Legalitas Tempat Ibadah Gereja Damai Kristus di Duri Selatan


Perkenankan saya mengirim info ini. Mohon dukungan doa. Forum mesjid Duri Selatan memasalahkan legalitas tempat ibadah Gereja Katolik Damai Kristus di Duri Selatan Kecamatan Tambora Jak Bar yamg sudah ada sejak 1963 dan menjadi Paroki sejak 1987.

Kami mengajukan perubahan peruntukan dari SPd menjadi SSi tetapi justru diprotes oleh Forum. Persyaratan khusus sudah kami penuhi.

Forum akan unjuk rasa ke kelurahan Duri Selatan besok Kamis 17-1-’13. Kemungkinan Jumat unjuk rasa ke gereja paroki.

Saya sudah melapor ke FKUB baik DKI maupun JakBar. Sedang diupayakan agar tak melebar dan meluas. Ini bermula karena Kemenag JakBar mengutus penyuluh ke forum mesjid utk menanyakan kepada mereka soal setuju atau tidak setuju gereja Damai Kristus.

Padahal kami hanya minta rekomendasi dari Kemenag sebagai salah satu syarat ke walikota. Dari FKUB malah sudah clear.

Demikian info. Salam (rm Widyo MSC)
(Sumber: Milis APIK)

Kasus Pembangunan Gereja Paroki St. Ignatius, Pasir Pangarayan – Keuskupan Padang


Terkait dengan kasus pembangunan gereja Paroki St. Ignatius, keuskupan Padang membuat klarifikasi sebagai berikut:

1). Sebelum melakukan kegiatan pembangunan, Panitia terlebih dahulu mengurus persyaratan pembangunan gereja (rumah ibadat) sebagaimana diatur dalam Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 8 Tahun 2006, seperti :

a. daftar nama 90 orang beserta Kartu Tanda Penduduk (KTP) mereka yang sudah disahkan oleh Kepala Desa Suka Maju.

b. daftar nama 60 orang anggota masyarakat setempat beserta KTP mereka yang juga sudah disahkan oleh Kepala Desa Suka Maju.

c. Rekomendasi Kepala Desa Suka Maju berdasarkan Surat Nomor : II/SM/VIII/2010, tanggal 5 Agustus 2010.

d. Rekomendasi dari Camat Rambah dengan surat No. : 504/PM.D-KCR/42 tertanggal 9 Agustus 2010.

e. Rekomendasi dari Kementerian Agama Kabupaten Rokan Hulu dengan surat No. : Kd.04.09/I/BAK-04/1892/2010, tertanggal 10 November 2010.

f. Rekomendasi dari Forum Kerukunan Umat Beragama (KFUB) Kabupaten Rokan Hulu dengan surat No. : 15/FKUB-RH/X/2010, tertanggal 20 Oktober 2010.

2). Panitia mengajukan permohonan izin mendidikan bangunan gereja kepada Bupati Kabupaten Rokan Hulu, melalui Kepala Kantor Pelayanan Terpadu Kabupaten Rokan Hulu, dengan surat tertanggal 3 Agustus 2010.

3). Melalui Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Kabupaten Rokan Hulu, Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu mengeluarkan Surat Izin Pelaksanaan Pekerjaan dengan Nomor : 146/IPMB-TRCK/2010, tertanggal 23 November 2010. Atas dasar diterbitkannya Surat Izin Pelaksanaan pekerjaan dari Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya ini, Panitia selaku Pemohon diwajibkan membayar Retribusi IMB Rumah Ibadah (Gereja Katolik) Jl. Diponegoro, Desa Suka Maju, Kecamatan Rmbah sebesar Rp. 2.054.000,-. Berdasarkan Surat Izin Pelaksanaan ini, masa pelaksanaan pekerjaan bangunan gereja ditetapkan 5 (enam) bulan dan bila pelaksanaan pekerjaan belum selesai, Panitia selaku Pemohon harus memberitahukan secara tertulis kepada Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya untuk mendapatkan tambahan waktu.

4). Berpegang pada terpenuhinya segala persyaratan dan dikantornginya Surat Izin Pelaksanan (IMB), Panitia Pembangunan melakukan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gereja pada tanggal 19 Desember 2010 oleh Mgr. Martinus D. Situmorang, OFM Cap (uskup Padang), yang juga dihadiri oleh pejabat Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu, yakni Kepala Dinas Sosial (Bapak H. Tarmizi, S.Sos).

5). Panitia Pembangunan mengajukan permohonan Perpanjangan Izin Pelaksanaan Pembangunan Gereja Paroki Santo Ignatius Pasir Pangarayan tanggal 06 Agustus 2011, karena pelaksanaan pekerjaan memang belumlah selesai.

