Me-“refresh” Agama, Akal, dan Semangat Toleransi


Perlu disayangkan jika kita beragama tidak menggunakan akal. Menurut Franz Magnis-Suseno (2006), beragama harus masuk akal. Sebab apabila tidak masuk akal akan cenderung sewenang-wenang, arogan, dan merasa paling benar. Konsekuensinya akan gampang menyalahkan agama orang lain yang berbeda dan akan sering terjadi pertikaian atau permusuhan antarumat beragama yang memiliki keyakinan tidak sama.

Sebentar lagi saudara-saudara kita umat Kristiani akan merayakan hari raya Natal. Tentunya kita sesama saudara antaragama satu negara wajib mengucapkan selamat kepada mereka. Meski secara tidak langsung ikut merayakan, paling tidak kita ikut berbahagia karena saudara-saudara kita umat Kristiani lagi berbahagia.

Sangat masuk akal jika kita mengucapkan ”selamat” terhadap saudara-saudara kita yang beda agama yang sedang merayakan hari raya. Dan sangat tidak pantas jika kita iri hati dan benci terhadap saudara-saudara kita yang sedang merayakan hari raya. Sudah bukan zamannya untuk saling benci dan iri hati terhadap umat agama-agama lain. Sebab yang namanya keyakinan tidak dapat diganggu gugat dan merupakan hak asasi pribadi manusia.

Iri hati dan benci atau berperang atas nama agama merupakan suatu tindakan yang konyol dan kekanak-kanakan—kalau meminjam bahasanya Sigmund Freud. Jika demikian, sangat tepat apabila para ateisme mengatakan, agama hanya mendatangkan perang dan ketidakdamaian serta tidak masuk akal. Kalau mau damai, maju, dan sejahtera maka tinggalkan agama.

Dengan kritik ateisme itu, agama mau tidak mau harus masuk akal, tidak bertentangan dengan akal sehat, dapat dikomunikasikan dengan baik pada orang lain, dan menjadi hak setiap individu, serta mencerahkan umat manusia. Jika demikian, kritik ateisme dengan sendirinya akan runtuh.

Agama yang tidak bertentangan dengan akal sehat tidak akan menyuruh umatnya selalu berperang dan benci pada orang lain, bahkan sebaliknya, hormat dan menghargai yang lain. Karena, dalam teori, agama yang masuk akal mengandung beberapa hal penting, yaitu, pertama, dialog. Agama yang rasional akan terbuka dengan adanya agama yang lain sehingga terjadi dialog antaragama yang akan menghasilkan saling pengertian dan saling memahami. Dialog antaragama (dialogue interfaith) memang sudah sering dilakukan namun belum menyeluruh. Kebanyakan dilakukan hanya oleh kalangan elite agamawan. Sedangkan dalam tingkatan masyarakat bawah masih jarang. Nah, di sini penting untuk menggalakkan dialog antaragama sampai tingkatan paling bawah.

Kedua, agama yang masuk akal akan menjadi pertanggungjawaban terhadap yang tidak memahami, tidak tahu, dan yang mengatakan bahwa agama kita sesat dan menyesatkan. Dalam konteks ini, tuduhan sesat-menyesatkan kadang kala diakibatkan karena kita tidak mampu merasionalkan agama kita pada orang lain. Ketika kita mampu merasionalkan dan memahamkan orang lain bahwa agama kita tidak sesat-menyesatkan dan tidak bertentangan dengan akal budi kebanyakan orang, maka kita akan kerasan hidup di tengah-tengah umat yang punya keyakinan lain.

Ketiga, agama yang masuk akal akan membuat kita beragama tidak dengan sewenang-wenang, arogan, dan merasa paling benar. Karena, ketika merasionalkan agama kita, secara tidak langsung kita juga akan mengerti terhadap keberagamaan orang lain yang berbeda dengan kita. Bahwa agama merupakan pengalaman pribadi yang unik dan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional dan orang lain juga bisa mempertanggungjawabkannya secara rasional juga.

