Persaudaraan Dalihan Na Tolu


Oleh Muhammad Hilmi Faiq

Sepekan setelah dilantik menjadi Bupati Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Raja Bonaran Situmeang turun tangan mengurus persiapan makanan hingga cuci piring di acara pernikahan adik istrinya, Eva Simatupang, pada Agustus 2012. Inilah konsekuensi sebagai anak boru dalam konsep Dalihan Na Tolu.

Dengan konsep tersebut, ketika salah satu anggota keluarga dari pihak perempuan (istri) menikah, suami harus menjadi anak boru yang bertugas mengurusi secara rinci prosesi pernikahan, termasuk urusan dapur.

Tak heran meskipun ia seorang bupati, Bonaran ikut cawe-cawe. “Saya ikut membantu urusan dapur seperti cuci piring dan mempersiapkan makanan,” ujarnya, akhir Desember lalu.

Untuk menggelar resepsi pernikahan, orang Batak Toba memang berpegang pada konsep Dalihan Na Tolu, yaitu konsep filosofis atau wawasan sosial-kultural masyarakat dan budaya Batak. Dalihan Na Tolu menjadi kerangka hubungan kekerabatan darah dan perkawinan yang mempertalikan kelompok.

Istilah Dalihan Na Tolu mempunyai arti tungku berkaki tiga. Ini menunjukkan tiga kedudukan fungsional sebagai konstruksi sosial yang terdiri atas tiga hal yang menjadi dasar bersama.

Ketiga tungku mewakili tiga pihak dalam pernikahan secara adat, yaitu hula-hula (keluarga pemberi istri), boru (keluarga penerima istri), dan dongan sabutuha (kelompok semarga).

Dari tiga kelompok itu, kelompok penerima istri (boru) inilah yang paling sibuk mengurusi urusan resepsi pernikahan. Adapun kelompok hula-hula sama sekali pantang membantu proses pernikahan tersebut.

Konsep Dalihan Na Tolu juga berlaku pada subetnis Batak lain, seperti Karo, Simalungun, Mandailing/Angkola, dan Pakpak. Orang Karo menyebut konsep ini dengan istilah Rakut Sitelu atau Daliken Sitelu. Istilah Daliken Sitelu juga istilah yang dipakai masyarakat Pakpak. Adapun subetnis Simalungun menyebutnya Tolu Sahundulan. Adapun orang Mandailing/Angkola tetap menyebutnya Dalihan Na Tolu.

Mengajarkan kesetaraan

Peneliti Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, Eron Damanik, menjelaskan, konsep Dalihan Na Tolu mengajarkan kekerabatan yang harus dijaga. Penegasan identitas sebagai hula-hula, boru, atau dongan sabutuha menyadarkan warga Batak bahwa mereka memiliki keluarga besar yang terajut jalinan kawin-mawin.

Tak heran jika resepsi pernikahan seolah menjadi ajang reuni untuk saling menegaskan kekerabatan tersebut. Mereka bercerita tentang pengalaman hidup dan keberhasilan sembari menegaskan kembali bahwa mereka bersaudara.

Bonaran, misalnya, selama hidup di Jakarta sebagai pengacara, beberapa kali bertemu warga Batak bermarga Siahaan, keturunan Raja Hinalang Siahaan. “Mereka lantas menghormati, dan menganggap saya saudara dekat karena Raja Hinalang menikah dengan boru Situmeang. Jadi, saya dianggap hula-hula,” ujarnya.

Sitor Situmorang dalam bukunya, Toba Na Sae, menggambarkan konsep Dalihan Na Tolu dapat memberikan dukungan politik karena kedekatan kekerabatan tersebut. Dia mencontohkan dinasti Sisingamangaraja XII yang turun-temurun mengambil istri dari marga Situmorang. Ketika Sisingamangaraja XII bergerilya pada tahun 1883-1907, dia mendapat dukungan dari keluarga Horja Situmorang. Dukungan ini karena jalinan perkawinan antara Sisingamangaraja dan keluarga Situmorang.

Dalihan Na Tolu juga mengajarkan demokrasi. Posisi seseorang dalam ikatan keluarga akan selalu berubah-ubah. Suatu saat, dia masuk kelompok boru, tetapi lain waktu jadi hula-hula, dan bisa jadi juga di lain hari dia masuk ke dongan sabutuha. Semua itu bergantung pada posisi dalam silsilah keluarga. Perputaran posisi ini mengandung nilai sesungguhnya orang Batak itu sederajat. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah.

