AC Manullang: Penangkapan Ba’asir Adalah Grand Strategi AS


Amir Jamaah Ansharut Tauhid Ustadz Abu Bakar Ba’asyir kembali harus berurusan dengan polisi. Ia dicokok dalam perjalanan di Jawa Barat. Sederet pasal dengan hukuman maksimal menunggunya. Ia didakwa polisi sebagai dalang terorisme di Indonesia. Benarkah seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi? Untuk menjawabnya, inilah wawancara dengan AC Manullang, mantan Direktur Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN):

Menurut data intelijen yang Anda miliki benarkah Abu Bakar Ba’asyir terkait tindak terorisme?

Sejak kapan Abu Bakar Ba’asyir terkait teroris? Dari pengamatan intelijen, saya mengatakan, siapa pun di negeri ini, termasuk Polri, dan Kejaksaan Agung, tidak mempunyai data-data apapun juga bahwa Abu Bakar Ba’asyir itu teroris.

Masa sih, tidak adakah satu bukti pun yang menunjukkan keterkaitan Abu Bakar Ba’asyir dengan salah satu pemboman di Indonesia?

Sampai sekarang tidak ada yang mampu memberikan bukti itu. Yang ada adalah rahasia negara. Siapa itu? Ada di tangan presiden. Mengapa presiden tidak membuka? Dia ada hak untuk membuka itu. Sehingga dapat diketahui ada atau tidak bukti yang menunjukkan Abu Bakar Ba’asyir terlibat.

Bukankah Polri mengatakan penangkapan karena ada bukti?

Polisi mengatakan penangkapan itu sah karena sudah terbukti bahwa dia terlibat menerima dana dari luar negeri untuk mendanai latihan-­latihan terorisme di Aceh demikian juga di tempat-tempat lain. Wah luar biasa itu!

Jadi kemungkinannya Polri mendapat data dari intelijen luar negeri atau asing yang selama ini sudah mengategorikan Abu Bakar Ba’asyir itu the most wanted sebagai teroris. Sebaliknya, SBY mengategorikan dirinya sebagai the most target erancian terrorist, ha… ha… ha…

Jika betul bukti yang dimaksud Polri itu ada, maka penangkapan Abu Bakar Ba’asyir itu tidak perlu dihebohkan,.. cukup panggil saja dia.

Sebenarnya penangkapan tersangka terorisme boleh-boleh saja.

Tetapi mengapa heboh dan menangkapnya di pinggir jalan dan publikasi yang luar biasa?

Timbul pertanyaan, mengapa penangkapan teroris ini dipublikasikan luar biasa besarnya terutama yang diberitakan media televisi. Yang diuntungkan dalam publikasi­-publikasi ini adalah luar negeri. Pencitraan untuk umum khususnya masyarakat bawah mirip seperti sinetron-sinetron di televisi, cukup menarik perhatian bahkan iba kepada pimpinan nasional.

Padahal itu merupakan upaya penggiringan publik agar melupakan kasus skandal rekening gendut pejabat tinggi Polri, kenaikan TDL dan sembako, pilkada yang rusuh di mana-mana, biaya kunjungan luar negeri yang semakin membengkak, skandal Gayus, dan masalah-masalah lainnya yang menunjukkan buruknya kinerja pemerintah.

Maka intelijen menilai bahwa ini merupakan suatu strategi yang sangat penting buat SBY untuk tetap mendapat perhatian dan pencitraan positif dari publik dan Amerika Serikat bahwa Indonesia antiteroris. Ini semua memang bagian dari grand strategy Amerika Serikat yang mengusung neoliberalisme dan neokapitalisme sekaligus mencitrakan Islam sebagai lawannya.

…Dari pengamatan intelijen, tidak ada data-data apapun bahwa Abu Bakar Ba’asyir itu teroris…

Wah…

Memang aksi-aksi intelijen saat ini cenderung di dalam kerangka deceptions operation intelligent artinya penyesatan- penyesatan intelijen. Nah, grand strategi global ini menunjukkan dan memunculkan penyesatan yang paling terkenal yakni terorisme dan Abu Bakar Ba’asyir sebagai the most dangerous terrorist.

Pertanyaan saya, pertanyaan para intelijen, apa memang betul bahwa penangkapan Abu Bakar Ba’asyir itu sebagai penangkapan teroris?

Dari segi intelijen mengatakan sama sekali tidak bisa.

Tapi kan Polri menangkap Abu Bakar Ba’asyir mestilah ada dasarnya. Sudah dua kali dibawa ke pengadilan, namun aparat gagal membuktikan bahwa Abu Bakar Ba’asyir teroris. Apa hal yang sama akan terulang untuk ketiga kalinya?

Bukan tidak mungkin terjadi untuk yang ketiga kalinya. Karena saya berkata yang menjadi otak atau pelaksana adalah agen-agen intelijen asing itu yang ada di Indonesia. Tentu mereka bekerja untuk kepentingan CIA Amerika, Mossad Israel dan ONA Australia. Coba kita lihat, sampai ada polisi yang menjadi agen mereka yang melatih di Aceh. Jadi jangan dibilang Abu Bakar Ba’asyir dong, tetapi ya orang itu.

Tapi bisa saja pengadilan mengambil data-data dari mereka sebagai data yang sah atau tidak sah. Tetapi menurut pengamatan intelijen saya absolutely tidak sah. Mengapa? Karena bila berdasarkan data intelijen, seharusnya penangkapan Abu Bakar Ba’asyir dilakukan secara tertutup bukan malah dihebohkan.