Dari ketiga hal itulah, dapat disimpulkan, agama yang masuk akal dapat mengantarkan umat beragama pada kerukunan, saling menghargai, saling memahami, dan bersatu untuk mencapai kemajuan bersama.

Sementara itu, mereka yang tidak mau merasionalkan agamanya akan terus menjadi bumerang bagi umat lain yang mau hidup berdampingan, damai, dan tolong-menolong. Dalam teori mereka disebut fideisme (Louis Leahy, 1994). Fideisme menyatakan bahwa agama tidak perlu dirasionalkan karena agama berada di luar akal budi manusia. Bagi fideisme, akal dianggap tidak mampu untuk mencerap pengetahuan keagamaan. Keimanan yang mereka anut berdasarkan sepenuhnya pada iman itu sendiri dan berpegang secara harfiah pada kitab suci.

Pemahaman seperti itu, menurut Franz Magnis-Suseno, tidak boleh dipertahankan sebab akan membahayakan bagi yang lain. Bagi Romo Magnis, justru dalam situasi seolah-olah menolak rasionalisasi agama, kita tertantang mampu mempertanggungjawabkan dan merasionalkan agama kita. Keberagamaan bukan sebuah keyakinan main-main, bukan hobi religius, dan bukan ikut-ikutan orang lain. Seluruh potensi dalam diri kita, termasuk akal kita, harus ikut berperan dalam keyakinan terhadap agama karena hal itu akan bermanfaat, baik bagi diri sendiri dan orang lain.Nabi Muhammad pernah bersabda, ”Agama adalah akal, tidak ada agama bagi orang-orang yang tidak berakal.” Orang beragama sehat secara rohani dan jasmani. Apa yang diperintahkan dalam agama tidak akan bertentangan dengan akal sehatnya dan tidak akan merugikan orang lain. Dengan demikian, agama yang berisi keyakinan pada Tuhan memang perlu dirasionalkan. Agama dan akal tidak akan bertentangan dan tidak perlu dipertentangkan serta tidak perlu takut untuk dikomunikasikan dengan orang lain.

Dalam pandangan Ibnu Arabi, kita punya kemungkinan bisa memahami dan merasioalkan agama dalam level relasi agama dengan pengikut-pengikutnya. Sedangkan pada level relasi manusia dengan Tuhan tidak dapat diketahui (Al-Fayyadl, 2009). Relasi agama dan pengikut-pengikutnya dapat dipahami dan dikomunikasikan dalam bentuk pengalaman spiritual masing-masing. Nah, pada momen inilah agama dikomunikasikan dengan akal yang sehat.

Dengan demikian, agama yang tidak bertentangan dengan akal merupakan suatu yang penting. Dan perlu diingat, kita tidak sekadar beragama secara masuk akal, namun juga mampu mendialogkannya dengan keberagamaan orang lain yang tidak sama, dalam suasana hati terbuka, saling menghargai, dan dalam derajat yang sama, menuju kesempurnaan bersama.

Selamat merayakan hari Natal.

GUS MASYKUR Alumnus Jurusan Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (Kompas.com) ​

Paus Pertanyakan Kejelasan Arah Dalam Dialog Antar Agama


Paus Pertanyakan Kejelasan Arah Dalam Dialog Antar Agama

 

Paus Benedict XVI mempertanyakan arah tujuan terkini dari dialog antar agama yang diadakan pada Minggu (23/11) lalu, namun demikian Paus tetap menganggap bahwa pembicaraan antar kelompok beragama masih tetap diperlukan meskipun perlu adanya beberapa perubahan.

Dalam sebuah surat yang ditujukan kepada para politikus Italia dan cendikiawan Marcello Pera, yang mana dalam waktu dekat akan segera meluncurkan bukun berjudul Why We Must Call Ourselves Christian, dalam komentarnya terhadap buku tersebut, Paus mengatakan bahwa buku tersebut “menjelaskan dengan sangat gamblang” bahwa sebuah dialog antar agama dengan suatu pemahaman yang keras tidaklah mungkin dapat terjadi,” menurut surat kabar New York Times.

Dalam buku Pera tersebut, dikemukakan bahwa Eropa diakui sebagai cikal bakal dari Kristiani, dan merupakan suatu topik yang mana Benedict inginkan agar hal tersebut dikupas di Eropa dimana saat ini tingkat sekularitasnya makin meningkat.

Paus mengatakan bahwa “sebuah dialog tidak mungkin terjadi tanpa menempatkan rasa saling percaya dalam suatu lingkup tertentu,” sebagaimana ditulis dalam sebuah surat yang dicetak pada Minggu lalu di Corriere della Sera, sebuah surat kabar terkemuka di Italia.

Meskipun demikian, katanya “dialog antar budaya yang membahas secara mendalam mengenai konsekuensi dasar dari budaya” merupakan hal yang penting untuk dibicarakan “dalam suatu forum publik mengenai dampak kebudayaan terhadap keputusan-keputusan dasar agama.

Juru bicara Vatikan, Rev. Federico Lombardi kemudian menjelaskan bahwa komentar Paus tersebut bertujuan untuk meningkatkan minat terhadap Buku Pera, dan bukan suatu tanda adanya perubahan hati dan minat Vatikan terhadap dialog antar agama.

“Kepausannya selama ini dikenal aktif dalam mengupayakan terwujudnya dialog antar agama; antara lain Paus megunjungi Mesjid, dan juga pernah mengunjungi Sinagog-sinagog,”ujar Lombardi. “Hal ini berarti bahwa Paus berpikir bahwa kita dapat bertemu dan bicara dengan yang lain serta dapat menjalin sebuah hubungan yang positif.”

Sementara itu, beberapa cendikiawan berpendapat bahwa komentar Paus tersebut merupakan suatu upaya untuk memberi tekanan terhadap dialog antar agama untuk dapat lebih mengarah kepada praktek bukan hanya sekedar teori.

“Paus berusaha agar dialog antara Katolik-Islam dapat menyingkirkan berbagai awan teori dan turun untuk memakukannya: bagaimana mugkin kita dapat tahu yang benar tentang bagaimana kita dapat berpikir untuk bisa hidup bersama dengan begitu saja, sekalipun memiliki dasar kepercayaan yang berbeda?” kata George Weigel, seorang cendikiawan Katolik dan penulis biografi tentang Paus Yohanes Paulus II.

Pada awal November Vatikan menjadi tuan rumah suatu pertemuan dialog antar agama yang bersejarah antara kaum cendikiawan Muslim dan pemerintah Katolik. Para peserta dalam dialog Vatikan tersebut berdiskusi mengenai perbedaan pemahaman dalam ayat-ayat kitab suci, saling berbagi nilai-nilai moral, saling menghormati satu sama lain sebagai suatu dasar sikap menghargai kepercayaan satu dengan lainnya, kebebasan beragama, dan juga mengenai penganiayaan terhadap kelompok minoritas di Irak.

Para pemimpin agama yang ikut serta dalam pertemuan yang diadakan pertama kalinya tersebut berharap dengan adanya pertemuan tersebut dapat melunakkan ketegangan yang terus menerus meningkat antara Kristiani dan Islam.

Acara serupa juga diadakan oleh Uskup Agung Canterbury yang juga menyelenggarakan sebuah konferensi Muslim-Kristiani pada tahun ini, dimana para pemimpin baik dari Muslim dan Kristiani sepakat mengecam penganiayaan terhadap Kristiani di Irak.

>

Ethan Cole
Kontributor Kristiani Pos

Diperoleh dari: http://id.christianpost.com/php_functions/print_friendly.php?tbl_name=europe&id=254

Paus Serukan Untuk Terwujudnya Hubungan Baik Antara Kristiani dan Islam


Paus Serukan Untuk Terwujudnya Hubungan Baik Antara Kristiani dan Islam

VATIKAN –Umat Kristiani dan Muslim harus dapat mengatasi kesalahpahaman diantara mereka, Paus Benedict XVI berkata kepada para pemuka agama Islam dan para cendikiawan Muslim dalam rangka menekankan kebebasan beribadah bagi umat non Muslim di lingkungan Islam.

