M. FADJROEL RACHMAN: JIWA INDONESIA MUDA YANG MERDEKA


Risalah Dukungan Politik Kebudayaan

M. FADJROEL RACHMAN
JIWA DARI KEHENDAK UNTUK HIDUP MERDEKA, DARI SEBUAH INDONESIA MUDA YANG MERDEKA

Nama M. Fadjroel Rachman menyeruak ke dalam ingatan saya, saat suatu malam yang larut, saya dengan Sutardji Calzoum Bachri masih duduk-duduk di warung Alek Tim – tempat nongkrongnya para seniman itu. Fadjroel mampir bersama Tommy F Awuy, budayawan yang kini membuka warung lukisan di Kemang.

Mereka mampir ke meja kami.

Dari habis nonton, kata Fadjroel sambil senyum.
Jadi inilah orang yang pernah ditangkap itu. Saya masih belum tahu kalau dia sudah membuat buku puisi – sebuah buku puisi yang sangat kuat menyerukan kemanusiaan dari sudut bukan hanya bahasa puisi yang berindah, tapi luput dari kenyataan hidup. Tapi ini sebuah buku puisi dari kehidupan yang keras – sebuah dunia politik Orde Baru yang telah ramai membentuk “piramida kurban manusia”.

Entah mengapa saya langsung terkenang Sukarno – tokoh yang saya kagumi, sebagai pribadi yang memiliki banyak sisi. Sukarno pun suka film, kata saya. Suka lukisan dan bahkan, konon, demikian kawan saya pernah mengatakan, pernah pula membuat cerita-cerita pendek.

Jadi seniman.

Waktu Sukarno dibuang ke Bengkulu, tokoh besar ini pernah pula membuat naskah sandiwara.

Jadi seniman.
Jadi inspiratif.

Jadi begitulah orang keras kepala itu membuat Indonesia Menggugat dan menggerakkan sebuah teks besar ke dalam laku bangsa: Revolusi Inonesia yang telah mengguncangkan dunia.

Jadi sebuah perubahan, atau angan-angan akan perubahan, datang dari sebuah kemampuan imajinatif, yang terberi dari rahim mereka yang berjiwa seni – sebuah rahim yang dimasak oleh kehidupan – dimatangkan oleh kawah kehidupan politik kebangsaan yang keras.

Imajinasi, berpikir imajinatif, seperti yang saya lihat dalam diri tokoh pemberontak abadi semacam Che (Rimbaud itu Che-nya sastra, begitu SMS Fadjroel kepada saya, saat saya ingatkan dia itu “Rimbaud”-nya politik), atau penyair yang menjadi presiden di Eropa Timur itu, atau ya, seperti Sukarno itu sendiri. Mereka yang mampu mewujudkan pemikiran imajinatif – sesuatu yang masih in absentia. Belum hadir. Tapi dalam bayangan imajinasinya, seperti telah tergenggam tangan. Sudah milik kita saat ini dan sekarang ini.

Maka kemerdekaan itu, janganlah ditunda lagi.

Dan imajinasi semacam itulah, saya lihat dalam diri seorang Fajdroel Rachman.

Tetapi imajinasi bisa dipatahkan oleh sebuah kehidupan politik yang keras, dan makin mengeras, saat imajinasi dari anak-anak muda yang dicoba ke dalam aksi-aksi mahasiswa yang radikal, pada zaman Orde Baru itu.
Lalu apakah hasilnya? Anak-anak muda itu ditangkapi dan dijebloskan ke dalam penjara.

Dari tempat saya berdiri, dunia sastra, saya mengamati lalu-lintas tokoh-tokoh di Indonesia. Menilainya dengan sebuah perbandingan, dan bahkan banyak perbandingan. Dari sejarah masa lalu maupun sejarah yang dekat-dekat di seputar kita.

Saya mencari buku puisinya Fadjroel, Catatan Bawah Tanah, yang langsung pula mengingatkan saya dengan Catatan Subersiv Mochtar Lubis, atau kisah-kisah pembangkangan yang kerap lahir di bawah rejim bengis di Uni Soviet itu. Juga di Cina.

Semua catatan-catatan itu mengandung dan memendam sama. Sama-sama merindukan kemanusiaan yang lebih baik, lebih cerah dan lebih bijak menangani apa yang disebut dengan paradoks dunia modern – rentang antara kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi, saat berada di tangan orang-orang politik dalam praktek, dalam hidup nyata, yang telah melahirkan kisah-kisah memilukan dari orang-orang yang kalah, atau dikalahkan.

