INDONESIA NEGARAKU, ISLAM AGAMAKU


dari google.comKetika saya menonton film-fil Amerika Serikat (AS), ada satu hal yang tidak pernah hilang dari pengamatanku. Satu hal itu adalah kebanggaan warga AS. Ialah bendera Amerika. Kadang terlihat tergantung di depan pintu rumah, kadang di tempel di kemeja atau topi,  dan pasti bendera kebanggaan mereka itu selalu ada.

Akhir-akhir ini saya coba surfing blog di blogspot, saya sering ketemu blog-blog warga Malaysia. Mayoritas mereka juga selalu memasang foto bendera mereka di sisi kanan atau kiri blog mereka. Sebuah bendera Malaysia, dan di sampingnya bertuliskan “JAYA MALAYSIAKU”.

Bagi kita di Indonesia, kebanggaan itu menurut saya ada pada jaman Soekarno.  Bendera itu selalu tertempel di topi atau seragam pemerintah. Setiap kali bertemua antara yang satu dengan yang lain, selalu berteriak, “Merdeka Bung! Atau Hidup Indonesia Raya!

Bila kita amati situasi bangsa dan negara ini sekarang, hampir rasa kebanggaan sebagai warga negara Indonesia hilang, meskipun selalu didelorakan, “Aku Cinta Produk Indonesia!” atau ketika kasus Ambalat yang memicu kerenggaran hubungan antar negara dengan Malaysia, baru rasa kebanggaan itu muncul pada warga Indonesia.

Yang lebih tidak enak lagi, para oknum pejabat negeri ini sibuk memikirkan untuk mempertahankan kekuasaan atau jabatan. Sedangkan rakyat atau mereka yang dilayaninya dibiarkan hidup sengsara dan menderita. Apa lagi yang menjadi kebanggaan mereka sebagai warga Indonesia? Mereka hanya bangga dengan kekuasaannya.

Kita salut terhadap warga AS yang bangga dengan negaranya, Malaysia dengan kebanggaannya sendiri.

Sebenarnya, di Indonesia banyak hal yang sangat membanggakan yang dipuji oleh manca negara. Pancasila adalah salah satu yang dipuji sebagai kebanggaan Indonesia karena bisa mempersatukan warga negara indonesia yang majemuk, plural, mutlikultural atau apa saja sebutannya.

Bila dikaji lebih dalam,  soal kebanggaan Indonesia ada beberapa hal: bendera merah putih lambang negara Indonesia.   Ada aneka agama (sekurangnya 6 agama) dan dengan berbagai bahasa dan dipersatukan bahasa Indonesia.

Kebanggaan itu bisa terpatri dalam lubuk Indonesia bila menyadari aneka kebanggaan yang dimilikinya itu. Suatu saat nanti para warga negara Indonesia suatu saat mengatakan;

  1. INDONESIA NEGARAKU, ISLAM AGAMAKU;
  2. INDONESIA NEGARAKU, KATOLIK AGAMAKU;
  3. INDONESIA NEGARAKU, KRISTEN AGAMAKU;
  4. INDONESIA NEGARAKU, BUDDHA AGAMAKU;
  5. INDONESIA NEGARAKU, HINDU AGAMAKU;
  6. INDONESIA NEGARAKU, KONGHUCU AGAMAKU; dst.

Kebanggaan itu tidak perlu mengurangi rasa, nilai dan jiwa keindonesiaan kita dan kehidupan keagamaan kita. Sebab Pancasila adalah pedoman atau prinsip hidup bersama dalam bernegara dan berbangsa  di tengah keberbedaan kita. Nilai-nilai Pancasila seperti ketuhanan, kemanusiaa, perdsatuan, kerakyatan yang dipimpin kebijaksanaan dan keadilan sosiak menjadi prinsip dalam hidup bersama sebagai warga negara.

Agama adalah perekat hubungan kita secara vertikal dengan Tuhan dan horizsontal dengan sesama dan seagama.  Agama lain  harus dihormati.

Apakah kita masih bangga dengan dengan bendera merah putih sebagai lambang negara Indonesia? Apakah anda masih bangga dengan Pancasila? Wallahualam. Bila masih bangga, insyaallah. (Pormadi S)

Renungan Bijaksana: Sebuah Pensil


SEBUAH PENSIL

Seorang anak bertanya kepada  neneknya yang sedang menulis sebuah surat .   “Nenek  lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?” Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata  kepada cucunya, 

 “Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai.”

