Wah! Agama Jadi Alat ‘Cuci Dosa’ Korupsi


(Jakarta 30/04/10)Permasalahan korupsi kini sudah mulai merambah kepada nilai religiusitas seseorang. Agama kerap dijadikan sebagai alat pencucian dosa perbuatan korupsi. Kekuasaan dan pemimpin agama malah sering kali melegitimasi perilaku-perilaku yang koruptif.

Demikian disampaikan oleh mantan Ketua Pemuda Muhammadiyah Abdul Muti dalam acara diskusi bertajuk “Agama dan Masalah Korupsi” di Gedung CDCC, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (30/4/2010). Turut hadir dalam diskusi tersebut sejumlah tokoh, antara lain, rohaniwan Romo Benny Susetyo SJ dan peneliti Indonesia Corruption Watch, Danang Widoyoko.

“Agama ini sekarang sering dijadikan dosa laundering. Seolah-olah orang yang korupsi, kalau ibadahnya bagus dan banyak menyumbang untuk rumah ibadah dosa terhapus,” kata Abdul.

Ia menyebutkan, sering kali karena pemahaman agama yang formalistik, orang justru bersikap matematis dengan perbuatan korupsi dan keyakinan agamanya. “Lucunya, ada yang menghitung nilai dosa dan amal pahala yang menurutnya sudah dia buat. Ada, yang korupsi belasan juta merasa dosanya sudah dihapuskan karena sudah menyumbang rumah ibadah puluhan juta,” kata dia.

Muti mengatakan, dari segi agama perlu ada pembaharuan mengenai definisi perbuatan dosa termasuk korupsi. Ia menyebut, pemimpin agama harus juga mengerti tentang hukum publik, termasuk peraturan perundang-undangan tindak pidana korupsi. “Supaya agama tidak lagi dimanfaatkan sebagai tempat pencucian dosa korupsi,” tegasnya.(kompas.com)

HIDUP ADALAH TERLALU BERHARGA, JANGAN RUSAKKAN ITU!


Inilah perkataan yang diucapkan Ibu Teresa sebelum kematiannya :

” Kalau saya memungut seseorang yang lapar dari jalan, saya beri dia sepiring nasi, sepotong roti. Tetapi seseorang yang hatinya tertutup, yang
merasa tidak dibutuhkan, tidak dikasihi, dalam ketakutan, seseorang yang telah dibuang dari masyarakat – kemiskinan spiritual seperti itu jauh lebih sulit untuk diatasi “.

Mereka yang miskin secara materi bisa menjadi orang yang indah ..

Pada suatu petang kami pergi keluar, dan memungut empat orang dari jalan. Dan salah satu dari mereka ada dalam kondisi yang sangat buruk.

Saya memberitahu para suster : ” Kalian merawat yang tiga; saya akan merawat orang itu yang kelihatan paling buruk “.

Maka saya melakukan untuk dia segala sesuatu yang dapat dilakukan, dengan kasih tentunya. Saya taruh dia di tempat tidur dan ia memegang
tangan saya sementara ia hanya mengatakan satu kata : ” Terima kasih ” lalu ia meninggal …

Saya tidak bisa tidak harus memeriksa hati nurani saya sendiri. Dan saya bertanya : ” Apa yang akan saya katakan, seandainya saya menjadi dia ?! ” dan jawaban saya sederhana sekali. Saya mungkin berusaha mencari sedikit perhatian untuk diriku sendiri.

Mungkin saya berkata : ” Saya lapar, saya hampir mati, saya kedinginan, saya kesakitan, atau lainnya “. Tetapi ia memberi saya jauh lebih banyak
ia memberi saya ucapan syukur atas dasar kasih. Dan ia mati dengan senyum di wajahnya.

Lalu ada seorang laki-laki yang kami pungut dari selokan, sebagian badannya sudah dimakan ulat, dan setelah kami bawa dia ke rumah perawatan ia hanya berkata : “Saya telah hidup seperti hewan di
jalan, tetapi saya akan mati seperti malaikat, dikasihi dan dipedulikan “.

Lalu, setelah kami selesai membuang semua ulat dari tubuhnya, yang ia katakan dengan senyum ialah : ” Ibu, saya akan pulang kepada Tuhan ” – lalu ia mati.

