Mendidik Anak di Bulan Puasa (Tarmizi Taher)


Mendidik Anak di Bulan Puasa
Tarmizi Taher
Ketua Umum Pimpinan
Pusat Dewan Masjid Indonesia

Senin, 25 Agustus 2008

Puasa adalah bulan sarana pendidikan kejiwaan dan emosi yang sangat penting dalam diri anak. Sebab, ketika anak-anak tumbuh menjadi pemimpin, bukan intelektualnya saja yang diasah, tetapi juga emosinya. 

Orangtua sering keliru dengan kehalusan perasaannya. Mereka tak tega melihat dan mendengar rengekan anak-anaknya yang masih kecil saat mengatakan lapar dan haus ketika sedang berpuasa. Namun, orangtua yang bijaksana dan berpandangan jauh ke depan tentu akan dapat memberikan nasihat dan melatih kesabaran anaknya untuk menahan lapar. 

Dalam keluarga Muslim, sejak umur 7-10 tahun anak-anak hendaknya mulai dilatih untuk belajar puasa, sebagai latihan bersabar dalam menghadapi penderitaan hidup. Kita tahu, kehidupan ini penuh dengan tantangan yang kadang-kadang menghadirkan penderitaan. Sebagai orangtua yang bijaksana dan berpandangan jauh ke depan, mereka perlu memberikan pengertian bahwa dengan latihan itu mereka telah mempersiapkan anaknya sedini mungkin untuk menghadapi realitas kehidupan, baik saat tertawa maupun ketika menghadapi derai air mata. 

Anak-anak hendaknya juga disentuh emosi dan perasaannya sedini mungkin untuk ikut bersambung rasa dengan teman-teman sebayanya yang tidak bahagia dalam harta. Dengan latihan itu, kelak akan dilihat alangkah mudahnya si kecil ini, jika telah dewasa, membantu orang-orang yang membutuhkan uluran tangan. 

Anak-anak didik dalam era teknologi harus dipacu untuk menghayati realitas hidup. Hal itu berguna dalam mencari makna hidup dengan mendekatkannya kepada Allah SWT yang sangat dibutuhkan jiwanya. Jika penderitaan batin melanda hidup, Allah SWT adalah harapan dan tempat bergantung bagi anak-anak dan kita semua. 

Penderitaan batin ini bisa berlaku pada siapa saja, baik yang secara materi berkecukupan maupun yang berkekurangan. Di bulan Ramadhan yang lalu sering terlihat banyak anak muda kaya dermawan membantu fakir miskin dan melakukan kegiatan keagamaan. Kita berharap di bulan Ramadhan tahun ini kedermawanan itu tidak menyurut. Karena itu, merupakan kewajiban orangtua untuk mendorong anak-anaknya agar lebih peduli pada orang lain. 

Di samping itu, anak-anak harus dididik dan dilatih sejak kecil untuk menghadapi realitas hidup. Insya Allah, dengan fokus perhatian dan upaya semua orangtua atas keutuhan pendidikan anak-anaknya, bangsa Indonesia akan mencapai bahagia lahir dan batin, dunia dan akhirat. 

Bulan Ramadhan yang sebentar lagi hadir adalah waktu yang tepat untuk lebih mengintesifkan waktu bersama keluarga. Bersama sejak sahur, subuh, bahkan magrib dan terawih, keluarga dapat mengintensifkan komunikasi dengan Allah, sekaligus antara pribadi dalam keluarga maupun masyarakat.***

Sumber: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=207632

FPI Merazia Orang Tidak Berpuasa


24/09/2007 05:33 Penertiban
FPI Merazia Orang Tidak Berpuasa

Liputan6.com, Bantul: Sekitar 100 anggota Front Pembela Islam (FPI)Ciamis, Jawa Barat, Ahad (23/9), bertindak keras terhadap warung-warung makan yang dianggap tidak menghormati bulan puasa. Tempat-tempat yang dicurigai menjual minuman beralkohol juga tidak luput dari razia.

Massa FPI menjadi beringas saat mengetahui ada tempat makan yang berjualan secara terbuka. Mereka merusak warung itu dan memukul seorang pelanggannya. Sedangkan sang pemilik tak bisa berbuat apa-apa.

Tak hanya itu, seorang pria yang dianggap preman turut dipukuli tanpa alasan yang jelas. Terminal bus Ciamis ikut menjadi sasaran razia. Salah satu warung jamu yang menjual minuman keras didobrak. Satu dus minuman keras diambil dan dihancurkan di depan kios.

Selama razia, praktis tidak ada polisi yang terlihat di lokasi.
Sedangkan warga tak dapat berbuat apa-apa menyaksikan tindakan tersebut. Dihubungi melalui telepon, Kepala Kepolisian Resort Ciamis Ajun Komisaris Besar Polisi Aries Syarief menyatakan, ia menyayangkan adanya kekerasan dalam razia tersebut.

Situasi berbeda di Bantul, Yogyakararta, saat laskar Front Jihad
Islam merazia tempat maksiat dan lokasi penjualan minuman keras, pekan silam. Ketika itu, aparat Polres Bantul bertindak keras dan meminta razia dihentikan. Alasannya, warga sipil tidak berwenang menggelar razia [baca: Sweeping Front Jihad Indonesia Dibubarkan Polisi].(BOG/ Tim Liputan 6 SCTV)