Karena Tulisannya, Wartawan Kompas Kerap Diancam Dibunuh


Tulisan Tajam, Syaifullah Kerap Diancam Dibunuh

Maria Ulfa Eleven Safa – Okezone
Almarhum M Syaifullah (Foto: Kompas.com)
GIANYAR – Meninggalnya Kepala Biro Kompas Kalimantan yang bertempat di Balikpapan, Muhammad Syaifullah masih misterius.Dugaan sementara Syaifullah meninggal akibat dibunuh oknum-oknum yang tidak senang dengan tulisannya yang tajam di harian nasional itu.Mahendra, salah seorang sahabat Syaifullah mengaku syok dan lemas saat mendengar kabar memilukan itu dari rekannya. Pria yang bekerja di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata itu bercerita Syaifullah sering mendapat ancaman pembunuhan saat masih bertugas di Banjarmasin, kantor Syaifullah sebelum di Balikpapan.

“Dulu dia menangani kasus-kasus illegal logging dan sebagainya. Mungkin dia sudah wawancara sana sini tapi ada yang nggak suka dan akhirnya dia sering dapat ancaman pembunuhan,” tutur Mahendra kepada okezone di sela-sela acara Lomba Cipta Seni Pelajar Tingkat Nasional di Istana Tampaksiring, Gianyar, Bali, Senin (26/7/2010).

Mahendra mengaku terakhir berkomunikasi telepon dengan Syaifullah setahun lalu. Tapi komunikasi di facebook dilakukan hampir setiap hari.  “Sebagai wartawan tentu sikap kritis terhadap suatu masalah pasti ada. Apalagi dia seorang organisatoris dan tulisannya pun tajam,” kenang pria berkaca mata itu.

Mahendra mengaku, dirinya dan Syaifullah dulunya teman satu angkatan di Universitas Negeri Sebelas Maret Solo. “Saya sering nongkrong bareng sama dia waktu kuliah, ke mana-mana juga bareng. Nggak nyangka kalau berakhir begini,” sesal alumnus Tahun 1988 jurusan komunikasi itu.(ram) (Okezone.com)

Tentang Muchdi dan konspirasi BIN


Tulisan ini juga disajikan dalam website http://kontak. club.fr/index. htm

Catatan A. Umar Said

Tentang  Muchdi dan konspirasi BIN

Pembebasan Muchdi oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dari kasus pembunuhan Munir merupakan bukti yang gamblang bahwa unsur-unsur Orde Baru di kalangan berbagai lembaga negara (eksekutif, legislatif, dan judikatif) masih cukup kuat, dan bahwa reformasi yang sudah diusahakan selama  10 tahun masih tersendat-sendat jalannya, bahkan ada yang macet sama sekali. Ini adalah pertanda yang amat buruk sekali bagi kelanjutan kehidupan bangsa Indonesia.

Pembebasan Muchdi juga membuktikan bahwa kalangan  pimpinan militer (yang masih aktif maupun yang sudah pensiun) tetap mempunyai pengaruh  atau kekuasaan yang tidak kecil di banyak kalangan, untuk bisa melakukan intervensi, campurtangan, atau tekanan, atau konspirasi mengenai berbagai urusan penting dalam kehidupan bangsa dan negara. Ini adalah juga indikasi yang menunjukkan bahwa keterpurukan negara dan bangsa akan terus berlangsung, selama kalangan pimpinan militer (terutama TNI-AD) masih bisa meneruskan praktek-praktek negatif yang dilakukan selama 32 tahun Orde Baru dan sesudahnya.

Kasus Muchdi, dan terlibatnya unsur-unsur Badan Intelijen Negara (BIN)  lainnya, dalam pembunuhan Munir, merupakan peristiwa yang memungkinkan ter-ekspose- nya sebagian kecil sekali dari praktek-praktek buruk yang dilakukan oleh kalangan pimpinan militer. Sebab, kalau di masa-masa yang lalu banyak sekali (sekali lagi, banyak sekali !) kejahatan atau pelanggaran HAM yang dilakukan oleh militer tidak bisa dibongkar dan ditindak secara hukum, maka kasus pembunuhan Munir oleh orang-orang penting di BIN telah memungkinkan sejumlah ornop (organisasi non-pemerintah) atau LSM di dalam negeri dan di luar negeri untuk angkat suara dan mengadakan perlawanan.