Begitu indah melihat orang yang dengan jiwa besar tidak mempersalahkan siapapun, tidak membandingkan dirinya dengan orang lain. Seperti
malaikat, inilah jiwa yang besar dari orang-orang yang kaya secara rohani sedangkan miskin secara materi.

* Hidup adalah kesempatan, gunakan itu.
* Hidup adalah keindahan, kagumi itu.
* Hidup adalah mimpi, wujudkan itu.
* Hidup adalah tantangan, hadapi itu.
* Hidup adalah kewajiban, penuhi itu.
* Hidup adalah pertandingan, jalani itu.
* Hidup adalah mahal, jaga itu.
* Hidup adalah kekayaan, simpan itu.
* Hidup adalah kasih, nikmati itu.
* Hidup adalah janji, genapi itu.
* Hidup adalah kesusahan, atasi itu.
* Hidup adalah nyanyian, nyanyikan itu.
* Hidup adalah perjuangan, terima itu.
* Hidup adalah tragedi, hadapi itu.
* Hidup adalah petualangan, lewati itu.
* Hidup adalah keberuntungan, laksanakan itu.
* Hidup adalah terlalu berharga, jangan rusakkan itu.

Hidup adalah hidup, berjuanglah untuk itu …

Pengarang: NN

Tingkatkan Pendidikan, Presiden Terbitkan PP tentang Dosen


sumber :
http://www.mediaind onesia.com/ read/2009/ 05/05/76475/ 88/14/Tingkatkan _Pendidikan% 5C_Presiden_ Terbitkan_ PP_tentang_ Dosen

BANDUNG–MI: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan hadiah kepada para dosen dalam Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) penandatanganan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Dosen yang mengatur tetang hak, kewajiban, dan tunjangan yang diberikan pada dosen.

“Saya ingin beri oleh-oleh, kado. Kalau di waktu yang lalu, keluar PP Guru sebagai turunan UU Guru dan Dosen. Alhamdulillah, telah saya tandatangani PP Dosen yang akan atur hak, kewajiban, dan tunjangan yang diberikan pada dosen,” ujar Presiden dalam pidatonya di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga) di Bandung, Jawa Barat, Selasa (26/5).

Menteri yang hadir, antara lain Menteri Pendidik Nasional Bambang Subiyanto, Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari, dan Menteri Agama Maftuh Basyuni.

Sejalan dengan peningkatan ekonomi, PNS, petani, buruh dan program-program rakyat, maka kesejahteraan guru, dosen, dan mahaguru bisa ditingkatkan. Presiden berharap agar kualitas pelajar bisa ditingkatkan. Bukan hanya pendidikan umum, namun juga keagamaan.

“Insya Allah, pemerintah akan adil, dibagi secara seimbang agar pendidikan terus maju. Bila dilaksanakan, insya Allah cerdas dan iman bertakwa yang luhur,” ujar Presiden.

Presiden merasa terharu banyaknya pihak yang ingin meningkatkan kualitas pendidikan. Diakuinya, menjalankan tugas pendidikan tidak ringan.

Dalam pendidikan, ada dua perspektif. Pertama, visioner dan strategis. Kedua, operasional dan pragmatis. “Semua penting agar benar-benar pendidikan dapat ditingkatkan, ” ujar Presiden. (Rin/OL-04)

PEMIMPIN YANG BISA MEMIMPIN


Saya terkesan ketika seorang CEO sebuah perusahaan memberi arahan kepada bawahan-bawahannya, bahwa dalam menghadapi krisis sekarang justru program-program yang menyangkut pengembangan kepemimpinan perlu digalakkan. “Nasib perusahaan ada di tangan anda, di setiap departemen dan semua unsur organisasi. Sekaranglah waktunya anda membuktikan kepemimpinan”.

 

Pemimpin memang sudah seharusnya: memimpin. “The leaders have to lead”. Nampaknya memang banyak kasus, dimana individu yang diharapkan memimpin sekadar melaksanakan tugasnya dan tidak mengadapi secara konfrontatif segala kompleksitas, ambiguitas dan “unpredictabilities”,  di samping tentu saa me-manage timnya. Terkadang saya jadi bertanya-tanya, bahkan berterima kasih kepada individu-individu yang bersedia, sampai-sampai agak “ngotot” untuk memegang tampuk kepemimpinan suatu lembaga, bahkan Negara. Meminam istilah Karen Agustiawan, mereka pastinya sangat paham dan jago dalam bukan saa “plan the work”, tetapi juga “working the plan”. Nah dalam working the plan inilah baru akan teruji daya adaptasi, inovasi, kejelian menangkap peluang, serta kecerdikan  dalam mengelola kegiatan operasional dalam situasi yang sangat berubah-ubah dan rumit dengan bimbingan yang sangat minimal.