Kekuasaan boleh mematahkan, atau mengalahkan, gerak dan gerik, atau percoban perlawanan. Tapi kekuasaan tidak bisa mematahkan, atau mengambil jiwa, dari kehendak untuk hidup merdeka.

Jiwa dan kehendak untuk hidup merdeka itu, terbaca dengan sejelas-jelasnya dari Catatan Bawah Tanah Muhammad Fajdoel Rachman. Yang telah dipotret dengan bagusnya oleh aktivis hukum Todung Mulya Lubis yang juga penyair. Barangkali karena sesama penyair, maka potret Mulya Lubis terhadap Fadjroel bagi saya, sama kuatnya dengan puisi yang telah dilahirkan oleh rahim Fadjroel Rahcman itu sendiri.

Dengarlah kata-kata penuh retorik perlawanan dari Mulya Lubis, dalam buku Fadjroel Catatan Bawah Tanah itu.

“Apakah yang dapat ditulis tentang seorang anak muda yang tengah mendekam dalam penjara selain rasa iba? Bayangkan, dalam usianya yang produktif, tak bisa bergerak selain dari satu sel ke sel lain, dari kamar mandi ke wc, dari dapur ke mushola. Tetapi rasa iba akan ditolak oleh anak muda ini karena di dalam penjara ini ia lebih arif dan menemukan darah kepenyairannya dan watak dirinya. Dengan getir ia mengungkapkan dirinya…”

Dan memang Fadjroel di dalam penjara itu bukan menghiba-hibakan dirinya, tapi menemukan bentuk pemberontakan dirinya ke dalam kata-kata. Ke dalam puisi. Yang jiwa kata dan pusinya, adalah jiwa kata dan puisi dari hidup yang dirasakan oleh banyak orang. Mereka yang kalah dan dikalahkan oleh sejarah sebuah orde. Sebuah tata yang membenamkan siapa saja yang hendak berbeda. Yang menyemaikan diri ke dalam apa yang disebut sebagai kemiskinan, sebagai mereka orang-orang kalah di kota besar, di desa-desa, yang oleh konstitusi diwakilkan melalui bahasa “bumi dan alam milik rakyat tercinta, dikuasai oleh negara untuk sebesarnya bagi kemakmuran bersama”.

Tetapi negara telah mengambil semuanya. Meratakan semuanya mereka yang ingin melawannya.

Maka berteriaklah Fadjroel di jalanan dan di dalam penjara, menyuarakan pemberontakannya, dan kita mendengar sebuah suara dari mulut anak muda yang rindu akan kebenaran, dari hidup yang selalu mengelak untuk menjadi benar.

Apa kabar ikan asin, sayur kangkung dan segelas
teh pahit di cangkir berkarat?
Apakah sebenarnya yang mengikat engkau dan
aku?
Kesetiaan, cita-cita atau sekedar lapar dan
kebahagiaan kecil?

Kita melihat seorang Fadjroel sedang memandangi nasib dirinya. Ah, tidak, nasib bangsanya.

Kita melihat seorang Fadjroel sedang memandangi nasib bangsanya.
Dan nasib bangsa itu dipotretnya dalam sebuah sejarah yang merentang jauh. Dalam sebuah puisinya bertajuk Sketsa Penjara XXII, ia menalikan juga perjuangan batinnya ke dalam gerbong sejarah itu – Sukarno, narapidana blok timur atas nomor 01

Pandangilah, namun jangan menitikkan airmata
Di luar jendela-jeruji selmu, di luar jendela-jeruji
selku.
Serdadu-serdadu berbaris dalam
mimpi bayi-bayi dan anak-anak bangsamu
Serdadu-serdadu berbaris mencincang akal
budi bayi-bayi dan anak-anak bangsamu;
Langit, bebatuan, rerumputan dan udara yang
kita hisap mengucurkan darah
menenggelamkan segala impian manusia

Kini orang ramai berupaya, kini orang ramai hendak merayakan perubahan atas negeri sendiri. Orang-orang tak lagi hendak menjadi budak dalam belenggu oleh bangsa sendiri.

Saya teringat suatu malam, saat saya dan Fadjroel hendak menghadang sebuah belenggu atas nama pemikiran tertantu dalam bidang budaya (ah, budaya! bukankah engkau juga akan bergesek-gesekan dengan segala denyut dari debu hidup, hidup yang nyata!), saya merancang sebuah memo dan Fadjroel secepat kilat mengirimkan kabar: brengkets, kirimlah ke seluruh dunia!