“Test of history”-nya presiden SBY

Karena itu, walaupun Muchdi sekarang sudah dibebaskan dari perkara pembunuhan Munir, belumlah bisa dikatakan bahwa kasusnya sudah sepenuhnya selesai, atau bahwa citra pimpinan militer menjadi baik karenanya. Sebab, sampai sekarang ini masih belum jelas apakah Muchdi akan betul-betul bebas seterusnya, ataukah  perkaranya masih akan bisa disidangkan kembali. Sebab, diberitakan bahwa Kejaksaan Agung sedang mengajukan kasasi atas keputusan pembebasan oleh Pengadilan Jakarta Selatan ini.

Selain itu,  sedang ditunggu-tunggu oleh banyak orang sikap terakhir presiden SBY mengenai persoalan  Muchdi ini. Sebab, presiden SBY pernah mengeluarkan pernyataan yang memberikan harapan kepada banyak orang bahwa persoalan Munir akan ditangani secara serius, antara lain dengan mengeluarkan Kepres dan membentuk Tim Pencari Fakta. Presiden SBY juga mengatakan bahwa persoalan Munir ini sebagai “test of history” (ujian dalam sejarah). Sikap presiden SBY soal kasus Muchdi yang terlibat dalam pembunuhan Munir ini pasti juga akan menjadi sorotan juga di luar negeri. Karena, Komnas HAM PBB, dan parlemen di banyak negara juga sudah mempersoalkan masalah pembunuhan Munir ini.

Seperti yang bisa kita saksikan bersama selama ini,  pembunuhan Munir yang dilakukan oleh unsur-unsur BIN sudah menjadi bahan pembicaraan dan juga aksi-aksi dalam berbagai bentuk dan cara oleh banyak LSM dan kalangan masyarakat lainnya di Indonesia, termasuk di kalangan generasi muda dan mahasiswa. Kepedulian yang begitu besar dari berbagai kalangan masyarakat terhadap kasus Munir dan Muchdi ini merupakan perkembangan penting sekali dalam perjuangan besar rakyat dalam membongkar berbagai pelanggaraan atau kejahatan yang sudah banyak dilakukan oleh pimpinan militer, terutama dalam masalah HAM. Pembongkaran kasus konspirasi BIN yang melibatkan Muchdi dan Pollycarpus adalah salah satu langkah penting dalam  melawan berbagai pelanggaran atau kejahatan yang dilakukan oleh pimpinan militer, yang sudah dilakukan berpuluh-puluh tahun.

Konspirasi di kalangan BIN dalam pembunuhan Munir

Dari adanya sejumlah reaksi yang sudah kita ketahui dari media massa (dan Internet) , jelaslah bahwa pembebasan Muchdi dari kasus pembunuhan Munir tidak membikin citra militer (dalam hal ini TNI AD beserta BIN) menjadi lebih baik dari sebelumnya. Walaupun hakim-hakim Pengadilan Negeri Jakarta menyatakan bahwa tidak ada bukti-bukti tentang keterlibatan Muchdi dalam soal peracunan Munir, tetapi proses penyelidikan yang dilakukan oleh Tim Pencari Fakta dan juga pengamatan berbagai kalangan (kepolisian dan kejaksaan) memberikan indikasi bahwa orang-orang penting BIN ikut dalam konspirasi pembunuhan ini.

Adalah jelas sekali bahwa pembunuhan terhadap Munir, yang dilakukan dengan perencanaan tingkat tinggi ini, bukanlah tindakan sembarangan dari seorang atau orang-orang biasa saja. Banyak orang sudah menduga bahwa ada aparat kekuasaan (dalam hal ini kalangan militer, khususnya kalangan TNI AD, dan lebih khusus lagi kalangan BIN) yang melakukan pembunuhan. Sebab, di masa-masa yang lalu juga sudah terjadi kejahatan atau pelanggaran yang serupa, dimana digunakan kekerasan yang menyebabkan kematian banyak orang.

