Kronologi Penyerangan Kendari Versi Walhi

Kronologi Penyerangan Kendari Versi Walhi

Jumat, 28 Maret 2008 | 13:32 WIB

Pengirim berita: Syamsudin Haris

KRONOLOGI penyerangan terhadap peserta Deklarasi dan Konferensi Wilayah Ormas Sarekat Hijau Indonesia (SHI) Sulawesi Tenggara di Kota Kendari. Berikut kronologi yang disampaikan Arif Rachman, Direktur Eksekutif Walhi Daerah Sultra.

Hari pertama (Rabu, 26/3/2008/Jam 09.00-09.45)

Sekitar 800 orang massa aksi peserta Deklarasi dan Konfrensi Wilayah I Sarekat Hijau Indonesia (SHI) berkumpul di lapangan Eks MTQ Kendari di Jalan Balaikota (depan kantor Walikota Kendari dan DPRD Propinsi Sultra). Massa berasal dari berbagai kabupaten/kota se-Sulawesi Tenggara, di antaranya: Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Selatan, Kabupaten Konawe Utara, Kabupaten Muna, dan Kabupaten Bombana. Terdiri dari komunitas dan serikat-serikat rakyat dari elemen gerakan perempuan, buruh, petani, kaum miskin perkotaan, pedagang kaki lima (PKL), mahasiswa serta LSM. Selain itu, undangan deklarasi dari organisasi nasional seperti: WALHI, KPA dan Pengurus Pusat SHI (PP SHI) hadir bergabung dengan massa aksi.

09.45 – 10.00
Panitia memandu jalannya acara deklarasi dengan menjelaskan maksud dan tujuan diadakannya kegiatan Deklarasi Ormas SHI Sultra.

10.00-12.00dipandu oleh MC, pimpinan-pimpinan organisasi nasional menyampaikan orasi dan pesan solidaritas terkait dengan kegiatan deklarasi. Orasi pertama disampaikan Usep Setiawan (Sekjend Konsorsium Pembaruan Agraria). Orasi kedua oleh Charilsyah (Ketua Majelis Perwakilan SHI). Selanjutnya, Andreas Iswinarto (Sekjen Pimpinan Pusat SHI). Dan yang terakhir orasi politik oleh Chalid Muhammad (Direktur Eksekutif Nasional WALHI).

12.00-12.05
Panitia menyampaikan kepada massa aksi bahwa kegiatan deklarasi akan diakhiri dengan reli menuju kantor Walikota Kendari. Tujuannya untuk menyampaikan solidaritas kepada para PKL korban penggusuran oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari. Sebagai informasi, sudah sekitar 2 minggu sebelum acara deklarasi, Komite Persiapan SHI (KP SHI) Sultra secara rutin menggelar aksi-aksi massa bersama aliansi PKL dan gerakan mahasiswa menentang penggusuran PKL di Kota Kendari. Aksi ditujukan di kantor DPRD Kota Kendari maupun kantor walikota. Jarak lokasi dengan kantor walikota sekitar 500 meter.

12.05-12.20
Massa bersiap-siap mengatur barisan aksi reli. Sementara mobil komando dan sound system disiapkan.

12.20-12.25
Massa start dari lokasi Deklarasi menuju Jalan Raya Balai Kota.

12.25-12.40
Massa aksi tiba di depan pintu gerbang kantor walikota. Terjadi aksi dorong-dorongan dengan aparat pegawai Pemkot Kendari yang menghalangi massa aksi masuk ke halaman kantor Walikota. Situasi sedikit memanas. Korlap aksi menenangkan massa aksi. Terlihat sekitar 50-an orang kelompok preman yang selama ini diidentifikasi menjadi massa bayaran oleh Walikota Kendari untuk menghadapi aksi-aksi PKL bersama mahasiswa dan gerakan sosial lainnya. Kelompok ini bergabung menghalang-halangi massa aksi masuk dalam gedung. Setelah negosiasi, akhirnya massa aksi dipersilahkan masuk ke halaman kantor Walikota Kendari.