Itulah dunia memo. Dunia catatan. Dunia ingatan. Dunia Memo Indonesia. Dari sebentuk kehendak untuk bebas, menyongsong Indonesia Muda yang baru, bebas dari belenggu penjajahan pemikiran dari arah-arah manapun.

Tapi itulah juga pribadi dari M. Fajdroel Rachman, rajawali politik yang mengepakkan sayapnya sendiri, dalam asap gelap perpolitikkan Indonesia, dan politik dunia juga.

Sebuah napas segar telah ditiupkan ke paru-paru anak negeri sendiri. Dari seorang yang tidak kehilangan rasa humor meskipun saat-saat kelam sedang mendera hidupnya, seperti terbaca dalam puisi Sketsa Penjara II ini – doa manis buat Tuhan.

Dari ujung sel kudengar lagu dangdut merintih-
rintih tentang penderitaan hidup, lalu
kudengar desah genit si penyair wanita,
“Salam kompak selalu dan selamat
menempuh hidup baru buat X di jalan Y dari
gadis Z di gubuk derita”.

“Hai siapakah yang berbahagia dan
Siapakah yang menderita?”

Majulah, majulah maju Rajawali Politikku, kepakkan sayapmu dan keluarkan kami dari gubuk derita ini.

Jemputlah Indonesia Muda kita itu.

(Hudan Hidayat)
– Manajer Kampanye M. Fadjroel Rachman untuk Presiden RI 2009

Cerita Menarik: Don’t judge a book by its cover!


Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston , dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University .

Sesampainya disana sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.

“Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard”, kata sang pria lembut.
“Beliau hari ini sibuk,” sahut sang Sekretaris cepat.
“Kami akan menunggu,” jawab sang Wanita.

Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi.
Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.

“Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi,” katanya pada sang Pimpinan Harvard.
Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka.

Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang di luar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul.
Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut. Sang wanita berkata padanya, “Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini. bolehkah?” tanyanya dengan mata yang menjeritkan harap.

Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. “Nyonya,” katanya dengan kasar, “Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan.”

“Oh, bukan,” Sang wanita menjelaskan dengan cepat, “Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard.”

Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, “Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung? Kalian perlu memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard.”

Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, “Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja ?” Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan.

Laki-laki dan perempuan dengan baju lusuh itu yang bernama Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, mereka melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi dipedulikan oleh Harvard. Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas atas di AS.
Pesan Moral :
Kita, seperti pimpinan Harvard itu, acap silau oleh baju, dan lalai. Padahal, baju hanya bungkus, apa yang disembunyikannya, kadang sangat tak ternilai. Jadi, janganlah kita menilai orang dari pakaiannya saja, karena pakaian acap menipu.
“Though you cannot go back and make a brand new start, my friend. Anyone can start from now and make a brand new end”
~Dr. John C. Maxwell~

4000 aktivis kumpul di Tugu Proklamasi


Dalam acara Temu Aktivis Lintas Generasi (TALI Generasi)

Sumber: Milis AIPI

 Harian Kompas (15 Juni 08) telah memuat berita yang berikut :  “Aktivis seluruh Indonesia mengubah strategi dalam berperang melawan pemerintah yang dianggap telah mengeluarkan kebijakan yang menyengsarakan rakyat. Mereka tidak akan berperang secara sporadis lagi, tapi mereka akan bersatu untuk memerangi kebijakan pemerintah yang tak berpihak kepada rakyat miskin.”

“Hal ini terealisasikan dalam acara temu aktivis lintas generasi (Tali Generasi) di Tugu Proklamasi Jakarta, pada 23-25 Juni 2008. Dalam kesempatan itu, sekitar 4000 aktivis akan berdiskusi untuk mengambil sikap atas kebijakan pemerintah, khususnya dalam menaikkan harga bahan bakar minyak.

“Tidak hanya itu, mereka juga akan mengajak basis massa dari seluruh Indonesia, antara lain Jakarta, Bogor, Cirebon, Cianjur, Bandung, Jogja, Surabaya, Malang, Jambi, dan Makasar. Kami, dalam kesempatan itu, juga akan mengundang seluruh universitas di Jakarta, yang berjumlah 126 kampus, anggota DPR, siswa SMU, buruh, dan petani,” ujar aktivis 98 Adian Napitupulu, dalam keterangan pers di Jakarta, Minggu (15/6).

“Menurut dia, forum ini akan mengusung tiga agenda, yaitu kenaikan harga BBM, perebutan aset migas, dan penggulingan SBY-JK. Dia yakin, forum ini akan membawa perubahan di Indonesia.  “Kalau enggak yakin, kita tidak akan membuat pertemuan ini,” tambah Adian.

