Kisah Seorang Pencuri dan Hakim Budiman di Newyork


New York tahun 1930-an. Hari teramat dingin. Saat itu sedang masa depresi besar, di seluruh kota, orang-orang miskin kelaparan nyaris tidak makan seharian.

Dimulai ketika seorang hakim sedang duduk di ruang sidangnya mendengarkan tuntutan terhadap seorang wanita yang dituduh mencuri sepotong roti. Wanita itu beralasan bahwa anak perempuannya sakit, cucunya kelaparan, dan karena suaminya telah meninggalkannya. Tentu saja penjaga toko yang rotinya dicuri menolak untuk membatalkan tuntutannya. Ia memaksa bahwa wanita itu harus menjadi contoh bagi yang lainnya.
Hakim menghela nafasnya, sebenaranya dia enggan untuk menghakimi wanita ini tetapi ia tidak punya pilihan. “Maafkan saya, tetapi saya tidak bisa membuat pengecualian. Hukum adalah hukum. Saya mendenda kami sebesar sepuluh dolar dan apabila kami tidak bisa membayarnya saya harus mengirim kamu ke penjara selama sepuluh hari.

“Wanita itu hancur hatinya. Tetapi kemudian diketahuinya bahwa sang hakim sambil berbicara mengambil sepuluh dolar dari dompetnya.

Hakim itu mencopot topinya dan melemparkan uang sepuluh dolar itu ke dalam topinya sambil berkata kepada pengunjung sidang. “Saya juga akan mendenda masing-masing orang yang hadir di ruang sidang ini sebesar lima puluh sen karena tinggal dan hidup di kota dan seorang harus mencuri roti untuk menyelamatkan cucunya dari kelaparan. Tolong kumpulkan dendanya, Tuan Bailiff, di dalam topi ini untuk kemudian berikan kepada terdakwa!

“Wanita itu kemudian pulang dengan uang empat puluh tujuh dolar lima puluh sen, termasuk di dalamnya lima puluh sen yang dibayarkan penjaga toko yang malu karena telah menuntutnya.

Wanita itu meninggalkan ruang sidang dengan diiringi tepuk tangan meriah oleh kumpulan penjahat kecil dan polisi New York.:)~

berdasarkan pada laporan insiden oleh James N. McCutheon (milis AIPI)

Iklan

Seorang Office Boy pun Bisa Menjadi Vice Presiden


SEORANG OFFICE BOY PUN BISA MENJADI VICE PRESIDENT
Sungguh sebuah karunia  yang luar biasa bagi saya bisa bertemu dengan seorang yang memiliki pribadi dan kisah menakjubkan. Dialah Houtman Zainal  Arifin, seorang pedagang asongan, anak jalanan, Office Boy  yang kemudian menjadi Vice President Citibank di Indonesia.  Sebuah jabatan Nomor 1 di Indonesia karena Presiden Direktur Citibank sendiri berada di USA.

Tepatnya 10 Juni 2010,  saya berkesempatan bertemu Pak Houtman. Kala itu saya sedang mengikuti training leadership yang diadakan oleh kantor saya,  Bank Syariah Mandiri di Hotel Treva International, Jakarta.  Selama satu minggu saya memperoleh pelatihan yang luar biasa mencerahkan, salah satunya saya peroleh dari Pak Houtman. Berikut kisah inspirasinya:

Sekitar tahun 60-an Houtman  memulai karirnya sebagai perantau, berangkat dari desa ke jalanan ibukota. Merantau dari kampung dengan penuh impian dan  harapan, Houtman remaja berangkat ke Jakarta. Di Jakarta  ternyata Houtman harus menerima kenyataan bahwa kehidupan  ibukota ternyata sangat keras dan tidak mudah. Tidak ada pilihan bagi seorang lulusan SMA di Jakarta, pekerjaan tidak  mudah diperoleh. Houtman pun memilih bertahan hidup dengan  profesi sebagai pedagang asongan, dari jalan raya ke kolong jembatan kemudian ke lampu merah menjajakan dagangannya.

Tetapi kondisi seperti ini tidak membuat Houtman  kehilangan cita-cita dan impian. Suatu ketika Houtman  beristirahat di sebuah kolong jembatan, dia memperhatikan  kendaran-kendaraan mewah yang berseliweran di jalan Jakarta. Para penumpang mobil tersebut berpakaian rapih, keren dan berdasi. Houtman remaja pun ingin seperti mereka, mengendarai  kendaraan berpendingin, berpakaian necis dan tentu saja  memiliki uang yang banyak. Saat itu juga Houtman  menggantungkan cita-citanya setinggi langit, sebuah cita-cita  dan tekad diazamkan dalam hatinya.

