KEBAHAGIAAN PERKAWINAN


KEBAHAGIAAN PERKAWINAN

KOMUNIKASI dua hati yg berkomitmen untuk selalu mencintai dlm keadaan apapun adalah sangat penting bagi suami-isteri sepanjang hidup.

Banyak orang sadar atau tidak sadar membiarkan atau lalai ketika komunikasi ini menjadi jarang, dingin, kering serta formalitas belaka, mereka baru merasakan sakitnya ketika situasi itu sudah sangat sulit untuk diperbaiki lagi.

Suami-isteri tidak pernah jujur mengatakan kemauannya antara satu dengan yg lain dlm situasi yg tepat tanpa emosi dan kemarahan.

Perkawinan membutuhkan landasan kuat yg harus selalu dijaga, dipupuk dan dikembangkan oleh kedua pihak.
Kesetiaan, pengorbanan, kejujuran serta kasih sayang menjadi impian bagi setiap pasangan untuk hidup bahagia.

Namun dlm perkawinan, banyak yg mengalami kenyataan yg jauh dari pada anganan.

Kebahagiaan perkawinan tidak bisa dibeli oleh harta berapapun banyaknya. Fisik yg tampan dan cantik yg di awal menjadi keunggulan dan kebanggaan, kadang tidak menjamin terwujudnya kebahagiaan itu.

Kebahagiaan perkawinan membutuhkan perjuangan yg tidak kenal lelah, dan membutuhkan kehadiran dan pertolongan Tuhan.

Berbahagialah mereka yang benar-benar menikmati hidup rumah tangga yg rukun dan damai, meskipun itu harus diperoleh dgn cucuran air mata.

Belaian tangan suami adalah emas bagi isteri.
Senyum manis sang isteri adalah permata bagi suami.
Kesetiaan suami adalah mahkota bagi isteri.
Keceriaan isteri adalah sabuk di pinggang suami.

Perbaikilah apa yg bisa diperbaiki sekarang sebelum terlambat. Cintailah pasangan yg telah TUHAN pilih untukmu!
SELAMAT BERBAHAGIA (dari sebuah grup bbm)

TIDAK PUNYAK ANAK = AIB?


Di tengah masyarakat, banyak pasangan suami-istri muda yang sudah menikah 3,5,7 bahkan sudah 10 tahun, namun belum juga punya anak. Tuhan belum menganugerahkan buah hati mereka. Mereka sudah berusaha ke dokter, ke dukun alias orang pintar untuk mengusahakan agar segera hamil, namun juga belum berhasil. Bahkan ada yang mengatasinya dengan mengadopsi anak, yang lebih parah lagi ada yang menceraikan suami atau istrinya.

Namun tidak jarang juga ada orang yang mencuri bayi di Puskesmas, bahkan ada yang membeli bayi di rumah sakit dengan harga tinggi.

Di beberapa suku, pasangan suami istri yang belum punya anak dianggap sebagai aib atau sesuatu yang membuat malu. Istri atau suami dianggap mandul dan tidak “dianggap” alias tidak diperhitungkan dalam adat suku tertentu. Untuk itu banyak orang melakukan aneka tindakan untuk mengurangi rasa malu.

Bagi yang keluarga muda yang belum punya anak, apakah tidak punya anak menjadi sesuatu aib bagi anda? Dan apa tujuan pernikahan itu sebenarnya?

Pada dasarnya diakui dan dapat diterima umum bahwa menikah itu bertujuan untuk melanjutkan keturunan, mengejar kebahagiaan suami istri dan mengusahakan pendidikan yang baik bagi anak-anaknya. Persoalannya, apakah suami istri bisa bahagia tanpa anak?

Untuk memenuhi kebutuhan akan anak, sebagian orang lebih baik memilih mengadopsi anak secara legal. Dengan demikian pun, kebahagiaan semakin lengkap.

Namu bagi pembaca sekalian, apakah tidak punya anak = aib?

Sumber: http://sosbud.kompasiana.com/2010/01/15/tidak-punya-anak-aib/