MUSDAH MULIA: Diam Itu Berbahaya


SELESAI acara Misa Syukur 70 Tahun Michael Utama Purnama di Aula Yustinus Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, Jalan Sudirman, Musdah Mulia (56) tampil menyampaikan testimoni, Minggu (8/6).

”Diam itu berbahaya. Orang baik harus banyak bicara sebab diam saja itu dianggap setuju dengan keadaan karut-marut,” katanya di depan hadirin yang memenuhi aula.

HS Dillon, Sudhamek AWS, dan Pendeta SAE Nababan yang mengikuti perayaan sejak awal sampai akhir tepekur. Harapan hadirin menunggu komentar lebih jauh terkait Pemilu Presiden 2014 tidak terpenuhi. Musdah, Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace itu, menghindar. Pluralitas dan pluralisme adalah jati diri Indonesia, katanya. ”Para pendiri negeri ini sejak awal sudah mencita-citakan suatu negara yang demokratis didasarkan atas realitas kemajemukan.”

Suara hatinya tidak bisa menerima tindakan kekerasan yang terjadi di Sleman, Yogyakarta. ”Harus bicara. Diam itu berbahaya,” ujarnya lagi, lebih bersemangat. Cara bicara macam-macam. Hal itu seperti dilakukan Michael Utama yang hari itu genap 70 tahun. Bagi Musdah, sosok Michael Utama merupakan aktivis penggalang gerakan pluralisme.

Aktivitas Michael Utama sebagai penggerak pluralitas rupanya lebih menonjol dibandingkan ketokohannya sebagai filantrop, pendidik, dan pebisnis. (STS)

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000007128059

Bukan Sekadar Urusan Coblosan (Agus Sudibyo)


”KEKUASAAN ada di tangan rakyat, tetapi rakyat hanya memilikinya saat pemilu tiba. Setelahnya, kekuasaan itu sepenuhnya berpindah tangan ke mereka yang memenangi pemilu.”

FILSUF perempuan Hannah Arendt menyampaikan hal ini sebagai kritik atas kenyataan bahwa politik dalam praktiknya semata- mata dipandang sebagai urusan penyelenggaraan kekuasaan: bahwa demokrasi pada akhirnya adalah sekadar urusan pelaksanaan pemilu. 

Kritik Arendt ini menemukan relevansinya untuk konteks Indonesia saat ini ketika partisipasi politik warga negara banyak dibicarakan menjelang Pemilu 9 April 2014. Semua warga negara yang telah memiliki hak pilih diimbau mengikuti pemilu. Meski belum menjadi kewajiban, menggunakan hak pilih sangat dianjurkan, bahkan jadi komitmen bersama secara nasional.

Setiap warga pemegang hak pilih diharapkan berbondong- bondong ke TPS dan memilih satu dari sekian banyak kandidat anggota DPR, DPRD I, DPRD II, dan DPD. Inilah tafsir utama tentang partisipasi politik warga negara hari-hari ini. Dan, inilah persisnya yang menjadi sasaran kritik Arendt.

Partisipasi politik
Bagi Arendt, partisipasi politik mesti dipahami secara lebih luas sebagai keterlibatan sukarela dan bermakna semua orang dalam urusan-urusan penyelenggaraan kepentingan bersama. Lebih jelasnya, partisipasi politik harus dilihat dari sejauh mana masyarakat dilibatkan atau melibatkan diri dalam proses-proses penyelenggaraan urusan publik oleh suatu pemerintahan. Berpartisipasi dalam proses pengambilan kebijakan, mengawasi kinerja wakil rakyat dan presiden-wakil presiden hasil pemilu bahkan dianggap lebih penting dari sekadar tindakan warga negara menyalurkan suara di TPS.

Singkat kata, partisipasi politik warga negara mesti dimaknai lebih luas dari sekadar urusan coblosan ketika setiap warga negara menyerahkan hak suaranya kepada segelintir orang. Partisipasi politik selalu mengandaikan kepedulian dan tanggung jawab setiap warga negara atas cita-cita bersama untuk mewujudkan kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang lebih baik. Kepedulian dan tanggung jawab ini, pertama-tama, harus diwujudkan dalam partisipasi aktif warga negara dalam proses penyelenggaraan kekuasaan dan pengawasannya dari satu pemilu ke pemilu berikutnya sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Kedua, kepedulian dan tanggung jawab itu juga harus tecermin dari pilihan politik yang diambil ketika mengikuti pemilu. Jika peduli terhadap perjalanan bangsa ini lima tahun ke depan, tentu kita tak sekadar mencoblos pada 9 April. Kita juga tidak akan memilih caleg hanya berdasarkan popularitas atau alasan-alasan kedekatan suku, agama, ormas, atau kekerabatan.

Kualitas partisipasi politik dalam hal ini ditentukan oleh sejauh mana kita mampu menanggalkan preferensi pribadi, perasaan suka atau tidak suka, untuk sungguh-sungguh memilih wakil rakyat terbaik atau yang lebih baik daripada yang lain. Tentu saja di sini diandaikan kita memiliki informasi yang cukup tentang rekam jejak para kandidat.