“Rangkaian acara pada 23 Juni akan diawali dengan diskusi terbuka dengan pembicara antara lain Eros Djarot, Bondan Gunawan, Ratna Sarumpaet, Fadjroel Rachman, dan Kwik Kian Gie. Sore harinya, diskusi dilanjutkan dengan orasi-orasi politik dari berbagai tokoh gerakan berbagai generasi.

“Pada 24 Juni, mereka akan mengambil langkah yang akan ditempuh untuk menghadapi peristiwa yang belakangan ini terjadi di Indonesia. “Apakah pertemuan memutuskan untuk kembali menduduki DPR seperti 1998, atau justru akan mengepung Istana selama berhari-hari atau apapun keputusannya, maka ribuan kepala aktivis itu yang akan putuskan, tentunya dengan kontrak nurani, tak pulang sebelum terjadinya perubahan!” jelasnya. ” (kutipan berita Kompas selesai)

 

Pertemuan untuk perubahan fundamental

 

Kalau inisiatif  TALI Generasi ini bisa terlaksana seperti yang direncanakan maka akan merupakan peristiwa yang bisa mempunyai dampak yang besar dan penting untuk perkembangan perjuangan rakyat Indonesia dalam menghadapi berbagai persoalan parah yang sedang menimpa negeri kita.

 

Lahirnya gagasan untuk menyelenggarakan   temu aktivis dari kalangan yang begitu luas itu saja sudah merupakan sesuatu yang patut disambut dengan antusiasme oleh seluruh kekuatan demokratis yang menjunjung tinggi-tinggi Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila dan berjuang terhadap neo-liberalisme. Apalagi ditambah dengan tiga agenda yang diusulkan untuk diusung dalam pertemuan ini maka jelaslah bahwa TALI Generasi ini mempunyai tujuan besar untuk memperjuangkan adanya perubahan-perubahan besar dan fundamental di Indonesia, yang merupakan juga program perjuangan berbagai gerakan rakyat, yang tergabung dalam macam-macam front, aliansi, koalisi, lsm atau ornop, atau macam-macam organisai lainnya.

 

Dengan mengangkat masalah kenaikan harga BBM dan  pentingnya penguasaan aset migas oleh bangsa sendiri maka  pertemuan besar ini juga akan mempunyai ciri-ciri nasionalisme kerakyatan, dan jelas-jelas berorientasi kepada rakyat miskin atau wong cilik.

 

Dilihat dari berbagai sudut, maka bisa diartikan bahwa TALI Generasi ini merupakan kelanjutan dan juga peningkatan dari aksi-aksi yang dilancarkan di seluruh negeri oleh berbagai gerakan rakyat (terutama mahaisiswa) untuk menentang kenaikan  harga BBM dan berbagai politik pemerintah yang menyengsarakan rakyat.

 

A. Umar Said

PENYAKIT KANKER SUDAH TDK BERBAHAYA LAGI


JIKA ANDA MAU BERBAIK HATI TERHADAP SESAMA, TOLONG SEBARKAN INFORMASI INI.

Penyakit kanker sudah tidak berbahaya lagi
Kanker tidak lagi mematikan.

Para penderita kanker di Indonesia dapat memiliki harapan hidup yang
lebih lama dengan ditemukannya tanaman “KELADI TIKUS” (Typhonium
Flagelliforme/ Rodent Tuber) sebagai tanaman obat yang dapat
menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker dan berbagai penyakit
berat lain.

Tanaman sejenis talas dengan tinggi maksimal 25 sampai 30 cm ini hanya
tumbuh di semak yang tidak terkena sinar matahari langsung. “Tanaman ini
sangat banyak ditemukan di Pulau Jawa,” kata Drs. Patoppoi
Pasau, orang pertama yang menemukan tanaman itu di Indonesia.

Tanaman obat ini telah diteliti sejak tahun 1995 oleh Prof . Dr. Chris
K.H.Teo,Dip Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD dari Universiti Sains
Malaysia dan juga pendiri Cancer Care Penang, Malaysia. Lembaga perawatan kanker yang didirikan tahun 1995 itu telah membantu ribuan pasien dari Malaysia, Amerika, Inggris, Australia, Selandia Baru, Singapura, dan berbagai negara di dunia.

Di Indonesia, tanaman ini pertama ditemukan oleh Patoppoi di Pekalongan, Jawa Tengah. Ketika itu, istri Patoppoi mengidap kanker payudara stadium III dan harus dioperasi 14 Januari 1998. Setelah kanker ganas tersebut diangkat melalui operasi, istri Patoppoi harus menjalani kemoterapi (suntikan kimia untuk membunuh sel, Red) untuk menghentikan penyebaran sel-sel kanker tersebut. “Sebelum menjalani kemoterapi, dokter mengatakan agar kami menyiapkan wig (rambut palsu) karena kemoterapi akan mengakibatkan kerontokan rambut, selain kerusakan kulit dan hilangnya nafsu makan,” jelas Patoppoi.

