Aksi Pelemparan Batu oleh FPI


Rekan AKKBB,
Hari ini, Kamis 25 September 2008, terjadi aksi pelemparan batu oleh FPI kepada para aktivis AKKBB.
Peristiwa diawali dengan penolakan AKKBB untuk melanjutkan persidangan karena tidak adanya jaminan keamanan kepada para saksi. Untuk menegaskan sikap ini, kami melakukan Konferensi Pers. Setelah konfpress selesai dan kami beranjak meninggalkan pengadilan, tiba-tiba dari arah berlawanan muncul
segerombolan FPI berlari dan melakukan aksi pelemparan batu. Sebagian rekan AKKBB masuk dan berlindung di Gedung PELNI yang lokasinya tidak jauh dari pengadilan.

BANSER NU yang bertugas menjaga keamanan AKKBB, mencoba bertahan. Namun karena FPI terus melakukan pelemparan batu, akhirnya Banserp pun membalas sehingga terjadi baku lempar antara mereka.

Polisi tidak bertindak tegas, padalah keadaan sudah genting. Akibatnya, salah seorang anggota Banser yang bernama Hardi mengalami luka kepala bocor. Santri Gus Nuril tersebut dilarikan ke R.S Tarakan oleh Hendrik dari PBHI.

Demikian sekilas info AKKBB Mohon dukungan rekan-rekan.

Salam,
ICRP

Pemukulan dan Pelecehan Seksual oleh Anggota FPI terhadap Nong Darol Mahmada, Aktivis AKKBB


Siaran Pers

Aliansi Kebangsaan  untuk Kebebasan Beragama  dan Berkeyakinan (AKKBB)
Tentang: Pemukulan dan Pelecehan Seksual terhadap  Nong Darol Mahmada aktivis AKKBB

Senin 15 September 2008, Nong
Darol Mahmada aktivis AKKBB yang mengkoordinir saksi-saki dari AKKBB hadir
dalam sidang Tragedi Monas Berdarah dengan para terdakwa Rizieq Shihab,
Munarman, Mahsuni Kaloko, dan 7 orang laskar Front Pembela Islam (FPI). Sidang
mereka dilaksanakan secara terpisah. Saksi-saksi dari AKKBB yang hadir waktu
itu di antaranya: Ninok Graciano, Oming,  Bernard, Didi, dan Edi Juwono.

Pada pukul 17.00 digelar
persidangan dengan terdakwa Munarman di ruang sidang Mr. R. Wirjono Projodikoro
lantai 2 Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Nong berada di ruang sidang menyimak
keterangan saksi dari AKKBB: Bernard. Saat itu, Nong dipanggil oleh Guntur
Romli, saksi korban dari AKKBB yang berada di teras ruang sidang. 

Guntur melihat tujuh terdakwa dari laskar FPI yang berseragam putih-putih, bersepatu bot, dan mengenakan baret yang pada saat itu mereka telah menyelesaikan persidangannya, namun tujuh terdakwa
dari laskar FPI itu bebas berkeliaran di teras dan halaman ruang sidang. Guntur juga melihat mereka dengan bebasnya turun naik gedung persidangan. 

Di antara tujuh terdakwa itu tidak terlihat ada pengawalan dari aparat kepolisian ataupun kejaksaan. Mereka
bebas ngobrol dan bercanda dengan massa dari FPI di teras ruang sidang. Guntur heran, mengapa tujuh terdakwa itu bisa bebas berkeliharan, semestinya setelah sidang mereka selesai, mereka dikembalikan ke ruang tahanan, bukan bebas berkeliaran apalagi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, karena di pengadilan
tersebut yang hadir tidak hanya massa dari PFI, tapi juga dari AKKBB. Berkeliarannya tujuh laskar terdakwa FPI itu jelas-jelas mengancam saksi-saksi AKKBB yang pada sidang sebelumnya memberikan kesaksian untuk mereka. 