Kita semua berkomitmen mengurangi angka golput dan meningkatkan tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilu. Namun, perlu digarisbawahi, tingginya partisipasi masyarakat dalam pemilu tak banyak maknanya jika pemilu masih dibumbui sikap permisif terhadap politik uang dalam berbagai bentuknya.

Sebagian orang berbondong-bondong ke TPS bukan karena kesadaran diri untuk menyampaikan pilihan politik secara independen dan cerdas, melainkan karena dimobilisasi dengan imbalan material tertentu. Pemilu yang dilaksanakan dalam situasi seperti ini jelas tidak dapat banyak diharapkan mampu melahirkan pemimpin-pemimpin yang militan dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat dan memerangi korupsi.

Ketiga, lebih dari sekadar mengikuti coblosan, mengawasi jalannya coblosan dan penghitungan suara juga bentuk partisipasi politik yang sangat menentukan. Dianjurkan kepada tiap warga negara pemegang hak pilih agar tak langsung pulang setelah mencoblos. Tetaplah berada di TPS untuk mengikuti proses penghitungan suara dan mencatat hasilnya.

Jika hasil rekapitulasi suara di tingkat kecamatan tidak sesuai dengan hasil penghitungan suara di TPS, kita harus berani mempersoalkannya secara pribadi maupun kolektif. Pelajaran dari berbagai pilkada menunjukkan, kita menghadapi tingkat kerawanan yang lebih tinggi pada fase penghitungan dan rekapitulasi suara ini.

Perlu kewaspadaan dari setiap pemegang hak pilih terhadap potensi kecurangan pada fase ini. Bisa saja terjadi, calon wakil rakyat yang berkualitas pada akhirnya gagal mendapatkan kursi bukan karena kalah suara, melainkan karena korban kecurangan dalam penghitungan suara. Sebaliknya, calon wakil rakyat yang tidak kredibel atau tidak berkualitas pada akhirnya justru memenangi pemilu karena bermain dalam praktik manipulasi suara dengan modal yang dimilikinya.

Dalam konteks keinginan bersama untuk melahirkan para wakil rakyat yang berkualitas dan berintegritas, mengawasi jalannya pemilu tidak kalah penting dari sekadar mengikuti pemilu. Jangan sampai kesungguhan kita untuk mencoblos yang terbaik di TPS akhirnya sia-sia karena kita tidak berhasil mencegah kongkalikong antara kandidat, panitia, pengawas, dan para saksi pemilu.

Harus proaktif
Keempat, setelah pada akhirnya terpilih anggota DPR, DPRD, dan DPD hasil pemilu, masyarakat masih memiliki waktu untuk menuntut penegasan komitmen mereka selama lima tahun ke depan. Masyarakat bahkan dapat secara proaktif mengajukan usulan-usulan program. Bagaimana komitmen dan program itu dijalankan kemudian sangat membutuhkan ketelatenan masyarakat untuk terus-menerus mempertanyakan dan mengawasinya.

Hanya dengan partisipasi politik dalam pengertian yang lebih luas inilah kita mampu memutus siklus sebagaimana dikatakan Arendt; warga negara hanya memiliki kedaulatan ketika hari coblosan tiba karena setelah itu kedaulatan begitu saja berpindah tangan ke mereka yang memenangi pemilu. Kedaulatan itu baru kembali ke tangan warga negara lagi pada pemilu berikutnya, lalu berulang lagi proses serupa.  

Agus Sudibyo, Direktur Eksekutif Matriks Indonesia

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000005531941

Anna Hazare, Gandhi Baru dari India?


IA hanya mengenakan khadi, pakaian berbahan katun yang ditenun sendiri secara sederhana. Begitulah CNN mengawali beritanya ketika menceritakan tentang Anna Hazare, seorang aktivis sepuh—usianya 73 tahun—yang beberapa hari terakhir mengguncang India.

Anna Hazare, hari Selasa lalu, ditangkap polisi dan dimasukkan ke tahanan. Polisi juga menangkap dan menahan 2.600 pendukungnya, tetapi beberapa jam kemudian mereka dibebaskan.

Mantan tentara yang kini lebih memilih hidup asketik dan sehari-hari menumpang tidur di ruangan kecil sebuah kuil di sebuah desa di India bagian barat itu kini mulai dibandingkan dengan Mahatma Gandhi. Gandhi melawan penjajah Inggris pada tahun 1947 dengan mengorbankan perlawanan tanpa kekerasan; Hazare melawan korupsi dengan mogok makan! Seperti pernah dikatakan oleh Mahatma Gandhi, kepuasan itu terletak pada usaha, bukan pada pencapaian hasil. Berusaha keras adalah kemenangan besar.

Usaha keras itu yang kini dilakukan Hazare dengan mogok makan untuk melawan korupsi: untuk mendesak agar pemerintah bertindak tegas dan lugas terhadap praktik-praktik korupsi. Mogok makan, begitu kata Zoya Hasan, seorang profesor ilmu politik di Universitas Jawaharlal Nehru, adalah senjata yang biasa digunakan rakyat saat protes. Mogok makan menjadi senjata, senjata perjuangan.

Dulu, kita mengenal ada laku pepe, berjemur diri di alun-alun untuk meminta keadilan kepada raja. Itulah kearifan lokal kita zaman dulu. Kini, orang tidak akan lagi dianggap kalau nekat laku pepe menuntut keadilan karena keadilan adalah barang dagangan yang mahal harganya.

Sebegitu parahkah korupsi di India, negeri dengan lebih dari semiliar penduduk itu? Bukan soal parah dan tidak parah, melainkan soal apakah ada yang mau secara tuntas, lugas, dan tegas memberantas korupsi. Bukankah, seperti pernah dikatakan oleh filosof dan teolog Augustinus (354-430), sebuah negara yang tidak dipimpin sesuai dengan keadilan hanya akan menjadi kumpulan para pencuri. Apabila itu yang terjadi, negara pun akan menjadi negara pencuri. Pencuri ada di mana-mana dalam segala bentuk: ada yang sendiri-sendiri ataupun ada yang berombongan dan mendapatkan restu.

Korupsi itu seperti bola salju, begitu kata Charles Caleb Colton (1780-1832), seorang penulis asal Inggris, sekali bergulir akan terus bertambah besar. Orang lain merumuskan, korupsi itu bagaikan diabetes, hanya dapat dikontrol, tetapi tidak dapat dihilangkah secara total.

Apakah itu berarti bahwa Hazare sudah putus asa melihat kondisi negerinya? Bukankah Manmohan Singh, Perdana Menteri India sekarang ini, adalah orang yang dinilai bersih, pintar, dan dipuja-puja dunia? Akan tetapi, kata Peter F Drucker, pemimpin efektif bukan soal pintar berpidato dan mencitrakan diri agar disukai; kepemimpinan tergambar dari hasil kerjanya, bukan atribut-atributnya.

Hazare tidak putus asa. Mogok makan adalah pilihannya agar para pemimpin membuka hati dan pikiran mereka, serta kembali sadar bahwa mereka dipilih oleh rakyat.
(Kompas)

MOST WANTED HIGH REWARD KAFIR (KAFIR PALING DICARI DI SELURUH DUNIA)


Al Qaeda Mengumumkan Pendeta Koptik Zakaria Botros Sebagai “Kafir Yang PalingDicari Di Seluruh Dunia Al-Qaeda juga menawarkan upah USD $60 juta bagi kepala Botros.

Silakan pula baca Musuh Islam Nomer Satu. Al-Qaeda mengarahkan serangan pada penginjil Arab yang beroperasi di AS karena dia telah menyebarkan Injil kepada Muslim. 

Oleh Joel C. Rosenberg untuk Flashtraffic, 9 September 2008. 

Anda mungkin belum pernah mendengar Pendeta Zakaria Botros, tapi pentinguntuk mengetahui tokoh ini. Dia adalah penginjil Arab Amerika yang palingefektif, terkenal, konstroversial di dunia Muslim. Dia bagaikan Rush Limbaugh bagi para Revivalis. Khotbahnya lucu, cerdas, meyakinkan, dan provokatif.

Musuh-musuhnya tidak hanya ingin membungkamnya, tapi membunuhnya sekalian. Minggu lalu aku dapat kehormatan mewawancarai Botros melalui telpon daritempat tinggalnya yang tersembunyi di AS. Dia mengatakan padaku bahwa dia baru saja tahu website Al Qaeda memasang fotonya dan menyebutnya sebagai Kafir yang“paling dicari” di seluruh dunia. Mereka juga sudah memasang harga bayaran bagikepalanya. Christian Broadcasting Network melaporkan bahwa harga kepalanya adalah $60 juta. Botros tidak tahu berapa tepatnya. Tapi bandingkan saja dengankepala Osama Bin Laden yang “hanya” dihargai Pemerintah AS $25 juta. 

Kenapa yah para Muslim sangat jengkel dengan pendeta tua Koptik Kristen dari Mesir yang sudah berusia 70 tahunan ini? Jawabnya adalah karena Botros memerangiIslam melalui udara, dan dia menang. Botros mengabarkan Injil melalui teknologi satelit canggih yang mampumenembus benteng-benteng para Pemerintah Islam untuk menahan penginjilan ditanah Islam. Dengan begitu, Botros secara langsung menantang Muhammad sebagai Nabi, dan Al-Quran sebagai firman Allah SWT.

Secara sistematis dia membahas kehidupan Muhammad, kisah demi kisah, untuk menunjukkan sifatnya yang buruk danpenuh dosa. Dia membahas Al-Quran dengan seksama, ayat demi ayat, sambil menunjukkan isinya yang bertentangan satu sama lain dan tiadanya konsistensipesan. Tidak hanya kesalahan Islam saja yang dia jabarkan, tapi juga penyampaianpesan pada Muslim mengapa Yesus mengasihi mereka dan bersedia menerima danmengampuni mereka.

 Jika hal ini dilakukan Botros secara diam-diam, atau jika siaran TVsatelitnya tiada yang menonton, maka tentunya tidak akan ada keributan yangditimbulkannya. Tapi program TV-nya yang berlangsung selama 90 menit – denganpesan campuran antara khotbah, ajaran, dan jawaban dari para penelpon (yang kebanyakan jengkel) dari seluruh dunia – merupakan program TV “wajib tonton” diseluruh dunia Muslim.

Program TV-nya ditayangkan empat kali seminggu dalambahasa Arab, yang merupakan bahasa asli Botros, di jaringan TV satelit bernamaAl Hayat (TV Hidup). Siaran TV ini bisa dilihat di seluruh negara-negara diAfrika Utara, Timur Tengah, Asia Tengah, dan juga seluruh Amerika Utara, Eropa,Australia, dan New Zealand. Tidak hanya bisa ditonton di mana saja, tapi jugaoleh sekitar 50 juta Muslim setiap hari. 

Selain itu, website Botros dalam berbagai bahasa juga didatangi jutaanpeminat. Di website ini, para Muslim bisa membaca khotbahnya dan mempelajariartikel-artikel jawaban atas FAQ (Frequently Asked Question =Pertanyaan-pertanyaan Yang Paling Banyak Diajukan).

Pengunjung pun juga bisamasuk ruang chat bernama “Pal Chat” di mana mereka tidak hanya boleh tapi jugadianjurkan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang paling susah pada parapenjawab di website itu yang kebanyakan adalah para murtadin yang membelot keKristen dan tahu betul apa yang biasanya dipikirkan umat Muslim. 

Akibatnya, Botros – yang sudah mengudara sejak tahun 2003 – telah jadi namaterkenal sehari-hari di dunia Muslim. Koran Arab menyebutkan sebagai “MusuhMasyarakat Islam #1″. Jutaan Muslim membencinya, tapi tetap menonton dan mendengarkannya. Mereka memproses informasi dari Botros dan membicarakan hal itudengan teman-teman dan keluarganya. Ketika Botros menantang Imam-imam radikal Muslim untuk menjawab tuduhan-tuduhannya terhadap Islam dan Al-Quran, jutaanpenonton menunggu bagaimana para Imam akan menjawabnya. Tapi ternyata jawaban jarang muncul, karena mereka lebih memilih menyerangnya daripada menjawabnya.Tapi semakin banyak Muslim radikal menyerangnya, Botros justru jadi semakintenar. Karena semakin tenar, maka semakin banyak pula Muslim yang menontonnya.

Semakin banyak Muslim mengamati, semakin banyak pula Muslim yang akhirnya berkesimpulan bahwa Botros ternyata benar dan mereka pun lalu murtad dan beralih agama ke Kristen. Botros memperkirakan setidaknya 1.000 Muslim per bulan berdoa untuk menerima Kristus lewat telepon genggamnya. Sebagian Muslim berdoa menerima Kristus di siaran TV bersama Botros.

Ini tentunya hanya pucuk gunung es saja, karena dari sekian banyak penelpon, memang hanya sedikit yang akhirnya bisa masuk percakapan per telpon. Juga karena tidak cukup banyak penjawab terlatih yang bisa menerima telpon dari para penonton. 

Botros yakin kebanyakan Muslim bukanlah Muslim radikal, tapi dia menjelaskanbahwa Muslim tersesat secara rohani, dan dia ingin sekali menolong mereka mendapatkan jalan kembali ke Tuhan yang menciptakan dan mencintai mereka. “Aku percaya semua ini hasil kerja Tuhan,” kata Botros padaku. “Dialah yang membimbingku. Dia menjelaskan padaku apa yang harus kukatakan. Dia menunjukkan pada apa yang harus kutulis di websiteku. Dia menunjukkan lebih banyak lagi bagaimana cara menggunakan teknologi untuk mencapai orang-orang dengan pesan keselamatanNya.” 

Sejumlah faktor yang mempengaruhi fenomena Botros ini: 

PERTAMA, bentuk media baru – khususnya TV satelit dan Internet (bentuk-bentukutama TV al Hayat) – memungkinkan orang bertanya tentang Islam, tanpa takutdianiaya atau dibunuh. Ini mengakibatkan untuk pertama kalinya penonton – bahkandari Saudi, dimana Injil-Injil disita dan dibakar – menelpon show itu untukberdebat dengan Botros dan kolega-koleganya dan bahkan menyatakan kemurtadanmereka [dan masuk Kristen].

 KEDUA, siaran Botros dalam bahasa Arab – bahasa sekitar 200 juta orang,kebanyakan Muslim. Kemahiran Botros berbahasa Arab Klasik tidak hanya memungkinkannya mencapai audiens yang lebih luas, dan memungkinkannya untuk membahas lebih dalam literatur Arab yang berjilid-jilid sehingga melaporkan kepada Muslim-muslim KTP tentang kepincangan-kepincangan dalam Islam. 

