GENGSI


GENGSI

Saat Saya bicara di dalam pelatihan-pelatihan bahwa feedback adalah hal yang unavoidable atau tidak terhindarkan untu perbaikan dan pengembangan diri, hamper selalu saja ada ‘curhat’ dari peserta menenai banyaknya mereka menemui individu senior yang tidak welcome, sulit atau bahkan meradang saat menerima umpan balik. Saya menduga, bahwa salah satu alas an seseorang sulit menerima umpan balik mengenai kinerja, kesalahan dan pengembangan dirinya, terutama di negara kita ini, adalah lebih dilatarbelakangi gengsi yang besar.

Kritik dipandang sebagai sesuatu yang menjatuhkan ‘muka’ dan menurunkan gengsi. Apalagi bila senior berada pada situasi harus bekerja di bawah pimpinan yang lebih muda, pintar namun kurang pengalaman, bisa-bisa makin besar pula kadar gengsinya. Komentar seperti “anak kemarin sore”-lah “belum pengalaman”-lah dan banyak alasan lain, seakan tidak memperbolehkan diri kita untuk melihat ke dalam dan berpikir mengenai kapasitas, kompetensi, kontribusi dan komitmen yang selama ini kita tampilkan, sehingga kita tidak dipilih menjadi pimpinan tim dan dilangkahi oleh yang lebih muda-muda.

Banyak ahli mengatakan bahwa gengsi adalah dominasi masyarakat Asia. Pada masyarakat Jawa bisa dikonotasikan dengan “projo”, oleh masyarakat Cina dekat dengan pengertian “mianzi” (nama baik) dan “lian” (karakter moral). Dalam bahasa Inggeris sendiri memang tidak ada kata tepat untuk fenomena “menjaga muka” ini, kecuali gabungan antara “reputasi” dan “esteem”. Namun kapanpun dan di negara manapun, setiap orang memang punya kebutuhan untuk menjaga “image” dirinya di depan publik.

Agendakan Bermawas Diri

Andrew Oswald, seorang ahli ekonomi dari University of Warwick, mengatakan bahwa manusia mempunyai nasib untuk selamanya membandingkan dirinya dengan orang lain. Bila kegiatan membandingkan diri ini dilandasi “kerakusan” dan hal-hal yang ada di permukaan saja, maka individu bisa melakukan tindakan salah, berdasarkan analisa pribadinya itu. Tentunya kita ingat cerita klasik, seorang istri membandingkan diri dengan tetangga yang baru membeli motor dan suaminya pulang, ia merengek untuk juga dibelikan motor baru, tanpa berpikir mengenai pendapatan, kesempatan dan kemampuan keluarga untuk meningkatkan konsumsi.

Bila kita tidak punya agenda untuk senantiasa “mengisi diri” dan mencerdaskan diri sendiri, sangat mungkin terjadi situasi membandingkan diri tanpa berupaya menganalisa lebih mendalam, kita ulangi lagi dan lagi. Pada akhirnya, analisa-analisa ini bisa bertumpuk dan berakibat pada kedangkalan berpikir, sehingga kita hanya bisa menumbuhkan “esteem” atau harga diri atau merasa “bergengsi” melalui hal-hal dangkal dan di permukaan saja, seperti materi, jabatan, fasilitas, serta apa yang dikenakan orang.

Teman saya adalah istri seorang ahli perminyakan. Saya mendengar sendiri ia mengomel pada sebuah jamuan makan di rumahnya, “Pah, masa orang lain sudah ganti mobil Maserati, kita masih Kijang Kijang juga …” Ketika diusut, siapa pengendara Maserati itu, ternyata mereka adalah pemilik perusahaan minyak tempat suaminya bekerja yang kebetulan bersahabat dengannya. Analisa mengenai pendapatan, pekerjaan, dan kemampuan yang sangat sederhana ini bisa sulit dilakukan bila kita memang tidak berlatih untuk menjadi lebih “dalam” dan mawas diri. Oleh Oswald, gejala ini disebut sebagai “happiness economics”, dimana kebahagiaan sangat relatif dan bergantung pada kegiatan membandingkan diri dengan orang lain, dari waktu ke waktu, lalu mengakibatkan individu tidak pernah stop untuk meningkatkan kebutuhannya. Bisa saja kita jadi terjebak menghalalkan berbagai cara untuk mengejar kedudukan, kekayaan, namun sekaligus membuat makna kemanusiaan kita hampa.

