiden ini mengakui dirinya sebagai seorang China tulen.

“Saya ini China tulen sebenarnya, tapi ya sudah nyampurlah dengan Arab dan India. Nenek moyang saya orang Tionghoa asli,” ungkap Gus Dur.

Gus Dur menjelaskan dirinya adalah turunan Putri Campa yang menjadi selir Raja Majapahit Brawijaya V. “Putri Campa itu lahir di Tiongkok, lalu dibawa ke Indonesia,” jelasnya.

Dari perkawinannya dengan Brawijaya V, Putri Campa ini mempunyai dua orang putra. Yang pertama adalah Tan Eng Hian yang mendirikan kerajaan Demak dan akhirnya berganti nama jadi Raden Patah. “Dari sana keturunannya,” ujarnya.

Sedangkan putra Putri Campa yang satunya lagi diceritakan Gus Dur bernama Tan A Hok yang akhirnya menjadi seorang Jenderal. (dtc)

Iklan

Harga Susu Menggelembung, Harga Pisang Naik Turun


Akhir-akhir ini harga Sembako melonjak tinggi di berbagai kota, seperti di Jakarta. Harga beras, daging, susu, kedelai dan lain sebagainya, mengalami kenaikan yang cukup berarti. Yang paling memberatkan bagi para ibu adalah harga susu bagi bayi mereka.

Kenaikan harga susu diperkirakan akan mengurangi tingkat kecerdasan intelektual anak di tahun-tahun mendatang.

Tampaknya harga Sembako pada naik akibat salah urus kegiatan pertanian di negeri ini. Masak kedelai aja harus diimpor? Selain itu, harga sembako dipicu oleh kenaikan gaji PNS pada 2008, yang sudah diumumkan tahun lalu.

Seorang tetangga berkomentar, kehidupan rumah tangga lebih stabil pada masa pemerintahan Suharto, dibandingkan dengan kehidupan ekonomi di masa pemerintahan sekarang.   

Sembako hari ini (harian Pos Kota)

Beras 4.850
Daging sapi 52.800
Daging ayam boiler 16.300
Telur ayam ras 10.300
Minyak goreng sawit 8.840
Gula pasir 6.680
Tepung terigu 5.920
Susu bubuk bendera 23.700
SKM cap bendera 7.340
Kedelai eks impor 7.300
Kedelai eks lokal 6.400
Cabe merah keriting 13.800
Cabe merah biasa 15.800
Bawang merah 12.400
Jagung pipihan 4.250
Garam halus 2.200
Kacang tanah 12.600

Melihat, harga-harga sembako tersebut, temasaya sempat nyletuk, harga susu menggelembung, harga pisang naik-turun, harga kacang dan telur terjepit. Saya pun jadi tertawa mendengar guyon teman tersebut karena kekesalannya atas kenaikan sembako tersebut.

Mudah-mudahan pemerintahan sekarang memperhatikan perbaikan kehidupan rakyat kecil.

SUPERSEMAR MASIH MISTERI ; Rahasia Pak Harto Belum Terkuak


SUPERSEMAR MASIH MISTERI ; Rahasia Pak Harto Belum Terkuak
29/01/2008 05:36:20 YOGYA (KR) – Wafatnya Pak Harto, banyak menyisakan rahasia yang belum terkuak, selain sisi hukum yang belum tuntas. Drs Ahmad Adaby Darban SU, sejarawan UGM menyatakan bahwa arsip Surat Perintah Sebelas Maret 1966 (Supersemar) kemungkinan disimpan oleh Soeharto. “Soeharto adalah penerima surat perintah tersebut dari Presiden Soekarno dan dia merupakan pelaku yang terakhir hidup,” katanya di Yogyakarta, Senin, menanggapi pro kontra Supersemar 1966 setelah mantan Presiden Soeharto wafat. Oleh karena itu, jika ingin mengetahui fakta sebenarnya soal Supersemar, dokumen asli harus ditemukan. “Dengan ditemukannya dokumen asli Supersemar diharapkan fakta sejarah yang selama ini terkesan samar bisa terungkap jelas,” katanya. Mengenai fakta sejarah yang selama ini banyak ‘dibelokkan’, ia mengatakan tidak perlu ada pelurusan sejarah sepeninggal Soeharto. “Karena pada hakikatnya tidak ada penulisan sejarah yang obyektif, semua tergantung pada pemimpin atau penguasa pada zamannya,” kata dia. Meski demikian jika ada fakta baru yang ditemukan, dapat dijadikan fakta tandingan termasuk mengenai Supersemar. Soeharto sebagai warga bangsa mengalami banyak peristiwa sejarah seperti ‘Serangan Oemoem’ dan Supersemar. Dalam komentarnya, para sejarawan juga berharap pemerintah agar secepatnya membentuk semacam tim untuk kebenaran. Ini juga diungkapkan oleh peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Marwan Adam, sebab hal tersebut bisa menimbulkan kesimpangsiuran yang membingungkan masyarakat. Sejumlah misteri, selain Supersemar juga peristiwa lain umpamanya Serangan Umum 1 Maret, peristiwa G 30 S-PKI, berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM), hingga lengsernya Pak Harto dari kursi kepresidenan menimbulkan banyak persepsi. (R-1)-a (Kedaulatan Rakyat,