…Penangkapan Abu Bakar Ba’asyir itu sangat besar artinya di luar negeri, tapi sangat merugikan Muslim Indonesia…

Penangkapan Abu Bakar Ba’asyir itu sangat besar artinya di luar negeri. Jadi sebenarnya dengan penangkapan Abu Bakar Ba’asyir sedemikian rupa sangat merugikan Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim ini, karena Indonesia akan benar-benar dimaknai oleh asing sebagai sarang teroris.

Mengapa bisa terjadi penyesatan intelijen, lantas apa peran BIN Indonesia?

Ya, karena intelijen Indonesia sekarang hanya sebagai pengamat, bukan operator sehingga tidak bisa melakukan operasi kontra intelijen.

Jadi maksud Anda selama ini BIN tidak difungsikan?

Betul. Sejak reformasi, sistem intelijen Indonesia diubah sedemikian rupa sehingga tidak bisa lagi melakukan kontra intelijen.

Bila BIN berfungsi seperti apa kontra intelijen yang seharusnya dilakukan?

Sedari awal dilakukan pencegahan dan tidak ada lagi pencomotan aktivis Islam. Jadi, sebelum terjadi sesuatu itu BIN harus sudah tahu sehingga pemerintah dapat mencegah. BIN melaporkan kepada presiden. Jadi sebelum ditangkap dan dibawa ke pengadilan sudah di-counter terlebih dahulu, diikuti orang itu dan bukan tidak mungkin juga di lapangan bertemu dengan agen-agen asing yang sedang melakukan penyesatan intelijen. Kontra intelijen perlu!

Tapi ingat BIN itu seharusnya bukan bekerja untuk presiden, bukan pula bekerja untuk legislatif, maupun yudikatif tetapi untuk rakyat clan negara Indonesia. Malah saya bilang intelijen berhak menjatuhkan presiden, karena BIN bekerja untuk rakyat dan negara Indonesia.

Mengapa sih asing terus bermain di Indonesia?

Menurut saya negara­-negara terutama Amerika, Israel dan Australia sangat berkepentingan dengan masa depan Indonesia. Karena menurut ketiga negara ini, Indonesia bisa menjadi ancaman, gangguan, tantangan bila umat Islam di Indonesia ini bersatu. Kalau itu terjadi apa bisa Israel tetap berdiri? Jelas tidak bisa. Apakah Indonesia tetap bisa jadi jembatan Asia Pasifik? Tidak bisa karena Indonesia jadi berdaulat, yang lewat harus bayar dong.

Jadi sekarang ini Indonesia selalu diobrak-abrik, dipecah­-pecah. Dari segi intelijen, tidak mungkin pecah Indonesia ini kalau bukan oleh orang Islam sendiri yang dipakai oleh intelijen. Sasaran utamanya memang negara-negara Arab.

Tuhan memang telah memberikan anugerah yang sangat luar biasa kepada Islam. Di seluruh negara-negara Islam ada minyaknya. Amerika mengincar itu. Jadi target utama Amerika itu adalah Turkmenistan, Uzbekistan, Tazikistan, Kargikistan, karena keempatnya merupakan negeri yang tidak akan habis minyaknya sampai berakhir bumi ini. sekarang keempat tempat tersebut sudah aman dikuasai oleh pengusaha‑pengusaha Yahudi. Nah yang dianggap paling mengancam eksistensi Yahudi kelak adalah Indonesia, ketika umat Islam terbesar ini bersatu.

Untuk mencegah persatuan itu, maka salah satu caranya adalah dengan membawa neoliberalisme dan neokapitalisme. Paham inilah yang mengatakan Islam sebagai teroris.

…orang-orang yang ada di sekeliling SBY ini adalah orang-orangnya CIA. SBY itu dibodoh-bodohi oleh orang­-orang yang dipakai CIA itu. Mereka menjadi pembisik-pembisik SBY…

Siapa ”orang Islam sendiri” yang Anda maksud dimanfaatkan intelijen Amerika, Israel dan Australia itu?

Intelijen tidak pernah menyebutkan keterangan apapun karena memang tidak boleh. Yang bisa menyebutkan keterangan hanyalah presiden. Cuma, saya hanya boleh mengatakan orang-orang yang ada di sekeliling SBY ini adalah orang-orangnya CIA. SBY itu dibodoh-bodohi oleh orang­-orang yang dipakai CIA itu. Mereka menjadi pembisik-pembisik SBY! [taz/media umat]

–> dari http://www.voa-islam.com/news/interview/2010/08/25/9528

Iklan

Pelurusan Berita Kasus Gereja Katolik di Bali (dari SVD)


Sumber informasi: dari “donatus Simbolon” <donatussvd@yahoo.com> –> To:corona_mea_vos_estis@yahoogroups.com (Donatus Simbolon, salah seorang Romo SVD)

Pelurusan berita:

1. Memang terjadi pengambil alihan Gereja. Karena Rm. Yan, sudah 15 tahun tidak taat dan menolak untuk dipindah dari Singaraja. dia dulu anggota Konggregasi SVD; yang akhirnya dipecat juga dari sana oleh Jenderal SVD, karena keras kepala dan ketidak taatan.

2. Selama 14 tahun, sudah 3 Uskup mencoba menawari dia berbagai kemungkinan dari studi di luar negeri, boleh pilih paroki mana yang diinginkan. Waktu dia dikeluarkan oleh Kongregasi SVD, para uskup ini menawarkan Rm. Yan untuk menjadi romo projo. 2 uskup terdahulu, menawari dia jadi romo Projo DI LUAR keuskupan Denpasar. Uskup yang sekarang, Mgr. Silvester San, menawari dia menjadi projo Keuskupan Denpasar. Tapi Rm.Yan menolak dan menyatakan ingin tetap jadi romo SVD. bahkan dia masih memakai gelar SVD pada namanya.