Mengangkat Gengsi: “Being versus “Having”

Bila kita mau sedikit bermawas diri, tentunya kita sadar bahwa menjaga gengsi, tidak semata berasal dari sebatas kedudukan, kekayaan, dan kepemilikan barang. Ingat saja, bahwa si multibilyuner dolar, Mark Zuckerberg, pemilik Facebook tidak mendapatkan gengsinya melalui pesta-pesta bermiliar dolar, gonta-ganti mobil, mengejar jabatan dengan menghalalkan segala cara. Ia sekadar anak kos-kosan yang rajin mengulik, berkreasi dan berinovasi, sampai bisa membuahkan produk yang berharga dan populer seantero dunia. Kita lihat, “self image” di mata publik bisa dilandasi oleh beberapa domain penting dalam kehidupan ini, seperti prestasi, pengalaman, kepahlawanan, tata krama, tata bahasa, kinerja, ekspertis, kearifan yang lebih mengarah pada “being” seserang dibandingkan dengan “having” seseorang. Ini tentunya kabar baik bagi setiap individu yang juga ingin meningkatkan “gengsi”-nya tapi belum tahu dari mana sumbernya.
Kita bisa menggaris bawahi bahwa kita memang perlu senantiasa menjaga kebugaran fisik, intelektual, emosional dan spiritual kita, sebagai modal untuk menganalisa, memperbaiki, mengembangkan diri sendiri, berkreasi, berprestasi, menonjol, sehingga kemudian bisa merespek diri sendiri, lalu menjaga hakekat “qualities” diri kita sebagai fitur gengsi. Sudah tidak zamannya lagi kita merasa gengsi naik sepeda, ketimbang berkendaraan mobil, dan seharusnya malah lebih bangga bahwa kita bugar menjaga kesehatan. Atau sebaliknya perlu memiliki Blackberry seri terbaru, tetapi gaptek dalam menggunakannya? Menunjang program “busway” adalah salah satu bukti bahwa kita bisa mengangkat harga diri melalui prinsip efisiensi dan efektivitas, dimana kita bisa lebih cepat sampai tujuan tanpa harus bermacet-macet duduk bengong di dalam mobil mewah kita, dengan membayar joki pula. Jadi, manakah yang lebih bergengsi? (Eileen Rachman & Sylvina Savitri/ EXPERD/Kompas/Klasika/08/11/2008).

Polling “Pembubaran” FPI di Liputan6.com Raib


Polling FPI di Liputan6.com “Raib”
Jumat, 13 Juni 2008

Polling “pembubaran” FPI di Liputan6.com tiba-tiba “raib”.
Sebelumnya, hasil polling di situs stasiun TV itu justru tak
menginginkan FPI dibubarkan!

Hidayatullah. com–Tanpa ada pemberitahuan yang jelas, polling
pembubaran FPI di Liputan6.com tiba-tiba “raib”. Sebagaimana diketahui
sebelumnya situs ini menyediakan polling terbuka untuk menjaring sikap
masyarakat tentang keberadaan Front Pembela Islam (FPI) terkait kasus
Monas.

“Catatan aksi kekerasan Front Pembela Islam (FPI) cukup panjang.
Terakhir, para anggotanya terlibat penyerangan Aliansi Kebangsaan
Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Beberapa pihak
meminta FPI dibubarkan. Setujukah Anda jika FPI diburkan?” Begitu
Liputan6.com mengawali polling.

Pasca kasus Monas, 1 Juni 2008 lalu, setidaknya ada empat media online
membuat polling serupa. Selain Liputan6.com, ada situs detik.com,
situs milik PBNU, www.nu.or.id dan Republika online.