Nabi Muslim lahir di Bethlehem


Nabi Muslim lahir di Bethlehem

Kategori : Resensi

Oleh : Redaksi

27 Dec 2007 – 5:47 pm

Oleh: Karen Amstrong

Kisah tentang Yesus menempati posisi yang istimewa di awal Islam. Tidak ada kebutuhan untuk “benturan peradaban” (clash of civilization) .

Pada 632 M, setelah lima tahun peperangan yang hebat, Kota Mekkah di Hijaz, Semenanjung Arabia, secara sukarela membuka gerbang untuk pasukan Muslim. Tidak ada darah ditumpahkan dan tidak ada orang yang dipaksa untuk menjadi Muslim, tetapi Nabi Muhammad saw memerintahkan penghancuran seluruh berhala dan patung Ketuhanan. Terdapat sejumlah lukisan dinding pada dinding-dinding bagian dalam Ka’bah, tempat suci kuno di tengah Mekkah, dan salah satunya, konon diriwayatkan, menggambarkan Maria dan bayi Yesus. Segera, Muhammad saw menutupinya dengan jubahnya dengan penuh hormat, memerintahkan agar semua lukisan yang lain dihilangkan kecuali yang satu itu.

Kisah ini boleh jadi akan mengejutkan orang-orang di Barat, yang kadung memandang Islam sebagai musuh yang tidak dapat didamaikan dengan Kristen sejak Perang Salib. Namun, adalah sangat konstruktif untuk mengingat kisah tersebut, terutama selama Natal, ketika kita dikepung oleh gambar-gambar yang serupa tentang Sang Perawan dan Anak Sucinya. Kisah itu mengingatkan kita bahwa apa yang disebut “benturan peradaban” sama sekali bukan tidak bisa dielakkan. Selama berabad-abad, Muslim mencintai figur Yesus yang dihormati di dalam al-Quran sebagai salah satu nabi terbesar dan, di dalam tahun-tahun perkembangan Islam, menjadi salah satu bagian utama dari identitas Muslim.

Terdapat pelajaran penting di sini, baik bagi orang Kristen maupun Muslim-terutama barangkali pada saat-saat Natal seperti ini. Al-Quran tidak meyakini Yesus sebagai tuhan, tetapi ia mempersembahkan lebih banyak ruang bagi kisah tentang konsepsi dan kelahiran sucinya dibandingkan dengan apa yang dikisahkan di Perjanjian Baru. Al-Quran menyajikannya dengan kekayaan simbolis mengenai kelahiran Roh Kudus di dalam setiap manusia (QS. 19:17-29; 21:91). Seperti para nabi agung lainnya, Maria menerima Roh Kudus dan mengandung Yesus, yang pada gilirannya akan menjadi sebuah bukti (ayat): sebuah pesan perdamaian, kelembutan, dan kasih sayang kepada dunia.

Al-Quran dikejutkan oleh klaim-klaim Kristen bahwa Yesus adalah “putra Allah”, dan kemudian dengan bersemangat melukiskan Yesus, demi menyangkal ketuhanannya dalam upaya “membersihkan” dirinya dari proyeksi-proyeksi yang tidak layak tersebut. Berkali-kali, al-Quran menekankan bahwa, seperti juga Muhammad sendiri, Yesus adalah seorang manusia biasa yang sempurna dan bahwa orang Kristen sama sekali telah salah dalam memahami teks-teks suci mereka sendiri. Namun, al-Quran juga mengakui bahwa ada orang-orang Kristen yang paling setia dan terpelajar-terutama adalah para pendeta dan imam-tidak meyakini ketuhanan Yesus; dari semua hamba Tuhan, merekalah yang paling dekat dengan Muslim (QS. 5:85-86).