Dengan konsep ini, seorang jenderal pun suatu saat akan bekerja di dapur untuk menyiapkan makanan bagi tamunya saat keluarga istrinya menggelar hajatan pernikahan. Sebab, saat itu, sang jenderal sebagai anak boru.

Dinamis

Antropolog dari Universitas Negeri Medan, Bungaran Antonius Simanjuntak, mengatakan, internalisasi konsep Dalihan Na Tolu berjalan dinamis. Kawin-mawin antarsuku menjadikan konsep itu bukan hanya bagi orang Batak terhadap sesama orang Batak. Pria Batak yang menikahi gadis Jawa, keluarga mempelai pria-nya pun tetap melihat keluarga perempuan sebagai hula-hula.

Kini, suku Batak menyebar ke belahan nusantara hingga dunia. Mereka kawin-mawin dengan berbagai suku, ras, dan agama. Bahkan, tak sedikit, orang Batak bersuami atau beristri Jawa, China, ataupun Aceh.

Menurut Bungaran, konsep Dalihan Na Tolu mampu menyatukan umat manusia. Proses kawin-mawin antarsuku juga menjadikan semua suku saudara karena bisa menjadi hula-hula, boru, atau dongan sabutuha.

Konsep ini juga bermakna tiga ungkapan, yaitu Somba Marhula-hula (memberi hormat kepada keluarga istri), Elek marboru (mengayomi perempuan atau istri), dan Manat mardongan tubu (bersikap hati-hati atau sopan santun kepada saudara semarga).

“Bila orang Batak tidak mengindahkan tiga ungkapan itu, dia bisa dianggap melanggar adat dan hilang kehormatannya,” kata Welly Manurung (30), warga Tapanuli Utara.

Dalam beberapa kasus konflik antarpribadi, konsep Dalihan Na Tolu secara efektif juga bisa untuk menyelesaikan persoalan. Kedua pihak dipertemukan, kemudian dirunut silsilah keluarga dan sejarah kawin-mawin-nya. Ujung-ujungnya, ternyata masih segaris keluarga sehingga mereka bisa berdamai.

Tradisi ini cukup kuat menjaga keutuhan kekerabatan. Akibatnya, tak boleh dilanggar. “Lebih baik dianggap tak beragama daripada tak beradat.” Dengan nilai universalnya, Dalihan Na Tolu, secara mondial, bisa juga menyelesaikan pertikaian.
(Kompas cetak, 2 Jan 2013)

Waspadai: Keputusan bersama Pemuda Jihad FPI & Dewan Forum Betawi Rempug: PEMBANTAIAN!


(Link : Http://betawi-jaya.mywapblog.com)

Keputusan bersama Pemuda Jihad FPI & Dewan Forum Betawi Rempug!

by Doel Rempug Master on 03:12 PM, 25-Mar-12

Salinan email milis FBR & Pemuda jihad Indonesia
(Rempug-admin@RoemahRempug.org)

Dewan Betawi Rempug wrote:

Bakar ormas Key dan CINA BEKINGNYA, bantai dan abisin aje dari pulau Jawa, tundukan ormas Hindu sesat, salbis ISA anjing, ormas Budha Bangsat, Lumatkan ormas CINA anjing lintah negara, Bante ormas ambon , ormas timor , ormas papua , BETAWI JAYA SELALU!!

Terutama darahnye kaum CINA Kafir halal untuk di minum saatnye kite goncang JAKARTE dan tumpahkan darah kafir CINA, Hindu, Budha sesat dan PEMUDA KEY yang merusak bangsa dimane2!! Ayo bersatu bangkitkan Jihad Islam!

SUDAH SAATNYE ANAK BETAWI BANGKIT!! ANJING CINA DAN AMBON KEY, BATAK DAN BUTON KITE BANTE HABIS DARI JABOTABEK!!!

TGL 27 MARET 2012 JAM 6
ANGGOTA REMPUG & PEMUDA JIHAD FPI WAJIB HADIR DI TEMPAT YANG DISEPAKATI KITE SIAP BIKIN
CINA & PARA KAFIR ANGKAT KAKI DARI JAKARTE! SESUAI HIMBAUAN KEPUTUSAN REMPUG DAN PEMUDA JIHAD SE-JABOTABEK.

Buat teman2 smua hati2 yah…pray for Indonesia .

Horas Gaya Jawa


Dalam menyampaikan pengantar pidato kenegaraan menyambut HUT ke-55 RI itu Gus Dur juga menyinggung soal keragaman etnis di Indonesia. Maka, kata Gus Dur, jangan heran kalau ada anggota DPR yang berasal dari Sumatra Utara menyapa dengan horas sebagai salam hangat perkawanan.

