Sikap Pendeta Atas Fatwa MUI


Sikap Pdt. Dr. Jan S.Aritonang,Ph.D atas Fatwa MUI nomor 56 tahun 2016 tetntang Hukum Menggunakan Atribut Natal Kagum,
salut dengan sikap Pdt. Dr. Jan S.Aritonang,Ph.D atas Fatwa MUI nomor 56 tahun 2016 tetntang Hukum Menggunakan Atribut natal.
Selengkapnya isi surat dimaksud sebgai berikut:
Yang terhormat:
Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Jalan Proklamasi 51,
Jakarta Pusat 10320
Salam sejahtera dan dengan hormat,
Sehubungan dengan terbitnya Fatwa MUI nomor 56 Tahun 2016 tertanggal 14 Desember 2016, tentang Hukum Menggunakan Atribut Keagamaan Non-Muslim, perkenankanlah saya menyampaikan beberapa catatan dan pertanyaan berikut:
  1. Di dalam judul dan butir-butir keputusan fatwa tersebut tidak secara eksplisit dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan istilah Non-Muslim adalah umat atau pemeluk agama Kristen (=Nasrani). Namun dari latar belakang dan konteks terbitnya fatwa ini dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan istilah itu adalah umat Kristen.
  2. Di dalam fatwa tersebut tidak secara rinci disebut apa-apa saja yang dimaksud dengan atribut ataupun simbol keagamaan non-muslim yang dinyatakan haram, kendati pada Keputusan, butir Ketentuan Umum, dinyatakan bahwa “dalam Fatwa ini yang dimaksud dengan atribut keagamaan adalah sesuatu yang dipakai dan digunakan sebagai identitas, ciri khas atau tanda tertentu dari suatu agama dan/atau umat beragama tertentu, baik terkait dengan keyakinan, ritual ibadah, maupun tradisi dari agama tertentu.”
  3. Kendati tidak disebut secara rinci, namun dapat diduga bahwa yang dimaksud adalah pernik-pernik hiasan yang digunakan banyak orang untuk merayakan Hari Natal, misalnya: pohon terang dengan berbagai hiasannya, bintang, lonceng, topi sinterklas, topi bertanduk rusa, kereta salju, lilin, dsb.
  4. Sampai sekarang gereja Kristen (yang terdiri dari berbagai aliran dan organisasi) belum pernah membuat konsensus tentang atribut-atribut, simbol-simbol, atau hiasan-hiasan itu. Bahkan ada juga gereja yang tidak merayakan hari Natal dan tidak menggunakan simbol salib. Atribut-atribut, simbol-simbol, atau hiasan-hiasan itu muncul dari tradisi sebagian gereja, terutama yang di Barat (Eropa dan Amerika), yang kemudian disebar ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia.
  5. Produksi, penyebaran, dan perdagangan benda-benda itu tidak mempunyai hubungan langsung dengan iman Kristen, termasuk iman kepada Yesus Kristus, yang diimani umat Kristen sebagai Tuhan Allah yang menjelma menjadi manusia, serta sebagai Tuhan dan Juruselamat dunia. Penyebaran, produksi, dan perdagangan benda-benda itu lebih dimotivasi oleh hasrat untuk mendapat keuntungan material; itulah sebabnya orang-orang yang terlibat di dalam aktivitas itu berasal dari berbagai penganut agama. Bahkan boleh jadi orang yang tak beragama pun ikut memproduksi dan memperdagangkannya. Karena itu saya tidak mempersoalkan atau berkeberatan kalau Komisi Fatwa MUI menyatakan bahwa menggunakan, memproduksi, menyebarkan, dan memperdagangkan benda-benda atau atribut-itu adalah haram.
  6. Di dalam fatwa itu, pada bagian konsiderans (Mengingat dan Memperhatikan), berulang kali dikutip ayat Kitab Suci Al Qur’an, Hadits Nabi Muhammad/Rasulullah SAW, dan pendapat sejumlah tokoh Islam, yang pada pokoknya menyatakan bahwa orang-orang non-muslim itu adalah kafir. Perkenankan saya bertanya: apa/siapa yang dimaksud oleh Komisi Fatwa MUI dengan kafir? Apakah semua orang non-muslim adalah kafir, termasuk umat Kristen? Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memang dikatakan bahwa kafir adalah “orang yang tidak percaya kepada Allah dan rasul-Nya”. Bila inilah pengertiannya maka lebih dari 5 milyar penduduk dunia adalah kafir.
  7. Sepengetahuan saya, Nabi Muhammad SAW bergaul dengan akrab dan bersahabat dengan banyak orang Kristen (Nasrani) dan tidak pernah menyebut mereka kafir. Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW yang dikutip pada konsiderans Fatwa MUI ini pun tidak ada hadits Nabi yang menyebut orang Kristen sebagai kafir.
  8. Karena itu, bila Komisi Fatwa MUI, sehubungan dengan atribut keagamaan non-muslim, menyebut umat Kristen sebagai kafir, perlulah Komisi Fatwa MUI memberi penjelasan dan mengemukakan argumen yang kuat. Saya bersedia diundang untuk mendiskusikan hal ini dalam suasana persahabatan dan persaudaraan.
  9. Dengan itu pula saya mengimbau Komisi Fatwa MUI agar tidak menerbitkan fatwa yang bisa ikut menambah panas suasana dan suhu kehidupan di negeri kita ini, sebaliknya menyampaikan fatwa ataupun pendapat yang mendatangkan kesejukan. Izinkanlah umat Kristen di Indonesia merayakan hari Natal (kelahiran) Yesus Kristus, yang kami yakini sebagai Tuhan dan Juruselamat dunia, dalam suasana tenteram dan sejahtera.

