KEBAHAGIAAN PERKAWINAN


KEBAHAGIAAN PERKAWINAN

KOMUNIKASI dua hati yg berkomitmen untuk selalu mencintai dlm keadaan apapun adalah sangat penting bagi suami-isteri sepanjang hidup.

Banyak orang sadar atau tidak sadar membiarkan atau lalai ketika komunikasi ini menjadi jarang, dingin, kering serta formalitas belaka, mereka baru merasakan sakitnya ketika situasi itu sudah sangat sulit untuk diperbaiki lagi.

Suami-isteri tidak pernah jujur mengatakan kemauannya antara satu dengan yg lain dlm situasi yg tepat tanpa emosi dan kemarahan.

Perkawinan membutuhkan landasan kuat yg harus selalu dijaga, dipupuk dan dikembangkan oleh kedua pihak.
Kesetiaan, pengorbanan, kejujuran serta kasih sayang menjadi impian bagi setiap pasangan untuk hidup bahagia.

Namun dlm perkawinan, banyak yg mengalami kenyataan yg jauh dari pada anganan.

Kebahagiaan perkawinan tidak bisa dibeli oleh harta berapapun banyaknya. Fisik yg tampan dan cantik yg di awal menjadi keunggulan dan kebanggaan, kadang tidak menjamin terwujudnya kebahagiaan itu.

Kebahagiaan perkawinan membutuhkan perjuangan yg tidak kenal lelah, dan membutuhkan kehadiran dan pertolongan Tuhan.

Berbahagialah mereka yang benar-benar menikmati hidup rumah tangga yg rukun dan damai, meskipun itu harus diperoleh dgn cucuran air mata.

Belaian tangan suami adalah emas bagi isteri.
Senyum manis sang isteri adalah permata bagi suami.
Kesetiaan suami adalah mahkota bagi isteri.
Keceriaan isteri adalah sabuk di pinggang suami.

Perbaikilah apa yg bisa diperbaiki sekarang sebelum terlambat. Cintailah pasangan yg telah TUHAN pilih untukmu!
SELAMAT BERBAHAGIA (dari sebuah grup bbm)

Selingkuhi Beberapa Wanita, Pejabat Kakanwil Agama Provinsi NTT


Sepandai-pandainya tupai meloncat, akhirnya jatuh juga. Sepandai-pandainya menutup aib, akhirnya terbongkar juga. Itulah yang dialami orang nomor satu di Kakanwil Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).  

Pria itu berinisial FS. Usianya 50 tahun. Tetapi soal selingkuh, dia sangat doyan. Salah satu selingkuhannya, EL (43), tak tahan dengan tingkah FS yang terus mengancam dan melarang EL menikah dengan pria lain. EL pun tidak bisa memaksa FS menikahi dirinya, karena agama yang dianut pejabat ini tidak memperbolehkan memiliki istri lebih dari satu orang.

Dalam situasi tertekan, EL pun nekad melaporkan pejabat itu ke Polda NTT di Kupang. Ia sudah tidak tahan lagi menjadi istri Simpanan tanpa status yang jelas. Padahal dari hasil kumbul kebo yang berlangsung selama tujuh tahun, mereka dikaruniai seorang anak yang kini berusia lima tahun.   Kepala Bidang  (Kabid) Humas Kepolisian Daerah (Polda) NTT Komisaris Polisi, Antonia Pah kepada SP di Kupang, Jumat (20/1) pagi, membenarkan telah menerima pengaduan EL terkait hubungan gelapnya dengan FS. .

“Tetapi saya mengarahkan yang bersangkutan ke sentral penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak,” kata Antonia Pah.  

Korban EL bertutur, dari hubungan gelapnya selama ini,  mereka dikaruniai seorang putri yang sudah berusia 5 tahun. Nama anak itu pun diberi oleh FS  sendiri. Anak itu lahir ketika FS masih memiliki istri sah beristri dan beberapa anak di Kota Kupang.  

