Ibadah Harus Dilindungi


Presiden Hadiri Perayaan Dharmasanti Tri Suci Waisak 2557

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan akan terus melindungi kebebasan warga negara dalam menjalankan ibadah sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi. Presiden mengingatkan pula semua kelompok dan golongan memiliki hak serta kewajiban yang sama.

”Tidak boleh ada kelompok yang berada di atas kelompok yang lain. Semua kelompok memiliki hak dan kewajiban yang sama. Eksistensi kemajemukan harus kita pelihara dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan,” kata Presiden, Minggu (26/5), ketika menyampaikan sambutan dalam Puncak Perayaan Dharmasanti Tri Suci Waisak 2557.

Dalam perayaan di Jakarta International Expo Kemayoran tersebut, Presiden didampingi oleh Nyonya Ani Yudhoyono. Hadir pula Wakil Presiden Boediono dan Nyonya Herawati Boediono.

Bersama-sama

Menurut Yudhoyono, sesuai dengan konstitusi, negara akan terus menjalankan tugas melindungi hak-hak warga negara dalam menjalankan ibadah dan kepercayaan masing-masing. Presiden mengajak semua pihak untuk bersama-sama membantu mewujudkan perdamaian jika terjadi konflik berbasis sentimen agama.

”Diperlukan upaya bersama untuk mengelola dan mengatasinya. Para pemuka agama diharapkan penuh tanggung jawab untuk ikut mengatasi dan mencari solusi,” kata Presiden.

Kepala Negara meminta aparat penegak hukum untuk bersikap tegas terhadap mereka yang melakukan tindak kekerasan terhadap kelompok yang berbeda keyakinan. Presiden meminta pula para tokoh agama untuk ikut membantu dalam mencegah umat mereka melakukan kekerasan dan main hakim sendiri.

Presiden mengakui, meski sejak merdeka konstitusi Indonesia memberi kebebasan bagi siapa pun untuk memeluk agama dan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan, tetap saja ada kelompok yang ingin memaksakan pandangan mereka. Masih ada segelintir orang yang bersikap intoleran.

Menurut Presiden, dunia telah menilai Indonesia sebagai contoh dalam rangka membina toleransi antarumat beragama. Karena itu, jika bangsa lain menghargai kemajemukan dan sikap toleransi Indonesia, hal tersebut merupakan kehormatan atas apa yang bangsa Indonesia bangun bersama-sama. Namun, diakui Yudhoyono, penghargaan semacam itu juga harus menjadi sarana introspeksi dan titik pijak dalam perbaikan hidup bertoleransi.

Ajaran Sang Buddha

Presiden Yudhoyono mengucapkan selamat kepada umat Buddha yang merayakan Tri Suci Waisak. Presiden berharap nilai-nilai universal yang diajarkan Sang Buddha dapat terus dijadikan pedoman hidup oleh umat Buddha.

Ketua Panitia Waisak Nasional 2557 Arief Harsono menyatakan rasa gembiranya karena sebuah lembaga internasional yang bergerak di bidang kebebasan beragama dan hak asasi manusia memberi penghargaan kepada Presiden RI. Hal ini merupakan pengakuan dunia atas kontribusi Presiden mendorong toleransi beragama.

(Sumber: Kompas cetak, 27 Mei 2013)

Demokrat: Seruan FPI Tak Disambut Rakyat


Selasa, 15 Februari 2011,

Front Pembela Islam kembali mengeluarkan ancaman untuk menggulingkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kalimat “gulingkan SBY” bahkan diserukan Ketua Umum FPI, Habib Rizieq dalam ceramahnya di acara Maulid Akbar Nabi Muhammad SAW, Senin malam, 14 Februari 2011. Bagaimana tanggapan Partai Demokrat, sebagai partai pendukung SBY? “Barangkali ancamannya itu serius. Tapi bagi saya bukan serius secara politik,” kata Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum usai menghadiri Dies Natalis ke 64 PB HMI, di Menara Bidakara, Selasa malam 15 Februari 2011

Menurut Anas, dalam tatanan bernegara ada aturan-aturan yang harus dipenuhi. “Gulingkan presiden bagaimana caranya itu?” kata Anas.

Salah satu bentuk aturan demokrasi yang harus dipenuhi, kata Anas, adalah sirkulasi kepemimpinan secara berkala melalui mekanisme pemilihan umum.

Anas yakin, keinginan penggulingan Presiden itu tak disambut baik oleh rakyat. “Tidak ada setrumnya itu,” ujarnya menambahkan. Jadi, ancaman FPI soal penggulingan presiden tersebut tak mungkin terjadi? “Tidak ada urgensinya,” ujar dia.

