Dua Muslim Menyamar di Gereja


09 September 2009 07:25

Dua Muslim menyamar di gereja

[Malaysia 14/7]Polisi di Malaysia mulai menyelidiki kasus dua warga Muslim, yang menyamar untuk bisa mengikuti misa Gereja Katholik, dan kemudian menuliskan pengalaman mereka untuk diterbitkan di sebuah majalah.

Jika dinyatakan bersalah menyulut pertikaian agama, kedua orang tersebut bisa dihukum penjara hingga 5 tahun.

Di negara tempat hubungan antar kelompok agama sering tegang, kasus ini akan diikuti secara seksama.

Pengaduan beberapa warga Katholik menyusul diterbitkannya artikel mengenai seorang wartawan muslim menghadiri misa dengan seorang temannya.

Dia mengikuti seluruh ritual gereja, termasuk makan roti saat Komuni, yang diyakini orang Katholik adalah perwujudan jasad Yesus Kristus.

Foto roti yang sudah di makan sebagian disertakan dalam tulisan tersebut, dan hal ini kemungkinan menyinggung sebagian umat Katholik.

Kitab hukum pidana Malaysia melarang tindakan yang akan menyulut permusuhan antar-umat agama.

Akibatnya, polisi kini menyelidiki apakah kedua pria itu telah menyebabkan pertikaian agama.

Artikel majalah tersebut berniat untuk menyelidiki apakah warga Melayu muslim beralih ke agama Kristen di Gereja-gereja Malaysia, dan itu berarti di mata banyak warga muslim, tindak murtad yang merupakan pelanggaran serius.

Namun, keputusan wartawan muslim tersebut menyamar sebagai orang Kristen yang saleh untuk mendapatkan bahan beritanya kini bisa mengantar dia berurusan dengan tuntutan hukum di negara yang pemerintahnya ingin sekali meredakan ketegangan antar agama.[bbc.com]

 

Sumber: Mirifica.net

Retret GAK: “Lanjutkan Panggilan Sebagai Guru Agama Katolik!”


Foto bersama para GAK DKI Jakarta dengan Dirjen Bimas Katolik “LANJUTKAN!” itulah ungkapan para guru agama Katolik meniru motto Capres SBY-Boediono yang terpilih dalam Pilpres 2009 dalam kesimpulan refleksi mereka tentang panggilan hidup mereka sebagai Guru Agama Katolik (GAK) selama retret. Kalimat ini tepat sekali mengungkapkan pengalaman refleksi atas pengalaman suka-duka para guru agama Katolik pada acara Retret GAK Tingkat Lokal Provinsi DKI Jakarta yang berlangsung pada 22-24 Juni 2009 lalu di Sanno Hotel, Jakarta.
Retret merupakan kegiatan rohani dalam tradisi Gereja Katolik dalam rangka pembinaan kepribadian dan kerohanian hidup umat dalam terang Injil. Oleh karena itu Ditjen Bimas Katolik Departeman Agama RI memprogramkan kegiatan retret sebagai pembinaan kepribadian dan kerohanian para Guru Agama Katolik di Indonesia. Pembinaan kerohanian para guru agama Katolik tersebut bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan menimba kekuatan spiritual. Pembinaan kerohanian dimaksudkan untuk peningkatan mutu pelayanan para guru yang didukung oleh peningkatan kecakapan rohani dan kompetensi kepribadian, dan pada akhirnya meningkatkan kemajuan iman peserta didik. Dalam sambutannya, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik, Drs. Stef Agus berharap agar kegiatan olah batin atau retret ini dapat memberikan “masukan atau input” bagi para Guru Agama Katolik, secara khusus terkait pendampingan iman, pendidikan agama, dan pendidikan keagamaan peserta didik Katolik yang dipercayakan kepada mereka, di tempat mereka berkarya.
Retret yang dipimpin oleh Romo FX. Adisusanto, Sj dan Ibu Afra Siowardjaja ini berlangsung penuh hikmad dan meditatif. Semua peserta mengikuti acara dengan penuh semangat doa. Sebab pendamping retret membantu para peserta retret dengan berbagai metode seperti membaca Kitab Suci, sharing kelompok, renungan pribadi dan dialog berbentuk pleno. Retret juga disertai dengan perayaan Ekaristi dan Sakramen Pengakuan Dosa.
Kepala Pembimas Katolik DKI Jakarta, Drs. A.H. Yuniadi, MM, sekaligus sebagai Ketua Panitia retret ini melaporkan bahwa para peserta retret ini terdiri dari 30 orang yang berasal dari sekolah-sekolah tingkat dasar se-Provinsi DKI Jakarta. Peran para Guru Agama Katolik untuk mendidik peserta didik dari segi keimanan, penting ditingkatkan dan dimotivasi dengan berbagai acara kerohanian Katolik termasuk acara retret ini, tegasnya dalam laporannya. Retret ini mendapat antusiasme dari para guru agama Katolik dan mereka berharap retret diadakan sekali setahun. Antusiasme dan harapan mereka ini diungkapkan ketika menjawab pertanyaan mengenai saran mereka untuk acara retret di hari-hari mendatang pada saat evaluasi kegiatan dilaksanakan panitia. (Pormadi Simbolon).