Melihat kejanggalan itu, Guntur mengajukan protes pada seorang polisi di tempat itu namanya Jamal Alkatiri, anggota Polres Jakarta Pusat. Guntur bilang, “Pak, itu tujuh terdakwa dari FPI kok bisa bebas berkeliaran?” Jamal, oknum polisi itu malah balik bertanya, “siapa bilang mereka terdakwa, mereka itu pendamping, kamu siapa?” tanya Jamal dengan nada yang membentak. Guntur menjawab, “saya saksi korban dari AKKBB, saya sangat tahu mereka terdakwa, bukan pendamping”. Jawaban Guntur tidak
memuaskan Jamal Alkatiri, malah Jamal semakin meninggikan suaranya, “kamu mau
apa!” Ucapan dengan nana tinggi itu diteriakkan berulang-ulang, sehingga
memancing perhatian massa FPI dan tujuh terdakwa dari FPI.
 

Guntur lantas minta tolong temannya untuk memanggil Nong agar menelpon pihak kejaksaan untuk menanyakan berkeliarannya tujuh terdakwa FPI itu. Nong datang, dan berusaha menjelaskan ke
Jamal, namun Jamal tidak peduli, dengan wajah yang marah, dia terus mendekati Guntur sambil teriak-teriak. Untungnya ada staf Kejaksaan yang pada waktu itu lewat, dan Nong bertanya, “benarkah tujuh orang yang berseragam itu terdakwa?”,staf kejaksaan itu menjawab “iya”. 

Teriakan Jamal Alkatiri terus memancing perhatian, Jamal juga semakin mendekat ke Guntur, seseorang yang memakai pakaian kemeja baris-baris yang berusaha menghalang-halangin ya malah didorong
dengan paksa oleh Jamal. Massa FPI dan tujuh terdakwa dari laskar FPI itu terus mendekat: mengepung Guntur dan Nong yang terpojok di depan ruang saksi. Guntur dan Nong tidak bisa menghindari, massa FPI mengepung dari arah depan, kanan dan kiri, sementara di belakang Guntur dan Nong pagar batas lantai dua, mereka berdua bisa jatuh ke halaman Pengadilan Negeri. 

Pada saat itu, seorang laki-laki memukul kepala Nong, dan dengan cepat laki-laki itu mundur sambil merunduk, dan menghilang di kerumunan. Seorang laki-laki lain yang dikenal, menggerayangi
pinggang dan perut Nong, mencakar dan mencubit. Seorang laki-laki lain memukul
perutnya. 

Guntur dan Nong diselamatkan oleh aparat yang berpakaian safari cokelat dan dibawa ke ruang saksi, namun di ruang saksi tujuh terdakwa dari laskar FPI sudah berada di sana sambil teriak-teriak dan memaki-maki Nong, salah seorang dari mereka juga berusaha mengejar dan memukul Nong. Karena di ruang saksi lantai 2 tidak kondusif, Nong dan Guntur dibawa ke ruang saksi di lantai 1.

Dari peristiwa itu ada tiga hal: 
Pertama, telah terjadi pemukulan dan pelecehan seksual terhadap Nong Darol Mahmada yang dilakukan oleh
massa FPI. 

Kedua, aparat (kejaksaan dan kepolisian) telah membiarkan tujuh terdakwa dari laskar FPI bebas berkeliaran tanpa pengawalan di ruang sidang, seharusnya setelah sidangselesai, mereka dikembalikan ke ruang tahanan.

Ketiga, aparat kepolisian yang seharusnya melindungi saksi korban, malah terlibat provokasi
seperti yang dilakukan oleh oknum polisi bernama Jamal Alkatiri, dengan sikapnya yang arogan dia memancing massa FPI untuk melalukan kekerasan dan intimidasi terhadap massa dan saksi AKKBB

maka, kami dari AKKBB mengecam dan mengutuk anggota FPI yang telah melakukan pemukulan dan pelecehan seksual. Kami juga menuntut kepada beberapa pihak: 