Azam atau tekad  yang kuat dari Houtman telah membuatnya ingin segera merubah nasib. Tanpa menunggu waktu lama Houtman segera memulai mengirimkan lamaran kerja ke setiap gedung bertingkat yang dia  ketahui. Bila ada gedung yang menurutnya bagus maka pasti dengan segera dikirimkannya sebuah lamaran kerja. Houtman menyisihkan setiap keuntungan yang diperolehnya dari berdagang  asongan digunakan untuk membiayai lamaran kerja.

Sampai suatu saat Houtman mendapat panggilan kerja  dari sebuah perusahaan yang sangat terkenal dan terkemuka di  Dunia, The First National City Bank (citibank), sebuah bank  bonafid dari USA. Houtman pun diterima bekerja sebagai seorang  Office Boy. Sebuah jabatan paling dasar, paling bawah dalam  sebuah hierarki organisasi dengan tugas utama membersihkan ruangan kantor, wc, ruang kerja dan ruangan  lainnya.

Tapi Houtman tetap bangga dengan jabatannya,  dia tidak menampik pekerjaan. Diterimanyalah jabatan tersebut  dengan sebuah cita-cita yang tinggi. Houtman percaya bahwa  nasib akan berubah sehingga tanpa disadarinya Houtman telah  membuka pintu masa depan menjadi orang yang berbeda.

Sebagai Office Boy Houtman selalu mengerjakan tugas  dan pekerjaannya dengan baik. Terkadang dia rela membantu para  staf dengan sukarela. Selepas sore saat seluruh pekerjaan  telah usai Houtman berusaha menambah pengetahuan dengan  bertanya tanya kepada para pegawai. Dia bertanya mengenai  istilah-istilah bank yang rumit, walaupun terkadang saat bertanya dia menjadi bahan tertawaan atau sang staf  mengernyitkan dahinya. Mungkin dalam benak pegawai ”ngapain  nih OB nanya-nanya istilah bank segala, kayak ngerti aja”.  Sampai akhirnya Houtman sedikit demi sedikit familiar dengan  dengan istilah bank seperti Letter of Credit, Bank Garansi, Transfer, Kliring, dll.

Suatu saat Houtman tertegun  dengan sebuah mesin yang dapat menduplikasi dokumen (saat ini  dikenal dengan mesin photocopy). Ketika itu mesin fotokopi  sangatlah langka, hanya perusahaan perusahaan tertentulah yang memiliki mesin tersebut dan diperlukan seorang petugas  khusus untuk mengoperasikannya. Setiap selesai pekerjaan setelah jam 4 sore Houtman sering mengunjungi mesin tersebut  dan minta kepada petugas foto kopi untuk mengajarinya. Houtman  pun akhirnya mahir mengoperasikan mesin fotokopi, dan tanpa  di sadarinya pintu pertama masa depan terbuka. Pada suatu hari  petugas mesin fotokopi itu berhalangan dan praktis hanya Houtman yang bisa menggantikannya, sejak itu pula Houtman resmi naik jabatan dari OB sebagai Tukang Fotokopi.

Menjadi tukang fotokopi merupakan sebuah prestasi  bagi Houtman, tetapi Houtman tidak cepat berpuas diri.  Disela-sela kesibukannya Houtman terus menambah pengetahuan dan minat akan bidang lain. Houtman tertegun melihat salah  seorang staf memiliki setumpuk pekerjaan di mejanya. Houtman  pun menawarkan bantuan kepada staf tersebut hingga membuat sang staf tertegun. “bener nih lo mo mau bantuin gua” begitu  Houtman mengenang ucapan sang staf dulu. “iya bener saya mau  bantu, sekalian nambah ilmu” begitu Houtman menjawab. “Tapi  hati-hati ya ngga boleh salah, kalau salah tanggungjawab lo,  bisa dipecat lo”, sang staff mewanti-wanti dengan keras.  Akhirnya Houtman diberi setumpuk dokumen, tugas dia adalah  membubuhkan stempel pada Cek, Bilyet Giro dan dokumen lainnya pada kolom tertentu. Stempel tersebut harus berada di dalam  kolom tidak boleh menyimpang atau keluar kolom. Alhasil  Houtman membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut karena dia sangat berhati-hati sekali  Selama mengerjakan tugas tersebut Houtman tidak sekedar  mencap, tapi dia membaca dan mempelajari dokumen yang ada. Akibatnya Houtman sedikit demi sedikit memahami berbagai  istilah dan teknis perbankan. Kelak pengetahuannya ini membawa Houtman kepada jabatan yang tidak pernah diduganya.

Houtman cepat menguasai berbagai pekerjaan yang  diberikan dan selalu mengerjakan seluruh tugasnya dengan baik.  Dia pun ringan tangan untuk membantu orang lain, para staf  dan atasannya. Sehingga para staf pun tidak segan untuk  membagi ilmu kepadanya. Sampai suatu saat pejabat di Citibank  mengangkatnya menjadi pegawai bank karena prestasi dan kompetensi yang dimilikinya, padahal Houtman hanyalah lulusan  SMA.