Paus: Sebarkan Pesan Gereja via Internet


Paus Minta Pesan Gereja Disebar via Internet

[vatikan 21/5/09] Pemimpin tertinggi Kristen Katolik Paus Benediktus XVI, mematahkan paradigma kalau pemimpin spiritual lekat dengan sifat yang kolot dalam soal teknologi. Sebab, Paus mulai memberikan semangat kepada kaum muda Katolik untuk memanfaatkan dengan benar internet.

Seruan ini sengaja dilakakukan agar para anak muda Katolik berusaha keras menyampaikan pesan Gereja ke seluruh dunia, dengan memanfaatkan internet. Pasalnya menurut Paus, internet tidak bisa terlepas dari kegiatan masyarakat. Selain itu juga, internet mampu menjangkau publik lebih luas dan cepat.

“Internet mempunyai pengaruh yang besar untuk menyebarkan pesan yang diinginkan,” ujar Paus yang dikutip salah satu pengajar di Akademi Nazaret Kathryn Pelino, kepada Chicago Tribune, Kamis (21/5/2009).[okezone.com]

 

Sumber: http://mirifica .net/print Page.php?aid=5762

LOLOS PILEG, CALEG KRISTIANI DI SUMBAR DIANCAM PINDAH AGAMA


Harian Komentar
Reporter Kristiani Pos

Posted: May. 23, 2009 10:33:50 WIB

PASAMAN – Sebuah kelompok di daerah Pasaman, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), dikabarkan telah melakukan aksi pengecaman terhadap satu–satunya caleg Katolik yang berhasil memperoleh kursi dalam pemilu legislatif (pileg) lalu.

 

Kelompok tersebut mengecam dan memaksa Dominikus Supriyanto salah seorang kandidat anggota legislatif dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Pasaman Barat, Sumbar, untuk mengganti keyakinannya apabila dia tetap ingin duduk sebagai anggota DPRD Pasaman Barat, Sumbar.

 

Ancaman yang dilakukan bukan hanya dalam bentuk lisan saja, melainkan juga tindakan berupa aksi lempar batu dan memecahkan kaca jendela seraya menyerukan agar Supriyanto mengganti keyakinannya bila masih ingin berkecimpung di dunia politik. Pada peristiwa pelemparan tersebut, Supriyanto sedang berada di rumah.

 

Supriyanto kemudian melaporkan insiden tersebut kepada aparat yang berwajib serta meminta perlindungan yang lebih untuk dirinya dan keluarganya. Dari hasil penyelidikan pihak kepolisian menyimpulkan bahwa insiden tersebut terjadi karena ada unsur kekecewaan pihak pengancam karena kandidatnya tidak berhasil lolos pada pileg lalu.

 

“Saya menang, ranking satu, yang kalah tidak mau mengaku kekalahannya, tidak senang,” tandas Dominikus Supriyanto yang dilansir radio Netherland Worldwide.

 

Menurut keterangan sekitar 98 persen pemilih di daerah pemilihan tersebut beragama Islam. Namun salah seorang sumber mengatakan, para pemilih mendukung Supriyanto atas simpatinya terhadap kaum Muslim.

 

Meskipun mendapat ancaman, Supriyanto tetap akan duduk sebagai anggota legislatif. “Saya akan tetap memeluk agama Katolik walau apa pun yang terjadi,” ujar Supriyanto seraya meminta dukungan dari para anggota PDIP lainnya di Jakarta.

Sumber: Kristiani Pos

PKS Ancaman NKRI?


PKS Ancaman NKRI?