Pertama, kepada Rizieq Shihab sebagai ketua FPI untuk meminta maaf secara terbuka atas nama anak-anak
buahnya yang kemaren berlaku kurang ajar: memukuli dan melecehkan Nong, permintaan maaf tersebut harus dimuat di semua media pers nasional,

Kedua, jika dalam tempo 3×24 jam tuntutan pertama tersebut tidak dipenuhi, maka kami akan
laporkan/adukan pidana kepada Polisi agar anak-anak buahnya itu ditangkap dan diproses hukum,

Ketiga, kepada pihak kepolisian agar melakukan evaluasi terhadap sistem keamanan mereka; melindungi
saksi (khususnya korban yang jadi saksi), menindak oknum polisi yang malah melakukan provokasi dalam peristiwa tersebut, dan menindak massa FPI yang telah melakukan pemukulan dan pelecehan terhadap Nong Darol Mahmada, 

Keempat, kepada pihak kejaksaan agar melindungi saksi (khususnya korban yang menjadi saksi), dan
tidak membiarkan para terdakwa bebas berkeliaran di arena persidangan.

Jakarta, 16 September 2008 

CP:
Asfinawati 0812-821-8930

Lembaga-lembaga yang mendukung
AKKBB:

Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), National Integration Movement (NIM), the Wahid Institute,Kontras, LBH Jakarta, PBHI Jakarta, Tim Pempela Pancasila, Yayasan Jurnal Perempuan (YJP), Jaringan Islam Kampus (JaRiK), Lembaga Studi Agama dan Filsafat (eLSAF), Kongkow Bareng Gus Dur, Generasi Muda Antar Iman, Crisis Center Gereja Kristen Indonesia, Institut DIAN/Interfidei, Masyarakat Dialog
Antar Agama (MADIA), Komunitas Jatimulya, ILRC, eLSAM, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika, Jaringan Islam Liberal, Lembaga Kajian Agama dan Jender, Pusaka Padang, Yayasan Tunas Muda Indonesia, Konferensi Waligereja Indonesia, Komunitas Utan Kayu, Anand Ashram, Gerakan Anti Diskriminasi Indonesia (GANDI), Persekutuan Gereja-gereja Indonesia, Forum Mahasiswa Ciputat, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Gerakan Ahmadiyah Indonesia, Tim Pembela Kebebasan Beragama, El_Ai_Em Ambon, Yayasan Ahimsa (YA) Jakarta, Gedong Gandhi Ashram (GGA) Bali, Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), Dinamika Edukasi Dasar (DED) Jogjakarta, Forum Persaudaraan Antar-Umat Beriman Jogjakarta, Forum Suara Hati Kebersamaan Bangsa (FSHKB) Surakarta, SHEEP Indonesia Jogjakarta, Forum Lintas Agama Jawa Timur Surabaya, Lembaga Kajian Agama dan Sosial Surabaya, LSM Adriani Poso, PRKP Poso, Komunitas Gereja Damai, Komunitas Gereja Sukapura, GAKTANA, Wahana Kebangsaan,
Komunitas Penghayat, Forum Mahasiswa Syariah se-Indonesia NTB, Relawan untuk
Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (REDHAM) Lombok, Forum Komunikasi Lintas Iman
Gorontalo, Crisis Center SAG Manado, LK3 Banjarmasin, Forum Dialog Antar Kita
(FORLOG-Antar Kita) Sulawesi Selatan Makassar, Jaringan Antar-iman se-Sulawesi,
Forum Dialog Kalimantan Selatan (FORLOG KALSEL) Banjarmasin, PERCIK Salatiga,
Sumatera Cultural Institut Medan, Muslim Institut Medan, PUSHAM UII Jogjakarta,
Swabine Yasmine Flores-Ende, Komunitas Peradaban Aceh, AJI Damai Yogyakarta,
LBH Padang, Lensa NTB, PP Fatayat NU, Kapal Perempuan, Aliansi Masyarakat Depok
Cinta Damai, AKUR Bandung, AKUR NTB, IPTP, Rumah Indonesia, Gerakan Nurani Ibu