PERNYATAAN SIKAP: TOLAK AKSI KEKERASAN DI KENDARI


PERNYATAAN SIKAP BERSAMA

Terhadap Aksi Kekerasan dan Premanisme yang Dilakukan
oleh Aparat Kepolisian kepada Gerakan Pro Demokrasi
dan HAM di Kendari – Sultra, 26-27 Maret 2008

Sarekat Hijau Indonesia (SHI), Wahana Lingkungan Hidup
Indonesia (WALHI), Komisi untuk Orang Hilang dan
Korban Tindak Kekerasan (KontraS),
Solidaritas Perempuan (SP), UPLINK, HRWG

Tindakan repressif, kembali diperlihatkan oleh aparat
Kepolisian, didalam menghadapi aksi yang dilakukan
oleh kelompok pro demokrasi di Indonesia. Pada tanggal
27 Maret 2008, aparat kepolisian dari Polresta
Kendari melakukan tindakan brutal kepada mahasiswa,
yang melakukan unjuk rasa mengecam tindakan premanisme
yang dilakukan oleh Walikota Kendari terhadap Pedagang
Kaki Lima, Petani, Nelayan, Buruh, Miskin Kota dan
Aktifis pro Demokrasi dan HAM di Kendari yang
mengakibatkan sedikitnya 8 orang Mahasiswa ditangkap
di Mapolresta Kendari dan 30 orang mengalami luka-luka
dan dibawa ke RS.

Unjuk rasa yang dilakukan oleh mahasiswa di Kendari,
merupakan bentuk solidaritas terhadap terhadap
premanisme yang selalu dijadikan sebagai alat yang
paling ampuh bagi penguasa untuk membungkam suara
kritis yang disampaikan oleh rakyat, khususnya
pedagang kaki lima yang menjadi korban penggusuran
dari kebijakan pemerintah kota Kendari. Premanisme
yang dilakukan oleh Walikota Kendari dan Pemkot
Kendari terhadap Pedagang Kaki Lima, Petani, Nelayan,
Buruh, Miskin Kota dan Aktifis pro Demokrasi dan HAM
di Kendari pada tanggal 26 Maret 2007, mengakibatkan
sedikitnya 3 orang mengalami luka-luka.

Karenanya, kami mengecam tindakan kekerasan dan aksi
brutal yang dilakukan oleh aparat Kepolisian kota
Kendari dengan menembak, melakukan sweeping dan
menangkap mahasiswa, dan kami juga menyesalkan upaya
pembiaran aksi premanisme yang dilakukan oleh
Walikota Kendari terhadap aksi massa yang menentang
penggusuran terhadap pedagang kaki lima satu hari
sebelumnya. Upaya dengan sengaja melakukan pembiaran
terhadap pelanggaran hak asasi manusia (by ommission)
inilah yang kemudian menjadi pemicu dari marahnya
mahasiswa melihat aksi premanisme terus dipertontonkan
oleh pemerintah kota Kendari.

Kami menilai bahwa penanganan repressif terhadap
mahasiswa yang melakukan unjuk rasa, sebagai perbuatan
melawan hukum, penggunaan kekuasaan secara berlebihan
(excessive use of power) dan menciderai upaya
membangun gerakan pro demokrasi dan penegakan hak
asasi manusia di Indonesia sebagaimana yang terdapat
didalam Undang-Undang tentang Hak Asasi Manusia, baik
hak ekonomi, social dan budaya (ekosob), maupun hak
sipil dan politik (sipol).

Kami dari organisasi Pro Demokrasi dan Hak Asasi
Manusia menyatakan sikap sebagai berikut: Pertama,
Menolak praktek penggusuran terhadap masyarakat di
Sulawesi Tenggara dan dimanapun. Kedua, Meminta
Polisi, terutama dari Mabes Polri, segera melakukan
usaha penegakan hukum secara profesional dan tidak
berpihak terutama terhadap para preman dan polisi yang
melakukan penyerangan terhadap peserta Kongres SHI,
mahasiswa serta masyarakat. Selain itu kami meminta
Walikota, yang menggunakan Kekerasan dalam
kepemimpinan daerah, diberhentikan demi kelancaran
proses hukum oleh Kepolisian. Ketiga, kami juga
meminta agar Polisi setempat tetap harus hadir
ditengah masyarakat untuk menjaga keamanan agar
kekerasan tidak meluas dan berulang. Keempat, Kami
meminta Pemerintah Daerah Menanggung biaya semua
korban dan kerugian yang terjadi akibat praktek
kekerasan dalam 3 hari terakhir.

Jakarta, 28 Maret 2008

Kontak : Khalisah Khalid (SHI) 081311187498

Nomor Fax Penting untuk surat protes dan tekanan :
1.Gubernur Sultra Nur Alam, SE: 0401-391603
2.Kapolda Sultra Brigjend Djoko Satrio: 0401-390047
HP: 0811-401975
3.Kapolresta Kendari: 0401-396521
4.Walikota Kendari Ir. Asrun M.Eng: 0401-323593
5.Kapolri : Tlp (021) 7260306 fax (021) 7207277
6.Komnas HAM : Telp (021)3925230 fax (021) 3925227
7.Menkopolkam : telp (021) 3848453 fax (021) 3450918

Kronologi
Penyerangan Terhadap Peserta Deklarasi dan Konferensi
Wilayah
Ormas Sarekat Hijau Indonesia (SHI) Sulawesi Tenggara
di Kota Kendari

Aliansi Rakyat Tolak Penggusuran Kendari

Hari I:
Rabu, 26/3/2008
Jam 09.00-09.45
Sekitar 800 orang massa aksi peserta Deklarasi dan
Konfrensi Wilayah I Sarekat Hijau Indonesia (SHI)
berkumpul di lapangan Eks MTQ Kendari di Jalan
Balaikota (depan kantor Walikota Kendari dan DPRD
Propinsi Sultra). Massa berasal dari berbagai
kabupaten/kota se-Sulawesi Tenggara, di antaranya;
Kota Kendari, Kab. Konawe, Kab. Konawe Selatan, Kab.
Konawe Utara, Kab. Muna, dan Kab. Bombana. Terdiri
dari komunitas dan serikat-serikat rakyat dari elemen
gerakan perempuan, buruh, petani, kaum miskin
perkotaan, pedagang kaki lima (PKL), mahasiswa serta
LSM. Selain itu, undangan Deklarasi dari organisasi
nasional seperti: WALHI, KPA dan Pengurus Pusat SHI
(PP SHI) hadir bergabung dengan massa aksi.

09.45 – 10.00
Panitia memandu jalannya acara Deklarasi dengan
menjelaskan maksud dan tujuan diadakannya kegiatan
Deklarasi Ormas SHI Sultra.

10.00-12.00
Dipandu oleh MC, pimpinan-pimpinan organisasi nasional
menyampaikan orasi dan pesan solidaritas terkait
dengan kegiatan Deklarasi. Orasi pertama disampaikan
oleh Usep Setiawan (Sekjend Konsorsium Pembaruan
Agraria). Orasi kedua oleh Charilsyah (Ketua Majelis
Perwakilan SHI). Selanjutnya, Andreas Iswinarto
(Sekjend Pimpinan Pusat SHI). Dan yang terakhir orasi
politik oleh Chalid Muhammad (Direktur Eksekutif
Nasional WALHI).

