KBRI Protes Sebutan “Indon” di Harian Malaysia (Kembali Malaysia Menghina Indonesia)


Meskipun Malaysia, lebih unggul dalam banyak hal, namun tidak etis dan dewasa jika menghina Indonesiam
_______________
KBRI Protes Sebutan “Indon” di Harian Malaysia

Rabu, 02 Februari 2011

Kuala Lumpur (ANTARA News) – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur, Malaysia memrotes penggunaan kata “Indon” pada salah satu judul berita di sebuah media lokal, “Berita Harian”, karena sebutan itu berkesan negatif.

“Kami kecewa dan protes dengan penggunaan kata `Indon` sebab kedua kepala negara telah sepakat untuk tidak menggunakan kata tersebut termasuk di media massa,” kata Kepala Bidang Penerangan, Sosial dan Budaya, Suryana Sastradiredja di Kuala Lumpur, Rabu.

Media “Berita Harian” menuliskan berita berjudul “Taktik Kotor Indon” terkait penunjukkan Indonesia sebagai tuan rumah Sea Games pada November mendatang. Rubrik olahraga harian tersebut edisi Rabu (2/2) berisi hasil wawancara dengan Wakil Presiden Majelis Olimpiade Malaysia (MOM), W Y Chin, yang menyebutkan Indonesia sebagai tuan rumah Sea Games XXVI banyak mengikutsertakan cabang olahraga yang menguntungkan atlet-atletnya. Hal tersebut, menurut dia, dapat merusak hubungan kedua negara, bangsa, dan rakyatnya. “Kata `Indon` sangat menghina dan memalukan. Kami akan kirim nota protes ke `Berita Harian` dan mempertanyakan tujuan dari penggunaan kata-kata tersebut,” kata Suryana.

Ia mengatakan, wartawan tentulah orang intelek dan punya intelijensia yang peka terhadap hubungan kedua negara, kecuali penulisan tersebut mempunyai maksud lain. “Kami minta penulisan ini tidak terulang dan penulisnya harus ditindak tegas,” ungkap Suryana menegaskan.

Ia mengungkapkan, selama ini harian tersebut kerap mengggunakan kata “Indon” dalam pemberitaannya yang terkait dengan Indonesia.Terkait itu, pihak KBRI akan menyampaikannya dalam forum pertemuan yang melibatkan kedua pihak.

(N004/R018/S026)
(Antaranews.com)

Lagi: Blog Malaysia Menghina Indonesia Habis-habisan


Mari lihat lagi sebuah blog yang menghina Indonesia.

Mulai dari Lagu Kebangsaan sampai dengan curi kebudayaan. Dari TKI sampai kepada kemiskinan Indonesia
Lihat aja blog ini:
http://www.indonbodoh.blogspot.com

Sebarkan ke yang lain.

Pidato Presiden Soekarno “Ganyang Malaysia”


Pidato Presiden Soekarno “Ganyang Malaysia” :

Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!

Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu!
Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu

Doakan aku, aku kan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.

Serukan serukan keseluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki Gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.

Yoo…ayoo… kita… Ganjang…
Ganjang… Malaysia
Ganjang… Malaysia
Bulatkan tekad
Semangat kita badja
Peluru kita banjak
Njawa kita banjak
Bila perlu satoe-satoe!

Soekarno

Peneliti: Malaysia Tak Lagi Berdiplomasi Saudara


Jakarta (ANTARA) – Peneliti Eksekutif CIDES Zainuddin Djafar mengatakan pemerintah jangan membayangkan Malaysia sebagai saudara namun sebagai negara yang harus diwaspadai.

“Jangan anggap saudara tua, atau saudara serumpun, hal itu sudah tidak ada lagi,” katanya dalam pemaparan ekonomi – politik CIDES di Jakarta, Senin.