Yang mengagetkan, umumnya hasil polling keempat media itu menunjukkan
ketiksetujuan responden membubarkan FPI.

Pantauan http://www.hidayatullah. com Selasa pagi, 10 Juni 2008 hasil polling
Liputan6.com menunjukkan, 59% (atau 89.126 pembaca tak menginginkan
FPI dibubarkan). Hanya 41%, atau 62.093 pembaca meminta FPI
dibubarkan. Sisanya 272 (0%), menyatakan abstain.

Setiap hari, jumlah peserta polling yang memilih opsi menolak
pembubaran FPI justu semakin meningkat, sehingga menjelang pukul 3:00,
mereka yang menolak pembubaran FPI merangkak menjadi 60%, sedangkan
yang menolak 40%. Namun kemudian, esoknya, tampilan polling itu “raib”
entah ke mana. Tidak ada pengumuman mengapa polling ditutup.

Sedangkan polling di Detik.com hasilnya menunjukkan pihak yang enggan
FPI dibubarkan masih tetap unggul. Sekitar 56, 76 % dengan pemilih
sebanyak 26022 orang. Sedangkan pihak yang menginginkan FPI bubar
meraih 43,24% dengan pemilih sebanyak 19826 orang.
Adapun Polling di http://www.republika. co.id, mereka yang menginginkan FPI
tidak dibubarkan melejit menjadi 85,5%. Di http://www.nu.or.id dukungan agar
FPI tidak dibubarkan juga meningkat dari 59 % menjadi 62%. Yang tak
menginginkan FPI dibubarkan beralasan, “keberadaannya harus tetap
dipertahankan guna menghapus kemaksiatan dan melawan kelompok
liberal.” [thoriq/www. hidayatullah. com]

Uskup: Orang Tionghoa Katolik Dapat Rayakan Tahun Baru Imlek


Uskup: Orang Tionghoa Katolik Dapat Rayakan Tahun Baru Imlek

Wednesday, Feb. 6, 2008 Posted: 3:22:29AM PST

Perayaan Imlek yang dinantikan suku Tionghoa diterima oleh seorang uskup Katolik lokal. Bahkan menurutnya suku Tionghoa yang beragama Katolik dapat dapat merayakan Tahun Baru Imlek, bahkan secara khusus dalam bentuk Misa Imlek, asalkan tidak pada Misa Hari Minggu atau Misa Hari-Hari Raya Katolik.

“Tidak ada salahnya bila warga Tionghoa yang beragama Katolik tetap merayakan Tahun Baru Imlek untuk menyukuri rejeki dan perlindungan dari Tuhan,” Uskup Pangkalpinang Hilarius Moa Nurak SVD melalui Pastor Ambrosius Sanar SS.CC, di Gereja Katolik Beato Damian, Batam, Senin, Antara memberitakan.

Di banyak negara, Tahun Baru Imlek dirayakan dengan meriah dengan segala pernak-perniknya dan di Indonesia lebih didasari pada peringatan tahun kelahiran Khong Cu. Namun menurut Hilarius, perayaan Imlek pada dasarnya adalah tradisi budaya Tionghoa dalam mensyukuri musim semi yang membawa harapan baru.

Selain itu, bagi Keuskupan Pangkalpinang, perayaan Tahun Baru Imlek merupakan salah satu dari bentuk inkulturasi Gereja Katolik.

Menurutnya Gereja Katolik, berharap agar Tuhan menyertai tahun yang baru (2559 Imlek) sehingga suka duka kehidupan manusia dapat dipersembahkan kepada Sang Pencipta.

Menurut Hilarius, di luar Misa Hari Minggu dan Misa Hari-Hari Raya Katolik, Misa Imlek dapat dilakukan kapan saja. Sedangkan bahan bacaan dan tata caranya dapat disesuaikan dengan makna Imlek, tetapi dengan tetap memperhatikan peraturan Liturgi Gereja Katolik.