Dalam pertemuannya dengan para delegasi yang terdiri dari cendikiawan dan perwakilan Muslim lainnya di Istana Rasuli dalam konferensi tiga hari yang melibatkan para imam dan professor serta para pakar Islam. Benedict mengatakan kepada para peserta bahwa dia telah mengalami “kemajuan” dalam pembicaraan-pembicaraan dekatnya.

Pembaptisan yang dilakukan oleh paus terhadap seorang Mesir yang lahir dalam keluarga Muslim pada Paskah lalu di Basilika Santo Petrus mengejutkan beberapa kelompok dalam dunia Muslim. Benedict juga memicu kemaraan umat Muslim dengan komentarnya yang mengaitkan Islam dengan kekerasan dalam suatu pidatonya pada 2006.

“Kepada kawan-kawan semuanya, marilah kita satukan usaha kita, untuk hidup dengan baik, dengan tujuan untuk menyelesaikan segala kesalahpahaman dan ketidaksepahaman yang ada,”ujar paus dalam pidatonya kepada para delegasi. “Biarlah kita menyelesaikan serta mengatasi segala prasangka masa lalu dan memperbaiki citra satu sama lain, yang mana sampai sekarang menyebabkan permasalahan dalam hubungan kita.”

Benedict mengungkapkan penyesalannya atas perbuatannya yang telah melukai perasaan melalui ucapannya pada 2006 silam.

Dalam upaya memperbaiki hubungan yang renggang selama ini, Vatikan menganggap percakapan di antara kedua pihak sebagai suatu kesempatan untuk mendorong terwujudnya perlakuan yang baik terhadap Kristiani dalam dunia Muslim.

Di Arab Saudi, umat non-Muslim tidak dapat beribadah di publik, lambang-lambang Kristiani seperti salib tidak dapat dipakai secara terbuka dan penerapan hukuman mati bagi orang Muslim yang berkonversi ke Kristiani. Vatikan juga telah secara terbuka berbicara mengenai keadaan Kristiani di Irak, dimana gereja-gereja banyak yang diserang, para pastor diculik serta banyak orang percaya yang terpaksa melarikan diri dari Iran.

Benedict mengungkapkan harapannya bahwa hak-hak yang paling mendasar dapat “dilindungi” bagi setiap orang dimana pun mereka berada.”

“Diskriminasi dan kekerasan yang sampai saat ini dialami banyak orang di seluruh dunia, dan bahkan seringkali mereka menjadi subyek penganiayaan-kekerasan, hal tersebut mencerminkan suatu tindakan yang tidak dapat dibenarkan dan tidak dapat diterima,”lanjut paus.

Para pemimpin Muslim menyerukan ulang harapan paus tersebut akan terciptanya hubungan yang lebih baik.

“Keberadan kita disini adalah tepat dengan harapan untuk tercapainya kedamaian antara Kristiani dan Islam,”kata Seyyed Hossein Nasr, seorang profesor studi Islamiah di Universitas George Washington, kepada paus.

Delegasi Katolik termasuk diantaranya Kardinal Jean-Louis Tauran, kepala dewan Vatikan bidang dialog antar agama, mantan uskup agung Washington D.C., Kardinal Theodore McCarrick dan Uskup Agung Chaldean Louis Sako dari kota Kirkuk sebelah utara Irak.

Kelompok Muslim diantaranya para cendikiawan dari Swiss, Tariq Ramadan dan Seyyed Damad, dekan Bagian Studi Islamiah di Akademi Ilmu Pengetahuan Iran.

The Associated Press

Sumber: Kristiani Pos

Islam di Negeri Asal Paus Johanes Paulus II


Islam di Negeri Asal Paus Johanes Paulus II

Warsawa (ANTARA News) – Secara kasat mata, Islam tidak menonjol di Polandia. Maklum, negeri ini berpenduduk mayoritas Katolik.