Guru Besar FISIP UI tersebut mengatakan, perkembangan diplomasi dan politik luar negeri Malaysia kini telah berubah. Menurut dia, Pemerintah Malaysia dengan kemajuan ekonominya, kini lebih fokus dalam diplomasinya yang lebih bersemangat ke depan.

“Tidak mau tahu dengan sejarah masa lalu hubungan dengan Indonesia. Tidak ada lagi istilah Indonesia sebagai saudara tua atau abang adik,” katanya.

Ia menambahkan, sejak 2000, nilai-nilai superioritas di kalangan Malaysia telah tumbuh pesat. Hal ini menurut dia seiring dengan arus perkembangan ide-ide masyarakat sipil orang masyarakat Melayu pada 2005 terutama dengan menautkan dirinya kepada aturan hukum internasional.

“Kita bisa amati dari setiap pernyataan Menlu Malaysia akhir Agustus 2010 yang selalu memakai hitungan maupun ukuran aturan hukum Internasional sebagai sumber otoritas sipil secara `global society` (masyarakat global),” katanya.

Ia mengatakan, Malaysia kini memiliki kemampuan dan kesiapan dalam diplomasi internasional dibandingkan dengan Indonesia. Malaysia seiring dengan superioritas yang dimilikinya, menurut dia, akan siap untuk melakukan perundingan di tingkat internasional.

Berbeda dengan Indonesia, menurut dia, justru melakukan pelemahan dalam diplomasi. Padahal Indonesia memiliki potensi yang luar biasa yang disegani oleh berbagai negara dalam berdiplomasi.

Dari segi konstelasi politik, Indonesia merupakan pimpinan dalam negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI. Selain itu, Indonesia juga merupakan negara yang sebenarnya sangat berpengaruh dalam negara-negara non blok yang kini menjadi negara G-77. Begitu pula dengan persekutuan ASEAN.

“Namun ini tidak dimainkan, peran kita tidak ada giginya lagi,” katanya.

Di G-77, menurut dia, Turki dan Afrika Selatan siap untuk memainkan peran yang lebih penting. Selain itu di ASEAN, Indonesia juga tidak menunjukkan kiprahnya, dan Malaysia kini siap untuk mengambil alih kepemimpinan tersebut. Ia juga sangat menyayangkan keikutsertaan Indonesia di G-20 lebih sebagai pengikut dibandingkan dengan menjadi alat perjuangan bagi negara-negara berkembang. “Padahal kalau Indonesia bisa memperjuangkan negara-negara berkembang, maka diplomasi Indonesia semakin kuat,” katanya

(Antara, 31 Agustus 2010)

INDONESIA NEGARAKU, ISLAM AGAMAKU


dari google.comKetika saya menonton film-fil Amerika Serikat (AS), ada satu hal yang tidak pernah hilang dari pengamatanku. Satu hal itu adalah kebanggaan warga AS. Ialah bendera Amerika. Kadang terlihat tergantung di depan pintu rumah, kadang di tempel di kemeja atau topi,  dan pasti bendera kebanggaan mereka itu selalu ada.

Akhir-akhir ini saya coba surfing blog di blogspot, saya sering ketemu blog-blog warga Malaysia. Mayoritas mereka juga selalu memasang foto bendera mereka di sisi kanan atau kiri blog mereka. Sebuah bendera Malaysia, dan di sampingnya bertuliskan “JAYA MALAYSIAKU”.

Bagi kita di Indonesia, kebanggaan itu menurut saya ada pada jaman Soekarno.  Bendera itu selalu tertempel di topi atau seragam pemerintah. Setiap kali bertemua antara yang satu dengan yang lain, selalu berteriak, “Merdeka Bung! Atau Hidup Indonesia Raya!

Bila kita amati situasi bangsa dan negara ini sekarang, hampir rasa kebanggaan sebagai warga negara Indonesia hilang, meskipun selalu didelorakan, “Aku Cinta Produk Indonesia!” atau ketika kasus Ambalat yang memicu kerenggaran hubungan antar negara dengan Malaysia, baru rasa kebanggaan itu muncul pada warga Indonesia.