Peristiwa pengangkatan Houtman menjadi pegawai  Bank menjadi berita luar biasa heboh dan kontroversial. Bagaimana bisa seorang OB menjadi staff, bahkan rekan sesama  OB mencibir Houtman sebagai orang yang tidak konsisten.  Houtman dianggap tidak konsisten dengan tugasnya,  “jika masuk OB, ya  pensiun harus OB juga” begitu rekan sesama OB menggugat.

Houtman  tidak patah semangat, dicibir teman-teman bahkan rekan sesama staf pun tidak membuat goyah. Houtman terus mengasah  keterampilan dan berbagi membantu rekan kerjanya yang lain.  Hanya membantulah yang bisa diberikan oleh Houtman, karena  materi tidak ia miliki. Houtman tidak pernah lama dalam  memegang suatu jabatan, sama seperti ketika menjadi OB yang  haus akan ilmu baru. Houtman selalu mencoba tantangan dan pekerjaan baru. Sehingga karir Houtman melesat bak panah meninggalkan rekan sesama OB bahkan staff yang mengajarinya tentang istilah bank.

19 tahun kemudian sejak Houtman masuk sebagai  Office Boy di The First National City Bank, Houtman mencapai  jabatan tertingginya yaitu Vice President (tambahan: di Citibank Indonesia ada beberapa orang sekaligus menjabat VP). Sebuah jabatan puncak Citibank di Indonesia. Jabatan tertinggi Citibank  sendiri berada di USA yaitu Presiden Director yang tidak mungkin dijabat oleh orang Indonesia.

Sampai dengan  saat ini belum ada yang mampu memecahkan rekor Houtman masuk sebagai OB pensiun sebagai Vice President, dan hanya berpendidikan SMA. Houtman pun kini pensiun dengan berbagai  jabatan pernah diembannya, menjadi staf ahli Citibank Asia  Pasifik, menjadi penasehat keuangan salah satu gubernur, menjabat CEO di berbagai perusahaan dan menjadi inspirator bagi banyak orang .

(Kisah Nyata Houtman Zainal Arifin, disampaikan dalam training Leadership Bank Syariah  Mandiri)
_________________________________

Pandji – YUPP

FPI: Give Islam a Bad Name


FPI: Give Islam a Bad Name
—Anwar Holid

Aku jijik pada FPI (Front Pembela Islam) tapi kesulitan mencari alasan tegas kenapa aku harus punya perasaan seperti itu pada mereka. Ini seperti kalau kamu punya saudara bandel, ngejago, suka nakut-nakutin orang lain, suka malak, main kekerasan, intoleran, bahkan mungkin bertindak kriminal (karena suka main hakim sendiri, merusakkan milik orang lain secara semena-mena), tapi kamu malas menyerahkannya kepada pihak berwajib persis karena kamu ada ikatan darah dengan dia. Menurut sebuah dalil, orang seiman itu bersaudara. Meski aku bingung konteksnya apa, perasaan ini membuat kita dilematik dan menambah jengkel.

Jangankan kaum non-Muslim, banyak sesama Muslim yang jengah pada FPI. JIL (Jaringan Islam Liberal) juga KoranTempo pernah usul agar otoritas hukum Indonesia membubarkan FPI. Aku sendiri di Facebook pernah ikut grup ‘BUBARKAN FPI!’ yang anggotanya puluhan ribu orang, tapi sayang mereka inefektif, sampai akhirnya aku ke luar dari sana karena rasanya itu grup yang omdo. Aku setuju dengan Saut Situmorang yang bilang bahwa FPI itu kependekan dari Fasis Pura-pura Islam. Aku menilai bukan seperti itu jalan Islam yang patut aku tempuh. Aku memohon agar MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengharamkan FPI, meski sejak lama aku menganggap MUI juga kerap mengharamkan sesuatu yang konyol.

Perlukah Islam dibela oleh organisasi seperti FPI? Menurutku tidak. Tindakan mereka menurutku malah bikin malu agama Islam, karena justru memperlihatkan sekelompok umat Islam yang intoleran terhadap kaum lain persis di tanah terbuka bernama Indonesia, apalagi dari dulu tempat itu sudah lama terkenal sebagai tempat pertemuan yang cukup damai. Terlebih-lebih mayoritas penduduk di tempat ini beragama Islam. Bagaimana mungkin Islam bisa menjadi rahmat bagi tempat ini bila ada eksponen Islam yang suka berbuat onar terhadap perbedaan-perbedaan di dunia ini? Belum juga jadi penguasa, FPI sudah memperlihatkan mental sok kuasa dan otoriter. Terbayang betapa mengerikan bila organisasi seperti ini membesar dan benar-benar berkuasa atau berhasil menakut-nakuti semua lawan yang berseberangan pendapat maupun sikap dengan mereka. FPI betul-betul gagal memperlihatkan sifat yang wajib didahulukan oleh Islam, yaitu menjadi agama yang memberi rahmat bagi SELURUH alam.
Jangankan seluruh alam, untuk tempat secuil bernama Indonesia saja mereka sulit menghormati hukum yang berlaku ataupun iman orang lain. Jangankan pada agama-agama yang mungkin tidak serumpun, pada agama yang memiliki akar sama pada Ibrahim saja mereka sulit bekerja sama. Dari moral ini kita bisa menduga betapa pemahaman sebagian umat Islam pada agama serumpun itu rendah sekali. Sebagai umat Muslim, FPI gagal menunjukkan kasih pada orang lain. Bagi seorang muslim, ini kehilangan mengerikan. Aku pikir FPI buta mata hatinya bahwa dalam Al-Quran surat Al-Anbiya 107 memerintahkan agar seorang Muslim harus mewujudkan kasih sayang kepada seluruh alam, termasuk kepada non-Muslim. Bagaimana mungkin FPI bakal mampu memaafkan dan berdamai dengan umat beragama lain?

