Masjid Roma

Masjid terbesar di Eropa dapat ditemukan di negara Italia, tepatnya di dalam area Pusat Budaya Islam di Roma. Masjid Roma – demikian sebutan yang sering dipakai -terletak sedikit di luar kota, beberapa kilometer dari jantung kota Roma. Pembangunan Masjid Roma yang memakan waktu sekitar 8 tahun itu (1984-1992) terwujud berkat dana yang terkumpul dari beberapa negara yang berbasis Islam, secara khusus Kerajaan Arab Saudi, sebesar 50 juta dollar US. Tiga arsitek besar yang berjasa besar dalam merancang model bangunan megah Masjid Roma adalah Paolo Portoghesi Vittorio Gigliotti, dan Sami Mousawi.

Secara umum, Masjid Roma terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama adalah ruang doa utama segi-emat seluas 40 kali 60 meter persegi, dengan kemampuan menampung sekitar 2.500 orang. Di samping ruang doa utama, ada ruang doa lain yang diperuntukkan bagi kelompok kecil sebanyak 150 orang. Dengan kapasitasnya yang sebesar itu, tidak mengherankan kalau Masjid Roma menyediakan tempat wudhu yang cukup luas, berada di bawah ruang doa utama. Dengan ‘mihrab’ (kiblat ke kota Mekkah) dan ‘minaret’ di sebelah Barat Daya, ruang doa utama dalam Masjid Roma dipayungi oleh kubah berdiameter sekitar 20 meter, dan 16 kubah lebih kecil tersebar di sekeliling kubah besar. Sebagaimana masjid pada umumnya, ruang doa dalam Masjid Roma terbagi menjadi dua, sebagian untuk kaum pria (3/4 area) dan sebagian untuk kaum wanita (1/4 area).

Selanjutnya, bagian kedua dari Masjid Roma dibangun untuk menunjang kegiatan keagamaan lain. Dirancang dalam bentuk huruf H, bagian kedua ini terdiri dari: sebuah perpustakaan besar (4000 meter persegi); satu ruangan kelas untuk pengajaran dan belajar; sebuah ruang konferensi yang berkapasitas 400 orang; dan satu ruangan besar untuk pameran; serta dua apartemen untuk imam yang bertugas dan untuk tamu pengunjung tertentu.

Terbangunnya Masjid Roma tidak bisa dilepaskan dari peran dua pemerintahan yang dikenal memiliki tradisi kuat Katolik, yaitu Italia dan Vatikan. Para pemimpin politik dan agama kedua negara tersebut memiliki harapan bahwa terbangunnya Masjid Roma dapat menjadi jembatan yang membuka ruang dialog, persahabatan, dan perdamaian bagi kedua pemeluk agama terbesar di dunia saat ini, yaitu Katolik dan Islam. Tidaklah mengherankan bahwa ketika ada kegiatan di Masjid Roma yang menyimpang dari harapan tersebut – seperti doa yang pernah dilakukan oleh seorang imam berkebangsaan Mesir, Abdul-Samie Mahmoud Ibrahim Moussa (32 tahun) – tindakan keras pun terpaksa diambil. Pemimpin Masjid Roma yang sekarang, Mario Scialoia, juga tidak menghendaki adanya kegiatan di Masjid Roma yang tidak mendukung terwujudnya dialog dan perdamaian bersama. [I.Ismartono SJ, Crisis Centre KWI]

Sumber: http://www.mirifica.net/artDetail.php?aid=4808

Satu Tanggapan

  1. masjid terbesar di eropa kini ada di chechnya yang mnenampung 10.000 jamaah
    http://www.majestad.wordpress.com –> masjid2 dunia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: