STOP OLOK-OLOK!!!



STOP OLOK-OLOK!!!

Saya baru tersadar bahwa bangsa kita gemar berolok-olok dan mencerca bangsa sendiri. ketika dalam kelas training saya menanyakan apa pendapat peserta tentang acara kolosal kebangkitan nasional yang saya juluki bertema “Indonesia Bisa”, sebagian orang mengomentari penyanyi yang gagal, yang lain secara jenaka memeragakan latihan tenaga dalam yang kurang sukses.

Sementara anggota keluarga saya, secara lengkap, tua-muda, menikmati acara tersebut, terharu-biru begitu dikumandangkannya lagu Indonesia Raya oleh si Putra Papua, Edo Kondologit, dan merasa termotivasi untuk bangkit dari kesulitan, namun di sisi lain ternyata banyak orang yang melihat tontonan ini dari sudut pandang yang “ringan dan lucu”. Kenyataan ini dilanjutkan, ketika dalam salah satu blog seseorang yang membahas mengenai olok-olok juga, ditanggapi sahabatnya dengan ungkapan, “Bukannya Bangsa Indonesia memang biasa berkomunikasi dengan cara ‘olok-olok’ seperti ini?

Ironisnya, olok-olok ini sesungguhnya bisa jadi membuat kita terjebak pada self-fulfiling prophecy, yaitu terdorongnya situasi atau perilaku baru melalui perkataan, pikiran atau keyakinan kita sendiri. Ungkapan-ungkapan seperti “kita ini bangsa bodoh”, “otak orang Indonesia paling segar, karena tidak pernah dipakai”, “pemberantasan korupsi tidak akan tuntas”, karena tidak diikuti oleh tindakan, action plan pribadi, kelompok maupun perusahaan secara jelas, malah bisa membuat kita sendiri, bahkan melahirkan “lingkaran setan” yang dibuat oleh keyakinan itu sendiri. Dikarenakan kemalasan dan tidak teganya kita memaki diri sendiri, maka olok-oloklah yang kita lontarkan pada pihak lain, dalam hal ini perusahaan sendiri, lembaga pemerintah sendiri, ataupun negara sendiri.

Olok-olok sebagai Cerminan “Esteem” Rendah

Tertawa dan bercanda bersama adalah cara manusia untuk mempererat hubungan. Bayangkan betapa runyam hidup seseorang yang tidak pernah tersenyum dan tertawa. Tersenyum dimulai dari adanya koneksi yang menujukkan daya tarik interpersonal, sementara tertawa dimulai dari kemampuan individu untuk melihat sisi lucu dari sesuatu yang tidak kasat mata. Hanya pada saat individu berkembanglah, ia bisa mempunyai perspektif terhadap hal yand tidak kasat mata, lebih abstrak, dalam dan melihatnya dari sudut pandang lucu, gembira dan tidak sendu ataupun serius. Orang yang banyak tertawa memang cenderung lebih “happy” dan optimistis. Namun, tertawa, baik mengenai diri sendiri atau terhadap suatu situasi tentunya tidak berlaku bila tawa itu diwarnai dengan sinisme yang berlebihan ataupun pelecehan terhadap orang lain, apalagi terhadap diri sendiri.

Olok-olok yang sering kita dengar, terutama akhir-akhir ini, rasanya sulit digolongkan pada olok-olok yang sehat, karena ia terasa getir, sinis bahkan tidak menunjukkan esteem atau penghargaan diri. Orang ber-esteem rendah kita kenal sebagai orang mempunyai kebiasaan untuk menilai negatif diri sendiri, tidak menyukai tantangan, malas bertindak, dan banyak tampil sebagai pengkritik tajanm bahkan melecehkan orang lain. Tentunya kegiatan ini bukan bercanda lagi, apalagi disebut “sense of humor”.

Bisa jadi kita berpikir bahwa olok-olok atau sindiran adalah bentuk umpan balik bagi pihak lain untuk mawas diri dan memperbaiki diri. Namun, olok-olok tentu saja tidak bisa kita sebut masukan, karena ia tidak tertuju langsung secara “man to man” pada orang yang kita maksud. Selain olok-olok tidak pernah menjadikan situasi lebih baik, kita yang mengolok-olok juga jadi manusia kerdil karena karena seolah “lempar batu sembunyi tangan”, akibat ketidakmampuan kita untuk ‘pasang badan’ dan mempertanggungjawabkan pendapat dan masukan kita secara ksatria dan elegan.

Rasa Syukur Menarik Kebaikan dan Kesuksesan

Dalam bukunya Best Seller-nya, The Secret, Rhonda Byrne, mengungkapkan hal-hal yang sangat “common sense”, yang sejak dulu dikumandangkan oleh ayah saya, walaupun bentuknya sedikit berbeda. “Hitung berkatmu”, kata ayah saya, “maka kamu akan takjub akan kekayaanmu. Kemudian bersyukurlah”. Menurut Rhonda, mustahil kita menarik kebaikan, kesejahteraan dan keuntungan, tanpa mensyukuri apa yang kita miliki. Rasa syukur yang kita pancarkanlah yang akan menarik energi bagaikan magnet, sehingga kebaikan dan kemudahan akan mendekat dan memberikan “power” dalam kehidupan kita. Kita boleh merasa “kurang” karena itu akan menantang diri kita, membangkitkan motivasi untuk selalu lebih baik dan sempurna. Namun, ratapan tanpa rasa bersyukur yang diwarnai rasa iri dan kekecewaan yang negatif akan membendung kita dari kreativitas dan patriotisme untuk membangun diri, keluarga, perusahaan dan bangsa.

Simak laporan CNN mengenai gempa bumi di Sichuan, 12 Mei yang lau. “Jutaan orang kehilangan keluarga, rumah dan harta benda. Namun tak terdengar ratapan dan keluhan. Yang tampak adalah orang saling menolong satu sama lain. Dalam hitungan jam, orang-orang berlomba untuk memberi bantuan. Sepanjang ratusan meter, orang-orang mengantri untuk mendonorkan darahnya, dan dalam waktu 24 jam, mereka kehabisan tempat untuk menampung darah dari pendonor”. Rupanya, di negara yang sering kita duga “miskin emosi” ini, tidak banyak orang mengidap “bystander aphaty”, penonton yang apatis. Tentu, tak ada salahnya kita mem-“benchmark” semangat solidaritas dan “tidak ada matinya” negeri China ini.

Marilah mulai bangkit dengan membuat daftar sukses, apakah itu keberhasilan memanjat dinding 12 meter, menyelesaikan laporan tepat waktu, menutup penjualan 10 juta, berhemat 200 ribu ataupun sekedar keberhasilan untuk datang ke kantor tepat waktu. Dengan bersyukur, kita memupuk kualitas positif dan kompetensi sebagai modal kita. Selanjutnya, mari kita hidup sesuai dengan tuntutan yang realistik dan tidak lupa untuk bertindak! (Eileen Rachman & Sylvina Savitri/EXPERD/Kompas/Klasika/31/05/2008)

GENGSI


GENGSI

Saat Saya bicara di dalam pelatihan-pelatihan bahwa feedback adalah hal yang unavoidable atau tidak terhindarkan untu perbaikan dan pengembangan diri, hamper selalu saja ada ‘curhat’ dari peserta menenai banyaknya mereka menemui individu senior yang tidak welcome, sulit atau bahkan meradang saat menerima umpan balik. Saya menduga, bahwa salah satu alas an seseorang sulit menerima umpan balik mengenai kinerja, kesalahan dan pengembangan dirinya, terutama di negara kita ini, adalah lebih dilatarbelakangi gengsi yang besar.

Kritik dipandang sebagai sesuatu yang menjatuhkan ‘muka’ dan menurunkan gengsi. Apalagi bila senior berada pada situasi harus bekerja di bawah pimpinan yang lebih muda, pintar namun kurang pengalaman, bisa-bisa makin besar pula kadar gengsinya. Komentar seperti “anak kemarin sore”-lah “belum pengalaman”-lah dan banyak alasan lain, seakan tidak memperbolehkan diri kita untuk melihat ke dalam dan berpikir mengenai kapasitas, kompetensi, kontribusi dan komitmen yang selama ini kita tampilkan, sehingga kita tidak dipilih menjadi pimpinan tim dan dilangkahi oleh yang lebih muda-muda.

Banyak ahli mengatakan bahwa gengsi adalah dominasi masyarakat Asia. Pada masyarakat Jawa bisa dikonotasikan dengan “projo”, oleh masyarakat Cina dekat dengan pengertian “mianzi” (nama baik) dan “lian” (karakter moral). Dalam bahasa Inggeris sendiri memang tidak ada kata tepat untuk fenomena “menjaga muka” ini, kecuali gabungan antara “reputasi” dan “esteem”. Namun kapanpun dan di negara manapun, setiap orang memang punya kebutuhan untuk menjaga “image” dirinya di depan publik.

Agendakan Bermawas Diri

Andrew Oswald, seorang ahli ekonomi dari University of Warwick, mengatakan bahwa manusia mempunyai nasib untuk selamanya membandingkan dirinya dengan orang lain. Bila kegiatan membandingkan diri ini dilandasi “kerakusan” dan hal-hal yang ada di permukaan saja, maka individu bisa melakukan tindakan salah, berdasarkan analisa pribadinya itu. Tentunya kita ingat cerita klasik, seorang istri membandingkan diri dengan tetangga yang baru membeli motor dan suaminya pulang, ia merengek untuk juga dibelikan motor baru, tanpa berpikir mengenai pendapatan, kesempatan dan kemampuan keluarga untuk meningkatkan konsumsi.

Bila kita tidak punya agenda untuk senantiasa “mengisi diri” dan mencerdaskan diri sendiri, sangat mungkin terjadi situasi membandingkan diri tanpa berupaya menganalisa lebih mendalam, kita ulangi lagi dan lagi. Pada akhirnya, analisa-analisa ini bisa bertumpuk dan berakibat pada kedangkalan berpikir, sehingga kita hanya bisa menumbuhkan “esteem” atau harga diri atau merasa “bergengsi” melalui hal-hal dangkal dan di permukaan saja, seperti materi, jabatan, fasilitas, serta apa yang dikenakan orang.

Teman saya adalah istri seorang ahli perminyakan. Saya mendengar sendiri ia mengomel pada sebuah jamuan makan di rumahnya, “Pah, masa orang lain sudah ganti mobil Maserati, kita masih Kijang Kijang juga …” Ketika diusut, siapa pengendara Maserati itu, ternyata mereka adalah pemilik perusahaan minyak tempat suaminya bekerja yang kebetulan bersahabat dengannya. Analisa mengenai pendapatan, pekerjaan, dan kemampuan yang sangat sederhana ini bisa sulit dilakukan bila kita memang tidak berlatih untuk menjadi lebih “dalam” dan mawas diri. Oleh Oswald, gejala ini disebut sebagai “happiness economics”, dimana kebahagiaan sangat relatif dan bergantung pada kegiatan membandingkan diri dengan orang lain, dari waktu ke waktu, lalu mengakibatkan individu tidak pernah stop untuk meningkatkan kebutuhannya. Bisa saja kita jadi terjebak menghalalkan berbagai cara untuk mengejar kedudukan, kekayaan, namun sekaligus membuat makna kemanusiaan kita hampa.

Mengangkat Gengsi: “Being versus “Having”

Bila kita mau sedikit bermawas diri, tentunya kita sadar bahwa menjaga gengsi, tidak semata berasal dari sebatas kedudukan, kekayaan, dan kepemilikan barang. Ingat saja, bahwa si multibilyuner dolar, Mark Zuckerberg, pemilik Facebook tidak mendapatkan gengsinya melalui pesta-pesta bermiliar dolar, gonta-ganti mobil, mengejar jabatan dengan menghalalkan segala cara. Ia sekadar anak kos-kosan yang rajin mengulik, berkreasi dan berinovasi, sampai bisa membuahkan produk yang berharga dan populer seantero dunia. Kita lihat, “self image” di mata publik bisa dilandasi oleh beberapa domain penting dalam kehidupan ini, seperti prestasi, pengalaman, kepahlawanan, tata krama, tata bahasa, kinerja, ekspertis, kearifan yang lebih mengarah pada “being” seserang dibandingkan dengan “having” seseorang. Ini tentunya kabar baik bagi setiap individu yang juga ingin meningkatkan “gengsi”-nya tapi belum tahu dari mana sumbernya.
Kita bisa menggaris bawahi bahwa kita memang perlu senantiasa menjaga kebugaran fisik, intelektual, emosional dan spiritual kita, sebagai modal untuk menganalisa, memperbaiki, mengembangkan diri sendiri, berkreasi, berprestasi, menonjol, sehingga kemudian bisa merespek diri sendiri, lalu menjaga hakekat “qualities” diri kita sebagai fitur gengsi. Sudah tidak zamannya lagi kita merasa gengsi naik sepeda, ketimbang berkendaraan mobil, dan seharusnya malah lebih bangga bahwa kita bugar menjaga kesehatan. Atau sebaliknya perlu memiliki Blackberry seri terbaru, tetapi gaptek dalam menggunakannya? Menunjang program “busway” adalah salah satu bukti bahwa kita bisa mengangkat harga diri melalui prinsip efisiensi dan efektivitas, dimana kita bisa lebih cepat sampai tujuan tanpa harus bermacet-macet duduk bengong di dalam mobil mewah kita, dengan membayar joki pula. Jadi, manakah yang lebih bergengsi? (Eileen Rachman & Sylvina Savitri/ EXPERD/Kompas/Klasika/08/11/2008).

Anak-Anak Katolik Dan Muslim Merayakan Bersama Hari Anak Nasional


12 Agustus 2008 12:39

Anak-Anak Katolik Dan Muslim Merayakan Bersama Hari Anak Nasional

UCAN 7/8/2008

hari anak

Jakarta (UCAN) — Sebanyak 20 anak Katolik dari sebuah paroki di Jakarta mengunjungi sebuah sekolah gratis bagi anak-anak miskin beragama Islam untuk merayakan Hari Anak Nasional.
Anak-anak berumur 5-12 tahun yang berasal dari Lingkungan St. Hubertus, Paroki St. Monica di Tangerang, sebelah barat Jakarta, itu memanfaatkan hari Sabtu, 26 Juli, dengan mengunjungi sekolah gratis di Muara Angke, sebuah daerah kumuh di Jakarta Utara. Pastor Ignatius Swasono SJ, direktur Lembaga Daya Dharma (LDD) Keuskupan Agung Jakarta, dan Lorensia Sri Kusnidyah Juniari memimpin kelompok tersebut.
Biro Pelayanan Kesejahteraan Anak (BPKA) dari LDD Keuskupan Agung Jakarta mengelola sekolah gratis itu sejak Januari 2004. Bangunan sekolah yang lama, sekitar 50 meter dari tempat itu, terbakar tahun 2007, dan bangunan yang baru berukuran 25 meter persegi dibangun di atas tanah milik Mesjid Nurul Ikhlas.
Sekolah itu memiliki 150 murid yang dibagi ke dalam beberapa kelompok: pra-sekolah, taman kanak-kanak (umur 4-5 tahun), sekolah dasar (umur 6-12 tahun), dan sekolah menengah pertama (umur 13-15 tahun). Sepuluh guru relawan beragama Islam mengajar menggambar, membaca, menyanyi, dan matematika. Kelas pra-sekolah berlangsung setiap Hari Selasa, Kamis, dan Sabtu; kelas taman kanak-kanak dan sekolah dasar pada Hari Sabtu; dan sekolah menengah pertama pada Hari Minggu.
Setibanya di sekolah itu pukul 09.00, anak-anak Katolik yang didampingi orangtua mereka disambut oleh sekitar 50 anak Muslim berumur 3-5 tahun serta tiga guru mereka dan Herman Yosef Marsudi, yang mengetuai BPKA.
Selama kunjungan tiga jam itu, para guru itu memimpin anak-anak Katolik dan Muslim dalam menyanyi dan menari, sementara orangtua mereka menyaksikan lewat jendela. Semua anak duduk di atas lantai untuk pelajaran membaca dan matematika, dengan mengabaikan bau sampah yang menyengat di sekitar lingkungan itu.
Sebelum meninggalkan sekolah itu, anak-anak Katolik membagikan sejumlah paket snack berisi roti, permen dan susu. Juniari, koordinator kunjungan itu, kemudian menyerahkan tiga kardus alat tulis, dua kardus mainan, dan uang senilai 9 juta rupiah kepada Marsudi.
Dalam sambutannya, Juniari menyampaikan terima kasih kepada sekolah itu yang telah menyambut anak-anak Katolik. “Kami cuma membawa bantuan sedikit untuk memenuhi kebutuhan anak-anak sekolah ini. Yang paling penting, kita telah menjalin kasih persaudaraan, terutama di antara anak-anak kita,” katanya.
Pastor Swasono mengungkapkan terima kasih atas kunjungan itu atas nama anak-anak Muslim yang miskin tersebut. “Inilah suasana belajar anak-anak dampingan kami dengan sarana seadanya, tapi mereka punya semangat untuk belajar.”
Sejumlah pengunjung dan tuan rumah berbicara dengan UCA News.
Jonathan Budiman Djaya, siswa kelas V di Sekolah St. Laurensia di Tangerang, mengatakan bahwa ia senang dengan kunjungan itu. “Saya kasihan anak-anak belajar dan duduk di atas lantai,” kata bocah laki-laki berumur 10 tahun itu, seraya menambahkan bahwa ia baru pertama kali berbaur dan bercengkerama dengan anak-anak miskin.
Juniari menjelaskan: “Kami membawa anak-anak ke tempat ini supaya mereka bisa mengenal dan melihat dari dekat kehidupan anak-anak yang berkekurangan, karena selama ini mereka bersekolah di sekolah yang memiliki fasilitas yang memadai, dan didukung oleh orangtua yang memiliki sarana serba ada. Dengan cara ini muncul rasa kasih dan peduli mereka terhadap orang kecil.”
Aysiah, seorang guru berusia 55 tahun, mengungkapkan penghargaan: “Kami sangat senang karena mereka mengunjungi kami yang kecil dan membantu, menghormati dan peduli terhadap anak-anak kami. Kami juga berterima kasih kepada Gereja yang telah membantu warga kami di sini yang bekerja sehari-hari sebagai nelayan, pemulung, tukang becak, dan tukang ojek sepeda.”
BPKA memberikan beasiswa kepada semua murid di sekolah gratis itu, yang juga belajar di sekolah reguler. BPKA juga menyediakan pengobatan gratis sebanyak tiga kali dalam setahun bekerja sama dengan Rumah Sakit Unika Atma Jaya dan Wanita Katolik Republik Indonesia, serta program tambahan gizi untuk anak-anak di bawah 13 tahun dan pelayanan posyandu sekali dalam sebulan.
Sekitar 6.000 anak dari seluruh tanah air merayakan Hari Anak Nasional pada 23 Juli di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan sejumlah menteri kabinet menghadiri acara yang diadakan dengan tema “Saya Anak Indonesia Sejati, Mandiri dan Kreatif!” tersebut.