Bagaimana mungkin FPI bakal bisa meneladani tokoh Islam yang memberi kesempatan pada lawan untuk menjalankan ibadah sesuai imannya bila mereka merasa bahwa orang non-Muslim harus mendapat izin untuk beribadah maupun mendirikan rumah ibadah? Ini konyol. Memangnya ini tanah ini tanah mereka? Bukankah ini tanah Tuhan? Tidakkah FPI tahu bahwa tempat seperti Ka’bah saja dahulu kala diziarahi orang beragama secara bebas, bahkan oleh orang musyrik sekalipun. Pernahkah dahulu di zaman Muhammad hidup orang non-Muslim minta izin kepada dia untuk mendirikan rumah ibadah atau waktu mau melakukan ibadah? Rasanya tidak pernah. Rasanya beragama itu harus bebas-bebas saja. Jangankan menyerang, umat Islam itu bahkan dilarang menghina umat beragama lain—begitulah yang tertulis dalam Al-Quran surat Al-An’am: 108. FPI jelas sulit bersabar atas perbedaan dan terbukti telah berkali-kali gagal menyeru dan berdiskusi dengan baik pada pihak lain—padahal itu semua merupakan
sifat utama bagi umat Islam. FPI justru mewarisi sifat mental yang buruk, seperti mudah marah dan tersinggung, juga mau menang sendiri.

FPI adalah contoh organized religion yang miskin spiritualitas. Mereka memakan sendiri spiritualitasnya sampai habis dan tak menyisakannya pada umat manusia lain. Mereka hanya membagikan cara beragama yang kaku. Mereka menutup ruang kebebasan beragama dan intoleran pada agama dan umat beragama lain, padahal kebebasan beragama merupakan isu yang sangat penting dalam Islam.

Sebagai seorang Muslim aku merasa malas dan malu sekali harus mengakui punya saudara bernama FPI. Mereka memperburuk citra Islam sebagai agama yang kini tengah dianggap bermasalah dan disalahanggapi di banyak tempat. Kalau seperti itu, aku jadi lebih suka berteman dengan orang non-Muslim yang terbukti secara moral dan tindakan jauh lebih mulia, suka berbuat baik, bersedia membantu, meskipun mereka tampak sekuler. Aku enggak butuh yel-yel Allah hu akbar untuk menakut-nakuti orang lain atau melempari tempat ibadah umat beragama lain. Aku lebih suka memberi salam untuk menghormati sesama manusia.[]

Anwar Holid bekerja Anwar Holid bekerja sebagai penulis & editor. Salah satu bukunya ialah Seeking Truth Finding Islam (2009).

Rahasia Sukses Orang Tionghoa: 3C


Buku yang mengupas tentang rahasia keberhasilan orang-orang Tionghoa asal Hokian banyak dikupas.

Konon orang-orang Tionghoa asal suku Hokian memiliki falsafah yang disebut 3C untuk kesuksesan mereka.

3C tersebut adalah :

1.Cengli.
Kalau ingin sukses, cara kita bekerja mesti cengli alias adil.. Dengan kata lain kita harus jujur, tidak curang dan bisa dipercaya. Ini membuat banyak orang suka bekerja sama dengan kita. Semakin dipercaya, maka pintu pun semakin terbuka lebar bagi kesuksesan kita.

2. Cincai.
Artinya orang yang mudah memberi, tidak terlalu banyak perhitungan dan bukan tipe orang yang sulit. Uniknya, orang-orang yang mudah memberi seperti ini juga mudah mendapat. Dari sudut pandang Firman Tuhan , maka itulah yang disebut hukum tabur tuai. Sebaliknya jika termasuk orang yang sulit, pelit, terlalu banyak perhitungan baik dengan Tuhan maupun sesama, maka berkat juga susah turun untuk orang-orang seperti ini.

3. Coan.
Artinya orang kerja adalah wajar kalau mengharapkan keuntungan. Namun, fokus utamanya bukan apa yang kita dapatkan, tapi apa yang berikan. Kita harus sering mengajukan pertanyaan dalam diri kita, apakah yang kita lakukan sudah sebanding dengan apa yang kita dapatkan? Apakah kwalitas dan kontribusi kita sebanding dengan hasil yang kita terima?

Ketiga uraian di atas adalah 3C yang harus dilakukan , maka orang Hokian punya pantangan juga dalam bekerja atau berbisnis yang disebut dengan 3C.

C yang pertama adalah Ciok (hutang). Hutang kalau bayar tidak apa, tapi jadi repot kalau menjadi C yang kedua yaitu Ciak ( dimakan saja). Lebih tidak tanggung jawab lagi kalau kemudian orang tersebut melakukan C yang ketiga yaitu Cao (lari).

Semoga rahasia sukses ala suku Hokian ini, meskipun bernada humor, tapi bisa menjadi inspirasi bagi Anda!

Kalau orangnya melarikan diri bawa uang banyak… namanya CIAK LAT
Dari Mailing list BC

Humor: Kumpulan Ankedot Kenang-kenangan Gus Dur


KUMPULAN ANEKDOT KENANG-KENANGAN DARI GUS DUR

Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang ceplas-ceplos dan senang humor, nyaris di setiap omongannya Gus Dur selalu mampu memancing tawa hadirin. Ada yang tersenyum senang adapula yang tersenyum kecut karena merasa tersindir.

Kesan humoris benar-benar terasa di hampir semua liputan Kabari tentang sosok yang satu ini. Termasuk ketika Kabari bertemu Gus Dur di tahun 2007 dalam sebuah acara.

Bahkan Gus Dur ketika itu mau membagi sebuah anekdotnya khusus untuk Pembaca Kabari yang kemudian dimuat dengan judul “Do You Like Salad?”.

Berikut ini beberapa anekdot dari Gus Dur yang disampaikan beliau dalam beberapa kesempatan terpisah,

Kuli Dan Kyai

Rombongan jamaah haji NU dari Tegal tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah Arab Saudi. Langsung saja kuli-kuli dari Yaman berebutan untuk mengangkut barang-barang yang mereka bawa. Akibatnya, dua orang di antara kuli-kuli itu terlibat percekcokan serius dalam bahasa Arab.

Melihat itu, rombongan jamaah haji tersebut spontan merubung mereka, sambil berucap: Amin, Amin, Amin!

Gus Dur yang sedang berada di bandara itu menghampiri mereka: “Lho kenapa Anda berkerumun di sini?”

“Mereka terlihat sangat fasih berdoa, apalagi pakai serban, mereka itu pasti kyai.

BABI HARAM

Suatu ketika Gus Dur dan ajudannya terlibat percakapan serius.
Ajudan: Gus, menurut Anda makanan apa yang haram?
Gus Dur: Babi
Ajudan: Yang lebih haram lagi
Gus Dur: Mmmm … babi mengandung babi!
Ajudan: Yang paling haram?
Gus Dur: Mmmm … babi mengandung babi tanpa tahu bapaknya dibuat sate babi!

Humor DPR

Ini guyonan tentang prilaku anggota DPR RI. Sempat menyebut mereka sebagai anak TK, Gus Dur pun berseloroh anggota DPR sudah ‘turun pangkat’ setelah ricuh dalam sidang paripurna pembahasan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) pada 2004 silam.

“DPR dulu TK sekarang playgroup,” kata Gus Dur di kediamannya di Ciganjur, Jakarta, Selatan, Kamis (17/03), ketika menjawab pertanyaan wartawan tentang kejadian di DPR saat sidang Rabu (16/03).

Media Salah Kutip

Gus Dur, dalam satu acara peluncuran biografinya, menceritakan tentang kebiasan salah kutip oleh media massa atas berbagai pernyataan yang pernah dikeluarkannya.

Dia mencontohkan, ketika berkunjung ke Sumatera Utara ditanya soal pernyataan Menteri Senior Singapura Lee Kuan Yew tentang gembong teroris di Indonesia, dia mengatakan, pada saatnya nanti akan mengajarkan demokratisasi di Singapura. Namun, sambungnya, media massa mengutip dia akan melakukan demo di Singapura.

Gus Dur Dan Orang Mati

Mungkinkah Gus Dur benar-benar percaya pada isyarat dari makam-makam leluhur? Kelihatannya dia memang percaya, sebab Gus Dur selalu siap dengan gigih dan sungguh-sungguh membela “ideologi”nya itu. Padahal hal tersebut sering membuat repot para koleganya. 

Tapi, ini mungkin jawaban yang benar, ketika ditanya kenapa Gus Dur sering berziarah ke makam para ulama dan leluhur. 

“Saya datang ke makam, karena saya tahu. Mereka yang mati itu sudah tidak punya kepentingan lagi.” katanya.

Do You Like Salad?

Rombongan istri pejabat Indonesia  pelesir ke San Fransisco menemani suami mereka yang sedang studi banding. Ceritanya mereka mampir ke sebuah restoran. Ketika memesan makanan, mereka bingung dengan menu-menu makanan yang disediakan. Melihat itu, sang pelayan  berinisiatif menawarkan makanan yang barangkali semua orang tahu.

“If you Confuse with menu, just choose one familiar..” kata si pelayan

Rombongan ibu-ibu saling berbisik menebak si pelayan itu ngomong apa.

Si Pelayan tersenyum “Oke, do you like salad ?”

Seorang ibu yang sok tahu menjawab “Sure, I am Moslem, five times in one day”

(maksud si ibu, dia muslim dan shalat lima kali sehari).

Humor NU

Bagi Gus Dur, ada tiga tipe orang NU.

“Kalau mereka datang dari pukul tujuh pagi hingga jam sembilan malam, dan menceritakan tentang NU, itu biasanya orang NU yang memang punya komitmen dan fanatik terhadap NU,” jelasnya tentang jenis yang pertama.

Jenis yang kedua adalah mereka yang meski sudah larut malam, sekitar jam dua belas sampai jam satu malam, namun masih mengetuk pintu Gus Dur untuk membicarakan NU, “Itu namanya orang gila NU.”
 
“Tapi kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu rumah saya jam dua dini hari hingga jam enam pagi, itu namanya orang NU yang gila,” kata Gus Dur sambil terkekeh saat itu.

Humor Polisi

Humor lain yang diingat banyak orang adalah kritikan dalam bentuk lelucon yang dilontarkan saat banyak pihak mempertanyakan moralitas polisi, yang masih bisa berlaku dengan saat sekarang walaupun humor ini dilontarkannya setahun silam.

“Polisi yang baik itu cuma tiga. Pak Hugeng almarhum bekas Kapolri, patung polisi dan polisi tidur,” selorohnya.

Humor Umat Beragama

Dalam sebauh Seminar di Batam. Gus Dur menjelaskan kebersamaan harus diawali dengan sikap berbaik hati terhadap sesama.

“Oleh karena itu seluruh umat bertanggungjawab atas masa depan bangsa. Boleh berantem satu sama lain tapi keselamatan bangsa tetap diutamakan,” kata Gus Dur disambut tawa peserta.

Humor Jihad

Menanggapi aksi jihad yang dilakukan oleh banyak warga Muslim yang percaya kematiannya akan ‘menjamin’ tempat di surga, Gus Dur malah kembali melemparkan leluconnya.

“Gus, betulkah para pengebom itu mati syahid dan bertemu bidadari di surga?” tanya seorang wartawan kepada Gus Dur.

Gus Dur pun menjawab, “Memangnya sudah ada yang membuktikan? Tentu saja belum kan, ulama maupun teroris itu kan juga belum pernah ke surga. Mereka itu yang jelas bukan mati syahid tapi mati sakit. Dan kalau pun mereka masuk surga, mereka akan menyesal bertemu bidadari, karena kepalanya masih tertinggal di dunia dan ditahan oleh polisi.”

Untuk share artikel ini klik www.KabariNews.com/?34310

Sumber: Kabari News.com

LULUSAN PhD Stanford itu, Kini Jadi Sopir


Lulusan PhD Stanford Itu, Kini Jadi Sopir

Ia telah menghabiskan 16 tahun sebagai peneliti di Institute of Molecular and Cell Biology (IMCB). Tapi akhirnya, nasib menjadikannya seorang supir

Cai Mingjie tak pernah berpikir sebelumnya jika kehidupannya berbalik 180%. Maklum, pria berkacamata ini sebelumnya adalah seorang ilmuwan dengan reputasi bagus. Pendidikan terakhir PhD bidang biokimia diselesaikan dari universitas ternama,  Stanford University .

Namun pria yang pernah menjadi kepala peneliti bidang genetika sel di IMCB ini pergi meninggalkan institusi bergengsi itu dan memilih menjadi sopir taksi.

 “Saya dipaksa keluar dari pekerjaan riset di saat karir saya berada di puncak, dan tidak bisa mendapatkan pekerjaan lain dengan alasan yang hanya bisa saya katakan sebagai “keunikan dari Singapura,” ujarnya dalam sebuah situs blog miliknya.

kibatnya, saya mengemudi taksi untuk membuat hidup dan menulis kisah kehidupan nyata ini hanya untuk membuat pekerjaan yang membosankan sedikit lebih menarik. Saya berharap bahwa kisah-kisah yang menarik untuk Anda juga, ” ujar Dr. Cai.

Berita mengenai Dr. Cai ini sangat mengejutkanmasyarakat Singapura, sebuah negara yang tingkat kemajuan pendidikan dianggap tinggi dan tidak diragukan lagi.

Seorang pekerja kerah putih yang sangat terkejut mengatakan, sebelumnya ia sangat yakin bahwa gelar setingkat doktoral dan pengalaman segudang merupakan jaminan untuk memiliki pekerjaan yang mapan dan kesuksesan abadi.

“Jika ia akhirnya harus menjadi sopir taksi, maka kesempatan apa yang dimiliki orang-orang biasa seperti kami ini?” tanyanya. Saya pernah bertemu dengan sejumlah sopir taksi yang memiliki kualifikasi tinggi dalam beberapa tahun terakhir ini, termasuk mereka yang dulunya adalah manajer dan insinyur.

Seorang sopir yang ceria, suatu hari mengejutkan saya karena memberikan penjelasan lengkap mengenai saham apa yang sebaiknya dibeli dan mana yang harus dihindari. Ternyata  ia dulunya seorang pialang saham.

“Pada masa seperti sekarang ini, mungkin hanya bisnis taksi yang masih aktif menerima pegawai di Singapura, kata Dr. Cai. Bagi saya, perubahan hidup Dr. Cai itu membawa Singapura ke dalam babak baru…

“Saya mungkin satu-satunya sopir taksi dengan gelar PhD dari Stanford dan memiliki pengalaman yang diakui dibidang sains…” tulis Dr. Cai dalam blog nya.

Gelar Doktoral

Kisahnya Dr. Cai ini segera menyebar di dunia maya. Kebanyakan orang Singapura menyatakan penghargaan mereka atas kemampuannya beradaptasi begitu cepat dengan kehidupan barunya. Dua orang pemuda Singapura menanyakan nomor taksinya, berkata bahwa mereka akan sangat senang sekali jika bisa berkeliling dengan taksinya dan berbincang-bincang.

“Banyak (pelajaran) yang bisa ia berikan kepada saya,” kata seseorang…   Lainnya bertanya, mengapa ia tidak bisa mendapatkan pekerjaan mengajar, mengingat pengalaman ilmiahnya yang begitu mengagumkan.

Keluarnya ia dari pekerjaan lama sebenarnya lebih disebabkan karena alasan pribadi (ia dituduh membuat kekacauan oleh para pemimpin penelitian), dan bukan karena lesunya proyek bidang bioteknologi di Singapura, yang masih bisa bertahan di masa krisis ini.

Kasusnya itu menjadikan kelemahan umum di bidang R and D (research and development) Singapura mendapat sorotan.

“Kondisi ekonomi yang buruk artinya tidak banyak perusahaan yang mampu membayar ilmuwan profesional, ” kata seorang peselancar dunia maya. “Gelar akademik tidak banyak membantu–sejarah membuktikan banyak orang yang bergelar PhD berburu mencari pekerjaan.”

Sementara citra sopir taksi menjadi terdongkrak tinggi, tidak demikian keadaannya dengan proyek biomedika Singapura, khususnya upaya mereka untuk menumbuhkan bibit talenta peneliti baru di dalam negeri.

“Semakin banyak orang Singapura yang menjauh dari karir di bidang sains,” kata seorang blogger.

Seseorang menulis, “Menurut saya, gelar PhD tidak berguna, terutama di Singapura. Itu hanya selembar sertifikat, tidak lebih.” Lainnya menambahkan, “Di Amerika Serikat keadaannya lebih parah. Banyak yang datang ke sini untuk mencari pekerjaan.”

“Saya tidak ingin anak saya bertahun-tahun sekolah akhirnya hanya menjadi sopir taksi,” kata seornag ibu rumah tangga yang memiliki putri remaja…

Kasus yang menimpa warga negara Singapura, yang menjalani penelitian PhD-nya di Universitas Stanford dengan subyek penelitian seputar protein pengembang itu, sebenarnya tidak unik.

Ilmuwan peneliti Amerika, Douglas Prasher, yang berhasil mengisolasi gen yang bisa menghasilkan protein bersinar hijau–dan baru saja gagal meraih penghargaan Nobel 2008, menghadapi situasi yang sama.

Prasher pindah dari sebuah lembaga penelitian ke lembaga lain ketika dana penelitiannya habis. Pada akhirnya ia berhenti menggeluti sains, dan beralih menjadi sopir antar-jemput di Alabama .

“Meskipun demikian, ia tetap rendah hati dan bahagia dan kelihatan senang dengan pekerjaan mengendarai minivan-nya, ” kata seorang peselancar internet.

Dengan berubahnya pasar dunia kerja yang tersedia, dan semakin banyaknya pemilik usaha yang menginginkan beberapa pekerjaan bisa dilakukan oleh satu orang dengan kontrak kerja yang singkat, maka semakin banyak orang Singapura yang mengejar gelar yang berbeda. Misalnya akuntansi dengan hukum atau komputer dengan bisnis.

Sebagian orang mulai menghindari gelar pascasarjana atau bidang-bidang ilmu khusus. Mereka lebih memilih bidang keilmuan yang lebih umum atau lintas sektor.