6). Kepala Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Kabupaten Rokan Hulu, melalui suratnya Nomor: 600/TRCK-UM/07a, tertanggal 05 Januari 2012, perihal Pemberhentian Pembangunan Gereja Katholik Paroki Santo Ignatius Pasir Pangarayan, menyampaikan bahwa perpanjangan Izin Pelaksanaan pembangunan tidak dapat diberikan dan kepada Panitia Pembangunan diberitahukan untuk menghentikan pembangunan gereja. Adapun alasannya :

a. Lokasi pembangunan gereja termasuk dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kabupaten Rokan Hulu untuk kawasan pusat penelitian dan pengembangan pertanian, sesuai Surat Kementerian Pekerjaan Umum No. : HK.01-03-Er/24 tanggal 5 Januari 2012 tentang persetujuan substansi Ranperda RTRW Kabupaten Rokan Hulu 2011-2031.

b. Adanya surat pernyataan penolakan pembangunan gereja Paroki Santo Ignatius Pasir Pangaraya dari Ormas-Ormas Islam Kabupaten Rokan Hulu, tanggal 05 Oktober 2011.

c. Adanya pemalsuan dokumen dalam pengajuan persyaratan pendirian rumah ibadat Gereja Katholik Paroki Santo Ignatius Pasir Pangarayan. Selanjutnya, dikatakan juga dalam surat yang sama bahwa Pemerintah akan memfasilitasi lokasi baru pembangunan gereja.

7). Satuan Polisi Pamong Praja Kab. Rokan Hulu, dalam Surat Edaran Nomor :300/Satpol-PP/I/2012/252, tertanggal 12 Januari 2012, menyatakan bahwa kegiatanpelaksanaan pembangunan yang masih terus dilakukan itu merupakan “Perbuatan Melanggar Peraturan Daerah Nomor 16 tahun 2011 tentang Retribusi Perizinan Tertentu”, dan meminta Panitia Pembangunan untuk segera menghentikan kegiatan pembangunan gereja.

8). Dalam surat Nomor: 15/PPGK/I/2012, tertanggal 20 Januari 2012, Panitia Pembangunan menjawabi surat Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Kab. Rokan Hulu dan menyampaikan bahwa Panitia tidak dapat menerima penyampaian pemberhentian pembangunan gereja karena alasan-alasan yang dikemukakan tidaklah mendasar.

a. Pembangunan gereja sudah dimulai sejak tahun 2010, sehingga sangat tidak beralasan dikaitkan dengan Surat Kementerian PekerjaanUmum tahun 2012 tentang RTRW Kab. Rokan Hulu 2011-2031.

b. Pemerintah c.q. Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya sudah mengeluarkan izin pelaksanaan pembangunan berdasarkan telaahan telah terpenuhinya segala persyaratan dan ada klausul yang menegaskan bahwa tambahan waktu dapat diminta bila pekerjaan belumlah selesai dalam jangka waktu yang diberikan (6 bulan). Sejalan dengan ini, Panitia Panitia menegaskan bahwa kegiatan pelaksanaan pembangunan tetap akan dilanjutkan.

9). Kementerian Agama Kab. Rokan Hulu memfasilitasi pertemuan dengan Panitia Pembangunan dan meminta agar Panitia Pembangunan menghentikan kegiatan pelaksanaan pembangunan gereja serta mengikuti saran Pemerintah untuk berpindah ke lokasi baru yang akan difasilitasi oleh Pemerintah. Juga disarankan agar Panitia Pembangunan menempuh jalur PTUN. Panitia Pembangunan tetap pada pendirian untuk terus melanjutkan pembangunan gereja.

10). Tanggal 21 Maret 2012, Satuan Polisi Pamong Praja menutup jalan masuk gereja yang sedang dibangun dan memasang papan larangan untuk masuk sesuai pasal 551 KUHP.11). Tanggal 22 Maret 2012, Panitia Pembangunan melaporkan ke Polda Riau .

Demikian saja. Kami mohon doa dan peneguhan secara khusus bagi Gereja Umat Allah Paroki St. Pasir Pangarayan, dengan gembalanya, P. Emil Sakoikoi, Pr dan P. F.X. Hardiono Hadisubroto, Pr. Terima kasih yang ikhlas untuk segalanya yang baik. 

Salam dalam kasih persaudaraan, Kus Aliandu, Pr
Sekretaris Keuskupan Padang

http://www.cathnewsindonesia.com/2012/03/28/kasus-pembangunan-gereja-paroki-st-ignatius/

Massa Rusak Gereja dan Bakar Sejumlah Motor


Jakarta – Massa yang mengamuk akibat sidang SARA di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah meluas. Massa yang beringas merusak sejumlah bangunan yang berada tidak jauh dari Pengadilan Negeri (PN) Temanggung. Salah satunya Gereja Shekinah.

“Iya, ada gereja yang dirusak, Gereja Sekhinah ada di tengah Kota Temanggung,” kata salah satu petugas jaga di Polres Temanggung yang enggan disebut namanya kepada detikcom, Selasa (8/2/2011).

Namun petugas itu menolak memberikan keterangan lebih rinci. “Nanti ya, nanti ya,” katanya seraya menutup telepon. Berdasarkan penelusuran detikcom, gereja itu terletak di Jalan Soepeno no 11 A, Temanggung.

Sementara itu, massa juga membakar sejumlah motor yang diparkir di halaman gereja. Hingga saat ini, bangkai sejumlah motor yang gosong itu masih berada di lokasi. Aparat kepolisian sudah menjaga lokasi ini.

Selain itu, ada sebuah bangunan yang merupakan sebuah sekolah juga dirusak oleh massa. Seorang polisi tampak menyemprotkan sebuah air melalui selang untuk memadamkan api.

Kerusuhan itu dimulai saat terdakwa kasus penistaan agama Antonius Richmond Bawengan dituntut lima tahun penjara. Tuntutan itu dinilai terlalu ringan. Sidang sebelum-sebelumnya memang selalu diwarnai aksi demo.

Polisi sudah mengevakuasi terdakwa ke Semarang. Menurut Kapolda Jateng Irjen Pol Edward Aritonang, situasi di pengadilan sudah mulai kondusif. “Kejadiannya tadi pukul 10.00 WIB, sekarang sudah mulai kondusif. Saya lagi di jalan menuju lokasi,” ungkap Edward yang berkedudukan di Semarang ini.

Sidang kasus ini selalu dihadiri pengunjung dari berbagai ormas dan sering terjadi kericuhan. Menyitir Media Indonesia Online edisi Kamis, 20 Januari 2011, kasus yang menjerat warga asal Manado ini terjadi pada 3 Oktober 2010. Ketika itu Antonius yang menggunakan KTP berdomisili di Kebon Jeruk, Jakarta menginap di tempat saudaranya di Dusun Kenalan, Desa/Kecamatan Kranggan, Temanggung.

Sedianya ia hanya semalam di tempat itu untuk melanjutkan pergi ke Magelang. Namun waktu sehari tersebut digunakan untuk membagikan buku dan selebaran berisi tulisan yang dianggap menghina umat Islam. Karenanya, sejak 26 Oktober 2010, ia ditahan.

Dalam selebaran dan buku itu antara lain ditulis dinding Kabah yang terpasang  hajar aswad merupakan kelamin wanita. Tempat pelemparan jumroh yang merupakan bangunan setengah lingkaran itu disebut terdakwa berkelamin laki-laki. Selain itu, terdakwa menggambarkan wajah Islam sebagi bengis dan kejam. Tulisan ini memancing emosi umat Islam.

(ken/asy)

sumber: http://www.detiknews.com

Gereja Mega Berdiri di Jakarta, Bukan Berarti Toleransi Membaik kata Pendiri


Gereja Mega Berdiri di Jakarta, Bukan Berarti Toleransi Membaik kata Pendiri

dicopy paste dari:  http://id.christianpost.com/php_functions/print_friendly.php?tbl_name=church&id=845

Wednesday, Sep. 24, 2008 Posted: 5:06:25PM PST

JAKARTA – Sebuah gereja megah senilai jutaan dolar diresmikan Sabtu (20/9) lalu di Indonesia, negara dengan populasi penduduk Muslim terbesar di dunia, dengan mengadakan sebuah ibadah yang dihadiri sekitar 4000 orang yang menyanyikan pujian dan membaca Alkitab.

Pendirian Katedral Mesias yang megah di Jakarta tersebut digagas oleh evangelis Indonesia keturunan Cina, Stephen Tong, yang mengatakan tujuan pembangunan gereja tersebut untuk menepis kesalahpahaman yang mengatakan bahwa Indonesia tidak toleran terhadap agama minoritas.

“Hal ini membuktikan bahwa tidak ada hambatan dari pemerintah Indonesia untuk membangun tempat pusat peribadatan,” kata Tong, evangelis terkemuka pendiri Gereja Reformed Injili pada 1989.

“Hal ini juga ingin memberikan kesan baru kepada dunia terhadap Indonesia: bahwa Indonesia bukanlah suatu negara yang melulu kacau atau penuh dengan permasalahan,” kata Tong, menurut Reuters.

