Workshop FKUB Digelar, Cari Nilai Kerukunan Beragama


Thursday, Feb. 28, 2008 Posted: 6:24:06AM PST

Peran serta Departemen Agama dalam memantapkan nilai kerukunan umat beragama, sekaligus untuk mencari bentuk dan performa yang tepat dalam menjaga dan melestarikan kerukunan beragama, sejak tanggal 25-29 Februari digelar Workshop Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

Pertemuan tersebut diikuti 66 peserta dari 33 propinsi yang ada di Indonesia yang merupakan perutusan dari masing-masing Kepala Tata Usaha (KTU) dan Kasubag Humas.

Humas Depag Sulut, Pdt John Tilaar selaku wakil dari Sulut, Selasa lalu menjelaskan, maksud dan tujuan workshop adalah, peran serta Departemen Agama RI dalam memantapkan nilai kerukunan di republik tercinta ini, sekaligus untuk mencari bentuk dan performa yang tepat, dalam menjaga dan melestarikan kerukunan di Indonesia.

“Ada pun workshop dan rapat konsultasi mengusung tema optimalkan program kerukunan umat beragama,” katanya sembari menambahkan, kegiatan ini dibuka langsung Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Depag RI, Abdul Fatah.

Fatah mengatakan, keberadaan FKUB di setiap propinsi dan kabupaten/kota sangat penting. “Lembaga ini merupakan cerminan umat beragama yang ada dalam menciptakan keharmonisan kerukunan yang damai. Karena itu, sangat diharapkan daerah yang belum terbentuk FKUB untuk sesegera mungkin membentuknya.

Maria F.
Reporter Kristiani Pos

Misa Dan Pengajian Mengawali Ritual Desa


 
14 Maret 2008 17:54  
SLEMAN, DIY (UCAN) — Tahun ini, perayaan syukur tahunan di sebuah desa di Yogyakarta, yang biasanya berisi prosesi tradisional dan kerja bakti, dimulai dengan pengajian dan Misa.Sekitar 700 umat Katolik yang tinggal di Desa Girikerto berkumpul untuk Misa yang diadakan 23 Februari  di  balai desa sebagai bagian dari merti bumi, sebuah perayaan syukur atas berkah yang diberikan  oleh  alam.
Pastor Yoseph Suyatno Hadiatmaja, yang memakai pakaian adat Jawa, mengawali liturgi dengan mengajak warga desa beragama Katolik tersebut untuk bersyukur kepada Tuhan atas udara yang bersih, pepohonan yang hijau, dan air yang berlimpah di lingkungan mereka.
“Kehadiran Anda pada Misa ini menandakan bahwa Anda semua menyadari betul bahwa Anda adalah seratus persen warga Gereja dan seratus persen warga masyarakat,” kata Pastor Hadiatmaja kepada warga desa itu. Imam yang memimpin Paroki St. Yohanes Rasul di Kabupaten Sleman, yang melayani Girikerto, itu juga mendorong umat Katolik untuk berinteraksi dengan warga beragama lain.Umat Katolik, sekitar 7.000 Muslim, dan sedikit penganut aliran kepercayaan Jawa tinggal di 13 dusun di desa yang terletak di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut.
Kepala Desa Girikerto, Soeharto, seorang Muslim, berbicara dari mimbar sebelum Misa berakhir. Ia mengingatkan warga desa beragama Katolik bahwa mereka memiliki peran dalam pelestarian tradisi desa seperti merti bumi.
“Agama kita boleh berbeda, tapi peran kita dalam pelestarian tradisi kita adalah sama. Budaya Jawa yang merupakan warisan leluhur kita mengajarkan kita untuk memiliki tata krama,” tegas Soeharto.
Dua imam lain turut memimpin Misa itu — Pastor Andreas Wiratno dan Pastor Heribertus Brotosudarmo, masing-masing adalah pastor pembantu paroki dan imam Yesuit setempat yang berkarya di Kamboja.
Dua hari sebelumnya, lebih dari 1.000 warga desa beragama Islam berkumpul selama satu jam di balai desa untuk kegiatan pengajian. Baik Misa maupun pengajian itu merupakan bagian dari perayaan ritual merti bumi, kata Sudibyo, panitia ritual syukur itu. “Acara ini bertujuan untuk mendoakan desa ini,” kata warga Muslim itu kepada UCA News seusai Misa.
Ia menjelaskan bahwa umat Katolik dan Muslim bekerja sama dalam mempersiapkan dan menyelenggarakan kedua kegiatan itu. “Umat Islam ikut membantu menghiasi tempat (Misa), mempersiapkan sound system, dan menjadi petugas parkir. Umat Katolik melakukan hal yang sama ketika umat Islam mengadakan pengajian.”
Kedua kegiatan tersebut mengawali serangkaian kegiatan merti bumi, yang berpuncak pada minggu terakhir Sapar, bulan kedua dalam kalender Jawa.
Panitia mengadakan sebuah pameran produksi pertanian seperti beras dan salak pondoh sejak 21 Februari hingga 2 Maret di lapangan di depan balai desa. Pada 27 Februari, sekitar 400 warga desa berkumpul di balai desa untuk mengikuti dialog tiga jam yang menekankan persaudaraan sejati.Pada 2 Maret pagi, warga desa menanam 1.300 anakan mahoni dan pinus di sepanjang jalan desa. Kegiatan ini dilanjutkan dengan prosesi tirta panguripan (air kehidupan) di mana 13 pasang muda-mudi, yang mewakili 13 dusun, berjalan dari balai desa menuju sebuah mata air yang berjarak sekitar dua kilometer. Setelah mengambil air dari mata air tersebut, mereka menaruhnya di 13 kendi yang diletakkan di balai desa.
Dari sana, 13 mobil pickup yang masing-masing membawa sebuah gunungan (persembahan berbentuk kerucut yang berisi buah-buahan dan sayur-mayur) mengambil kendi-kendi itu dari balai desa dan melakukan prosesi sejauh 20 kilometer mengelilingi desa. Merti bumi berakhir dengan masing-masing mobil pickup membawa gunungan dan kendi berisi air ke setiap dusun.
Robertus Tukidjo, 58, mengakui bahwa umat Katolik berperan penting dalam ritual syukur itu. “Mereka menyumbangkan tenaga dan kemampuan mereka untuk ritual ini,” katanya kepada UCA News, 2 Maret.
Mauritius Murwanto, 40, warga desa beragama Katolik, sependapat. “Kami sebagai kelompok minoritas merasa bangga karena kami tidak merasa dikucilkan,” katanya.
(Sumber: Mirifica.net) ***