12.00-12.05
Panitia menyampaikan kepada massa aksi bahwa kegiatan
Deklarasi akan diakhiri dengan reli menuju kantor
Walikota Kendari. Tujuannya untuk menyampaikan
solidaritas kepada para PKL korban penggusuran oleh
Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari. Sebagai informasi,
sudah sekitar 2 minggu sebelum acara Deklarasi, Komite
Persiapan SHI (KP SHI) Sultra secara rutin menggelar
aksi-aksi massa bersama aliansi PKL dan gerakan
mahasiswa menentang penggusuran PKL di Kota Kendari.
Aksi ditujukan di kantor DPRD Kota Kendari maupun
kantor Walikota. Jarak lokasi dengan kantor Walikota
sekitar 500 meter.

12.05-12.20
Massa bersiap-siap mengatur barisan aksi reli.
Sementara mobil komando dan sound system disiapkan.
12.20-12.25
Massa star dari lokasi Deklarasi menuju jalan raya
Balai Kota.

12.25-12.40
Massa aksi tiba di depan pintu gerbang kantor
Walikota. Terjadi aksi dorong-dorongan dengan aparat
pegawai Pemkot Kendari yang menghalangi massa aksi
masuk ke halaman kantor Walikota. Situasi sedikit
memanas. Korlap aksi menenangkan massa aksi. Terlihat
sekitar 50-an orang kelompok preman yang selama ini
diidentifikasi menjadi massa bayaran oleh Walikota
Kendari untuk menghadapi aksi-aksi PKL bersama
mahasiswa dan gerakan sosial lainnya. Kelompok ini
bergabung menghalang-halangi massa aksi masuk dalam
gedung. Setelah negosiasi, akhirnya massa aksi
dipersilahkan masuk ke halaman kantor Walikota
Kendari.

12.40-12.50
Massa aksi tiba di depan pintu masuk utama kantor
Walikota. Korlap dan Wakorlap aksi menyampaikan orasi
dan pesan solidaritas terkait dengan kebijakan Pemkot
menggusur PKL Kota Kendari (khususnya di wilayah Pasar
Andonohu, Pasar Baru Wua-Wua, Pasar Sentral Kota,
Pasar Baruga, PKL Kadia, serta PKL di emperan-emperan
toko di sepanjang jalan utama kota)

12.50-13.00
Massa aksi meninggalkan halaman kantor Walikota.
Korlap aksi menyampaikan agar massa aksi tetap
berbaris secara damai saat keluar dari halaman kantor.
Massa mengikuti dengan tertib dan damai sembari terus
meneriakkan yel-yel: Rakyat Bersatu Tolak Penggusuran;
Bersama Bersatu Lawan Penindasan; Tanah untuk Rakyat;
Bersatu, Bersarikat, Berlawan Tolak Kekerasan.

13.00-13.15
Massa aksi keluar meninggalkan kantor Walikota dikawal
oleh sekitar 30-an aparat polisi berpakaian dinas
maupun anggota Intelkam Polresta Kendari. Tiba-tiba
salah satu peserta aksi yang berbaris dibagian
belakang, Sdr. Mastri Susilo Direktur Eksekutif LePMIL
Sultra (33) dipukul dan dikeroyok oleh sekitar 5 orang
dari kelompok preman. Selain itu, mereka juga
mengeroyok Sdr. Andreas Iswinarto, Sekjend PP SHI (42)
yang berada di depan Sdr. Mastri Susilo. Andreas
dipukul karena mencoba melerai dan menolong Sdr.
Mastri. Andreas dan Mastri mengalami luka-luka berupa
memar dan lebam dibagian wajah dan tubuh akibat
ditendang dan dipukul. Korban lainnya, Sari (13)
masyarakat petani dari kawasan Taman Hutan Rakyat
(Tahura) Murhum Kota Kendari, luka dibagian kepala
terkena lemparan batu. Akibat lemparan kepala korban
mengalami pendarahan.

13.15-13.35
Melihat Mastri dan Andreas dikeroyok, massa aksi
spontan berbalik arah dan membantu keduanya.
Sementara, sekitar seratusan pegawai dan preman
bayaran berhamburan keluar kantor Walikota. Mereka
membantu menyerang massa aksi dengan melempar batu ke
arah massa aksi. Batu ini diduga telah disiapkan
sebelumnya. Sebab, di lokasi tak ada batu seperti yang
digunakan para penyerang. Lalu para penyerang mengejar
massa aksi dengan menghunus senjata tajam (sajam)
berupa parang dan pisau (badik). Ada sekitar 15 orang
yang terlihat memegang senjata tajam. Karena dilempar
batu dan dikejar dengan menggunakan sajam, massa aksi
berlarian menuju lapangan Eks MTQ. Para penyerang
terus mengejar massa aksi. Peserta aksi yang mayoritas
ibu-ibu dan mahasiswi banyak yang terjatuh dan
terinjak-injak para penyerang. Terdengar tembakan yang
dikeluarkan oleh puluhan anggota polisi di tengah
penyerangan. Korban lainnya, Sdr. Alimuddin Direktur
Eksekutif SWAMI Muna (38) juga dikeroyok oleh sekitar
10 orang penyerang. 1 orang yang teridentifikasi
adalah Kepala Dinas Kebersihan Pemkot Kendari, Sdr.
Agus Salim. Alimuddin dianiaya hingga terjatuh di
aspal. Penyerang terus mengejar massa aksi hingga di
lapangan Eks MTQ.

13.35-14.00
Massa aksi kembali merapikan barisan di lapangan Eks
MTQ. Tim evakuasi aksi membawa para korban yang
dikeroyok maupun yang terinjak-injak ke Rumah Sakit
KOREM Wirabuana Kendari yang berjarak 500 meter dari
lapangan Eks MTQ.

14.00-14.20
Delegasi massa aksi terdiri dari wakil-wakil setiap
organ peserta Deklarasi yang berjumlah 10 orang
kembali mendatangi kantor Walikota untuk memprotes
tindakan kekerasan, serta menanyakan kawan-kawan
peserta aksi yang masih terkurung dalam area kantor
Walikota. Di belakang delegasi, menyusul barisan massa
mahasiswa dari Fakultas Teknik Universitas Haluoleo
(Unhalu) Kendari. Jumlahnya sekitar 50-an orang. Massa
mahasiswa dan delegasi kembali bersitegang dengan
aparat polisi, pegawai Pemkot, dan petugas Polisi
Pamong Praja (Pol PP) Kota Kendari yang menghadang
massa aksi di depan gerbang kantor Walikota. Terjadi
aksi saling dorong antara massa mahasiswa dan aparat
polisi, pegawai Pemkot dan Pol PP. Mahasiswa
menyampaikan protes keras, sebab banyak kawan-kawan
mahasiswa dan peserta Deklarasi yang terkena lemparan
batu dan pukulan hingga masuk Rumah Sakit.

14.20-14.40
Pimpinan-pimpinan massa aksi melakukan konfrensi pers
bersama mengecam keras atas tindakan penyerangan dan
penyerbuan. Selain menyerukan agar supaya massa tetap
solid dan tidak terpengaruh dengan aksi penyerangan.