 

Tidak Bisa Bilang: “Tidak Bisa”

 

Dalam setiap pembahasan mengenai kepemimpinan, para ahli sering menyebutkan bahwa pemimpin yang tidak punya visi dan tidak berpegang pada misi yang diemban tidak mungkin bisa sukses mengarahkan anak buah. Kitapun banyak membaca bahwa pemimpin yang berhasil adalah mereka yang membuat keputusan-keputusan yang cemerlang. Hal yang tidak banyak disebut-sebut adalah kesulitan pemimpin dalam menghadapi kompleksitas di lapangan.

 

Bisakah kita berempati pada Obama yang menghadapi musuh-musuh politiknya? Bisakah kita membayangkan Perdana Menteri Australia, menghadapi kebakaran hutan yang menewaskan paling sedikit 166 orang? Bagaimana dengan Karen Agustiawan, yang diberi tanggung awab memimpin lembaga paling produktif secara financial di Negara ini, Pertamina, dengan tujuh anak perusahaan? Dengan sedikit upaya, kita tentunya bisa membayangkan betapa ribet-nya kita bila masuk dalam posisi para pemimpin tersebut. Bahkan saya bertanya dalam hati, “Kok mau-maunya ya orang masuk dalam situasi sesulit itu?”

 

Harapan masyarakat terhadap seorang pemimpin tidak pernah memperkirakan dan mempertimbangkan kesulitannya, namun hanya permasalahannya tuntas. Pemimpin diharapkan menjadi tokoh yang selalu “be there” kalau ada kesulitan dan menyediakan solusi. Dalam keadaan yang terjepit secara financial dan perusahaan dituntut untuk menalankan program, kata-kata “tidak ada budget” bisa diungkapkan oleh departemen keuangan, tetapi pmimpin tertinggi tetap tidak bisa mengelakkan kalau program harus dialankan. The show must go on. Uangnya dari mana, pemimpinlah yang harus putar otak dan mengarahkan semua sumber daya untuk mencari solusi.

Pemimpin dipilih justru bukan karena ia bertugas menjalankan  tugas yang manis-manis. Justru dalam menentukan pilihan pada seorang pemimpin, pemegang saham ataupun rakyat sudah membayangkan pe-er yang mungkin tidak mudah, tentang hal-hal yang bukan saja terjadi di masa lalu tetapi juga yang kita tidak tahu di masa mendatang. Pemimpin ini pun tidak pernah diharapkan untuk sedikit-sedikit berkonsultasi, karena secara prinsip itulah bedanya pemimpin dengan bawahan: ia tidak mempunyai atasan tempat bertanya. Dalam situasi sulit begini, pemimpin juga tidak diharapkan untuk sedikit-sedikit excuse atau mengatakan alasan-alasan bahwa ia perlu waktu belaar, mempelajari atau menganalisa, karena gelombang perubahan yang lebih keras pun akan menyapu kondisi sekarang bila ia tidak menggerakkan organisasinya. “Things are going to go wrong and some crazy things are going to happen”.

 

Kompleksitas yang Menuntut Pengembangan Kekuatan dari Segala Aspek

 

Dalam merencanakan kegiatan assessment center, mengurai aspek-aspek kepemimpinan yang dituntut oleh suatu organisasi terkadang bisa menjadi diskusi yang sangat a lot. Minimalnya seorang pemimpin diharapkan bisa menampilkan kemampuan meneropong masa depan (visi), komitmen, akuntabilitas, integritas, fleksibilitas, keterampilan interpersonal, keterampilan komunikasi, serta mengelola sumber daya yang memberdayakan tim untuk mencapai sasaran.