Berbagai kasus tindakan kekerasan di masa lalu

Di antara kejahatan atau pelanggaran itu  terjadi dalam kasus Petrus (tahun 1983), kasus Tanjungpriuk (tahun 1984), kasus Santa Cruz di Timor Timur (1991), kasus Marsinah (tahun 1993), kasus Haur Koneng (1993), kasus Nipah di Madura (tahun 1993), kasus Freeport (1996), kasus Abepura (Papua), kasus wartawan Udin (tahun 1996), kasus 27 Juli –penyerbuan gedung PDI (1996), kasus Trisakti (tahun 1998), kasus kerusuhan Mei (tahun 1998), kasus DOM Aceh (dari 1989-1998), kasus Semanggi (November 1998),

Dalam kasus-kasus tersebut, banyak sekali digunakan kekerasan oleh aparat kekuasaan, yang menyebabkan juga hilangnya nyawa orang.  Antara lain, hilangnya 14 pemuda yang tergabung dalam PRD yang “dihilangkan” oleh militer dalam tahun 1997-1998. Tetapi, kejahatan atau pelanggaran HAM oleh kalangan aparat kekuasaan ini (tegasnya militer TNI AD) sebagian terbesar tidak bisa dibongkar secara tuntas dan diselesaikan secara hukum.

Walaupun banyak indikasi yang ditemukan oleh banyak kalangan dalam masyarakat bahwa banyak pelanggaran HAM atau kejahatan itu dilakukan oleh kalangan militer, tetapi tidak ada tindakan yang bisa dilakukan untuk menghukumnya. Dan keadaan yang semacam itu sudah berlangsung selama beberapa puluh tahun, selama Orde Baru dan sesudahnya. Sekarang, praktek buruk yang sudah dilakukan puluhan tahun itu terjadi lagi dalam bentuknya yang baru, yaitu kasus Muchdi yang terlibat dalam konspirasi BIN dalam pembunuhan Munir.

Kalau tidak ada (atau tidak banyak) yang bisa dilakukan terhadap  berbagai  kasus kejahatan atau pelanggaran HAM di masa yang lalu, yang melibatkan tokoh-tokoh militer tingkat tinggi seperti (antara lain)  Wiranto, Prabowo, Ali Murtopo, Sudomo, Hendropriyono, Faisal Tanjung, Sjafri Samsudin, Sutiyoso, maka kasus pembunuhan Munir oleh unsur-unsur BIN (terutama Muchdi,  dan mungkin Hendropriyono juga) merupakan sebuah “jendela” dari mana orang bisa mengintip sebagian dari kejahatan atau pelanggaran HAM yang sudah dilakukan oleh kalangan militer, dan membongkarnya.

Tulisan dalam majalah Tempo 5 Januari 2009

Dalam pembongkaran kejahatan atau pelanggaran HAM terhadap Munir oleh kalangan militer ini , peran dan sumbangan dari usaha susah payah oleh banyak sekali LSM atau ornop di Indonesia dan di luar negeri, seperti (antara lain) : KASUM, KONTRAS, IMPARSIAL, IKOHI,

HUMAN RIGHTS GROUP, LPR-KROB, dan banyak LBH-LBH (ma’af kepada organisasi lainnya  yang tidak disebutkan di sini) adalah besar dan penting sekali. Untuk sekedar mengetahui tentang sebagian sejarah kasus terlibatnya BIN dalam kasus Munir ini harap dibaca tulisan (yang menarik) dalam majalah Tempo tanggal 5 Januari 2009, yang juga disajikan dalam website A. Umar Said (http://kontak. club.fr/index. htm) dalam kolom « Kumpulan berita kasus Munir dan Muchdi ».

Sekarang, Muchdi sudah dibebaskan  (untuk sementara ?) dari perkara Munir, namun aksi-aksi atau reaksi dari banyak kalangan masih terus dilancarkan. Yang demikian ini  adalah baik sekali bagi kehidupan bangsa dan negara kita. Sebab, ini berarti bahwa perjuangan bersama untuk melawan berbagai kejahatan dan pelanggaran HAM oleh kalangan militer dapat diteruskan dengan macam-macam cara dan jalan.  Pembebasan Muchdi adalah manifestasi dari masih kuatnya peranan negatif kalangan pimpinan militer (TNI AD) dalam kehidupan bangsa dan negara, walaupun rejim militer Orde Baru sudah runtuh (resminya !) sejak 1998.