Umat Nasrani di negeri asal mendiang Paus Johannes Paulus II itu mencapai 95 persen dari hampir 40 juta penduduk.

Namun Islam telah berada di Polandia sejak 600 tahun silam dan memiliki tempat dalam sejarah panjang di negeri yang pernah hilang 123 tahun dari peta politik Eropa itu.

Jumlah umat Islam di Polandia berkisar antara 25-30 ribu, umumnya penganut aliran Sunni, di antaranya sekitar 3.000 – 5.000 berdarah Tartar.

Seiring berkembangnya ekonomi, banyak kaum muda yang dinamis pindah dan menetap di wilayah utara, terutama di Gdansk. Kaum tua Tartar kebanyakan bertahan di permukiman asli mereka di kota-kota kecil di sekitar Byalistok.

Tidak banyak terdapat masjid di Polandia, cuma dalam bilangan jari. Namun seiring dengan berkembangnya jumlah penganut Islam dari Timur Tengah, Afrika dan Asia Selatan, rumah-rumah ibadah Muslim dalam bentuk mushalla juga berkembang pesat.

Di kota-kota besar seperti Krakow, Wroclaw, dan Gdansk yang memiliki masjid, tempat ibadah itu memiliki multifungsi, sekaligus sebagai Pusat Kebudayaan dan Informasi Islam.

Gdansk menjadi tempat yang khusus karena memiliki menara, meskipun azan tidak dikumandangkan. Namun, dalam peta Islam kota kecil Kryszyniany dan Bohoniki, di dekat Byalistok, memiliki tempat khusus bersejarah, karena di tempat itu terdapat dua mesjid tua yang kurang lebih sama tuanya dengan yang terdapat di Lithuania maupun Belarus.

Di Wroclaw, menurut Imam Ali Abi Issa yang menjadi Ketua sekaligus imam pada Pusat Kebudayaan Islam, suasana Ramadhan diisi dengan shalat tarawih, pengajian, dan shalat Ied bersama umat Islam setempat.

Imam Ali sangat aktif menggerakkan dialog antar-agama, termasuk antara Islam dan Yahudi berkembang baik. Mayoritas kaum Muslim berasal dari negara-negara Arab.

TKI yang berjumlah sekitar 15 orang juga sering hadir beribadah di mesjid. Dewan Kota Wroclaw sangat mendukung keberagaman dan toleransi yang pada gilirannya akan membentuk citra kota Wroclaw sebagai kota budaya internasional.

Maklum, Wroclaw ingin mengimbangi kedudukan unggul Krakow sebagai kota budaya yang banyak menarik wisata dan investasi, dan keduanya terletak di bagian selatan Polandia.

Iedul Fitri 1429 H merupakan kesempatan ketiga berlebaran bagi penulis sekeluarga selaku Duta Besar Republik Indonesia di Warsawa. Lebaran yang jatuh hari Rabu, 1 Oktober 2008, berdasarkan pengumuman dari Masjid Warsawa. Shalat Ied dimulai jam 0900 pagi, dipimpin oleh Imam Emir Poplawski. Sang imam ini berdarah etnis Tartar, bangsa yang gagah berani dan telah bermukim di Polandia selama 600 tahun.

Masjid Warsawa yang terletak di daerah pemukiman elit di bilangan Wilanow di Jalan Wiertnicza dan umat Islam bolehlah berbangga. Di Polandia tak gampang menemukan masjid. Lebih dari 95 persen rakyat Polandia beragama Katolik, sisanya Protestan, Ortodoks, Yahudi dan Muslim.

Kehidupan beragama pada zaman Komunis menjadi pengamatan intelijen, dan tidak dianjurkan. Pada era keterbukaan, kehidupan beragama menjadi lebih bergairah, dan Islam semakin berkembang.

Idul Fitri di Byalystok

Ketika Mufti Tomasz Miskiewicz, Ketua Dewan Persatuan Agama Islam Polandia menyampaikan undangan beridul fitri di Byalystok, wilayah timur Polandia, penulis langsung menyatakan akan datang, bersama isteri.