Para jemaat yang hadir di gereja tersebut kebanyakan adalah keturunan Cina, yang mendengarkan dengan penuh perhatian saat Tong berkotbah dalam dua bahasa yakni bahasa Indonesia dan bahasa Mandarin mengenai sebuah topik tentang gereja reformed dan homoseksualitas selama hampir tiga jam ibadah.

Kelompok paduan suara, banyak yang memakai pakaian tradisional batik mereka yang terbaik, berdoa dan menyanyikan lagu Gregorian dan pujian lainnya sebelum mengakhiri ibadah dengan pujian Haleluya milik Handel yang bergema diantara pilar-pilar aula.

Pembangunan gereja tersebut didanai oleh sumbangan dari jemaat, gereja yang didesain dengan kubah putih yang mana tempat tersebut juga akan digunakan sebagai seminari, ruang konser dan museum lukisan dan porselen Cina dalam usaha untuk memperkenalkan pemahaman tentang agama dan kebudayaan.

Berdasarkan catatan jumlah Kristiani di Indonesia sekitar 10 persen dari 226 juta total penduduk Indonesia, dan pada masa lalu banyak yang juga menjadi target kekerasan Islam garis keras di beberapa bagian kepulauan yang terletak di Asia Tenggara.

Sekitar 85 persen dari penduduk beragama Muslim dan kebanyakan adaah moderat, tetapi kelompok minoritas garis keras saat ini telah menjadi semakin vokal beberapa tahun belakangan ini dan ketegangan agama yang kerap kali muncul diantara Muslim dan Kristiani di berbagai titik wilayah.

Kelompok-kelompok Muslim radikal memaksa beberapa gereja-gereja dan tempat-tempat ibadah lainnya untuk tutup pada tahun-tahun terakhir ini, yang kemudian segera mendapat kritikan dari kelompok hak asasi manusia.

Dengan adanya iklim permusuhan yang terjadi, menyebabkan pembangunan mega gereja tersebut tidak berjalan dengan mudah-yang mana pembangunannnya memakan waktu 16 tahun bagi Tong untuk mendapatkan lampu hijau dari pemerintah yang berwenang di Indonesia.

“Gereja-gereja lainnya di Indonesia kebanyakan didirikan oleh Belanda dan sampai saat ini kebanyakan dari mereka masih mengandalkan pembiayaan dari luar negeri. Namun gereja kami tidak bergantung kepada pendanaan luar negeri,” kata Tong.

“Ini adalah satu-satunya gereja nasional di Indonesia yang dibiayai sendiri oleh jemaatnya, karena uangnya berasal dari Indonesia, desainnya dari Indonesia, bahan-bahannya dari Indonesia. Tidak ada bantuan dari luar negeri,” kata Tong.

Gereja besar, yang mampu menghimpun ribuan orang saat pujian penyembahan pada ibadah Minggu, sudah sangat popular di Amerika Serikat, khususnya di pinggiran kota dan kota-kota kecil di mana mereka sering menggunakannya sebagai sebuah pusat kegiatan masyarakat. Kebanyakan merupakan aliran yang bukan Injili atau Pantekosta, dengan beberapa memiliki hubungan dengan Southern Baptists.

Ibadah yang berlangsung di aula yang besar biasanya memiliki ciri khas kotbahnya mengharukan dan sedikit lebih menekankan pada musik penyembahan modern daripada hymne tradisional. Para kritikus seringkali menganggap gereja-gereja besar biasanya memiliki kotbah yang dangkal dan lebih menekankan pada hiburannya daripada agama.

Beberapa pakar mengatakan berdirinya megagereja di Indonesia merupakan suatu tanda semakin meningkatnya kepercayaan diri dikalangan komunitas Kristen di Indonesia, sementara pihak lain mengatakan bahwa hal tersebut justru dapat berubah memicu kemarahan keras dan ketakutan di dalam negara yang mayoritas adalah Muslim.

“Yang lebih membahayakan lagi jika beberapa kelompok mengartikan pendirian gereja tersebut sebagai salah satu upaya kristenisasi orang. Hal tersebut dapat membangkitkan kebencian,” ungkap Syafi’i Anwar, direktur International Centre for Islam and Pluralism (ICIP), kepada Reuters.

“Dengan kata lain hal tersebut bukannya membuktikan bahwa toleransi agama berjalan dengan baik di sini. Terbukti baru-baru ini, terjadi tekanan-tekanan yang makin meningkat terhadap pemerintah yang dilakukan oleh kelompok-kelompok garis keras terhadap kebebasan beragama.”

Gereja Mesias yang megah tersebut berlokasi di pusat bisnis Kemayoran, Jakarta.>

Rosa H.
Reporter Kristiani Pos