12.40-12.50
Massa aksi tiba di depan pintu masuk utama kantor Walikota. Korlap dan Wakorlap aksi menyampaikan orasi dan pesan solidaritas terkait dengan kebijakan Pemkot menggusur PKL Kota Kendari (khususnya di wilayah Pasar Andonohu, Pasar Baru Wua-Wua, Pasar Sentral Kota, Pasar Baruga, PKL Kadia, serta PKL di emperan-emperan toko di sepanjang jalan utama kota)

12.50-13.00
Massa aksi meninggalkan halaman kantor Walikota. Korlap aksi menyampaikan agar massa aksi tetap berbaris secara damai saat keluar dari halaman kantor. Massa mengikuti dengan tertib dan damai sembari terus meneriakkan yel-yel: Rakyat Bersatu Tolak Penggusuran; Bersama Bersatu Lawan Penindasan; Tanah untuk Rakyat; Bersatu, Bersarikat, Berlawan Tolak Kekerasan.

13.00-13.15
Massa aksi keluar meninggalkan kantor Walikota dikawal oleh sekitar 30-an aparat polisi berpakaian dinas maupun anggota Intelkam Polresta Kendari. Tiba-tiba salah satu peserta aksi yang berbaris dibagian belakang, Sdr.  Mastri Susilo Direktur Eksekutif LePMIL Sultra (33) dipukul dan dikeroyok oleh sekitar 5 orang dari kelompok preman. Selain itu, mereka juga mengeroyok Sdr. Andreas Iswinarto, Sekjend PP SHI (42) yang berada di depan Mastri Susilo. Andreas dipukul karena mencoba melerai dan menolong Mastri. Andreas dan Mastri mengalami luka-luka berupa memar dan lebam dibagian wajah dan tubuh akibat ditendang dan dipukul. Korban lainnya, Sari (13) masyarakat petani dari kawasan Taman Hutan Rakyat (Tahura) Murhum Kota Kendari, luka dibagian kepala terkena lemparan batu.  Akibat lemparan kepala korban mengalami pendarahan.

13.15-13.35
Melihat Mastri dan Andreas dikeroyok, massa aksi spontan berbalik arah dan membantu keduanya. Sementara, sekitar seratusan pegawai dan preman bayaran berhamburan keluar kantor Walikota. Mereka membantu menyerang massa aksi dengan melempar batu ke arah massa aksi. Batu ini diduga telah disiapkan sebelumnya. Sebab, di lokasi tak ada batu seperti yang digunakan para penyerang. Lalu para penyerang mengejar massa aksi dengan menghunus senjata tajam (sajam) berupa parang dan pisau (badik). Ada sekitar 15 orang yang terlihat memegang senjata tajam. Karena dilempar batu dan dikejar dengan menggunakan sajam, massa aksi berlarian menuju lapangan Eks MTQ. Para penyerang terus mengejar massa aksi. Peserta aksi yang mayoritas ibu-ibu dan mahasiswi banyak yang terjatuh dan terinjak-injak para penyerang. Terdengar tembakan yang dikeluarkan oleh puluhan anggota polisi di tengah penyerangan. Korban lainnya, Alimuddin Direktur Eksekutif SWAMI Muna (38) juga dikeroyok oleh sekitar 10 orang penyerang. 1 orang yang teridentifikasi adalah Kepala Dinas Kebersihan Pemkot Kendari, Agus Salim. Alimuddin dianiaya hingga terjatuh di aspal. Penyerang terus mengejar massa aksi hingga di lapangan Eks MTQ.

13.35-14.00
Massa aksi kembali merapikan barisan di lapangan Eks MTQ. Tim evakuasi aksi membawa para korban yang dikeroyok maupun yang terinjak-injak ke Rumah Sakit KOREM Wirabuana Kendari yang berjarak 500 meter dari lapangan Eks MTQ.