KETIGA, analisanya tidak dapat dibantah. Contoh pembahasannya tentang “Apakahjihad sebuah kewajiban bagi semua Muslim ?”; “Apakah wanita lebih rendah daripria dalam Islam?”; “Benarkah Mohammed mengatakan bahwa monyet-monyet wanitaharus dirajam dengan batu ?” “Apakah meminum air kencing nabi-nabi memang diwajibkan shariah ?”. Botros menjawab setiap pertanyaan dengan kutipan dari sumber-sumber Islam yang jelas, dari teks otoritatif Quran, hadis danteologi-teologi Muslim ternama, dari dulu sampai sekarang. 

Ia juga mengundang para ulama untuk menunjukkan kesalahan metodologinya(kalau ada). Tapi ia menuntut bahwa jawaban ulama harus didasarkan pada”al-dalil we al-burhan,” – “dalil dan bukti.” DAN ternyata, tanggapan ulama sering dalam bentuk BUNGKAM KESUMAT, yang membuat siaran-siaran Botros semakin menggiurkan bagi penonton Muslim.

Ulama yang sering merujuk kepada kesimpulan-kesimpulan Botros mau tidak mau MALAH menyatakan persetujuan mereka dengannya – sehingga sering menunjukkan wajah-wajah merah malu pada siaran TV langsung ini. 

Botros menghabiskan tiga tahun untuk menarik perhatian dunia pada sebuah hadis otentik namun sangat memalukan bahwa : wanita Muslim harus MENYUSUI lelakitidak semuhrim (bahkan lelaki tidak dikenal) agar dapat berada dalam saturuangan sendiri dengan si lelaki tersebut. 

MESIR : fatwa MENYUSUI lelaki dewasa !! Seorang pakar hadis, Abd al-Muhdi, dihadapkan pada hadis ini pada sebuah siaran TV live yang dimoderasi oleh pembawa acara Hala Sirhan.

Al-Muhdi menegaskan bahwa meyusui lelaki dewasa, menurut shariah, adalah sebuah CARA SAH untuk memudahkan wanita-wanita, yang tadinya “terlarang” bagi lelaki yang tidak semuhrim, mengadakan hubungan dengan lelaki lain – logikanya adalah bahwa dengan”menyusui” lelaki itu, ia menjadi seperti “putera” sang wanita dan oleh karena itu tidak lagi bisa memiliki nafsu birahi terhadap wanita tersebut. 

Yang paling lucu, Ezzat Atiyya, kepala Departemen Hadis di Universitasal-Azhar – institusi Islam Sunni yang paling otoritatif – malah mengeluarkan fatwa untuk mengabsahkan “Rida’ al-Kibir” (istilah shariah bagi “menyusui orangdewasa”), yang sampai mengakibatkan kemarahan besar dalam dunia Islam sampai fatwa itu harus dicabut. (Tapi hadis-nya masih eksis!) 

Botros memainkan peranan penting dalam memfokus pada masalah memalukan inidan memaksa ulama untuk memberi tanggapan. Seorang tamu lain pada show Hala Sirhan, Abd al-Fatah, malah semakin mempermalukan para ulama: " Saya tahu kalian semua menonton siaran pendeta itu dan tidak seorangpun dari kalian [menunjuk pada Abd al-Muhdi] mampu menanggapinya, karena ia selalu mengutip sumber-sumbersahih !” 

Karena impotensi mereka menjagal Botros, satu-satunya strategi yang tersisa bagi ulama adalah menuntut kematiannya (dengan hadiah US$5 juta bagi kepalanya) atau tidak mengacuhkannya. Setiap kali namanya muncul, mereka mengutuknya sebagai siapa lagi kalau bukan antek-antek Yahudi.

Taktik ini mungkin memuaskan beberapa Muslim TAPI tetap saja masyarakat umum terus menuntut agar ulama memberikan jawaban tegas dan konkrit kepada sang pendeta. 

Contoh paling dramatis adalah pada siaran TV internasional, Iqra. Sang pembawa acara, Basma, Muslimah konservatif berhijab, menanyakan kepada dua ulama, termasuk Sheikh Gamal Qutb, yang pernah menjabat sebagai mufti agung universitas al-Azhar, untuk menjelaskan legalitas ayat Quran (4:24) yang mengijinkan lelaki untuk menggagahi wanita-wanita tahanan perang. Ia berulang-ulang menanyakan: “Betulkah menurut shariah, sex dengan budak masihberlaku ?” 

Kedua ulama tidak memberikan jawaban jelas, mereka cuma bisa OOT (Out OfTopic) dan mengutuk Yahudi. Basma menegaskan kembali : pemuda-pemuda Muslim bingung dan PERLU JAWABAN seketika ini juga, karena “ada sebuah saluran TV khusus dan seorang lelaki yang mendiskusikan masalah ini selama 20 tahun &belum juga mendapatkan tanggapan dari kalian.” 

Sheikh Qutb yang wajahnya memerah berteriak, “Percuma menanggapi orang-oranghina macam itu !” dan angkat kaki dengan marah dari set film. Ia kemudian kembali lagi, tapi menolak untuk mengakui bahwa Islam memang mengijinkan budak-budak sex dan malah menghabiskan waktu mengumpat dan mengutuk Botros.

