Lumpuhnya Kepemimpinan


OLEH SOEGENG SARJADI

Matikan radio dan televisi. Berhentilah membaca koran. Apakah Indonesia menjadi tampak indah dan damai dengan rakyat yang tersenyum simpul karena bahagia?

Jawabnya ternyata tidak. Ketika semua alat komunikasi dimatikan dan kita mencoba menjauh dari persoalan, ibu-ibu penjual sayur, sopir taksi, dan pedagang kaki lima—sekadar menyebut beberapa contoh—menyuarakan jeritan hati bahwa beban hidup saat ini semakin berat.

Harga beras semakin mahal, premium langka di banyak tempat, dan tawuran serta kekerasan terjadi di mana-mana. Biaya pendidikan dan kesehatan pun tidak murah, sementara para politikus dan penegak hukum berlomba mengorupsi uang negara. Dengan sejumlah indikator tersebut, Indonesia sebenarnya sedang memasuki sebuah krisis baru, yaitu krisis kepemimpinan. Krisis tersebut menyeret ketidakpastian hidup rakyat dan hanya mungkin terjadi apabila kepemimpinan nasional tidak efektif.

Saya menduga, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan kebanyakan penguasa saat ini alam bawah sadarnya dikerangkeng oleh mimpi masa kecil yang salah penerapan. Seperti harapan para orangtua, mereka menginginkan anaknya ”menjadi orang” (menjadi pejabat). Sayang sekali, tafsir ”menjadi orang” tersebut sebatas menikmati kekuasaan dan bukan bekerja keras untuk rakyat. Pendeknya, kebanyakan elite kita cita-citanya lebih kecil dari dirinya sendiri.

Fenomena ”tiji tibeh”

Bandingkan secara ekstrem karakter Presiden Yudhoyono dan para politisi sekarang dengan para bapak bangsa. Ternyata tidak bisa dibandingkan. Para pendiri republik mempunyai cita-cita yang dipegang teguh, hidup sederhana, dan siap mati demi mempersiapkan jembatan emas kemerdekaan Indonesia. Dalam lingkaran energi seperti itu, ideologi Pancasila benar-benar memancar dalam semangat kesejatiannya dari sila Ketuhanan yang Maha Esa sampai Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Sebaliknya, para politikus masa kini tak lebih dari orang-orang tanggung. Mereka menjadi politikus bukan karena gejolak hati ingin menegakkan peri kehidupan dan kemerdekaan bangsa serta pencapaian kebahagiaan bersama, melainkan ingin menumpuk kekayaan dan merengkuh kekuasaan. Indikasinya bisa dilihat dari banjir pesan layanan singkat (SMS) yang dikirim Nazaruddin mengenai aliran dana politik untuk para figur utama Partai Demokrat.

Jika apa yang dikemukakan Nazaruddin itu benar, Republik ini tinggal menunggu ambruknya. Para politikus muda, yang semula diharapkan membawa Indonesia menjadi berdaulat, berdikari, dan berbudaya, ternyata menjadi anak muda tanggung yang hanya ingin segera cepat kaya. Sementara para seniornya sekadar menikmati kekuasaan dan menebar citra serta pidato tanpa makna. Ironinya, Yudhoyono lebih sibuk mengurusi SMS dan persoalan partai daripada masalah besar bangsa.

Karakter kepemimpinan yang dikendalikan oleh keadaan seperti itu membuat bangsa ini kehilangan arah. Indikasinya, Pancasila pun menderita karena dijadikan pelesetan untuk menggambarkan realitas kekinian kita.

Alhasil, kelima silanya pun berubah jadi Keuangan yang Mahakuasa; Korupsi yang Adil dan Merata; Persatuan Mafia Hukum Indonesia; Kekuasaan yang Dipimpin oleh Persekongkolan dan Kepura-puraan; serta Kenyamanan Sosial bagi Seluruh Keluarga Pejabat dan Wakil Rakyat.

Apakah pelesetan itu salah? Hati Anda pasti menjawab tidak. Apakah itu menyimpang dari realitas kehidupan kebangsaan kita saat ini? Nurani Anda pasti juga menjawab tidak.

Itulah alasan mengapa saya mengatakan, bagi Yudhoyono dan Partai Demokrat, sekarang adalah the beginning of the end of an era. Dengan semua skandal yang informasinya digelontorkan oleh Nazaruddin, ibarat serangan virus Guillain-Barre syndrome yang ganas, tidak tertutup kemungkinan Yudhoyono dan Partai Demokrat secara perlahan akan lumpuh. Kalau masih mau selamat, amputasi perlu segera dilakukan.

Akan tetapi, sekali lagi, Yudhoyono tidak tepat mengambil sikap. Konferensi pers yang dilakukan pada Senin (11/7) malam tidak membawa efek apa pun di hadapan publik. Bahkan muncul guyonan, ternyata Yudhoyono adalah juru bicaranya Anas Urbaningrum. Semua itu terjadi karena Yudhoyono tidak tampil biasa saja. Ia tidak memberi tempat kepada yang muda untuk maju ke depan dan belajar bertanggung jawab. Padahal, masalah partai itu sebenarnya bisa diselesaikan sambil minum kopi pagi, ketika masih memakai piyama karena baru bangun tidur, seperti yang dahulu dilakukan Bung Karno.

Sementara itu, serangan Nazaruddin sudah sampai puncaknya. Semangatnya sudah ”tiji tibeh” (mati siji mati kabeh, mati satu mati semua). Tidak tertutup kemungkinan bukan saja nama-nama seperti Andi Mallarangeng, Angelina Sondakh, Anas Urbaningrum, dan Edhie Baskoro Yudhoyono yang ditembak, tetapi juga nama-nama lain yang lebih besar. Sekali lagi, menurut hipotesis saya, ini adalah the beginning of the end of an era bagi Yudhoyono dan Partai Demokrat.

”Lame duck”

Semua kegaduhan dan ketidakpastian itu terjadi karena—sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan—Yudhoyono seperti orang yang tidak berdaya. Ia menjadi lame duck. Padahal, harapan 60 persen pemilih dititipkan di atas pundaknya. Di dalam keluarga orang-orang yang menaruh harapan itu, ada bayi, anak kecil, dan manula. Kebanyakan dari mereka tentu saja hidup dalam kemiskinan dan kekurangan.

Jika mereka terus disia-siakan dan bangsa ini tidak segera dipandu untuk menjadi optimistis, sebagai mantan aktivis Angkatan 66, saya khawatir gerakan penggulingan oleh aktivis dan mahasiswa mungkin saja terjadi. Biarlah sejarah yang menjawabnya.

Soegeng Sarjadi Pendiri Soegeng Sarjadi Syndicate ​
(Kompas, 14 Juli 2011)

M. FADJROEL RACHMAN: JIWA INDONESIA MUDA YANG MERDEKA


Risalah Dukungan Politik Kebudayaan

M. FADJROEL RACHMAN
JIWA DARI KEHENDAK UNTUK HIDUP MERDEKA, DARI SEBUAH INDONESIA MUDA YANG MERDEKA

Nama M. Fadjroel Rachman menyeruak ke dalam ingatan saya, saat suatu malam yang larut, saya dengan Sutardji Calzoum Bachri masih duduk-duduk di warung Alek Tim – tempat nongkrongnya para seniman itu. Fadjroel mampir bersama Tommy F Awuy, budayawan yang kini membuka warung lukisan di Kemang.

Mereka mampir ke meja kami.

Dari habis nonton, kata Fadjroel sambil senyum.
Jadi inilah orang yang pernah ditangkap itu. Saya masih belum tahu kalau dia sudah membuat buku puisi – sebuah buku puisi yang sangat kuat menyerukan kemanusiaan dari sudut bukan hanya bahasa puisi yang berindah, tapi luput dari kenyataan hidup. Tapi ini sebuah buku puisi dari kehidupan yang keras – sebuah dunia politik Orde Baru yang telah ramai membentuk “piramida kurban manusia”.