Sebagai pedoman penyelenggaraan, dekorasi Imlek diizinkan bernuansa kebudayaan Tionghoa pada ruang liturgi, kecuali pada warna pakaian petugas Misa.

pMenurut Hilarius, Perayaan Tahun Baru Imlek bagi umat Katolik adalah ungkapan rasa syukur atau pesta atas kemuliaan Allah. “Maka, warna yang sesuai untuk liturgi adalah putih, bukan merah,” sarannya. Selain itu, di panti atau tempat tinggal imam, tidak boleh ada hiasan Imlek, apa pun bentuknya, misalkan lampion, kecuali lilin dan bunga yang warnanya disesuaikan dengan tahun liturgi.

Keuskupan Pangkalpinang berdiri sejak 1923. Wilayahnya, meliputi Provinsi Bangka Belitung dan Provinsi Kepulauan Riau. Pemeluk agama Katolik di keuskupan itu kurang-lebih 41 ribu orang, termasuk di dalamnya dari kalangan Tionghoa.

Misa Imlek di Gereja Beato Damian, Batam akan diselenggarakan Kamis pagi 7 Februari 2008 (hari I Imlek 2559). Sedangkan pada 6 Februari 2008 (Malam Tahun Baru Imlek 2559) hanya untuk Misa Rabu Abu yang merupakan ibadat Pra-Paskah 2008.

Steven Pramono
Reporter Kristiani Pos

Gus Dur: Imlek Tidak Haram Dirayakan


Gus Dur: Imlek Tidak Haram Dirayakan

Jakarta, (Analisa)

Imlek adalah perayaan budaya bukan perayaan keagamaan sehingga tidak haram bagi warga Tionghoa yang beragama Islam untuk turut merayakan Imlek.

“Imlek itu bukan perayaan hari raya, itu perayaan tani,” ujar Ketua Dewan Syuro PKB Abdurahman Wahid dalam talkshow “Living in Harmony the Chinese Heritage in Indonesia” di Mal Ciputra, Jakarta Barat, Rabu (30/1).

Budaya China sendiri, menurut Gus Dur banyak mempengaruhi budaya Betawi.

“Budaya Betawi itu campur aduk antara Arab, Melayu, dan Tionghoa,” jelasnya.

Gus Dur juga menyambut baik tumbuh dan berkembangnya kebudayaan China di Indonesia sejak diizinkannya perayaan Imlek secara luas pada masa pemerintahannya.

“Mari kita bawa Republik Indonesia ini kepada pluralitas,” pungkasnya.

Keturunan Putri Campa

Gus Dur ternyata adalah keturunan Tionghoa. Malah dengan bangga, mantan presiden ini mengakui dirinya sebagai seorang China tulen.

“Saya ini China tulen sebenarnya, tapi ya sudah nyampurlah dengan Arab dan India. Nenek moyang saya orang Tionghoa asli,” ungkap Gus Dur.

Gus Dur menjelaskan dirinya adalah turunan Putri Campa yang menjadi selir Raja Majapahit Brawijaya V. “Putri Campa itu lahir di Tiongkok, lalu dibawa ke Indonesia,” jelasnya.

Dari perkawinannya dengan Brawijaya V, Putri Campa ini mempunyai dua orang putra. Yang pertama adalah Tan Eng Hian yang mendirikan kerajaan Demak dan akhirnya berganti nama jadi Raden Patah. “Dari sana keturunannya,” ujarnya.