Ketika Basma mengatakan “99% Muslim, termasuk saya, tidak mengerti masalah pergundikan dalam Islam dan sulit menerimanya.” Sang sheikh menjawab, “Kalian tidak perlu mengerti.” Dan bagi Muslim-muslim yang menonton dan dipengaruhi Botros, ia menghardik, “Itu urusan kalian ! Kalau putera saya sakit dan memilihuntuk mengunjungi seorang mekanik dan bukan seorang dokter – maka itu urusan dia!” 

Namun sukses utama Botros adalah tujuannya untuk menyelamatkan jiwa Muslim. Ia selalu memulai dan mengakhiri programnya dengan menyatakan bahwa ia mencintai semua Muslim dan ingin menjauhi mereka dari kepalsuan dan membawa mereka menuju kebenaran. Dengan demikian Father Zakaria Botros memerangi api dengan api. 

Father Brotos  

Walau ia tidak dikenal secara luas di Barat (ataupun Indonesia), pendeta Koptik, Dr Zakaria Botros/Boutros — yg dicap sbg “MUSUH UTAMA ISLAM #1” oleh surat kabar Arab, al-Insan al-Jadid — terus mencuatkan kontroversi dlm dunia Islam. Bersama dgn missionaris yg kebanyakan Muslim murtadin — iatampil secara teratur dlm saluran Arab al-Hayat (i.e., “LifeTV”) yg disiarkan dari AS. Bebas dari sensor negara2 Islam ataupun serangan2 fisik Muslim, di sini ia menangani topik2 teologi yg kontroversial.

Siaran2 Botros ttg tradisi dan hukum Islam ini memang sering mempermalukan pemimpin2Islam diseluruh Timur Tengah.

Pendeta yg sering mengenakan salib besar ini, duduk dgn Quran dan Injil di dekatnya dan tanpa tedeng alilng2 ia menyerang ajaran Islam sampai keakar2nya. Ia terkenal karena mengumumkan ‘10Tuntutan’nya terhdp dunia Islam, antara lain : cabut ayat2 Quran yg memusuhi dan menganjurkan pembunuhan terhdp kaum Yahudi, Kristen dan memaksa Yahudi dan Kristen utk memeluk Islam. ‘Kalau kalian tidak sanggup mencabut ayat2Quran itu,’ katanya, ‘jangan anggap bahwa kami akan cabut dari agama kami. (Milis APIK)

Menteri Agama Seharusnya Netral


Kebebasan Beragama
Menteri Agama Seharusnya Netral

JAKARTA, (24/01) KOMPAS.com — Setara Institute menyampaikan ketidakpuasan terhadap kinerja dari Menteri Agama Suryadharma Ali terutama dalam menjamin pelaksanaan kebebasan beragama di Indonesia. Suryadharma Ali dianggap memberikan pernyataan-pernyataan yang menyebarkan kebencian atau memprovokasi terhadap Ahmadiyah dan kelompok minoritas lain.

“Menteri Agama yang menjadi pejabat publik harusnya netral, bukan memberikan pernyataan-pernyataan yang justru memprovokasi terjadinya kekerasan antarumat beragama. Bahkan cenderung menyalahkan seperti contoh Ahmadiyah, seharusnya dilindungi dari kekerasan, bukan disalahkan karena keberadaannya,” ujar Ketua Setara Institute Hendardi dalam jumpa pers Setara di Senayan, Senin (24/01/2011).

Menurut Hendardi, Suryadharma Ali telah memaksakan pandangan-pandangan pribadinya ke alam pikir publik. Bahkan ia menyangkal adanya berbagai konflik dan kekerasan yang menimpa warga negara sepanjang 2010 sebagai konflik agama.

“Menteri Agama hanya melihat pelanggaran dari sisi pembangunan tempat ibadah, padahal ada tindakan-tindakan kekerasan juga. Harusnya dia yang berinisiatif dan mencari solusi untuk masalah pelanggaran ini, jangan hanya menyangkal dan membiarkan saja hal ini terjadi,” ujar Hendardi.

Setara menduga hal ini terjadi karena ada keterkaitan dengan keanggotaan Suryadharma Ali dalam partai politik sehingga cenderung melakukan tindakan-tindakan berdasarkan kepentingan-kepentingan politik.

“Kami menduga ini karena dia (Suryadharma Ali) merupakan bagian dari partai politik. Jadi untuk mendapatkan dukungan Pemilu 2014 ya dilakukan cara seperti itu. Menteri Agama harusnya netral, kalau bisa jangan dari partai politik atau organisasi tertentu,” kata Hendardi.
(Kompas.com)

Yang Dilupakan dari Nilai-nilai Pancasila


Pancasila sudah mulai sepi dari pembicaraan publik. Padahal Pancasila sebagai dasar negara merupakan puncak kesepakatan nasional.

Melihat aneka sikap dan perilaku, tindakan dan perbuatan dari beberapa elit partai politik, pejabat negara, aksi sekelompok organisasi massa seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme, kekerasan terhadap penganut agama lain, mementingkan diri atau kelompok menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila sudah mulai dilupakan.

Tak luput juga, hubungan antar pemeluk agama menjadi agak renggang, karena adanya larangan mengucapkan selamat natal, soal pendirian rumah ibadah dan kebebasan beribadah kelompok minoritas.

Alangkah baiknya jika setiap pejabat publik, elit politik, tokoh agama, segenap masyarakat, merefleksikan nilai-nilai dari setiap Sila Pancasila sebagai berikut:

A. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa:
(1) Percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab; (2) Hormat menghormati dan bekerja sama antara pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup; (3) Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya; (4) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.

B. Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab:
(1) Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan persamaan kewajiban antara sesama manusia; (2) Saling mencintai sesama manusia; (3) Mengembangkan sikap tenggang rasa; (4) Tidak semena-mena terhadap orang lain; (5) Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan; (6) Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan; (7) Berani membela kebenaran dan keadilan; (8) Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia karena dikembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerja sama dengan bangsa lain.

C. Sila Persatuan Indonesia: (1) Menempatkan persatuan, kesatuan, di atas kepentingan pribadi atau golongan; (2) Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara; (3) Cinta tanah air dan bangsa; (4) Bangga sebagai bangsa Indonesia dan ber-Tanah Air Indonesia; (5) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

D. Sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan: (1) Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat; (2) Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain; (3) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama; (4) Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan; (5) Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah; (6) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur; (7) Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

E. Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia: (1) Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotong-royongan; (2) Bersikap adil (3) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban; (4) Menghormati hak-hak orang lain; (5) Suka memberikan pertolongan kepada orang lain; (6) Menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain; (7) Tidak bersifat boros (8) Tidak bergaya hidup mewah; (9) Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum (10) Suka bekerja keras; (11) Menghargai hasil karya orang lain; (12) Bersamai-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Jika segenap masyarakat Indonesia benar-benar mengacu pada nilai-nilai Pancasila ini dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat, maka pada saatnya kita akan melihat Indonesia sebagai bangsa yang nasionalis dan religius, sebab nilai-nilai Pancasila universal dan tidak bertentangan dengan agama manapun.

Dibutuhkan satu komitmen dan kemauan untuk Indonesia, agar Garuda dan Pancasila benar-benar didada segenap warga bangsa. Dengan demikian, kita yakin kita akan menjadi bangsa PEMENANG bukan pecundang. Semoga.
(Pormadi S., dari berbagai sumber)

Empati dan Identitas Sosial


Filosofi bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika yang mengandung makna semangat toleransi dalam keberagaman, pernah dipuji oleh Presiden AS Barrack Obama sebagai salah satu contoh baik yang bisa diberikan bangsa Indonesia untuk dunia.

Dalam Bhinneka Tunggal Ika (unity in diversity), pluralisme diterima sebagai bekal kehidupan berbangsa dan bernegara yang meskipun beragam dalam identitas suku, agama, atau ras, kita semua tetap satu sebagai bangsa. Keberagaman ini yang dianggap sebagai kekayaan yang menyusun budaya bangsa.

Namun, walau semboyan itu terus didengungkan dan dijadikan landasan filosofis bangsa untuk menghargai dan menerima perbedaan dalam keberagaman, faktanya, masalah perbedaan ini masih mengancam persatuan Indonesia.

Konflik atas dasar kesukuan maupun agama kerap terjadi, kekerasan atas alasan perbedaan sering dilakukan. Dalam lingkungan heterogen, toleransi jadi bekal utama dalam menjalin kehidupan bermasyarakat yang damai dan sejahtera. Faktanya, toleransi dalam perbedaan dan keragaman, terutama agama, masih sulit diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, kasus penjemputan pengungsi Merapi yang ditampung di sebuah gereja di Jawa Tengah, penurunan patung Buddha di Sumatera Utara, dan penyerangan kelompok agama tertentu oleh kelompok agama lain.

Toleransi saja tak cukup jadi solusi dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang beraneka ragam. Identitas kelompok dalam suku dan agama masih jadi dinding tebal bagi lahirnya toleransi dan sikap saling menghormati.

Tak cukup toleransiJeremy Rifkin dalam The Emphatic Civilization mengajukan ide menarik tentang menanamkan rasa empati, tak hanya toleransi, dalam kehidupan sosial masyarakat heterogen. Pada dasarnya, manusia Homo Emphaticus, makhluk berempati, dapat merasakan yang dirasakan orang lain. Dengan merasakan yang dirasakan orang lain kita akan dapat mengukur setiap tindakan yang boleh dan tak boleh kita lakukan pada orang lain karena kita ikut merasakan konsekuensi yang akan kita timbulkan.

Dari rasa inilah toleransi menemukan akarnya. Rifkin mengajukan argumen, manusia punya satu bagian dalam otak yang disebut Mirror Neurons, yang membuatnya mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain. Mirror Neurons ini menyebabkan tangan kita ikut merasa sakit ketika melihat tangan orang lain dipukul, atau ikut merasa takut ketika melihat orang lain melompat dari ketinggian.

