Forum Rektor: Indonesia Menuju Negara Gagal



Jakarta – Forum Rektor mengingatkan pemerintah bahwa Indonesia saat ini sudah mulai menuju ke dalam keadaan negara gagal. Indonesia berada diperingkat 61 dari 170 negara yang termasuk dalam indeks negara gagal 2010.

“Negara kita sudah dekat menjadi negara gagal dan kalau tidak diperbaiki pemerintah, pada tahun akan datang menjadi negara gagal,” ujar anggota Forum Rektor Sofian Effendi dalam konferensi pers dengan tokoh Lintas Agama dan Forum
Rektor di Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (4/2/2011).

Menurut Sofian, berdasarkan hasil indeks negara gagal, Indonesia berada di urutan 61 dari 170 negara. Dalam indeks itu, Somalia berada di urutan pertama.

“Salah satu ukurannya adalah jumlah populasi penduduk Indonesia yang terus meningkat dan program pemerintah gagal total,” terang Mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

Ukuran lainnya menurut Sofian adalah kesenjangan antara daerah di wilayah Indonesia semakin besar. Ia mencontohkan, provinsi Papua dan Papua Barat adalah salah satu wilayah yang termiskin di Indonesia dengan perbandingan lebih dari 17 kali lipat dengan daerah lain.

“Ini sangat berbahaya dan ketika mereka meminta melepaskan diri, itu berarti
membuktikan ketidakpuasan rakyat,” terangnya.

Pada sektor pelayanan publik, anggaran Indonesia sama sekali tidak pernah meningkat, bahkan nyaris tidak ada dibandingkan banyaknya anggaran untuk birokrasi.

Saat ini juga, terjadi delegitimasi terhadap pemerintah. Sofian menyebutkan, terdapat 157 kelapa daerah yang saat ini terkait dengan meja hijau. Malahan, satu
diantara kepala daerah tersebut dilantik saat dirinya berstatus terpidana.

“Lalu terpecahnya elit politik dan elit penguasa. Ini semua adalah tanda-tanda
negara gagal,” sebut sofian.

(fiq/gun)

Sumber:

SURAT DARI JALANAN : Kepada Para Reformis 98


Dengan Nama Allah Sang Pengasih Sang Penyayang

Akubertanya kepada kalian, Para Reformis 1998 yg telah memenangkan perjuangan Reformasi dan berhasil melengserkan Presiden Soeharto, padatanggal 21 Mei 1998 :

Mengapa kalian tinggalkan gelanggangperjuangan reformasi dan kalian biarkan Negara kita, Tanah Air danangkasa kita, dikuasai oleh orang-orang yg tidak berhak!

Apa yg terjadi dengan kalian, duhai Para Aktivis Reformasi 1998!

Sebagiandari kalian telah melupakan 6 Visi Reformasi. Mereka merendahkan diri mereka menjadi anggota-anggota parpol-parpol dan pegawai-pegawai pemerintahan yg tidak sesuai dengan nilai-nilai reformasi kalian!

Sebagian yg lainnya merendahkan diri mereka, berbalik lagi menjadikorlap-korlap demonstrasi recehan! Sebagian yg lainnya lagi termangu-mangu di warung-warung kaki lima di pingir-pinggir jalanan meratapi kehancuran negeri dan penderitaan rakyat yg makinmenjadi-jadi..

Makin banyak rakyat yg jadi fakir miskin! Makin banyak rakyat yg jadi gembel dan gelandangan. Makin banyak anak-anak ygtidak mendapat pendidikan. Banyak rakyat yg kelaparan, banyak rakyat yg terpaksa menjadi babu-babu dan kuli-kuli di luar negeri, karena dinegeri sendiri yg kaya raya, mereka hanya jadi objek teori-teori politik dan ekonomi yg palsu dan jadi tumbal kesewenang- wenangan dan keserakahan pejabat-pejabat Negara dan para pejabat pemerintahan ygmelanggar amanah, buas, serakah dan korup!

