Kembali ke (Tugu) Proklamasi)


___
”sulit sekali menemukan nilai-nilai unggul kepemimpinan yang akan secara nyata memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara”.
_______

Kembali ke (Tugu) Proklamasi.
(Sumber: Kompas,Rabu, 19 Oktober 2011)

Fajar Riza Ul Haq

Dalam momentum dua tahun pemerintahan SBY-Boediono, sejumlah tokoh lintas agama, yang awal Januari mencanangkan 2011 sebagai perlawanan terhadap kebohongan publik, kembali menyampaikan pernyataan terbuka di Tugu Proklamasi (18/10).

Kali ini dialamatkan langsung ke seluruh rakyat Indonesia, agen politik yang selama ini otonomi politiknya dilucuti oligarki parpol. Para tokoh agama sama sekali tak berselera untuk bercakap soal kegaduhan drama bongkar pasang kabinet. Mereka justru sangat gundah dengan kepemimpinan nasional itu sendiri.

Melalui proses perjalanan reflektif sejak November 2010, kini mereka sampai pada kesimpulan ”sulit sekali menemukan nilai-nilai unggul kepemimpinan yang akan secara nyata memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara”. Tokoh lintas agama harus menghadapi satu kenyataan: sudah tidak ada lagi kata-kata yang dapat disuarakan sebagai bentuk seruan moral.

Anatema gerakan

Sepanjang kami ikut memfasilitasi pertemuan para tokoh lintas agama bersama Konferensi Waligereja Indonesia dan Persekutuan Gereja-gereja Indonesia sejak 2006, topik korupsi, kemiskinan, kepemimpinan, dan pengingkaran janji kemerdekaan merupakan anatema dalam setiap percakapan. Gerbong gerakan moral ini sendiri sudah digulirkan paling tidak sejak 2000, kala itu dimotori Nurcholish Madjid (Paramadina), Ahmad Syafii Maarif (Ketua PP Muhammadiyah), KH Hasyim Muzadi (Ketua PBNU), Kardinal Julius Darmaatmaja SJ (Uskup Agung Jakarta), Franz Magnis-Suseno SJ, Bikkhu Pannyavaro, Djohan Effendi, dan lain-lain.

Tahun 2010, kinerja pemberantasan korupsi pada pemerintahan SBY mencapai level terburuk. Lembaga Survei Indonesia mencatat, tingkat kepercayaan publik terhadap komitmen pemerintah memberantas korupsi turun drastis dari 83,7 persen jadi 34 persen. Rakyat pun menilai praktik korupsi kian menggurita hingga mencapai 47,2 persen. Kriminalisasi pimpinan KPK, pemberian talangan Bank Century, dan mafia pajak Gayus Tambunan mewakili potret gelap wajah keadilan tahun pertama SBY-Boediono.

Realitas itu telah mendorong komunikasi intensif di antara tokoh-tokoh lintas agama. Refleksi Hari Pahlawan di Pesantren Tebuireng, Jombang, (13/11/2010) menjadi titik awal gerakan moral kolektif ini. Dalam peringatan Hari HAM Sedunia di KWI (8/12/2010), mereka terus menggulirkan kepedulian yang mendalam terhadap kian meningkatnya indeks korupsi dan lemahnya kepemimpinan bangsa dalam menyikapi arus hilir mudik kasus-kasus korupsi.

Realitas itu tak hanya menggerogoti sendi-sendi sistem politik demokrasi di tingkat nasional, tetapi juga merusak tatanan sosial-politik di daerah.

Pada medio Januari, pihak istana dikejutkan oleh pernyataan para tokoh lintas di PP Muhammadiyah. Pemerintah telah melakukan sejumlah pembohongan publik. Tak ada kesesuaian antara retorika dan fakta. Meski demikian, tokoh lintas agama masih punya harapan, nasib bangsa ini bisa lebih baik jika kepemimpinan hari ini berbesar hati membuka telinga dan bertindak dengan ketulusan hati. Menurut Azyumardi Azra, harapan itu hanya bisa diwujudkan lewat ketegasan, konsistensi, dan bertungkuslumusnya pemerintah menghapus apa yang disebut kebohongan publik (Kompas, 14/1/2011).

Pupus

Pada kenyataannya, oase harapan itu tak mampu menghidupi asa perubahan dan membangkitkan komitmen nyata dari pemerintah. Korupsi kian menggurita, integritas aparat penegak hukum kian mencemaskan, dan kasus-kasus besar selalu tenggelam tanpa akhir jelas. Publik kian skeptis dengan integritas institusi hukum dan peradilan. Skandal korupsi Nazaruddin, indikasi mark up pembelian pesawat Merpati, proses kejanggalan hukum Antasari Azhar, kasus surat palsu MK, dan persoalan kekerasan pada kelompok minoritas merupakan sedikit fakta yang menusuk nurani keadilan.

Dalam pandangan tokoh lintas agama, kondisi bangsa kini sudah di tubir jurang kebangkrutan moralitas yang akan menyeretnya ke kebangkrutan nasional (19/5/ 2011). Roh proklamasi sudah terusir dari jasad bangsa. Elite politik terserang penyakit tunakepekaan, kelumpuhan akal sehat.

Meski demikian, tokoh agama tetap bertekad membangun solidaritas kebangsaan guna mengembalikan roh proklamasi sebagai episentrum kesadaran bernegara. Kepedulian para tokoh agama terhadap kompleksitas permasalahan kebangsaan lahir dari proses refleksi teologis mereka terhadap realitas kebangsaan yang berpijak pada pengalaman bermasyarakat (Amaladoss, 2001:278).

Dalam aras kesadaran inilah Tugu Proklamasi merepresentasikan pusat kepedulian dan keprihatinan tokoh lintas agama, yakni nasib puluhan juta rakyat yang tidak tersentuh janji kemerdekaan, bukan istana negara yang menjadi episentrum kekuasaan. Dengan tindakan turun gunung dan menjadi nabi rakyat, sesungguhnya para tokoh lintas agama sedang mengingatkan bahwa bangsa ini berada di tangan yang tidak seharusnya.

Fajar Riza Ul Haq Direktur Eksekutif Maarif Institute; Koordinator Badan Pekerja Tokoh Lintas Agama​

Romo Benny Sangkal Pernyataan Dipo Alam


Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Romo A Benny Susetyo membantah pernyataan Dipo Alam yang mengatakan dirinya telah melakukan tindakan untuk membela Ahmadiyah dalam sisi teologi.

Ia menganggap, persoalan Ahmadiyah tersebut dilihatnya hanya dalam sisi kekerasan yang dialami oleh jemaah Ahmadiyah. ”Saya tidak pernah memberikan pernyataan terhadap persoalan internal Ahmadiyah. Yang menjadi fokus saya hanyalah pembiaran pelaku kekerasan dalam kasus tersebut. Hal itu tidak ada kaitannya dengan masalah iman dan ajaran Ahmadiyah,” ujarnya saat konferensi pers di Kantor Maarif Institute, Jakarta, Selasa (8/3/2011).

Menurut dia, pernyataan mengenai Ahmadiyah dilakukan berdasarkan sembilan poin yang pernah dibuat oleh tokoh lintas agama, yaitu poin bahwa negara membiarkan terhadap kekerasan. Oleh karena itu, ia menganggap pernyataan Dipo Alam sebagai manipulasi yang dapat memicu konflik beragama.

”Pernyataan Dipo Alam itu amat sangat saya sesali. Sangat ironis memang ketika pejabat publik menciptakan potensi konflik yang dapat membahayakan kehidupan pilar berbangsa dan bernegara,” tuturnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Dipo Alam menganggap Romo Benny bersama Tokoh Lintas Agama telah memolitisasi kasus Ahmadiyah dan dinilai mencampuri urusan beragama umat Islam. Namun, tokoh lintas agama membantah hal tersebut karena pihaknya menilai permasalahan yang terjadi dari sisi pembiaran pelaku kekerasan kasus Ahmadiyah sesuai dengan sembilan poin yang pernah dibuatnya. (Kompas.com)

JK: Pernyataan FPI Itu Tergolong Makar


Rabu, 16 Februari 2011,

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai pernyataan Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab yang mengancam akan menggulingkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, masuk kategori perbuatan makar. Kalla mengatakan Rizieq seharusnya menahan diri.

“Kalau sudah pernyataannya seperti itu, disebut makar itu, bahwa ingin menggulingkan seperti itu. Nggak bisa itu. Mengritik sih boleh, tapi ketika menyatakan ingin menggulingkan kepala negara, itu tidak boleh,” kata Jusuf Kalla usai melantik pengurus PMI Nusa Tenggara Barat, di Mataram, Rabu, 16 Februari 2011.

Kalla menghimbau, selaku tokoh agama Rizieq seharusnya memberikan dakwah dan pengertian yang baik kepada umat untuk tidak melakukan kekerasan. “Tugas pemimpin agama itu harus memberikan dakwah yang baik. Di sisi lain, hukum juga harus dijalankan dengan tegas,” ujarnya.

Rizieq melontarkan pernyataan keras terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat berceramah di acara Maulid Akbar Nabi Muhammad SAW, Senin malam, 14 Februari 2011. Dia menyatakan akan menggulingkan SBY, jika pemerintah membubarkan ormas Islam.

Sebelumnya, pada peringatan Hari Pers Nasional, Presiden SBY mengeluarkan instruksi kepada aparat penegak hukum untuk tidak segan-segan membubarkan organisasi kemasyarakatan yang kerap melakukan aksi kekerasan dan terbukti melanggar hukum. (Vivanews.com)

JK: Pernyataan FPI Itu Tergolong Makar


Rabu, 16 Februari 2011,

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai pernyataan Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab yang mengancam akan menggulingkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, masuk kategori perbuatan makar. Kalla mengatakan Rizieq seharusnya menahan diri.

“Kalau sudah pernyataannya seperti itu, disebut makar itu, bahwa ingin menggulingkan seperti itu. Nggak bisa itu. Mengritik sih boleh, tapi ketika menyatakan ingin menggulingkan kepala negara, itu tidak boleh,” kata Jusuf Kalla usai melantik pengurus PMI Nusa Tenggara Barat, di Mataram, Rabu, 16 Februari 2011.

Kalla menghimbau, selaku tokoh agama Rizieq seharusnya memberikan dakwah dan pengertian yang baik kepada umat untuk tidak melakukan kekerasan. “Tugas pemimpin agama itu harus memberikan dakwah yang baik. Di sisi lain, hukum juga harus dijalankan dengan tegas,” ujarnya.

Rizieq melontarkan pernyataan keras terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat berceramah di acara Maulid Akbar Nabi Muhammad SAW, Senin malam, 14 Februari 2011. Dia menyatakan akan menggulingkan SBY, jika pemerintah membubarkan ormas Islam.

Sebelumnya, pada peringatan Hari Pers Nasional, Presiden SBY mengeluarkan instruksi kepada aparat penegak hukum untuk tidak segan-segan membubarkan organisasi kemasyarakatan yang kerap melakukan aksi kekerasan dan terbukti melanggar hukum. (Vivanews.com)

Indonesia dalam Krisis Budaya?


Rabu, 16 Februari 2011

Indonesia dinilai tengah mengalami masalah besar dalam kebudayaan menyusul maraknya amuk massa di sejumlah daerah belakangan ini.

“Indonesia seringkali menghadapi aneka masalah dalam skala yang tidak dapat dikatakan kecil,” kata Kepala Humas Fakultas Kebudayaan Universitas Indonesia (FIB UI), Barbara EL Pesulima, di Depok, Rabu.

Dalam diskusi yang juga menghadirkan Prof Dr Franz Magnis Suseno, seorang budayawan yang banyak terlibat masalah-masalah sosial kemasyarakatan, sebagai pembicara, dibahas pula mengenai isu-isu kebudayaan sekarang ini. Acara digelar bersama Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya (PPKB) Fakultas Ilmu Kebudayaan Universitas Indonesia (FIB UI) bersama Departemen Kewilayahan. Menurut dia, pengrusakan tempat ibadah, kekerasan mengatasnamakan agama, kasus-kasus megakorupsi yang tidak kunjung reda, tawuran antarwarga, serta kasus-kasus besar lain yang kadang membuat kita bertanya, ada apa sebenarnya dengan bangsa ini.

Padahal, kata dia selama ini diajarkan bahwa kita adalah bangsa yang ramah, lemah lembut, penuh toleransi, moderat, serta sejumlah jargon indah lain yang terasa bertolak belakang dengan kenyataan yang ada. Lebih lanjut ia mempertanyakan, “Benarkah kebudayaan kita dalam bangsa tengah menghadapi krisis?, apa yang terjadi dengan kebudayaan kita sekarang.

