HATI-HATI DENGAN DAKWAH/KOTHBAH BERISI WARTA KEBENCIAN/ PROVOKASI


REPUBLIKA ONLINE
Sabtu, 22 Agustus 2009 pukul 01:01:00

Polisi Awasi Dakwah  

Selama bulan suci Ramadhan, polisi akan meningkatkan pengawasan keamanan di seluruh Tanah Air. Alasannya, karena terorisme masih menjadi momok paling menakutkan. Pengawasan itu termasuk memberikan perhatian terhadap kegiatan dakwah.

Selama Ramadhan ini akan banyak kegiatan dakwah yang dihadiri umat Islam dari segala penjuru. ”Seandainya dakwah berkait dengan provokasi, dengan melanggar hukum, pasti akan ditindak,” kata Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Nanan Sukarna, di Jakarta, Jumat (21/8).

Untuk itu, kata Nanan, polisi akan mengikuti dan menempel lebih terbuka kegiatan dakwah secara terus-menerus. Operasi seperti ini bertujuan mengantisipasi perekrutan teroris pada Ramadhan.

Polisi mengakui selain Noordin Top, masih ada empat tersangka yang diduga tersangkut bom Hotel JW Marriott dan Ritz-Charlton, pada 17 Juli lalu. Namun, mengaitkan terorisme dengan ajaran Islam adalah tindakan naif. Naif, karena Islam adalah agama yang penuh kedamaian. Untuk itu, perang melawan terorisme jangan sekali-kali dikaitkan dengan ajaran Islam.

Polisi juga tidak perlu berlebihan mengawasi dakwah Islam yang marak dilakukan pada Ramadhan. Sebab, dakwah justru dilakukan secara terbuka, semuanya bisa mendengarkan. Tidak ada yang disembunyikan.

Dalam kondisi seperti ini, polisi seharusnya mendorong ulama atau tokoh agama untuk memberikan dakwah yang menyejukkan. Misalnya, kembali menggelorakan dan mengingatkan bahwa bom bunuh diri yang dilakukan para teroris, bukan merupakan tindakan jihad.

Kita pun tahu Majelis Ulama Indonesia dan sejumlah organisasi massa Islam, tegas menyatakan bom bunuh diri adalah tindakan yang tidak dibenarkan dalam ajaran Islam.

Kegiatan dakwah justru seharusnya menjadi ujung tombak yang harus ditopang aparat keamanan. Sebab, umat Islam dianjurkan untuk mendahulukan dakwah sebelum berjihad. Petugas polisi pun mesti memahami makna dakwah Islam. Bukan justru menangkap 17 anggota Jamaah Tabligh di Jawa Tengah, awal pekan ini.

Ke-17 orang warga negara Filipina itu sedang melakukan khuruj (perjalanan dakwah dari masjid ke masjid).

Jamaah ini mengedepankan dakwah dalam kegiatannya. Mereka tidak mengenal tindakan radikalisme seperti pengeboman atau bom bunuh diri. Kita juga menyayangkan penangkapan terhadap sepasang suami istri di Serang, Banten, pekan ini.

Kita tidak ingin penampilan seseorang yang berjenggot, mengenakan gamis atau berjubah, bersorban, serta celana menggantung, diartikan sealiran dengan teroris. Suatu kesimpulan yang keliru.

Tidak boleh ada stigmatisasi seperti itu. Termasuk kepada perempuan yang mengenakan jilbab panjang dan cadar. Penangkapan pelaku teror harus didasarkan atas data akurat dan sesuai prosedur. Begitu juga dengan pengawasan terhadap dakwah.

Kita mendukung pemberantasan terorisme, tapi perlu cara-cara yang baik dan bijaksana. Jangan sampai melanggar hak rakyat dan hak beragama seseorang. Sesungguhnya polisi bisa bekerja sama dengan melibatkan ulama, tokoh agama, dan tokoh masyarakat dalam pemberantasan terorisme. Justru melalui dakwah-dakwah yang menyejukkan bisa memberikan pemahaman yang benar.

Umat Islam tentu masih trauma dengan tindakan represif aparat TNI dan Polri era Orde Baru. Saat itu pada dekade 1970-1980-an kegiatan dakwah harus mendapatkan izin dari aparat keamanan. Kita tidak ingin polisi mengulangi kesalahan yang sama.

(-)

Keluarga Amrozi Adakan Syukuran “Kemenangan”


 Keluarga Amrozi Adakan Syukuran “Kemenangan”
 
     

Ada yang istimewa di rumah keluarga Amrozi dan Ali Ghufron. Hari kedua setelah pelaksanaan eksekusi mereka menggelar syukuran “kemenangan”. Bukan bersedih, justru bergembira. Lha kok?

 

Hidayatullah. com–Ada pemandangan menarik di hari kedua, Selasa , (11 /11) sore.  Sekitar 50 an orang duduk berkumpul penuh hikmat di rumah orangtua Amrozi, Mbok Tariyem.  Mereka menggelar acara syukuran “kemenangan”.

Acara bertajuk “Tasyakuran Kemenangan Umat Islam dalam Menyambut Syahid (Insyaallah) Ali Ghufron dan Amrozi, Mereka Bukan Teroris”, digelar dalam rangka menyambut dan member dukungan terhadap keluarga korban.

Acara dilaksanakan dengan sangat sederhana dan sepi dari liputan media massa. Satu-satunya media yang beruntung melihat pemandangan ini hanyalah hidayatullah. com.

Pelaksanaan tasyakuran dilakukan usai shalat Ashar itu hanya dihadiri pihak keluarga dan sahabat terdekat. Acara diisi dengan tausiyah beberapa sahabat dekat dan wakil keluarga.

“Acara ini dilaksanakan untuk menunjukkan bahwa kita tidak bersedih, “ ujar ustad Ashari.

Ia juga menampik berita-berita di berbagai media massa di mana dijelaskan bahwa almarhum Ali Ghufron dan Amrozi digambarkan meninggal dalam keadaan pucat. Gambaran seperti itu menurutnya hanya ditujukan agar pihak keluarga dan sahabatnya dalam keadaan sedih dan takut. Padahal yang terjadi tidaklah demikian. 

“Mungkin bagi banyak kalangan, kehadiran almarhum tidak ada yang menyambut, tidak ada yang simpati atau bahkan ditolak masyarakat. Alhamdulillah, tidak seperti itu”,  tambahnya. Bahkan menurutnya, yang terjadi justru sebaliknya. Pelayat dan masyarakat yang hadir ribuan orang sampai harus berjalan berkilo-kilo jaraknya. Berdasarkan pantauan hidayatullah. com, sampai Selasa sore kemarin, pelayat yang datang masih antri dari berbagai kota.

Selain itu, menurut Ashari, tasyakuran ini untuk mengenang tauladan kedua almarhum. Diantaranya sikap konsisten, selalu menjauhkan hal-hal yang subhat dan optimisme yang luar biasa terhadap perjuangan Islam. “Sampai akhir hayat, mereka berdua tidak pernah memakan makanan yang diberikan dari Lembaga Pemasyarakatan (LP)”, tambahnya.

Menurut Ashari, apakah kedua almarhum diberi gelar syuhada atau tidak, terserah masyarakat yang menilai. Tapi ketiganya (Imam Samudra, Ali Ghufron dan Amrozi, red) telah menjadi “tauladan” sepanjang yang diyakininya benar dan dibawa dengan konsisten.

Ashari kemudian menutup tausiyah nya dengan membacakan kisah Ibnu Taimiyyah saat dimasukkan dalam jeruji besi oleh penguasa di sebuah penjara di benteng Damaskus.

Menurutnya, kala itu Ibnu Taimiyah sempat berkata, “Apakah gerangan yang akan diperbuat musuh-musuhku kepadaku? Syurgaku dan kebunku ada di dadaku. Ke mana pun aku pergi, dia selalu bersamaku dan tidak pernah meninggalkanku. Sesungguhnya penjaraku adalah tempat khuluwat-ku, kematianku adalah mati syahid, dan terusirnya diriku dari negeriku adalah rekreasiku”.  

Acara kemudian dilanjutkan dengan makan gulai kambing yang merupakan sumbangan dari para kerabat dan sahabat dekat Amrozi dan Ali Ghufron.

Sumber:

 

Jelang Eksekusi, Trio Terpidana Mati Bom Bali Emosional


Jelang Eksekusi, Trio Terpidana Mati Bom Bali Emosional

Cilacap (ANTARA News) – Menjelang pelaksanaan eksekusi, tiga terpidana mati kasus Bom Bali I, Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudra, yang mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Batu, Pulau Nusakambangan, Cilacap, dalam situasi emosional sangat tinggi.

Sejumlah sumber ANTARA di Nusakambangan, Jumat dinihari, menyebutkan, tingkat emosional trio bom Bali sangat tinggi terutama sejak Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali memberitahukan pelaksanaan eksekusi mati pada Rabu (5/11).

“Bahkan, tadi (Kamis malam, red.) sekitar pukul 23.00 WIB, Amrozi sempat berontak saat hendak dijemput petugas,” kata salah satu sumber tanpa menyebutkan tujuan penjemputan tersebut.

Dia mengatakan, para personel Brimob yang ada di LP Batu segera disiagakan untuk mengantisipasi kemungkinan adanya kericuhan akibat tiga terpidana mati tersebut emosional.

Namun hingga saat ini belum ada keterangan resmi mengenai peristiwa tersebut, termasuk kepastian pelaksanaan eksekusi mati bagi Amrozi dan kawan-kawan.

Sementara itu, puluhan wartawan media cetak maupun elektronik dari dalam dan luar negeri tampak berteduh di warung-warung yang ada di sekitar Dermaga Wijayapura Cilacap lantaran hujan deras mengguyur wilayah tersebut.