14.40-15.00
Massa aksi meninggalkan arena Deklarasi. Peserta dari
luar Kota Kendari kembali ke daerah masing-masing.
Sementara sekitar 200 peserta Konfrensi Wilayah I SHI
Sultra menuju arena Konfrensi di Gedung LPMP Kota
Kendari.

22.00-23.00
Hasil rapat bersama elemen-elemen gerakan mahasiswa
Kendari bersepakat untuk menggelar aksi damai pada
hari Kamis (27/3) sebagai bentuk protes atas tindakan
penyerangan.

Hari II:
Kamis, 28/3/2008
09.00-09.30
Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Haluoelo
(Unhalu) berkumpul di Kampus Lama Kemaraya Kendari.
Jumlahnya sekitar 100 orang. Massa menuju lapangan Eks
MTQ Kendari.

09.30-10.00
Sekitar 400-an mahasiswa dari berbagai Fakultas di
Unhalu berkumpul di depan Gerbang Kampus Baru Unhalu
di Jalan HEA. Mokodompit, Kambu Kota Kendari. Mereka
lalu longmarch menuju lapangan Eks MTQ di Jalan
Balaikota. Bergabung dengan massa mahasiswa Fakultas
Teknik.

10.00-10.10
Mahasiwa melakukan diskusi singkat dan pengarahan
terkait rencana strategi aksi.

10.10-10.25
Massa mahasiswa melakukan longmarch menuju kantor
Walikota. Jaraknya sekitar 500 meter dari lapangan Eks
MTQ Kendari.

10.25-10.35
Massa mahasiswa di depan pintu gerbang kantor Walikota
saat hendak masuk. Massa dihalangi oleh aparat polisi
dari Polresta Kendari. Jumlah aparat sekitar 30 orang.
Terlihat sejumlah aparat polisi dari Intelkam Polresta
Kendari. Jumlahnya sekitar 15 orang berada di sekitar
massa mahasiswa.

10.35-10.45
Di depan pintu gerbang terjadi negoisasi antara
pimpinan-pimpinan mahasiswa dengan Kasat Intelkam
Polresta, AKP Bambang. Mahasiswa meminta dipertemukan
untuk dialog dengan Walikota Kendari. Kasat Intelkam
setuju. Massa mahasiswa mempersiapkan diri.

10.45-10.50
Saat massa mahasiswa hendak masuk ke dalam halaman
kantor Waalikota untuk dialog, tiba-tiba ada provokasi
terhadap massa aksi berupa lemparan batu oleh orang
tak kenal kearah aparat polisi yang berjaga di depan
pintu gerbang. Provokasi ini menyebabkan aparat polisi
mulai melakukan pemukulan terhadap massa mahasiswa
yang berada di baris terdepan. Massa mahasiswa mundur
dan bertahan dengan alat-alat perlengkapan aksi yang
dibawa (tiang bendera dan spanduk).

10.50-12.30
Aparat polisi mengejar massa mahasiswa dan terus
memukul dengan menggunakan tongkat. Mahasiswa
berlarian mundur sembari tetap merapikan barisan aksi
di depan kantor Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Sultra
yang berjarak sekitar 350 meter dari pintu gerbang
kantor Walikota. Polisi melepaskan gas air mata serta
tembakan ke udara berkali-kali untuk membubarkan massa
mahasiswa. Polisi terus mengejar massa mahasiswa.
Mahasiswa mundur hingga ke belakang lapangan Eks MTQ.
Beberapa mahasiswa yang berlarian di sekitar kantor
Walikota (terlepas dari massa aksi) dipukuli oleh
pegawai Pemkot Kendari. 7 orang mahasiswa ditangkap
dalam pengejaran ini lalu di tahan di Mapolsekta
Mandonga. Beberapa saat kemudian ketujuh mahasiswa di
pindahkan di Mapolresta Kendari. Kedelapan mahasiswa
tersebut adalah:

1. Aswan (20) Fakultas Hukum angkatan 2007
2. Radjab (23) FISIPOL angkatan 2002
3. Oko (21) Fakultas Teknik angkatan 2007
4. Irwan (23) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
angkatan 2004
5. Larompo Awal (23) FISIPOL angkatan 2004
6. Lafirman (21) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
angkatan 2006
7. Al Abzhar (27) Fakultas Pertanian angkatan 1999
8. Kubais (24) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
angkatan 2001

Rata-rata kedelapan mahasiswa mengalami penganiayaan
saat ditangkap. Pada bagian wajah lebam dan berdarah.
Sementara di bagian dada dan punggung terdapat
bekas-bekas pukulan dan tendangan. Khusus korban Al
Abzhar, mengalami bocor di bagian kepala dan memar di
sekujur tubuh. Dia dirawat di Poliklinik Polresta
Kendari.

12.30-13.00
Massa mahasiswa yang kocar-kacir dikejar aparat polisi
dan pegawai Pemkot lalu naik menumpang truk dan
angkutan umum yang lewat di belakang lapangan Eks MTQ,
Jalan Supu Yusuf. Di kampus mahasiswa melakukan
konsolidasi kembali.

13.00-14.00
Ratusan mahasiswa melakukan orasi-orasi dan
penggalangan solidaritas atas aksi represif aparat
polisi dan pegawai Pemkot Kendari sebelumnya. Aksi
dipusatkan di depan gerbang I Kampus Baru Unhalu.

14.00-14.15
Sebagian massa mahasiswa masuk ke dalam kampus dan
berkumpul di halaman gedung Rektorat yang digunakan
sebagai Posko informasi bersama.

14.15-14.30
Sekitar 20-an anggota Buru Sergap (Buser) Polresta
Kendari masuk ke dalam kampus dan langsung menyerang
mahasiswa yang terkonsentrasi di gedung Rektorat.
Mereka membawa senjata tajam (sajam) berupa parang dan
pisau (badik); benda tumpul linggis dan balok kayu;
serta membawa senjata api (senpi) jenis pistol colt.
Berkali-kali mereka menembak mahasiswa yang membuat
banyak mahasiswa kaget dan berhamburan menyelamatkan
diri. Pasukan BUSER menguasai gedung Rektorat. Saat
kejadian Rektor Unhalu, Prof. Mahmud Hamundu, MSc
tidak berada ditempat.

14.30-16.15
Mahasiswa yang hendak menuju gedung Rektorat yang
umumnya tidak terkait dengan aksi di kantor Walikota,
serta yang mau mengurus kebutuhan akademik dikejar dan
dipukuli oleh BUSER. Banyak yang luka-luka. Melihat
kondisi itu, puluhan mahasiswa berusaha mengambil alih
kembali gedung Rektorat. Terjadi aksi saling melempar
antara BUSER dan mahasiswa. Terdengar berkali-kali
suara tembakan yang dilepaskan ke atas dan kearah
kerumunan mahasiswa. Satu orang mahasiswa dari
Fakultas Ekonomi Unhalu (nama belum diketahui) terkena
tembakan peluru tajam pada bagian paha atas. Korban
dilarikan ke RSUD Propinsi Sultra oleh mahasiswa.
Mengetahui ada mahasiswa tertembak, BUSER meninggalkan
gedung Rektorat menuju pintu I kampus.

16.15-16.45
Mahasiswa berhasil menguasai gedung Rektorat.

16.45-17.40
Datang aparat polisi gabungan dari Satuan Pengendali
Massa (Dalmas); BRIMOB dan BUSER serta Intelkam.
Mereka menggunakan 3 unit truk Dalmas, 2 unit mobil
patroli pickup; 2 unit mobil patroli jenis Kijang; 20
unit motor patroli jenis trail; serta 1 unit mobil
watercanon. Mereka langsung masuk mengepung dan
melakukan teror di dalam kampus. Di dalam kampus,
aparat gabungan ini melakukan tindakan kekerasan
berupa:
1. Memukul siapa saja mahasiswa dan staf Rektorat yang
ditemui berada di sekitar gedung Rektorat.
2. Menghancurkan kaca-kaca di gedung Rektorat
3. Merusak kendaraan motor dan mobil mahasiswa maupun
staf Rektorat yang diparkir di halaman gedung Rektorat
4. Melepaskan tembakan berkali-kali

Tindakan di atas membuat mahasiswa yang berada di
dalam kampus, khususnya yang berada di gedung Rektorat
menjadi panik dan berhamburan menyelamatkan diri.
Setidaknya 30-an mahasiswa mengalami luka serius
(kepala bocor, wajah bengkak dan lebam), serta luka
ringan. Salah satu korban yang mengalami luka serius,
Zuhdi Mulkian Presiden Mahasiswa Unhalu.

Adapun nama-nama korban yang teridentifikasi hingga
hari Jumat (28/3) pukul 03.00 Wita yaitu:
1. Herman (26) Fakulltas Ekonomi angkatan 2000
2. Muhammad Fahri (22) Fakultas Teknik angkatan 2003
3. La Sara La Indi (23) Fakultas Teknik angkatan 2006
4. Wahid (26) Fakultas Ekonomi angkatan 2000
5. Hairil (19) AMIK Yapennas angkatan 2006
6. Ali (19) Fakultas Teknik angkatan 2007
7. M. As’ad (20) Fakultas Teknik angkatan 2007

Dan lain-lain yang masih tersebar di beberapa Rumah
Sakit yang ada di Kota Kendari di antaranya RSUD.
Propinsi SULTRA, RS. Bhayangkara, RS. Korem, dan RS.
Prayoga.

17.40-18.00
Aparat gabungan bergerak meninggalkan kampus. Di depan
kampus mereka melakukan sweeping dan pemukulan pada
siapa saja mahasiswa yang ditemui.

18.00-24.00
Suasana masih sangat mencekam. Aparat melakukan
sweeping dan pencarian terhadap beberapa pimpinan
lembaga kemahasiswaan yang dianggap terlibat aksi di
depan Kantor Walikota pada siang hari tadi (selesai).

Lembaga yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Tolak
Penggusuran Kendari:
WALHI Sultra, FITRA SIJAR Sultra, LEPMIL, HMI
Perjuangan Cab.Kendari, SULUH Indonesia, UPLINK, KPI,
ALPEN, LMND, YPSHK, KBM-UNHALU, KOMDES, SRMK, SHI
SULTRA, JKPPR, FMPR, SUWAKA, Yasinta

Kontak:
1. L.M. Taslim Zuhri : 081398222338; Email:
shisultra@gmail. com
2. Arief Rahman : 0816247756;Email:
sultra@walhi. or.id

SUMBER: Forum Pembaca Kompas 

Iklan

Masjid Roma


Masjid terbesar di Eropa dapat ditemukan di negara Italia, tepatnya di dalam area Pusat Budaya Islam di Roma. Masjid Roma – demikian sebutan yang sering dipakai -terletak sedikit di luar kota, beberapa kilometer dari jantung kota Roma. Pembangunan Masjid Roma yang memakan waktu sekitar 8 tahun itu (1984-1992) terwujud berkat dana yang terkumpul dari beberapa negara yang berbasis Islam, secara khusus Kerajaan Arab Saudi, sebesar 50 juta dollar US. Tiga arsitek besar yang berjasa besar dalam merancang model bangunan megah Masjid Roma adalah Paolo Portoghesi Vittorio Gigliotti, dan Sami Mousawi.

Secara umum, Masjid Roma terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama adalah ruang doa utama segi-emat seluas 40 kali 60 meter persegi, dengan kemampuan menampung sekitar 2.500 orang. Di samping ruang doa utama, ada ruang doa lain yang diperuntukkan bagi kelompok kecil sebanyak 150 orang. Dengan kapasitasnya yang sebesar itu, tidak mengherankan kalau Masjid Roma menyediakan tempat wudhu yang cukup luas, berada di bawah ruang doa utama. Dengan ‘mihrab’ (kiblat ke kota Mekkah) dan ‘minaret’ di sebelah Barat Daya, ruang doa utama dalam Masjid Roma dipayungi oleh kubah berdiameter sekitar 20 meter, dan 16 kubah lebih kecil tersebar di sekeliling kubah besar. Sebagaimana masjid pada umumnya, ruang doa dalam Masjid Roma terbagi menjadi dua, sebagian untuk kaum pria (3/4 area) dan sebagian untuk kaum wanita (1/4 area).

Selanjutnya, bagian kedua dari Masjid Roma dibangun untuk menunjang kegiatan keagamaan lain. Dirancang dalam bentuk huruf H, bagian kedua ini terdiri dari: sebuah perpustakaan besar (4000 meter persegi); satu ruangan kelas untuk pengajaran dan belajar; sebuah ruang konferensi yang berkapasitas 400 orang; dan satu ruangan besar untuk pameran; serta dua apartemen untuk imam yang bertugas dan untuk tamu pengunjung tertentu.

Terbangunnya Masjid Roma tidak bisa dilepaskan dari peran dua pemerintahan yang dikenal memiliki tradisi kuat Katolik, yaitu Italia dan Vatikan. Para pemimpin politik dan agama kedua negara tersebut memiliki harapan bahwa terbangunnya Masjid Roma dapat menjadi jembatan yang membuka ruang dialog, persahabatan, dan perdamaian bagi kedua pemeluk agama terbesar di dunia saat ini, yaitu Katolik dan Islam. Tidaklah mengherankan bahwa ketika ada kegiatan di Masjid Roma yang menyimpang dari harapan tersebut – seperti doa yang pernah dilakukan oleh seorang imam berkebangsaan Mesir, Abdul-Samie Mahmoud Ibrahim Moussa (32 tahun) – tindakan keras pun terpaksa diambil. Pemimpin Masjid Roma yang sekarang, Mario Scialoia, juga tidak menghendaki adanya kegiatan di Masjid Roma yang tidak mendukung terwujudnya dialog dan perdamaian bersama. [I.Ismartono SJ, Crisis Centre KWI]

Sumber: http://www.mirifica.net/artDetail.php?aid=4808

Kronologi Penyerangan Kendari Versi Walhi


Kronologi Penyerangan Kendari Versi Walhi

Jumat, 28 Maret 2008 | 13:32 WIB

Pengirim berita: Syamsudin Haris

KRONOLOGI penyerangan terhadap peserta Deklarasi dan Konferensi Wilayah Ormas Sarekat Hijau Indonesia (SHI) Sulawesi Tenggara di Kota Kendari. Berikut kronologi yang disampaikan Arif Rachman, Direktur Eksekutif Walhi Daerah Sultra.