3. Setelah semua usaha pendekatan personal dan pastoral tidak berhasil, Mgr. San menghadap Bupati Singaraja untuk menengahi. Bupati menugaskan Kementrian Agama (dulu Dept. Agama) Singaraja untuk jadi penengah. Mgr. San dengan team dari Denpasar datang; tetapi Rm. Yan yang rumahnya hanya 50 meter dari Kantor Agama, menolak datang. harap diketahui, Singaraja itu ada di ujung utara P. Bali, memakan waktu 2 setengah jam dari Denpasar.

4. lalu Mgr. San membuat surat pernyataan yang menjelaskan kronologis ketidak taatan Rm. Yan yang disebarkan kepada semua Uskup di Indonesia dan paroki-paroki yang terkait. Mgr. San datang ke Singaraja untuk menjelaskan surat ini langsung kepada umat yang setia kepada uskup. Ada umat dari pihak Rm. Yan yang datang, lalu minta Uskup menjelaskan hal ini di Gereja Kartini (istilah yang kita gunakan untk gereja yang diduduki Rm. Yan). setelah mendapat kepastian bahwa Mgr. San memang ditunggu di Gereja Kartini, maka rombongan kesana. Tetapi penjelasan Mgr. San tidak diterima baik, malah dicaci maki dan dilecehkan.

5. Pihak keluarga Rm. Yan, yang berasal dari paroki Tuka di dekat Denparar mencoba mendatangi Rm. Yan. tetapi ditolak oleh para pendukung Rm. Yan dan dia sendiri hanya diam saja.

6. Setelah semua upaya damai gagal, Mgr. San membuat pengaduan ke polisi, tentang pendudukan tanah dan gedung gereja secara tidak sah. sayang polisi menyatakan: belum ditemukan indikasi tindak pidana; dinyatakan bahwa ini adalah masalah internal Gereja Katolik.

7. Karena semua usaha mencari penyelesaian tanpa kekerasan tidak berhasil; Mgr. San memutuskan untuk menyelesaikan hal ini secara internal Gereja. Mgr. San mengumpulkan tokoh-toloh etnis NTT (sebagian besar pendukung Rm. Yan itu orang NTT dan Timor Leste); pihak keluarga Rm Yan untuk masuk ke Gereja Kartini; dengan tekanan setiap kelompok etnis menangani orang-orangnya sendiri, Rm. Yan ditangani oleh keluarganya. sasaran tindakan ini adalah mengeluarkan Rm. Yan dan Annis Ola (koster yang sangat berpengaruh pada Rm. Yan) yang menjadi sumber keonaran di paroki Singaraja selama lebih dari 15 tahun dari pastoran dan rumah koster.

8. Hari Minggu, tua-tua adat suku Annis Olla datang menemui dia untuk mengajaknya keluar. tetapi hal ini ditolak dan menjadi titik awal persiapan mereka untuk mempertahankan diri. bahkan mereka memanggil preman dari desa di Singaraja dan melaporkan ke Polres bahwa Gereja kartini akan diserang oleh premannya uskup.

9. pada pagi hari sebelum kami masuk, Polres Singaraja mengadakan sweeping dan mengeluarkan 14 orang yang memang dikenal sebagai preman dan meminta semua orang yang bukan Katolik untuk keluar dari Gereja Kartini.

10. Pada saat kami akan masuk, kamu berbaris di depan gereja untuk berdoa. tetapi kami sudah dimaki-maki oleh seseorang dari Gereja Kartini dan disebut preman Uskup dan mengusir. anak-anak muda mulai terpancing emosinya, tetapi masih dapat dicegah. tetapi saat doa mulai, provokasi lain, pintu gerbang gereja dibuka-tutup. ketika beberapa orang mendekat, pintu ditutup dan digembok kembali. emosi anak-anak muda tidak dapat dikontrol; mereka mendobrak pintu gerbang dan menyerbu masuk. tetapi waktu itu para tua-tua adat masih dapat menguasai anak buahnya. mereka meminta kelompok sukunya yang membela Rm. Yan untuk keluar meinggalkan Gereja. tetapi ada 1 anak muda, Theo, menolak untuk keluar. akibatnya, ketika ia ditemukan, tanpa memakai pita putih yang menjadi tanda kami, maka dia diserbu. tetapi akhirnya Etnis Manggarai berhasil mengeluarkan dia dari gereja.

11. Kami mencari dimana Rm. Yan dan Annis Ola bersembunyi. Annis ditemukan bersembunyi di sakristi Gereja. Kelompok etnisnya mengeluarkan dia dari gedung gereja dan melindungi dia dari massa yang panas. dia langsung dimasukkan ke mobil dan dibawa ke Denpasar. lalu istri Annis, diminta mengeluarkan harta bendanya dari rumah koster dan membawanya pergi. Saya tidak ada disana, tetapi sesudah semua selesai, saya tidak melihat ada jendela dan pintu yang rusak di rumah koster. bahkan kelompok etnisnya membantu membawa keluar inventaris keluarga itu. dan dari berita yang ada, tidak ada kabar bahwa anak Annis terluka oleh pecahan kaca. karena tidak ada kaca yang pecah.

12. tindakan yang kedua adalah mencari dimana Rm. Yan bersembunyi. dihadapan polisi, tiap etnis dibagi dalam beberapa kelompok untuk mencari di semua ruangan yang ada. karena semua terkunci, maka pintu-pintu dijebol; juga lemari-lemari yang mungkin menjadi tempat persembunyian Rm. Yan. Dan Rm Yan ditemukan. dia tidak melawan, tetapi menolak untuk keluar. sehingga oleh keluarganya sendiri, tetpaksa diseret dan dimasukkan ke mobil untuk dibawa pulang ke rumah keluarganya di Paroki Tuka.

13. Setelah selesai, kami merayakan Misa di gereja bersama rombongan Denpasar dan umat Singaraja yang setia kepada uskup. kemudian kami mengumpulkan milik pribadi Rm. Yan dan siap akan diantar besok ke rumah keluarga.

==============

Berita tentang Romo Yan Tanumiharja

(Kasus pengambilalihan Gereja St. Paulus Singaraja – Bali)

Temen-temen ada sedikit yang ingin saya infokan sehubungan dengan “Kasus Singaraja”. Barangkali teman-teman semua sudah pada mendengar, mengikuti atau diam-diam memberikan penilaian atas apa yang terjadi di Singaraja. Sebenarnya bukan masalah baru. Hitungan waktu, kasus Singaraja sudah berlangsung kuruang lebih 15 tahun. Berbagai macam pendekatan sudah dilakukan. SVD sendiri bahkan pernah menurunkan Pater Jenderal. Demikian juga provincial pada waktu itu. Tidak terhitung berapa kali bolak balik ke Singarja. Namun persoalan tidak bisa terselesaikan. Sebabnya karena perbedaan persepsi dan titik pijak. Yang satu bersikukuh dengan pencabutan yurisdiksi yang lainnya berpangkal pada kebenaran dalam perjuangan. Yang satu menafikan yang lain. Akhirnya tidak kunjung ada penyelesaian. Dialog yang dilaksanakan berulang-ulang juga tidak menghasilkan titik temu.

Rute perjalanan kasus kurang lebih seperti ini. Waktu itu sekitar tahun 1996, Romo Yan Tanu yang saat itu menjabat sebagai pastor paroki berupaya mengadakan pembenahan. Akhirnya bersinggungan dengan orang-orang. Pro kontrapun berlanjut, apalagi akhirnya menyangkut harga diri. Lahirlah dua kubu. Dalam situasi ini, uskup pada waktu itu mengambil langkah penyelematan untuk memindahkan Rm. Yan, karena dianggap lebih baik untuk dia sambil menenangkan diri. Namun apa daya. Maksud baik, ditanggapi negatip dan penuh curiga. Dua kubu semakin runcing, bak bola salju. Romo Yan akhirnya kena talak, mendapat  pencabutan Yurisdiksi karena dianggap tidak taat dalam pemindahan tugas. Beliau melawan dengan alasan masih harus meneruskan perjuangan menegakkan kebenaran. Kalau tidak salah pencabutan yurisdiksi (larangan memberi misa dll) terjadi pada tahun 1997. SVD  yang merasa sangat mengasihi Rm. Yan memanggil pulang ke rumah SVD di Surabaya. Namun apa daya, maksud baik kembali dicurigai sebagai sebuah persekongkolan. Oleh sebab itu pada tahun 1998 (kalau tidak salah), Rm. Yan dikeluarkan dari SVD dan tahun 1999 dikukuhkan oleh Vatikan.

\

Persoalan menjadi kian rumit, karena Rm Yan bergeming dengan situsi ini. Bahkan semakin menyemangati dia untuk berjuang. Bersama dengan umat yang ‘bersimpati’ atau mungkin diam-diam tahu duduk persoalan, mulai pasang badan terhadap Rm. Yan, Ada yang secara terang-terangan, ada juga yang secara diam-diam. Apalagi Rm. Yan selalu mengidentikkan perjalananhidupnya dengan Tuhan Yesus yang berjuang sampai titik darah penghabisan, membela kebenaran (walaupun relative untuk ukuran manusia). Kebenaran yang benar hanya ada pada Tuhan (kalau tidak salah lo). Inti perdebatan dialog tidak pernah bisa dikompromikan. Sama-sama merasa kuat. Situasi ini akhirnya semakin mengkristal dalam dua kubu yang disebut Gereja Atas (susteran, panti sila) dan Gereja Bawah (jl, Kartini yang menguasai Gereja asli). Situasi ini menjadi duri dalam daging bagi Keuskupan Denpasar, dan tentunya juga bagi Gereja Universal, apalagi kita bicara dalam konteks misi dan kesaksian. Apa kata dunia?

Singkat cerita, akhirnya tiba Mgr. Silvester San. Setelah mendapatkan beberapa masukan, sebagai seorang gembala utama, beliau tergerak untuk mengadakan pendekatan kekeluargaan dengan Rm. Yan. Kebetulan saya juga dilibatkan. Kalau tidak salah Bulan Februari 2009 kami (uskup, rm. Bebey dan Bpk Rehaniban) memberanikan diri datang ke Pastoran Singaraja, walaupun kehadiran kami sangat tidak diharapkan. Berbekalkan niat baik, kita mulai bertegur sapa. Istilahnya silaturahmi atau menyama braya dengan harapan pendekatan budaya ini lebih meluluhkan hatinya. Awal yang cukup bagus karena kami disuguhi kopi, lalu disiapkan juga makan siang oleh umat gereja bawah. Acara cukup santai, akrab dan berbunga. Rupanya ada harapan, karena sekali waktu kita akan bertemu kembali. Benar saja. Beberapa minggu kemudian, kami bertemu kembali di Keuskupan. Rm. Yan datang dengan 6 orang ‘pengawal’ setianya. Kita berbincang. Akhirnya sampai pada inti yang disampaikan oleh Bapak Uskup. Rm. Yan diharapkan memulihkan kembali Yurisdiksinya dengan jalan menjadi imam diosesan. Itulah satu-satunya jalan yang terbaik. Jalan yang lain tidak ada dan di luar kemampuan bapak uskup, mengingat Rm. Yan sudah dikeluarkan sebagai anggota SVD. Rm Yan pada waktu itu tidak diminta untuk memberikan jawaban langsung karena mungkin perlu dipikirkan atau direnungkan.