Sebagian dari mereka,rakyat yg jadi babu-babu dan kuli-kuli itu, disiksa, dipukuli, diperkosa bahkan dibunuh! Dan ketika mereka pulang ke Tanah Air, mereka menjadi objek pemerasan para pejabat yg berkomplot dengan calo-calo dibandar-bandar udara. Tak ada pembelaan yg sungguh-sungguh bagi mereka dari pemerintah, kecuali statement omong kosong di media massa! Banyak gadis-gadis kita yg seharusnya menjadi bunga-bunga bangsa, mereka terpaksa menjadi perek-perek dan pelacur-pelacur, hanya untuk membantu orang tua mereka yg berada di jurang gelap kemiskinan! Banyak rakyat ygkelaparan, banyak yg putus asa dan bunuh diri!

Wahai Para Reformis! Aku, Teguh Esha, Sastrawan Jalanan, menggugat kalian!

Demi Proklamasi Kemerdekaan, demi Pancasila, demi Undang-undang Dasar 1945dan demi 6 Visi Reformasi yg kalian sendiri rumuskan; aku gugat kalian yg melepaskan tanggung jawab nasional kalian!

Aku seorang rakyat Indonesia yg merdeka dan berdaulat menegaskan, aku tidak mau menerima alasan apapun dari kalian untuk ketidaknyambungan kata dengan perbuatan kalian! Untuk kelalaian kalian serta pelepasan tanggung jawab reformasi kalian; kecuali jika kalian menyadari kelalaian kalian tersebut dan secara terbuka meminta maaf kepada seluruh rakyat yg mengharapkan perbaikan keadaan melalui reformasi yg kalian gerakkan, tapi ternyata kalian kecewakan!

Wahai Para Reformis: kalian dengarlah !Apakah kalian tidak merasa malu? Apakah kalian tidak tergugah membaca berita-berita tentang Pernyataan Terbuka Tokoh-tokoh lintas agama, yaitu: Prof.DR. Syafii Maarif, Prof. Din Syamsuddin, Mgr.MD. Situmorang, Pendeta Andreas A. Yewanggoe, Bhikku Sri Pannyavaro, Nyoman Udayana Sangging, KH. Solahuddin Wahid, Franz Magnis Suseno dan DR Djohan Effendi, yg bersama-sama menyatakan, bahwa ada kesenjangan antara ucapandan tindakan yg dilakukan oleh pemerintah dengan Undang-Undang Dasar 1945!

Apakah kalian tahu dan mengerti artinya? Dan hubungannya dengan keberadaan dan kelangsungan hidup rakyat, bangsa dan negara kita! Apakah kalian berfikir, bahwa pengingkaran terhadap UUD 1945 adalah suatu pelanggaran dan makar terhadap keseluruhan bangunan kenegaraan kita, dan terhadap existensi kita sebagai bangsa? Jika seandainya, kalian para reformis yg melakukan pengingkaran terhadap UUD 1945, apakah kalian akan dibiarkan saja? Apakah kalian tidak ditangkap dan tidak dimasukkan ke dalam penjara dan kemudian kalian tidak dihadapkan ke depan sidang pengadilan dan dikenai vonis yg setimpal dengan kejahatan nasional kalian sebagai akibat dari pengingkaran kalian terhadap UUD1945?

Wahai Para Reformis, aku tegaskan kepada kalian, bahwa aku setuju dan aku menyokong Pernyataan Terbuka Tokoh-tokoh lintas agama tersebut. Aku bersedia menjadi saksi dan memberikan bukti factual tentang kebenaran pernyataan mereka. Aku tegaskan, bahwa aku berpihak kepada tokoh-tokoh lintas agama tersebut.

Para Reformis di manapun kalian berada! Jika kalian masih setia kepada Proklamasi Kemerdekaan, Pancasila, UUD 1945 dan Nilai-nilai Reformasi 1998 dan kalian kembali bertanggung jawab atas perjuangan reformasi kalian; aku panggil kalian, Para Reformis! Aku menyeru kalian, agar secara tertulis dan terbuka, kalian membuat pernyataan, bahwa kalian menyetujui dan menyokong dan berpihak kepada tokoh-tokoh lintas agama tersebut.

Aku tunggu jawaban kalian! Aku seorang rakyat Indonesia yg merdeka dan berdaulat tersebut menyatakan:
Sekali merdeka tetap merdeka !

Pujian untuk Allah Tuan al alamin

Jakarta, 1 Februari 2011

Teguh Esha, Penulis Novel ’Ali Topan Anak Jalanan’
(dibacakanpada acara : Ungkapan Pikiran & Perasaan Seniman Budayawan

Senin 1 Februari 2011 di Warung Apresiasi – Bulungan – Jakarta)