Membaca buku Ilusi Negara Islam (INI), sungguh membuat bulu kuduk merinding. Ternyata , Indonesia sudah berasa di tubir jurang perpecahan. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bersama-sama Hisbuth Tharir Indonesia (HTI), Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) dan sejumlah ormas Islam lain, menurut buku INI, ternyata masuk dalam kategori ancaman bagi masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Buku yang merupakan laporan penelitian terhadap aktivis-aktivis gerakan Islam (yang selama ini dikenal sebagai Islam garis keras) di 17 provinsi itu, menunjukkan dengan gamblang kiprah politik mereka dalam rangka membangun sebuah pemerintahan Islam sedunia atau Khilafah Islamiyah.

Oleh karena itu, saya sangat maklum ketika PKS ngambek ketika Yuhdoyono memilih Boediono sebagai pasangannya dalam pemilihan presiden/wakil presiden mendatang. Isu neoliberalisme dimunculkan, menurut saya, sekaligus memanfaatkan momentum gerakan-gerakan perlawanan terhadap globalisasi ekonomi, privatisasi dan gerakan antiutang yang juga diusung banyak civil society organizations (CSOs).

Barat yang sudah pasti menjadi musuh utama gerakan Wahabi dan Ikhwanul Muslimin karena dianggap sebagai biang kekacauan dunia, khususnya kemunduran Islam di berbagai belahan dunia, ‘dijual’ sebagai isu utama. Harapannya, gerakan itu akan memperoleh dukungan dari banyak kalangan, tak cuma para aktivis dan komunitas muslim semata.

Di buku itu ditunjukkan, misalnya, betapa organisasi Islam sebesar Muhammadiyah sudah sedemikian parah ‘diacak-acak’ anggotanya sendiri yang merangkap sebagai aktivis PKS. Banyak masjid dan lembaga-lembaga pendidikannya ‘diserobot’ orang-orang partai. Begitu pula NU, yang hanya di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, saja sudah ‘kehilangan’ 11 masjid/mushala.

Yang tak kalah mengagetkan, gerakan transnasional Islam model Wahabi/Ikhwanul Muslimin ini pernah pula berupaya masuk Istana Presiden. Sebuah proposal tawaran kerjasama dengan pemerintah dengan nilai ratusan juta dolar Amerika disodorkan, bahkan gamblang disebutkan sebagiannya bisa dimanfaatkan untuk operasional kabinet, hanya sebuah rekomendasi legal untuk sebuah proyek di Indonesia.

Ilusi Negara Islam merupakan buku yang mencerahkan, memberi gambaran gamblang tentang gerakan Islam di Indonesia. Bagaimana banyak BUMN dikuasai aktivis-aktivis Wahabi/Ikhwanul Muslimin/Hisbuth Tharir, juga parlemen dan banyak perusahaan-perusaha an swasta di Jakarta dan berbagai kota .

Buku INI tak hanya layak jadi bacaan wajib masyarakat Indonesia, namun utamanya justru bagi Yudhoyono, Megawati dan Jusuf Kalla, supaya dia lebih berhati-hati memilih tokoh-tokoh dalam kabinetnya kelak. Selain itu, menarik pula dijadikan rujukan bagi para penerima mandat sebagai penjaga keamanan dan kedaulatan Indonesia untuk lebih berhati-hati.

Kita tahu, sering gosip mampir ke telinga kita, bahwa sejumlah oknum perwira (dan penisunan) polisi dan militer melakukan ‘kerjasama’ di bawah tangan dengan kelompok-kelompok garis keras. Terlepas dari persentase kebenaran isi buku (hasil penelitian itu), saya kira kita harus mengapresiasi kerja intelektual mereka dalam membangun peradaban Indonesia yang lebih bermartabat, tak ada diskriminasi dan lebih dari itu, saling hormat-menghormati tanpa memandang latar belakang agama, keyakinan, etnisitas dan sebagainya.

Selayaknya pula, PKS, HTI, DDII dan ormas-ormas yang merasa dirugikan dengan publikasi buku itu, membuat klarifikasi kepada publik secara gentle dan terhormat.
Kita, tentu tak ingin ancaman pembunuhan kepada salah seorang Ketua PBNU di Mesir oleh seorang pimpinan partai Islam garis keras hanya demi perasaan tak suka Sang Ketua PBNU membuka fakta yang sesungguhnya tentang gerakan Islam di Indonesia.

Terbitnya Ilusi Negara Islam sungguh merupakan sumbangan sangat berharga bagi masyarakat Indonesia untuk memilih dan membentuk peradaban yang lebih baik di masa mendatang. Kita juga diuntungkan oleh orang-orang seperti KH Abdurrahman Wahid, Prof. DR. Buya Ahmad Syafi’i Maarif, KH Ahmad Musthofa Bisri dan semua pihak yang terlibat dalam penelitian itu.