Harus dikatakan bahwa beberapa orang Kristen mempunyai pemahaman yang sangat sederhana dari apa yang dimaksud dengan penjelmaan. Ketika para penulis Perjanjian Baru, Paulus, Matius, Markus, dan Lukas menyebut Yesus sebagai “Anak Allah”, mereka tidak memaksudkan bahwa Yesus adalah Tuhan. Mereka menggunakan istilah itu dalam makna Ibraninya: di dalam Alkitab Ibrani, sebutan tersebut biasa dianugerahkan kepada manusia biasa yang fana, seperti seorang raja, imam, atau nabi-yang telah diberi tugas khusus oleh Allah dan menikmati keakraban yang tidak biasa dengan-Nya. Di seluruh Injilnya, Lukas justru selaras dengan al-Quran, sebab ia secara konsisten menyebut Yesus sebagai seorang nabi. Bahkan Yohanes, yang memandang Yesus sebagai penjelmaan Firman Allah, membuat suatu pembedaan, sekalipun hanya dalam satu ungkapan yang sangat bagus, antara “Firman” dengan Allah Sendiri-seperti halnya kata-kata kita yang terpisah dari esensi keberadaan kita.

Al-Quran menekankan bahwa semua agama yang benar dan terbimbing, berasal dari Allah, dan Muslim diwajibkan untuk mengimani wahyu-wahyu dari setiap kata para utusan Allah: Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa, dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri” (QS. 3:84). Dan, Yesus-yang juga disebut Mesiah-Sang Firman dan Roh Kudus-mempunyai status khusus.

Yesus, menurut al-Quran, mempunyai hubungan yang dekat dengan Muhammad, dan telah meramalkan kedatangannya (QS. 61:6), sama seperti para nabi Ibrani yang dipercaya oleh orang Kristen, telah menubuatkan kedatangan Kristus. Al-Quran menolak bahwa Yesus telah disalibkan dan memandang kenaikannya ke surga sebagai pernyataan keberhasilan dari misi kenabiannya. Dengan cara yang serupa, Muhammad suatu ketika secara mistik naik ke Singgasana Tuhan (peristiwa Isra’ Mi’raj). Di samping Muhammad, Yesus juga akan memainkan suatu peran yang sentral dalam drama eskatologis pada hari akhir.

Selama tiga abad pertama dari Islam, Muslim telah menjalin hubungan yang dekat dengan orang Kristen di Irak, Syiria, Palestina, dan Mesir, dan mulai mengoleksi ratusan riwayat dan perkataan yang berhubungan dengan Yesus; suatu koleksi yang tidak ada bandingannya di dalam agama non-Kristen manapun. Sebagian ajaran tersebut dengan jelas berasal dari Injil-terutama Khotbah di atas Bukit yang sangat populer tetapi ditampilkan dengan gaya Muslim. Yesus digambarkan melakukan ritual haji, membaca al-Quran, dan melakukan sujud dalam doanya.

Dalam riwayat-riwayat yang lain, Yesus mengartikulasikan secara terperinci apa yang menjadi perhatian Muslim. Dia telah menjadi salah satu teladan agung bagi para sufi Muslim, yang mengajarkan hidup sederhana, kerendahan hati, dan kesabaran. Kadang-kadang Yesus memihak satu kelompok dalam sebuah perselisihan teologis atau politis: membariskan dirinya bersama mereka yang mendukung kehendak bebas di dalam perdebatan mengenai takdir; memuji Muslim yang berdamai dengan prinsip politiknya (“Ketika para raja memberikan kebijaksanaan kepada kalian, maka sebaiknya kalian tinggalkan dunia untuk mereka”); atau mengecam para ulama yang melacurkan ajarannya demi keuntungan politis (“Janganlah kamu hidup dari Kitab Tuhan”). 1)

Yesus telah diinternalisasi oleh Muslim sebagai teladan dan inspirasi dalam pencarian spiritual mereka. Muslim Syiah merasa bahwa ada suatu koneksi kuat antara Yesus dengan imam-imam mereka yang menerima ilham, memiliki kelahiran-kelahiran yang ajaib, dan mewarisi pengetahuan propetik dari ibu-ibu mereka. Para Sufi terutama mengabdikan diri mereka kepada Yesus dan menyebutnya sebagai “nabi cinta”. Mistikus ternama Abad ke-12 M, Ibn al-Arabi, menyebut Yesus sebagai “penutup orang-orang kudus”-secara sengaja disandingkan dengan Muhammad sebagai “penutup para nabi”.

Cinta Muslim kepada Yesus adalah contoh yang luar biasa dari cara bagaimana sebuah tradisi dapat diperkaya oleh tradisi yang lain. Ini tidak berarti bahwa orang-orang Kristen harus membayar pujian tersebut. Sementara Muslim mengoleksi riwayat-riwayat mereka mengenai Yesus, sarjana-sarjana Kristen di Eropa justru menghujat Muhammad sebagai seorang pemuja seks dan penipu ulung, yang sangat menyukai kekerasan. Namun, pada hari ini, baik Muslim maupun orang Kristen sama bersalahnya atas sikap fanatik semacam itu dan seringkali juga lebih suka untuk melihat hanya bagian terburuk dari satu sama lain.