Sembari menunggu jawaban, akhirnya pertemuan dilangsungkan kembali di Singaraja dengan harapan sudah ada jawaban. Namun sayang jawaban beliau sangat mengecewakan bapak uskup. Apalagi dalam pertemuan terbuka di hadapan umat, rm. Yan dengan keras tetap bersikukuh dengan peniriannya dalam membela kebenaran dan tidak mungkin dipaksa masuk imam diosesan. Tegasnya beliau tidak akan pindah menjadi imam projo. Sekali lagi dialog menemui jalan buntu. Pintu sudah dibuka tetapi Rm. Yan tidak bersedia masuk atau menerima jalan itu. Diam-diam permusuhan dan kebencian semakin meruncing. Apa mau dikata. Persoalan harus cepat diselesaikan demi masa depan yang lebih baik. Baik untuk kita semua begitulah yang kira-kira kita harapkan, walaupun semuanya masih samara-samar bahkan gelap. Bapak uskuppun melalui aparat keamanan menyampaikan somasi. Samai batas somasi yang kedua, Rm. Yan tidak mau beranjak dari Gereja Kartini yang dalam istilah hukum ditempatinya secara tidak sah karena tanah dan bangunan adalah milik Keuskupan Denpasar. Puncaknya adalah pengambilalihan lahan dan bangunan gereja.

Bapak uskup setelah merundingkan dengan dewan imam dan dewan konsultores mengambil langkah-langkah hukum untuk kemudian berkoordinasi dengan pihak aparat keamanan dan didampingi pengacara. Pada tanggal yang telah ditetapkan yakni 24 Agustus 2010 terjadi pengambilalihan secara paksa gereja dan seluruh asset. Rm Yan sendiri bertahan di kamarnya, sementara beberapa orang yang setia mendampingi Rm Yan diamankan oleh orang-orangnya. Di sini kita tidak bicara suku-suku, namun dalam hal ini mau tidak mau kita melibatkan orang-orang yang dianggap mampu melapangkan jalan ini. Syukur semuanya berjalan dengan baik. Para imam sendiri melibatkan diri di dalamnya untuk memberikan suasana damai supaya jauh dari sikap anarkis. Memang ada sedikit kekerasan, namun situasi dapat diatasi kembali. Rm Hans yang mendapat SK untuk Paroki Singaraja kemudian ditempatkan di pastoran dan diharapkan mampu mengendalikan situasi dan menata kembali kehidupan jemaat. Ini pekerjaan yang tidak gampang.

Rm Yan sendiri memang sempat dipaksa keluar dari kamar. Namun semuanya itu untuk maksud baik. Para kerabat dari Tuka dan Palasari ikut menemani dan mendampingi Rm. Yan sehingga Romo Yan dapat dihantarkan ke rumahnya di Tuka. Kebetulan saya ikut menemani Rm Yan dalam satu mobil. Situasi sama sekali tidak nyaman, karena sepanjang jalan Singaraja – Tuka saya harus berhadapan langsung dengan Rm. Yan bersama 3 orang termasuk sopir. Kata-kata romo Yan dalam mobil adalah ratapan dan perlawanan. Ada semacam ketidak adilan yang beliau rasakan. Namun saya sendiri harus menguatkan diri dalam situasi yang serba salah. Sebagai sesama imam dan orang Bali ada rasa sedih. Apalagi pihak keluarga juga tidak siap lahir batin. Bersama Rm Paulus Payong saya berupaya menenangkan keluarga, dalam hal ini kakaknya Rm Yan. Ratap tangis yang memilukan; sulit menerima kalau romo yang sangat mereka kasihi dikembalikan di tengah-tengah keluarga. Kiranya doa kita semua menyertai mereka. Juga untuk masa depan Gereja di Bali, dan di Singaraja khususnya. Tuhan memberikati kita.

Denpasar, 24 Agustus 2010

Uskup Denpasar: Tak Ada Penganiayaan


Uskup Denpasar: Tak Ada Penganiayaan

Evakuasi Pastor Yan

parokisingaraja(Jakarta 24/8/2010)Uskup Denpasar Mgr Sylvester San Pr melakukan klarifikasi atas pemberitaan yang menyebutkan adanya pengusiran paksa dan penganiayaan terhadap Romo Yan Tanu di Paroki Santo Paulus, Singaraja, Denpasar, Bali, Selasa (24/8/2010) pagi tadi.

Uskup juga membantah telah terjadi pengusiran dengan cara kekerasan ataupun penyanderaan terkait upaya Keuskupan Denpasar untuk meminta Romo Yan Tanu meninggalkan Paroki Santo Paulus, Singaraja.

“Sehubungan peristiwa tadi pagi, apa yang terjadi tidak seperti yang diberitakan. Tidak ada perusakan gereja, penganiayaan, atau penyanderaan terhadap imam. Yang ada adalah pastor paroki yang sah, yaitu Romo Handriyanto masuk ke gereja untuk melaksanakan tugas pastoralnya,” jelas Mgr Sylvester San kepada artawan di Wisma KWI, Jalan Kemiri, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa malam.

Menurut Mgr Sylvester, kejadian pada pagi tadi merupakan upaya Romo Handriyanto Pr selaku Pastor Paroki Singaraja yang sah untuk melakukan dialog dan meminta Romo Yan Tanu agar segera menaati perintah Keuskupan. Romo Yan Tanu yang sebelumnya tergabung dengan tarekat ordo Sabda Allah, SVD, telah dicabut keanggotaannya dari SVD karena ketidaktaatannya pada atasannya, yakni Provinsial SVD dan Keuskupan Denpasar lantaran menolak untuk dipindahkan ke paroki lain.