Salam hormat teriring doa,

Pdt. Prof. Jan S. Aritonang, Ph.D.

Guru Besar Sekolah Tinggi Teologi Jakarta

Jalan Proklamasi 27

Jakarta Pusat 10320

e-mail: jansaritonang@gmail.com

cc: 1. Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI)

2. Pemimpin dan dosen STT Jakarta 3. Sejumlah rekan

Megawati: Pancasila adalah Roh Bangsa


Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri menyatakan, Pancasila menjadi dasar negara sekaligus filosofi kehidupan berbangsa bukan simbol mati, melainkan adalah ”roh” bangsa untuk membawa Indonesia sejahtera.

Megawati menyatakan hal itu dalam perayaan Natal Nasional di Manado, Sulawesi Utara, Rabu (29/12) malam.

Menurut Mega, keberagaman Indonesia yang memiliki ratusan suku bangsa, etnis, bahasa, serta agama menjadi rahmat disyukuri. Perbedaan adalah kekayaan, bukan menjadi sumber konflik dalam kemajemukan bangsa ini.

Perayaan Natal di Manado ini dihadiri Ketua DPD PDI-P Sulut Olly Dondokambet, Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Sarundajang, Sekretaris Jenderal PDI-P Tjahjo Kumolo, Wakil Sekjen PDI-P Baskara, serta 3.000 simpatisan PDI-P. Natal diramaikan sejumlah paduan suara, yaitu Benedicto, Universitas Negeri Manado, dan Pria Kaum Bapa GMIM, serta refleksi dalam bentuk teater dimainkan Pemuda Gereja GMIM Imanuel Wanea.

Megawati mengatakan, kemajemukan negara ini sudah sejak lama sehingga harus dipertahankan. Menurut Megawati, empat pilar bangsa, yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 45, dan NKRI, yang menjamin kehidupan kemajemukan wajib dipertahankan oleh segenap rakyat Indonesia. Tanpa empat pilar itu negara ini akan hancur dan orang tidak mengenal Indonesia.

Ia mengatakan, kemajemukan adalah penghargaan dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa. Megawati kemudian menceritakan pengalaman hidupnya yang mesti hadir pada ritual keluarga dalam agama berbeda. ”Apakah saya harus menyangkal darah yang mengalir dalam tubuh ini hanya karena agama saya anut berbeda dengan leluhur saya?” katanya.