Cinta Muslim kepada Yesus menunjukkan bahwa hal itu tidak harus selalu menjadi situasinya. Pada masa lalu, sebelum terjadinya kekacauan politik dari modernitas, Islam selalu mampu melakukan koreksi diri. Tahun ini, pada hari kelahiran Jesus, mereka mungkin dapat bertanya kepada diri mereka sendiri bagaimana mereka dapat menghidupkan kembali tradisi panjang mereka berkaitan dengan pluralisme dan penghargaan kepada agama-agama yang lain. Ketika merenungi empati Muslim terhadap iman mereka, orang-orang Kristen sebaiknya melihat kembali masa lampau mereka sendiri dan mempertimbangkan apa yang mungkin dapat mereka lakukan untuk membalas rasa hormat ini. (icc-jakarta. com)

* Artikel ini dikutip dari harian Inggris the Guardian edisi 23 Desember 2006.

* Karen Armstrong adalah penulis buku Muhammad: a Prophet for Our Time.

Footnote

* Dua riwayat tersebut dan riwayat-riwayat yang bermakna serupa dapat ditemukan dalam Tarif Khalidi, The Muslim Jesus: Sayings and Stories in Islamic Literature, Harvard University Press, Cambridge, 2001.

mediacare
http://www.mediacar e.biz

Di Malaysia, Kata ALLAH Dilarang Digunakan Agama Lain


Di Malaysia, penggunaan kata ALLAH dilarang digunakan oleh umat beragama lain (kristiani) (Baca sumber yang saya kutip di bawah ini). Kata Allah adalah milik khas Islam karena berasal dari bahasa Arab. Apakah Orang Arab atau Islam tidak menggunakan bahasa lain dalam hidup kesehariannya? Apakah klaim kata ALLAH itu milik sendiri menunjukkan pikiran sempit? Saya pikir masalah bahasa saja yang seyogiyanya masalah kecil, tapi bisa menjadi masalah besar dalam kehidupan bersama. Syukurlah di Indonesia, penggunaan kata Allah tidak ekslusif milik Islam saja, tetapi boleh digunakan oleh umat beragama lain. (Pormadi)

 “Only Muslims can use [the word] Allah. It’s a Muslim word. It’s from the Arabic language. We cannot let other religions use it because it will confuse people,” deputy minister for internal security Johari Baharum told the press in explaining the rationale for the controversial decision. “We cannot allow this use of ‘Allah’ in non-Muslim publications; nobody except Muslims [can use it]. The word ‘Allah’ is published by the Catholics. It’s not right,” he said. (http://www.atimes.com/atimes/Southeast_Asia/JA10Ae02.html)
 

Nota Buat Adian Husaini Oleh Ruzbihan Hamazani (SOAL KERUKUNAN UMAT BERAGAMA)


Posted by: “Ruzbihan Hamazani”

Sat Dec 29, 2007 8:08 pm (PST)

Nota Buat Adian Husaini Oleh Ruzbihan Hamazani

Adian Husaini adalah salah satu penulis yang sangat digemari banyak kalangan Islam. Ia menulis rutin setiap minggu di Majalah Hidayatullah. Kolom-kolom mingguannya dibahas di Radio Dakta. Sebagai bekas wartawan, ia memang memiliki ketrampilan menulis yang cukup baik, enak dibaca, dan renyah. Kelemahan Adian hanya satu: sering memeragakan logika yang janggal. Ala kulli hal, salut untuk Adian Husaini.

Baru-baru ini, ia menulis sebuah kolom di situs Hidayatullah, “Mitos-Mitos tentang Perayaan Natal Bersama”. Tulisan ini beredar di banyak milis. Dalam tulisannya itu, ia mengkritik Prof. Din Syamsuddin yang menghadiri Perayaan Natal Bersama. Tulisan pendek ini ingin sekedar memberikan catatan pada kolomnya itu.

Tokoh kerukunan?

Saya ingin mulai dengan hal yang sederhana. Adian mengenalkan dirinya di ujung tulisan sebagai Wakil Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI Pusat. Saya berteriak dalam hati: What? Bagaimana orang seperti Adian menjadi seorang pejabat penting di MUI pusat untuk mengurus soal kerukunan umat beragama? Apakah saya tak salah? Apakah kata “kerukunan” mempunyai arti lain di sini? Kata “kerukunan” berasal dari akar kata “rukun” yang artinya kira-kira laras, harmonis, serasi, damai, dsb. Kata rukun berlawanan dengan sejumlah kata lain: tengkar, cekcok, curiga, dst.