Sedangkan putra Putri Campa yang satunya lagi diceritakan Gus Dur bernama Tan A Hok yang akhirnya menjadi seorang Jenderal. (dtc)

“Negara tidak tunduk pada fatwa. Negara tunduk pada konstitusi”


Sumber: Kompas Cyber Media, 7 Jan 2008

100-an Orang Berunjuk Rasa Dukung Kebebasan Beragama

 Laporan Wartawan Kompas Dewi Indriastuti

JAKARTA, KOMPAS – Sekitar 100 orang yang mengatasnamakan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), Senin (7/1), berunjuk rasa di depan Gedung Kejaksaan Agung, Jalan Sultan Hasanuddin.
Unjuk rasa diawali dengan menyerahkan buket bunga kepada polisi yang sudah berjaga-jaga di luar pagar Kejagung.
Pengunjuk rasa mengusung poster dan spanduk. Salah satu spanduk bertuliskan “Negara tidak tunduk pada fatwa. Negara tunduk pada konstitusi”.
Dalam siaran pers yang dibagikan kepada wartawan, AKKBB meminta Kejaksaan Agung untuk berpegang teguh pada prinsip penegakan hukum dan tidak mengkriminalkan, membekukan, dan melarang suatu aliran agama/kepercayaan tertentu berdasarkan fatwa MUI. AKKBB juga meminta Kejagung untuk tidak melanggar hak-hak konstitusional warga negara yang berakibat pada merosotnya harkat dan martabat bangsa dalam pergaulan masyarakat internasional.

Suara keras Gus Dur


Catatan A. Umar Said

                                Suara keras Gus Dur

 Ketika negeri dan rakyat kita  sekarang sedang menghadapi berbagai masalah politik, ekonomi, sosial, moral dan agama yang parah, maka suara keras dan berani yang dikeluarkan oleh Gus Dur seperti yang berikut ini patut mendapat perhatian yang besar dari kita semua. Suara keras dan berani ini tercermin dalam berita yang disiarkan Tempo Alternatif tanggal 30 Desember 2007, yang berbuyi sebagai berikut :

 Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa Abdurrahman Wahid menyatakan Indonesia kehilangan orientasi pembangunan nasional. Akibatnya, rakyat tidak percaya pada pemerintah yang berkuasa saat ini.

“Orientasi pembangunan kita nggak jelas. Kita harus mampu membuat orientasi pembangunan nasional secara tepat,” katanya dalam orasi catatan akhir tahun di Hotel Santika, Minggu (30/12).

Orasi akhir tahun Gus Dur tersebut dihadiri oleh beberapa tokoh nasional dan politik. Di antaranya Franz Magnis-Suseno, H.S. Dillon, Agum Gumelar, Soetrisno Bachir, dan Mohammad Sobari.

Selama ini, pembangunan ditujukan untuk kalangan atas. Akibatnya, jumlah rakyat miskin bertambah dan pengangguran tetap tinggi. “Pemerintahan SBY didikte oleh super power. Sama seperti pemerintahan orde baru yaitu pembangunan untuk kalangan atas saja,” katanya.

Pemerintahan Yudhoyono-Kalla mengukur hasil pembangunan berdasarkan pertumbuhan atau growth. Sehingga, pembangunan selama ini dinilai sukses. Angka kemiskinan pun tinggal 16 persen. Sedangkan, angka pengangguran 49 persen. Seharusnya, dia menambahkan, pembangunan diukur berdasarkan pemerataan. “Yang kaya, tambah kaya. Yang melarat, tambah melarat,” ujarnya.

Hilangnya orientasi pembangunan, katanya, tak lepas dari pengaruh Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, dan Organisasi Perdagangan Dunia. Selama ini, dia melanjutkan, tiga organisasi dunia itu memaksa Indonesia berutang. Sehingga, nilai utang luar negeri saat ini mencapai US$ 600 miliar. Bahkan, ujarnya, ada pihak yang berpendapat nilai utang luar negeri Indonesia mencapai US$ 1,3 triliun. “Pemerintah lupa bahwa yang harus membayar utang adalah anak cucu kita,” ujarnya.

Utang luar negeri itu, ujarnya, dibiayai dengan penjualan komoditas ke luar negeri. Padahal, komoditas Indonesia dibeli dengan harga murah. Ketidakseimbangan itu, dia menambahkan, akibat dari globalisasi perdagangan. “Nilai-nilai dasar yang kita anut pun berubah,” katanya. Dampak susulan dari perubahan itu adalah lahirnya golongan fundamental atau radikal yang ingin mempertahankan nilai-nilai Islam.