 “Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti” ujar si nenek lagi.

Mendengar jawab ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa  dari pensil yang nenek pakai. “Tapi nek sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya.” Ujar si cucu. Si nenek kemudian menjawab, “Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini.”

“Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani  hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di  dalam hidup  ini.” Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.

“Kualitas pertama, pensil mengingatkan kamu kalo kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis,  kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya” .

“Kualitas kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik”.

“Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini adalah seharusnya. Dan Justru bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar”.
“Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu”.

“Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan”.

(by Paulo Coelho)

10 Program “HARI INI” untuk Mencapai Kebahagiaan Hidup


Sepuluh Program “HARI INI” saya kutip dari buku Dale Carnegie yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Petunjuk Hidup Tenteram dan Bahagia”,  Gramedia: Jakarta, 1995. Dale Carnegie sendiri mengutip dari tulisan Sibyl F. Partridge.

  1. Hari ini saya bertekad bahagia. Ini membuktikan, bahwa apa yang dikatakan Abraham Lincoln, benar. Ia berkata, “Kebanyakan orang berbahagia bila ia menghendaki bahagia dalam pikirannya”. Kebahagiaan berasal dari dalam, dari manusia sendiri, bukan dari luar.
  2. Hari ini saya mau menyesuaikan diri dengan kenyataan yang ada, dan tidak menuruti kemauan saya seenaknya sendiri. Saya akan menyesuaikan diri saya dengan keluarga saya saya, pekerjaan dan nasib saya.
  3. Hari ini saya mau memelihara badan saya sebaik-baiknya. Saya akan merawatnya, menjaganya, mengembangkannya dan tidak menyalahgunakan atau melalaikannya, sehingga badan menjadi “mesin” yang sempurna untuk membahagiakan hidup saya.
  4. Hari ini saya mau memperkuat pikiran saya. Saya akan mempelajari sesuatu yang berguna. Saya tidak akan jadi orang berjiwa lemah. Saya akan membaca sesuatu yang menuntut usaha, pikiran dan konsenterasi.
  5. Hari ini saya mau melatih jiwa saya dengan tiga cara. Saya akan berbuat baik terhadap orang lain dan tidak akan berprasangka  buruk serta mencari kekurangan-kekurangan  mereka. Saya akan berlatih melakukan paling sedikit dua hal seperti yang disarankan oleh William James: “ Banyak hal yang kita sebut sebagai kejahatan dan kemalangan … seringkali dapat diubah menjadi kebaikan dan kebruntungan, hanya dengan jalan mengubah sedikit saja sikap batin si penderita dari rasa takut menjadi semangat berjuang”.
  6. Hari ini saya mau bersikap wajar. Saya akan bertingkah wajar, apa adanya. Saya akan berdandan sepantas mungkin dan serapi-rapinya. Saya akan berbicara pelan, bertindak sopan dan bersikap rendah hati. Saya tidak akan mengkritik atau mencari-cari kesalahan orang lain dan tidak akan mengatur atau memperbaiki orang lain.
  7. Hari ini saya mau berusaha hidup untuk hari ini saja. Saya tidak akan menangani dan menyelesaikan semua persoalan hidup sekaligus. Hal-hal yang dapat saya selesaikan selama waktu 12 jam ini akan saya bereskan semua, sebab kalau saya biarkan terus, akibatnya akan mengerikan sekali.
  8. Hari ini saya mau membuat rencana. Apa-apa yang akan saya kerjakan tiap jamnya saya tulis di atas kertas. Saya tidak akan mengikuti rencana tersebut persis seperti yang telah tertulis, tapi pokoknya saya memiliki rencana tersebut. Dengan rencana ini, ada dua hal yang dapat saya hindarkan, yakni terburu-buru dan kebimbingan.
  9. Hari ini saya mau meluangkan waktu barang waktu setengah jam untuk beristirahat dan santai. Dalam waktu setengah jam tersebut saya antara lain akan memikirkan tentang Tuhan, untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai makna hidup saya.
  10. Hari ini saya tidak mau merasa takut, terutama tidak mau takut untuk berbahagia, untuk menikmati yang indah, untuk mencintai, dan meyakini bahwa yang saya cintai juga akan mencintai saya.

 –000–

Ternyata …Hidup ini sederhana


That’s why ….. DON’T BE too calculative in life.