Setahu saya, tulisan-tulisan Adian Husaini selama ini penuh dengan rasa curiga pada agama lain, terutama Kristen, nyinyir pada kelompok-kelompok Islam yang memperjuangkan dialog antaragama dan pluralisme, dst. Dia dulu juga pernah menjadi salah satu pengurus Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), lembaga Islam yang kita kenal membenci orang Kristen, dan selalu dengan mudah menuduh pihak “lawan debat” dengan istilah antek Yahudi (seperti terjadi pada Cak Nur). Bagaimana orang dengan rekam jejak seperti ini diserahi tugas untuk mengurus kerukunan antar umat beragama? Apakah ini tidak sama dengan meminta seorang koruptor menjadi anggota KPK? Apakah mungkin sapu kotor membersihkan lantai? Bukankah faqid al-shai’ la yu’thihi, kata pepatah Arab (orang yang tak punya sesuatu, tak akan bisa memberikan sesuatu itu)?

Nada tulisan Adian soal mitos-mitos perayaan Natal bersama itu sendiri, seperti anda bisa baca, kuat sekali diwarnai dengan nada eksklusivisme, curiga pada kelompok lain, dan sama sekali antidialog.

Jika MUI memang benar-benar memiliki komitmen untuk membangun kerukunan antaragama di Indonesia, tampaknya lembaga itu perlu berpikir ulang untuk mempertahankan Adian Husaini dalam komisi kerukunan tersebut. Alih-alih memperjuangkan kerukunan, orang seperti Adian ini hanya akan mempertahankan kecurigaan dan kebencian. Kecuali jika MUI memang niatnya sejak awal adalah mendirikan Komisi Kecurigaan Umat Beragama. Jika benar demikian, tentu saya seratus persen mendukung Adian Husaini bertahan selama-lamanya di sana.

Mitos Adian atau mitos sungguhan?

1.
Adian mengemukakan sejumlah mitos di sekitar perayaan natal bersama (PNB). Sekarang marilah kita memeriksa satu per satu mitos-mitos yang dikemukakan oleh Adian.

Pertama, dia mengatakan bahwa ada mitos tentang keharusan mengikuti PNB. “Mitos ini seperti sudah begitu berurat berakar, bahwa PNB adalah enak dan perlu,” ujarnya. Saya sungguh tak tahu, dari manakah Adian memetik mitos ini: apakah dari pohon mangga di belakang rumahnya, atau dari kebun milik temannya? Tak ada seorang pun mewajibkan ikut perayaan Natal bersama. Orang boleh ikut, boleh tidak. Tak ada undang-udang yang mengharuskan, juga tak ada kewajiban sosial untuk melakukannya. Teman-teman saya yang beragama Kristen sama sekali mengerti jika saya tak ikut perayaan Natal, karena khawatir dianggap memaksakan iman. Tetangga saya yang Kristen yang hampir setiap tahun mengucapkan Selamat Idul Fitri tak pernah meminta “balas jasa” kepada saya untuk mengucapkan Selamat Natal setiap bulan Desember tiba.

Jadi, dari mana Adian dengan begitu cemerlangnya menemukan mitos ini? Jika mitos ini benar-benar ada, tentu Adian layak mendapat pernghargaan yang setinggi-tingginya atas penemuan yang cerdas ini. Mungkin ia layak dimasukkan di musium MURI. Yang sungguh menakjubkan, Adian mengatakan bahwa mitos ini telah berurat berakar dalam masyarakat. Saya tak tahu, masyarakat mana yang sedang dibicarakan Adian.

Jadi, apa yang sesungguhnya terjadi dalam masyarakat?

Istilah Perayaan Natal Bersama sebetulnya mudah ditelusuri asal-usulnya. Masyarakat kita mengenal adat-bertetangga yang bentuknya macam-macam. Kalau anda hidup di desa, adalah hal yang lumrah jika tetangga anda sedang punya perhelatan, anda diundang untuk datang dalam acara itu. Adat seperti ini berlaku tanpa mengenal perbedaan agama. Kalau tetangga saya yang Kristen sedang “mantu” dia akan mengundang saya. Saat saya mengadakan pertemuan RT di rumah yang kadang disertai dengan membaca ratib, barzanji atau yasinan, saya juga akan mengudang tetangga saya yang Kristen itu.

Adat ini yang kemudian diteruskan pada tingkat yang lebih besar lagi. Saat Idul Fitri, umat Islam mengadakan acara halal bihalal di kantor atau perusahaan tempat mereka kerja. Tentu tak enak kalau acara ini hanya dihadiri karyawan yang Muslim saja. Lalu, diundanglah karyawan lain yang beragama Kristen. Bagus. Rukun. Begitu juga sebaliknya, saat Natal tiba, karyawan yang Kristen mengadakan natalan. Yang Muslim diundang pula. Ini berlaku pula untuk agama-agama yang lain.