Tidak saja karena berteman baik dengan Mufti Polandia itu, tetapi lebih khusus lagi karena Byalistok merupakan kota bersejarah, di mana selama 600 tahun umat Islam bermukim di kota itu.

Masyarakat Muslim di kota itu adalah keturunan dari prajurit Tartar yang gagah-berani ketika berperang melawan Kerajaan Tetonik dalam pertempuran Grunwald di Malbork, utara Polandia pada tahun 1410.

Nenek moyang mereka turut berperang membantu Jan Sobieski, panglima perang yang kemudian menjadi raja Polandia, melawan pasukan Ottoman dalam mempertahankan kerajaan Austro-Hongaria sebagai bastion kerajaan Kristen, pada pertempuran Wina pada tahun 1683, sehingga Sobieski diberi gelar oleh Paus dan pemimpin Eropa sebagai “the Savior of Vienna and Western European civilization”.

Itulah sebabnya, para pemimpin perang Tartar diberikan gelar kebangsawanan dan memperoleh tempat khusus di hati rakyat Polandia. Panglima-panglima perang dan perajurit Tartar juga dengan gagah berani membela Polandia, tanah air baru mereka, dalam pertempuran menghadapi serbuan Jerman dan Uni Soviet menjelang Perang Dunia II pada tahun 1939.

Mufti Tomasz selalu diundang oleh Presiden Polandia pada saat menerima tamu-tamu negara Muslim, dalam kunjungan ke Polandia. Beliau juga rajin mengunjungi acara-acara resepsi yang diselenggarakan oleh KBRI Warsawa. Mufti yang juga keturunan Tartar itu berusia 30 tahun, cukup berwibawa, lulusan Fakultas Hukum di Arab Saudi dan sangat aktif dalam memajukan masyarakat Muslim di Polandia.

Dia membangun tempat wisata agro di Byalistok, tempat tinggalnya.

Disambut meriah

Setelah menempuh perjalanan dari Warsawa sejauh 200 km diiringi hujan sepanjang hari pada hari Sabtu (4/9), kami tiba di Byalistok berkumpul dengan sekitar 500 masyarakat Muslim Tartar, tua-muda, termasuk anak-anak, yang datang dari berbagai penjuru Polandia, dan bahkan dari luar negeri.

Mereka memadati gedung Pusat Kebudayaan Bialystok, tempat acara berlangsung.

Masyarakat Muslim di Polandia keturunan Tartar menyebut Idul Fitri sebagai Hari Ramadhan Bayram (Dni Bayram Ramadan), mungkin bayram diambil dari bahasa Turki yang berarti perayaan. Orang asing yang hadir barangkali kami dari Indonesia dan Dubes Azerbaijan, yang datang menyumbang konser lagu-lagu Islam oleh grup kesenian dari negerinya.

Etnis Tartar, sebagaimana saudara-saudara mereka dari Asia Tengah dan Kaukasus, sangat ramah dan bersahabat. Semua hadir mengenakan pakaian terbaik, berwarna-warni. Sebagian ibu-ibu dan wanita muda berkerudung.

Demikian pula kaum pria Tartar. Kami bertukar salam. Tidak tertinggal kesan, bahwa kakek-moyang mereka adalah pasukan perang berkuda bersenjata panah dan pedang yang gagah berani. Sayang, cuma dua duta besar dari negara-negara OKI yang hadir, Indonesia dan Azerbaijan.

Delegasi Indonesia dan Azerbaijan diberi kehormatan untuk duduk di barisan depan, dan diperkenalkan kepada hadirin sambil mempersembahkan seperangkat kembang yang indah dan diberi kesempatan berpidato, memperkenalkan Indonesia, negeri yang jauh dan indah di mana sekitar 220 juta umat Islam di sana juga sedang merayakan Idul Fitri.