14.00-14.20
Delegasi massa aksi terdiri dari wakil-wakil setiap organ peserta Deklarasi yang berjumlah 10 orang kembali mendatangi kantor Walikota untuk memprotes tindakan kekerasan, serta menanyakan kawan-kawan peserta aksi yang masih terkurung dalam area kantor Walikota. Di belakang delegasi, menyusul barisan massa mahasiswa dari Fakultas Teknik Universitas Haluoleo (Unhalu) Kendari. Jumlahnya sekitar 50-an orang. Massa mahasiswa dan delegasi kembali bersitegang dengan aparat polisi, pegawai Pemkot, dan petugas Polisi Pamong Praja (Pol PP) Kota Kendari yang menghadang massa aksi di depan gerbang kantor Walikota. Terjadi aksi saling dorong antara massa mahasiswa dan aparat polisi, pegawai Pemkot dan Pol PP. Mahasiswa menyampaikan protes keras, sebab banyak kawan-kawan mahasiswa dan peserta Deklarasi yang terkena lemparan batu dan pukulan hingga masuk Rumah Sakit.

14.20-14.40
Pimpinan-pimpinan massa aksi melakukan konfrensi pers bersama mengecam keras atas tindakan penyerangan dan penyerbuan. Selain menyerukan agar supaya massa tetap solid dan tidak terpengaruh dengan aksi penyerangan.

14.40-15.00
Massa aksi meninggalkan arena Deklarasi. Peserta dari luar Kota Kendari kembali ke daerah masing-masing. Sementara sekitar 200 peserta Konfrensi Wilayah I SHI Sultra menuju arena Konfrensi di Gedung LPMP Kota Kendari.

22.00-23.00
Hasil rapat bersama elemen-elemen gerakan mahasiswa Kendari bersepakat untuk menggelar aksi damai pada hari Kamis (27/3) sebagai bentuk protes atas tindakan penyerangan.

Hari kedua (Kamis, 28/3/2008/jam 09.00-09.30)

Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Haluoelo (Unhalu) berkumpul di Kampus Lama Kemaraya Kendari. Jumlahnya sekitar 100 orang. Massa menuju lapangan Eks MTQ Kendari.

09.30-10.00
Sekitar 400-an mahasiswa dari berbagai Fakultas di Unhalu berkumpul di depan Gerbang Kampus Baru Unhalu di Jalan HEA. Mokodompit, Kambu Kota Kendari. Mereka lalu longmarch menuju lapangan Eks MTQ di Jalan Balaikota. Bergabung dengan massa mahasiswa Fakultas Teknik.

10.00-10.10
Mahasiwa melakukan diskusi singkat dan pengarahan terkait rencana strategi aksi.

10.10-10.25
Massa mahasiswa melakukan longmarch menuju kantor Walikota. Jaraknya sekitar 500 meter dari lapangan Eks MTQ Kendari.

10.25-10.35
Massa mahasiswa di depan pintu gerbang kantor Walikota saat hendak masuk. Massa dihalangi oleh aparat polisi dari Polresta Kendari. Jumlah aparat sekitar 30 orang. Terlihat sejumlah aparat polisi dari Intelkam Polresta Kendari. Jumlahnya sekitar 15 orang berada di sekitar massa mahasiswa.

10.35-10.45
Di depan pintu gerbang terjadi negoisasi antara pimpinan-pimpinan mahasiswa dengan Kasat Intelkam Polresta, AKP Bambang. Mahasiswa meminta dipertemukan untuk dialog dengan Walikota Kendari. Kasat Intelkam setuju. Massa mahasiswa mempersiapkan diri.

10.45-10.50
Saat massa mahasiswa hendak masuk ke dalam halaman kantor Waalikota untuk dialog, tiba-tiba ada provokasi terhadap massa aksi berupa lemparan batu oleh orang tak kenal kearah aparat polisi yang berjaga di depan pintu gerbang. Provokasi ini menyebabkan aparat polisi mulai melakukan pemukulan terhadap massa mahasiswa yang berada di baris terdepan. Massa mahasiswa mundur dan bertahan dengan alat-alat perlengkapan aksi yang dibawa (tiang bendera dan spanduk).