Ternyata… Hidup Ini Sederhana…
Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam
tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan
pekerjaan tersebut. Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah,
cukup memelihara kebiasaan yang baik .

—- 000 —–

Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda.
Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak
untuk diperbaiki di toko tsb.
Selain memperbaiki sepeda tsb, si anak ini juga
membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap.
Murid-murid lain menertawakan perbuatannya.
Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil
sepedanya, si adik kecil ditarik/diambil kerja di tempatnya. Ternyata untuk
menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit
saja.

—- 000 —–

Seorang anak berkata kepada ibunya: “Ibu hari ini sangat cantik.” Ibu
menjawab: “Mengapa?” Anak menjawab: “Karena hari ini ibu sama sekali tidak
marah-marah. ” Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya
perlu tidak marah-marah .

—- 000 —–

Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah. Temannya
berkata: “Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, Tanamanmu tetap akan
tumbuh dengan subur.” Petani menjawab: “Aku bukan sedang memupuk tanamanku,
tapi aku sedang membina anakku.” Ternyata membina seorang anak sangat mudah,
cukup membiarkan dia rajin bekerja .

—- 000—–

Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya:
“Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan, bagaimana
cara mencarinya?”
Ada yang menjawab: “Cari mulai dari bagian tengah.”
Ada pula yang menjawab: “Cari di rerumputan yang
cekung ke dalam.”
Dan ada yang menjawab: “Cari di rumput yang paling tinggi.” Pelatih
memberikan jawaban yang paling tepat: “Setapak demi setapak cari dari ujung
rumput sebelah sini hingga ke
rumput sebelah sana .”
Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang,
cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap
secara berurutan, jangan meloncat-loncat.

—- 000 —–

Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang
tinggal di pinggir jalan:
“Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku.”
Katak di pinggir jalan menjawab: “Aku sudah terbiasa,
malas untuk pindah.”
Beberapa hari kemudian katak “sawah” menjenguk
katak “pinggir jalan”
dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil
yang lewat.
Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri,
cukup hindari kemalasan saja.

—- 000 —–

Ada segerombolan orang yang berjalan di padang pasir,
semua berjalan dengan berat, sangat menderita,
hanya satu orang yang berjalan dengan gembira.
Ada yang bertanya: “Mengapa engkau begitu santai?”
Dia menjawab sambil tertawa: “Karena barang bawaan
saya sedikit.”
Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan,
cukup tidak serakah dan memiliki secukupnya saja.

Kasus Kiai Cabul


Selasa, 23/12/2008 21:28 WIB
Kasus Kiai Cabul
Aktivis: Jangan Generalisir Kiai dan Ponpes
Andi Saputra – detikNews

Jakarta – Kasus pencabulan Kyai AHM terhadap puluhan siswa SMK Telkom Terpadu AKN Marzuqi, Pati, Pati, Jawa Tengah jangan sampai digeneralisir  bahwa semua pondok pesantren dan kiai melakukan hal tersebut. Perilaku pencabulan di dunia pendidikan terjadi karena kesenjangan peran dan kekuasaan.

“Saya tidak heran dengan perilaku itu, tapi jangan sampai digeneralisir. Itu sudah biasa,” ujar aktivis gay, Dede Oetomo kepada detikcom, Selasa, (23/12/2008).

Lebih lanjut dia menjelaskan, perilaku pencabulan seperti ini terjadi karena adanya kesenjangan kekuasaan di dunia akademik. Antara murid dan guru terjadi jarak yang sangat jauh antara hak dan kewajibannya. Selain itu masing-masing subjek mempunyai
peran dalam dunia pendidikan yang sangat kontras sehingga terjadi relasi kuasa. Sehingga murid tidak bisa menolak perkataan guru dan perintahnya.

“Tapi yang harus diingat, kasus ini bukan tradisi pesantren,” tambah

Meskipun demikian, pengamat yang juga gay ini meminta masyarakat untuk tidak menggeneralisir kasus AHM ini ke semua kyai. Bahkan dia mendukung jika kiai AHM ditindak tegas secara hukum meski harus memperhatikan hak-hak sang kiai.