Entah mengapa saya langsung terkenang Sukarno – tokoh yang saya kagumi, sebagai pribadi yang memiliki banyak sisi. Sukarno pun suka film, kata saya. Suka lukisan dan bahkan, konon, demikian kawan saya pernah mengatakan, pernah pula membuat cerita-cerita pendek.

Jadi seniman.

Waktu Sukarno dibuang ke Bengkulu, tokoh besar ini pernah pula membuat naskah sandiwara.

Jadi seniman.
Jadi inspiratif.

Jadi begitulah orang keras kepala itu membuat Indonesia Menggugat dan menggerakkan sebuah teks besar ke dalam laku bangsa: Revolusi Inonesia yang telah mengguncangkan dunia.

Jadi sebuah perubahan, atau angan-angan akan perubahan, datang dari sebuah kemampuan imajinatif, yang terberi dari rahim mereka yang berjiwa seni – sebuah rahim yang dimasak oleh kehidupan – dimatangkan oleh kawah kehidupan politik kebangsaan yang keras.

Imajinasi, berpikir imajinatif, seperti yang saya lihat dalam diri tokoh pemberontak abadi semacam Che (Rimbaud itu Che-nya sastra, begitu SMS Fadjroel kepada saya, saat saya ingatkan dia itu “Rimbaud”-nya politik), atau penyair yang menjadi presiden di Eropa Timur itu, atau ya, seperti Sukarno itu sendiri. Mereka yang mampu mewujudkan pemikiran imajinatif – sesuatu yang masih in absentia. Belum hadir. Tapi dalam bayangan imajinasinya, seperti telah tergenggam tangan. Sudah milik kita saat ini dan sekarang ini.

Maka kemerdekaan itu, janganlah ditunda lagi.

Dan imajinasi semacam itulah, saya lihat dalam diri seorang Fajdroel Rachman.

Tetapi imajinasi bisa dipatahkan oleh sebuah kehidupan politik yang keras, dan makin mengeras, saat imajinasi dari anak-anak muda yang dicoba ke dalam aksi-aksi mahasiswa yang radikal, pada zaman Orde Baru itu.
Lalu apakah hasilnya? Anak-anak muda itu ditangkapi dan dijebloskan ke dalam penjara.

Dari tempat saya berdiri, dunia sastra, saya mengamati lalu-lintas tokoh-tokoh di Indonesia. Menilainya dengan sebuah perbandingan, dan bahkan banyak perbandingan. Dari sejarah masa lalu maupun sejarah yang dekat-dekat di seputar kita.

Saya mencari buku puisinya Fadjroel, Catatan Bawah Tanah, yang langsung pula mengingatkan saya dengan Catatan Subersiv Mochtar Lubis, atau kisah-kisah pembangkangan yang kerap lahir di bawah rejim bengis di Uni Soviet itu. Juga di Cina.

Semua catatan-catatan itu mengandung dan memendam sama. Sama-sama merindukan kemanusiaan yang lebih baik, lebih cerah dan lebih bijak menangani apa yang disebut dengan paradoks dunia modern – rentang antara kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi, saat berada di tangan orang-orang politik dalam praktek, dalam hidup nyata, yang telah melahirkan kisah-kisah memilukan dari orang-orang yang kalah, atau dikalahkan.

Kekuasaan boleh mematahkan, atau mengalahkan, gerak dan gerik, atau percoban perlawanan. Tapi kekuasaan tidak bisa mematahkan, atau mengambil jiwa, dari kehendak untuk hidup merdeka.