Hari pertama (Rabu, 26/3/2008/Jam 09.00-09.45)

Sekitar 800 orang massa aksi peserta Deklarasi dan Konfrensi Wilayah I Sarekat Hijau Indonesia (SHI) berkumpul di lapangan Eks MTQ Kendari di Jalan Balaikota (depan kantor Walikota Kendari dan DPRD Propinsi Sultra). Massa berasal dari berbagai kabupaten/kota se-Sulawesi Tenggara, di antaranya: Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Selatan, Kabupaten Konawe Utara, Kabupaten Muna, dan Kabupaten Bombana. Terdiri dari komunitas dan serikat-serikat rakyat dari elemen gerakan perempuan, buruh, petani, kaum miskin perkotaan, pedagang kaki lima (PKL), mahasiswa serta LSM. Selain itu, undangan deklarasi dari organisasi nasional seperti: WALHI, KPA dan Pengurus Pusat SHI (PP SHI) hadir bergabung dengan massa aksi.

09.45 – 10.00
Panitia memandu jalannya acara deklarasi dengan menjelaskan maksud dan tujuan diadakannya kegiatan Deklarasi Ormas SHI Sultra.

10.00-12.00dipandu oleh MC, pimpinan-pimpinan organisasi nasional menyampaikan orasi dan pesan solidaritas terkait dengan kegiatan deklarasi. Orasi pertama disampaikan Usep Setiawan (Sekjend Konsorsium Pembaruan Agraria). Orasi kedua oleh Charilsyah (Ketua Majelis Perwakilan SHI). Selanjutnya, Andreas Iswinarto (Sekjen Pimpinan Pusat SHI). Dan yang terakhir orasi politik oleh Chalid Muhammad (Direktur Eksekutif Nasional WALHI).

12.00-12.05
Panitia menyampaikan kepada massa aksi bahwa kegiatan deklarasi akan diakhiri dengan reli menuju kantor Walikota Kendari. Tujuannya untuk menyampaikan solidaritas kepada para PKL korban penggusuran oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari. Sebagai informasi, sudah sekitar 2 minggu sebelum acara deklarasi, Komite Persiapan SHI (KP SHI) Sultra secara rutin menggelar aksi-aksi massa bersama aliansi PKL dan gerakan mahasiswa menentang penggusuran PKL di Kota Kendari. Aksi ditujukan di kantor DPRD Kota Kendari maupun kantor walikota. Jarak lokasi dengan kantor walikota sekitar 500 meter.

12.05-12.20
Massa bersiap-siap mengatur barisan aksi reli. Sementara mobil komando dan sound system disiapkan.

12.20-12.25
Massa start dari lokasi Deklarasi menuju Jalan Raya Balai Kota.

12.25-12.40
Massa aksi tiba di depan pintu gerbang kantor walikota. Terjadi aksi dorong-dorongan dengan aparat pegawai Pemkot Kendari yang menghalangi massa aksi masuk ke halaman kantor Walikota. Situasi sedikit memanas. Korlap aksi menenangkan massa aksi. Terlihat sekitar 50-an orang kelompok preman yang selama ini diidentifikasi menjadi massa bayaran oleh Walikota Kendari untuk menghadapi aksi-aksi PKL bersama mahasiswa dan gerakan sosial lainnya. Kelompok ini bergabung menghalang-halangi massa aksi masuk dalam gedung. Setelah negosiasi, akhirnya massa aksi dipersilahkan masuk ke halaman kantor Walikota Kendari.

12.40-12.50
Massa aksi tiba di depan pintu masuk utama kantor Walikota. Korlap dan Wakorlap aksi menyampaikan orasi dan pesan solidaritas terkait dengan kebijakan Pemkot menggusur PKL Kota Kendari (khususnya di wilayah Pasar Andonohu, Pasar Baru Wua-Wua, Pasar Sentral Kota, Pasar Baruga, PKL Kadia, serta PKL di emperan-emperan toko di sepanjang jalan utama kota)

12.50-13.00
Massa aksi meninggalkan halaman kantor Walikota. Korlap aksi menyampaikan agar massa aksi tetap berbaris secara damai saat keluar dari halaman kantor. Massa mengikuti dengan tertib dan damai sembari terus meneriakkan yel-yel: Rakyat Bersatu Tolak Penggusuran; Bersama Bersatu Lawan Penindasan; Tanah untuk Rakyat; Bersatu, Bersarikat, Berlawan Tolak Kekerasan.

13.00-13.15
Massa aksi keluar meninggalkan kantor Walikota dikawal oleh sekitar 30-an aparat polisi berpakaian dinas maupun anggota Intelkam Polresta Kendari. Tiba-tiba salah satu peserta aksi yang berbaris dibagian belakang, Sdr.  Mastri Susilo Direktur Eksekutif LePMIL Sultra (33) dipukul dan dikeroyok oleh sekitar 5 orang dari kelompok preman. Selain itu, mereka juga mengeroyok Sdr. Andreas Iswinarto, Sekjend PP SHI (42) yang berada di depan Mastri Susilo. Andreas dipukul karena mencoba melerai dan menolong Mastri. Andreas dan Mastri mengalami luka-luka berupa memar dan lebam dibagian wajah dan tubuh akibat ditendang dan dipukul. Korban lainnya, Sari (13) masyarakat petani dari kawasan Taman Hutan Rakyat (Tahura) Murhum Kota Kendari, luka dibagian kepala terkena lemparan batu.  Akibat lemparan kepala korban mengalami pendarahan.

13.15-13.35
Melihat Mastri dan Andreas dikeroyok, massa aksi spontan berbalik arah dan membantu keduanya. Sementara, sekitar seratusan pegawai dan preman bayaran berhamburan keluar kantor Walikota. Mereka membantu menyerang massa aksi dengan melempar batu ke arah massa aksi. Batu ini diduga telah disiapkan sebelumnya. Sebab, di lokasi tak ada batu seperti yang digunakan para penyerang. Lalu para penyerang mengejar massa aksi dengan menghunus senjata tajam (sajam) berupa parang dan pisau (badik). Ada sekitar 15 orang yang terlihat memegang senjata tajam. Karena dilempar batu dan dikejar dengan menggunakan sajam, massa aksi berlarian menuju lapangan Eks MTQ. Para penyerang terus mengejar massa aksi. Peserta aksi yang mayoritas ibu-ibu dan mahasiswi banyak yang terjatuh dan terinjak-injak para penyerang. Terdengar tembakan yang dikeluarkan oleh puluhan anggota polisi di tengah penyerangan. Korban lainnya, Alimuddin Direktur Eksekutif SWAMI Muna (38) juga dikeroyok oleh sekitar 10 orang penyerang. 1 orang yang teridentifikasi adalah Kepala Dinas Kebersihan Pemkot Kendari, Agus Salim. Alimuddin dianiaya hingga terjatuh di aspal. Penyerang terus mengejar massa aksi hingga di lapangan Eks MTQ.

13.35-14.00
Massa aksi kembali merapikan barisan di lapangan Eks MTQ. Tim evakuasi aksi membawa para korban yang dikeroyok maupun yang terinjak-injak ke Rumah Sakit KOREM Wirabuana Kendari yang berjarak 500 meter dari lapangan Eks MTQ.

