Muhammadiyah Tak Ingin Terlibat Gerakan Bubarkan Ahmadiyah


Senin, 21 Februari 2011

Organisasi Islam Muhammadiyah memilih untuk berupaya memagari umatnya dari ajaran sesat daripada terlibat dalam gerakan membubarkan organisasi Ahmadiyah.

“Silakan negara yang mengambil tindakan tegas dengan merujuk pada konstitusi, karena soal eksistensi suatu kelompok adalah urusan negara,” kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin di Jakarta, Senin.

Muhammadiyah, lanjut dia, menegaskan dengan semacam fatwa bahwa ajaran Ahmadiyah adalah sesat sejak tahun 1933, lebih awal daripada ketetapan Liga Islam Sedunia (Rabithah Alam Islami) pada 1979 dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang baru mengeluarkan fatwa pada 2005.

Menurut dia, sikap pemerintah menyikapi kasus di Cikeusik, Banten, cenderung hanya menyerahkan masalah kepada masyarakat daripada bertindak tegas.

Ia mengatakan, negara meski punya alasan tidak ingin melakukan intervensi terhadap keyakinan warganya namun ketika terjadi bentrokan harus mengambil langkah-langkah hukum.

Din juga mengatakan keyakinannya bahwa ada rekayasa di balik kasus Cikeusik meski sulit dibuktikan.

Sementara itu, Kepala Pusat Litbang Kehidupan Keagamaan, Balitbang dan Diklat Kementerian Agama, Prof Dr Abdurrahman Mas`ud mengatakan, sebenarnya pemerintah bisa membubarkan Ahmadiyah jika memang bersedia.
“Ahmadiyah memang telah melanggar SKB.”SKB 3 Menteri, antara lain berisi, memberi peringatan dan memerintahkan bagi seluruh penganut, pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) agar menghentikan semua kegiatan yang tidak sesuai dengan penafsiran Agama Islam seperti pengakuaan adanya Nabi setelah Nabi Muhammad SAW.

Mas`ud juga mengatakan, hasil penelitian pihaknya tentang Ahmadiyah, para pengikut tidak tahu apa-apa tentang inti dari keyakinan Ahmadiyah, sebaliknya hanya para pimpinan yang mengetahuinya.

Selain itu, ujarnya, ajaran Ahmadiyah bersifat trans nasionalisme, seperti ditemukan adanya radio khusus bagi kalangan Ahmadiyah yang menghadirkan tokoh Ahmadiyah London atau dari Bangladesh.
(Antaranews.com)

PKS Ambisi Besar Tenaga Kurang


PKS Ambisi Besar Tenaga Kurang

LAPORAN KORESPONDEN ABOEPRIJADI SANTOSO

14-11-2008

 

PKS, Partai Keadilan Sejahtera, seperti orang bingung. Di tengah dua partai besar, dia tak mau terikat Golkar, tapi tak cocok dengan PDI-P. Dia naik daun sejak reformasi, tapi kini menganggap Soeharto “guru bangsa” dan “pahlawan”. Tokoh-tokoh partai Islam ini tak segan segan berempati dengan Amrozi, dan dengan kelompok militan seperti FPI. Mereka beraspirasi membersihkan Islam di Indonesia dari nilai-nilai abangan. Di tengah mayoritas Islam yang moderat, PKS mengejar target 20 % dalam pemilu 2009 agar dapat memegang kendali negara pada 2014. Namun, kalangan internal PKS pun meragukan prospek itu.

 

Mashadi-PKS-200jpg.jpg
 Mashadi, salah satu pendiri PKS
      (foto: Aboeprijadi Santoso)

 

Baru beberapa bulan lalu, PKS yang merupakan partai dakwah, mengaku menjadi partai terbuka. Sekarang, partai yang ikut mendukung pemerintah ini, menjauhi Golkar, menolak mendukung SBY-JK untuk pilpres 2009, dan membuka diri bagi PDI-P. Bahkan partai yang populer semasa reformasi, pekan ini tampil dengan iklan yang memasang Soeharto sebagai “pahlawan” dan “guru bangsa”. Ada apa dengan PKS?