10.50-12.30
Aparat polisi mengejar massa mahasiswa dan terus memukul dengan menggunakan tongkat. Mahasiswa berlarian mundur sembari tetap merapikan barisan aksi di depan kantor Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Sultra yang berjarak sekitar 350 meter dari pintu gerbang kantor Walikota. Polisi melepaskan gas air mata serta tembakan ke udara berkali-kali untuk membubarkan massa mahasiswa. Polisi terus mengejar massa mahasiswa. Mahasiswa mundur hingga ke belakang lapangan Eks MTQ. Beberapa mahasiswa yang berlarian di sekitar kantor Walikota (terlepas dari massa aksi) dipukuli oleh pegawai Pemkot Kendari. 7 orang mahasiswa ditangkap dalam pengejaran ini lalu di tahan di Mapolsekta Mandonga. Beberapa saat kemudian ketujuh mahasiswa di pindahkan di Mapolresta Kendari.

Kedelapan mahasiswa tersebut adalah:
1. Aswan (20) Fakultas Hukum angkatan 2007
2. Radjab (23) FISIPOL angkatan 2002
3. Oko (21) Fakultas Teknik angkatan 2007
4. Irwan (23) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan angkatan 2004
5. Larompo Awal (23) FISIPOL angkatan 2004
6. Lafirman (21) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan angkatan 2006
7. Al Abzhar (27) Fakultas Pertanian angkatan 1999
8. Kubais (24) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan angkatan 2001

Rata-rata kedelapan mahasiswa mengalami penganiayaan saat ditangkap. Pada bagian wajah lebam dan berdarah. Sementara di bagian dada dan punggung terdapat bekas-bekas pukulan dan tendangan. Khusus korban Al Abzhar, mengalami bocor di bagian kepala dan memar di sekujur tubuh. Dia dirawat di Poliklinik Polresta Kendari.

12.30-13.00
Massa mahasiswa yang kocar-kacir dikejar aparat polisi dan pegawai Pemkot lalu naik menumpang truk dan angkutan umum yang lewat di belakang lapangan Eks MTQ, Jalan Supu Yusuf. Di kampus mahasiswa melakukan konsolidasi kembali.

13.00-14.00
Ratusan mahasiswa melakukan orasi-orasi dan penggalangan solidaritas atas aksi represif aparat polisi dan pegawai Pemkot Kendari sebelumnya. Aksi dipusatkan di depan gerbang I Kampus Baru Unhalu.

14.00-14.15
Sebagian massa mahasiswa masuk ke dalam kampus dan berkumpul di halaman gedung Rektorat yang digunakan sebagai Posko informasi bersama.

14.15-14.30
Sekitar 20-an anggota Buru Sergap (Buser) Polresta Kendari masuk ke dalam kampus dan langsung menyerang mahasiswa yang terkonsentrasi di gedung Rektorat. Mereka membawa senjata tajam (sajam) berupa parang dan pisau (badik); benda tumpul linggis dan balok kayu; serta membawa senjata api (senpi) jenis pistol colt. Berkali-kali mereka menembak mahasiswa yang membuat banyak mahasiswa kaget dan berhamburan menyelamatkan diri. Pasukan BUSER menguasai gedung Rektorat. Saat kejadian Rektor Unhalu, Prof. Mahmud Hamundu, MSc tidak berada ditempat.

14.30-16.15
Mahasiswa yang hendak menuju gedung Rektorat yang umumnya tidak terkait dengan aksi di kantor Walikota, serta yang mau mengurus kebutuhan akademik dikejar dan dipukuli oleh BUSER. Banyak yang luka-luka. Melihat kondisi itu, puluhan mahasiswa berusaha mengambil alih kembali gedung Rektorat. Terjadi aksi saling melempar antara BUSER dan mahasiswa. Terdengar berkali-kali suara tembakan yang dilepaskan ke atas dan kearah kerumunan mahasiswa. Satu orang mahasiswa dari Fakultas Ekonomi Unhalu (nama belum diketahui) terkena tembakan peluru tajam pada bagian paha atas. Korban dilarikan ke RSUD Propinsi Sultra oleh mahasiswa. Mengetahui ada mahasiswa tertembak, BUSER meninggalkan gedung Rektorat menuju pintu I kampus.