“Tetapi FS melarang EL menikah lagi, dan hanya menjadikan EL sebagai tempat pelampiasan nafsu saja. FS selalu mengancam, jika EL menikah dengan laki-laki lain,” ungkap Antonia  Pah.  

FS juga memiliki beberapa perempuan simpanan lain, yang diperlakukan hampir mirip dengan EL. “Saya melapor ini agar FS tidak memperlakukan perempuan lain lagi seperti saya. Kami perempuan juga punya kebebasan memiliki pasangan hidup tetap. Bukan  diperlakukan seperti ini,” jelas EL seperti disampaikan Antonia Pah.  

Sementara itu FS sendiri sampai saat ini tidak bisa dikonfirmasi. Menurut staf di Kantor  Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTT,  FS lagi di luar daerah. [YOS/L-8]
(Suara Pembaruan)

TIDAK PUNYAK ANAK = AIB?


Di tengah masyarakat, banyak pasangan suami-istri muda yang sudah menikah 3,5,7 bahkan sudah 10 tahun, namun belum juga punya anak. Tuhan belum menganugerahkan buah hati mereka. Mereka sudah berusaha ke dokter, ke dukun alias orang pintar untuk mengusahakan agar segera hamil, namun juga belum berhasil. Bahkan ada yang mengatasinya dengan mengadopsi anak, yang lebih parah lagi ada yang menceraikan suami atau istrinya.

Namun tidak jarang juga ada orang yang mencuri bayi di Puskesmas, bahkan ada yang membeli bayi di rumah sakit dengan harga tinggi.

Di beberapa suku, pasangan suami istri yang belum punya anak dianggap sebagai aib atau sesuatu yang membuat malu. Istri atau suami dianggap mandul dan tidak “dianggap” alias tidak diperhitungkan dalam adat suku tertentu. Untuk itu banyak orang melakukan aneka tindakan untuk mengurangi rasa malu.

Bagi yang keluarga muda yang belum punya anak, apakah tidak punya anak menjadi sesuatu aib bagi anda? Dan apa tujuan pernikahan itu sebenarnya?

Pada dasarnya diakui dan dapat diterima umum bahwa menikah itu bertujuan untuk melanjutkan keturunan, mengejar kebahagiaan suami istri dan mengusahakan pendidikan yang baik bagi anak-anaknya. Persoalannya, apakah suami istri bisa bahagia tanpa anak?

Untuk memenuhi kebutuhan akan anak, sebagian orang lebih baik memilih mengadopsi anak secara legal. Dengan demikian pun, kebahagiaan semakin lengkap.

Namu bagi pembaca sekalian, apakah tidak punya anak = aib?

Sumber: http://sosbud.kompasiana.com/2010/01/15/tidak-punya-anak-aib/

Depag: Pemerintah Tidak Akui Pernikahan Beda Agama dan Sejenis


Pemerintah tidak akan pernah mengakui atau melegalkan pernikahan antara pasangan yang berbeda agama, pernikahan pasangan sejenis (homoseksual), menurut Sekretaris Jenderal Departemen Agama, Bahrul Hayat.

 

Meskipun hal ini banyak disuarakan oleh beberapa kalangan dengan alasan hak asasi manusia (HAM), ia menegaskan bahwa masa depan bangsa harus diselamatkan melalui lembaga pernikahan.

 

“Norma hukum dan nilai-nilai agama merupakan landasan yang bersifat absolut dan tidak dapat ditawar sebagai syarat untuk menata perkawinan dan membentuk rumah tangga sakinah dan sejahtera,” kata Bahrul saat membuka sebuah workshop tentang pendidikan pernikahan, di Jakarta, seperti diberitakan Pos Kota.

 

Menurutnya, negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama Pancasila, hanya mengakui pernikahan yang dilakukan menurut hukum agama sebagai dasar bagi pembentukan keluarga.

 

“Karena itu, pemerintah terlibat aktif dalam berbagai upaya untuk memperkuat eksistensi lembaga pernikahan dan pemberdayaan keluarga sebagai entitas yang suci dan terhormat yang perlu ditingkatkan kualitas dan ketahanannya seiring dengan kemajuan masyarakat,” katanya.

Sumber: Kristiani Pos

http://www.christian post. co.id/society/society/20090923/4992/Depag-Pemerintah-Tidak-Akui-Pernikahan-Beda-Agama-dan-Sejenis/in-dex.html

Kursus Pranikah Upaya Mengurangi Angka Perceraian


Kursus Pranikah Upaya Mengurangi Angka Perceraian

Jakarta,15/8(Pinmas)–Guna mengurangi angka perceraian yang terus meningkat, perlu upaya pembekalan bagi calon pengantin melalui kursus pranikah. Pasalnya satu akar penyebab perceraian yang terbesar adalah rendahnya pengetahuan dan kemampuan suami istri mengelola dan mengatasi pelbagai permasalahan rumah tangga.

Demikian dikemukakan Dirjen Bimas Islam Prof Dr Nasaruddin Umar pada pembukaan pemilihan Keluarga Sakinah dan pemilihan Kepala KUA Teladan di Jakarta, Kamis malam (14/8). “Hampir 80 % dari jumlah kasus perceraian terjadi pada perkawinan dibawah usia 5 tahun,” ujarnya.

Menurut Nasaruddin, ketidakmatangan (immaturity) pasangan suami-istri menghadapi kenyataan hidup yang sesungguhnya, mengakibatkan mereka kerap menemui kesulitan dalam melakukan penyesuaian ataspelbagai permasalahan di usia perkawinannya yang masih “balita”.

Ia juga menjelaskan, angka perselisihan cenderung meningkat. Data yang diperoleh hingga tahun 2005, dari 2 juta rata-rata peristiwa perkawinan setiap tahunnya, 45 berselisih dan 12-15 bercerai. Peningkatan angka perceraian ini dapat berpotensi menjadi sumber permasalahan sosial.

“Korban yang paling merasakan dampaknya adalah anak-anak yang seharusnya memperoleh pengayoman dari perkawinan tersebut,” kata Nasaruddin.

Meski demikian, kata Dirjen, masih terdapat insane-insan yang demikian besar dedikasi, perhatian dan kepeduliannya kepada pembinaan institusi perkawinan dan keluarga. Mereka ini selama bertahun-tahun membaktikan hidupnya demi cita-cita mewujudkan ketahanan keluarga dalam masyarakat, sebagai pondasi penting dalam tatanan kehidupan berbangka dan bernegara.

“Kita tidak dapat membayangkan bagaimana bangsa ini kelak jika tidak lagi memiliki para Bapak dan Ibu yang setia berperan dalam penasehatan,pembinaan dan pelestarian perkawinan ini,” ujarnya.

Direktur Urusan Agama Islam Muchtar Ilyas mengatakan, tujuan kegiatan pemilihan adalah dalam rangka memotivasi keluarga muslim Indonesia agar berperan aktif dalam pembangunan keluarga, masyarakat, bangsa dan agama. Selain itu terpilihnya kepala KUA teladan di tanah air.

Adapun dewan juri pemilihan kegiatan yang berlangsung hingga 17 Agustus mendatang, yaitu Prof Dr Ahmad Mubarok, Prof Dr Arief Rachman, Prof DR Chuzaemah T. Yanggo, Prof Dr, Zaitunah Subhan, Dr Nurhayati Djamas, Drs Kadi Sastrowiryono, Drs, Ahmed Machfud, M.Mc dan Dra Zubaidah Muchtar. (ks)

Sumber: www.depag.go.id

Masalah adalah Hadiah


*Masalah adalah Hadiah*

[?][?][?][?] [?][?]

Masalah adalah Hadiah

Bila anda menganggap masalah sebagai beban,
anda mungkin
akan menghindarinya.

Bila anda menganggap masalah sebagai tantangan,
anda mungkin akan menghadapinya.

Namun, masalah adalah hadiah yang dapat anda terima
dengan suka cita. Dengan pandangan tajam, anda melihat
keberhasilan di balik setiap masalah.