“Pertanyaan lain muncul, “Benarkan kita gagap menghadapi globalisasi sehingga lari dengan cara merusak diri sendiri, masih adakah optimisme di antara kita seperti halnya optimisme yang ada pada para pendiri bangsa ini.

Ceramah budaya diselenggarakan pada Kamis (17/2) di Auditorium Gedung I Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) Kampus UI Depok. (F006/E001/S026

(Antaranews.com)

Dipo Alam: Amien Rais Setuju Mereka Gagak Hitam


Sabtu, 12 Februari 2011

Sekretaris Kabinet Dipo Alam membenarkan bahwa pihaknya memang menilai tokoh lintas agama ekslusif, seperti Din Syamsuddin, Syafii Maarif dan Romo Benny Susetyo, sebagai gagak hitam pemakan bangkai yang nampak seperti merpati berbulu putih.

“Amien Rais saja setuju mereka gagak hitam. Pak Amien bilang kepada saya, `Dipo kamu benar. Mereka itu memang gagak hitam`,” katanya di Jakarta, Sabtu, mengomentari mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Syafii Maarif, yang menyesalkan sikap Dipo Alam yang menyerang martabat para tokoh yang mengkritisi pemerintahan Presiden SBY. Saat menyampaikan orasi politik pada deklarasi rumah pengaduan pembohongan publik di Gedung Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Solo, Jumat (11/2/2011), Syafii menyebut Dipo berpikir destruktif dan telah kehilangan hati nurani.

“Justru saya terpanggil hati nuraninya melihat ulah tokoh lintas agama yang melakukan kegiatan politik praktis dengan label gerakan moral,” katanya membantah telah kehilangan hati nuraninya.

Dipo Alam menjelaskan bahwa dirinya selama ini diam. Aktivis mahasiswa tahun 1970-an itu mengaku baru “turun gunung” setelah melihat ada yang tidak beres dalam gerakan antikebohongan yang dimotori sejumlah tokoh lintas agama. Seperti partai politik, kata Dipo, Syafii Ma`arif dkk mendirikan rumah pengaduan pembohongan publik seperti yang baru diresmikan di Solo.

“Itu `kan seperti PDIP yang membangun posko dan satgas dimana-mana. Kami hormati PDIP yang mendirikan posko di ujung jalan dan gang. Silahkan, namanya juga partai politik,” katanya. Dipo mempersilahkan kalau ada yang mau bikin rumah kebohongan dimana-mana. Tapi, katanya, jadikan dulu sebagai Ormas semacam Nasional Demokrat atau partai politik seperti PDIP.

“Sekalian mereka mencalonkan diri sebagai calon presiden atau wapres pada 2014,” ujarnya.Dipo Alam menyindir Syafii Maarif dengan mengatakan bahwa mestinya tidak cukup puas dengan menjadi bintang iklan politik. Pada Pemilihan Presiden 2004, Syafie Maarif menjadi bintang iklan politik untuk Capres Jusuf Kalla. “Silahkan maju sebagai capres atau wapres pada Pemilu 2011, kalau mau,” katanya.

Pada saat bertemu dengan mantan Ketua MPR dan pimpinan Muhammadiyah Amien Rais di acara perkawinan anak Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutanto, Dipo mengatakan, Amien sependapat dengan penilaiannya bahwa apa yang dilakukan oleh tokoh lintas agama ekslusif sudah keluar dari rel gerakan moral.

Membenarkan

Menjawab pertanyaan lain apakah Dipo Alam orang yang punya pemikiran destruktif seperti dikatakan Syafii Maarif, dengan tegas ia membenarkan.

“Saya memang destruktif kalau melihat kebohongan. Masa` gagak hitam pemakan bangkai menampilkan diri sebagai merpati putih. Ibarat pertandingan tinju, saya akan lawan terus sampai mereka terpojok di ring,” katanya bersemangat.