Megawati mengingatkan, Pancasila menjadi dasar negara sekaligus filosofi kehidupan berbangsa bukan simbol mati, melainkan adalah ”roh” bangsa untuk membawa Indonesia sejahtera.

”Pancasila jangan jadi simbol, tetapi harus membumi dan diterapkan dalam kehidupan seluruh rakyat Indonesia, tak terkecuali apakah dia pemimpin dan rakyat jelata,” katanya.

Untuk mencapai kemajuan, ujarnya, perlu pengorbanan yang besar dan itu sudah dilakukan pendiri bangsa ini yang harus melewati siksaan di penjara berkali-kali. ”Seperti Yesus yang berjalan terseok-seok menuju Bukit Golgota untuk kehidupan umatnya. Apakah belum cukup pengorbanan ini?” katanya. (ZAL)
(Kompas, 30 Des 2010)

Departemen Agama: Ucapkan Selamat Natal Bagi Umat Kristiani


Ada hal menarik untuk natal 2007 ini.  Departemen Agama sebagai lembaga yang mengurusi pembangunan agama memajangkanmerry christmas spanduk besar bertuliskan MENTERI AGAMA BESERTA JAJARANNYA MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA NATAL BAGI UMAT  KRISTIANI, di halaman samping Kantor Sekretariat Kerukunan Umat Bragama di Jalan Kramat Raya Jakarta.

Dengan perayaan natal tahun ini diharapkan adanya peningkatan kualitas iman bagi perbaikan bangsa. Padahal selama ini ada kesan “ucapan selamat natal bagi umat kristiani” terkesan haram bila diucapkan oleh saudara/i beragama Islam. Ucapan Menteri Agama itu amat menyejukkan bagi umat Kristiani. Ucapan selamat demikian amat berarti dan berharga bagi umat kristiani sebagai bagian dari warga negara dan sebagai bagian pembinaan kerukunan nasional sebagaimana diamanatkan oleh 

Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 9 dan 8 Tahun 2006 tentang PEDOMAN PELAKSANAAN TUGAS KEPALA DAERAH/ WAKIL KEPALA DAERAH DALAM PEMELIHARAAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, PEMBERDAYAAN FORUM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, DAN PENDIRIAN RUMAH IBADAT,  yang sesungguhnya adalah buah-buah pikiran para utusan dari lembaga-lembaga agama kiranya dapat ikut serta memberi rambu-rambu sehingga cita-cita hidup rukun antar umat beragama semakin hari semakin menjadi indah.

Yang lebih menarik lagi, ucapan natal kepada umat kristiani berdatangan lewat sms  dan email. Hal ini terlihat dari pesan dan isi posting milis PLURALITAS, Forum Pembaca Kompas, dan berbagai milis lainnya. Secara pribadi, penulis menerima puluhan sms ucapan selamat natal dari teman-teman beragama Islam. Amat indah dan menyenangkan.

 Natal 2007

Natal tahun 2007 aman dan damai. Itulah kesan pertama setelah menyaksikan pelaksanaan perayaan natal 2007 di berbagai kota di seluruh Indonesia. Mulai dari Gereja di kota-kota besar hingga ke pelosok-pelosok nusantara. Semua perayaan misa natal dan kebaktian natal 2007 berjalan damai dan khidmat.

Pesan natal tahun 2007 ini semua berfokus pada inti pesan natal 2007 yang digagas oleh Persatuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) – Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Desember lalu yaitu

“HIDUPLAH DENGAN BIJAKSANA, ADIL DAN BERIBADAH” (Bdk. Titus 2:12).

Pesan itu amat relevan dengan tantangan zaman sekarang dimana dampak negatif globalisasi, materialisme dan primordialisme kerap kali menguasai banyak orang. Semoga dengan perayaan natal dan ucapan selamat natal di Indonesia semakin memupuk persaudaraan dan semangat kebersamaan dalam menggapai bonum publicum (kesejahteraan bersama) menuju Indonesia yang aman, demokratis dan damai sejahtera. AMIN (Pormadi Simbolon)