Jiwa dan kehendak untuk hidup merdeka itu, terbaca dengan sejelas-jelasnya dari Catatan Bawah Tanah Muhammad Fajdoel Rachman. Yang telah dipotret dengan bagusnya oleh aktivis hukum Todung Mulya Lubis yang juga penyair. Barangkali karena sesama penyair, maka potret Mulya Lubis terhadap Fadjroel bagi saya, sama kuatnya dengan puisi yang telah dilahirkan oleh rahim Fadjroel Rahcman itu sendiri.

Dengarlah kata-kata penuh retorik perlawanan dari Mulya Lubis, dalam buku Fadjroel Catatan Bawah Tanah itu.

“Apakah yang dapat ditulis tentang seorang anak muda yang tengah mendekam dalam penjara selain rasa iba? Bayangkan, dalam usianya yang produktif, tak bisa bergerak selain dari satu sel ke sel lain, dari kamar mandi ke wc, dari dapur ke mushola. Tetapi rasa iba akan ditolak oleh anak muda ini karena di dalam penjara ini ia lebih arif dan menemukan darah kepenyairannya dan watak dirinya. Dengan getir ia mengungkapkan dirinya…”

Dan memang Fadjroel di dalam penjara itu bukan menghiba-hibakan dirinya, tapi menemukan bentuk pemberontakan dirinya ke dalam kata-kata. Ke dalam puisi. Yang jiwa kata dan pusinya, adalah jiwa kata dan puisi dari hidup yang dirasakan oleh banyak orang. Mereka yang kalah dan dikalahkan oleh sejarah sebuah orde. Sebuah tata yang membenamkan siapa saja yang hendak berbeda. Yang menyemaikan diri ke dalam apa yang disebut sebagai kemiskinan, sebagai mereka orang-orang kalah di kota besar, di desa-desa, yang oleh konstitusi diwakilkan melalui bahasa “bumi dan alam milik rakyat tercinta, dikuasai oleh negara untuk sebesarnya bagi kemakmuran bersama”.

Tetapi negara telah mengambil semuanya. Meratakan semuanya mereka yang ingin melawannya.

Maka berteriaklah Fadjroel di jalanan dan di dalam penjara, menyuarakan pemberontakannya, dan kita mendengar sebuah suara dari mulut anak muda yang rindu akan kebenaran, dari hidup yang selalu mengelak untuk menjadi benar.

Apa kabar ikan asin, sayur kangkung dan segelas
teh pahit di cangkir berkarat?
Apakah sebenarnya yang mengikat engkau dan
aku?
Kesetiaan, cita-cita atau sekedar lapar dan
kebahagiaan kecil?

Kita melihat seorang Fadjroel sedang memandangi nasib dirinya. Ah, tidak, nasib bangsanya.

Kita melihat seorang Fadjroel sedang memandangi nasib bangsanya.
Dan nasib bangsa itu dipotretnya dalam sebuah sejarah yang merentang jauh. Dalam sebuah puisinya bertajuk Sketsa Penjara XXII, ia menalikan juga perjuangan batinnya ke dalam gerbong sejarah itu – Sukarno, narapidana blok timur atas nomor 01

Pandangilah, namun jangan menitikkan airmata
Di luar jendela-jeruji selmu, di luar jendela-jeruji
selku.
Serdadu-serdadu berbaris dalam
mimpi bayi-bayi dan anak-anak bangsamu
Serdadu-serdadu berbaris mencincang akal
budi bayi-bayi dan anak-anak bangsamu;
Langit, bebatuan, rerumputan dan udara yang
kita hisap mengucurkan darah
menenggelamkan segala impian manusia

Kini orang ramai berupaya, kini orang ramai hendak merayakan perubahan atas negeri sendiri. Orang-orang tak lagi hendak menjadi budak dalam belenggu oleh bangsa sendiri.

Saya teringat suatu malam, saat saya dan Fadjroel hendak menghadang sebuah belenggu atas nama pemikiran tertantu dalam bidang budaya (ah, budaya! bukankah engkau juga akan bergesek-gesekan dengan segala denyut dari debu hidup, hidup yang nyata!), saya merancang sebuah memo dan Fadjroel secepat kilat mengirimkan kabar: brengkets, kirimlah ke seluruh dunia!

Itulah dunia memo. Dunia catatan. Dunia ingatan. Dunia Memo Indonesia. Dari sebentuk kehendak untuk bebas, menyongsong Indonesia Muda yang baru, bebas dari belenggu penjajahan pemikiran dari arah-arah manapun.

Tapi itulah juga pribadi dari M. Fajdroel Rachman, rajawali politik yang mengepakkan sayapnya sendiri, dalam asap gelap perpolitikkan Indonesia, dan politik dunia juga.

Sebuah napas segar telah ditiupkan ke paru-paru anak negeri sendiri. Dari seorang yang tidak kehilangan rasa humor meskipun saat-saat kelam sedang mendera hidupnya, seperti terbaca dalam puisi Sketsa Penjara II ini – doa manis buat Tuhan.

Dari ujung sel kudengar lagu dangdut merintih-
rintih tentang penderitaan hidup, lalu
kudengar desah genit si penyair wanita,
“Salam kompak selalu dan selamat
menempuh hidup baru buat X di jalan Y dari
gadis Z di gubuk derita”.

“Hai siapakah yang berbahagia dan
Siapakah yang menderita?”

Majulah, majulah maju Rajawali Politikku, kepakkan sayapmu dan keluarkan kami dari gubuk derita ini.

Jemputlah Indonesia Muda kita itu.

(Hudan Hidayat)
– Manajer Kampanye M. Fadjroel Rachman untuk Presiden RI 2009

Kisah Menarik Seputar Kemerdekaan Indonesia


Mungkinkah Revolusi Kemerdekaan Indonesia disebut sebagai revolusi dari kamar tidur?

Coba simak ceritanya.

Pada 17 Agustus 1945 pukul 08.00, ternyata Bung Karno masih tidur nyenyak di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Dia terkena gejala malaria tertiana. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda.
“Pating greges”, keluh Bung Karno setelah dibangunkan dokter kesayangannya.

Kemudian darahnya dialiri chinineurethan intramusculair dan menenggak pil brom chinine. Lalu ia tidur lagi. Pukul 09.00, Bung Karno terbangun. Berpakaian rapi putih-putih dan menemui sahabatnya, Bung Hatta. Tepat pukul 10.00, keduanya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari serambi rumah.

“Demikianlah Saudara-saudara! Kita sekalian telah merdeka!”, ujar Bung Karno di hadapan segelintir patriot-patriot sejati. Mereka lalu menyanyikan lagu kebangsaan sambil mengibarkan bendera pusaka Merah Putih.

Setelah upacara yang singkat itu, Bungk Karno kembali ke kamar tidurnya. masih meriang. Tapi sebuah revolusi telah dimulai…

**********************

Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ternyata berlangsung tanpa protokol, tak ada korps musik, tak ada konduktor dan tak ada pancaragam.
Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara. Tetapi itulah, kenyataan yang yang terjadi pada sebuah upacara sekaral yang dinanti-nanti selama lebih dari tiga ratus tahun!

***********************

Bendera Pusaka Sang Merah Putih adalah bendera resmi pertama bagi RI.
Tetapi dari apakah bendera sakral itu dibuat? Warna putihnya dari kain sprei tempat tidur dan warna merahnya dari kain tukang soto!

***********************

Setelah merdeka 43 tahun, Indonesia baru memiliki seorang menteri pertama yang benar-benar “orang Indonesia asli”. Karena semua menteri sebelumnya lahir sebelum 17 Agustus 1945. Itu berarti, mereka pernah menjadi warga Hindia Belanda dan atau pendudukan Jepang, sebab negara hukum Republik Indonesia memang belum ada saat itu. “Orang Indonesia asli” pertama yang menjadi menteri adalah Ir Akbar Tanjung (lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 30 Agustus 1945), sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga pada Kabinet Pembangunan V (1988-1993).

Fahmi: sekarang AT mah jadi tukang korupsi…

***********************

Menurut Proklamasi 17 Agustus 1945, Kalimantan adalah bagian integral wilayah hukum Indonesia. Kenyataannya, pulau tersebut paling unik di dunia.
Di pulau tersebut, ada 3 kepala negara yang memerintah! Presiden Soeharto (memerintah 4 wilayah provinsi), PM Mahathir Mohamad (Sabah dan Serawak) serta Sultan Hassanal Bolkiah (Brunei).

************************

Hubungan antara revolusi Indonesia dan Hollywood, memang dekat.

Setiap 1 Juni, selalu diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila semasa Presiden Soekarno. Pada 1956, peristiwa tersebut “hampir secara kebetulan” dirayakan di sebuah hotel Hollywood.

Bung Karno saat itu mengundang aktris legendaris, Marylin Monroe, untuk sebuah makan malam di Hotel Beverly Hills, Hollywood. Hadir di antaranya Gregory Peck, George Murphy dan Ronald Reagan (25 tahun kemudian menjadi Presiden AS).

Yang unik dari pesta menjelang Hari Lahir Pancasila itu, adalah kebodohan Marilyn dalam hal protokol.

Pada pesta itu, Maryln menyapa Bung Karno bukan dengan “Mr President” atau “Your Excellency”, tetapi dengan “Prince Soekarno!”

*************************

Ada lagi hubungan erat antara 17 Agustus dan Hollywood. Judul pidato 17 Agustus 1964, “Tahun Vivere Perilocoso” (Tahun yang Penuh Bahaya), telah dijadikan judul sebuah film The Year of Living Dangerously. Film tersebut menceritakan pegalaman seorang wartawan asing di Indonesia pada 1960-an.
Pada 1984, film yang dibintangi Mel Gibson itu mendapat Oscar untuk kategori film asing!

Fahmi: hebat…Indonesia bisa menjadi sumber inspirasi untuk membuat film….dapat penghargaan pula. Mudah2an peledakan bom Bali + JW Marriot ga dibikin filmnya…ntar dapat oscar utk semua kategori, hehehe..

*************************

Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, ternyata tidak pernah dimiliki dan disimpan oleh Pemerintah! Anehnya, naskah historis tersebut justru disimpan dengan baik oleh wartawan BM Diah.
Diah menemukan draft proklamasi itu di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik oleh Sajuti Melik.

Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut kepada Presiden Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.

************************

Ketika tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa 9 Juli 1942 siang bolong, Bung Karno mengeluarkan komentar pertama yang janggal didengar. Setelah menjalani pengasingan dan pembuangan oleh Belanda di luar Jawa, Bung Karno justru tidak membicarakan strategis perjuangan menentang penjajahan. Masalah yang dibicarakannya, hanya tentang sepotong jas!
“Potongan jasmu bagus sekali!” komentar Bung Karno pertama kali tentang jas double breast yang dipakai oleh bekas iparnya, Anwar Tjikoroaminoto, yang menjemputnya bersama Bung Hatta dan segelintir tokoh nasionalis.

*************************

Rasa-rasanya di dunia ini, hanya the founding fathers Indonesia yang pernah mandi air seni. Saat pulang dari Dalat (Cipanasnya Saigon), Vietnam, 13 Agustus 1945, Soekarno bersama Bung Hatta, dr Radjiman Wedyodiningrat dan dr Soeharto (dokter pribadi Bung Karno) menumpang pesawat fighter bomber bermotor ganda. Dalam perjalanan, Soekarno ingin sekali buang air kecil, tetapi tak ada tempat.

Setelah dipikir, dicari jalan keluarnya untuk hasrat yang tak tertahan itu. Melihat lubang-lubang kecil di dinding pesawat, di situlah Bung Karno melepaskan hajat kecilnya. Karena angin begitu kencang sekali, bersemburlah air seni itu dan membasahi semua penumpang. Byuuur…

***************************

Berkat kebohongan, peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus 1945 dapat didokumentasikan dan disaksikan oleh kita hingga kini.