Namun, kapasitas kepekaan manusia untuk merasakan empati terhadap manusia lain masih bergantung pada identitas sosial yang dimiliki. Kian luas pemahaman identitas sosial yang disadari seseorang, kian luas pula kapasitas kepekaan empati. Pada zaman primitif, empati yang melahirkan toleransi diukur berdasarkan identitas ikatan darah.

Meluasnya hubungan kekerabatan antarsesama anggota kelompok masyarakat menjadikan manusia berada pada kesadaran tribal yang mulai menumbuhkan identitas sosial berdasarkan persamaan suku. Seiring kemajuan alat transportasi dan munculnya peradaban baca-tulis, ayat-ayat kitab suci mulai menyatukan manusia dalam ikatan agama sebagai identitas sosial baru, detribalisasi. Inovasi teknologi, media dan transportasi, serta kepentingan ekonomi, mengantarkan manusia pada penyatuan empati dalam identitas kebangsaan. Kapasitas empati dan sensibilitas nyatanya dapat terus meluas jika cakupan kesadaran identitas sosial juga diperluas.

Dalam konteks empati dan identitas sosial ini, pemahaman kita sebagai bangsa ber-Bhinneka Tunggal Ika perlu dipertanyakan kembali. Apakah identitas sosial kita masih berbatas suku dan agama semata, atau sudah mencapai kesadaran beridentitas kebangsaan?

Meluaskan empati

Kesadaran identitas sosial dalam meningkatkan kapasitas empati sebenarnya dapat dilakukan dengan lebih menambah kesadaran diri (self-aware autonomy) dan mengurangi tendensi mengklaim apa yang benar dan yang salah. Kesadaran diri berarti lebih mawas terhadap kekurangan diri sendiri dan batasan-batasan yang dimiliki. Hal ini bukan berarti kita melepaskan kebebasan individual yang kita miliki, tetapi lebih pada bahwa kita sadar setiap orang punya keunikan dan kelebihan, yang dapat memenuhi kekurangan yang kita miliki.

Psikolog perkembangan, Robert Kegan, menyatakan, dalam usaha membuat masyarakat saling hidup berdampingan dalam lingkungan dan gaya hidup yang beraneka ragam, kita perlu keterbukaan dan pemahaman akan reaksi yang kita rasakan terhadap perbedaan daripada mengurung diri dari perbedaan. Dengan kata lain, mampu berdamai dengan diri dan orang lain.

Kesadaran diri juga ditunjukkan dengan menerima adanya hak asasi yang dimiliki masing- masing manusia, yang selama abad ke-20 gerakan ini mampu mengurangi kekerasan person to person terhadap perbedaan ras, jender, dan seksualitas. Dengan mengurangi tendensi membuat penilaian dikotomis, benar-salah, hitam-putih, juga dapat dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan kapasitas empati yang kita miliki.

Meskipun klise, pendidikan juga jadi sarana membangun kesadaran akan sensibilitas sosial, membangun empati. Menurut Sir Ken Robinson dalam Changing Education Paradigms, pendidikan (umum) secara normatif dibuat atas adanya dua alasan: pertama, alasan ekonomi, perihal bagaimana mendidik anak-anak kita agar dapat bersaing di masa depan, dan kedua, alasan budaya, perihal bagaimana mendidik anak-anak agar dapat mengenal latar belakang budaya dari mana mereka berasal sebagai pembentukan identitas dalam pembauran globalisasi.

Sayangnya, sistem pendidikan yang terbentuk saat ini masih bermodel industrialisasi; sekolah disusun menyerupai pabrik, dengan adanya bunyi bel tanda masuk dan berakhir pelajaran, pembedaan fasilitas umum, kurikulum yang terspesialisasi dan terdiri atas bermacam-macam pelajaran, serta pendidikan berdasarkan usia dan tingkat kelas. Tujuan utama pendidikan hanya terfokus pada alasan ekonomi, di mana dalam proses pendidikan anak-anak diajarkan berpikir secara konvergen, linier, untuk mengejar target nilai berdasarkan standardisasi tes tertentu.

Pendidikan yang mengajarkan identitas budaya, mengajarkan juga pengalaman-pengalaman estetis terhadap seni dan budaya, di mana rasa (sense) digunakan dan tujuan dari pendidikan yang bukan konvergen, tetapi divergen. Artinya, sasaran pendidikan adalah untuk melatih dan membangun sensibilitas sosial. Belajar memahami bahwa dalam satu pertanyaan tak hanya terdapat satu jawaban yang benar. Dalam pemikiran konvergen, kita terbiasa untuk mencari satu jawaban yang benar di antara pilihan. Sebaliknya, di dalam pemikiran divergen, tidak ada jawaban yang paling dianggap benar.Dengan terbiasa akan adanya perbedaan dan tak mengabsolutkan satu kebenaran, rasa empati kita akan meluas dan tak hanya terbatas pada identitas kelompok pengenalan dan pendidikan empati dapat dijadikan agenda penting membangun kehidupan berbangsa yang berfondasikan keragaman, menuju kehidupan yang lebih harmonis dan damai di masa depan.

Maya Dania Mahasiswi Pascasarjana Filsafat UGM dan Pengajar di CILACS UII ​
(Kompas.com)