Agaknya, sudah bisa  diperkirakan bahwa pembebasan Muchdi oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan adalah akibat berbagai macam tekanan, intervensi, pengaruh, bahkan mungkin ancaman (kasar dan halus) , yang dilakukan oleh kalangan pimpinan TNI AD. Berbagai macam tekanan atau ancaman  bisa saja dilakukan terhadap para hakim dan jaksa, tetapi juga terhadap saksi-saksi, dan orang-orang lain yang bersangkutan dengan kasus Munir dan Muchdi. Ini bisa kelihatan dari penarikan pernyataan dari begitu banyak saksi, yang tadinya sudah mengakui berbagai fakta dan kejadian, seperti yang tertera dalam berbagai Berita Acara Pemeriksaan.

Dari sudut pandang inilah maka kita bisa melihat pentingnya kasus Muchdi, dan pentingnya perjuangan bersama dari seluruh kekuatan demokratis negeri kita untuk menelanjanginya lebih lanjut. “Kemenangan”  Muchdi dalam kasus Munir hanya akan memperbesar  kecongkakan (arogansi)  kalangan pimpinan militer bahwa mereka akan tetap bisa terus melakukan berbagai kejahatan dan pelanggaran tanpa mendapat hukuman apa pun.

Kasus Muchdi dan masalah Pemilu 2009

Menghadapi pemilu 2009, masalah Muchdi ini makin kelihatan penting untuk kita telaah bersama dengan adanya kenyataan bahwa selain bekas komandan Kopassus dan pimpinan BIN ia adalah juga pendiri partai Gerindra bersama mantan Letnan Jenderal  Prabowo. Kalau Prabowo bertindak sebagai ketua umumnya, maka mantan Mayor Jenderal Muchdi adalah wakil ketua umumnya.

Mantan Letnan Jenderal Prabowo dengan partai Gerindra-nya sudah aktif sekali mengadakan berbagai kampanye dengan macam-macam cara, yang tentunya memerlukan dana dan jaring-jaringan yang besar. Adalah penting untuk diperhatikan bahwa dalam Gerindra ini berhimpun banyak sekali tokoh-tokoh pensiunan militer di samping pendukung setia Orde Baru lainnya. Umpamanya, adik tiri Suharto, Probosutedjo, dengan terang-terangan menyatakan dukungannya kepada pencalonan Prabowo sebagai calon presiden. Probosutedjo telah menyelenggarakan pertemuan (tanggal 8 Januari 09) dengan 100 ulama di tempat kediamannya, ketika ia mengumumkan dukungannya terhadap Prabowo.

Dalam menelaah berbagai aspek kasus Muchdi yang berkaitan dengan pembunuhan Munir, perlulah kiranya kita selalu ingat tentang peran militer (terutama TNI AD) di bawah Suharto dalam merebut kekuasaan dari Presiden Sukarno dan mengkhianatinya sampai wafatnya dalam keadaan yang menyedihkan sekali. Ditambah lagi dengan pembantaian jutaan orang kiri yang tidak bersalah, maka  sejarah TNI AD di bawah Suharto ini harus dicatat sebagai noda atau aib besar dan sebagai dosa berat dalam halaman-halaman sejarah bangsa kita.

Sekarang ini, makin jelaslah  bagi banyak orang bahwa Orde Baru telah menimbulkan  berbagai  kerusakan parah dalam bidang HAM, bidang politik, bidang ketatanegaraan, bidang ekonomi, bidang sosial, dan dalam bidang moral (antara lain dalam bentuk KKN).  Dan juga makin gamblanglah bagi banyak orang bahwa dosa-dosa besar  kalangan militer (terutama pimpinan TNI AD) dalam merusak persatuan rakyat Indonesia adalah besar sekali. Itulah sebabnya, maka kita semuanya bisa mengamati bahwa sekarang ini makin sedikit atau makin jarang  orang-orang yang berani terang-terangan masih memuji-muji Suharto atau rejim Orde Baru. Alangkah besar bedanya dengan keadaan 10 tahun yang lalu, ketika begitu banyak orang secara gegap-gempita selalu mengelu-elukannya.