Undang-Undang Pilpres memang hanya menguntungkan partai-partai besar yang dapat meraih 20 % kursi DPR atau 25% suara elektorat seperti Partai Golkar dan PDI-P, dan memaksa partai-partai menengah seperti PKS, untuk berkoalisi dengan mereka. Sejak SBY-JK mengisyaratkan maju bersama kembali, maka peluang PKS meraih kursi RI-2 hanyalah dengan PDI-P. Koalisi partai-partai menengah dan kecil, diduga bakal sulit untuk mengusung jagonya sebagai capres atau cawapres sekali pun melalui Poros Tengah yang kembali diajukan oleh Amien Rais.

Walhasil, terutama bagi PKS yang berada di peringkat empat atau lima, tak ada jalan lain kecuali memacu dukungan dari mana saja. Partai yang tidak memiliki cikal bakal sendiri ini, sekarang mengusung tokoh-tokoh historis dan panutan, seperti KH Hasyim Anshari dari Nahdlatul Ulama dan KH Ahmad Dahlan dari Muhammadiyah serta, seperti Golkar, juga mempahlawankan Soeharto.

Kelemahan strategis
Namun, di balik semua itu, PKS, partai yang terpuji berdisiplin dalam pemilu 2004, kini merosot. Untuk menjaga kesatuan internal, PKS bahkan mengajukan delapan nama pimpinannya menjadi kandidat capres. Citranya yang bersih godaan korupsi mulai pudar. PKS diduga juga tak akan mampu meraih target 20%. Demikian menurut salah satu pendiri PKS, Mashadi: 

“Kami belum sukses, karena kami tidak ikut terlibat dalam pengambilan keputusan negara, terutama menyangkut hal-hal yang strategis politik dan ekonomi. Inilah kunci persoalan yang ada sekarang ini. Jumlah kader kami juga sangat terbatas. Sekarang seluruh Indonesia kurang dari 200 ribu.” 

Bagi partai yang berambisi memimpin negara, semua ini merupakan kelemahan strategis. 

Mashadi: “Dalam munas memang PKS menargetkan 20 persen, pemilu 2009 nanti. Saya agak ragu ya. Jadi sangat tidak realistis kalau misalnya tahun 2014 atau 2015 sudah akan terjadi perubahan sangat drastis, saya kira tidak. Tapi kami memulai dari suatu yang fundamental. “

Ambisi besar
Betapa pun, PKS, partai yang citranya Islam garis keras ini, tetap merupakan satu-satunya partai kader dewasa ini. Dan satu-satunya partai yang tidak sulit mengajukan caleg tanpa harus mengimpor artis, aktivis dan wartawan. Mereka menggemblèng anggota-anggotanya jadi kader masuk masyarakat lewat pendidikan, masjid-masjid dan kegiatan sosial serta berupaya menguasai birokrasi negara.

Soalnya, ambisinya pun besar, yakni memperbarui Islam Indonesia. PKS bertolak dari temuan antropolog Amerika Clifford Geertz di tahun 1950an bahwa Islam di Indonesia masih terlampau dipengaruhi nilai-nilai abangan. 

Mashadi: “Dan itu terbukti Masyumi dan NU itu tidak mencapai suara mayoritas ketika pemilu 1955. Dan sesudah masa Soeharto juga begitu. Memang tidak ada partai yang secara sungguh-sungguh dan serius memperjuangkan prinsip-prinsip dan membuat platform yang jelas berdasar pada nilai-nilai Islam dan PKS sendiri adanya isyu keterbukaan bagian dari elemen dalam partai yang mereka memang tidak sabar untuk mengejar kekuasaan itu sendiri. Jadi harus terbuka, harus koalisi dengan apa saja, tidak lagi akan sekat ideologis dan lain sebagainya.” 

Prinsip
Menurut Mashadi yang dari kelompok dakwah, PKS tidak bercita-cita melaksanakan hukum Syariah, melainkan suatu masyarakat sipil yang beretika dan bermoral Islam.

Mashadi: “Masyarakat yang egaliter berdasarkan pada prinsip-prinsip Islam.”

Aboeprijadi Santoso [AS]: “Masyumi lebih jelas, dengan syariah Islam sebagai dasar negara, kan? Negara Islam.”

Mashadi: “Kami tidak langsung pada keinginan untuk mendirikan negara Islam, tetapi kami ingin lebih bagaimana menyelesaikan persoalan-persoalan pokok bangsa Indonesia ini.

AS: “Tidak langsung itu apa maksudnya, Pak?”