Penulis katakan, meskipun berjumlah kecil di Polandia namun jangan berkecil hati, karena umat Islam Indonesia adalah saudara-saudara kalian. Mereka menunggu kedatangan saudara-saudara Muslim dari Polandia. Sangat ramah, dan mereka memberikan tepukan meriah. Beberapa kaum ibu berbincang-bincang dengan Ny. Pohan yang senantiasa berjilbab untuk bertukar informasi mengenai tradisi Idul Fitri di berbagai suku-bangsa di Indonesia.

Mereka terkesan dengan kemajuan umat Islam di Indonesia dan tradisi Idul Fitri yang dimulai dengan berziarah ke makam leluhur, makan pagi dan berdoa bersama keluarga sebelum shalat Ied, dan saling-berkunjung dan memaafkan, termasuk dengan teman dan tetangga. Suasana Ied berlangsung selama satu bulan penuh.

Di kota lain

Suasana Idul Fitri juga bergema di kota-kota lainnya seperti Wroclaw, Krakow, Lublin, Poznan dan Gdansk pada pusat-pusat kebudayaan Islam sekaligus berfungsi sebagai tempat ibadah. Di samping berfungsi sebagai pusat ibadah, tempat-tempat ini juga bermanfaat untuk dialog dan pertemuan dengan masyarakat yang ingin tahu tentang Islam serta dengan penganut agama lainnya untuk menguatkan citra toleransi beragama yang tinggi di Polandia.

Shalat Ied di Warsawa, misalnya, dilakukan di pagi hari dengan suhu dingin 10 derajat celsius. Sebagaimana di Indonesia, dilaksanakan dua rakaat, dan dilanjutkan dengan khotbah dalam bahasa Arab dan Polandia.

Imam fasih berbahasa Polandia karena memang lahir dan besar di Polandia. Imam mengumumkan, sebelum shalat dimulai, umat dipersilahkan untuk membayar zakat fitrah dan bersedekah.

Jam 8.30 pagi mesjid telah penuh sesak, sekitar 400 jamaah pria dan wanita dengan ruang terpisah telah mengambil tempat. Ada pula yang mengabadikan suasana bersukacita itu dengan kamera telepon genggam.

Masjid Warsawa itu terdiri dari dua lantai: wanita beribadah di lantai atas sedangkan pria di lantai bawah. Sebagian ruangan dijadikan kantor, dan ruang depan dijadikan toko koperasi yang menjual berbagai keperluan umat Islam serta makanan kecil halal.

Pada hari-hari kerja, ruangan digunakan untuk pendidikan dan pertemuan sosial termasuk melayani tamu-tamu yang menginginkan informasi mengenai Islam.

Sudah lama masyarakat Muslim di Warsawa, berkeinginan untuk memiliki Masjid Raya, khususnya sejak zaman keterbukaan setelah runtuhnya Tembok Berlin, namun belum terwujud. Apalagi, di beberapa negara Eropa Barat tidak mudah urusan administratif untuk membuat rumah ibadah Islam, meskipun di berbagai kota besar Eropa terdapat ratusan ribu jamaah Muslim.

Ibadah dijalankan di rumah-rumah bahkan di bekas-bekas gudang. Masjid Warsawa itu baru dalam beberapa tahun terakhir berfungsi, karena sebelumnya merupakan rumah vila yang dibeli umat Islam dari warga setempat.

Di Polandia sekarang ini, umat Islam bebas menjalankan ibadah tanpa tekanan ataupun diskriminasi.

Menurut Emir Poplawski, imam pada mesjid di Warsawa, Islam tidak bermasalah dan bahkan disambut baik dengan hak dan kewajiban sosial yang sama dengan warga lainnya. Bahkan, karena peran yang bersejarah, Konstitusi Mei 1791 mengakui kedudukan etnis minoritas Tartar yang kebanyakan Muslim dengan posisi menjadi anggota parlemen (Sejm). (*)

COPYRIGHT © 2008 ANTARA

PubDate: 07/10/08 14:33

Sumber: http://www.antara.co.id/print/?i=1223364838