Kebiasaan ini dilanjutkan pada level kenegaraan. Karena negara kita bukan hanya milik orang Islam saja, tetapi milik semuanya, maka setiap ada hari raya agama tertentu, diadakanlah upacara. Ada halal bihalal, mauludan, rajaban, dst. Ada acara natalan, waisakan, nyepi, imlek, dst. Tentu sudah selayaknya jika pejabat publik yang menjadi milik semua bangsa Indonesia datang dalam acara-acara seperti itu. Kalau presiden dikritik karena mendatangi acara natalan, padahal dia seorang Muslim, maka hanya ada dua kemungkinan: mungkin si pengkritik itu adalah orang yang a-sosial yang tak mengerti adat bertetangga dalam masyarakat, orang kuper yang hanya tahu dirinya sendiri saja; atau dia sedang terkena “sihir” ideologi tertentu yang membuatnya berpikir aneh seperti itu.

2.
Mitos kedua yang disebut oleh Adian adalah bahwa PNB adalah sarana untuk memupuk kerukunan antar umat beragama. Nada tulisan Adian ingin menggiring kita untuk percaya bahwa PNB sama sekali tak akan memupuk kerukunan. Saya tak tahu, apakah Adian juga menghendaki agar kita percaya bahwa bukan hanya tak memupuk kerukunan, tetapi PNB bisa menimbulkan pertikaian antar agama? Kalau yang terakhir ini benar, saya tak tahu lagi, sistem logika mana yang dipakai oleh anggota Komisi “Kerukunan” ini. Maksud saya tentu kerukunan dalam tanda kutip.

Tentu jalan untuk memupuk kerukunan banyak sekali, antara lain lewat pertukaran kunjungan saat hari raya. Kalau kita kembali ke contoh mikro dalam kehidupan sehari-hari, maka saya akan mengatakan bahwa ada banyak cara yang bisa saya tempuh untuk menjadi tetangga yang baik buat tetangga saya yang beragama Kristen atau Budha, misalnya. Cara itu meliputi banyak hal: kalau tetangga saya sedang selamatan untuk promosi jabatan baru, saya akan datang. Kalau saya mengadakan selamatan walimatus safar untuk pergi haji, dia saya undang. Begitulah seterusnya.

Ini juga berlaku pada level kenegaraan. Sudah tentu, jika presiden atau menteri yang beragama Muslim datang dalam acara natalan, masyarakat Kristen akan merasa lega, sebagaimana saya akan lega jika melihat tokoh Kristen datang ke acara-acara Islam. Sebagaimana umat Islam di Amerika merasa senang saat Presiden Bush mengadakan ifthar atau buka bersama di Gedung Putih, begitu pula umat Kristen di Indonesia akan merasa senang jika Pak Presiden yang Muslim dan berpeci datang di acara natalan. Inilah yang dalam studi-studi mengenai multikulturalisme disebut sebagai “politics of recognition” , politik pengakuan. Apakah kita akan mengatakan kepada Presiden Bush bahwa anda salah melakukan buka bersama di Gedung Putih, sebab itu sama saja anda mengakui kebenaran agama Islam. Inikah logika yang hendak dipakai oleh Pak Wakil Komisi Kerukunan MUI?

Dalam politik pengakuan, simbol dan budaya memainkan peran penting. Simbol memainkan peran yang sangat penting dalam masyarakat plural. Karena itu, tak salah, bahkan penting sekali memainkan simbol untuk memupuk kerukunan antaragama. Salah satu simbol yang sangat penting di mata masyarakat adalah simbol-simbol yang berkaitan dengan agama. Upacara-upacara keagamaan memiliki makna yang penting. Dengan memainkan simbol ini secara tepat, kerukunan dalam masyarakat bisa dipupuk dan diperkokoh. Ini hal sederhana yang bisa diketahui oleh semua orang awam. Saya tak tahu, bagaimana seorang anggota Komisi Kerukunan MUI bisa tak mengerti hal yang simpel seperti ini.

Adian menyebut bahwa dalam PNB ditegaskan keyakinan Kristen tentang Yesus sebagai anak Tuhan. Pertanyaan awam yang harus diajukan adalah: Apakah jika seseorang datang ke perayaan Natal dengan sendirinya percaya pada doktrin dan akidah Kristen? Saat Presiden Bush mengadakan buka bersama di Gedung Putih, apakah dia serta merta percaya pada dasar akidah Islam yaitu monoteisme? Saat tetangga saya yang Kristen datang ke rumah untuk menghadiri acara yasinan, apakah dia kemudian berubah iman?