Saat tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang merekam detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka. Dia bilang tak punya negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan.
Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah besar.

Padahal negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman Kantor harian Asia Raja. Setelah Jepang pergi, negatif itu diafdruk dan dipublikasi secara luas hingga bisa dinikmati sampai sekarang. Bagaimana kalau Mendoer bersikap jujur pada Jepang?

****************************

Kali ini, Bung Hatta yang berbohong demi proklamasi. Waktu masa revolusi, Bung Karno memerintahkan Bung Hatta untuk meminta bantuan senjata kepada Jawaharlal Nehru. Cara untuk pergi ke India pun dilakukan secara rahasia.
Bung Hatta memakai paspor dengan nama “Abdullah, co-pilot”.

Lalu beliau berangkat dengan pesawat yang dikemudikan Biju Patnaik, seorang industrialis yang kemudian menjadi menteri pada kabinet PM Morarji Desai.
Bung Hatta diperlakukan sangat hormat oleh Nehru dan diajak bertemu Mahatma Gandhi. Nehru adalah kawan lama Hatta sejak 1920-an dan Gandhi mengetahui perjuangan Hatta.

Setelah pertemuan, Gandhi diberi tahu oleh Nehru bahwa “Abdullah” itu adalah Mohammad hatta. Apa reaksi Gandhi? Dia marah besar kepada Nehru, karena tidak diberi tahu yang sebenarnya. “You are a liar !” ujar tokoh kharismatik itu kepada Nehru
****************************

Bila 17 Agustus menjadi tanggal kelahiran Indonesia, justru tanggal tersebut menjadi tanggal kematian bagi pencetus pilar Indonesia. Pada tanggal itu, pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, WR Soepratman (wafat 1937) dan pencetus ilmu bahasa Indonesia, Herman Neubronner van der Tuuk (wafat 1894) meninggal dunia.

***************************

Bendera Merah Putih dan perayaan tujuh belasan bukanlah monopoli Indonesia.
Corak benderanya sama dengan corak bendera Kerajaan Monaco dan hari kemerdekaannya sama dengan hari proklamasi Republik Gabon (sebuah negara di Afrika Barat) yang merdeka 17 Agustus 1960.

****************************

Jakarta, tempat diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia dan kota tempat Bung Karno dan Bung Hatta berjuang, tidak memberi imbalan yang cukup untuk mengenang co-proklamator Indonesia.

Sampai detik ini, tidak ada “Jalan Soekarno-Hatta” di ibu kota Jakarta.
Bahkan, nama mereka tidak pernah diabadikan untuk sebuah objek bangunan fasilitas umum apa pun sampai 1985, ketika sebuah bandara diresmikan dengan memakai nama mereka.

****************************

Gelar Proklamator untuk Bung Karno dan Bung Hatta, hanyalah gelar lisan yang diberikan rakyat Indonesia kepadanya selama 41 tahun! Sebab, baru 1986 Permerintah memberikan gelar proklamator secara resmi kepada mereka.

****************************

Kalau saja usul Bung Hatta diterima, tentu Indonesia punya “lebih dari dua” proklamator. Saat setelah konsep naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia rampung disusun di rumah Laksamana Maeda, Jl Imam Bonjol no 1, Jakarta, Bung Hatta mengusulkan semua yang hadir saat rapat din hari itu ikut menandatangani teks proklamasi yang akan dibacakan pagi harinya.

Tetapi usul ditolak oleh Soekarni, seorang pemuda yang hadir. Rapat itu dihadiri Soekarno, Hatta dan calon proklamator yang gagal : Achmad Soebardjo, Soekarni dan Sajuti Melik.
“Huh, diberi kesempatan membuat sejarah tidak mau”, gerutu Bung Hatta karena usulnya ditolak.

****************************

Perjuangan frontal melawan Belanda, ternyata tidak hanya menelan korban rakyat biasa, tetapi juga seorang menteri kabinet RI.

Soepeno, Menteri Pembangunan dan Pemuda dalam Kabinet Hatta, merupakan satu-satunya menteri yang tewas ditembak Belanda. Sebuah ujung revolver, dimasukkan ke dalam mulutnya dan diledakkan secara keji oleh seorang tentara Belanda. Pelipis kirinya tembus kena peluru.

Kejadian tersebut terjadi pada 24 Februari 1949 pagi di sebuah tempat di Kabupaten Nganjuk , Jawa Timur. Saat itu, Soepeno dan ajudannya sedang mandi sebuah pancuran air terjun.

****************************

Belum ada negara di dunia yang memiliki ibu kota sampai tiga dalam kurun waktu relatif singkat. Antara 1945 dan 1948, Indonesia mempunyai 3 ibu kota, yakni Jakarta (1945-1946), Yogyakarta (1946-1948) dan Bukittinggi (1948-1949).

****************************

Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia Jenderal Soedirman, pada kenyatannya tidak prnah menduduki jabatan resmi di kabinet RI. Beliau tidak pernah menjadi KSAD, Pangab, bahkan menteri pertahanan sekalipun!
****************************

Wayang ternyata memiliki simbol pembawa sial bagi rezim yang memerintah Indonesia. Betapa tidak, pada 1938-1939, Pemerintah Hindia Belanda melalui De Javasche Bank menerbitkan uang kertas seri wayang orang dan pada 1942, Hindia Belanda runtuh dikalahkan Jepang.

Pada 1943, Pemerintah Pendudukan Jepang menerbitkan uang kertas seri wayang Arjuna dan Gatotkoco dan 1945, Jepang terusir dari Indonesia oleh pihak Sekutu.

Paa 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan uang kertas baru seri wayang dengan pecahan Rp 1 dan Rp 2,5 dan 1965 menjadi awal keruntuhan pemerintahannya menyusul peristiwa G30S/PKI.

*****************************

Perintah pertama Presiden Soekarno saat dipilih sebagai presiden pertama RI, bukanlah membentuk sebuah kabinet atau menandatangani sebuah dekret, melainkan memanggil tukang sate !!!

Itu dilakukannya dalam perjalanan pulang, setelah terpilih secara aklamasi sebagai presiden. Kebetulan di jalan bertemu seorang tukang sate bertelanjang dada dan nyeker (tidak memakai alas kaki).

“Sate ayam lima puluh tusuk!”, perintah Presiden Soekarno.
Disantapnya sate dengan lahap dekat sebuah selokan yang kotor.

Dan itulah, perintah pertama pada rakyatnya sekaligus pesta pertama atas pengangkatannya sebagai pemimpin dari 70 juta jiwa lebih rakyat dari sebuah negara besar yang baru berusia satu hari.

*****************************

Kita sudah mengetahui, hubungan antara Bung Karno dan Belanda tidaklah mesra. Tetapi Belanda pernah memberikan kenangan yang tak akan pernah dilupakan oleh Bun Karno.

Enam hari menjelang Natal 1948, Belanda memberikan hadiah Natal di Minggu pagi, saat orang ingin pergi ke gereja, berupa bom yang menghancurkan atap dapurnya. Hari itu, 19 Desember 1948, ibu kota Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda.

******************************

Sutan Sjahrir, mantan Perdana Menteri RI pertama, menjadi orang Indonesia yang memiliki prestasi “luar biasa” dan tidak akan pernah ada yang menandinginya. Waktu beliau wafat 1966 di Zurich, Swiss, statusnya sebagai tahanan politik. Tetapi waktu dimakamkan di Jakarta beberapa hari kemudian, statusnya berubah sebagai Pahlawan Nasional Indonesia