Selama mendampingi istrinya menjalani kemoterapi, Patoppoi terus berusaha mencari pengobatan alternatif sampai akhirnya dia mendapatkan informasi mengenai penggunaan teh Lin Qi di Malaysia untuk mengobati kanker. “Saat itu juga saya langsung terbang ke Malaysia untuk membeli teh tersebut,” ujar Patoppoi yang juga ahli biologi.

Ketika sedang berada di sebuah toko obat di Malaysia, secara tidak sengaja dia melihat dan membaca buku mengenai pengobatan kanker yang berjudul Cancer, Yet They Live karangan Dr Chris K.H. Teo terbitan 1996. “Setelah saya baca sekilas, langsung saja saya beli buku tersebut. Begitu menemukan buku itu, saya malah tidak jadi membeli teh Lin Qi, tapi langsung pulang ke Indonesia,” kenang Patoppoi sambil tersenyum. Di buku itulah Patoppoi membaca khasiat typhonium flagelliforme itu. Berdasarkan pengetahuannya di bidang biologi, pensiunan pejabat Departemen Pertanian ini langsung menyelidiki dan mencari tanaman tersebut.

Setelah menghubungi beberapa koleganya di berbagai tempat, familinya di Pekalongan Jawa Tengah, balas menghubunginya. Ternyata, mereka menemukan tanaman itu di sana. Setelah mendapatkan tanaman tersebut dan mempelajarinya lagi, Patoppoi menghubungi Dr. Teo di Malaysia untuk menanyakan kebenaran tanaman yang ditemukannya itu. Selang beberapa hari, Dr Teo menghubungi Patoppoi dan menjelaskan bahwa tanaman tersebut memang benar Rodent Tuber. “Dr Teo mengatakan agar tidak ragu lagi untuk menggunakannya sebagai obat,” lanjut Patoppoi.

Akhirnya, dengan tekad bulat dan do’a untuk kesembuhan, Patoppoi mulai memproses tanaman tersebut sesuai dengan langkah-langkah pada buku tersebut untuk diminum sebagai obat. Kemudian Patoppoi menghubungi putranya, Boni Patoppoi di Buduran, Sidoarjo untuk ikut mencarikan tanaman tersebut.

“Setelah melihat ciri-ciri tanaman tersebut, saya mulai mencari di pinggir sungai depan rumah dan langsung saya dapatkan tanaman tersebut tumbuh liar di pinggir sungai,” kata Boni yang mendampingi ayahnya saat itu.

Selama mengkonsumsi sari tanaman tersebut, isteri Patoppoi mengalami
penurunan efek samping kemoterapi yang dijalaninya. Rambutnya berhenti rontok, kulitnya tidak rusak dan mual-mual hilang. “Bahkan nafsu makan ibu saya pun kembali normal,” lanjut Boni. Setelah tiga bulan meminum obat tersebut, isteri Patoppoi menjalani pemeriksaan kankernya. “Hasil pemeriksaan negatif, dan itu sungguh mengejutkan kami dan dokter-dokter di Jakarta,” kata Patoppoi.

Para dokter itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa yang diberikan pada isterinya. “Malah mereka ragu, apakah mereka telah salah memberikan dosis kemoterapi kepada kami,” lanjut Patoppoi.

Setelah diterangkan mengenai kisah tanaman Rodent Tuber, para dokter pun mendukung pengobatan tersebut dan menyarankan agar mengembangkannya. Apalagi melihat keadaan isterinya yang tidak mengalami efek samping kemoterapi yang sangat keras tersebut. Dan pemeriksaan yang seharusnya tiga bulan sekali diundur menjadi enam bulan sekali.”Tetapi karena sesuatu hal, para dokter tersebut tidak mau mendukung secara terang-terangan penggunaan tanaman sebagai pengobatan alternatif,” sambung Boni sambil tertawa.

Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan peningkatan keadaan isterinya, pada bulan April 1998, Patoppoi kemudian menghubungi Dr.Teo melalui fax untuk menginformasikan bahwa tanaman tersebut banyak terdapat di Jawa dan mengajak Dr. Teo untuk menyebarkan penggunaan tanaman ini di Indonesia. Kemudian Dr. Teo langsung membalas fax kami, tetapi mereka tidak tahu apa yang harus mereka perbuat, karena jarak yang jauh,” sambung Patoppoi. Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan disebar-luaskan di Indonesia, Dr. Teo menganjurkan agar kedua belah pihak bekerja sama dan berkonsentrasi dalam usaha nyata membantu penderita kanker di Indonesia.

Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos mengulas habis mengenai
meninggalnya Wing Wiryanto, salah satu wartawan handal Jawa Pos, Patoppoi
sempat tercengang. Data-data rinci mengenai gejala, penderitaan, pengobatan yang diulas di Jawa Pos, ternyata sama dengan salah satu pengalaman pengobatan penderita kanker usus yang dijelaskan di buku tersebut. Dan eksperimen pengobatan tersebut berhasil menyembuhkan pasien tersebut.,”Lalu saya langsung menulis di kolom Pembaca Menulis di Jawa Pos,” ujar Boni. Dan tanggapan yang diterimanya benar-benar diluar dugaan. Dalam sehari, bisa sekitar 30 telepon yang masuk. “Sampai saat ini, sudah ada sekitar 300 orang yang
datang ke sini,” lanjut Boni yang beralamat di Jl. KH. Khamdani, Buduran
Sidoarjo.

Pasien pertama yang berhasil adalah penderita Kanker Mulut Rahim stadium dini. Setelah diperiksa, dokter mengatakan harus dioperasi. Tetapi karena belum memiliki biaya dan sambil menunggu rumahnya laku dijual untuk biaya operasi, mereka datang setelah membaca Jawa Pos. Setelah diberi tanaman dan cara meminumnya, tidak lama kemudian pasien tersebut datang lagi dan melaporkan bahwa dia tidak perlu dioperasi, karena hasil pemeriksaan mengatakan negatif.

Berdasarkan animo masyarakat sekitar yang sangat tinggi, Patoppoi berusaha untuk menemui Dr. Teo secara langsung. Atas bantuan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan, Sampurno, Patoppoi dapat menemui Dr. Teo di Penang, Malaysia. Di kantor Pusat Cancer Care Penang, Malaysia, Patoppoi mendapat penerangan lebih lanjut mengenai riset tanaman yang saat ditemukan memiliki nama Indonesia. Ternyata saat Patoppoi mendapat buku “Cancer, Yet They Live” edisi revisi tahun 1999, fax yang dikirimnya di masukkan dalam buku tersebut, serta pengalaman isterinya dalam usahanya berperang melawan kanker. Dari pembicaraan mereka, Dr. Teo merekomendasi agar Patoppoi mendirikan perwakilan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya. Maka secara resmi, Patoppoi dan putranya diangkat sebagai perwakilan lembaga sosial Cancer Care Indonesia, yang juga disebutkan dalam buletin bulanan Cancer Care, yaitu di Jl. Kayu Putih 4 No. 5, Jakarta, telp. 021-4894745, dan
di Buduran, Sidoarjo.

Cancer Care Malaysia telah mengembangkan bentuk pengobatan tersebut secara lebih canggih. Mereka telah memproduksi ekstrak Keladi Tikus dalam bentuk pil dan teh bubuk yang dikombinasikan dengan berbagai tananaman lainnya dengan dosis tertentu. “Dosis yang diperlukan tergantung penyakit yang diderita,” kata Boni. Untuk mendapatkan obat tersebut, penderita harus mengisi formulir yang menanyakan keadaan dan gejala penderita dan akan dikirimkan melalui fax ke Dr. Teo. “Formulir tersebut dapat diisi disini, dan akan kami fax-kan. Kemudian Dr. Teo sendiri yang akan mengirimkan resep sekaligus obatnya, dengan harga langsung dari Malaysia, sekitar 40-60 Ringgit Malaysia,” lanjut Boni. “Jadi pasien hanya membayar biaya fax dan obat, kami tidak menarik keuntungan, malahan untuk yang kurang mampu, Dr.Teo bisa memberikan perpanjangan waktu pembayaran.” tambahnya.