Dibutuhkan pemimpin yang berlainan dengan Suharto

Dari sudut pandang itu semualah kita bisa juga menelaah kasus Muchdi, kasus partai Gerindra, dan  kasus Prabowo juga. Partai Gerindra yang didirikan oleh Prabowo dan Muchdi akan merupakan partai ( seperti halnya Golkar) , yang tidak akan bisa membawa perubahan-perubahan besar yang dibutuhkan oleh rakyat, terutama rakyat kecil. Seluruh riwayat hidup  letnan jenderal (pur) Prabowo sudah menunjukkan bahwa ia bukanlah sosok yang pantas atau patut menjadi presiden negara kita.

Negara dan bangsa kita yang sedang menghadapi situasi parah di berbagai bidang sekarang ini sebagai akibat pemerintahan rejim militer Orde Baru selama 32 tahun (ditambah 10 tahun pasca-Suharto) membutuhkan pemimpin yang memiliki jiwa pro rakyat kecil, mempunyai visi politik yang mempersatukan seluruh rakyat, yang mentrapkan sungguh-sungguh  Pancasila, yang memegang teguh Bhinneka Tunggal Ika. Kita juga memerlukan seorang presiden yang sosoknya berlainan sekali dari Suharto, Wiranto, Prabowo, Sutiyoso dan orang-orang lain sejenis mereka.

Situasi  dalam negeri yang penuh dengan berbagai akibat yang menyedihkan bagi orang banyak karena adanya krisis kapitalisme di dunia dan terjungkel ambruknya “kedigdayaan” imperialisme AS, memerlukan kepemimpinan seorang tokoh yang memiliki visi atau gagasan-gagasan seperti yang dikandung dalam berbagai ajaran revolusioner Bung Karno, untuk dijabarkan dalam kondisi sekarang. Banyak isi ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno yang anti-kapitalisme dan anti-imperialisme, seperti (antara lain) Berdikari, Trisakti, Panca Azimat Revolusi, Resopim, Manipol-Usdek, Nasakom yang masih ada relevansinya untuk kita pelajari bersama guna menghadapi situasi yang sedang ditempuh oleh bangsa dan negara kita dewasa ini.

Paris, 12 Januari 2009


Sia-sialah Mengirim Relawan untuk berjihad ke Gaza


Tak Ada Artinya Kirim Relawan ke Gaza, Kata Mubaligh Kondang


Palu (ANTARA News) – Seorang mubaligh kondang asal Palu mengatakan tidak ada artinya organisasi sosial-kemasyarakatan di Tanah Air mengirimkan relawan untuk berjihad ke Palestina guna membela umat Islam di sana yang sedang teraniaya.

“Ide ini memang cukup bagus. Tapi tidak ada artinya kirim relawan yang baru belajar seluk-beluk perang, terlebih hanya bermodalkan kuntau, silat, dan karate,” kata Jamaluddin Hadi ketika berorasi pada acara Tabligh Akbar Untuk Solidaritas Rakyat Palestina di Palu, Ahad.

Menurut dia, untuk pengiriman relawan tanpa keahlian perang, sama artinya ‘menyetor jiwa’ yang tidak ada hasilnya dalam membela warga Palestina yang setiap hari dibayangi ancaman maut.

Sebab, yang dihadapi di sana adalah mesin-mesin perang canggih yang dipergunakan tentara Israel dan sekali ditembakkan sampai mengguncang wilayah dalam radius satu kilometer.

Karena itu, Hadi yang mantan tahanan politik di Zaman Orde Baru itu menyarankan dalam membantu menghentikan pembantaian umat manusia di Bumi Palestina, sudah saatnya pemerintah Indonesia mengirimkan militer beserta perlengkapan perang di sana.

Selain itu, pemerintah di negeri ini perlu mendorong negara-negara di Timur Tengah untuk bersatu dan secara bersama-sama mengangkat senjata dalam menghadapi kebiadaban tentara Zionis Israel.