“Pengalaman adalah raja,” itulah semboyannyasekarang. Dan orang-orang berbondong-bondong mencari tempat magang tanpa bayaran.  “Di masa datang, yang dibutuhkan adalah para lulusan dengan keterampilan yang beragam dan karir yang fleksibel, orang-orang yang bisa menyesuaikan diri dengan berbagai pekerjaan yang berbeda,” kata seorang pengusaha.

Selama beberapa tahun terakhir, di mana globalisasi semakin dalam, ada ketidaksinkronan antara apa yang dipelajari oleh orang Singapura di universitas dengan karir yang dijalaninya.

Singapura mengikuti tren di dunia maju, di mana bisnis-bisnis lama bisa hilang sekejap dalam satu malam, kemudian muncul bisnis yang baru, yang menjadi  masalah bagi mereka yang tidak bisa menyesuaikan diri.

Saya mengenal seorang pemuda, insinyur sipil dari universitas terkemuka di Amerika, yang menelantarkan dunia konstruksi untuk menggeluti dunia mengajar.

Seorang insinyur lainnya yang saya temui, mengurus kedai kopi ayahnya yang sangat menguntungkan. Lainnya, pengacara yang kemudian menjadi musisi atau jurnalis, dan lain sebagainya.

Kasus di mana orang-orang melakukan pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan latar belakang pendidikan mereka, semakin hari semakin banyak. Sehingga para pewawancara yang menanyai calon pegawai tidak lagi bertanya, “Mengapa seorang ilmuwan berpengalaman seperti Anda mau bekerja sebagai pegawai  tingkat rendah?”

Di masa lampau orangtua pusing memikirkan bidang studi apa yang harus ditempuh oleh anaknya, akuntansi atau hukum atau teknik, bidang-bidang yang menjanjikan kesuksesan. Dan mereka akan menentukan satu bidang, dan terus mengejar dan menggelutinya hingga menjadi profesi. Seorang dokter akan bekerja menjadi dokter, seorang ahli biologi akan bekerja di laboratorium, dan pengacara akan sibuk berdebat di pengadilan.

Dr Cai adalah pria kelahiran China yang kemudian menjadi warga negara Singapura, setelah memperoleh PhD dalam bidang biologi molekuler dari Universitas Stanford tahun 1990. Dia bergabung IMCB dua tahun kemudian dan bekerja sebagai kepala peneliti di bidang genetika sel sampai  kepergiannya.

Ia dihentikan dari di Institut Molekuler dan Biologi Sel (IMCB) di ASTAR Singapore, tempat di mana dia sudah bekerja selama 16 tahun dan tak dapat menjamin pekerjaan lain sampai penghentiannya bulan Mei 2008. Menjelang  November 2008, dia memutuskan menjadi seorang sopir taksi.

Kini, pria dengan seambrek kurikulum vitaes dan pengalaman universitas, lembaga pemerintah dan perusahaan menjadi sopir kendaraan Toyota Crown. Pada saat seperti ini, bisnis taksi mungkin satu-satunya usaha di Singapura yang masih aktif merekrut orang, ” katanya.

Sumber: milis nilai_nilai_kwi

Walikota Batu Tutup Izin Yayasan Katolik Bhakti Luhur


UCANews
Reporter Kristiani Pos
Posted: Jul. 07, 2009 15:03:45 WIB

MALANG, JATIM – Pastor Laurentius Heru Susanto, Vikaris umum Keuskupan Malang menyesalkan tindakan pemerintah daerah yang memutuskan menutup izin Yayasan Katolik Bhakti Luhur.

 

Penyesalan ini disampaikan Kepala Paroki Katedral Malang St. Perawan Maria ini kepada UCANews baru-baru ini.

 

“Kami sangat menyesal tindakan itu. Rumah yang telah dibangun hanya untuk melayani rakyat. Tidak ada tujuan lainnya,” ujar Romo Susanto.

 

Tepatnya, 19 Juni lalu, Walikota Batu, Eddy Rumpoko, telah mencabut ijin yayasan Katolik Bhakti Luhur yang di bangun di lahan seluas lima hektar di desa Junrejo. Penutupan ini disusul protes sekitar 1.000 masyarakat dan puluhan organisasi di depan Balai Kota Malang.

 

Laporan lain menyebutkan, sebagian warga yang tinggal di Junrejo telah melakukan protes pembangunan yayasan ini sejak Oktober, ketika awal pembangunan dimulai.

 

Menurut beberapa kelompok Muslim kota Batu mengatakan bahwa wisma tersebut dianggap mengancam keberadaan aqidah Islam.

 

Sebanyak 10 perwakilan ulama dari berbagai ormas melakukan perundingan bersama Walikota Batu, Edy Rumpoko dimana hasil pembicaraan tersebut memutuskan untuk mencabut izin yayasan Katolik Bhakti Luhur.

Sumber: Kristiani Pos