Sebenarnya pengobatan ini juga didukung dan sedang dicoba oleh salah satu dokter senior di Surabaya, pada pasiennya yang mengidap kanker ginjal. Ada dua pasien yang sedang dirawat dokter yang pernah menjabat sebagai direktur salah satu rumah sakit terbesar di Surabaya ini.
Pasien pertama yang mengidap kanker rahim tidak sempat diberi pengobatan
dengan keladi tikus, karena telah ditangani oleh rekan-rekan dokter yang telah memiliki reputasi. Setelah menjalani kemoterapi dan radiologi, pasien tersebut mengalami kerontokan rambut, kulit rusak dan gatal, dan selalu muntah. Tetapi pada pasien kedua yang mengidap kanker ginjal, dokter ini menanganinya sendiri dan juga memberikan pil keladi tikus untuk membantu proses penyembuhan kemoterapi. Pada pasien kedua ini, tidak ditemui berbagai efek yang dialami penderita pertama, bahkan pasien tersebut kelihatan normal. Tetapi dokter ini menolak untuk diekspos karena menurutnya, pengobatan ini belum resmi diteliti di Indonesia. Menurutnya, jika rekan-rekannya mengetahui bahwa dia memakai pengobatan alternatif, mereka akan memberikan predikat sebagai “ter-kun” atau
dokter-dukun. “Disinilah gap yang terbuka antara pengobatan konvensional dan modern,” kata dokter tersebut.

Banyak hal menarik yang dialami Boni selama menerima dan memberikan bantuan kepada berbagai pasien. Bahkan ada pecandu berat putaw dan sabu-sabu di Surabaya, yang pada akhirnya pecandu tersebut mendapat kanker paru-paru. Setelah mendapat vonis kanker paru-paru stadium III, pasien tersebut
mengkonsumsi pil dan teh dari Cancer Care. Hasilnya cukup mengejutkan,
karena ternyata obat tersebut dapat mengeluarkan racun narkoba dari
peredaran darah penderita dan mengatasi ketergantungan pada narkoba
tersebut. “Tapi, jika pecandu sudah bisa menetralisir racun dengan keladi tikus, dia tidak boleh memakai narkoba lagi, karena pasti akan timbul resistensi. Jadi jangan seperti kebo, habis mandi berkubang lagi,” sambung Boni sambil tertawa. Juga ada pengalaman pasien yang meraung-raung kesakitan akibat serangan kanker yang menggerogotinya, karena obat penawar rasa sakit sudah tidak mempan lagi. Setelah diberi minum sari keladi tikus, beberapa saat kemudian pasien tersebut tenang dan tidak lagi merasa kesakitan.

Menurut data Cancer Care Malaysia, berbagai penyakit yang telah disembuhkan adalah berbagai kanker dan penyakit berat seperti kanker payudara, paru-paru, usus besar-rectum, liver, prostat, ginjal, leher rahim, tenggorokan, tulang, otak, limpa, leukemia, empedu, ankreas, dan hepatitis. Jadi diharapkan agar hasil penelitian yang menghabiskan milyaran Ringgit Malaysia selama 5 tahun dapat benar-benar berguna bagi dunia kesehatan. Bagi teman-teman yang memerlukan informasi lebih lanjut sehubungan dengan artikel “Obat Kanker” bisa menghubungi perwakilan lembaga sosial “Cancer Care Indonesia” beralamat di Jl. Kayu Putih 4 no. 5 Jakarta , telp : 021-4894745.

Polling 4 Media: Jangan Bubarkan FPI!


Polling 4 Media: Jangan Bubarkan FPI!

Selasa, 10 Juni 2008

(“http://hidayatullah .com/index. php?option= com_content& amp;task= view& id=7019“);

Benci tapi rindu, dikecam tapi ditunggu! Begitu istilah tepat untuk Front Pembela Islam (FPI). Meski media menampilkan kecaman, hasil beberapa polling, ingin FPI tetap ada. Untuk melawan kelompok liberal, katanya!

Hidayatullah. com–Pasca kejadian bentrok antara LPI (Laskar Pembela Islam) dan AKK-BB (Aliansi Kebangsaan Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) di Monas. Media-media masa membuat polling bagi pembaca, isinya, apalagi jika tidak pembubaran FPI (Front pembela Islam). Ajaibnya, hasil polling sampai saat ini (10/6) menunjukkan bahwa mayoritas pembaca tak menginginkan FPI dibubarkan.

Simak saja hasil polling yang dilakukan Detik.com. “Massa Front Pembela Islam (FPI) menyerbu massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKK-BB) di Monas. Tindakan anarkis FPI sangat disesalkan. Tuntutan agar FPI dibubarkan pun meluas. Setuju kah Anda FPI dibubarkan?” Begitu, Detik.com memberi keterangan, bahwa tindakan FPI anarkis, dan patut disesalkan, serta tuntutan pembubaran FPI meluas. Tapi apa hasilnya? Ternyata 56,01% atau sebanyak 21.221 peserta jajak polling menyatakan tidak setuju pembubaran FPI, yang menginginkan FPI dibubarkan hanya 43.99%, atau sebanyak 16.667 pembaca. Dari total 37888 peserta polling.