END

(Sumber: Mirifica.net)

Kontradiksi dalam Cara Berpikir Abu Bakar Ba’asyir


Posted by : Dr Rudy Prabowo Ph.D
Rudy Prabowo <rudyprabowo33@…> wrote:
14-8-2008
New Update !
Penting untuk dibaca, pernyataan yang memojokkan Bangsa Indonesia, kaum Kristiani, Buddhis, Hindu, Khonghuchu, Islam non Fundamentalist, Islam Suni, maupun Aliran Kepercayaan dan Islam Kejawen………………..

Abu Bakar Ba’asyir yang turunan Arab mengatakan, demokrasi kita adalah demokrasi untuk orang kafir, tetapi dia sendiri tidak memberi kontribusi apapun untuk negara, tapi ia ikut menikmati roti demokrasi yg dia katakan kafir itu dan betah tinggal di Indonesia, kenapa tidak tinggal di Arab saja, dasar hypocrite !!!
Kontradiksi dalam Cara Berpikir Abu Bakar Ba’asyir
Oleh Dr. Ulil Abshar-Abdalla Ph.D

Kalau kita amati kelompok-kelompok Islam yang meneriakkan semboyan
ingin hidup sesuai dengan sunnah dan teladan Nabi, ada semacam pola
yang menarik. Pola ini terjadi di tanah Arab sendiri, dan terjadi
pula (atau tepatnya ditiru?) di Indonesia dan negeri-negeri lain di
luar Arab. Yaitu, mereka cenderung terlibat dalam pertengkaran
internal yang tak pernah selesai. Persoalannya sepele: masing-masing
kelompok menuduh yang lain sebagai menyimpang dari atau kurang
konsisten dengan sunnah, dan menganggap merekalah yang paling
konsisten mengikutinya.

BARU-baru ini, kita membaca berita di sejumlah media tentang
mundurnya Abu Bakar Ba’asyir dari organisasi di mana selama ini dia
menjabat sebagai amir atau komandan, yaitu Majelis Mujahidin
Indonesia (MMI). Alasan mundurnya Ba’asyir menarik sekali. Dia
berpandangan bahwa sistem kepemimpinan yang dianut oleh MMI makin
melenceng dari sunnah atau teladan Nabi Muhammad.

Dia mengatakan bahwa MMI selama ini memakai sistem kepemimpinan
kolektif dan demokratis. Sistem itu, di mata Ba’asyir, tidak Islami.
Dia memandang demokrasi sebagai kafir, tidak Islami, tidak sesuai
dengan sunnah Nabi.

Ba’asyir berencana mendirikan jama’ah atau organisasi baru yang di
mata dia lebih sesuai dengan sunnah Nabi. Dalam organisasi baru itu,
dia akan memakai sistem kepemimpinan yang lebih Islami, bukan sistem
kepemimpinan demokratis yang pelan-pelan mulai diadopsi oleh MMI.

Ada beberapa alternatif nama untuk organisasi baru yang hendak ia
dirikan itu, misalnya: Jamaah Ansharussunah, Jamaah Ansharullah,
Jamaah Muslimin Ansharullah, dan Jamaah Ansharuttauhid. Kalau kita
jeli mengamati model-model gerakan Islam di berbagai negara Muslim
saat ini, nama-nama itu sangat khas pada kelompok-kelompok yang
sering disebut sebagai salafi, yaitu kelompok yang dengan gigih
sekali ingin mencontoh teladan dan sunnah Nabi secara konsisten,
bahkan fanatik sekali.

Saya menulis esei pendek ini bukan karena saya menganggap fenomena
MMI atau Ba’asyir sebagai hal penting. Esei ini ingin menunjukkan
kontradiksi dalam cara berpikir dan “mindset” orang-orang seperti Abu
Bakar Ba’ayir. Saya berpendapat, metode gerakan yang dipakai oleh
Ba’asyir mengandung kontradiksi yang akut. Kalau tidak bersikap
apologetik dan pura-pura tak tahu, mereka mestinya menyadari sejumlah
kontradiksi yang akan saya tunjukkan di bawah ini.

Metode gerakan seperi dipakai Ba’asyir itu juga rapuh dari dasarnya,
sehingga cepat atau lambat, gerakan itu akan rontok sendiri. Ba’asyir
hidup dengan sebuah “delusi” yang tak dia sadari.

Ba’asyir mengkleim ingin mendirikan organisasi baru yang lebih sesuai
dengan sunnah Nabi. Betulkah kleim semacam itu? Apakah mungkin
mendirikan organisasi baru dalam era modern ini tanpa melanggar
prinsip mengikuti sunnah Nabi?

Organisasi baru yang akan didirikan oleh Ba’asyir itu, di mata saya,
sudah pasti tidak akan sesuai dengan sunnah Nabi. Sebab pada zaman
Nabi, tidak kita kenal sebuah entitas bernama organisasi seperti yang
akan dia dirikan itu. Pada zaman Nabi semua masyarakat hidup sebagai
komunitas tunggal tanpa organisasi atau pengelompokan apa pun (dalam
pengertian modern yang kita kenal sekarang). Begitu Ba’asyir
mendirikan jamaah atau organisasi baru, persis pada saat itu dia
meninggalkan sunnah Nabi.

Kalau mau lebih ekstrim lagi, kita bisa berkata bahwa eksperimen
mendirikan pesantren Ngruki di Solo pun – yakni pesantren yang
didirikan oleh beberapa tokoh Islam termasuk Ba’asyir itu – juga
tidak sesuai dengan sunnah Nabi jika dilihat secara cermat, sebab
pada masa Nabi tidak ada sekolah seperti dipraktikkan oleh pesantren
dan madrasah di Ngruki. Tidak ada sistem kelas, tidak ada sistem
ujian, tidak ada sistem ijazah, tidak ada sistem pendaftaran seperti
kita saksikan dalam semua praktek sekolah modern saat ini.

Orang-orang seperti Ba’asyir ini memakai logika dan cara berpikir
yang aneh dan nyaris tak masuk akal.

Terhadap kritik ini, Ba’asyir boleh jadi menjawab: bahwa sistem
pendidikan ala madrasah yang mengenal kelas-kelas itu tidak bisa
dikatakan bertentangan dengan sunnah Nabi, sebab sistem itu
menyangkut urusan duniawi, bukan masalah ibadah.

Persis di sini soalnya: bukankah soal pemilihan pemimpin, atau soal
kepemimpinan secara umum, adalah masalah duniawi pula? Kenapa dia
keluar dari MMI karena menganggap bahwa sistem kepemimpinan dalam
organisasi itu tidak sesuai dengan sunnah Nabi? Kenapa dia tak
membubarkan pesantren Ngruki saja, sebab pesantren itu juga memakai
sistem yang tak ada pada atau dicontohkan oleh Nabi?

Ba’asyir mungkin beranggapan bahwa masalah kepemimpinan bukan soal
duniawi, tetapi masalah keagamaan. Pertanyaannya, apakah Nabi
memberikan petunjuk yang detil mengenai soal kepemimpinan ini dengan
seluruh aspek-aspeknya? Kalau jelas ada petunjuk, kenapa para sahabat
bertengkar hebat saat Nabi wafat, persis untuk memperebutkan jabatan
kepemimpinan?

Bahkan jenazah Nabi tak sempat dikuburkan selama tiga hari, karena
sahabat sibuk bertengkar tentang siapa yang menjadi pengganti Nabi
dan bagaimana pula cara memilihnya.

PARADOKS lain yang menggelikan adalah bahwa Ba’asyir menolak mentah-
mentah sistem demokrasi, tetapi, anehnya, dia menikmatinya sejak
pertama kali menginjak bumi Indonesia setelah kembali dari
pengasingan di Malaysia selama bertahun-tahun (karena diusir oleh
pemerintahan Presiden Suharto yang tak demokratis itu). Demokrasi di
Indonesialah yang memungkinkan dia mendirikan organisasi seperti MMI,
dan demokrasi itu pulalah yang menjamin hak dia nanti untuk
mendirikan organisasi baru yang konon lebih sesuai dengan sunnah Nabi
itu.

Kampanye dia selama ini untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia
tak pernah diganggu oleh aparat keamanan justru karena di Indonesia
ada sistem demokrasi. Dengan demikian, Ba’asyir mengecam demokrasi,
seraya diam-diam menikmati “roti” demokrasi setiap saat tanpa memberi
kredit apapun. Dalam hal ini, Ba’asyir tidak melaksanakan hadis yang
terkenal, “man lam yasykur al-nas lam yasykur al-Lah”, barangsiapa
tak mensyukuri manusia (yang telah berbuat baik pada dia), maka dia
sama saja tak mensyukuri Tuhan.

Ba’asyir menikmati roti demokrasi, tetapi dia tak pernah memberi
kredit apapun pada sistem yang memberinya kebebasan itu. Dia malah
mengecam sistem itu sebagai sistem kafir karena berasal dari Barat.
Tindakan dia ini bertentangan dengan sunnah Nabi sebagaimana
tercermin dalam hadis di atas.

Kalau konsisten dengan perlawanannya atas demokrasi, kenapa Ba’syir
tak pindah ke negara Arab Saudi saja yang sama sekali tak menerapkan
demokrasi? Saat dia diusir dari Indonesia pada awal 80an dulu,
mestinya pada saat itu dia punya kesempatan untuk pindah ke negeri
yang sama sekali tak menerapkan demokrasi. Eh, dia malah mengungsi ke
Malaysia yang juga, dalam tingkat tertentu, menerapkan demokrasi.

Setelah Indonesia makin demokratis paska tergulingnya Presiden
Soeharto pada 1998, dia malah dia kembali ke Indonesia. Kenapa dia
kembali ke negeri yang justru makin intensif mengalami proses
demokratisasi? Apakah diam-diam Ba’asyir mencintai demokrasi, walau
di mulut meluapkan kecaman pada sistem itu?

Mungkin Ba’asyir akan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya ini dengan
mengatakan: Saya balik ke Indonesia karena saya mau menegakkan negara
syari’ah! Saya mau mendirikan kekuasaan Tuhan, sistem yang ia sebut
dengan istilah yang aneh sekali, yaitu “Allah-krasi”, yakni kekuasaan
Allah sebagai lawan dari “demokrasi”, kekuasaan rakyat.

Pertama, sistem yang ia sebut sebagai Allah-krasi itu sendiri tidak
pernah ada dalam sunnah atau dikatakan secara tegas oleh Nabi
sendiri. Dalam hal ini, dia telah melanggar prinsip yang ia anut
dengan gigih itu, yaitu hendak hidup sesuai seluruhnya dengan sunnah.
Nabi sendiri tak pernah menyebut kekuasaan yang ia praktekkan di
Madinah dulu sebagai Allah-krasi.

Kenapa dia menciptakan sesuatu yang tak ada dalam agama? Bukankah ini
bid’ah, dan setiap bid’ah, sebagaimana ajaran yang diyakini oleh
orang-orang semacam Ba’asyir, akan membawa seseorang masuk neraka
(kullu bid’atin dhalalah wa kullu dhalalatin fi al-nar)? Akankah
Ba’asyir masuk neraka karena menciptakan bid’ah Allah-krasi itu?
Wallahu a’lam! Hanya Tuhan yang tahu.

Kedua, agar dia bisa memperjuangkan sistem Allah-krasi di Indonesia,
dia tak bisa tidak butuh sebuah lingkungan politik yang memungkinkan
perjuangan itu; dan itu, sekali lagi, adalah sistem demokrasi. Sebab,
jika dia hidup di negeri yang tidak demokratis, sudah tentu dia akan
akan mengalami kesuitan untuk memperjuangkan idenya tersebut, persis
karena tiadanya kebebasan di sana.

Jika Ba’asyir, misalnya, menetap di Saudi Arabia, dia sudah ditangkap
dari sejak awal dan tak akan pernah keluar dari penjara, sebab dia
mengampanyekan sistem yang menentang kekuasaan yang ada di sana.
Hanya di negeri demokratis seperti Indonesialah dia bisa bergerak
dengan leluasa. Bagaimana dia bisa mengecam sistem demokrasi yang
telah memberinya hidup selama ini?

Paradoks yang lebih parah lagi dan mendasar adalah keinginan Ba’asyir
mendirikan sebuah negara syari’ah, negara yang berlandaskan sistem
Allah-krasi itu… Konsep negara itu sendiri tak dikenal secara
eksplisit pada zaman Nabi. Nabi sendiri tak pernah menyebut komunitas
di Madinah sebagai “daulah” atau negara. Dalam Piadam Madinah yang
terkenal itu, komunitas di Madinah hanya disebut sebagai “ummah”
saja. Kata ummah di sana tidak terbatas pada umat Islam, tetapi juga
umat-umat lain di luar Islam, termasuk Yahudi.

Kalau hendak konsisten mengikuti sunnah Nabi, tindakan Ba’asyir untuk
menciptakan nama “negara” itu sendiri untuk menyebut sebuah komunitas
yang hendak ia dirikan jelas tidak sesuai dengan teladan atau sunnah
Nabi.

Kalau kita amati kelompok-kelompok Islam yang meneriakkan semboyan
ingin hidup sesuai dengan sunnah dan teladan Nabi, ada semacam pola
yang menarik. Pola ini terjadi di tanah Arab sendiri, dan terjadi
pula (atau tepatnya ditiru?) di Indonesia dan negeri-negeri lain di
luar Arab. Yaitu, mereka cenderung terlibat dalam pertengkaran
internal yang tak pernah selesai. Persoalannya sepele: masing-masing
kelompok menuduh yang lain sebagai menyimpang dari atau kurang
konsisten dengan sunnah, dan menganggap merekalah yang paling
konsisten mengikutinya.

Inilah yang kita lihat pada kasus perpecahan dalam tubuh Majelis
Mujahidin Indonesia (MMI) sekarang. Perpecahan ini juga kita lihat
dalam kelompok-kelompok salafi yang lain di sejumlah kota di
Indonesia. Pengalaman ini sudah pernah kita saksikan pada Partai
Komunis dulu; masing-masing faksi menganggap dirinya
paling “ortodoks” dan menuduh yang lain “revisionis”.

Ba’asyir keluar dari MMI karena merasa organisasi itu dikelola dengan
prinsip yang tak seusai dengan sunnah Nabi. Saya memprediksi,
kelompok baru yang akan didirikan oleh Ba’asyir itu, suatu saat juga
akan pecah lagi karena pada gilirannya nanti akan ada kelompok yang
merasa lebih konsisten pada sunnah ketimbang yang lain. Begitu
seterusnya.

Deskripsi yang tepat untuk menggambarkan kelompok-kelompok yang
mengkleim paling mengikuti sunnah ini adalah sebuah ayat dalam Quran,
tahsabuhum jami’an wa qulubuhum syatta; engkau melihat mereka seolah-
olah bersatu (di bawah ide mengikuti sunnah Nabi), tetapi hati mereka
sesungguhnya saling terpecah-belah. Dengan kata lain, gerakan ini
sebenarnya rapuh di dalam, persis karena terlalu
menekankan “kesucian” gerakan, purifikasi, dan tidak belajar untuk
kompromi dan akomodatif terhadap keadaan yang terus berubah.

Watak gerakan puritan di mana-mana selalu mengandung resiko
perpecahan internal. Jika kita mau belajar lebih jauh lagi,
perpecahan dalam tubuh umat Islam selama ini terjadi persis karena
dorongan “puritan” itu, yakni masing-masing kelompok merasa paling
sesuai dengan Quran dan sunnah. Dengan sikap “sok benar” sendiri itu,
mereka dengan mudah menuduh gerakan yang lain kafir, sesat, murtad,
syirik, dsb.

Paradoks seperti dihadapi oleh Ba’asyir ini semestinya menjadi
pelajaran bagi kelompok-kelompok Islam yang lain. Di mata saya,
metode perjuangan Islam ala Ba’asyir sudah mentok dan tak akan
membawa umat Islam ke mana-mana. Sangat keterlaluan jika ada orang-
orang yang masih percaya atau “terkelabui” oleh tokoh dan metode
perjuangan seperti ini.

Penangkal paling manjur agar umat Islam tak terkecoh oleh retorika
orang-orang semacam Ba’asyir ini adalah nalar yang sehat dan kritis…
Umat seharusnya diajarkan bagaimana berpikir secara kritis dan berani
mempertanyakan kleim-kleim kosong yang diajukan oleh tokoh seperti
Abu Bakar Ba’asyir itu.[]

Abu Bakar Ba’asyir :Mati Pemerintah Dzolim Jika Menghukum Amrozi Cs


Terkait rencana eksekusi terpidana bom bali
http://www.youtube. com/watch? v=DWN3IwXFlIg
———— ——— ——— ——— ——— ——— ——
Abu Bakar Ba’asyir :
Mati Pemerintah Dzolim Jika Menghukum Amrozi Cs
Wednesday, 30 July 2008

Ketua Majelis Mujahidin Indonesia Abu Bakar Baasyir menilai pemerintah Indonesia sangat dzolim jika jadi mengeksekusi mati para pelaku bom bali I. Hal ini dikarenakan pemerintah memberikan hukuman yang tidak setimpal dengan kesalahan yang dilakukan Amrozi Cs. Pemerintah dianggap hanya melihat kasus tersebut secara kasat mata. Padahal menurutnya, pada kasus Bom Bali I semestinya dilihat siapa sebenarnya yang memiliki bom yang meledak pada waktu itu.

“Semua ahli bom baik dalam maupun luar negeri menyatakan bom yang meledak dan sampai membunuh banyak orang itu sebenarnya bukan bom biasa tapi mikronuklir,” katanya dalam sebuah video yang dipublikasikan lewat internet di situs youtube.com. Video tersebut tercatat dirilis Sabtu (26/7) oleh seseorang yang menggunakan username rofiq1924.

Abu Bakar Baasyir meragukan bahwa Amrozi Cs dapat membuat bom yang memiliki daya ledak sebesar itu. Seraya mengutip pernyataan ahli bom dari Australia yang mengatakan bahwa kalau ada orang yang percaya bahwa Amrozi bisa membuat bom seperti itu bukan orang bodoh, tetapi idiot.

Ustadz yang pernah ditahan di dalam penjara karena kasus imigrasi ini mengaku pernah berdebat dengan pihak kepolisian. “Kalau polisi percaya Amrozi bisa membuat bom seistimewa seperti itu mestinya bukan ditahan tetapi menjadi penasehat militer, dijadikan dosen di sekolah militer mengajari untuk membuat bom tersebut,” ujarnya.

Abu Bakar Baasyir sepakat jika Amrozi Cs dihukum karena kesalahannya melakukan pengeboman yang mengakibatkan kerusakan dan luka-luka. Namun, ia tetap tidak percaya jika bom milik Amrozi bisa membunuh orang. Abu Bakar Baasyir mencurigai bom yang meledak itu milik CIA.

Pimpinan Pondok Pesantren Ngruki Solo ini khawatir jika pemerintah Indonesia yang tidak takut Allah tapi takut pada George W. Bush ini nekad mengeksekusi mati Amrozi Cs akan mengakibatkan bala’ (bencana besar) yang ditimpakan oleh Allah SWT.

Menurutnya, Amrozi Cs bukanlah teroris namun justru kontra teroris. Mereka merupakan mujahid yang membela Islam dan kaum musliminin dari teror AS dan kawan-kawannya, hanya saja langkah mereka melakukan pengeboman itu keliru.

“Kalau tetap nekad mengeksekusi, jangan orang Islam yang ditunjuk jadi regu tembak eksekusi,” ujarnya menasehati Kapolri. Ia mengkhawatirkan jika orang Islam yang melakukan eksekusi akan mengakibatkannya murtad karena membunuh seorang pejuang Islam. “Tapi saya anjurkan mundur saja, jangan nekad mengeksekusi. Saya khawatir ada bala’ dari Allah kalau tetap nekad. Saya sudah memperingatkan!” pungkasnya.

[ihsan/www.suara-islam. com]

Kronologis Penyerangan Massa Terhadap STT SETIA


Mahasiswa luka parah akibat penyerangan senjata tajam, kampus dibakar

JAKARTA – Satu tragedi kembali terjadi menimpa umat Kristiani di negeri ini. Pada Jumat (25/7) malam lalu telah terjadi penyerangan oleh sekelompok warga terhadap Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar (SETIA) yang berlokasi di Kampung Pulo kelurahan Pinang Ranti Kecamatan Makassar, Jakarta Timur.

Berikut adalah kronologis peristiwa penyerangan babak pertama terhadap STT SETIA Jumat malam (25/7) sebagaimana diungkapkan Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th kepada pers, Sabtu (27/7) lalu:

10.30PM (malam)
Seorang mahasiswa dan seorang anak staff dosen SETIA dicegat di jalan, dan mahasiswa ini yang berasal dari Alor dianiaya dan dipukuli. Sang ayah yang mendengar anaknya dipukuli saat mau menolong anaknya yang telah dibawa ke RW terdekat juga ikut dipukuli.

11.30PM
Asrama putra yang berada di RT.02 di kepung massa dan dilempari batu juga pagar asrama, kaca jendela di rusak serta atap asrama di timpuki oleh masssa yang menyebabkan beberapa kerugian bagi asrama putra. Situasi agak menurun tetapi massa yang sama yang telah melakukan penyerangan ke asrama putra pada Pukul 24.00PM menuju ke asrama putri yang terletak di Rt. 05 dan juga melakukan pelemparan juga disana menyebabkan kerusakan

Pukul 02.30AM (pagi) (26/7)
Kembali terjadi penyerangan kedua pada dini hari dan kali ini penyerangan dilakukan dengan intensitas tinggi dibandingkan dengan penyerangan pada pukul 12.00 PM sebelumnya dimana kerusakan yang diakibatkan oleh penyerangan ini jauh lebih parah. Kemudian terjadi penyiraman bensin di atas atap lantai 3 di asrama putri yang terletak di RT.05. Api sempat tersulut tersulut di jalan depan asrama putri tetapi tidak lama karena api tersebut mengenai salah seorang yang menuang bensin yang kemudian api dimatikan.

Pukul 4.30AM
Suasana mulai tenang. Tetapi sebelumnya antara pukul 02.00-03.00AM juga terjadi penyerangan massa di kampus utama di RT 01 dimana suasana tidak terkendali yang mengakibatkan mahasiswa sempat merespon penyerangan oleh sekelompok warga dan kemudian terjadi saling melempar batu.

Pukul 5.30AM
Suasana menjadi tenang dan terkontrol hingga Sabtu siang harinya.

Pdt. Matheus Mangentang, M.Th. selaku Ketua Umum Badan Pengurus GKSI dalam pertemuan dengan para wartawan Sabtu (26/7) lalu juga mengklarifikasi mengenai adanya pernyataan beberap pihak bahwa penyulut situasi adalah karena ada mahasiswa yang dianggap mencuri, tetapi ini tidak benar karena tidak ada barang bukti bahwa dia mencuri dan posisinya ada di tengah jalan.

Dari pihak SETIA juga telah meminta kepada aparat keamanan untuk memberikan bantuan perlindungan sampai situasi kondusif dan telah mengirimkan surat meminta perlindungan dari pihak aparat keamanan. Pada peristiwa penyerangan babak pertama ini memakan 2 orang korban luka akibat pemukulan.

Kerugian yang dialamai pada peristiwa penyerangan tersebut diperkirakan menurut Matheus sebesar 75-80 juta karena semua kaca, pagar dan jendela sudah hancur.

Lebih lanjut dikatakan bahwa mahasiswa yang berada di asrama putri pada saat kejadian ada sekitar 250 orang dimana pada saat itu mereka sedang tidur dan kemudian terbangun karena mendengar teriakan massa yang merangsek masuk ke dalam asrama.

Aksi tersebut diprovokasi oknum tertentu yang hingga saat ini masih belum dapat dipastikan identitasnya. Beberapa saksi mata juga mengatakan bahwa sebelum aksi penyerangan terjadi terdengar seruan dengan menggunakan pengeras suara dari sebuah Mesjid Baiturohim yang terletak tidak jauh dari asrama tersebut berusaha menggerakkan massa warga.

Pagi harinya saat situasi mulai tenang para mahasiswi diungsikan ke areal kampus untuk sementara waktu sampai suasana aman. Sedangkan sebagian mahasiswa masih tetap berada di asrama karena hanya terjadi kerusakan di bagian atap dan genting saja di 2 asrama putra yang letaknya tidak berjauhan.

Matheus juga mengatakan bahwa peristiwa penyerangan terhadap SETIA bukan hanya hanya sekali itu saja tetapi telah terjadi beberapa kali sepanjang 4 tahun belakangan ini. Matheus juga menambahkan bahsa selama 21 tahun SETIA berdiri di lokasi tersebut hubungan dengan warga sekitar tidak mengalami masalah dan baru sekitar 4 tahun belakangan ini saja terjadi penyerangan yang diprovokatori oleh segelintir oknum yang tidak suka dengan keberadaan SETIA.

Penyerangan kali ini adalah yang keempat kalinya sepanjang 4 tahun belakangan ini dan ini merupakan yang terburuk.

Usaha untuk mediasi dengan warga juga telah ditempuh pihak SETIA berkali-kali dengan difasilitasi oleh Walikota Jakarta Timur, kelurahan, kecamatan dimana pihak Walikota meminta untuk SETIA pindah dan mencari lokasi lain namun sampai saat ini belum ada jawaban pasti dari walikota guna membantu upaya pencarian lokasi yang tepat. Walikota juga meminta kepada masyarakat untuk dapat menahan diri agar kelompok-kelompok tertentu tidak dapat mengambil kesempatan.

Pihak SETIA sendiri mengharapkan agar aparat dapat secara cepat mencari siapa oknum yang telah melakukan penterangan tersebut dan meprovokatori.

Pihak SETIA meminta aparat untuk mengamankan mengingat 28-30 Juli mendatang akan berlangsung ujian negara di kampus tersebut.

Dari keterangan beberapa saksi juga membenarkan adanya seruan kepada warga untuk melakukan penyerangan. Sehingga bukan hanya warga setempat tetapi juga warga sekitar kampung tersebut ikut dalam aksi penyerangan dimana mereka juga membawa bambu yang nampaknya telah dipersiapkan sebelumnya. Hal ini juga menunjukkan bahwa aksi penyerangan tersebut bukanlah suatu bentuk spontanitas belaka tetapi diduga telah dipersiapkan. (Maria F/Kristiani Pos)

Belajar dari Kung Fu Panda


KUNG FU PANDA


Po , si Panda jantan, yang sehari-hari bekerja di toko mie ayahnya, memiliki impian untuk menjadi seorang pendekar

Kung Fu. Tak disangka, dalam pemilihan Pendekar Naga, Po dinobatkan sebagai Pendekar Naga yangdinanti- nantikan kehadirannya untuk melindungi desa dari balas dendam Tai Lung.

Saat menonton film animasi ini, kita seperti diingatkan tentang beberapa hal:

1. The secret to be special is you have to believe you’re special.
Po hampir putus asa karena tidak mampu memecahkan rahasia Kitab Naga, yang hanya berupa lembaran kosong. Wejangan dari ayahnya-lah yang akhirnya membuatnya kembali bersemangat dan memandang positif dirinya sendiri. Kalau kita berpikir diri kita adalah spesial, unik, berharga kita pun akan punya daya dorong untuk melakukan hal-hal yang spesial.

Kita akan bisa, kalau kita berpikir kita bisa.

Seperti kata Master Oogway, You just need to believe

2. Teruslah kejar impianmu.
Po , panda gemuk yang untuk bergerak saja susah akhirnya bisa menguasai ilmu Kung Fu. Berapa banyak dari kita yang akhirnya menyerah, gagal mencapai impian karena terhalang oleh pikiran negatif diri kita sendiri? Seperti kata Master Oogway,
kemarin adalah sejarah, esok adalah misteri, saat ini adalah anugerah, makanya disebut Present hadiah. Jangan biarkan diri kita dihalangi oleh kegagalan masa lalu dan ketakutan masa depan. Ayo berjuanglah di masa sekarang yang telah dianugerahkan Tuhan padamu.

3. Kamu tidak akan bisa mengembangkan orang lain, sebelum kamu percaya dengan kemampuan orang itu, dan kemampuan dirimu sendiri.


Master ShiFu ogah-ogahan melatih Po . Ia memandang Po tidak berbakat. Kalaupun Po bisa, mana mungkin ia melatih Po dalam waktu sekejap. Kondisi ini berbalik seratus delapan puluh derajat, setelah ShiFu diyakinkan Master Oogway -gurunya- bahwa Po sungguh-sungguh adalah Pendekar Naga dan Shi Fu satu-satunya orang yang mampu melatihnya.

Sebagai guru atau orang tua, hal yang paling harus dihindari adalah memberi label bahwa anak ini tidak punya peluang untuk berubah.  Sangatlah mudah bagi kita untuk menganggap orang lain tidak punya masa depan. Kesulitan juga acap kali membuat kita kehilangan percaya diri, bahwa kita masih mampu untuk membimbing mereka.

4.Tiap individu belajar dengan cara dan motivasinya sendiri.
Shi Fu akhirnya menemukan bahwa Po baru termotivasi dan bisa mengeluarkan semua kemampuannya, bila terkait dengan makanan. Po tidak bisa menjalani latihan seperti 5 murid jagoannya yang lain.

Demikian juga dengan setiap anak. Kita ingat ada 3 gaya belajar yang kombinasi ketiganya membuat setiap orang punya gaya belajar yang unik. Hal yang menjadi motivasi tiap orang juga berbeda-beda. Ketika kita memaksakan keseragaman proses belajar, dipastikan akan ada anak-anak yang dirugikan.


5. Kebanggaan berlebihan atas anak/murid/diri sendiri bisa membutakan mata kita tentang kondisi sebenarnya, bahkan bisa membawa mereka ke arah yang salah.


Master ShiFu sangat menyayangi Tai Lung, seekor macan tutul, murid pertamanya, yang ia asuh sejak bayi. Ia membentuk Tai Lung sedemikian rupa agar sesuai dengan harapannya. Memberikan impian bahwa Tai Lung
akan menjadi Pendekar Naga yang mewarisi ilmu tertinggi. Sayangnya Shi Fu tidak melihat sisi jahat dari Tai Lung dan harus membayar mahal, bahkan nyaris kehilangan nyawanya.

Seringkali kita memiliki image yang keliru tentang diri sendiri/anak/ murid kita. Parahnya, ada pula yang dengan sengaja
mempertebal tembok kebohongan ini dengan hanya mau mendengar informasi dan konfirmasi dari orang-orang tertentu. Baru-baru ini saya bertemu seorang ibu yang selama 14 tahun masih sibuk membohongi diri bahwa anaknya tidak autis. Ia lebih senang berkonsultasi dengan orang yang tidak ahli di bidang autistik. Mendeskreditkan pandangan
ahli-ahli di bidang autistik. Dengan sengaja memilih terapis yang tidak kompeten, agar bisa disetir sesuai keinginannya. Akibatnya proses terapi 11 tahun tidak membuahkan hasil yang signifikan. Ketika kita punya image yang keliru, kita akan melangkah ke arah yang keliru.


6. Hidup memang penuh kepahitan, tapi jangan biarkan kepahitan tinggal dalam hatimu.

Setelah dikhianati oleh Tai Lung, Shi Fu tidak pernah lagi menunjukkan kebanggaan dan kasih sayang pada murid-muridnya.
Sisi terburuk dari kepahitan adalah kita tidak bisa merasakan kasih sayang dan tidak bisa berbagi kasih sayang.


7. Keluarga sangatlah penting.

Di saat merasa terpuruk, Po disambut hangat oleh sang ayah. Berkat ayahnya pula Po dapat memecahkan rahasia Kitab Naga dan menjadi Pendekar nomor satu.
Sudahkah kita memberi dukungan pada anggota keluarga kita?