“Sejak tahun 1996 dia sudah menolak perintah Keuskupan untuk dipindahkan ke paroki lain. Setelah itu dia diperingatkan karena nantinya dia bisa dikembalikan ke tarekatnya dan bisa dicabut yurisdiksinya sebagai imam. Tetapi dia tetap menolak, sehingga akhirnya dikeluarkan SK pencabutan yurisdiksinya dan dikembalikan ke tarekatnya. Pendekatan oleh tarekatnya sendiri pun dia tetap menolak, akhirnya dibuat proses pemecatannya sehingga dia dikeluarkan dari SVD,” ungkapnya.

Sejak 1996 hingga kini, kata Mgr Sylvester, pihak Keuskupan sudah lebih dari lima kali melakukan dialog dengan Romo Yan Tanu. Namun, Romo Yan Tanu tetap menolak dan memilih bertahan sebagai Imam Kepala Paroki Santo Paulus Singaraja.

Upaya yang dilakukan pada pagi tadi, sebutnya, merupakan pertemuan dari Romo Handriyanto selaku Imam Kepala Paroki Santo Paulus yang baru dan resmi untuk meminta Romo Yan Tanu agar segera meninggalkan paroki sesuai dengan perintah Keuskupan Denpasar.

“Keuskupan cuma berupaya mengambil hak-haknya. Dalam upaya tadi kami juga sudah menginformasikan kepada jajaran Muspida Bali sebagai sosialisasi Romo Handriyanto yang merupakan pastor resmi Paroki Santo Paulus,” tegasnya.

Lebih lanjut, Mgr Sylvester juga membantah adanya tindakan-tindakan kekerasan disertai perusakan gedung gereja. Menurutnya tidak ada bentrokan antar umat paroki dalam kejadian tersebut. “Memang ada umat yang tetap mendukung Romo Yan, tetapi itu hanya segelintir, dan tidak ada yang melakukan kekerasan atau bentrokan,” terangnya.

Setelah upaya dialog tersebut, kata Mgr Sylvester, Romo Yan Tanu sudah meninggalkan Paroki Santo Paulus sebagaimana perintah Keuskupan Denpasar. Romo Yan, sebutnya, dalam kondisi baik dan dan saat ini telah kembali ke keluarganya di Desa Tuke, Badung.

“Saat ini sudah tinggal bersama keluarganya di Tuke dan kondisinya baik-baik saja,” pungkasnya.(kompas.com)

Kronologis Kasus Gereja Katolik Singaraja Bali


Seputar Aksi Di Gereja Katolik
Singaraja

Rekan-Rekan PWKI …….
melalui kesempatan ini, Solidaritas Jurnalis Katolik Bali (SJKB) menjelaskan beberapa hal terkait aksi umat
Katolik di Denpasar saat mengambil alih Gereja Katolik Santo Paulus Singaraja pada tanggal 24 Agustus kemarin,
yang telah 15 tahun dipimpin oleh Pastor Paroki yang sudah dicabut yurisdiksinya (wewenang pelayanan patoral)
oleh Uskup Denpasar tahun 1996 dan telah dipecat oleh konggregasi SVD di Vatikan pada tahun yang sama. Adapun
penjelasan dan kronologis peristiwa sebagai berikut:

1. Tanggal 24 Agustus
pukul 05.20 wita, puluhan umat (96 orang), selain para pastor berkumpul di Gereja Katedral Roh Kudus Denpasar, Jl. Tukad Musi No 1. Denpasar. Selanjutnya berdoa didalam gereja dipimpin oleh Rm. Kris Ratu SVD, Pastor Paroki
Katedral.
2. Pukul 06.15. wita umat  dan para pastor berangkat menuju Singaraja menggunakan 4 bus, beberapa umat lain menggunakan kendaraan pribadi (mobil). Tiba di puncak Pancasari, Bedugul pada pukul 7.30 wita. Rombongan istirahat sejenak sambil menunggu rekan-rekan lain yang nyusul dari belakang. Saat itu juga beberapa tokoh umat
menjelaskan beberapa hal  terkait aksi damai pengambil-alihan gedung paroki.

3. Aksi mengambil alih Gereja Katolik Santo Paulus Singaraja dikomandani oleh Rm. Y. Handrianto Wijaya, Prsebagai Pastor Paroki resmi yang diangkat oleh Uskup Denpasar (Bali & NTB) Mgr. Dr. Silvester San Pr pada bulan Juli 2010 lalu. Rm Handrianto didampingi oleh Vikjen Keuskupan Denpasar Rm. Yoseph Wora, SVD dan Direktur Pusat Pastoral Keuskupan Denpasar, Rm. Herman Yoseph Babey, Pr serta sejumlah imam sebagai  wujud solidaritas antar klerus. Kordinator Lapangan adalah Ardi Ganggas dan Yusdi Diaz.
4. Dalam perjalanan kami mendapat informasi dari intel  Polda Bali dan Polres Buleleng, bahwa, sekitar 15 orang pria bukan agama Katolik telah berada di dalam halaman  gereja paroki. Setelah dirahasia oleh intel ternyata,
4 orang didapat membawa senjata tajam dan langsung diamankan oleh aparat. Dan yang lainnya oleh intel diberi
pengertian, bahwa ini masalah internal gereja Katolik sehingga yang lain tak perlu ikut campur.
5. Pukul 09.15 wita rombongan tiba jalan Kartini (lokasi gereja) dan bergabung dengan umat Katolik di Singaraja termasuk pastor paroki yang sah. Selanjutnya, dilakukan doa dan nyanyian sebelum memasuki halaman
gereja. Namun pada saat yang sama gerbang gereja ditutup dan di depan gerbang dipasang patung Yesus. Padahal, sebelum rombongan tiba, gerbang tersebut terbuka sehingga umat bebas keluar masuk.
6. Beberapa saat kemudian gerbang dibuka paksa dan umat masuk ke dalam halaman gereja untuk mengambil orang-orang yang selama ini telah menguasai gereja Katolik tanpa garis komando hirarki gereja. Memang, gaduh dan ribut karena semua umat berteriak meminta yang didalam kamar untuk keluar. Bahkan ada yang mendobrak karena beredar informasi masih ada preman yang ada didalam ruangan.
7. Setelah gereja dikuasai, Anis Ola—Koster  Paroki Singaraja diangkut keluar ruangan. Karena  melawan, ybs dievakuasi paksa  dan diserahkan ke Ikatan Keluarga Besar Ende Lio (Wuamesu) Denpasar Bali yang langsung mengantarnya ke Denpasar.
8. Beberapa menit kemudian, giliran Rm. Yohanes Tanumiarja dievakuasi keluar dari kamarnya dan diserahkan
ke keluarga yang telah menunggunya untuk diantar ke Tuka, Badung. Rm. Yan Tanu pun melawan, namun tetap dipaksa masuk ke kendaraan yang telah disiapkan oleh keluarga.  Bahkan room sempat berteriak dan menolak masuk ke dalam
mobil.
9. Sebelumnya, ajudan Rm. Yan Tanu juga diambil paksa tanpa perlawanan dan diserahkan ke keluarga besar
Manggarai. Selanjutnya, seluruh penghuni di sekitar gereja, dan pastoran diminta untuk keluar semua, karena
ruangan akan dibersihkan untuk persiapan pastor paroki baru. Setelah itu, semua umat membersihkan semua yang ada di gereja dan pastoran.
10. Hanya dalam waktu satu jam, lima belas menit gereja dikuasai. Setelah itu, pada pukul 12.30 wita diadakan
perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Pastor Paroki Singaraja yang baru Rm. Handrianto Pr dan didampingi 9
imam dari Keuskupan Denpasar..

My Friends… peristiwa 24 Agustus 2010 (kemarin) memang, banyak yang menafsirkan dan memberi pandangan yang berbeda-beda termasuk “sesama bis kota “. Tapi inilah hasil rekaman SJKB yang bisa kami bagikan ke teman-teman untuk dijadikan informasi tambahan seputar aksi yang dilakukan kemarin. Namun, yang terpenting dari semua itu
adalah momentum 24 Agustus, kado terindah bagi Keuskupan Denpasar yang pada bulan September nanti berusia 75
tahun.

salam dari negeri sejuta dewa

Solidaritas Jurnalis Katolik Bali (SJKB)

Emanuel Dewata Oja ——-Ketua

Agustinus Apollo——Sekretaris

Pastor Yans (Yohanes Tanumiharja) Dikeluarkan Paksa dari Paroki


Pastur Yans Dikeluarkan Paksa dari Rumah
SINGARAJA, KOMPAS.com – Sekelompok orang mengeluarkan Pastor Gereja Paroki Santo Paulus Romo Yohanes Tanumiarja alias Romo Yans beserta keluarga secara paksa dari kediamannya di Jalan Kartini, Singaraja, Selasa (24/8/2010)

Peristiwa yang berlangsung sekitar pukul 09.00 Wita itu, dilakukan sekelompok
orang dari Keuskupan Denpasar setelah Romo Yans dianggap tidak menaati aturan
Gereja Katolik serta keputusan di internal induk organisasi keagamaan Katolik
yang membawahi Bali serta Nusa Tenggara Barat.

Pada aksi paksa itu sempat terjadi penganiayaan serta perusakan pada bagian
bangunan gereja, tepatnya pagar masuk dan sejumlah kaca jendela berikut pintu
masuk bangunan rumah tersebut.

Seorang anak perempuan bernama Aurelia (5) yang ketika kejadian berada di dalam
rumah, mengalami luka di bagian kepala akibat pecahan kaca saat sekelompok orang

tersebut mengamuk dan menyeret semua penghuni keluar dari rumah itu.

Selain Aurelia, Theo yang merupakan pengikut Romo Yans, juga mengalami pemukulan

serta pengeroyokan dalam kejadian perusakan kawasan suci tersebut.

Pasukan pengendali massa di bawah komando Kompol Ida Bagus Wedana Jati dari
Kepolisian Resor Buleleng tidak bisa mencegah aksi sekelompok orang yang
menyebut bahwa tindakan mereka tersebut merupakan bentuk penyelesaian di
internal umat Katolik.

Dalam kejadian tersebut, juga hadir beberapa pastor dari Keuskupan Denpasar yang

dipimpin oleh Romo Herman Yosep Beby serta Romo Yohanes Handriyanto Wijaya alias

Romo Hans selaku pastur yang diberi mandat untuk menggantikan tugas-tugas Romo
Yans di gereja umat Katolik Singaraja.

Dalam kelompok tersebut, juga terlihat mantan Kabid Humas Polda Bali Komisaris
Besar Polisi (purn) AS Reniban yang tiba bersama rombongan keuskupan Denpasar
untuk melakukan pengusiran kepada keluarga Romo Yans.

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Dewa Nyoman Sukrawan terlihat hadir setelah aksi
massa Keuskupan Denpasar yang sempat menyeret Romo Yans ketika bersembunyi di
sebuah ruangan kamar tidur bagian depan rumah.

Tak hanya Romo Yans yang digelandang massa, Yohanes Ola alias Pak Annis, selaku
pembantu Pastor Yans juga diseret serta dimasukan ke dalam mobil dan disebutkan
untuk dievakuasi ke rumah keluarga.

Salah satu pendukung Romo Yans, yakni Antonius Kiabeni, warga Jalan Pulau
Sugara, Singaraja, mengatakan upaya paksa atau eksekusi merupakan kewenangan
aparat hukum dan bukan dilakukan oleh sekelompok orang.

Pihaknya mengaku akan menyelesaikan kejadian tersebut secara hukum dengan
melapor ke Polres Buleleng, khususnya mengenai aksi kekerasan yang menyebabkan
Aurelia menderita luka di bagian kepalanya hingga mengakibatkan harus mendapat
perawatan medis.

Dalam kejadian tersebut, rombongan Keuskupan Denpasar memberi tanda balutan pita

berwarna orange dan putih yang melingkar di tangan atau kepala sebagai identitas

pendukung pastor baru, yakni Romo Hans.
Haruskah hal ini terjadi? (Kompas.com)

FPI Temui KWI dan PGI


(Jakarta 21/8/2010) Front Pembela Islam (FPI) bersedia menemui Komisi Waligereja Indonesia (KWI) dan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) untuk berdialog membahas langkah antisipatif terhadap rencana pembakaran Alquran pada 11 September dibawah gerakan “Hari Pembakaran Alquran Sedunia”.

Ketersediaan FPI untuk berdialog dengan perwakilan agama lain tersebut disampaikan Koordinator Gerakan Peduli Pluralisme (GPP), Damien Dematara dalam jumpa pers di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (21/8/2010). “Kami sudah berdialog dengan FPI, syarat yang diminta, bersifat tertutup dan hanya boleh saya sendiri. Dan hasilnya, FPI siap mengadakan dialog. Memberikan slot jadwal minggu depan,” katanya.

Minggu depan, kata Damien, FPI akan mengunjungi PGI dan KWI dengan mediator GPP. FPI juga sepakat melakukan dialog secara intensif dengan pihak lain yang berkaitan dengan isu agama di Indonesia. “Ternyata ada persamaan platform konsep pluralisme GPP dan FPI. Tidak ada penyamarataan agama dan tiap orang menghargai kemajemukan,” katanya.

Gerakan Hari Pembakaran Alquran yang dipelopori Dove World Outreach pimpinan Dr Terry dan Slyvia Jones, menurut Damien, merupakan permasalahan yang tidak dapat dipandang sebelah mata. “Langkah maju sekali hubungan GPP dan FPI karena dibutuhkan semua pihak saling bahu membahu,” ujarnya.

Sebelumnya, Damien sebagai perwakilan GPP menemui pimpinan FPI, Habib Rizieq membicarakan persoalan pluralisme di Indonesia serta rencana aksi provokatif itu. Terhadap rencana aksi tersebut, masyarakat diminta tidak terprovokasi.(kompas.com)

Jemaat HKBP Tetap Beribadah di Ciketing


Setelah sempat ditentang oleh warga setempat dan terjadibentrokan, jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Pondok Timur Indah, KotaBekasi, Jawa Barat, dapat beribadah pada hari Minggu kemarin (15/08/2010), di lahankosong milik mereka di Kampung Ciketing Asem, Mustika Jaya Bekasi.

Sebelumnya, dalam pertemuan yang digelar Jumat di kantor Pemkot Bekasi, Walikota Bekasi Mochtar Muhammad mengarahkan jemaat HKBP bisa menggunakan rumah di Pondok Timur Indah (PTI) untuk sementara walau rumah tersebut masih disegel. “Sembari menunggu ijin, silakan gunakan rumah tersebut untuk ibadah,” kata Mochtar pada hari Jumat usai bertemu dengan perwakilan HKBP Pondok Timur.

Namun hal tersebut ditolak oleh jemaat HKBP, mereka tetap melakukan ibadah di lahan mereka di Ciketing. “Kami datang kesini untuk beribadah di tanah kami, hak kami untuk ibadah dijamin undang-undang. Kenapa kami tak boleh masuk tanah kami sendiri.” kata L. Simanjuntak sebelum memimpin ibadah, Minggu, (15/08/2010).

Dalam kebaktian tersebut hadir Sosiolog dan Budayawan, Romo Franz Magnis Suseno, Sukur Nababan Anggota DPR RI dari Fraksi PDIP, Rista Dewi Angota DPRD Jawa Barat, dan Enie Widhiastuti angota DPRD Kota Bekasi.

Romo magnis menyesalkan kekerasan yang terjadi dalam kasus ini, “Kekerasan harus dicegah dan tidak dibenarkan” ungkap Magnis seraya meminta agar jemaat HKBP diberikan kesempatan menjalankan ibadah sesuai yang dijamin undang-undang.

Pada kebaktian hari itu, tampak tidak ada pemrotes atau pendemo yang hadir seperti minggu-minggu sebelumnya. Para jemaat HKBP dapat menjalankan ibadah mereka dengan lancar. Seperti yang diungkap oleh salah satu sumber di FUIM, setelah bertemu dengan Walikota, FUIM langsung menggelar pertemuan internal di Masjid Al Barkah. Dalam pertemuan tersebut, warga FUIM diminta untuk menahan diri oleh pimpinan mereka.

Setelah kebaktian yang berlangsung sekitar 90 menit dan dijaga ketat aparat. Jemaat HKBP langsung menuju jalan Puyu Raya No 14 RW 15 Pondok Timur, Bekasi. Di gereja yang telah disegel oleh pemerintah Bekasi 21 Juni silam, karena telah melanggar PP. no. 36 tahun 2005, Perda no. 61 tahun 1999, Perda no.74 tahun 1999 serta Perda no. 4 tahun 2000 serta Keputusan Walikota no. 15 tahun 1998. Jemaat pun kembali menjalani ibadah kebaktian. (sumber: kabarinews.com)