Hasil sementara polling juga terlihat dalam situs Liputan6.com. Mayoritas peserta polling menginginkan agar FPI tidak dibubarkan. “Catatan aksi kekerasan Front Pembela Islam (FPI) cukup panjang. Terakhir, para anggotanya terlibat penyerangan Aliansi Kebangsaan Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Beberapa pihak meminta FPI dibubarkan. Setujukah Anda jika FPI dibubarkan?” Begitu Liputan6.com mengawali. Akan tetapi, apa jawaban pembaca? Ternyata 59% atau 89.126 pembaca tak menginginkan FPI dibubarkan. Hanya 41%, atau 62.093 pembaca meminta FPI dibubarkan. Sisanya 272 (0%), menyatakan abstain.

Di Republika Online lain lagi. 85,3% peserta menyatakan ketidak setujuannya jika FPI dibubarkan. Sedangkan mereka yang menginginkan pembubaran hanya 12,8%, sisanya 1,8 %menyatakan tidak perduli.

Yang menarik adalah di situs milik Nahdlatul Ulama (NU). Di situs NU Online mayoritas pembaca, menginkan FPI tetap ada. Nah, menariknya, sebesar 59% memilih opsi “Keberadaannya (FPI) dipertahankan untuk menghapus kemaksiatan dan melawan kelompok liberal”.

Hanya 21% tak menginginkan FPI dengan alasan layak dibubarkan karena merusak citra Islam. Sisanya, 1 %, menyatakan tidak tahu.
Dari hasil ini, maka bisa diketahui bahwa mayoritas para peserta jajak pendapat di 4 media (Detik.com, Liputan6.com, Republika Online dam NU Online) hingga saat ini (10/6), menginginkan agar FPI tidak dibubarkan. “Dibenci tapi dirindu”, itulah FPI! [thoriq/www. hidayatullah. com]

Liputan 6 SCTV Diadukan FPI ke KPI
Rabu, 11 Jun 08 18:54 WIB

DPP Forum Pembela Islam (FPI) menyampaikan koreksi terhadap sejumlah materi pemberitaan SCTV (Liputan 6 Pagi, Siang dan Sore). FPI menyatakan bahwa pemberitaan- pemberitaan tersebut sangat merugikan mereka. Hal itu diungkapkan dalam surat tembusan FPI ke KPI, Selasa (10/6).

Di terangkan dalam surat tersebut, bahwa materi pemberitaan SCTV cenderung bersifat berpihak dan tendensius untuk tujuan “menghakimi” FPI melalui laporan tentang aktivitas FPI maupun reaksi pro-kontra masyarakat terhadap kiprah KPI. Pola pemberitaan SCTV melalui sejumlah program beritanya sudah masuk dalam klasifikasi trial by the press.
Sebagai contoh, seluruh stasiun televisi menyiarkan aksi dari puluhan penjudi, pelacur dan pengelola tempat hiburan di Banyuwangi, Jawa Timur, yang menuntut pembubaran FPI. Aksi mereka dilatari oleh sikap keberatan terhadap aktifitas FPI yang memerangi penyakit sosial di daerah tersebut.

Sementara itu, dalam pemberitaan SCTV, menurut FPI, tidak menyebutkan siapa kelompok masyarakat yang berdemo tersebut, dengan hanya menyebutkan “Warga Banyuwangi”. Kesan yang ingin ditampilkan redaksi SCTV adalah “Seluruh warga Banyuwangi menolak FPI”. Atas kondisi tersebut, FPI menyatakan pemberitaan SCTV sengaja memanipulasi fakta yang ada.

Selain itu, dalam surat tersebut, FPI menyampaikan bahwa SCTV beberapa kali memberitakan FPI dan aktifitasnya dengan mengabaikan sistem pemberitaan menurut prinsip “cover both-side” (tidak berimbang) sehingga merugikan citra FPI. Menurut FPI, kebijakan redaksional SCTV yang tendensius dan tidak dilatari sikap “tidak senang” terhadap FPI merupakan pola kerja yang tidak profesional, tidak objektif dan memanipulasi informasi (disinformasi) sehingga mengundang kebencian masyarakat terhadap objek yang diberitakan.

Dalam penutupnya, FPI menyampaikan, jika SCTV menerima koreksi tersebut, FPI berharap agar manajamen Liputan 6 SCTV dapat melakukan perbaikan visi editorial sebagaimana diperlukan untuk menjaga citra televisi dengan pemberitaan yang cepat, akurat, lengkap, objektif dan berimbang.(novel/ kpi)