Gus Dur punmenyoroti soal kekerasan yang masih digunakan untuk menyelesaikan masalah. Tindak kekerasan itu diterapkan dengan mengatasnamakan agama. “Ini harus dibongkar habis-habisan, ” ujarnya.

Menurut dia, konstitusi menjamin kebebasan berpikir dan berpendapat warga negara Indonesia. Aturan itu seharusnya menjadi landasan kehidupan berbangsa. Majelis Ulama Indonesia pun berkontribusi atas tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama. Selama ini, ujarnya, MUI mengeluarkan fatwa yang dijadikan landasan bagi sebagian besar umat Islam di Indonesia. “MUI jangan sembarangan berpendapat tentang Ahmadiyah sebagai aliran sesat. Saya minta MUI tidak menggunakan kata sesat,” ujarnya.

Persoalan Ahmadiyah, katanya, sebaiknya ditangani oleh PAKEM (penganut aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa). Alasannya, dalam PAKEM terdapat unsur kepolisian dan kejaksaan agung. Selain Ahmadiyah, orang-orang yang tergabung dalam gerakan shalawatan Wahidiyah di Tasikmalaya Jawa Barat pun dinyatakan sesat oleh pengurus MUI setempat. “Orang sudah melupakan Republik Indonesia bukan negara Islam tapi nasional,” katanya.

Dia meminta MUI dibubarkan karena mengeluarkan fatwa sembarangan. Apalagi, ujarnya, MUI bukan satu-satunya organisasi massa Islam yang ada di Indonesia. “Bubarin ajalah MUI kalau begini. MUI bukan satu-satunya ormas Islam karena itu jangan gegabah mengeluarkan pendapat yang bisa membuat kesalahpahaman, ” ujarnya. (kutipan dari Tempo Interaktif selesai).

Pukulan keras bagi pemerintah SBY

Dari berita tersebut di atas dapat kiranya diangkat berbagai hal penting, karena justru diungkapkan oleh seorang tokoh politik nasional dan sekaligus juga agamawan Islam yang besar. Karena itu, ketika ia mengatakan bahwa “Indonesia sudah kehilangan orientasi dalam pembangunan nasional, dan karenanya rakyat tidak percaya pada pemerintah yang berkuasa saat ini” maka bisa diartikan bahwa ucapannya ini merupakan pukulan yang berat sekali terhadap pemerintah SBY-JK.

Pukulan keras yang diucapkan Gus Dur terasa lebih keras lagi ketika ia juga mengatakan : “Selama ini, pembangunan ditujukan untuk kalangan atas. Akibatnya, jumlah rakyat miskin bertambah dan pengangguran tetap tinggi. Pemerintahan SBY didikte oleh super power. Sama seperti pemerintahan Orde Baru yaitu pembangunan untuk kalangan atas saja,” katanya.

Sebab, dengan mengatakan yang demikian itu Gus Dur menunjukkan degan jelas-jelas bahwa pembangunan  yang digembar-gemborkan selama ini hanya menguntungkan kalangan atas. Dan pembangunan yang menguntungkan kalangan atas itu sudah berlangsung sejak pemerintahan Orde Baru, seperti yang kita saksikan dewasa ini. Banyaknya korupsi dan  penyalahgunaan kekuasaan, yang dilakukan kalangan atas, merupakan bagian dari pembangunan yang salah orientasi, yang membikin rakyat miskin bertambah miskin dan jumlah pengangguran sangat tinggi.