16.15-16.45
Mahasiswa berhasil menguasai gedung Rektorat.

16.45-17.40
Datang aparat polisi gabungan dari Satuan Pengendali Massa (Dalmas); Brimob dan Buser serta Intelkam. Mereka menggunakan 3 unit truk Dalmas, 2 unit mobil patroli pickup; 2 unit mobil patroli jenis Kijang; 20 unit motor patroli jenis trail; serta 1 unit mobil watercanon. Mereka langsung masuk mengepung dan melakukan teror di dalam kampus. Di dalam kampus, aparat gabungan ini melakukan tindakan kekerasan berupa:
1. Memukul siapa saja mahasiswa dan staf Rektorat yang ditemui berada di sekitar gedung rektorat.
2. Menghancurkan kaca-kaca di gedung Rektorat
3. Merusak kendaraan motor dan mobil mahasiswa maupun staf Rektorat yang diparkir di halaman gedung Rektorat
4. Melepaskan tembakan berkali-kali

Tindakan di atas membuat mahasiswa yang berada di dalam kampus, khususnya yang berada di gedung Rektorat menjadi panik dan berhamburan menyelamatkan diri. Setidaknya 30-an mahasiswa mengalami luka serius (kepala bocor, wajah bengkak dan lebam), serta luka ringan. Salah satu korban yang mengalami luka serius, Zuhdi Mulkian Presiden Mahasiswa Unhalu.

Adapun nama-nama korban yang teridentifikasi hingga hari Jumat (28/3) pukul 03.00 Wita yaitu:
1. Herman (26) Fakulltas Ekonomi angkatan 2000
2. Muhammad Fahri (22) Fakultas Teknik angkatan 2003
3. La Sara La Indi (23) Fakultas Teknik angkatan 2006
4. Wahid (26) Fakultas Ekonomi angkatan 2000
5. Hairil (19) AMIK Yapennas angkatan 2006
6. Ali (19) Fakultas Teknik angkatan 2007
7. M As’ad (20) Fakultas Teknik angkatan 2007

Dan lain-lain yang masih tersebar di beberapa Rumah Sakit yang ada di Kota Kendari di antaranya RSUD. Propinsi SULTRA, RS. Bhayangkara, RS. Korem, dan RS. Prayoga.

17.40-18.00
Aparat gabungan bergerak meninggalkan kampus. Di depan kampus mereka melakukan sweeping dan pemukulan pada siapa saja mahasiswa yang ditemui.

18.00-24.00
Suasana masih sangat mencekam. Aparat melakukan sweeping dan pencarian terhadap beberapa pimpinan lembaga kemahasiswaan yang dianggap terlibat aksi di depan Kantor Walikota pada siang hari tadi. (persda network/amb)

Iklan

5 Tanggapan

  1. Wah kronologisnya lengkap deh…

  2. apakah kejadian ini membenarkan tesis bahwa kekuasaan adalah alat bagi kelas penindas?

    turut beeduka cita atas matinya nurani kemanusiaan.

  3. atas nama apapun, kekerasan tidak bisa dibenarkan!!!

  4. gila… aparat dipersenjatai bertingkah kayak preman…
    itu membuktikan elit politik di kalangan bawah pun demikian apalagi yang atas…
    rakyat hanya untuk bulan-bulanan…
    ama negara tetangga aja ndak berani
    ee.. beraninya ama rakyat sendiri..

  5. aparat di jalanan, dipemerintahan, di masyarakat.. ndak pernah melindungi rakyat.
    dalam pendidikan akpol memang dididik seperti ini ya..?
    PENJAHAT dilindungi undang-undang..
    BAJINGAN… dipersenjatai…
    rakyat berduka dengan INDONESIA ku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: