Ini Daftar Kenaikan Gaji PNS


Pemerintah menaikkan gaji pegawai negeri sipil (PNS) sekitar 10-15 persen tahun ini. Dengan kenaikan itu, gaji pokok PNS akan meningkat mulai dari Rp1,175 juta hingga Rp4,1 juta per bulan.

Kenaikan gaji pokok itu tercantum dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 11 Tahun 2011 tentang Perubahan Ketigabelas atas Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977 Tentang Peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil.

Selain gaji pokok, PNS juga menerima tunjangan lainnya seperti tunjangan fungsional, tunjangan jabatan, bahkan tunjangan kinerja yang nilainya melebihi gaji pokok. Tunjangan kinerja ini terutama didapatkan pegawai yang bekerja di kementerian yang telah disetujui pelaksanaan reformasi birokrasi-nya. Menurut Dirjen Perbendaharaan, Agus Supriyanto, tunjangan struktural yang diterima mencapai Rp6 juta untuk eselon I. Total untuk golongan IV e atau setingkat wakil menteri keuangan dapat membawa pulang gaji Rp40 juta.

Berikut ini beberapa rincian kenaikan gaji PNS 2011 dari golongan terendah ke tertinggi:

Pegawai Golongan I a dengan masa kerja 0 tahun Rp1.175.000
Pegawai Golongan I a dengan masa kerja 10 tahun Rp1.346.800
Pegawai Golongan I a dengan masa kerja 26 tahun Rp1.675.200

Pegawai Golongan II a dengan masa kerja 0 tahun Rp1.505.400
Pegawai Golongan II a dengan masa kerja 11 tahun Rp1.749.600
Pegawai Golongan II a dengan masa kerja 21 tahun Rp2.004.900
Pegawai Golongan II a dengan masa kerja 33 tahun Rp2.361.400

Pegawai Golongan III a dengan masa kerja 0 tahun Rp1.902.300
Pegawai Golongan III a dengan masa kerja 10 tahun Rp2.180.300
Pegawai Golongan III a dengan masa kerja 20 tahun Rp2.499.000
Pegawai Golongan III a dengan masa kerja 32 tahun Rp2.943.400

Pegawai Golongan IV a dengan masa kerja 0 tahun Rp2.245.200
Pegawai Golongan IV a dengan masa kerja 10 tahun Rp2.537.300
Pegawai Golongan IV a dengan masa kerja 20 tahun Rp2.949.400
Pegawai Golongan IV a dengan masa kerja 32 tahun Rp3.473.900

Sementara itu, untuk pejabat eselon I, yaitu golongan IV d dan golongan IV e adalah:

Golongan IV d masa kerja 0 tahun Rp2.542.300
Golongan IV d masa kerja 10 tahun Rp2.913.900
Golongan IV d masa kerja 20 tahun Rp3.339.700
Golongan IV d masa kerja 32 tahun Rp3.933.600
Golongan IV e masa kerja 0 tahun Rp2.649.900
Golongan IV e masa kerja 10 tahun Rp3.037.100
Golongan IV e masa kerja 20 tahun Rp3.481.00
Golongan IV e masa kerja 32 tahun Rp4.100.000
Untuk selengkapnya dapat dilihat pada dokumen Daftar Gaji Pokok PNS 2011 di kanan atas.
(Vivanews.com)

Seorang Office Boy pun Bisa Menjadi Vice Presiden


SEORANG OFFICE BOY PUN BISA MENJADI VICE PRESIDENT
Sungguh sebuah karunia  yang luar biasa bagi saya bisa bertemu dengan seorang yang memiliki pribadi dan kisah menakjubkan. Dialah Houtman Zainal  Arifin, seorang pedagang asongan, anak jalanan, Office Boy  yang kemudian menjadi Vice President Citibank di Indonesia.  Sebuah jabatan Nomor 1 di Indonesia karena Presiden Direktur Citibank sendiri berada di USA.

Tepatnya 10 Juni 2010,  saya berkesempatan bertemu Pak Houtman. Kala itu saya sedang mengikuti training leadership yang diadakan oleh kantor saya,  Bank Syariah Mandiri di Hotel Treva International, Jakarta.  Selama satu minggu saya memperoleh pelatihan yang luar biasa mencerahkan, salah satunya saya peroleh dari Pak Houtman. Berikut kisah inspirasinya:

Sekitar tahun 60-an Houtman  memulai karirnya sebagai perantau, berangkat dari desa ke jalanan ibukota. Merantau dari kampung dengan penuh impian dan  harapan, Houtman remaja berangkat ke Jakarta. Di Jakarta  ternyata Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan  ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak  mudah diperoleh. Houtman pun memilih bertahan hidup dengan  profesi sebagai pedagang asongan, dari jalan raya ke kolong jembatan kemudian ke lampu merah menjajakan dagangannya.

Tetapi kondisi seperti ini tidak membuat Houtman  kehilangan cita-cita dan impian. Suatu ketika Houtman  beristirahat di sebuah kolong jembatan, dia memperhatikan  kendaran-kendaraan mewah yang berseliweran di jalan Jakarta. Para penumpang mobil tersebut berpakaian rapih, keren dan berdasi. Houtman remaja pun ingin seperti mereka, mengendarai  kendaraan berpendingin, berpakaian necis dan tentu saja  memiliki uang yang banyak. Saat itu juga Houtman  menggantungkan cita-citanya setinggi langit, sebuah cita-cita  dan tekad diazamkan dalam hatinya.

Azam atau tekad  yang kuat dari Houtman telah membuatnya ingin segera merubah nasib. Tanpa menunggu waktu lama Houtman segera memulai mengirimkan lamaran kerja ke setiap gedung bertingkat yang dia  ketahui. Bila ada gedung yang menurutnya bagus maka pasti dengan segera dikirimkannya sebuah lamaran kerja. Houtman menyisihkan setiap keuntungan yang diperolehnya dari berdagang  asongan digunakan untuk membiayai lamaran kerja.

Sampai suatu saat Houtman mendapat panggilan kerja  dari sebuah perusahaan yang sangat terkenal dan terkemuka di  Dunia, The First National City Bank (citibank), sebuah bank  bonafid dari USA. Houtman pun diterima bekerja sebagai seorang  Office Boy. Sebuah jabatan paling dasar, paling bawah dalam  sebuah hierarki organisasi dengan tugas utama membersihkan ruangan kantor, wc, ruang kerja dan ruangan  lainnya.

Tapi Houtman tetap bangga dengan jabatannya,  dia tidak menampik pekerjaan. Diterimanyalah jabatan tersebut  dengan sebuah cita-cita yang tinggi. Houtman percaya bahwa  nasib akan berubah sehingga tanpa disadarinya Houtman telah  membuka pintu masa depan menjadi orang yang berbeda.

Sebagai Office Boy Houtman selalu mengerjakan tugas  dan pekerjaannya dengan baik. Terkadang dia rela membantu para  staf dengan sukarela. Selepas sore saat seluruh pekerjaan  telah usai Houtman berusaha menambah pengetahuan dengan  bertanya tanya kepada para pegawai. Dia bertanya mengenai  istilah-istilah bank yang rumit, walaupun terkadang saat bertanya dia menjadi bahan tertawaan atau sang staf  mengernyitkan dahinya. Mungkin dalam benak pegawai ”ngapain  nih OB nanya-nanya istilah bank segala, kayak ngerti aja”.  Sampai akhirnya Houtman sedikit demi sedikit familiar dengan  dengan istilah bank seperti Letter of Credit, Bank Garansi, Transfer, Kliring, dll.

Suatu saat Houtman tertegun  dengan sebuah mesin yang dapat menduplikasi dokumen (saat ini  dikenal dengan mesin photocopy). Ketika itu mesin fotokopi  sangatlah langka, hanya perusahaan perusahaan tertentulah yang memiliki mesin tersebut dan diperlukan seorang petugas  khusus untuk mengoperasikannya. Setiap selesai pekerjaan setelah jam 4 sore Houtman sering mengunjungi mesin tersebut  dan minta kepada petugas foto kopi untuk mengajarinya. Houtman  pun akhirnya mahir mengoperasikan mesin fotokopi, dan tanpa  di sadarinya pintu pertama masa depan terbuka. Pada suatu hari  petugas mesin fotokopi itu berhalangan dan praktis hanya Houtman yang bisa menggantikannya, sejak itu pula Houtman resmi naik jabatan dari OB sebagai Tukang Fotokopi.

Menjadi tukang fotokopi merupakan sebuah prestasi  bagi Houtman, tetapi Houtman tidak cepat berpuas diri.  Disela-sela kesibukannya Houtman terus menambah pengetahuan dan minat akan bidang lain. Houtman tertegun melihat salah  seorang staf memiliki setumpuk pekerjaan di mejanya. Houtman  pun menawarkan bantuan kepada staf tersebut hingga membuat sang staf tertegun. “bener nih lo mo mau bantuin gua” begitu  Houtman mengenang ucapan sang staf dulu. “iya bener saya mau  bantu, sekalian nambah ilmu” begitu Houtman menjawab. “Tapi  hati-hati ya ngga boleh salah, kalau salah tanggungjawab lo,  bisa dipecat lo”, sang staff mewanti-wanti dengan keras.  Akhirnya Houtman diberi setumpuk dokumen, tugas dia adalah  membubuhkan stempel pada Cek, Bilyet Giro dan dokumen lainnya pada kolom tertentu. Stempel tersebut harus berada di dalam  kolom tidak boleh menyimpang atau keluar kolom. Alhasil  Houtman membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut karena dia sangat berhati-hati sekali  Selama mengerjakan tugas tersebut Houtman tidak sekedar  mencap, tapi dia membaca dan mempelajari dokumen yang ada. Akibatnya Houtman sedikit demi sedikit memahami berbagai  istilah dan teknis perbankan. Kelak pengetahuannya ini membawa Houtman kepada jabatan yang tidak pernah diduganya.

Houtman cepat menguasai berbagai pekerjaan yang  diberikan dan selalu mengerjakan seluruh tugasnya dengan baik.  Dia pun ringan tangan untuk membantu orang lain, para staf  dan atasannya. Sehingga para staf pun tidak segan untuk  membagi ilmu kepadanya. Sampai suatu saat pejabat di Citibank  mengangkatnya menjadi pegawai bank karena prestasi dan kompetensi yang dimilikinya, padahal Houtman hanyalah lulusan  SMA.

Peristiwa pengangkatan Houtman menjadi pegawai  Bank menjadi berita luar biasa heboh dan kontroversial. Bagaimana bisa seorang OB menjadi staff, bahkan rekan sesama  OB mencibir Houtman sebagai orang yang tidak konsisten.  Houtman dianggap tidak konsisten dengan tugasnya,  “jika masuk OB, ya  pensiun harus OB juga” begitu rekan sesama OB menggugat.

Houtman  tidak patah semangat, dicibir teman-teman bahkan rekan sesama staf pun tidak membuat goyah. Houtman terus mengasah  keterampilan dan berbagi membantu rekan kerjanya yang lain.  Hanya membantulah yang bisa diberikan oleh Houtman, karena  materi tidak ia miliki. Houtman tidak pernah lama dalam  memegang suatu jabatan, sama seperti ketika menjadi OB yang  haus akan ilmu baru. Houtman selalu mencoba tantangan dan pekerjaan baru. Sehingga karir Houtman melesat bak panah meninggalkan rekan sesama OB bahkan staff yang mengajarinya tentang istilah bank.

19 tahun kemudian sejak Houtman masuk sebagai  Office Boy di The First National City Bank, Houtman mencapai  jabatan tertingginya yaitu Vice President (tambahan: di Citibank Indonesia ada beberapa orang sekaligus menjabat VP). Sebuah jabatan puncak Citibank di Indonesia. Jabatan tertinggi Citibank  sendiri berada di USA yaitu Presiden Director yang tidak mungkin dijabat oleh orang Indonesia.

Sampai dengan  saat ini belum ada yang mampu memecahkan rekor Houtman masuk sebagai OB pensiun sebagai Vice President, dan hanya berpendidikan SMA. Houtman pun kini pensiun dengan berbagai  jabatan pernah diembannya, menjadi staf ahli Citibank Asia  Pasifik, menjadi penasehat keuangan salah satu gubernur, menjabat CEO di berbagai perusahaan dan menjadi inspirator bagi banyak orang .

(Kisah Nyata Houtman Zainal Arifin, disampaikan dalam training Leadership Bank Syariah  Mandiri)
_________________________________

Pandji – YUPP

Rahasia Sukses Orang Tionghoa: 3C


Buku yang mengupas tentang rahasia keberhasilan orang-orang Tionghoa asal Hokian banyak dikupas.

Konon orang-orang Tionghoa asal suku Hokian memiliki falsafah yang disebut 3C untuk kesuksesan mereka.

3C tersebut adalah :

1.Cengli.
Kalau ingin sukses, cara kita bekerja mesti cengli alias adil.. Dengan kata lain kita harus jujur, tidak curang dan bisa dipercaya. Ini membuat banyak orang suka bekerja sama dengan kita. Semakin dipercaya, maka pintu pun semakin terbuka lebar bagi kesuksesan kita.

2. Cincai.
Artinya orang yang mudah memberi, tidak terlalu banyak perhitungan dan bukan tipe orang yang sulit. Uniknya, orang-orang yang mudah memberi seperti ini juga mudah mendapat. Dari sudut pandang Firman Tuhan , maka itulah yang disebut hukum tabur tuai. Sebaliknya jika termasuk orang yang sulit, pelit, terlalu banyak perhitungan baik dengan Tuhan maupun sesama, maka berkat juga susah turun untuk orang-orang seperti ini.

3. Coan.
Artinya orang kerja adalah wajar kalau mengharapkan keuntungan. Namun, fokus utamanya bukan apa yang kita dapatkan, tapi apa yang berikan. Kita harus sering mengajukan pertanyaan dalam diri kita, apakah yang kita lakukan sudah sebanding dengan apa yang kita dapatkan? Apakah kwalitas dan kontribusi kita sebanding dengan hasil yang kita terima?

Ketiga uraian di atas adalah 3C yang harus dilakukan , maka orang Hokian punya pantangan juga dalam bekerja atau berbisnis yang disebut dengan 3C.

C yang pertama adalah Ciok (hutang). Hutang kalau bayar tidak apa, tapi jadi repot kalau menjadi C yang kedua yaitu Ciak ( dimakan saja). Lebih tidak tanggung jawab lagi kalau kemudian orang tersebut melakukan C yang ketiga yaitu Cao (lari).

Semoga rahasia sukses ala suku Hokian ini, meskipun bernada humor, tapi bisa menjadi inspirasi bagi Anda!

Kalau orangnya melarikan diri bawa uang banyak… namanya CIAK LAT
Dari Mailing list BC

LULUSAN PhD Stanford itu, Kini Jadi Sopir


Lulusan PhD Stanford Itu, Kini Jadi Sopir

Ia telah menghabiskan 16 tahun sebagai peneliti di Institute of Molecular and Cell Biology (IMCB). Tapi akhirnya, nasib menjadikannya seorang supir

Cai Mingjie tak pernah berpikir sebelumnya jika kehidupannya berbalik 180%. Maklum, pria berkacamata ini sebelumnya adalah seorang ilmuwan dengan reputasi bagus. Pendidikan terakhir PhD bidang biokimia diselesaikan dari universitas ternama,  Stanford University .

Namun pria yang pernah menjadi kepala peneliti bidang genetika sel di IMCB ini pergi meninggalkan institusi bergengsi itu dan memilih menjadi sopir taksi.

 “Saya dipaksa keluar dari pekerjaan riset di saat karir saya berada di puncak, dan tidak bisa mendapatkan pekerjaan lain dengan alasan yang hanya bisa saya katakan sebagai “keunikan dari Singapura,” ujarnya dalam sebuah situs blog miliknya.

kibatnya, saya mengemudi taksi untuk membuat hidup dan menulis kisah kehidupan nyata ini hanya untuk membuat pekerjaan yang membosankan sedikit lebih menarik. Saya berharap bahwa kisah-kisah yang menarik untuk Anda juga, ” ujar Dr. Cai.

Berita mengenai Dr. Cai ini sangat mengejutkanmasyarakat Singapura, sebuah negara yang tingkat kemajuan pendidikan dianggap tinggi dan tidak diragukan lagi.

Seorang pekerja kerah putih yang sangat terkejut mengatakan, sebelumnya ia sangat yakin bahwa gelar setingkat doktoral dan pengalaman segudang merupakan jaminan untuk memiliki pekerjaan yang mapan dan kesuksesan abadi.

“Jika ia akhirnya harus menjadi sopir taksi, maka kesempatan apa yang dimiliki orang-orang biasa seperti kami ini?” tanyanya. Saya pernah bertemu dengan sejumlah sopir taksi yang memiliki kualifikasi tinggi dalam beberapa tahun terakhir ini, termasuk mereka yang dulunya adalah manajer dan insinyur.

Seorang sopir yang ceria, suatu hari mengejutkan saya karena memberikan penjelasan lengkap mengenai saham apa yang sebaiknya dibeli dan mana yang harus dihindari. Ternyata  ia dulunya seorang pialang saham.

“Pada masa seperti sekarang ini, mungkin hanya bisnis taksi yang masih aktif menerima pegawai di Singapura, kata Dr. Cai. Bagi saya, perubahan hidup Dr. Cai itu membawa Singapura ke dalam babak baru…

“Saya mungkin satu-satunya sopir taksi dengan gelar PhD dari Stanford dan memiliki pengalaman yang diakui dibidang sains…” tulis Dr. Cai dalam blog nya.

Gelar Doktoral

Kisahnya Dr. Cai ini segera menyebar di dunia maya. Kebanyakan orang Singapura menyatakan penghargaan mereka atas kemampuannya beradaptasi begitu cepat dengan kehidupan barunya. Dua orang pemuda Singapura menanyakan nomor taksinya, berkata bahwa mereka akan sangat senang sekali jika bisa berkeliling dengan taksinya dan berbincang-bincang.

“Banyak (pelajaran) yang bisa ia berikan kepada saya,” kata seseorang…   Lainnya bertanya, mengapa ia tidak bisa mendapatkan pekerjaan mengajar, mengingat pengalaman ilmiahnya yang begitu mengagumkan.

Keluarnya ia dari pekerjaan lama sebenarnya lebih disebabkan karena alasan pribadi (ia dituduh membuat kekacauan oleh para pemimpin penelitian), dan bukan karena lesunya proyek bidang bioteknologi di Singapura, yang masih bisa bertahan di masa krisis ini.

Kasusnya itu menjadikan kelemahan umum di bidang R and D (research and development) Singapura mendapat sorotan.

“Kondisi ekonomi yang buruk artinya tidak banyak perusahaan yang mampu membayar ilmuwan profesional, ” kata seorang peselancar dunia maya. “Gelar akademik tidak banyak membantu–sejarah membuktikan banyak orang yang bergelar PhD berburu mencari pekerjaan.”

Sementara citra sopir taksi menjadi terdongkrak tinggi, tidak demikian keadaannya dengan proyek biomedika Singapura, khususnya upaya mereka untuk menumbuhkan bibit talenta peneliti baru di dalam negeri.

“Semakin banyak orang Singapura yang menjauh dari karir di bidang sains,” kata seorang blogger.

Seseorang menulis, “Menurut saya, gelar PhD tidak berguna, terutama di Singapura. Itu hanya selembar sertifikat, tidak lebih.” Lainnya menambahkan, “Di Amerika Serikat keadaannya lebih parah. Banyak yang datang ke sini untuk mencari pekerjaan.”

“Saya tidak ingin anak saya bertahun-tahun sekolah akhirnya hanya menjadi sopir taksi,” kata seornag ibu rumah tangga yang memiliki putri remaja…

Kasus yang menimpa warga negara Singapura, yang menjalani penelitian PhD-nya di Universitas Stanford dengan subyek penelitian seputar protein pengembang itu, sebenarnya tidak unik.

Ilmuwan peneliti Amerika, Douglas Prasher, yang berhasil mengisolasi gen yang bisa menghasilkan protein bersinar hijau–dan baru saja gagal meraih penghargaan Nobel 2008, menghadapi situasi yang sama.

Prasher pindah dari sebuah lembaga penelitian ke lembaga lain ketika dana penelitiannya habis. Pada akhirnya ia berhenti menggeluti sains, dan beralih menjadi sopir antar-jemput di Alabama .

“Meskipun demikian, ia tetap rendah hati dan bahagia dan kelihatan senang dengan pekerjaan mengendarai minivan-nya, ” kata seorang peselancar internet.

Dengan berubahnya pasar dunia kerja yang tersedia, dan semakin banyaknya pemilik usaha yang menginginkan beberapa pekerjaan bisa dilakukan oleh satu orang dengan kontrak kerja yang singkat, maka semakin banyak orang Singapura yang mengejar gelar yang berbeda. Misalnya akuntansi dengan hukum atau komputer dengan bisnis.

Sebagian orang mulai menghindari gelar pascasarjana atau bidang-bidang ilmu khusus. Mereka lebih memilih bidang keilmuan yang lebih umum atau lintas sektor.

“Pengalaman adalah raja,” itulah semboyannyasekarang. Dan orang-orang berbondong-bondong mencari tempat magang tanpa bayaran.  “Di masa datang, yang dibutuhkan adalah para lulusan dengan keterampilan yang beragam dan karir yang fleksibel, orang-orang yang bisa menyesuaikan diri dengan berbagai pekerjaan yang berbeda,” kata seorang pengusaha.

Selama beberapa tahun terakhir, di mana globalisasi semakin dalam, ada ketidaksinkronan antara apa yang dipelajari oleh orang Singapura di universitas dengan karir yang dijalaninya.

Singapura mengikuti tren di dunia maju, di mana bisnis-bisnis lama bisa hilang sekejap dalam satu malam, kemudian muncul bisnis yang baru, yang menjadi  masalah bagi mereka yang tidak bisa menyesuaikan diri.

Saya mengenal seorang pemuda, insinyur sipil dari universitas terkemuka di Amerika, yang menelantarkan dunia konstruksi untuk menggeluti dunia mengajar.

Seorang insinyur lainnya yang saya temui, mengurus kedai kopi ayahnya yang sangat menguntungkan. Lainnya, pengacara yang kemudian menjadi musisi atau jurnalis, dan lain sebagainya.

Kasus di mana orang-orang melakukan pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan latar belakang pendidikan mereka, semakin hari semakin banyak. Sehingga para pewawancara yang menanyai calon pegawai tidak lagi bertanya, “Mengapa seorang ilmuwan berpengalaman seperti Anda mau bekerja sebagai pegawai  tingkat rendah?”

Di masa lampau orangtua pusing memikirkan bidang studi apa yang harus ditempuh oleh anaknya, akuntansi atau hukum atau teknik, bidang-bidang yang menjanjikan kesuksesan. Dan mereka akan menentukan satu bidang, dan terus mengejar dan menggelutinya hingga menjadi profesi. Seorang dokter akan bekerja menjadi dokter, seorang ahli biologi akan bekerja di laboratorium, dan pengacara akan sibuk berdebat di pengadilan.

Dr Cai adalah pria kelahiran China yang kemudian menjadi warga negara Singapura, setelah memperoleh PhD dalam bidang biologi molekuler dari Universitas Stanford tahun 1990. Dia bergabung IMCB dua tahun kemudian dan bekerja sebagai kepala peneliti di bidang genetika sel sampai  kepergiannya.

Ia dihentikan dari di Institut Molekuler dan Biologi Sel (IMCB) di ASTAR Singapore, tempat di mana dia sudah bekerja selama 16 tahun dan tak dapat menjamin pekerjaan lain sampai penghentiannya bulan Mei 2008. Menjelang  November 2008, dia memutuskan menjadi seorang sopir taksi.

Kini, pria dengan seambrek kurikulum vitaes dan pengalaman universitas, lembaga pemerintah dan perusahaan menjadi sopir kendaraan Toyota Crown. Pada saat seperti ini, bisnis taksi mungkin satu-satunya usaha di Singapura yang masih aktif merekrut orang, ” katanya.

Sumber: milis nilai_nilai_kwi

PEMIMPIN YANG BISA MEMIMPIN


Saya terkesan ketika seorang CEO sebuah perusahaan memberi arahan kepada bawahan-bawahannya, bahwa dalam menghadapi krisis sekarang justru program-program yang menyangkut pengembangan kepemimpinan perlu digalakkan. “Nasib perusahaan ada di tangan anda, di setiap departemen dan semua unsur organisasi. Sekaranglah waktunya anda membuktikan kepemimpinan”.

 

Pemimpin memang sudah seharusnya: memimpin. “The leaders have to lead”. Nampaknya memang banyak kasus, dimana individu yang diharapkan memimpin sekadar melaksanakan tugasnya dan tidak mengadapi secara konfrontatif segala kompleksitas, ambiguitas dan “unpredictabilities”,  di samping tentu saa me-manage timnya. Terkadang saya jadi bertanya-tanya, bahkan berterima kasih kepada individu-individu yang bersedia, sampai-sampai agak “ngotot” untuk memegang tampuk kepemimpinan suatu lembaga, bahkan Negara. Meminam istilah Karen Agustiawan, mereka pastinya sangat paham dan jago dalam bukan saa “plan the work”, tetapi juga “working the plan”. Nah dalam working the plan inilah baru akan teruji daya adaptasi, inovasi, kejelian menangkap peluang, serta kecerdikan  dalam mengelola kegiatan operasional dalam situasi yang sangat berubah-ubah dan rumit dengan bimbingan yang sangat minimal.

 

Tidak Bisa Bilang: “Tidak Bisa”

 

Dalam setiap pembahasan mengenai kepemimpinan, para ahli sering menyebutkan bahwa pemimpin yang tidak punya visi dan tidak berpegang pada misi yang diemban tidak mungkin bisa sukses mengarahkan anak buah. Kitapun banyak membaca bahwa pemimpin yang berhasil adalah mereka yang membuat keputusan-keputusan yang cemerlang. Hal yang tidak banyak disebut-sebut adalah kesulitan pemimpin dalam menghadapi kompleksitas di lapangan.

 

Bisakah kita berempati pada Obama yang menghadapi musuh-musuh politiknya? Bisakah kita membayangkan Perdana Menteri Australia, menghadapi kebakaran hutan yang menewaskan paling sedikit 166 orang? Bagaimana dengan Karen Agustiawan, yang diberi tanggung awab memimpin lembaga paling produktif secara financial di Negara ini, Pertamina, dengan tujuh anak perusahaan? Dengan sedikit upaya, kita tentunya bisa membayangkan betapa ribet-nya kita bila masuk dalam posisi para pemimpin tersebut. Bahkan saya bertanya dalam hati, “Kok mau-maunya ya orang masuk dalam situasi sesulit itu?”

 

Harapan masyarakat terhadap seorang pemimpin tidak pernah memperkirakan dan mempertimbangkan kesulitannya, namun hanya permasalahannya tuntas. Pemimpin diharapkan menjadi tokoh yang selalu “be there” kalau ada kesulitan dan menyediakan solusi. Dalam keadaan yang terjepit secara financial dan perusahaan dituntut untuk menalankan program, kata-kata “tidak ada budget” bisa diungkapkan oleh departemen keuangan, tetapi pmimpin tertinggi tetap tidak bisa mengelakkan kalau program harus dialankan. The show must go on. Uangnya dari mana, pemimpinlah yang harus putar otak dan mengarahkan semua sumber daya untuk mencari solusi.

Pemimpin dipilih justru bukan karena ia bertugas menjalankan  tugas yang manis-manis. Justru dalam menentukan pilihan pada seorang pemimpin, pemegang saham ataupun rakyat sudah membayangkan pe-er yang mungkin tidak mudah, tentang hal-hal yang bukan saja terjadi di masa lalu tetapi juga yang kita tidak tahu di masa mendatang. Pemimpin ini pun tidak pernah diharapkan untuk sedikit-sedikit berkonsultasi, karena secara prinsip itulah bedanya pemimpin dengan bawahan: ia tidak mempunyai atasan tempat bertanya. Dalam situasi sulit begini, pemimpin juga tidak diharapkan untuk sedikit-sedikit excuse atau mengatakan alasan-alasan bahwa ia perlu waktu belaar, mempelajari atau menganalisa, karena gelombang perubahan yang lebih keras pun akan menyapu kondisi sekarang bila ia tidak menggerakkan organisasinya. “Things are going to go wrong and some crazy things are going to happen”.

 

Kompleksitas yang Menuntut Pengembangan Kekuatan dari Segala Aspek

 

Dalam merencanakan kegiatan assessment center, mengurai aspek-aspek kepemimpinan yang dituntut oleh suatu organisasi terkadang bisa menjadi diskusi yang sangat a lot. Minimalnya seorang pemimpin diharapkan bisa menampilkan kemampuan meneropong masa depan (visi), komitmen, akuntabilitas, integritas, fleksibilitas, keterampilan interpersonal, keterampilan komunikasi, serta mengelola sumber daya yang memberdayakan tim untuk mencapai sasaran.

 

Saat mengukur dan memetakan “kurang lebih”-nya keadaan orang yang dinilai dengan aspek kepemimpinan yang diukur, saya sering membatin, apakah mungkin seorang pemimpin bekera all out bila ia tidak mempunyai kekuatan full spectrumi dalam menghadapi kompleksitas yang ada. Bukan zamannya lagi kita menyebut-nyebut peran pemimpin dengan berperan ganda atau beberapa peran sekaligus, karena setiap pemimpin memang diharapkan berperan secara multifacet. Tiada maaf bagi pemimpin yang lemah dalam sisi tertentu, karena seluruh lembaga akan diserang di sisi lemah tersebut, otomatis lemahlah seluruh organisasi atau negaranya.

 

Bahkan, sambil menggerakkan, seorang pemimpin juga perlu meyakinkan diri dan tim, bahwa pasokan dan kebutuhan tim serta anak buah bahkan rakyat cukup. Bukankah ini yang diharapkan rakyatnya atau pemegang saham? Jadi pemimpin perlu bisa memainkan banyak peran dari penggerak, pemasok, pengelola sumber daya yang efisien, penyemangat, pemecah masalah, pengayom dan masih berpuluh-puluh peran yang memang perlu tampil dimainkan. Kelihatannya tuntutan terhadap seorang pemimpin belum berubah dari zaman dahulu seperti yang dituliskan Mark Twain dalam Life on the Mississippi: “the man has got to learn more than any one man ought to be allowed to know”  dan “that he must learn it all over again in a different way every 24 hours”. (Eileen Rachman & Sylvina Savitri/ Experd/ Klasika/ Kompas, 14/02/2009).