Kalau orang Islam takut dengan histeris datang ke perayaan Natal karena khawatir “tertular” akidah Kristen, ini sungguh mengherankan, betapa lemahnya akidah umat Islam? Di mana dakwah ulama selama ini? Apakah dakwah Islam gagal mencetak Muslim dengan akidah yang kokoh? Ataukah yang bermasalah sebetulnya para “elit” agama yang tak mempercayai kualitas iman umat Islam yang sebetulnya tak sekeropos yang mereka kira?

Adian juga menyebut bahwa sejumlah ayat dalam Injil serta dokumen Kristen tentang keselamatan tunggal melalui Yesus. Apakah Adian lupa bahwa dalam Islam juga ada doktrin serupa, bahwa agama satu-satunya yang benar adalah Islam (inna al-dina ‘inda ‘l-Lahi al-Islam)? Jadi di mana letak soalnya? Saat orang Kristen datang ke kantor Muhammdiyah atau PBNU untuk menghadiri acara keagamaan, tidak dengan sendirinya ia meninggalkan doktrin keselamatan tunggal lewat Yesus dan mempercayai “keselamatan” lewat Islam. Dia datang sebagai bagian dari etiket sosial.

Kalau kemudian ia dapat hikmah dari kehadirannya di acara itu, alhamdulillah. Begitu juga sebaliknya, kalau seorang Muslim datang ke acara natalan, dan mendapatkan hikmah dari acara di sana, tentu sangat baik. Bukankah tidak semua hal dalam Kristen salah dalam pandangan Islam? Banyak sekali ajaran kebenaran dalam agama Kristen. Bukankah “al-hikmah dhallat al-mu’min, ainama wajadaha akhadzaha” (kebijaksanaan adalah barang hilang milik seorang beriman; di manapun ia menjumpainya, sudah selayaknya ia memungutnya) ? Jadi apatah yang ditakutkan, wahai Adian?

3.
Mitos ketiga: Adian menyebut bahwa dalam PNB, seorang Muslim hanya menghadiri upacara non-ritual. Menurut Adian, ini adalah mitos. Seorang yang menghadiri natalan sekaligus menghadiri upacara ibadah atau misa. Alasan yang dikemukakan Adian sungguh menarik sekali: bahwa dalam Kristen tak ada beda yang tegas antara aspek ritual dan non-ritual. Definisi ibadah dalam Kristen berbeda-beda dari satu sekte ke sekte yang lain.

Adian bukanlah pakar mengenai agama Kristen. Jadi, apa yang ia katakan mengenai agama Kristen tak perlu didengarkan dengan serius. Kalau kita ingin tahu mengenai agama Kristen dan batas-batas antara aspek-aspek ritual dan non-ritual dalam acara natalan, sebaiknya tanya langsung kepada pakar Kristen. Sementara itu, kita ikuti saja cara berpikir anggota Komisi “Kerukunan” MUI ini.

Adian mengutip pendapat Huston Smith, pakar mengenai perbandingan agama, seperti berikut ini: “Christianity, is basically a historical religion. It is founded not in abstract principles, but in concrete events, actual historical happenings.” Saya tak tahu, apa kaitan antara kutipan ini dengan apa yang sedang ia bicarakan. Kutipan itu menegaskan bahwa Kristen adalah agama yang bersifat historis, bukan agama yang ditegakkan atas prinsip-prinsip abstrak. So? Apa kaitannya? Saya tahu apa yang mau dituju oleh Adian: karena agama Kristen adalah agama historis, maka dia akan menyesuaikan diri dengan perkembangan sejarah; tak mengenal doktrin dan ritual yang tetap, selalu berubah. Kalau benar ini yang dimaksud, saya ragu apakah benar semua hal dalam Kristen berubah terus. Dalam setiap agama, selalu ada aspek yang tetap, permanen, dan ada hal yang bisa diubah. Agama yang baik adalah yang bisa memainkan keseimbangan antara hal-hal yang permanen dan berubah. Tetapi, seberapa jauh
agama mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, atau “aggiornamento” dalam istilah Katolik, sangat menentukan nasib agama itu. Secara umum, makin agama mampu berubah dan menyesuaikan diri, tanpa kehilangan jati diri, makin baik.

Yang menarik adalah Adian mengutip dari Prof. Huston Smith, seorang sarjana yang memiliki simpati luar biasa pada Islam, juga pada agama-agama yang lain. Buku Smith, “The World’s Religion” dipuji di mana-mana sebagai salah satu buku yang membantu kita memahami dengan simpatik agama-agama besar di dunia saat ini. Pendekatan Smith dalam buku itu adalah mencoba mengembangkan simpati pada semua agama, sebab pada intinya semua agama membawa “benih” yang sama, yakni jalan menuju kepada yang transenden. Semangat seperti dikembangkan Smith inilah yang layak dihayati oleh orang-orang yang hendak memupuk kerukunan antaragama.