Pernyataan Gus Dur yang  lain yang sangat penting sebagai tokoh politik nasional dan tokoh terkemuka ummat Islam ialah ketika ia mengatakan bahwa pemerintahan SBY didikte oleh super power dan bahwa hilangnya orientasi pembangunan  tak lepas dari pengaruh Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, dan Organisasi Perdagangan Dunia. Selama ini tiga organisasi dunia itu memaksa Indonesia berutang, sehingga ada yang mengatakan bahwa utang luar negeri Indonesia  mencapai US$ 1,3 triliun. “Pemerintah lupa bahwa yang harus membayar utang adalah anak cucu kita”, ujarnya

Adalah juga sangat penting (dan menarik sekali ! ) yang dikatakan Gus Dur bahwa pemerintahan SBY didikte oleh superpower dan bahwa hilangnya orientasi pembangunan  tak lepas dari pengaruh Bank Dunia, Dana Moneter Internasional dan Organisasi Perdagangan Dunia, Ini menunjukkan bahwa pandangannya mengenai hal-hal ini adalah sejalan dengan pandangan berbagai tokoh negeri kita, dan seiring dengan kegiatan-kegiatan atau aksi-aksi bermacam-macam gerakan yang menentang neo-liberalisme dan globalisasi, baik yang di Indonesia maupun yang ada di banyak negeri di dunia. Patutlah diingat bersama bahwa kesadaran umum terhadap akibat-akibat buruk dari banyaknya operasi modal besar asing di Indonesia akhir-akhir ini makin membesar, terutama di kalangan generasi muda.

Bubarkan saja Majlis Ulama Indonesia

Di samping hal-hal penting itu semua, ucapannya mengenai berbagai masalah yang berkaitan dengan ummat atau agama Islam di Indonesia mempunyai arti yang amat besar bagi situasi negeri kita dewasa ini. Gus Dur menyoroti soal kekerasan yang masih digunakan (oleh kalangan Islam) untuk menyelesaikan masalah. Tindak kekerasan itu diterapkan dengan mengatasnamakan agama. “Ini harus dibongkar habis-habisan, ” ujarnya.

Kecaman yang tajam sekali telah dilontarkan oleh Gus Dur terhadap Majlis Ulama Indonesia (MUI) yang telah mengeluarkan fatwa yang dijadikan landasan bagi sebagian ummat Islam Indonesia, antara lain bahwa Ahmadiyah sebagai aliran sesat. Dia meminta MUI dibubarkan karena mengeluarkan fatwa sembarangan. Apalagi, ujarnya, MUI bukan satu-satunya organisasi massa Islam yang ada di Indonesia. “Bubarin ajalah MUI kalau begini. MUI bukan satu-satunya ormas Islam, karena itu jangan gegabah mengeluarkan pendapat yang bisa membuat kesalahpahaman, ” ujarnya.

Sebagai tokoh besar  golongan Islam, ucapan Gus Dur yang seperti itu mempunyai bobot dan arti penting tersendiri. Ketika banyak tokoh-tokoh Islam lainnya hanya diam (atau takut-takut) saja terhadap aksi-aksi kekerasan yang dilakukan oleh sebagian kalangan Islam, maka apa yang dikatakan oleh Gus Dur mengenai hal ini merupakan keberanian yang menyejukkan hati bagi sebagian besar kalangan  masyarakat.

Sebagai tokoh nasional yang terkemuka, pandangan Gus Dur mengenai negara, konstitusi, kebebasan berfikir dan kehidupan berbangsa juga amat penting untuk dicermati oleh kita semua, dan terutama oleh golongan Islam. Menurut dia, konstitusi menjamin kebebasan berpikir dan berpendapat warga negara Indonesia. Aturan itu seharusnya menjadi landasan kehidupan berbangsa. . “Orang sudah melupakan Republik Indonesia bukan negara Islam tapi nasional,” katanya.

Gus Dur dihormati kalangan internasional

Dari apa yang diucapkan oleh Gus Dur  seperti tersebut di atas nyatalah bahwa pandangannya mengenai berbagai masalah penting  negara kita  mencerminkan ketidakpuasan atau kekecewaan, dan menghendaki perubahan besar demi kepentingan rakyat banyak. Dan berlainan dengan para pejabat atau “tokoh-tokoh” kita yang kebanyakan masih berilusi tentang “kebaikan” sistem yang dianut oleh neo-liberalisme, maka ia menyatakan bahwa justru karena ulah Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, dan Organisasi Perdagangan Dunia yang membkin rakyat kita yang miskin  tambah miskin dan yang kaya makin kaya.