 

Saat mengukur dan memetakan “kurang lebih”-nya keadaan orang yang dinilai dengan aspek kepemimpinan yang diukur, saya sering membatin, apakah mungkin seorang pemimpin bekera all out bila ia tidak mempunyai kekuatan full spectrumi dalam menghadapi kompleksitas yang ada. Bukan zamannya lagi kita menyebut-nyebut peran pemimpin dengan berperan ganda atau beberapa peran sekaligus, karena setiap pemimpin memang diharapkan berperan secara multifacet. Tiada maaf bagi pemimpin yang lemah dalam sisi tertentu, karena seluruh lembaga akan diserang di sisi lemah tersebut, otomatis lemahlah seluruh organisasi atau negaranya.

 

Bahkan, sambil menggerakkan, seorang pemimpin juga perlu meyakinkan diri dan tim, bahwa pasokan dan kebutuhan tim serta anak buah bahkan rakyat cukup. Bukankah ini yang diharapkan rakyatnya atau pemegang saham? Jadi pemimpin perlu bisa memainkan banyak peran dari penggerak, pemasok, pengelola sumber daya yang efisien, penyemangat, pemecah masalah, pengayom dan masih berpuluh-puluh peran yang memang perlu tampil dimainkan. Kelihatannya tuntutan terhadap seorang pemimpin belum berubah dari zaman dahulu seperti yang dituliskan Mark Twain dalam Life on the Mississippi: “the man has got to learn more than any one man ought to be allowed to know”  dan “that he must learn it all over again in a different way every 24 hours”. (Eileen Rachman & Sylvina Savitri/ Experd/ Klasika/ Kompas, 14/02/2009).

KETERAMPILAN PRIBADI MENJADI DAYA PIKAT PERUSAHAAN


Era globalisasi ini, persaingan dunia semakin ketat. Tak lagi hanya bersaing dengan ‘produk lokal’, tetapi juga bersaing dengan sumber daya manusia dari luar negeri. Bila sudah begini, gelar pendidikan tak lagi menjadi hal utama, melainkan kebutuhan akan keterampilan yang beragam dari tiap insane.

 

Setidaknya, anda dapat mengembangkan beberapa keterampilan berikut:

 

  1. Bahasa. Keterampilan ini sudah menjadi salah satu keterampilan wajib sejak dulu di berbagai perusahaan. Dengan semakin gencarnya persaingan secara global saat ini, memiliki kemampuan berbahasa Inggeris, China, Jepang atau Perancis akan lebih diminati. Semakin banyak bahasa yang dikuasai, semakin terbuka kesempatan mendapatkan pekerjaan.
  2. Kepemimpinan. Tentunya keterampilan ini tidak begitu saja turun dari langit, tetapi dipelajari dan memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk menimba pengalaman. Seseoran yang memiliki kemampuan memimpin tentunya akan lebih mudah untuk melangkah ke jenjang lebih tinggi. lagipula, kemampuan ini dibutuhkan dalam setiap perusahaan untuk menjalankan bisnis perusahaan.
  3. Komunikasi. Sukses tidaknya sebuah perusahaan juga dapat dipengaruhi dengan “kemampuan berkomunikasi” dari setiap pegawainya. Yang dimaksud dengan kemampuan berkomunikasi yang baik di sini adalah mampu menengahi konflik, menghadapi masalah atau menciptakan suasana kerja yang nyaman sehingga dapat meningkatkan produktivitas, yang tentunya menguntungkan bagi perusahaan.
  4. Mengelola Sumber Daya Manusia. Kemampuan ini dibutuhkan di setiap perusahaan  untuk mengatur dan mengelola setiap insan pekerja, agar dapat bekerja dengan maksimal, menjaga hubungan interpersonal serta menjadi jembatan antara struktur bawah dan atas. Tak heran bila kini banyak ditemukan banyak jenjang pendidikan maupun pelatihan khusus sumber daya manusia.
  5. Keterampilan komputer. Keterampilan yang satu ini tentunya memegang kendali di setiap lini dalam perusahaan. Terlebih lagi, system komputerisasi juga menjadi salah satu tolok ukur dalam kemajuan sebuah perusahaan. Anda dapat mengembangkan kemampuan ini dengan mengikuti kursus komputer  yang kini sangat mudah ditemui, yang memberikan pelatihan, mulai dari tingkat dasar  hingga advanced. Tentunya setiap keterampilan yang anda miliki harus disesuaikan dengan dengan pekerjaan yang diinginkan. Semakin banyak keterampilan yang dikuasai untuk suatu pekerjaan, semakin besar kemungkinan mendapat pekerjaan tersebut. (ADT/ Klasika/ Kompas/ 25/01/2009)