Tanpa kerja keras dan rasa cinta mereka pada Indonesia , tak mungkin buku yang sangat penting itu bisa terbit dan beredar di sini. Tak berlebihan bila buku semacam itu menjadi bacaan utama pelajar dan mahasiwa Indonesia , agar tatanan kehidupan yang lebih adil, saling menghargai dan menghormati itu bisa segera terwujud, setidaknya beberapa tahun mendatang.

Semoga apa yang dilakukan Abdurrahman Wahid, Buya Syafi’i Maarif dan kawan-kawan bisa menjadi amal jariyah yang tak ternilai bagi Indonesia . Amin.

Dari sebuah Milis

Martir atau Mati Syahid dalam Kristen Katolik


mati martirMartyr – (Yun. ‘saksi’). Orang yang rela menderita dan mati karena iman dan cintanya kepada Kristus (LG 50). DalamInjil St. Yohanes istilah ini dipakai untuk menyebut kesaksian Bapa bagi Putra (Yoh 5:37), kesaksian yang diberikan oleh Yesus (Yoh. 3:1-12), dan kesaksian Yohanes Pembaptis (Yoh 1:6-8,15,19-36; 3:22-30; 5:33). Para Rasul dan orang-orang Kristiani lainnya memberikan kesaksian tentang kebenaran (Luk 24:48; Kis 1:8,22).

Dalam perkembangan selanjutnya martir  dipakai untuk menyebut orang yang menderita dan mati demi kesaksian mereka (Kis 22:20; Why 12:11). Kematian Yesus Kristus sendiri dilihat sebagai contoh utama  kemartiran (lih. Kis 1:5; 3:14). Penganiayaan terhadap orang Kristiani dilakukan secara besar-besaran dan terencana di bawah pemerintahan kaisar Septimius Severus (202-203), Decius (249-250), dan Valerianus (257-258). Penganiayaan di Roma memuncak dalam pemerintahan Diocletianus dan Galerius sejak tahun 303 dan baru berakhir setelah kemenangan  Konstantinus Agung pada tahun 312.

Orang-orang Kristiani pertama yang dihormati sebagai santo dan santa adalah para martir. Kapel yang didirikan di atas makam mereka disebut martyrion, yang dikunjungi khususnya pada hari kelahirannya atau pada hari ketika mereka lahir kembali di surga melalui kemartirannya.

Sejak awal Gereja  memahami kemartiran sebagai “baptisan darah”, yang dapat menggantikan sakramen baptis. Martirologi  adalah buku liturgi yang berisi nama para martir  dan para kudus yang lain, yang didaftar menurut hari kematian mereka. Pada zaman modern ini juga ada banyak martir di Afrika, Amerika, Asia, Oseania, Eropa. Mereka menderita dan dibunuh karena kesetiakawanan dan perjuangan mereka bagi dan bersama orang-orang yang menderita. (lih. Yoh 15;13)

HARI RAYA KENAIKAN YESUS KRISTUS


kenaikan yesusPerayaan hari kenaikan Yesus Kristus pada tahun 2009 ini diadakan pada tanggal 21 Mei 2009. Bacaan yang diambil dari Markus 16:15-20, seperti dalam kisah berikut ini:

[“Sesudah kebangkitanNya, Yesus berkata kepada mereka (para murid): ‘Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.

Sesudah Tuhan Yesus berbicara  demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.”]

 

Ascension –  Peristiwa Yesus yang bangkit “naik” ke surga masuk ke dalam kemuliaan yang utuh dan penuh “di sebelah kanan Bapa”. Ia menjadi Pengantara bagi kita dan menjalankan pemerintahanNya atas seluruh jagat raya (lih. DS 10-30; 189). Kenaikan sebagai penampakan terakhir Kristus yang bangkit (kecuali penampakan khusus kepada Paulus) merupakan awal kehadiran Kristus secara baru melalui Roh Kudus, yaitu (dalam) Gereja dengan tugas perutusan untuk mewartakan Injil ke seluruh bumi. Kedua rahasia iman ini pada mulanya dirayakan bersama pada hari Pentekosta, tetapi sekitar tahun 370 pesta Kenaikan ini ditetapkan empat puluh hari sesudah Paska (Kis 1:3). Sumber: Kamus Teologi, Gerald O’Collins, SJ & Edward G Farrugia, Kanisius: Yogyakarta 1996.