“Saya kira hanya dengan cara ini yang bisa menghentikan darah Umat Islam terus tertumpa sia-sia di bumi Palestina, sebab kita tidak bisa berharap lagi kepada PBB karena badan dunia itu telah dikuasai Amerika Serikat yang menjadi sekutu sejati Israel,” kata dia.

Khusus kepada umat Islam di Indonesia, termasuk di Provinsi Sulteng, menurut Hadi, yang bisa dilakukan dalam membela rakyat Palestina yang lagi tertindas yaitu dengan cara terus memanjatkan doa keselamatan, mengirimkan bantuan kemanusiaan, serta memboikot seluruh produk dagang Israel dan Amerika Serikat.

“Dengan tidak membeli Coca Cola, Aqua, dan Nokia, berarti anda dengan sendirinya sudah membantu mengurangi tekanan serta beban penderitaan yang dialami rakyat Palestina, sebab produk-produk itu memiliki keterkaitan erat dengan bisnis Israel dan Amerika Serikat,” tuturnya.

Himbauan melakukan doa sesering mungkin, mengirimkan bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina, serta memboikot produk dagang berbau Israel dan Amerika Serikat juga disampaikan mantan Ketua Umum Badan Koordinasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPMRI), Dr Najamuddin Ramli, dan Ketua DPW Hizbut Tahrir Indonesia Sulteng. Ir Amuruddin MSi.

Kedua mubaligh muda ini juga tampil memberikan orasi di hadapan ratusan jemaah Tabligh Akbar Untuk Solidaritas Rakyat Palestina yang digelar BKPRMI Sulteng di Lapangan GOR Palu pada Ahad pagi hingga siang harinya.

“Umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, harus bersatu menghentikan aksi brutal tentara zionis Israel terhadap bangsa Palestina. Kalau tidak mengangkat senjata, berilah pertolongan dengan doa dan mengirimkan bantuan kemanusiaan, hingga memboikot semua produk datang dari semua negara yang mendukung tindakan tentara Israel,” kata Najamuddin Ramli menambahkan.

Dalam aksi solidaritas itu, panitia penyelenggara berhasil mengumpulkan dana bantuan kemanusiaan jutaan rupiah dari para jemaah yang rencananya akan dikirimkan kepada rakyat Palestina melalui saluran resmi yang sudah ditetapkan pemerintah Indonesia.  (*)

COPYRIGHT © 2009 ANTARA

PubDate: 11/01/09 14:49

Sumber: http://antara. co.id/print/?i=1231660176

Abu Bakar Ba’asyir :Mati Pemerintah Dzolim Jika Menghukum Amrozi Cs


Terkait rencana eksekusi terpidana bom bali
http://www.youtube. com/watch? v=DWN3IwXFlIg
———— ——— ——— ——— ——— ——— ——
Abu Bakar Ba’asyir :
Mati Pemerintah Dzolim Jika Menghukum Amrozi Cs
Wednesday, 30 July 2008

Ketua Majelis Mujahidin Indonesia Abu Bakar Baasyir menilai pemerintah Indonesia sangat dzolim jika jadi mengeksekusi mati para pelaku bom bali I. Hal ini dikarenakan pemerintah memberikan hukuman yang tidak setimpal dengan kesalahan yang dilakukan Amrozi Cs. Pemerintah dianggap hanya melihat kasus tersebut secara kasat mata. Padahal menurutnya, pada kasus Bom Bali I semestinya dilihat siapa sebenarnya yang memiliki bom yang meledak pada waktu itu.

“Semua ahli bom baik dalam maupun luar negeri menyatakan bom yang meledak dan sampai membunuh banyak orang itu sebenarnya bukan bom biasa tapi mikronuklir,” katanya dalam sebuah video yang dipublikasikan lewat internet di situs youtube.com. Video tersebut tercatat dirilis Sabtu (26/7) oleh seseorang yang menggunakan username rofiq1924.