14.00-14.20
Delegasi massa aksi terdiri dari wakil-wakil setiap organ peserta Deklarasi yang berjumlah 10 orang kembali mendatangi kantor Walikota untuk memprotes tindakan kekerasan, serta menanyakan kawan-kawan peserta aksi yang masih terkurung dalam area kantor Walikota. Di belakang delegasi, menyusul barisan massa mahasiswa dari Fakultas Teknik Universitas Haluoleo (Unhalu) Kendari. Jumlahnya sekitar 50-an orang. Massa mahasiswa dan delegasi kembali bersitegang dengan aparat polisi, pegawai Pemkot, dan petugas Polisi Pamong Praja (Pol PP) Kota Kendari yang menghadang massa aksi di depan gerbang kantor Walikota. Terjadi aksi saling dorong antara massa mahasiswa dan aparat polisi, pegawai Pemkot dan Pol PP. Mahasiswa menyampaikan protes keras, sebab banyak kawan-kawan mahasiswa dan peserta Deklarasi yang terkena lemparan batu dan pukulan hingga masuk Rumah Sakit.

14.20-14.40
Pimpinan-pimpinan massa aksi melakukan konfrensi pers bersama mengecam keras atas tindakan penyerangan dan penyerbuan. Selain menyerukan agar supaya massa tetap solid dan tidak terpengaruh dengan aksi penyerangan.

14.40-15.00
Massa aksi meninggalkan arena Deklarasi. Peserta dari luar Kota Kendari kembali ke daerah masing-masing. Sementara sekitar 200 peserta Konfrensi Wilayah I SHI Sultra menuju arena Konfrensi di Gedung LPMP Kota Kendari.

22.00-23.00
Hasil rapat bersama elemen-elemen gerakan mahasiswa Kendari bersepakat untuk menggelar aksi damai pada hari Kamis (27/3) sebagai bentuk protes atas tindakan penyerangan.

Hari kedua (Kamis, 28/3/2008/jam 09.00-09.30)

Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Haluoelo (Unhalu) berkumpul di Kampus Lama Kemaraya Kendari. Jumlahnya sekitar 100 orang. Massa menuju lapangan Eks MTQ Kendari.

09.30-10.00
Sekitar 400-an mahasiswa dari berbagai Fakultas di Unhalu berkumpul di depan Gerbang Kampus Baru Unhalu di Jalan HEA. Mokodompit, Kambu Kota Kendari. Mereka lalu longmarch menuju lapangan Eks MTQ di Jalan Balaikota. Bergabung dengan massa mahasiswa Fakultas Teknik.

10.00-10.10
Mahasiwa melakukan diskusi singkat dan pengarahan terkait rencana strategi aksi.

10.10-10.25
Massa mahasiswa melakukan longmarch menuju kantor Walikota. Jaraknya sekitar 500 meter dari lapangan Eks MTQ Kendari.

10.25-10.35
Massa mahasiswa di depan pintu gerbang kantor Walikota saat hendak masuk. Massa dihalangi oleh aparat polisi dari Polresta Kendari. Jumlah aparat sekitar 30 orang. Terlihat sejumlah aparat polisi dari Intelkam Polresta Kendari. Jumlahnya sekitar 15 orang berada di sekitar massa mahasiswa.

10.35-10.45
Di depan pintu gerbang terjadi negoisasi antara pimpinan-pimpinan mahasiswa dengan Kasat Intelkam Polresta, AKP Bambang. Mahasiswa meminta dipertemukan untuk dialog dengan Walikota Kendari. Kasat Intelkam setuju. Massa mahasiswa mempersiapkan diri.

10.45-10.50
Saat massa mahasiswa hendak masuk ke dalam halaman kantor Waalikota untuk dialog, tiba-tiba ada provokasi terhadap massa aksi berupa lemparan batu oleh orang tak kenal kearah aparat polisi yang berjaga di depan pintu gerbang. Provokasi ini menyebabkan aparat polisi mulai melakukan pemukulan terhadap massa mahasiswa yang berada di baris terdepan. Massa mahasiswa mundur dan bertahan dengan alat-alat perlengkapan aksi yang dibawa (tiang bendera dan spanduk).

10.50-12.30
Aparat polisi mengejar massa mahasiswa dan terus memukul dengan menggunakan tongkat. Mahasiswa berlarian mundur sembari tetap merapikan barisan aksi di depan kantor Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Sultra yang berjarak sekitar 350 meter dari pintu gerbang kantor Walikota. Polisi melepaskan gas air mata serta tembakan ke udara berkali-kali untuk membubarkan massa mahasiswa. Polisi terus mengejar massa mahasiswa. Mahasiswa mundur hingga ke belakang lapangan Eks MTQ. Beberapa mahasiswa yang berlarian di sekitar kantor Walikota (terlepas dari massa aksi) dipukuli oleh pegawai Pemkot Kendari. 7 orang mahasiswa ditangkap dalam pengejaran ini lalu di tahan di Mapolsekta Mandonga. Beberapa saat kemudian ketujuh mahasiswa di pindahkan di Mapolresta Kendari.

Kedelapan mahasiswa tersebut adalah:
1. Aswan (20) Fakultas Hukum angkatan 2007
2. Radjab (23) FISIPOL angkatan 2002
3. Oko (21) Fakultas Teknik angkatan 2007
4. Irwan (23) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan angkatan 2004
5. Larompo Awal (23) FISIPOL angkatan 2004
6. Lafirman (21) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan angkatan 2006
7. Al Abzhar (27) Fakultas Pertanian angkatan 1999
8. Kubais (24) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan angkatan 2001

Rata-rata kedelapan mahasiswa mengalami penganiayaan saat ditangkap. Pada bagian wajah lebam dan berdarah. Sementara di bagian dada dan punggung terdapat bekas-bekas pukulan dan tendangan. Khusus korban Al Abzhar, mengalami bocor di bagian kepala dan memar di sekujur tubuh. Dia dirawat di Poliklinik Polresta Kendari.

12.30-13.00
Massa mahasiswa yang kocar-kacir dikejar aparat polisi dan pegawai Pemkot lalu naik menumpang truk dan angkutan umum yang lewat di belakang lapangan Eks MTQ, Jalan Supu Yusuf. Di kampus mahasiswa melakukan konsolidasi kembali.

13.00-14.00
Ratusan mahasiswa melakukan orasi-orasi dan penggalangan solidaritas atas aksi represif aparat polisi dan pegawai Pemkot Kendari sebelumnya. Aksi dipusatkan di depan gerbang I Kampus Baru Unhalu.

14.00-14.15
Sebagian massa mahasiswa masuk ke dalam kampus dan berkumpul di halaman gedung Rektorat yang digunakan sebagai Posko informasi bersama.

14.15-14.30
Sekitar 20-an anggota Buru Sergap (Buser) Polresta Kendari masuk ke dalam kampus dan langsung menyerang mahasiswa yang terkonsentrasi di gedung Rektorat. Mereka membawa senjata tajam (sajam) berupa parang dan pisau (badik); benda tumpul linggis dan balok kayu; serta membawa senjata api (senpi) jenis pistol colt. Berkali-kali mereka menembak mahasiswa yang membuat banyak mahasiswa kaget dan berhamburan menyelamatkan diri. Pasukan BUSER menguasai gedung Rektorat. Saat kejadian Rektor Unhalu, Prof. Mahmud Hamundu, MSc tidak berada ditempat.