Dalam ceramahnya, Rizieq mengatakan, pihaknya siap menggulingkan SBY jika ada ormas Islam yang dibubarkan. Ucapannya itu terkait instruksi Presiden kepada aparat penegak hukum untuk tidak segan-segan membubarkan  organisasi kemasyarakatan yang kerap melakukan aksi anarkis dan terbukti melanggar hukum.

“Andaikata ada ormas Islam yang dibubarkan SBY dengan cara-cara keji, dengan cara biadab, dengan cara curang, dengan cara kejam, maka saya akan ajak umat Islam di manapun berada: kita gulingkan SBY,” demikian Rizieq menyerukan.(np)
(Vivanews.com)

Perayaan Natal Nasional: “Kemajemukan Bangsa Harus Disikapi Dengan Rasa Syukur”


Presiden SBY dan Ibu Negara bersama Wapres Jusuf Kalla dan Ibu Mufidah JK menghadiri Perayaan Natal Bersama Tingkat Nasional 2008, di Plenary Hall, JCC, Sabtu (27/12) malam. (foto: abror/presidensby.info)Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Ibu Negara, beserta Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ibu Mufidah Kalla, Sabtu (27/12) malam menghadiri Perayaan Natal Bersama Tingkat Nasional 2008, di Plenary Hall JCC. Acara dihadiri sekitar 5 ribu undangan dari berbagai pelosok Indonesia serta beberapa Duta Besar negara sahabat.

Dalam sambutannya, Presiden SBY mengatakan bahwa kemajemukan bangsa harus disikapi dengan penuh rasa syukur. Keragaman yang dimiliki harus diterima sebgai anugerah Tuhan. “Perbedaan agama dan juga paham keagamaan harus kita tempatkan sebagai sebuah keyakinan yang harus kita hormati dengan lapang dada,” kata Presiden.

“Kita tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain, apalagi melakukan tindakan anarkis dan perusakan kepada pihak yang berbeda keyakinan dan pemahaman agama. Sudah saatnya kita membangun paham keagamaan dengan penuh toleransi , saling menghargai dan saling menghormati. Dengan cara itu kita dapat menerima pemahaman keagamaan dalam persepsi yang tepat. Dengan cara itu pula ,kita dapat membangun sebuah peradaban unggul dan dihormati oleh bangsa -bangsa di dunia,” ujar Presiden SBY.

“Saya baru saja kembali dari Manado, menghadiri perayaan Natal bersama masyarakat Sulut. Sungguh saya merasa terharu dan bangga melihat harmoni kehidupan antar umat beragama di daerah itu. Kehidupan yang tidak menonjolkan perbedaan,” kata Presiden SBY. “Inilah sebuah contoh yang baik dalam kerukunan umat beragama, sebagaimana dikatakan oleh saudara-saudara kita di Tanah Nyiur Melambai itu, torang semua basudara, tambahnya.

Sebelumnya, Ketua Panitia perayaan Natal 2008 yang juga Menteri ESDM Purnomo Yusgihantoro mengatakan, tema Natal tahun ini sesuai dengan tema Natal Nasional PGI dan KWI yaitu Hiduplah Dalam Perdamaian dengan Semua Orang. Tema ini menurut Purnomo sangat bermakna bagi umat Kristiani. “Untuk lebih mempererat hubungan vertikal dengan Allah maupun dengan sesama manusia, terutama bangsa Indonesia melalui kebersamaan dalam mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia menuju masyarakat yang adil, makmur, aman dan damai ,” ujarnya.

Purnomo menambahkan, Pantia Natal Nasional 2008 juga telah melakukan kegiatan bakti sosial sejak Oktober hingga Desember 2008, dalam bentuk antara lain bantuan tali kasih, pendidikan, pelayanan medis, bantuan Mobil Sehat dan Mobil Pintar di berbagai daerah di Indonesia.

Sementara itu, Ketua Persatuan Gereja-gereja Indonesia Pdt. Andreas A. Yewangoe dalam pesan Natal nya mengatakan bahwa Natal adalah kesederhanaan , bukan pesta pora yang menghabiskan jutaan rupiah. ” Di dalam kesederhanaan itu hubungan-hubungan antar manusia kembali dirajut sebagai refleksi dari uluran tangan perdamaian Allah.

Acara ini dimeriahkan paduan suara Consolatio USU Medan, North Sulawesi Gmim Male Choir, Voice Of YPJ Timika -Papua, PS Anak Indonesia Cordana, Vocalista, PS TNI dan POLRI. Di akhir acara, Presiden SBY, melalui teleconference menyampaikan selamat Natal kepada masyarakat Tapanuli Utara, Sumatera Utara. (win)
Sumber: http://www.presiden sby.info/index.php/fokus/2008/12/27/3869.html