KETERAMPILAN PRIBADI MENJADI DAYA PIKAT PERUSAHAAN


Era globalisasi ini, persaingan dunia semakin ketat. Tak lagi hanya bersaing dengan ‘produk lokal’, tetapi juga bersaing dengan sumber daya manusia dari luar negeri. Bila sudah begini, gelar pendidikan tak lagi menjadi hal utama, melainkan kebutuhan akan keterampilan yang beragam dari tiap insane.

 

Setidaknya, anda dapat mengembangkan beberapa keterampilan berikut:

 

  1. Bahasa. Keterampilan ini sudah menjadi salah satu keterampilan wajib sejak dulu di berbagai perusahaan. Dengan semakin gencarnya persaingan secara global saat ini, memiliki kemampuan berbahasa Inggeris, China, Jepang atau Perancis akan lebih diminati. Semakin banyak bahasa yang dikuasai, semakin terbuka kesempatan mendapatkan pekerjaan.
  2. Kepemimpinan. Tentunya keterampilan ini tidak begitu saja turun dari langit, tetapi dipelajari dan memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk menimba pengalaman. Seseoran yang memiliki kemampuan memimpin tentunya akan lebih mudah untuk melangkah ke jenjang lebih tinggi. lagipula, kemampuan ini dibutuhkan dalam setiap perusahaan untuk menjalankan bisnis perusahaan.
  3. Komunikasi. Sukses tidaknya sebuah perusahaan juga dapat dipengaruhi dengan “kemampuan berkomunikasi” dari setiap pegawainya. Yang dimaksud dengan kemampuan berkomunikasi yang baik di sini adalah mampu menengahi konflik, menghadapi masalah atau menciptakan suasana kerja yang nyaman sehingga dapat meningkatkan produktivitas, yang tentunya menguntungkan bagi perusahaan.
  4. Mengelola Sumber Daya Manusia. Kemampuan ini dibutuhkan di setiap perusahaan  untuk mengatur dan mengelola setiap insan pekerja, agar dapat bekerja dengan maksimal, menjaga hubungan interpersonal serta menjadi jembatan antara struktur bawah dan atas. Tak heran bila kini banyak ditemukan banyak jenjang pendidikan maupun pelatihan khusus sumber daya manusia.
  5. Keterampilan komputer. Keterampilan yang satu ini tentunya memegang kendali di setiap lini dalam perusahaan. Terlebih lagi, system komputerisasi juga menjadi salah satu tolok ukur dalam kemajuan sebuah perusahaan. Anda dapat mengembangkan kemampuan ini dengan mengikuti kursus komputer  yang kini sangat mudah ditemui, yang memberikan pelatihan, mulai dari tingkat dasar  hingga advanced. Tentunya setiap keterampilan yang anda miliki harus disesuaikan dengan dengan pekerjaan yang diinginkan. Semakin banyak keterampilan yang dikuasai untuk suatu pekerjaan, semakin besar kemungkinan mendapat pekerjaan tersebut. (ADT/ Klasika/ Kompas/ 25/01/2009)

Masalah adalah Hadiah


*Masalah adalah Hadiah*

[?][?][?][?] [?][?]

Masalah adalah Hadiah

Bila anda menganggap masalah sebagai beban,
anda mungkin
akan menghindarinya.

Bila anda menganggap masalah sebagai tantangan,
anda mungkin akan menghadapinya.

Namun, masalah adalah hadiah yang dapat anda terima
dengan suka cita. Dengan pandangan tajam, anda melihat
keberhasilan di balik setiap masalah.

Itu adalah anak tangga menuju kekuatan yang lebih tinggi.

Maka, hadapi dan ubahlah menjadi kekuatan untuk sukses anda.

Tanpa masalah, anda tak layak memasuki jalur keberhasilan.
Bahkan hidup ini pun masalah, karena itu terimalah
sebagai hadiah.

Hadiah terbesar yang dapat diberikan oleh induk elang
pada anak-anaknya bukanlah serpihan-serpihan makanan pagi.

Bukan pula, eraman hangat dimalam-malam yang dingin.

Namun, ketika mereka melempar anak-anak itu dari tebing
yang tinggi. Detik pertama anak-anak elang itu menganggap
induk mereka sungguh keterlaluan, menjerit ketakutan,
matilah aku.

Sesaat kemudian, bukan kematian yang mereka terima,
namun kesejatian diri sebagai elang, yaitu terbang.

Bila anda tak berani mengatasi masalah, anda tak kan
menjadi seseorang yang sejati

Sumber : Anonymous