Berbagai pandangan Gus Dur yang positif tersebut di atas perlu sekali diketahui dan disebar-luaskan sebanyak mungkin di kalangan rakyat, dan terutama di kalangan Islam. Memang, pandangan yang hampir serupa atau searah dengan pandangan Gus Dur sudah juga muncul di sana-sini, terutama di kalangan muda Islam, umpamanya di kalangan Ikatan Pelajar NU (IPNU), Kaum Muda NU (KMNU), Jaringan Islam Liberal (JIL), Syarikat Indonesia, Santri Kiri, PMII dll dll. Dengan kadar berbeda-beda, dan pendekatan yang tidak sama, pada umumnya kelompok-kelompok atau kalangan tersebut di atas menyuarakan hal-hal yang berbeda (bahkan bertentangan sama sekali)  dengan kalangan Islam lainnya yang dekat dengan FPI, Majlis Mujahidin, Komando Jihad, Jamaah Islamiah dan lain-lain kelompok atau organisasi yang sehaluan dan searah.

Berbagai pandangan Gus Dur mengenai persatuan nasional dan persaudaraan Islam digolongkan oleh banyak orang sebagai pandangan yang mengutamakan kebebasan dan toleransi antara berbagai golongan, termasuk golongan minoritas. Itu sebabnya, ketokohan Gus Dir juga diakui dan dihormati di dalam negeri dan di kalangan internasional.

Kita perlu banyak tokoh seperti Gus Dur

Banyak peristiwa-peristiwa dalam masyarakat yang disebabkan tindakan atau kegiatan sebagian kalangan Islam (semacam FPI, Komando Jihad dll), yang dibantu oleh kekuatan-kekuatan gelap dari sisa-sisa Orde Baru, telah menimbulkan citra yang jelek bahwa kalangan-kalangan itu umumnya bersikap tidak toleran terhadap adanya perbedaan keyakinan, mempunyai pandangan picik dan menyukai kekerasan.

Menghadapi kekisruhan atau kekacauan yang ditimbulkan oleh anasir-anasir yang tidak toleran seperti tersebut di atas itu semunya, terasalah pentingnya bagi negeri kita mempunyai banyak tokoh seperti Gus Dur. Kita butuhkan tokoh-tokoh yang mempunyai gagasan-gagasan besar untuk memajukan bangsa, dan bukannya orang-orang yang menggiring bangsa kita ke arah kemunduran.

Dan kalau kita lihat bahwa bangsa-bangsa lain di berbagai bagian dunia sudah mengalami perubahan-perubahan besar demi kemajuan rakyatnya (contohnya : Tiongkok, Vietnam, India, Kuba, Venezuela, Bolivia, Argentina, bahkan juga akhir-akhir ini negara-negara di Eropa Timur) maka keterpurukan negara kita Indonesia kelihatan makin sangat menyedihkan.

Bukan hanya karena korupsi yang merajalela di seluruh negeri saja, tetapi juga karena kemiskinan dan  pengangguran yang menimpa sebagian besar sekali rakyat kita. Pembusukan moral terjadi dimana-mana, termasuk di kalangan agama. Penderitaan rakyat yang sudah sangat berat itu ditambah lagi dengan adanya bencana alam, gempa bumi, dan banjir.

Dengan latar belakang itu semuanya maka nyatalah bahwa suara Gus Dur yang dilontarkan dalam orasi akhir tahunnya itu mempunyai arti dan bobot yang perlu mendapat perhatian dari kita semuanya, termasuk (bahkan, terutama ! ) dari kalangan Islam.

Paris, 31 Desember

Happy New Year 2008


Happy New Year 2008

NEW YEAR,

NEW HOPE,

happy new year

 NEW LIFE,

 NEW SPIRIT,

NEW VISION

 AND MISION,  all in NEW  must be BETTER , do the best, “HAPPY NEW YEAR 2008” . Wish you more succes. God bless you all. Pormadi