“Kepada korban harus diberikan konseling dengan halus. Dan tanpa memberikan gambaran
homophobia,” pungkas mantan dosen Unair yang menyelesaikan S3 nya di Cornell University, Amerika Serikat.
(asp/gah)

Sumber: http://www.detiknews.com/read/2008/12/23/212823/1058640/10/aktivis-jangan-generalisir-kiai-dan-ponpes

BERPOLITIK DI KANTOR


Berpolitik di kantor

Berpolitik di kantor

POLITIK KANTOR

Pada sebuah acara makan siang seorang teman mengeluhkan suasana kantornya, sebuah perusahaan multinasional, yang sarat dengan kegiatan “berpolitik”. Di tempat kerjanya, berkembang “klik-klikan” makan siang ataupun jemputan yang kemudian menjadi hubungan tertutup. Hubungan tersebut sangat erat satu sama lain, di mana mereka berbagai gossip dan fakta, menunjukkan sikap suyektif dalam melihat masalah dan bahkan mempengaruhi pemilihan dan penunjukkan anggota tim. Teman saya yang lain kemudian berkomentar, “Yaah…, kalau sudah ada lebih dari dua orang karyawan dalam satu tim, sudah pastilah ada ‘politik’-nya”.

Politik kantor yang sering ditangapi orang dengan sikap “alergik” pada kenyataannya tidak pernah punah, bahkan merupakan realita. Kita sering tidak bersimpati dengan seseorang yang “sok bener” terutama di depan atasan, bahkan tega “menyingkirkan” semua orang dianggap tidak benar, apalagi membahayakan kedudukannya. Ada juga individu yang tidak kita sukai karena ia pandai sekali memanfaatkan “power”, dan bisa membuat ketergantungan atasan, atau perusahaan kepadanya, sehingga “timing” yang tepat, ia bisa unjuk gigi alias bermain dengan bargaining power-nya.

Mengapa situasi “politik” seperti ini menjengkelkan orang-orang yang berada di luar permainan? Menurut ahlinya, politik kantor ini menjadi kelihatan lebih nyata pada lembaga yang kekuatannya SDM-nya tidak seimbang, misalnya banyak yang produktif sementara banyak yang bermalas-malasan. Ada istilah “like and dislike”yang muncul karena standar kinerja yang sulit dibuktikan apalagi dihitung, juga job description yang tidak seimbang dan tidak jelas, yang kesemuanya bisa membangkitkan rasa tidak nyaman dalam bekerja. Rasa tidak aman ini terutama akan lebih terasa lagi, pada orang sama sekali tidak mau “bermain”  dan tidak menyadari apalagi tahu cara mainnya. Politik kantor memang sangat subyektif dan informal, inilah sebabnya hal itu terasa tetapi sulit diraba dan teraga.

Tahu Apa Yang Kita Mau

Teman saya, yang bekerja di sebuah perusahaan yang berukuran sedang merasa bahwa ia juga harus melakukan kegiatan lobby,  mengikuti kegiatan-kegiatan minum teh bahkan mempersuasi pengambil keputusan, ketika ia berusaha menjalankan rencana mengubah operating system jaringan informasi di perusahaannya. Melihat bahwa ia benar-benar berjuang demi penggantian sistem tanpa berniat mendaptkan kedudukan, kedekatan dan power bagi dirinya, saya lantas menanyakan hal apa yang ia bela mati-matian. Dengan santai ia menjawab bahwa yang ia bela adalah sekedar kinerja pribadinya. Tanoa kasak-kusuk, bujuk-membujuk, sikap super baik, dan mendekati orang-orang kunci, ia tahu tidak mungkin ia berhasil menjalankan perubahan yang menyulitkan di perusahaan tanpa adanya dukungan. “Sebetulnya saya tidak idealis-idealis amat. Saya tahu bila penerapan sistem ini gagal, karir saya akan terhambat”.

Untuk survive di lingkungan organisasi, kita memang perlu kuat dan berakar, serta tahu apa yang kita mau. Kita bisa menyasar hal-hal material, kita bisa mementingkan karir, kinerja dan peningkatan kompetensi, sementara orang lain yang memburu keterlibatannya dalam kelompok tertentu, power atau kontrol terhadap situasi. Namun, berdiam diri, dan berharap bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai dengan sistem yang ada, memang hampir tidak mungkin. “Kita perlu tahu di mana pusat kekuatan, siapa orang yang berpengaruh dan bisa mempengaruhi lingkungan sosial. Kita pun bisa me-‘licin’-kan upaya kita melalui pendekatan” demikian ungkap teman saya. Sepanjang kita bersikap fair, tidak manipulatif dan curang, me-lobby , mempersuasi dan berpolitik memang harus dilakukan. Sikap negatif seperti yang kita kenal misalnya “sistem kodok”, menyembah ke atas menendang ke bawah, tentunya adalah gaya yang tidak anggun dan tidak dilakukan oleh orang yang tahu berpolitik dengan baik.