Itu adalah anak tangga menuju kekuatan yang lebih tinggi.

Maka, hadapi dan ubahlah menjadi kekuatan untuk sukses anda.

Tanpa masalah, anda tak layak memasuki jalur keberhasilan.
Bahkan hidup ini pun masalah, karena itu terimalah
sebagai hadiah.

Hadiah terbesar yang dapat diberikan oleh induk elang
pada anak-anaknya bukanlah serpihan-serpihan makanan pagi.

Bukan pula, eraman hangat dimalam-malam yang dingin.

Namun, ketika mereka melempar anak-anak itu dari tebing
yang tinggi. Detik pertama anak-anak elang itu menganggap
induk mereka sungguh keterlaluan, menjerit ketakutan,
matilah aku.

Sesaat kemudian, bukan kematian yang mereka terima,
namun kesejatian diri sebagai elang, yaitu terbang.

Bila anda tak berani mengatasi masalah, anda tak kan
menjadi seseorang yang sejati

Sumber : Anonymous

MEMAKNAI RITUAL DALAM KELUARGA


Tentu masih segar dalam ingatan, saat hari raya idul fitri lalu, melakukan sungkem pada orang tua dan meminta maaf. Rasa haru tetap menyelusup dalam hati, walaupun hal ini berlangsung setiap waktu.

Kebiasaan yang dilakukan terus-menerus seperti itu tak ubahnya merupakan suatu “ritual” dalam keluarga. Tidak bias dipungkiri, setiap keluarga pasti memiliki ritual tersendiri, disadari atau tidak. Sayangnya masih banyak yang belum menyadari arti penting ritual ini dalam sebuah keluarga. Padahal ritual dapat menjadi salah satu lem perekat antar anggota keluarga dan memiliki dampak positif.

Journal of Famiky Psychology, keluaran American Psychological Association (APA), dalam A Review of 50 Years of Research on Naturally Occuring Family Routines and Rituals: Cause for Celebration, mengamini hal ini. Penelitian tersebut mengatakan bahwa ritual keluarga dapat memberikan kepuasan tersendiri bagi kedua orang tua, membantu proses perkembangan diri anak dan meningkatkan kekuatan hubungan antar anggota keluarga, serta menunjukkan identitas kepribadian keluarga.

Dari 32 penelitian yang dilakukan, ritual keluarga yang paling sering dilakukan adalah makan malam bersama, waktu tidur, merayakan hari raya dan aktivitas sehari-hari seperti saling menelpon untuk memberikan kabar.

Tak perlu berpikir keras untuk melakukannya, yang dibutuhkan hanyalan niat dan kesadaran untuk menyisakan waktu berkumpul bersama keluarga. Kendati demikian, alasan kesibukan dan minimnya waktu kerap menjadi penghambat utama bagi ritual.

Kuncinya adalah mencari waktu yang tepat bagi orang tua maupun anak-anak. Makan malam bersama, contohnya. Bila tak dapat melakukannya setiap hari, dapat dilakukan setiap akhir pekan. Masih banyak yang tidak menyadari bahwa kegiatan ini mempunyai peran signifikan dalam keluarga. Komunikasi yang terjalin selama makan memberikan kesempatan tiap anggota keluarga untuk menceritakan kegiatannya masing-masing dan saling mengenal lebih dalam.

Anak pun akan terbiasa untuk bersikap terbuka dengan orang tuanya, sehingga memudahkan orang tua untuk melakukan bimbingan dan pengawasan pada anak. Semua ini membentuk lingkaran sebab akibat yang menguntungkan.

Tak hanya itu, acara rekreasi atau berlibur bersama keluarga, menceritakan dongeng sebelum tidur saat anak masih kecil, merayakan hari raya bersama dengan kebiasaan khusus – dapat menjadi ritual tersendiri yang membekas dalam hati dan ingatan anak hingga beranjak dewasa. (ADT/Klasika/Kompas/24/08/2008)