14.30-16.15
Mahasiswa yang hendak menuju gedung Rektorat yang umumnya tidak terkait dengan aksi di kantor Walikota, serta yang mau mengurus kebutuhan akademik dikejar dan dipukuli oleh BUSER. Banyak yang luka-luka. Melihat kondisi itu, puluhan mahasiswa berusaha mengambil alih kembali gedung Rektorat. Terjadi aksi saling melempar antara BUSER dan mahasiswa. Terdengar berkali-kali suara tembakan yang dilepaskan ke atas dan kearah kerumunan mahasiswa. Satu orang mahasiswa dari Fakultas Ekonomi Unhalu (nama belum diketahui) terkena tembakan peluru tajam pada bagian paha atas. Korban dilarikan ke RSUD Propinsi Sultra oleh mahasiswa. Mengetahui ada mahasiswa tertembak, BUSER meninggalkan gedung Rektorat menuju pintu I kampus.

16.15-16.45
Mahasiswa berhasil menguasai gedung Rektorat.

16.45-17.40
Datang aparat polisi gabungan dari Satuan Pengendali Massa (Dalmas); Brimob dan Buser serta Intelkam. Mereka menggunakan 3 unit truk Dalmas, 2 unit mobil patroli pickup; 2 unit mobil patroli jenis Kijang; 20 unit motor patroli jenis trail; serta 1 unit mobil watercanon. Mereka langsung masuk mengepung dan melakukan teror di dalam kampus. Di dalam kampus, aparat gabungan ini melakukan tindakan kekerasan berupa:
1. Memukul siapa saja mahasiswa dan staf Rektorat yang ditemui berada di sekitar gedung rektorat.
2. Menghancurkan kaca-kaca di gedung Rektorat
3. Merusak kendaraan motor dan mobil mahasiswa maupun staf Rektorat yang diparkir di halaman gedung Rektorat
4. Melepaskan tembakan berkali-kali

Tindakan di atas membuat mahasiswa yang berada di dalam kampus, khususnya yang berada di gedung Rektorat menjadi panik dan berhamburan menyelamatkan diri. Setidaknya 30-an mahasiswa mengalami luka serius (kepala bocor, wajah bengkak dan lebam), serta luka ringan. Salah satu korban yang mengalami luka serius, Zuhdi Mulkian Presiden Mahasiswa Unhalu.

Adapun nama-nama korban yang teridentifikasi hingga hari Jumat (28/3) pukul 03.00 Wita yaitu:
1. Herman (26) Fakulltas Ekonomi angkatan 2000
2. Muhammad Fahri (22) Fakultas Teknik angkatan 2003
3. La Sara La Indi (23) Fakultas Teknik angkatan 2006
4. Wahid (26) Fakultas Ekonomi angkatan 2000
5. Hairil (19) AMIK Yapennas angkatan 2006
6. Ali (19) Fakultas Teknik angkatan 2007
7. M As’ad (20) Fakultas Teknik angkatan 2007

Dan lain-lain yang masih tersebar di beberapa Rumah Sakit yang ada di Kota Kendari di antaranya RSUD. Propinsi SULTRA, RS. Bhayangkara, RS. Korem, dan RS. Prayoga.

17.40-18.00
Aparat gabungan bergerak meninggalkan kampus. Di depan kampus mereka melakukan sweeping dan pemukulan pada siapa saja mahasiswa yang ditemui.

18.00-24.00
Suasana masih sangat mencekam. Aparat melakukan sweeping dan pencarian terhadap beberapa pimpinan lembaga kemahasiswaan yang dianggap terlibat aksi di depan Kantor Walikota pada siang hari tadi. (persda network/amb)

Paskah di Gereja Yohanes Baptista Bubar


Paskah di Gereja Yohanes Baptista Bubar

Sabtu, 22 Mar 2008  19:40 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Ketua Lingkungan Paroki Yohanes Baptista Emil Kleden menyatakan, Perayaan Paskan di Gereja Katholik Paroki Yohanes Baptista, Parung, Kabupaten Bogor dibubarkan oleh sekelompok orang yang mengaku dari organisasi ulama, Sabtu (22/3) pukul 12.30 WIB.

“Padahal kami sudah mendapatkan ijin (lisan) dari kecamatan,” kata Emil kepada Tempo Sabtu sore. Jemaat yang berjumlah sekitar 200-an orang sempat berhadapan dengan massa, namun pemimpin gereja mengingatkan agar menghindari kekerasan. Jemaat kemudian mengalah, membubarkan ibadah dan membongkar tenda.

Menurut Emil, ibadah itu baru pertama kali diadakan karena sebelumnya menggunakan tempat pribadi di Lebak Wangi selama 9 tahun. Kemudian gereja mendapatkan tempat yang baru, tetapi ijin mendirikan bangunan belum keluar, padahal sudah diurus sejak 6 tahun yang lalu.

Karena belum ada bangunan, gereja mendirikan tenda-tenda untuk digunakan sebagai tempat ibadah. Karena belum ada ijin, gereja baru mendirikan kapel diatas tanah 6000 meter itu.

Ibadah perayaan Paskah ini sudah berlangsung sejak hari minggu yang lalu, dan sudah mendapatkan ijin secara lisan dari kecamatan. Selama ibadah juga diberikan pengamanan dari polisian dan TNI. Emil mengakui, selama ini penduduk sekitar belum seluruhnya memberikan ijin, tetapi tidak ada yang protes.

Aqida Swamurti

Komunitas Umat Beragama Indonesia Menolak Film Belanda


Sunday, Mar. 16, 2008 Posted: 12:49:34AM PST

Beberapa tokoh yang tergabung dalam Komunitas Umat Beragama Indonesia di Jakarta, menolak rencana pemutaran film “Fitna” yang dibuat oleh anggota Parlemen Belanda, Geert Wilders, yang isinya dianggap mendeskreditkan ajaran Islam.

Penolakan tersebut dituangkan dalam pernyataan bersama yang ditandatangani Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Hasyim Muzadi, Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Din Syamsudin, Ketua Konferensi Wali-gereja Indonesia (KWI), Mgr. M.D. Situmorang, dan Ketua Umum Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), Pdt. A.A. Yewangoe, Antara memberitakan.

Mereka menyatakan, pemutaran film itu pastinya akan sangat menyakitkan perasaan umat Islam dan dapat menciptakan ketegangan baru bagi peradaban dunia, termasuk di antara para pemeluk agama.

“Dengan pertimbangan ini kami berharap Pemerintah Kerajaan Belanda dapat berusaha secara maksimal untuk mencegah pemutaran film dan penyebarannya,” kata Situmorang.

Mereka juga meminta Pemerintah Indonesia mengambil sikap tegas dalam mencegah penyebaran film tersebut di Tanah Air.

Menurut Hasyim Muzadi, jika film karya anggota Partai Kebebasan Belanda yang seorang atheis itu jadi disebarkan, maka pasti akan menimbulkan kericuhan di antara umat beragama,.