Mashadi: “Ya kami lebih menekankan bagaimana Islam sebagai sebuah etik itu menjadi prinsip hidup semua orang yang terlibat di dalam pengelolaan negara harus tahu mana yang dilarang dan mana yang tidak oleh agama.” Demikian Mashadi, salah satu pendiri PKS.

 

Sumber: Milis Pantau

Amien: Iklan PKS Berbahaya


Amien: Iklan PKS Berbahaya


Laurencius Simanjuntak – detikNews

 

Jakarta – Iklan PKS yang menampilkan tokoh KH Ahmad Dahlan menuai respon negatif dari kalangan Muhammadiyah. Mantan Ketua PP Muhammadiyah Amien Rais pun menilai sikap PKS tersebut adalah sesuatu yang berbahaya.

“Ahmad Dahlan itu simbol Muhammadiyah. Kalau parpol memanfaatkan ketokohan
Ahmad Dahlan, itu berbahaya dan penuh risiko. Karena kalau nanti parpol itu akhirnya bertentangan dengan keinginan rakyat, skandal korupsi dan
lain-lain. Itu kan menjadi parah wajah Ahmad Dahlan,” ujar Amien Rais.

Hal itu dikatakan Amien usai acara Seminar Kepemimpinan di The Ary Suta
Center, Prapanca, Jakarta, Kamis (6/11/2008).

Amien menilai, reaksi keras yang pernah disampaikan PP Muhammadiyah kepada
PKS beberapa waktu lalu bukan karena ormas Islam itu tidak bangga akan
tokohnya yang dijadikan simbol partai. Melainkan karena ketokohan Ahmad
Dahlan tidak pantas disandingkan dengan parpol yang sarat kepentingan.

“Parpol itu penuh dengan konflik kepentingan, jadi tidak boleh sembarangan, ” mantan Ketua MPR ini.

Lebih jauh Amien menilai pada dasarnya semua partai itu sama jika sudah
menyangkut soal kepentingan. Yang membedakan hanyalah tindakan untuk
mencapai kepentingan tersebut.

“Kalau sudah menyangkut soal kepentingan keduniawian, semua parpol itu sama. Hanya saja ada yang vulgar, terus terang, tapi ada juga yang membalut dengan balutan agama dan lain sebagainya,” pungkas Amien.(lrn/rdf)

 

http://www.detiknew s.com/read/ 2008/11/06/ 185428/1032618/ 10/amien- iklan-pks- berbahaya

PP Pemuda Muhammadiyah Tuntut PKS Tarik Iklan Politiknya


Jumat, 31/10/2008 07:47 WIB
PP Pemuda Muhammadiyah Tuntut PKS Tarik Iklan Politiknya
Gagah Wijoseno – detikNews

 

Jakarta – Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah turut mempermasalahkan gambar tokoh nasional yang dipajang dalam iklan politik PKS di televisi. Pemuatan gambar pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan dinilai merugikan Muhammadiyah.

“Pemuatan tersebut jelas-jelas pure bermuatan kepentingan politik jangka pendek PKS dan merugikan persyarikatan Muhammadiyah sebagai gerakan budaya, sosial, dan keagamaan,” demikian dalam siaran resmi PP Pemuda Muhammadiyah yang ditandatangani ketuanya Armyn Gultom.

Dalam surat yang diterima detikcom, Jumat (31/10/2008) , tersebut, PP Muhammadiyah menuntut PKS segera menarik iklan politik tersebut dari semua stasiun TV. Walau tidak mengkultuskan foto KH Ahmad Dahlan namun gambar tersebut merupakan salah satu simbol kekuatan gerakan kultural Muhammadiyah.

“Menuntut DPP PKS untuk segera menarik iklan politik tersebut dari semua stasiun TV,” pintanya.

“Pemuatan iklan politik PKS tersebut menjustifikasi SK pimpinan Muhammadiyah yang mengingatkan anggota dan pimpinan akan ‘bahaya laten’ PKS yang menggerogoti Muhammadiyah, ” lanjutnya.

Sebelumnya gerakan pemuda Nahdhatul Ulama (NU) juga mempermasalahkan iklan PKS tersebut. Mereka tidak mau tokoh pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari, ditampilkan dalam iklan partai berlambang bulan sabit kembar dan padi itu.(gah/mok)