Abu Bakar Baasyir meragukan bahwa Amrozi Cs dapat membuat bom yang memiliki daya ledak sebesar itu. Seraya mengutip pernyataan ahli bom dari Australia yang mengatakan bahwa kalau ada orang yang percaya bahwa Amrozi bisa membuat bom seperti itu bukan orang bodoh, tetapi idiot.

Ustadz yang pernah ditahan di dalam penjara karena kasus imigrasi ini mengaku pernah berdebat dengan pihak kepolisian. “Kalau polisi percaya Amrozi bisa membuat bom seistimewa seperti itu mestinya bukan ditahan tetapi menjadi penasehat militer, dijadikan dosen di sekolah militer mengajari untuk membuat bom tersebut,” ujarnya.

Abu Bakar Baasyir sepakat jika Amrozi Cs dihukum karena kesalahannya melakukan pengeboman yang mengakibatkan kerusakan dan luka-luka. Namun, ia tetap tidak percaya jika bom milik Amrozi bisa membunuh orang. Abu Bakar Baasyir mencurigai bom yang meledak itu milik CIA.

Pimpinan Pondok Pesantren Ngruki Solo ini khawatir jika pemerintah Indonesia yang tidak takut Allah tapi takut pada George W. Bush ini nekad mengeksekusi mati Amrozi Cs akan mengakibatkan bala’ (bencana besar) yang ditimpakan oleh Allah SWT.

Menurutnya, Amrozi Cs bukanlah teroris namun justru kontra teroris. Mereka merupakan mujahid yang membela Islam dan kaum musliminin dari teror AS dan kawan-kawannya, hanya saja langkah mereka melakukan pengeboman itu keliru.

“Kalau tetap nekad mengeksekusi, jangan orang Islam yang ditunjuk jadi regu tembak eksekusi,” ujarnya menasehati Kapolri. Ia mengkhawatirkan jika orang Islam yang melakukan eksekusi akan mengakibatkannya murtad karena membunuh seorang pejuang Islam. “Tapi saya anjurkan mundur saja, jangan nekad mengeksekusi. Saya khawatir ada bala’ dari Allah kalau tetap nekad. Saya sudah memperingatkan!” pungkasnya.

[ihsan/www.suara-islam. com]

Psikopat di antara kita (Kenali 11 Gejala Psikopat)


(Satrio Arismunandar, AIPI)

Di media massa, akhir-akhir diramaikan dengan berita penangkapan seorang pembunuh dan pelaku mutilasi. Orang ini diyakini sudah membunuh banyak orang, dan semua dilakukan dalam rentang waktu tak begitu lama. Diduga kuat, tersangka pelaku ini seorang psikopat.

Tetapi apakah psikopat itu? Saya mengutip dari Wikipedia:

Psikopat secara harfiah berarti sakit jiwa. Pengidapnya juga sering disebut sebagai Sosiopat karena prilakunya yang antisosial dan merugikan orang-orang terdekatnya.

Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit. Psikopat tak sama dengan gila (skizofrenia/ psikosis) karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Gejalanya sendiri sering disebut dengan psikopati, pengidapnya seringkali disebut “orang gila tanpa gangguan mental”.

Menurut penelitian sekitar 1% dari total populasi dunia mengidap psikopati. Pengidap ini sulit dideteksi karena sebanyak 80% lebih banyak yang berkeliaran daripada yang mendekam di penjara atau dirumah sakit jiwa, pengidapnya juga sukar disembuhkan [1].

Seorang ahli psikopati dunia yang menjadi guru besar di Universitas British Columbia, Vancouver, Kanada bernama Robert D. Hare telah melakukan penelitian psikopat sekitar 25 tahun. Ia berpendapat bahwa seorang psikopat selalu membuat kamuflase yang rumit, memutar balik fakta, menebar fitnah, dan kebohongan untuk mendapatkan kepuasan dan keuntungan dirinya sendiri.

Dalam kasus kriminal, psikopat dikenali sebagai pembunuh, pemerkosa, dan koruptor. Namun, ini hanyalah 15-20 persen dari total psikopat. Selebihnya adalah pribadi yang berpenampilan sempurna, pandai bertutur kata, mempesona, mempunyai daya tarik luar biasa dan menyenangkan [2].