Sebagai orang yang berasal dari suku Batak, Ketua DPR Akbar Tandjung tak mau kalah dengan Gus Dur yang berasal dari suku Jawa itu. Maka, selesai Gus Dur memberikan pidato, Akbar pun langsung menimpali.

“Saya juga orang Batak,” kata Akbar, yang beristri orang Solo. “Tapi, kalau orang Batak seperti saya, yang sudah lama di Jawa, akan beda menguncapkannya.”

Lho, di mana pula letak perbedaannya, Bah? “Ya, orang Batak yang lama di Jawa seperti saya ini akan mengatakan horaaa…s,” ujar Akbar dengan nada lembut. (ahm)

Sumber: http://news.okezone. com/GUSDUR/index.php/ReadStory/2009/02/09/64/190795/horas-gaya-jawa

“Blogger” itu Belum Tentu Orang Batak, Kata Roy Suryo


“Blogger” itu Belum Tentu Orang Batak, Kata Roy Suryo

Jakarta (ANTARA News) – Roy Suryo yang dikenal luas sebagai pengamat telematika mengungkapkan kalau “blogger” pemilik alamat blog http://lapotuak.wordpress.com yang menggemparkan masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, belum tentu orang yang beretnis Batak.

“‘Blogger’ itu belum tentu orang Batak. Orang itu bisa siapa saja, yang jelas punya motif yang tidak baik dan ingin mengadu domba antarumat beragama serta mendeskreditkan etnis Batak,” papar Roy di Jakarta, Rabu.

Ia menanggapi tentang sebuah blog yang isinya rangkaian cerita kartun yang isinya sangat melukai umat Islam dan menghina Nabi Muhammad SAW sebagai panutan umat Islam. Blog itu disebarluaskan oleh orang tak bertanggung ke alamat wordpres.com.

Menurut Roy, kelakuan “blogger” tersebut memang sudah keterlaluan karena dengan seenaknya men-“scan” kartun itu untuk memancing konflik horizontal. Sebab itu, Roy menyarankan agar umat Islam menahan diri dan menyerahkan masalah ini pada pihak kepolisian.

“Ini jelas motifnya memancing isu SARA. Saya sudah berpengalaman ‘perang’ dengan para ‘blogger’ dan saya tekankan, belum tentu ‘blogger’ tersebut orang Batak.
Kepolisian memiliki unit ‘cyber crime’, Biar lah mereka yang mengusutnya karena ini sudah masuk kategori ‘cyber crime’,” tutur caleg dari Partai Demokrat itu.(*)

COPYRIGHT © 2008

Sumber: www. antara.co.id

Presiden Menyanyi Lagu Batak di Pesta Toba


_PARAPAT, SUMUT, JUMAT–Setelah menyaksikan sederetan pergelaran seni dan budaya pada puncak acara dan penutupan Pesta Danau Toba 2008, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melantunkan lagu Batak berjudul Nasonang Do Hitana Dua.

Pada saat Presiden melantunkan bait pertama lagu itu, ribuan anggota masyarakat yang memadati Lapangan Pagoda, Parapat, Sumut, Jumat malam langsung memberikan sambutan berupa tepuk tangan.

Tidak itu saja, sejumlah menteri yang mengikuti menghadiri acara itu juga ikut bernyanyi bersama Presiden dan Ibu Negara Ani Yudhoyono dengan artis ibukota berdarah Batak, Joy Tobing.

Ribuan anggota masyarakat baik yang berada di dalam maupun luar lapangan secara spontan mengikuti iringan musik dan bersama-sama menyanyikan lagu batak yang artinya dalam bahasa Indonesia yakni
diantara kita berdua senang.

Selain acara hiburan pada puncak acara Pesta Danau Toba itu juga diisi dengan lahirnya rekor baru dari Museum Rekor Indonesia (MURI) terhadap ulos (kain khas batak, red) terpanjang di Indonesia dan dunia dengan panjang 55 meter dan lebar 84 centimeter.

Ulos terpanjang itu dibuat oleh wanita batak yang bernama Monang bru Sibarani warga Desa Huta Na Gundang Pitu Batu, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba Samosir selama 750 jam atau 2,5 bulan.

Dalam kesempatan itu, Jaya Suprana, menyerahkan langsung piagam MURI kepada Gubernur Sumatera Utara H Syamsul Arifin dan pria berkaca mata itu menilai Syamsul Arifin sebagai kepala daerah terlucu yang pernah ditemuinya.( ANT)

JY
http://entertainmen t.kompas. com/read/ xml/2008/ 07/19/01503626/ presiden. menyanyi. lagu.batak. di.pesta. toba_._,_.___