Dipo menghargai pernyataan Syafii Maarif bahwa gerakan antipembohongan tidak pernah mengarah pada terjadinya pemakzulan kekuasaan. “Tapi berhentilah menggunakan label tokoh agama untuk berpolitik. Kalau mau mendirikan rumah kebohongan di setiap pojok jalan, jadilah partai seperti PDIP,” katanya lagi.(*)(T.A017/S023)
(Antaranews.com)

Gerakan Lintas Agama Bentuk Perlawanan Terhadap Perusuh


Jumat, 11 Februari 2011

Gerakan tokoh lintas agama bentuk perlawanan secara damai terhadap rusuh massa di Temanggung, Jawa Tengah, pascasidang kasus penistaan agama, Selasa (8/2), kata Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang, Romo Aloysius Budi Purnomo.

“Gerakan lintas agama ini memberikan perlawanan damai terhadap provokator yang berdampak negatif di Temanggung, kesatuan dan kerukunan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya saat dialog sekitar 200 tokoh lintas agama berasal dari Yogyakarta dan sejumlah daerah lainnya di Jateng, di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Kabupaten Magelang, di Magelang, Jateng, Jumat sore.

Rusuh massa di Temanggung telah mengakibatkan sejumlah gereja dan kompleks sekolah Kristen di daerah itu rusak. Polisi telah menetapkan delapan tersangka dan memeriksa puluhan orang yang diduga terkait dengan kejadian tersebut.Ia mengatakan, rusuh di Temanggung telah merusak citra bangsa. Tindakan pelaku penistaan agama Antonius Richmond Bawengan (50), warga beralamat di Jakarta, yang telah divonis hukuman lima tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Temanggung, katanya, bukan hanya penodaan terhadap agama Islam tetapi juga semua agama.

Pada kesempatan itu Budi menyampaikan keprihatinan Uskup Agung Semarang, Monsinyur Johannes Pujasumarta, atas rusuh massa di Temanggung.

“Beliau menyampaikan keprihatinannya baik kepada teman-teman sesama maupun umat Islam yang tercoreng karena peristiwa itu,” katanya.

Ia menyatakan dukungan terhadap gerakan mewujudkan persaudaraan sejati lintas iman dan agama.

Kekerasan, katanya, dilawan bukan dengan kekerasan tetapi melalui dialog dan seruan persaudaraan sejati serta perdamaian.

“Kami mendukung ajakan deklarasi persaudaraan sejati, persaudaraan sejati menjadi gerakan berkat bagi bangsa ini,” katanya.

Ia menyebut, kekerasan di Temanggung dan daerah lain di Indonesia tidak meruntuhkan pandangan gereja bahwa Islam membawa kedamaian untuk sesama dan semesta.

“Banyak umat Islam yang berkehendak baik dari pada kelompok kecil yang mengatasnamakan Islam yang merusak kehidupan. Islam juga berwatak damai, tidak ada faedahnya kekerasan dilawan dengan kekerasan. Lebih mengedepankan cinta kasih dari pada kebencian, ampuan dari pada balas dendam, perselisihan hanya menghancurkan kerukunan,” katanya.

Tokoh Gerakan Gusdurian yang juga putri sulung mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (almarhum), Alissa Qotrunnada Wahid, mengatakan, kekerasan tidak menyelesaikan masalah.

“Penistaan dan perbedaan keyakinan selalu ada, tetapi penyelesaiannya bukan dengan kekerasan, melainkan melalui dialog,” katanya usai dialog itu.Ia mengemukakan, hingga saat ini masyarakat cenderung masih bicara soal golongan dari pada keindonesaian.

“Padahal harus ada porsi bicara, misalnya menyangkut kelompok, NU (Nahdlatul Ulama), Islam, Jawa, Indonesia. Yang tidak ada adalah bicara porsi sebagai orang Indonesia,” katanya.

Ia mengimbau perlunya bangsa Indonesia merevitalisasi dan menghidupi semangat Bhinneka Tunggal Ika. Dialog lintas agama yang rencananya berlangsung di Pendopo Pengayoman Rumah Dinas Bupati Temanggung, Jumat, dibatalkan karena tidak mendapat izin dari kepolisian. Sekitar 200 tokoh lintas agama berasal dari Yogyakarta dan sejumlah daerah lainnya di Jateng mengalihkan kegiatan itu di aula Pondok Pesantren API Tegalrejo, Kabupaten Magelang.(*)(U.M029/Z002. (Antaranews.com)