Mereka tampak menunggu kepastian pelaksanaan hukuman mati karena sempat tersiar kabar Amrozi dan kawan-kawan akan dieksekusi pada Jumat dinihari.(*)

COPYRIGHT © 2008 ANTARA

Sumber: http://antara.co.id/print/?i=1225996141

Eksekusi Amrozi dkk Berbuntut Gugatan Terhadap Pemerintah


Eksekusi Amrozi dkk Berbuntut Gugatan Terhadap Pemerintah

Serang, (ANTARA News) – Tim Pengacara Muslim (TPM) akan menggugat pemerintah karena menurut mereka terdapat indikasi pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM) pada eksekusi ketiga terpidana mati Bom Bali I.

“Saat ini kami berencana mempersiapkan langkah-langkah hukum atas terpidana mati Bom Bali,” kata Agus Setiawan salah seorang anggota TPM, Senin.

Dia mengatakan, aparat yang telah mengeksekusi trio Bom Bali, Amrozi, Imam Samudra dan Muklas di Lembah Nirbaya LP Batu Nusakambangan, telah menyalahi prosedur.

Agus Setiawan mengatakan pihaknya tidak lagi mempercayai pernyataan yang disampaikan oleh Kejaksaan Agung.

TPM juga mendesak kepada aparat berwenang komnas HAM, Komisi III DPR untuk membentuk tim pencari fakta atas eksekusi tersebut.

“Kami sebagai kuasa hukum, serta keluarga, haknya telah dirampas karena dibatasi dalam pengurusan jenazah,” katanya.

Tuduhan perampasan hak-hak hukum juga terjadi karena kliennya, yang ketika itu menjalani isolasi di LP Nusakambangan, tidak dapat bertemu dengan TPM.

Sementara itu, Lulu Jamaluddin, perwakilan keluarga Imam Samudra, mengatakan, tidak rela kakaknya dieksekusi mati karena proses PK yang diajukan TPM hingga kini belum ditanggapi.

“Kami melalui TPM akan menggugat secara hukum atas tindakan Kejaksaan Agung yang telah mengeksekusi Imam Samudra,” ujar adik kandung Imam Samudra.(*)

COPYRIGHT © 2008 ANTARA

Sumber: http://antara.co.id/print/?i=1226277334

Undangan Web Press Conference JIHAD


Assalamungalaikom warahmatullahiwabar okatuh

Dengan ini saya mengundang team redaksi media massa untuk hadir pada website konfrensi press yang akan kamia adakan tanggal 27 Agustus 08 hari Rabu siang Jam 12:00 wib di www.bk.com/mujahid.

Kami secara garis besar ingin menyampaikan bahwa bersamaan dengan pelaksanaan eksekusi atas Almukharom Ustadz Kudama, Ustadz Ali Ghufron dan Ustadz Amrozy maka ratusan martir Muslim seDunia akan segera menyusul jihad dan rela mati Syahid di Jalan Allah.

Istana Presiden, sebagian besar kediaman pejabat Pemerintah dan keluarganya yang telah kami dapatkan alamatnya, Kediaman/kompleks Militer,POLRI, Kejaksaan,Kehakiman , dan keluarganya, Gereja, Pura, Vihara, Masjid Ahmadiyah dan tempat hiburan di sebagian besar kota besar di Jawa-Bali-Kalimanta n dan Sumatera, adalah sasaran kami untuk berjihad.

Jadi dengan semangat Jihad fisabilillah, kami akan bersama-sama menyambut pintu surga dan Bidadari Allah mengiringi syahidnya 3 martir besar kami.

Kami taksabar ber Ramadhan diSurga.

Keluarga pejabat dan aparat Indonesia diseluruh Dunia, harap mempersiapkan diri menghadap Allah bersama kami.

Alhamdulillah dukungan dari berbagai pihak menunjukkan besarnya Iman ikhwan dan akhwat.

Untuk keluarga Akhwat dan ikhwan yang telah bersiap menjadi pengantin, semoga kerelaan anda melepas keberangkatan kami bisa mendapat Ridlo Allah SWT, yakinlah kita akan berkumpul kembali di wanginya Jannah.

Kebanggaan bagi martir muslim yang telah mendapat puluhan mujahid muslimah, srikandi pemberani dipewayangan, untuk ikhlas menjadi syuhada bersama tiga ustadz kami.

Bersiaplah media massa dan semua pihak di Indonesia dan belahan Dunia untuk menyambut pesta kami.

Detail acara dan teknis pelaksanaan Jihad Qubro akan kami sampaikan lewat web conference.

Kami harap saudara saudara dari media untuk menjadikan undangan ini sebagai info berharga, menjaga rahasia, dan tidak membocorkan kepada aparat.

Jika ada perubahan2, akan kami sampaikan informasi tambakhan.

Wassalamungalaikom warahmatulohiwabaro katuh

Tim Mujahid 08

 

Sumber:  Martir Muslim (