Yang lebih tidak enak lagi, para oknum pejabat negeri ini sibuk memikirkan untuk mempertahankan kekuasaan atau jabatan. Sedangkan rakyat atau mereka yang dilayaninya dibiarkan hidup sengsara dan menderita. Apa lagi yang menjadi kebanggaan mereka sebagai warga Indonesia? Mereka hanya bangga dengan kekuasaannya.

Kita salut terhadap warga AS yang bangga dengan negaranya, Malaysia dengan kebanggaannya sendiri.

Sebenarnya, di Indonesia banyak hal yang sangat membanggakan yang dipuji oleh manca negara. Pancasila adalah salah satu yang dipuji sebagai kebanggaan Indonesia karena bisa mempersatukan warga negara indonesia yang majemuk, plural, mutlikultural atau apa saja sebutannya.

Bila dikaji lebih dalam,  soal kebanggaan Indonesia ada beberapa hal: bendera merah putih lambang negara Indonesia.   Ada aneka agama (sekurangnya 6 agama) dan dengan berbagai bahasa dan dipersatukan bahasa Indonesia.

Kebanggaan itu bisa terpatri dalam lubuk Indonesia bila menyadari aneka kebanggaan yang dimilikinya itu. Suatu saat nanti para warga negara Indonesia suatu saat mengatakan;

  1. INDONESIA NEGARAKU, ISLAM AGAMAKU;
  2. INDONESIA NEGARAKU, KATOLIK AGAMAKU;
  3. INDONESIA NEGARAKU, KRISTEN AGAMAKU;
  4. INDONESIA NEGARAKU, BUDDHA AGAMAKU;
  5. INDONESIA NEGARAKU, HINDU AGAMAKU;
  6. INDONESIA NEGARAKU, KONGHUCU AGAMAKU; dst.

Kebanggaan itu tidak perlu mengurangi rasa, nilai dan jiwa keindonesiaan kita dan kehidupan keagamaan kita. Sebab Pancasila adalah pedoman atau prinsip hidup bersama dalam bernegara dan berbangsa  di tengah keberbedaan kita. Nilai-nilai Pancasila seperti ketuhanan, kemanusiaa, perdsatuan, kerakyatan yang dipimpin kebijaksanaan dan keadilan sosiak menjadi prinsip dalam hidup bersama sebagai warga negara.

Agama adalah perekat hubungan kita secara vertikal dengan Tuhan dan horizsontal dengan sesama dan seagama.  Agama lain  harus dihormati.

Apakah kita masih bangga dengan dengan bendera merah putih sebagai lambang negara Indonesia? Apakah anda masih bangga dengan Pancasila? Wallahualam. Bila masih bangga, insyaallah. (Pormadi S)

Majelis-Majelis Agama Indonesia Kecam Perusakan Gereja di Malaysia


Majelis-majelis agama Indonesia menyatakan keprihatinan atas perusakan gereja-gereja di Malaysia setelah putusan Pengadilan Tinggi Malaysia memperbolehkan penggunaan kata “Allah” pada 31 Desember 2009.

Imbauan tersebut disampaikan Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Slamet Effendi Yusuf, Senin lalu dalam sebuah konferensi pers yang dihadiri perwakilan dari Konferensi Waligereja Indonesia, Perseketuan Gereja-Gereja di Indonesia dan perwakilan organisasi keagamaan lainnya.

Mereka mengimbau seluruh umat beragama khususnya umat Islam dan Kristen di Malaysia menahan diri untuk tidak melakukan tindakan kekerasan dan anarkis, seperti membakar gereja, dalam bentuk protes terhadap keputusan pengadilan tinggi.

“Penyelesaian harus ditempuh lewat jalur hukum formal, dengan cara pengajuan banding,” kata Slamet.