Psikopat memiliki 20 ciri-ciri umum. Namun ciri-ciri ini diharapkan tidak membuat orang-orang mudah mengecap seseorang psikopat karena diagnosis gejala ini membutuhkan pelatihan ketat dan hak menggunakan pedoman penilaian formal, lagipula dibutuhkan wawancara mendalam dan pengamatan-pengamat an lainnya.

Mengecap seseorang dengan psikopat dengan sembarangan beresiko buruk, dan setidaknya membuat nama seseorang itu menjadi jelek.

Gejala-gejala Psikopat:

1. Sering berbohong, fasih dan dangkal. Psikopat seringkali pandai melucu dan pintar bicara, secara khas berusaha tampil dengan pengetahuan di bidang sosiologi, psikiatri, kedokteran, psikologi, filsafat, puisi, sastra, dan lain-lain. Seringkali pandai mengarang cerita yang membuatnya positif, dan bila ketahuan berbohong mereka tak peduli dan akan menutupinya dengan mengarang kebohongan lainnya dan mengolahnya seakan-akan itu fakta.

2. Egosentris dan menganggap dirinya hebat.

3. Tidak punya rasa sesal dan rasa bersalah. Meski kadang psikopat mengakui perbuatannya namun ia sangat meremehkan atau menyangkal akibat tindakannya dan tidak memiliki alasan untuk peduli.

4. Senang melakukan pelanggaran dan bermasalah perilaku di masa kecil.

5. Sikap antisosial di usia dewasa.

6. Kurang empati. Bagi psikopat memotong kepala ayam dan memotong kepala orang, tidak ada bedanya.

7. Psikopat juga teguh dalam bertindak agresif, menantang nyali dan perkelahian, jam tidur larut dan sering keluar rumah.

8. Impulsif dan sulit mengendalikan diri. Untuk psikopat tidak ada waktu untuk menimbang baik-buruknya tindakan yang akan mereka lakukan dan mereka tidak peduli pada apa yang telah diperbuatnya atau memikirkan tentang masa depan. Pengidap juga mudah terpicu amarahnya akan hal-hal kecil, mudah bereaksi terhadap kekecewaan, kegagalan, kritik, dan mudah menyerang orang hanya karena hal sepele.

9. Tidak mampu bertanggung jawab dan melakukan hal-hal demi kesenangan belaka.

10. Manipulatif dan curang. Psikopat juga sering menunjukkan emosi dramatis walaupun sebenarnya mereka tidak sungguh-sungguh. Mereka juga tidak memiliki respon fisiologis yang secara normal diasosiasikan dengan rasa takut seperti tangan berkeringat, jantung berdebar, mulut kering, tegang, gemetar — bagi psikopat hal ini tidak berlaku. Karena itu psikopat seringkali disebut dengan istilah “dingin”.

11. Hidup sebagai parasit karena memanfaatkan orang lain untuk kesenangan dan kepuasan dirinya.

Lima tahap mendiagnosis psikopat:

1. Mencocokan kepribadian pasien dengan 20 kriteria yang ditetapkan Prof. Hare. Pencocokkan ini dilakukan dengan cara mewawancara keluarga dan orang-orang terdekat pasien, pengaduan korban, atau pengamatan prilaku pasien dari waktu ke waktu.

2. Memeriksa kesehatan otak dan tubuh lewan pemindaian menggunakan elektroensefalogram , MRI, dan pemeriksaan kesehatan secara lengkap. Hal ini dilakukan karena menurut penelitian gambar hasil PET (positron emission tomography) perbandingan orang normal, pembunuh spontan, dan pembunuh terencana berdarah dingin menunjukkan perbedaan aktivitas otak di bagian prefrontal cortex yang rendah. Bagian otak lobus frontal dipercaya sebagai bagian yang membentuk kepribadian [3] [4].

3. Wawancara menggunakan metode DSM IV (The American Psychiatric Association Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder versi IV) yang dianggap berhasil untuk menentukan kepribadian antisosial.

4. Memperhatikan gejala kepribadian pasien. Biasanya sejak usia pasien 15 tahun mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan kejiwaan.

5. Melakukan psikotes. Psikopat biasanya memiliki IQ yang tinggi. ***