“Khusus untuk Indonesia yang kita khawatirkan apabila itu terjadi adalah kalangan Muslim salah paham, dikira itu serangan lain pada Islam,” katanya.

Sedangkan Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan KWI, Romo Benny Susetyo, menyatakan dampak film “Fitna” akan jauh lebih berat dari kasus karikatur Nabi Muhammad di Denmark.

Menurutnya, ketegangan dunia Islam dengan Barat kini mulai mencair, dan keberadaan film “Fitna” bisa menumbuhkan ketegangan baru yang tentunya akan menguras energi.”Karena itu, Pemerintah Belanda harus tegas demi perdamaian dunia,” katanya.

Steven Pramono
Reporter Kristiani Pos

Workshop FKUB Digelar, Cari Nilai Kerukunan Beragama


Thursday, Feb. 28, 2008 Posted: 6:24:06AM PST

Peran serta Departemen Agama dalam memantapkan nilai kerukunan umat beragama, sekaligus untuk mencari bentuk dan performa yang tepat dalam menjaga dan melestarikan kerukunan beragama, sejak tanggal 25-29 Februari digelar Workshop Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

Pertemuan tersebut diikuti 66 peserta dari 33 propinsi yang ada di Indonesia yang merupakan perutusan dari masing-masing Kepala Tata Usaha (KTU) dan Kasubag Humas.

Humas Depag Sulut, Pdt John Tilaar selaku wakil dari Sulut, Selasa lalu menjelaskan, maksud dan tujuan workshop adalah, peran serta Departemen Agama RI dalam memantapkan nilai kerukunan di republik tercinta ini, sekaligus untuk mencari bentuk dan performa yang tepat, dalam menjaga dan melestarikan kerukunan di Indonesia.

“Ada pun workshop dan rapat konsultasi mengusung tema optimalkan program kerukunan umat beragama,” katanya sembari menambahkan, kegiatan ini dibuka langsung Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Depag RI, Abdul Fatah.

Fatah mengatakan, keberadaan FKUB di setiap propinsi dan kabupaten/kota sangat penting. “Lembaga ini merupakan cerminan umat beragama yang ada dalam menciptakan keharmonisan kerukunan yang damai. Karena itu, sangat diharapkan daerah yang belum terbentuk FKUB untuk sesegera mungkin membentuknya.

Maria F.
Reporter Kristiani Pos

Misa Dan Pengajian Mengawali Ritual Desa


 
14 Maret 2008 17:54  
SLEMAN, DIY (UCAN) — Tahun ini, perayaan syukur tahunan di sebuah desa di Yogyakarta, yang biasanya berisi prosesi tradisional dan kerja bakti, dimulai dengan pengajian dan Misa.Sekitar 700 umat Katolik yang tinggal di Desa Girikerto berkumpul untuk Misa yang diadakan 23 Februari  di  balai desa sebagai bagian dari merti bumi, sebuah perayaan syukur atas berkah yang diberikan  oleh  alam.
Pastor Yoseph Suyatno Hadiatmaja, yang memakai pakaian adat Jawa, mengawali liturgi dengan mengajak warga desa beragama Katolik tersebut untuk bersyukur kepada Tuhan atas udara yang bersih, pepohonan yang hijau, dan air yang berlimpah di lingkungan mereka.
“Kehadiran Anda pada Misa ini menandakan bahwa Anda semua menyadari betul bahwa Anda adalah seratus persen warga Gereja dan seratus persen warga masyarakat,” kata Pastor Hadiatmaja kepada warga desa itu. Imam yang memimpin Paroki St. Yohanes Rasul di Kabupaten Sleman, yang melayani Girikerto, itu juga mendorong umat Katolik untuk berinteraksi dengan warga beragama lain.Umat Katolik, sekitar 7.000 Muslim, dan sedikit penganut aliran kepercayaan Jawa tinggal di 13 dusun di desa yang terletak di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut.
Kepala Desa Girikerto, Soeharto, seorang Muslim, berbicara dari mimbar sebelum Misa berakhir. Ia mengingatkan warga desa beragama Katolik bahwa mereka memiliki peran dalam pelestarian tradisi desa seperti merti bumi.
“Agama kita boleh berbeda, tapi peran kita dalam pelestarian tradisi kita adalah sama. Budaya Jawa yang merupakan warisan leluhur kita mengajarkan kita untuk memiliki tata krama,” tegas Soeharto.
Dua imam lain turut memimpin Misa itu — Pastor Andreas Wiratno dan Pastor Heribertus Brotosudarmo, masing-masing adalah pastor pembantu paroki dan imam Yesuit setempat yang berkarya di Kamboja.
Dua hari sebelumnya, lebih dari 1.000 warga desa beragama Islam berkumpul selama satu jam di balai desa untuk kegiatan pengajian. Baik Misa maupun pengajian itu merupakan bagian dari perayaan ritual merti bumi, kata Sudibyo, panitia ritual syukur itu. “Acara ini bertujuan untuk mendoakan desa ini,” kata warga Muslim itu kepada UCA News seusai Misa.
Ia menjelaskan bahwa umat Katolik dan Muslim bekerja sama dalam mempersiapkan dan menyelenggarakan kedua kegiatan itu. “Umat Islam ikut membantu menghiasi tempat (Misa), mempersiapkan sound system, dan menjadi petugas parkir. Umat Katolik melakukan hal yang sama ketika umat Islam mengadakan pengajian.”
Kedua kegiatan tersebut mengawali serangkaian kegiatan merti bumi, yang berpuncak pada minggu terakhir Sapar, bulan kedua dalam kalender Jawa.
Panitia mengadakan sebuah pameran produksi pertanian seperti beras dan salak pondoh sejak 21 Februari hingga 2 Maret di lapangan di depan balai desa. Pada 27 Februari, sekitar 400 warga desa berkumpul di balai desa untuk mengikuti dialog tiga jam yang menekankan persaudaraan sejati.Pada 2 Maret pagi, warga desa menanam 1.300 anakan mahoni dan pinus di sepanjang jalan desa. Kegiatan ini dilanjutkan dengan prosesi tirta panguripan (air kehidupan) di mana 13 pasang muda-mudi, yang mewakili 13 dusun, berjalan dari balai desa menuju sebuah mata air yang berjarak sekitar dua kilometer. Setelah mengambil air dari mata air tersebut, mereka menaruhnya di 13 kendi yang diletakkan di balai desa.
Dari sana, 13 mobil pickup yang masing-masing membawa sebuah gunungan (persembahan berbentuk kerucut yang berisi buah-buahan dan sayur-mayur) mengambil kendi-kendi itu dari balai desa dan melakukan prosesi sejauh 20 kilometer mengelilingi desa. Merti bumi berakhir dengan masing-masing mobil pickup membawa gunungan dan kendi berisi air ke setiap dusun.
Robertus Tukidjo, 58, mengakui bahwa umat Katolik berperan penting dalam ritual syukur itu. “Mereka menyumbangkan tenaga dan kemampuan mereka untuk ritual ini,” katanya kepada UCA News, 2 Maret.
Mauritius Murwanto, 40, warga desa beragama Katolik, sependapat. “Kami sebagai kelompok minoritas merasa bangga karena kami tidak merasa dikucilkan,” katanya.
(Sumber: Mirifica.net) ***