Mereka juga meminta semua kalangan menahan diri agar persoalan tersebut tidak meluas ke bangsa-bangsa di Asia Tenggara. Imbauan tersebut juga ditujukan kepada umat agama di Indonesia karena kejadian di Malaysia juga bisa terjadi di Indonesia.

“Di masa depan perlu dikembangkan dialog theologis antar pimpinan dan umat beragama untuk membangun persaudaraan sejati dan saling pengertian di antara sesama warga bangsa dan umat beragama,” kata Slamet.

Sebelumnya, pengadilan Malaysia memutuskan untuk mengizinkan warga yang beragama Kristen untuk menggunakan kata ‘Allah’ terhadap tuntutan penggunaan kata Allah oleh majalah mingguan Katolik The Herald. Keputusan pengadilan itu menimbulkan protes keras sehingga terjadi pengrusakan gereja.

Sementara itu, Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Razak telah memerintahkan pihak berwenang untuk meningkatkan keamanan dan penjagaan rumah-rumah ibadah.

“Kami tak akan ijinkan perdamaian dan pengertian yang dimiliki warga Malaysia yang terdiri dari berbagai etnik dan latar belakang terancam oleh siapa pun,” kata Najib, Jumat lalu.

Malaysia adalah negara dengan penduduk 28 juta jiwa, di mana 60 persen dari jumlah itu adalah beragama Islam dan 40 persen lainnya dari berbagai agama (Kristiani Post – id.christianipost.com/ 22Jan 2010)

Gara-gara “Allah” Umat Manusia berkelahi


Baru-baru ini beberapa gedung gereja menjadi korban karena perebutan penggunaan kata “Allah”. Antara umat Islam dan Kristiani di Malaysia berkelahi karena disinyalir kata “Allah” sebagai terjemahan God dalam bahasa Inggeris hanya boleh digunakan oleh umat Islam.

Sebenarnya persoalan penggunaan kata Allah sudah lama menjadi pemicu konflik antara umat beragama di Malaysia. Akhirnya konflik diselesaikan di pengadilan dan dimenangkan oleh umat kristiani. Namun hal ini tidak bisa diterima sekelompok garis keras umat Islam di Malaysia.

Kalau dipikir-pikir, apakah dengan penggunaan kata Allah oleh non Muslim akan mengakibatkan kebingungan dan murtad bagi umat Islam? Ternyata selama ini kata Allah sudah lama digunakan di Malaysia, Indonesia dan umat Kristiani di Timur Tengah dan tidak menyebabkan pemurtadan seperti yang dikawatirkan sebagian umat Muslim.

Namun, yang pasti, Allah yang disebut dalam berbagai istilah dalam aneka agama, adalah Allah yang Maha Pengasih, Maha Pencipta, dan Maha Kuasa, Maha Penyabar. Allah itu baik bagi semua orang tanpa melihat agama atau suku bangsanya. Allah pasti tertawa melihat umat manusia berkelahi gara-gara sebutan namaNya entah Allah dan God atau istilah lainnya.

Sayangnya Allah tidak kelihatan Itu dan tidak mau turun mendamaikan umat manusia, sebab mungkin di pikiran Allah, umat manusia sudah diberi akal budi dan iman untuk merenungkan siapa Allah sebenarnya.

Barangkali yang paling geli dan menjengkelkan menyaksikan perkelahian atau konflik antar umat beragama gara-gara Allah adalah kaum Ateis. Mereka pasti mencibir, soal kata Allah bikin repot, padahal soal mewujudkan kehidupan yang sejahtera aja sudah pusing.

Hahahah….mudah-mudahan konflik atau perkelahian antar umat beragama tidak berlarut-larut. Kebijaksanaan para pemuka agama di   dan pemerintah Malaysia dibutuhkan dalam mengatasi persoalan pihak-pihak yang berkonflik.

Sumber: http://filsafat.kompasiana.com/2010/01/14/gara-gara-allah-umat-manusia-berkelahi/