Betapa jauhnya semangat Prof. Smith ini dengan nada hampir sebagian besar tulisan Adian yang apologetik, curiga pada agama lain, curiga pada wacana pluralisme, dan tak nyaman dengan dialog antaragama.

Yang menarik lagi adalah Adian mengutip tulisan Remi Silado yang mengkritik ritual natalan. Menurut Remi, tradisi Natal merupakan kelanjutan dari tradisi pagan dan istiadat kafir. Kita semua tahu, Remi walau dikenal dengan puisi-puisi mbeling, tetapi dia tetaplah seorang Kristen yang taat. Dia kritis pada tradisi dalam Kristen sendiri, tetapi tak kehilangan komitmen pada agama itu. Kritik atas Natal yang diungkapkan oleh Remi ini sudah diketahui luas oleh kalangan Kristen. Pihak Kristen tidak kalang kabut dengan kritik seperti ini. Betapa bedanya semangat seperti ini dengan semangat tulisan-tulisan Adian yang apologetik dan defensif saat ada orang-orang yang mengkritik tradisi tertentu dalam Islam. Bisakah Adian bersikap seperti Remi Silado yang dikutipnya itu?

4.
Mitos terakhir: dalam perayaan natalan, menurut Adian, terselip misi kristenisasi. Di sini terbuka kedok sesungguhnya yang dikenakan Adian. Dia sama sekali bukanlah orang yang menghayati semangat dialog ataragama dan tugas membangun kerukunan antaragama. Mindset Adian adalah selalu mencurigai agama lain sebagai agama yang akan melakukan ekspansi. Acara natalan dicurigainya sebagai alat untuk kristenisasi. Sebagai bekas pengurus DDII tentu kita tak perlu kaget dengan watak Adian seperti ini. Tetapi, sungguh amat kita sayangkan orang seperti ini diserahi tugas membina kerukunan umat beragama. Kerukunan seperti apa yang akan lahir dari orang seperti ini?

Mendakwahkan agama adalah tugas mulia setiap agama. Umat Islam sudah seharusnya mendakwahkan agamanya. Umat Kristen idem ditto. Begitu pula umat agama-agama lain. Asal dakwah dijalankan dengan beradab dan fair, tentu kita dukung. Dakwah yang menggunakan cara-cara yang curang, tentu kita tentang. Membujuk orang Islam agar masuk Kristen dengan diiming-imingi materi, misalnya, tentu kita tentang. Kalangan Krsiten sendiri mencela cara-cara culas seperti itu.

Tetapi ini semua tentu beda dengan sikap paranoid yang mencurigai setiap kegiatan sosial umat Kristen sebagai alat kristenisasi. Mencurigai acara natalan sebagai sebagai alat kristenisasi tak lain adalah bentuk dari paranoia. Kenapa kita tak bisa menggunakan pendekatan “positive thinking”, bahwa acara natalan, lebaran, mauludan, dan sebagainya, adalah sarana untuk memupuk kerukunan, solidaritas kebangsaan?

Membina kerukunan antaragama membutuhkan positive thinking, bukan negative thinking seperti diperagakan oleh Wakil Ketua Komisi Kerukunan MUI itu.

Wa ‘l-Lahu a’lam bi ‘l-shawab. ~

“Negara tidak tunduk pada fatwa. Negara tunduk pada konstitusi”


Sumber: Kompas Cyber Media, 7 Jan 2008

100-an Orang Berunjuk Rasa Dukung Kebebasan Beragama

 Laporan Wartawan Kompas Dewi Indriastuti

JAKARTA, KOMPAS – Sekitar 100 orang yang mengatasnamakan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), Senin (7/1), berunjuk rasa di depan Gedung Kejaksaan Agung, Jalan Sultan Hasanuddin.
Unjuk rasa diawali dengan menyerahkan buket bunga kepada polisi yang sudah berjaga-jaga di luar pagar Kejagung.
Pengunjuk rasa mengusung poster dan spanduk. Salah satu spanduk bertuliskan “Negara tidak tunduk pada fatwa. Negara tunduk pada konstitusi”.
Dalam siaran pers yang dibagikan kepada wartawan, AKKBB meminta Kejaksaan Agung untuk berpegang teguh pada prinsip penegakan hukum dan tidak mengkriminalkan, membekukan, dan melarang suatu aliran agama/kepercayaan tertentu berdasarkan fatwa MUI. AKKBB juga meminta Kejagung untuk tidak melanggar hak-hak konstitusional warga negara yang berakibat pada merosotnya harkat dan martabat bangsa dalam pergaulan masyarakat internasional.