Bertindak Halal Tanpa Menghalalkan Segala Cara

Ketika dalam suatu rapat, CEO tempat saya bekerja mengumumkan bahwa rekrutmen di perusahaan ini menganut sistem keluarga dan pertemanan, saya baru memahami bahwa di dalam berorganisasi ada realitas berpolitik yang perlu dicermati. Hal iini menyangkut siapa dekat dengan siapa, siapa mempunyai pandangan yang sama dengan yang mana, siapa pemain kunci dan siapa sekadar pengikut atau penggembira. Jejaring pertemanan yang berdasarkan kedekatan masa kecil, almamater, kesamaan pandangan meupaun ideologi biasanaya merupakan lahan berpolitik, baik di perusahaan maupun di organisasi lainnya. Sama seperti strategi perang, berpolitik pun memiliki pemetaan dan perencanaan yang mapan.

Dari pengamatan para ahli, orang-orang kuat dalam perusahaan dan organisasi biasanya memang bukannya tidak berstrategi, mereka juga “politically savvy”. Orang-orang ini tahu berhubungan dengan atasan, bahkan mendukung atasannya agar sukses. Bersamaan dengan upaya itu, seorang yang tahu berpolitik pasti berupaya untuk selalu “tampil” di rapat-rapat penting, tahu mendekati “orang-orang kunci”, menunjukkan “corporate manners” yang baik, dan menampilkan kemampuannya sebagai “team player”.

Berproduksi itu Mutlak, Berpolitik itu Cara Bergaul

Dalam organisasi apapun, kita hanya bisa eksis bila mempunyai kontribusi yang signifikan. Bila kita amati orang yang pandai me-lobby dan berpolitik, sementaranya produksinya “kosong”, maka orang ini lambat laun tidak bisa meneruskan karirnya. Kekuatan kita dalam berproduksi merupakan modal agar kita bisa diperhitungkan dalam peta organisasi. Individu yang produksinya di atas rata-rata tinggal mengasah cara berinteraksi, berapat, mendekati atasan dan orang-orang kunci, serta membuat diri lebih diperhitungkan dengan berusaha lebih bermain fakta, membina hubungan emosional yang sehat, berusaha menonjolkan orang lain tanpa lupa memunculkan diri sendiri. Kontribusi yang sudah kita tunjukkan jangan sampai dikotori dengan mempraktekkan cara gaul murahan seperti bergosip, menekan, menyalahgunakan jabatan, mencari muka tanpa alasan. (Eileen Rachman & Sylvina Savitri/ Kompas/ Klasika/ 28/06/2008)


Ratusan Kasus Pluralisme & Kebebasan Beragama Tak Selesai


Ratusan Kasus Pluralisme & Kebebasan Beragama Tak Selesai

Ratusan kasus pluralisme dan pelanggaran atas kebebasan dan berkeyakinan beragama banyak terjadi selama 2008. Kasus pelanggaran HAM, kekerasan, dan konflik yang timbul kebanyakan tak terselesaikan dengan baik.

Demikian hasil laporan tahunan The Wahid Institute 2008 di Hotel Bintang Griya Wisata, Jl Raden Saleh, Jakarta Pusat, Rabu lalu, Detik melaporkan.

“Beberapa regulasi seperti UU tentang Pornografi dan SKB Ahmadiyah bisa dipandang sebagai bentuk kemunduran,” ujar salah satu peneliti Wahid Institute, Rumadi.

Rumadi membeberkan, terdapat 232 kasus pluralisme sepanjang Januari hingga November 2008. Kasus tertinggi adalah kekerasan berbasis agama sebanyak 55 kasus.

Kedua, penyesatan agama sebanyak 50 kasus. Ketiga, hubungan antar umat beragama sebanyak 29 kasus.

Sedangkan bentuk pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan terdapat 280 kasus. Kasus tertinggi yakni penyesatan agama 43 tindakan.

Kedua, penyerangan fisik dan penganiayaan sebanyak 35 tindakan. Ketiga, pembatasan kebebasan berekspresi sebanyak 27 tindakan.

Detik/Kristiani Pos